PERKIRAAN Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kemarau tahun 2024 akan lebih panjang dibandingkan dengan tahun 2023. Sehingga, hal ini akan berdampak pada hasil panen petani.
Sebagai lumbung pangan nasional, selain dengan melakukan pompanisasi dan irigasi perpompaan, Pemerintah Provinsi NTB juga akan membuat program penggalian sumur dalam atau sumur bor bagi petani supaya Indeks Pertanian (IP) bisa meningkat.
“Terkait dengan perkiraan BMKG, kami juga sedang menyiapkan sumur dalam. Jadi sumur dalam termasuk sumur pompa, jadi apabila sumur dangkal ini misalnya hanya bisa dua kali panen, ternyata lahan kita masih bisa penanaman, kita akan bantu dengan menggali sumur dalam,” ungkap Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Disdistanbun) Provinsi NTB, Muhammad Taufieq Hidayat pada Kamis, 30 Mei 2024.
Program penggalian sumur dalam atau sumur bor sebagai antisipasi apabila akan terjadi kekeringan, seperti perkiraan BMKG, penggalian sumur pompa dalam ini akan dilaksanakan di lahan-lahan yang kekurangan air setelah panen. Namun masih berpotensi untuk dilakukan penanaman di lahan tersebut, sehingga IP akan turut meningkat, tidak hanya IP 100 tapi bisa sampai IP 300 per tahun. “Sekarang mau dipersiapkan programnya kalau benar-benar terjadi kekeringan,” lanjutnya.
Selain itu, Kementerian Pertanian (Kementan) juga telah mengeluarkan SK pada 24 Mei 2024 kemarin, meminta kepada Pemprov NTB untuk melakukan percepatan Pompanisasi dan Optimalisasi Pangan sebagai antisipasi darurat pangan.
Menyikapi perintah Kementan tersebut, Pemprov NTB telah melakukan distribusi pompa kepada petani yang dilakukan dalam beberapa tahap. Tahap pertama sebanyak 173 pompa, dan sekarang tahap kedua yang masih dalam proses akan di distribusikan 3.000 pompa. “Tahap kedua on progress sebanyak 3.000 pompa kepada 30.000 hektar lahan,” lanjutnya.
Tidak hanya itu, Taufieq juga mengimbau kepada seluruh petani untuk kembali menanam padi setelah panen, artinya, petani jangan sampai menanam komoditas pertanian lain di lahan penanaman padi. (era)
DPRD Provinsi NTB memberi atensi terhadap masalah kekeringan yang melanda wilayah ini. Kekeringan akan berdampak pada kegiatan pertanian dan produktivitas pertanian itu sendiri. Sehingga pemerintah perlu memberi jalan keluar jangka pendek.
Anggota DPRD NTB Dr. TGH. Hazmi Hamzar mengatakan, sebenarnya NTB tidak benar-benar dalam kondisi kering, karena pada dasarnya air tanah bisa diangkat ke permukaan melalui proses pengeboran. Karena itu program sumur bor perlu diperkuat untuk memenuhi air irigasi serta air konsumsi.
“Daerah Nusa Tenggara Barat khususnya Pulau Lombok tak perlu ada kekeringan, ini daerah subur. Wilayah utara dan selatan itu tinggal dibor airnya ada. Tinggal mau atau tidak pemda menganggarkan itu,” kata TGH. Hazmi Hamzar kepada Ekbis NTB akhir pekan kemarin.
Ia mengatakan, program sumur bor tak perlu dengan anggaran yang besar. Satu sumor bor kecil untuk areal 1-4 hektar dinilai sudah bisa berjalan. Tak hanya untuk air irigasi saja, namun untuk air konsumsi bisa melalui sumur bor ini.
“Selama ini ketika ada kekeringan pakai mobil tangki. Keliling diantarkan, miris hati saya. Coba dibor, banyak-banyak kita bikin. Pasti banyak air yang muncul dari sawah-sawah itu,” ujarnya.
Ia mengatakan, Provinsi NTB dengan status lumbung pangan nasional harus terus digalakkan sektor pertanian dengan pendekatan teknologi. Pembuatan sumur bor dan pompanisasi bisa menjadi solusi di tengah musim kemarau seperti sekarang ini.
Politisi PPP ini pun menyambut baik program pompanisasi yang sedang digalakkan oleh Kementerian Pertanian. Di mana sebanyak 5.100 unit pompa air akan diberikan kepada petani di Provinsi NTB. Ribuan unit pompa air tersebut diberikan kepada kelompok tani yang selama ini menggarap pertanian di lahan kering dan tadah hujan.(ris)
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (ekbisntb.com/ist)
NTB merupakan daerah penyangga pangan nasional. Hasil-hasil produksi pertanian, seperti padi, cabai, kacang panjang, jagung dan komoditi lainnya banyak dikirim untuk memenuhi stok pasar di beberapa daerah di Indonesia. Namun, pemenuhan stok ini bisa saja terganggu, jika tidak ada antisipasi pemerintah daerah dan stakeholder lainnya pada musim kemarau ini. Perlu ada antisipasi pemerintah agar ancaman produksi pangan di daerah ini tidak terganggu.
‘’SERING hujan tidak di Mataram?’’ tanya salah satu petani di Lombok Barat (Lobar) pada Ekbis NTB saat turun lapangan, Sabtu 1 Juni 2024. Pertanyaan petani ini diajukannya, karena dalam beberapa minggu ke belakang hujan belum mengguyur wilayahnya, khususnya areal persawahan di sekitar Gerung, Labuapi dan Kediri.
Peta perkiraan BMKG (ekbisntb.com/ist)
Peta perkiraan BMKG (ekbisntb.com/ist)
Amaq Rizka, menuturkan, jika dalam beberapa hari terakhir ini areal pertanian di Lobar banyak yang kering, karena pasokan air dari saluran irigasi sangat kecil. Bahkan, banyak saluran irigasi yang sudah mengering, karena hujan yang diharapkan turun tidak ada. Padahal di bagian utara Pulau Lombok, jika dilihat dari wilayah bagian tengah atau selatan Lobar sering mendung.
Meski demikian, ujarnya, beberapa petani tidak kehilangan akal. Mereka menggali sumur atau membuat kolam di bagian sawahnya. Nanti sumur atau kolam ini saat hujan atau mendapat giliran distribusi air dari pekasih bisa ditampung. Setelah itu, dengan menggunakan mesin air dialirkan ke sawah, sehingga tanaman bisa diselamatkan dan tidak merugikan petani.
Di sisi lain, ungkapnya, sejumlah petani rela begadang untuk mengalirkan air ke sawahnya pada malam hingga dini hari. Meski terkadang dihadapkan dengan sejumlah petani lain yang juga membutuhkan air, cekcok mulut terkadang tidak bisa dihindari.
Memang, keluhan petani ini sangat mendasar, karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan tahun 2024 bakal akan lebih panas lagi dari tahun 2023. Pemanasan global dan perubahan iklim diperkirakan berlanjut.
Panas yang meningkat ini akan mengakibatkan produksi pangan terganggu, jika ketersediaan air tidak sebanding dengan kebutuhan sektor pertanian. Di sisi lain, produksi pangan ditargetkan harus meningkat. Karena terjadinya peningkatan permintaan. Jika tidak, ancamannya adalah kekurangan pangan dan lonjakan harga pangan. Pemerintah harus memiliki cara untuk mengantisipasi dampak ekstrem panas ini.
Tidak hanya itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati sudah bersurat ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait potensi kemarau panjang di sejumlah wilayah imbas musim kemarau. Dalam surat tersebut, Dwikorita menjelaskan, dari hasil analisis curah hujan dan analisis sifat hujan untuk 3 dasarian terakhir, menunjukkan bahwa kondisi kering sudah mulai memasuki wilayah Indonesia, khususnya di bagian selatan Khatulistiwa.
BMKG dalam Prediksi Musim Kemarau Tahun 2024 di Indonesia, menyebut pada Juni ini bakal ada sekitar 167 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 23,89 persen yang bakal memasuki musim kemarau. Awal musim kemarau ditetapkan berdasarkan jumlah curah hujan dalam satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter dan diikuti oleh dua dasarian berikutnya.
Tidak hanya itu, awal musim kemarau ditetapkan apabila terdapat satu dasarian dengan curah hujan kurang dari 50 milimeter dan ketika dijumlahkan dengan dua dasarian berikutnya, total curah hujan dalam tiga dasarian tersebut kurang dari 150 milimeter. Dalam kondisi ini, awal musim kemarau akan dimulai pada dasarian pertama ketika curah hujan dalam dasarian tersebut juga kurang dari 50 milimeter.
Dwikorita Karnawati ketika memberikan keterangan pers sebagaimana dikutip dari Kantor Berita Antara, Selasa 28 Mei 2024 lalu, mengatakan indikasi tersebut menandakan “tidak akan terjadi El Nino” pada musim kemarau kali ini.
Tidak seperti tahun lalu, kehadiran El Nino mengakibatkan kekeringan yang lebih luas, karena hampir seluruh wilayah Indonesia menjadi lebih kering dari biasanya.Namun demikian, masih ada sejumlah wilayah di Indonesia, terutama di bagian selatan garis Ekuator seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara yang diprediksi bakal mengalami curah hujan yang lebih rendah dari normalnya. Inilah yang mesti diantisipasi oleh pemerintah daerah dan stakeholder lainnya, agar kekeringan ini tidak semakin berdampak parah bagi petani dan juga masyarakat.
Hal senada disampaikan BMKG Stasiun Klimatologi NTB yang menyatakan wilayah Provinsi NTB kini mulai memasuki periode musim kemarau. Hal ini terlihat dari curah hujan pada dasarian III Mei 2024 yang secara umum dalam kategori rendah.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi NTB, Nindya Kirana mengatakan, berdasarkan monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut (HTH) wilayah NTB berada pada kategori sangat panjang, yakni 31 sampai 60 hari. Termasuk, dari prediksi potensi hujan di dasarian I Juni 2024 (1-10 Juni 2024), kurang lebih 20 mm/dasarian dengan probabilitas 80 sampai 90 persen.
“Berdasarkan monitoring, analisis dan prediksi curah hujan dasarian, maka kami mengingatkan terdapat indikasi kekeringan meteorologis (iklim) sebagai dampak dari kejadian hari kering berturut-turut dengan indikator hari tanpa hujan,” jelas Nindya Kirana dalam keterangannya akhir pekan kemarin.
Sejumlah daerah di Provinsi NTB pun mendapat peringatan dini agar mengantisipasi dampak terhadap indikasi kekeringan meteorologis tersebut. Peringatan dini level siaga kekeringan ada di Kecamatan Wawo Kabupaten Bima, serta Kecamatan Lape dan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa.
Level waspada ada di Kecamatan Pajo, Huu, Kilo dan Pekan Kabupaten Dompu. Kemudian sejumlah kecamatan di Kabupaten Bima seperti Kecamatan Belo, Bolo, Donggo, Lambitu, Lambu, Madapangga, Monta, Palibelo, Sanggar, Sape, Tambora dan Woha. Selain itu, ada Kecamatan Raba dan Rasanae Timur Kota Bima diikuti, Kecamatan Gerung, Kediri, dan Lembar Kabupaten Lombok Barat. Lombok Tengah di Kecamatan Batukliang, Batukliang Utara, Janapria, Praya, Praya Barat, Praya Barat Daya, Praya Tengah, dan Praya Timur.
Kabupaten Lombok Timur di Kecamatan Jerowaru, Keruak, Masbagik, Montong Gading, Pringgabaya, Sakra Barat, Sambelia, Sembalun, Sikur, Suela, Sukamulia, Terara.
“Kemudian, Kabupaten Lombok Utara di Kecamatan Bayan dan Tanjung. Kabupaten Sumbawa yaitu di Empang, Labuhan Badas, Lenangguar, Moyo Utara, Orong Telu, Rhee, Sumbawa, Unter Iwes, dan Utan. Sumbawa Barat di Kecamatan Jereweh dan Maluk,” tambah Nindya.
Masyarakat NTB yang berada di daerah tersebut diimbau agar dapat menggunakan air secara bijak, efektif dan efisien. Serta, perlu mewaspadai akan terjadinya bencana kebakaran hutan, lahan, dan kekeringan yang umumnya terjadi pada periode puncak musim kemarau.
“Masyarakat dapat memanfaatkan penampungan air seperti embung, waduk, atau penampungan air hujan lainnya guna mengantisipasi kekurangan air khususnya di wilayah-wilayah yang sering terjadi kekeringan,” imbau Nindya. (ham/ris)
TURUN - Kepala Distan Lobar Damayanti Widyaningrum bersama jajaran turun langsung melakukan pengecekan lahan pertanian yang terdampak kekeringan. (Ekbis NTB/ist)
SAAT kondisi iklim yang tak menentu di NTB, khususnya di Lombok Barat (Lobar) akibat dampak cuaca ekstrem, dikhawatirkan terjadi gagal panen.
Dalam hal ini Dinas Pertanian (Distan) melakukan langkah antisipasi dampak cuaca ekstrem ini. Salah satu yang dilakukan melalui program pompanisasi. Program yang dibantu pemerintah pusat ini telah mampu menangani ratusan hektar lahan padi warga yang terdampak cuaca ekstrem.
Kepala Distan Lobar Damayanti Widyaningrum mengatakan, sejauh ini pihaknya mengantisipasi lahan pertanian tedampak kekeringan akibat cuaca ekstrem melalui berbagai upaya. Pihaknya telah meminta penyuluh lapangan untuk turun mengecek wilayah yang rawan kekeringan. Hasil turun tersebut langsung dilaporkan penyuluh ke dinas untuk ditindaklanjuti.
“Kami tindaklanjuti dengan turun action memberikan pompanisasi, beberapa daerah sudah kita tangani,” katanya, akhir pekan kemarin.
Disebutkan, beberapa wilayah yang dilaporkan mengalami kekeringan, langsung dibantu pompanisasi. Di antaranya, 61 hektar lahan di Gerung yang dilaporkan petugas sudah diairi melalui pompa, sehingga tidak jadi mengalami kekeringan. Di Sekotong, ada 8 hektar sudah diatasi.
Kemudian di Lembar ada 139 hektar terancam kekeringan, dengan bantuan pompanisasi bisa diatasi. Selanjutnya ada lagi laporan 197 hektar juga terancam kekeringan sedang di Kuripan. Bahkan pihaknya bersama jajarannya turun langsung melaksanakan pompanisasi ke sawah warga terrdampak. “Kami turun langsung, Alhamdulillah sudah bisa terairi melalui pompanisasi. Jadi kami sudah antisipasi sejauh itu,” ujarnya.
CEK POMPA – Kepala Distan Lobar Damayanti Widyaningrum mengecek bantuan pompa yang diberikan pemerintah pada petani dalam mengatasi lahan padi yang terdampak cuaca ekstrem. (Ekbis NTB/ist)
Kalau dihitung total luasan areal lahan pertanian yang telah mampu ditangani dan diatasi mencapai 405 hektar. Jika dihitung hasil produksi per hektar rata-rata 5,6 ton, maka dari luasan 405 hektar tersebut mampu diselamatkan 2.268 ton hasil produksi. “Itu sudah yang bisa diselamatkan, kita berupaya Sigap sesuai jargon Pemda (Pak Pj Bupati),” ujarnya.
Ia menjelaskan, pompanisasi ini merupakan langkah jangka panjang, sehingga pihaknya sudah menginventarisir petani dan daerah yang akan diberikan bantuan pompanisasi. Yakni wilayah yang punya sumber air, baik sungai, embung, air sumur tanah dangkal dan air permukaan. “Ini baru datang 41 pompa dari pusat, kami usulkan 576 pompa. Ndak tahu nanti yang disetujui berapa? Jadi kami inginkan semua daerah terutama yang lahan kering mendapatkan pompanisasi,”jelasnya.
Pompa ini butuh dilakukan tes bersama pihak penyedia, kalau lancar berfungsi, maka barulah diserahkan. Namun sambil menunggu itu, pihaknya menggunakan alat yang ada dulu. Ketika bantuan alat pompanya datang, maka langsung diserahkan ke petani. “Ini untuk antisipasi kekeringan,” katanya.
Langkah antisipasi lain yang dilakukan, pihaknya sudah mengimbau dan mengajak para petani ikut asuransi usaha tani untin jaga-jaga kalau mengalami gagal panen, nanti bisa diganti oleh pemerintah untuk tanam lagi. (her)
PANEN - Panen padi di Kabupaten Lotim. Pemkab Lotim mengantisipasi dampak kemarau panjang terhadap penyediaan komoditas pertanian. (Ekbis NTB/rus)
KABUPATEN Lombok Timur (Lotim) telah mengambil langkah-langkah antisipasi untuk menghadapi kekeringan dan ancaman kerawanan pangan yang mengintai.
Penjabat (Pj) Bupati Lotim, H. M. Juaini Taofik, mendorong konversi lahan pertanian dari dua kali tanam menjadi tiga kali tanam sebagai bagian dari upaya proaktif.
Menurut Juaini Taofik, langkah tersebut didukung oleh tambahan kuota pupuk subsidi yang akan dimaksimalkan untuk memperkuat sektor pertanian di wilayah tersebut. “Kami akan memanfaatkan kuota pupuk subsidi secara optimal untuk memberdayakan para petani,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Lotim juga menjalin sinergi dengan aparat TNI dan Kementerian Pertanian (Kementan) dengan fokus pada program pompanisasi sebagai langkah konkret dalam menghadapi tantangan kekeringan.
Dalam konteks ini, Dinas Pertanian Lotim telah memetakan beberapa wilayah yang rentan terhadap kekeringan.
Kepala Dinas Pertanian Lotim Sahri, menjelaskan masuknya wilayah Lotim ke dalam musim kemarau, ditambah dengan pengaruh El Nino, meningkatkan risiko kekeringan.
Sahri menekankan pentingnya tetap memanfaatkan sumber air yang tersedia, meski penggunaan pompa air terbatas, karena minimnya lokasi yang memungkinkan untuk pemompaan. Wilayah selatan Lotim, khususnya, terkendala oleh kurangnya aliran sungai yang konsisten, berbeda dengan wilayah tengah dan utara.
Namun, pihak berwenang menegaskan komitmen untuk memaksimalkan cadangan air yang tersedia, seperti di Bendungan Pandanduri, untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah selatan jika diperlukan.
Sementara itu, potensi terjadinya kekeringan teridentifikasi di beberapa kecamatan di Lotim, antara lain Jerowaru, Keruak, Pringgabaya, dan Sambelia. Meski demikian, kekeringan tetap menjadi perhatian serius di wilayah lainnya, mengingat ketidakpastian iklim di Indonesia yang seringkali membawa dampak ekstrem.
Usulkan Mesin Pompa Air
Begitu juga Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sumbawa, mengusulkan sebanyak 236 titik untuk pengadaan mesin pompa air di tahun 2024 dalam mengatasi masalah kekurangan air di sejumlah lahan pertanian.
Ni Wayan Rusmawati (Ekbis NTB/dok)
“Kita sudah usulkan ke Kementerian Pertanian (Kemantan) dan mudah-mudahan bisa segera terealisasi untuk membantu para petani,” kata Kadistan Sumbawa, Ni Wayan Rusmawati, kepada EkbisNTB pekan kemarin.
Dalam merealisasikan program tersebut pihaknya telah bekerjasama dengan Kodim 1607 Sumbawa dalam melakukan verifikasi lapangan. Khususnya wilayah yang memiliki sumber air permukaan, sehingga bisa mengatasi kekurangan air. “Harapan kami dengan adanya bantuan itu maka luas tambah tanam kita akan meningkat dan indeks pertanaman juga bertambah,” sebutnya.
Tujuan akhirnya pemerintah tidak lagi melakukan impor beras ketika semua sarana penunjang pertanian sudah terpenuhi. Selain pompa, pihaknya juga mengusulkan untuk tambahan bantuan benih jagung dan padi. “Kita upayakan melalui program yang ada, kita tidak lagi melakukan impor beras sebagaimana ikhtiar dari Kementan,” ucapnya.
Harapan ke depan pertanian Sumbawa lebih maju dan bisa meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat. Tentu pihaknya berharap kepada semua pihak untuk mendukung program tersebut terutama para petani dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas pertanian. “Mari kita dukung karena program ini sangat baik dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dari sektor pertanian,” tukasnya..
Pemerintah Kabupaten Sumbawa, berharap bantuan 1.888 unit yang diusulkan ke Kementerian Pertanian (Kementan) bisa segera terealisasi dalam menyikapi ratusan hektar lahan yang terdampak kekeringan, terutama di wilayah timur dan selatan.
“Kita sangat berharap supaya bantuan mesin pompa ini bisa segera terealisasi, sehingga potensi lahan terdampak kekeringan bisa terus ditekan,” kata Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Sumbawa, melalui Kabid Sarana Pertanian, Wirawan Margana, kepada Ekbis NTB, pekan kemarin.
Dikatakannya, untuk program pengentasan kekeringan, pihaknya juga sebelumnya sudah menerima bantuan berupa irigasi perpipaan. Untuk bantuan tersebut sudah tidak ada masalah dan sudah tuntas dilaksanakan. “97 unit itu sudah clear (tidak ada masalah) karena sifatnya langsung ditransfer ke rekening kelompok dan sudah bisa dimanfaatkan oleh para petani,” ucapnya.
Selain itu ada juga bantuan yang dialihkan dari Kabupaten lain sebanyak 50 unit untuk bantuan pompa air. Namun untuk sementara ini, pihaknya masih akan melakukan verifikasi lebih lanjut terhadap penerima bantuan. “Kita masih lakukan verifikasi penerimanya, supaya tidak menimbulkan masalah baru nanti,” jelasnya.
Sementara untuk bantuan berupa mesin perpompaan, pihaknya masih menunggu realisasi, karena angka 1.888 unit tersebut merupakan jatah untuk Kabupaten Sumbawa, tinggal menunggu realisasinya dengan harapan bisa segera. “Kalau untuk bantuan pompa, kita menunggu realisasinya. Karena sampai dengan saat ini masih dalam proses pengadaan,” tambahnya. (rus/ils)
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB, H. Abdul Azis, SH.,MH. (ekbisntb.com/ist)
Mataram (ekbisntb.com)-Pemerintah daerah di NTB didorong untuk fokus pada penguatan cadangan pangan sebagai langkah antisipasi dalam menghadapi potensi krisis pangan akibat cuaca ekstrem. Selain itu, peningkatan produksi pangan dan program pemanfaatan pekarangan juga menjadi fokus penting untuk meningkatkan ketahanan pangan di NTB.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi NTB, H. Abdul Azis, SH.,MH., menegaskan pentingnya cadangan pangan bagi pemerintah daerah dalam menghadapi potensi krisis pangan akibat cuaca ekstrem panjang tahun ini sebagaimana diprediksi BMKG.
“Kalau saya yang paling penting pemda perkuat cadangan pangan, terutama dalam bentuk beras,” ujar Azis.
Ia menjelaskan bahwa selama ini, banyak daerah di NTB yang hanya mengandalkan cadangan pangan pusat (CPP). Namun, hal ini dinilai tidak ideal dan perlu diubah.
“Kita tidak bisa begitu, kalau Provinsi NTB tahun ini punya stok cadangan pangan 100 ton cadangan pangan. Ini untuk antisipasi kondisi cuaca ekstrem, karena cadangan pangan penting,” tegasnya.
Azis mendorong agar setiap kabupaten/kota di NTB memiliki cadangan pangan yang memadai.
“Sekarang ada (cadangan pangan kabupaten/kota), tapi tidak signifikan cadangan pangannya, kalau hanya 30 ton misalnya cadangan pangannya, otomatis ndak mampu menghadapi kerentanan. Misalkan cuaca ekstrem, nelayan tidak melaut, cuaca ekstrem, kalau stok kurang, apa mampu pemerintah daerahnya menangani persoalan itu,” jelasnya.
Selain itu, Azis juga menghimbau masyarakat untuk memiliki cadangan pangan mandiri.
“Masyarakat harus punya juga cadangan pangan untuk menghadapi situasi ekstrem. Bisa dalam bentuk lumbung pangan, atau sejenisnya,” imbuhnya.
Di sisi lain, Azis menjelaskan bahwa untuk peningkatan produksi pangan, pihaknya mengacu pada data dan program yang dijalankan oleh Dinas Pertanian.
“Kalau untuk peningkatan produksi, sesuai dengan eksisting data yang ada tentu kita berpedoman pada apa yang dibuat oleh dinas pertaniian 257.000 hektar, kira kira produksi 1 jutaan ton lebih, atau sekitar 900 ribu ton beras,” jelasnya.
Azis juga menyampaikan bahwa pemerintah pusat tahun ini memberikan bantuan untuk program pemanfaatan pekarangan di seluruh kabupaten/kota di NTB.
“Program ini sedang disosialisasikan. Setiap kelompok dikasi bantuan sebesar 60 juta, anggaran pusat. Untuk pemanfaatran pekarangan bisa menanam tanaman pangan dalam bentuk sayuran, cabai dan terong, ditambah dengan ternak unggas atau budidaya perikanan,” terangnya.(bul)
Mataram (ekbisntb.com)-Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi NTB mengingatkan pentingnya pendaftaran hak paten bagi para periset atau peneliti sebagai langkah antisipasi plagiarisme maupun ditiru oleh orang lain.
Kakanwil Kemenkumham NTB, Parlindungan mengatakan, hak paten yang merupakan salah satu kekayaan intelektual yang sangat penting untuk dilindungi, sebab perlindungan karya atau temuan-temuan perlu dilakukan agar tidak dijiplak, dibajak maupun ditiru oleh orang lain atau kompetitor.
“Dengan mendaftarkan paten, periset dan peneliti akan mendapatkan jaminan perlindungan hukum akan invensi-nya. Selain itu, fungsi paten juga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen karena karyanya sudah diakui oleh pemerintah,” kata Parlindungan dalam kegiatan asistensi pendaftaran paten bertajuk Asistensi Pendaftaran Paten melalui keterangan tertulis diterima di Mataram, Jumat (2/6/2024).
Ia mengakui adanya kepastian perlindungan hukum sebuah perusahaan dapat merasa lebih percaya diri dan tidak perlu khawatir jika suatu saat menghadapi masalah hukum terkait konsep bisnis-nya.
“Dengan mendaftarkan paten terhadap suatu ide atau produk, juga akan mendapatkan keunggulan kompetitif, mencegah plagiarisme dan eksploitasi karya,” ujarnya.
Selain itu, menurut Parlindungan, hak paten juga berfungsi untuk memperluas jangkauan atau cakupan bisnis sehingga pemegang paten dapat mengorbitkan karyanya di dalam maupun luar negeri.
“Melalui lisensi yang dimiliki oleh perusahaan, kepercayaan konsumen terhadap karya perusahaan yang sudah terdaftar paten akan semakin meningkat,” terang Parlindungan.
Ia mengakui permohonan paten di Indonesia masih didominasi dari luar negeri. Meskipun begitu, permohonan paten dari dalam negeri mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum dan HAM, paten dari luar negeri sepanjang tahun 2023 proporsi-nya sebesar 75,8 persen dari total dokumen permohonan paten dalam tahun 2023.
Di sisi lain, jumlah permohonan paten yang berasal dari dalam negeri sebesar 24,2 persen dari total pemohon dokumen paten sepanjang tahun 2023 berjalan.
Sedangkan hambatan yang kerap kali dialami oleh penemu/pencipta dalam negeri dalam mendaftarkan invensi-nya tidak semata pada hasil invensi mereka, namun masih banyak yang belum memahami prosedur dan tata cara permohonan paten.
Selain itu ketidaktahuan dalam mengidentifikasi klasifikasi produk invensi juga jadi kendala. Kedua faktor tadi yang masih menjadi penyebab rendahnya pengajuan paten dalam negeri.
Karena itu, ia berharap melalui kegiatan asistensi pendaftaran paten yang dihadiri unsur perwakilan Perguruan Tinggi, inventor, Litbang, BRIN dan BRIDA dapat memacu para periset dan peneliti untuk mendaftarkan karyanya sehingga mendapatkan berbagai manfaat dari pendaftaran paten khususnya bagi masyarakat di NTB.
“Melalui kegiatan ini kami berharap dapat memacu penelitian dan inovasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi dan litbang di NTB, termasuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia agar dapat lebih terlindungi, serta meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global,” katanya.(Ant)
Jakarta (ekbisntb.com)-PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) menawarkan mobil New Palisade XRT, yang dilengkapi aksesori eksklusif, dengan harga sekitar Rp1 miliar.
“Palisade telah sukses memimpin pasar premium SUV selama tiga tahun terakhir dengan penjualan yang terus meningkat. Kami menghadirkan varian Palisade XRT yang mengusung pembaruan desain eksterior, memungkinkan pengguna untuk mengekspresikan karakter tangguh dalam berkendara dengan lebih maksimal,” kata Presiden Direktur PT HMID Woojune Cha dalam siaran pers perusahaan pada Sabtu 1 Juni 2024.
Palisade XRT dilengkapi Exclusive Dark Roof Rack/Rail, roda 20-inci eksklusif, hiasan pintu eksklusif, dan Liftgate Badge.
Selain itu, kendaraan memiliki grille gelap dan fitur Parametric Hidden-Type DRL yang membuat grille dan lampu terintegrasi penuh sehingga lampu tidak terlihat saat mesin mobil mati.
Varian ini juga dilengkapi dual sunroof serta pemanas dan pendingin kursi di baris depan dan kedua, memungkinkan pengaturan suhu kursi menjadi lebih sejuk atau hangat.
Mobil dengan dimensi 4.995 mm x 1.975 mm x 1.750 mm ini memiliki berbagai fitur keamanan dari Hyundai Smartsense, salah satunya Forward Collision-Avoidance Assist (FCA) untuk membaca kondisi jalan di depan dan otomatis melakukan pengereman saat mendeteksi mobil di depan berhenti mendadak.
Palisade XRT tersedia dalam opsi warna eksterior Creamy White Pearl, Moonlight Blue Pearl, Abyss Black Pearl, Graphite Grey Metallic, dan Shimmering SIlver Metallic. Pilihan warna interiornya meliputi Black & Burgundy dan Dark Navy & Warm Grey.
Mataram (ekbisntb.com)-Walaupun musim kemarau tahun 2024 ini diprediksikan ekstrem, Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I optimis bahwa ketersediaan air untuk musim tanam II masih terjamin. Hal ini dikarenakan tampungan air di bendungan masih memadai.
“Insya Allah sampai musim tanam II kita optimis, karena kita melihat tampungan bendungan masih memadai,” ujar Kepala BWS NT I, Tampang, ST.,MT.
Beberapa bendungan yang masih memiliki ketersediaan air cukup untuk musim tanam II antara lain, Benduungan Pandandure dan bendungan – bendungan besar di Sumbawa.
Meskipun demikian, BWS NT I juga tidak dapat menjamin ketersediaan air untuk musim tanam III. Hal ini dikarenakan musim tanam 3 sangat bergantung pada curah hujan.
“Kalau musim tanam III kan dari tahun ke tahun memang hanya separuh yang bisa menanam. Karena ketersediaan air tidak sebanyak musim tanam I dan II,” ungkap Tampang.
Lebih lanjut, Tampang menjelaskan bahwa peran penting dalam pengelolaan air untuk pertanian juga terletak pada pemerintah daerah (pemda), baik provinsi maupun kabupaten/kota.
“Sebetulnya yang paling besar kontribsinya dalam pengelolaan air ada pemda, pemrpov maupun pemkab,” jelas Tampang.
Hal ini dikarenakan pengoperasian saluran irigasi dan petugas penjaga pintu air berada di bawah tanggung jawab pemerintah daerah.
“Karena semua pengoperasian saluran irigasi bukan ada di kami, adanya di pemerintah provinsi di dinas PUPR. Petugas penjaga pintu air ada di provinsi dan kabupaten/kota. Merekalah yang mengetahui kapan petani minta air. Kalau tiba-tiba petani minta kemudian dibukakan airnya langsung, kami tidak bisa mengontrol. Pemda juga harus tertib disitu,” ujar Tampang.
Hingga saat ini, BWS NTB terus berkoordinasi dengan pemda untuk memastikan pengelolaan air dilakukan dengan sangat bijak. Agar pola tanam juga disesuiakan sehingga ketersediaan air dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien.
“Harapan kita, musim tanam III nanti juga nanti ketersediaan air kita masih bagus,” demikian Tampang.(bul)
Foto : 19 pesepeda gowes 1.500 Km Jakarta-Lombok untuk menggalang dana bagi 1.500 guru di Lombok Utara(ekbisntb.com/*)
Mataram (ekbisntb.com)-19 pesepeda penuh semangat mengayuh rute Jakarta-Lombok sepanjang 1.500 kilometer untuk melaksanakan event amal yang diselenggarakan oleh Grean Fly Cycling Team pada acara penggalangan dana yang dipersembahkan untuk 1.500 guru di Lombok Utara.
Sebanyak 19 pesepeda, yang disebut 19 ‘pejuang’, ini dilepas dari OCBC Tower, Jakarta Selatan, pada tanggal 25 Mei 2024. Menempuh waktu delapan hari untuk finish tanggal 1 Juni di Kantor Bupati Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
Lombok Charity Ride 2024 merupakan bentuk kerja sama dengan Perkumpulan IOA, sebuah organsasi non-profit yang mendukung pengembangan pendidikan di Indonesia. Bagi IOA, penggalangan dana ini adalah sebagai bentuk untuk meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia.
“Selain menggalang dana, Lombok Charity Ride juga bertujuan untuk menggaungkan kepedulian akan pentingnya kebangkitan pendidikan yang berkualitas, ekonomi yang kuat, dan destinasi wisata kelas dunia di Lombok Utara,” papar tim IOA pada buletinnya.
1.500 km ini dibagi menjadi delapan etape, dengan rute Jakarta-Cirebon-Ajibarang-Kebumen-Daerah Istimewa Yogyakarta-Sragen-Pasuruan-Banyuwangi-Pelabuhan Ketapang-Pelabuhan Gilimanuk-Padang Bai-Pelabuhan Senggigi-Lombok Utara.
‘Bu Nurhayati’, Legend Sepeda Indonesia Memimpin di Barisan Terdepan 1.500 km
Nurhayati, mungkin namanya sudah tidak asing di kalangan penggiat sepeda. Mantan pesepeda legenda yang akrab disapa Bu Nurhayati ini sempat menyabet gelar ‘Ratu SEA Games’ pada tahun 1997 karena capaian fantastisnya yang menyumbang lima medali emas, penyumbang emas terbanyak tahun itu untuk Indonesia.
Pada kesempatan ini, Nurhayati kembali diundang oleh Green Fly Cycling Team untuk memimpin delapan belas pesepeda lainnya bersepeda menuju Lombok Utara. Nurhayati memimpin peloton – nama untuk satu grup pesepeda yang bersepeda bersama – bersama dengan suaminya, Henry Setiawan legenda dalam kejuaraan balap sepeda.
Sebagai bentuk dukungan yang masif untuk spirit pesepeda Indonesia, Polygon Bikes sebagai salah satu merek sepeda asal Indonesia ikut andil dalam gowes amal tahun 2024 ini.
“Iya, kami ikut mendukung Lombok Charity Ride 2024,” ucap Veronica Vivin, brand marketing Polygon Bikes.
“Kami sangat senang ada semangat nasionalisme yang tumbuh dari legenda-legenda Indonesia. Dan kami senang hati mendukung agar bisa berkontribusi langsung untuk pendidikan di Indonesia. Semoga gowes amal ini bisa berdampak baik, tidak hanya di Lombok Utara, tetapi juga bisa menginspirasi lebih banyak lagi individu untuk mulai berkontribusi, walau mungkin terlihat kecil, untuk Indonesia.” ungkapnya.(*)