HomeBlogTanpa Jaringan Travel, Art Shop Tenun Sukarara Kesulitan Gaet Wisatawan

Tanpa Jaringan Travel, Art Shop Tenun Sukarara Kesulitan Gaet Wisatawan

Praya (EKBIS NTB) –Art shop kain tenun di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat Kabupaten Lombok Tengah menghadapi persoalan dalam mendapatkan pasar wisatawan. Tanpa kerja sama dengan biro perjalanan atau travel, pelaku usaha kecil mengaku cukup sulit mendatangkan wisatawan ke tempat mereka.

Pembina Mina Tenun Sukarara, Sudirman, mengatakan pola perjalanan wisatawan di Lombok membuat keberadaan jaringan travel sangat menentukan. Wisatawan yang menggunakan jasa perjalanan umumnya sudah diarahkan oleh agen atau pemandu ke art shop tertentu yang sudah bekerjasama dengan mereka.

- Advertisement -

“Agak susah kalau enggak kerja sama sama travel. Karena walaupun kita kenal sama guide, kalau sudah arahannya harus dibawa ke sana, ya harus ke sana,” kata Sudirman, akhir pekan kemarin.

Kondisi ini membuat Mina Tenun Sukarara yang belum memiliki kerja sama dengan travel hanya mengandalkan pembeli lokal. Wisatawan dari luar daerah, termasuk dari Jakarta, disebut masih relatif sedikit yang datang secara khusus datang berbelanja ke art shop ini.

“Kalau tidak kerja sama sama travel, kebanyakan kita tamu lokal. Orang-orang kita di Lombok, baik Lombok Barat, Lombok Timur, Sekotong dan daerah lainnya banyak yang datang ke sini,” ujarnya.

Pasar lokal ini menurutnya membeli kain songket yang digunakan untuk berbagai kebutuhan adat, seperti nyongkolan. Harga yang ditawarkan juga disebut lebih mencerminkan harga produk sebenarnya karena tidak dibebani komponen tambahan. Untuk kain songket, misalnya, harganya berkisar Rp1 juta hingga Rp1,5 juta.

“Kalau kita di sini tidak terlalu tinggi. Harga aslinya, sesuai dengan harga yang sebenarnya dari penenun,” katanya.

Sudirman mengatakan persoalan akses pasar tidak hanya dialami Mina Tenun. Sejumlah art shop berukuran kecil juga menghadapi kondisi serupa. Sementara art shop yang lebih besar dinilai telah memiliki jaringan dengan travel sehingga lebih mudah mendapatkan kunjungan wisatawan.

Menurut dia, kualitas kain yang dijual tidak menjadi persoalan utama. Mina Tenun justru mengandalkan produk dari penenun lokal dan berupaya mempertahankan produksi berbasis masyarakat setempat.

Kelompok tersebut memiliki sekitar 16–20 anggota, dengan sekitar 10 orang aktif sebagai penenun. Mereka tetap memproduksi kain setiap hari, meskipun sebagian perempuan juga membantu aktivitas pertanian keluarga pada musim tanam.

Selain kain tenun, produk turunan juga dikembangkan untuk memperluas pilihan pasar. Tenun berbahan serat nanas, misalnya, dapat diolah menjadi taplak meja dan hiasan dinding. Sementara bahan plastik dikembangkan menjadi tas, topi dan produk lainnya.

Berharap Pemerintah Buka Akses Pasar

Sudirman berharap kondisi tersebut mendapat perhatian pemerintah, terutama dalam membuka akses pasar yang lebih luas bagi art shop kecil di sentra tenun Sukarara.

Ia berharap ada pola kerja sama dengan travel sehingga wisatawan tidak hanya diarahkan ke art shop yang sudah besar, tetapi juga memiliki kesempatan mengunjungi dan berbelanja di usaha tenun skala kecil.

“Harapan saya mudah-mudahan untuk tahun-tahun berikutnya kita bisa ada kerja sama sama travel-travel,” ujarnya.

Menurut dia, pemerintah juga dapat membantu mendistribusikan arus kunjungan wisatawan agar lebih merata. Dengan demikian, art shop kecil tidak hanya mengandalkan wisatawan yang kebetulan datang, tetapi memiliki kepastian pasar yang lebih baik.

“Supaya art shop-art shop kecil itu bisa lebih terdongkrak kehidupannya, ekonominya lebih mapan lagi. Kita bukan hanya sekadar menunggu tamu yang datang beberapa sekali,” katanya. (bul)

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut