Selong (ekbisntb.com) – Memasuki April–Mei 2026, harga umbi porang tingkat petani di Lombok Timur (Lotim) berada di kisaran Rp9.000 per kilogram. Angka ini dinilai cukup menguntungkan, terutama dengan keberadaan pabrik pengolahan porang di Pringgabaya yang mampu menyerap hasil panen lokal.
Muhlis, petani porang asal Kecamatan Pringgasela, mengaku sangat terbantu dengan hadirnya pabrik tersebut. “Dengan adanya pabrik di Pringgabaya, harga porang bisa bersaing dengan pabrik-pabrik di Jawa. Dari segi harga, lumayan menguntungkan kami petani,” ujarnya, Senin (11/5/2026).
Menurut Muhlis, lama budi daya porang sangat tergantung pada jenis bibit yang digunakan. Jika menanam umbi, panen bisa dilakukan dalam satu musim atau sekitar satu tahun. Untuk bibit katak super, juga bisa dipanen dalam satu tahun. Sementara katak sedang dan spora membutuhkan waktu 2–3 tahun hingga siap panen.
Biaya produksi untuk lahan seluas 1 hektare mencapai sekitar Rp60 juta. Sayangnya, produktivitas lahan porang di Kecamatan Pringgasela tahun ini masih terbatas. “Total lahan di bawah 5 hektare, itu pun dalam spot-spot kecil. Penanaman bibit masih campur antara umbi dan katak,” jelas Muhlis.
Para petani menaruh harapan besar pada pemerintah daerah, terutama dalam hal pengadaan bibit. Muhlis menyampaikan, kuota bibit harus ditambah dan waktu penurunan bibit tidak boleh melewati musim tanam. “Kalau sampai liwat musim, pertumbuhan porang tidak maksimal. Kami ingin suplai ke pabrik tetap terjaga. Harapan kami, diberi bantuan bibit umbi dan lahan di wilayah utara ini dimaksimalkan,” tegasnya.
Ia menambahkan, keunggulan menanam porang adalah sekali tanam, petani tidak perlu lagi membeli bibit untuk musim berikutnya. “Karena itu, kami harap pemda menambah pengadaan bibit untuk musim tanam tahun ini. Jika porang sudah melimpah, tentu Pendapatan Asli Daerah (PAD) kita akan semakin meningkat,” pungkas Muhlis. (rus)






