Lombok Barat (ekbisntb.com) – Sistem digitalisasi penyaluran pupuk bersubsidi melalui aplikasi i-Pubers PT Pupuk Indonesia (Persero) sangat dirasakan manfaatnya oleh petani, pun penyalur pupuk (kios) yang ada di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Selain membuat proses penebusan lebih cepat dan transparan, sistem baru ini juga dinilai mampu menjamin ketersediaan stok pupuk di tingkat kios sehingga petani tidak lagi khawatir kehabisan pupuk saat musim tanam berlangsung.
Pemilik kios pupuk subsidi UD Arif Tani, H. Sabri M Amin, di Dusun Kedondong Anyar, Desa Kekeri, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, Kamis, 14 Mei 2026 menjelaskan, sistem penebusan pupuk saat ini jauh lebih baik dibandingkan pola manual yang diterapkan pada tahun-tahun sebelumnya.
“Kalau sekarang sistemnya lebih canggih karena sudah menggunakan aplikasi i-Pubers yang terintegrasi langsung dengan penyaluran pupuk bersubsidi. Semua data petani sudah tercantum di sana, mulai dari nama petani, luas lahan garapan sampai kuota pupuk yang diterima,” ujarnya.
Menurutnya, sebelum sistem digital diterapkan, proses penebusan pupuk masih dilakukan secara manual dan kerap memicu kesalahpahaman antara petani dan kios. Tidak sedikit petani yang memprotes jumlah pupuk yang diterima karena mengira kios mengurangi jatah pupuk mereka.
“Dulu sering ada petani protes karena merasa pupuk yang diterima sedikit. Mereka kadang mengira kios yang mengurangi. Sekarang kami tinggal tunjukkan datanya di aplikasi, semuanya sudah tercatat sehingga lebih transparan,” katanya.
Ia menegaskan, kios tidak bisa lagi mengubah data penerima pupuk karena seluruh data telah tersimpan dalam sistem pusat. Bahkan, sistem terbaru juga telah menggunakan pemetaan lahan berbasis poligon sehingga meminimalisasi manipulasi data luas lahan.
“Kalau dulu ada petani yang luas lahannya 50 are tapi mengaku 75 are. Sekarang tidak bisa lagi karena semuanya sudah terdata dengan rapi,” jelasnya.
Mantan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi NTB ini mengakui, respons petani terhadap sistem baru penebusan pupuk subsidi ini sangat positif. Selain proses penebusan yang lebih cepat, petani kini hanya perlu membawa KTP untuk menebus pupuk.
“Sekarang petani cukup datang bawa KTP, kami cocokkan datanya di aplikasi. Kalau namanya terdaftar dan kuotanya ada, langsung bisa ditebus,” katanya.
Dari sisi pengelola kios, sistem digital juga memangkas beban administrasi. Jika sebelumnya petani harus membawa surat dari kelompok tani lengkap dengan berbagai persyaratan administratif lainnya, kini proses tersebut jauh lebih sederhana.
“Administrasinya jauh lebih simpel. Dulu banyak berkas yang harus dibawa, sekarang lebih praktis,” ujarnya.
Selain kemudahan penebusan, ketersediaan stok pupuk juga disebut jauh lebih terjamin. Sabri mengatakan kios diwajibkan memiliki stok minimal untuk kebutuhan tujuh hari ke depan agar petani tetap terlayani meski pola tanam di lapangan tidak serempak.
Ia menjelaskan saat ini petani memiliki jadwal tanam yang berbeda-beda. Ada yang sudah menanam, ada yang masih tahap semai, sehingga kebutuhan pupuk bisa datang sewaktu-waktu. Karena itu, kios harus selalu siap melayani agar petani tidak mengalami keterlambatan pemupukan yang berpotensi menurunkan produktivitas pertanian.
Distribusi pupuk dari distributor ke kios pun berjalan lancar. Menurutnya, jika kios melakukan pemesanan hari ini, pupuk biasanya tiba dalam waktu satu hingga dua hari.
“Distributor kami dari Puskud NTB. Kalau pesan hari ini, biasanya satu atau dua hari sudah datang. Distribusi dari distributor ke kios juga ndak ada masalah. Begitupun distribusi dari kios hingga ke petani,” ujarnya.
Sabri juga melihat peningkatan alokasi pupuk subsidi yang diterima petani belakangan ini memberikan dampak positif terhadap produktivitas pertanian di wilayahnya. Ia mengaku sering turun langsung ke kelompok tani untuk melihat kondisi tanaman petani.
“Alhamdulillah sekarang produktivitas pertanian juga lebih baik karena kebutuhan pupuk petani lebih terpenuhi,” katanya.
Ia juga memastikan harga pupuk subsidi di tingkat kios tetap mengikuti Harga Eceran Tertinggi (HET) baru yang ditetapkan pemerintah. Jika ada biaya tambahan, kata dia, hal itu hanya berasal dari ongkos angkut apabila petani meminta pupuk diantar ke lahan.
“Kalau harga di kios tetap sesuai HET. Tidak ada tambahan biaya lain. Kecuali kalau petani yang datang ambil pupuknya pakai ojeg, tambahan biayanya hanya diongkosnya. Tapai kalau datang sendiri bawa kendaraan, ndak ada harga lebih petani,” tegasnya.
Hal senada disampaikan petani asal Kelompok Tani Kekeri Timur, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat, Edi Suryadi. Petani yang menggarap lahan seluas sekitar 92 are ini mengaku sistem penebusan pupuk saat ini jauh lebih mudah dibanding sebelumnya.
“Sistem sekarang sangat mempermudah petani. Stok pupuk selalu tersedia, jadi kami merasa lebih tenang,” katanya.
Edi mengaku selama menggunakan sistem i-Pubers, dirinya belum pernah mengalami kendala saat menebus pupuk subsidi.
“Belum ada kendala sejauh ini,” ujarnya.
Ia menyebut kelancaran distribusi pupuk sangat berdampak terhadap produktivitas pertanian. Dengan pupuk yang selalu tersedia dan harga yang terjangkau, biaya produksi petani menjadi lebih hemat dan hasil panen meningkat.
“Hasil pertanian jadi lebih baik dan biaya produksi juga lebih rendah dibanding dulu,” katanya.
Dalam satu musim tanam, Edi mendapatkan alokasi pupuk subsidi sebanyak 250 kilogram pupuk urea dan 250 kilogram pupuk NPK. Ia mengaku seluruh kebutuhannya selalu tersedia di kios.
“Kalau datang ke kios, pupuk selalu ada. Saya tinggal bawa KTP lalu langsung ambil pupuk,” ujarnya.
Dengan kondisi stok yang terjaga, harga sesuai ketentuan pemerintah, serta sistem penebusan yang semakin sederhana, petani di Lombok Barat kini mengaku lebih tenang menjalani musim tanam tanpa dihantui kekhawatiran kelangkaan pupuk seperti yang kerap terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.(bul)






