Di pesisir Pantai Selatan, Jerowaru, Lombok Timur, tumpukan rumput laut yang membusuk selama ini menjadi pemandangan tak terhindarkan setiap musim panen. Bau menyengat dari limbah yang mencapai 1-2 ton per musim itu kerap mengganggu kenyamanan warga dan mencemari garis pantai yang seharusnya indah.
AROMA tak sedap itu kini mulai berubah menjadi harapan baru. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), tim dosen Universitas Hamzanwadi bersama 23 mahasiswa dari berbagai jurusan—Statistika, Biologi, dan Informatika—turun tangan mengubah limbah pesisir itu menjadi Pupuk Organik Cair (POC) yang bernilai ekonomi.
Ketua Pelaksana Program, Zaotul Wardi, M.Pd., mengungkapkan bahwa gagasan ini lahir dari dua persoalan mendasar yang saling berkaitan erat.
“Di satu sisi, petani kami mengeluhkan biaya produksi yang mencapai Rp600.000 hingga Rp800.000 per musim tanam karena ketergantungan pada pupuk kimia. Di sisi lain, limbah rumput laut yang mencapai 1-2 ton per musim justru terbuang dan mencemari pantai,” ujarnya saat ditemui di lokasi program, Senin (20/7).
Dari sinilah tim pengabdian merancang pendekatan holistik. Tidak hanya limbah rumput laut yang diolah, umbi gadung—yang selama ini kurang dimanfaatkan masyarakat—juga diubah menjadi Insektisida Hayati ramah lingkungan. Program ini pun menjadi jawaban atas dua kebutuhan sekaligus: mengurangi pencemaran dan menekan biaya produksi pertanian.
“Program ini kami rancang tidak sekadar memberikan pelatihan, tetapi membangun sistem pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi tepat guna. Limbah pesisir yang sebelumnya menjadi sumber pencemaran kami ubah menjadi sumber nutrisi tanaman, sedangkan umbi gadung diolah menjadi insektisida hayati yang aman bagi lingkungan,” jelas Zaotul.
Pendekatan learning by doing menjadi tulang punggung program ini. Mahasiswa tidak hanya memberi teori di atas papan tulis, tetapi turun langsung mendampingi masyarakat dalam setiap tahapan produksi.
Dimulai dari pengumpulan limbah rumput laut di pesisir, proses fermentasi menjadi Pupuk Organik Cair, teknik detoksifikasi umbi gadung untuk insektisida, hingga pengemasan produk yang siap jual. Mahasiswa juga membantu menyusun standar operasional prosedur (SOP) dan mengelola unit produksi kelompok tani secara mandiri.
Tidak berhenti di situ, tim pengabdian juga membangun demonstration plot (demplot) pertanian organik. Lahan percontohan ini berfungsi sebagai laboratorium lapangan untuk membandingkan secara nyata efektivitas pupuk organik dengan sistem budidaya konvensional yang selama ini digunakan petani.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya percaya, tetapi melihat sendiri buktinya. Demplot ini menjadi saksi bahwa pertanian organik tidak kalah produktif, bahkan lebih efisien biayanya,” tambah Zaotul.
Program yang bermitra dengan Pemerintah Desa Pandan Wangi, Kelompok Tani Patuh Angen, Kelompok Tani Sari Tani, dan Kelompok Remaja Masjid Temorok ini mendapat sambutan hangat dari berbagai pihak.
Kepala Desa Pandan Wangi, Saipul Rizal, M.Pd., menyambut baik inisiatif ini. Menurutnya, inovasi pengolahan limbah rumput laut menjadi produk pertanian organik adalah solusi nyata yang menghubungkan pelestarian lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Program ini sangat tepat sasaran. Kami memiliki potensi rumput laut yang melimpah, tetapi selama ini limbahnya justru menjadi masalah. Sekarang limbah itu bisa menjadi berkah,” ujar Saipul.
Ketua Kelompok Tani Sari Tani, Masturiadi, tak kalah antusias. Wajahnya berseri saat menceritakan harapan barunya.
“Selama ini rumput laut yang rusak atau sisa panen hanya kami buang. Sekarang bisa kami olah jadi pupuk. Ini sangat membantu meringankan biaya kami,” tuturnya.
Program ini tidak hanya berorientasi pada hasil jangka pendek, tetapi dirancang untuk memberikan dampak terukur dan berkelanjutan.
Melalui pemanfaatan POC dan Insektisida Hayati hasil produksi sendiri, biaya input pertanian diproyeksikan turun sekitar 30-40 persen setiap musim tanam. Dampaknya, tingkat keberdayaan mitra pada aspek produksi diperkirakan meningkat dari kondisi awal sekitar 10 persen menjadi 75-80 persen.
Selain itu, pendapatan bersih petani pun diprediksi meningkat melalui efisiensi biaya produksi yang signifikan. Tim pengabdian juga memperkuat kelembagaan kelompok tani melalui pembentukan unit produksi dan manajemen stok POC serta Insektisida Hayati. Langkah ini diharapkan mampu menjamin keberlanjutan produksi setelah program selesai dilaksanakan.
Tidak hanya menghasilkan produk pertanian organik, program ini juga akan melahirkan modul pelatihan masyarakat, SOP produksi, serta sistem pembelajaran berbasis pendampingan mahasiswa. Dengan demikian, teknologi ini dapat direplikasi oleh kelompok tani lain di wilayah Lombok Timur.
Program pemberdayaan ini sejalan dengan agenda pembangunan nasional melalui penguatan ekonomi hijau, ekonomi biru, swasembada pangan, serta pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta pertanian berkelanjutan.
Dengan mengoptimalkan sumber daya lokal dan melibatkan mahasiswa sebagai agen transfer teknologi, Desa Pandan Wangi diharapkan berkembang menjadi contoh desa pesisir yang mampu mengubah limbah menjadi nilai tambah ekonomi sekaligus memperkuat kemandirian petani secara berkelanjutan.
“Kami ingin masyarakat tidak lagi bergantung pada pupuk kimia yang mahal. Dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitar, mereka bisa mandiri dan sejahtera,” pungkas Zaotul Wardi.
Di bawah sinar matahari Lombok yang terik, aroma laut bercampur harapan baru mulai tercium dari pesisir Pandan Wangi. Limbah yang dulu menjadi musuh lingkungan, kini perlahan berubah menjadi sahabat petani. Sebuah revolusi kecil yang dimulai dari pesisir, untuk kemandirian yang lebih besar. (rus)






