Saturday, April 4, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 7

Hari Ini, Lebaran Topat Digelar di Senggigi

0
Bupati Lombok Barat, H. Lalu Ahmad Zaini saat melakukan sidak persiapan event Lebaran Topat di Senggigi. (Suara NTB/ist/Prokopim Lobar)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Lebaran Topat merupakan tradisi yang tetap dijaga dan dirayakan di Pulau Lombok. Perayaannya biasa digelar seminggu setelah Lebaran Idulfitri ini menjadi salah satu bagian tradisi yang dirayakan oleh sebagian besar masyarakat Lombok. Begitu juga perayaan Lebaran Topat di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) tahun 2026 ini menjadi event yang memiliki nuansa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Perayaan Lebaran Topat di Kabupaten Lombok Barat tahun 2026 akan dipusatkan di Amphiteater Pasar Seni Senggigi, Kecamatan Batulayar. Ini merupakan kali pertama diselenggarakan di lokasi tersebut. Dengan telah terbangunnya sebuah Amphiteater di pasar seni Senggigi ini diharapkan menjadi tempat untuk terselenggaranya semua event tradisional dan modern. Nuansa pesisir Pantai Senggigi diharapkan menjadi magnet untuk menarik para wisatawan yang datang mengunjunginya.

Memastikan persiapan Perayaan Lebaran Topat, Bupati Lombok Barat H. Lalu Ahmad Zaini melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) untuk memonitoring persiapan-persiapan yang telah dilakukan. Bupati mengunjungi seluruh lokasi yang akan menjadi prosesi Perayaan Lebaran Topat, mulai mengunjungi Lingkoq Beleq yang merupakan tempat mengambil air dari mata air tersebut untuk dibawa para penziarah ke Makam Batulayar yang berjarak lebih kurang 300 meter.

Dengan berjalan kaki dari Lingkoq Beleq tersebut, LAZ menuju ke Makam Batulayar. Kemudian melanjutkan monitoring ke lokasi Pasar Seni Senggigi, Jumat (27/3/2026). Seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Camat beserta Forkopimcam mendapatkan pengarahan langsung oleh Bupati. Ia menekankan seluruh persiapan harus sesuai dengan rencana dan berharap seluruh rangkaian saat gelaran Perayaan Lebaran Topat berjalan sukses.

Bupati menginginkan perayaan Lebaran Topat tahun ini dipersiapkan semaksimal mungkin agar penyelenggaraannya dapat berjalan lancar dan khidmat. Ia juga berharap kehadiran para wisatawan domestik maupun mancanegara dapat menikmati gelaran perayaan dengan aman dan nyaman. (her)

Beras Cadangan Pemerintah Tersisa 5 Ton di Sumbawa

0
Beras Cadangan Pemerintah Tersisa 5 Ton di Sumbawa
Syaihuddin (Suara NTB/dok)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Sumbawa mencatat hingga akhir bulan Maret 2026, stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) khususnya beras tersisa hanya 5 ton dari total pengadaan tahun 2025 sebanyak 15 ton.

“Sisa CBP kita saat ini sekitar 5 ton dan belum termasuk untuk bantuan ke masyarakat yang terdampak bencana kebakaran di Alas. Sehingga kami usulkan untuk tambahan stok CPP,” kata Sekretaris DKP Sumbawa, Syaihuddin kepada Suara NTB, Jumat (27/3/2026).

Ia mengaku, berdasarkan Rencana Strategis Daerah (Renstra) untuk CPP ditargetkan sebesar 30 ton. Namun yang baru bisa dipenuhi baru sekitar 15 ton sehingga pihaknya mengusulkan tambahan sekitar 10 ton untuk menutupi kebutuhan hingga akhir tahun 2026.

“Tahun ini cukup banyak bencana yang terjadi di awal tahun, makanya CBP banyak kita keluarkan. Kami juga khawatir CBP kita tidak cukup hingga akhir tahun nanti sehingga kita usulkan tambahan,” ujarnya.

Ia pun berharap, tambahan kuota bisa disetujui oleh pemerintah, sehingga kebutuhan hingga akhir tahun bisa terpenuhi. Apalagi potensi terjadinya bencana masih bisa terjadi terutama jelang musim kemarau.

“Rata-rata CBP yang kita keluarkan untuk penanganan dampak banjir, kebakaran, dan angin puting beliung. Kalau untuk bencana-bencana lainnya kami berharap tidak terjadi di Sumbawa,” ucapnya.

Ia menambahkan, saat ini pemerintah telah memiliki sistem khusus untuk kejadian bencana alam. Di mana proses bantuan pangan beras dimulai dari desa yang harus bersurat ke BPBD dalam kurun waktu 1 kali 24 jam dan selanjutnya data dari BPBD menjadi acuan penyaluran bantuan pangan beras untuk bencana alam.

“Pola demikian kami lakukan untuk menekan terjadinya hal yang tidak diinginkan saat pelaksanaan nantinya terutama penyimpangan beras bantuan, ” tukasnya. (ils)

Harga Elpiji Subsidi di Lombok Timur Ditemukan Lampaui HET

0
Kegiatan sidak yang dilakukan jajaran Dinas Perdagangan Lotim ke sejumlah pangkalan elpiji. (Suara NTB/ist)

Harga gas elpiji subsidi 3 kilogram (kg) di Kabupaten Lombok Timur ditemukan banyak melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET). Keluhan ini datang dari ibu-ibu rumah tangga yang merasakan lonjakan harga dalam beberapa waktu terakhir, meskipun bagi sebagian dari mereka, ketersediaan barang dinilai lebih penting daripada selisih harga.Berdasarkan hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Dinas Perdagangan Kabupaten Lombok Timur, ditemukan sejumlah pengecer menjual tabung elpiji subsidi dengan harga mencapai Rp22.000 per tabung. Angka ini melonjak signifikan dibandingkan HET yang ditetapkan sebesar Rp18.000 per tabung.

Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Lombok Timur, Hadi Fathurrahman, menjawab Suara NTB, Jumat (27/3/2026) kemarin mengungkapkan bahwa pihaknya telah beberapa kali melakukan sidak ke sejumlah titik. Dari hasil pengawasan, ditemukan bahwa maraknya harga elpiji subsidi di Lombok Timur di atas HET disebabkan oleh banyaknya oknum pengecer yang mengambil untung lebih.

“Mekanisme pendistribusian elpiji bersubsidi ini seharusnya dari Pertamina ke agen, lalu ke pangkalan. Dalam aturan, distribusi ini berhenti di pangkalan dan tidak dikenal adanya istilah pengecer. Namun, di lapangan kita temukan banyak sekali pengecer yang menjual melampaui HET,” ujar Hadi.Para pengecer yang ditemui mengaku terpaksa menaikkan harga karena adanya biaya transportasi dari pangkalan ke lokasi penjualan mereka. Biaya inilah yang kemudian menjadi alasan utama lonjakan harga yang dibebankan kepada konsumen akhir.

Meski harga melambung, Dinas Perdagangan memastikan bahwa isu yang beredar di media sosial mengenai adanya penjualan elpiji hingga Rp50.000 per tabung tidak terbukti.

“Selama proses sidak, kami tidak pernah menemukan satupun yang menjual semahal itu. Kami persilakan warga Lotim untuk melapor jika menemukan penjual yang mematok harga sangat jauh di atas HET, dengan menyebutkan nama dan alamat jelas,” tegas Hadi.Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur telah menyiapkan surat resmi kepada Pertamina untuk meminta tambahan jatah pasokan tabung gas elpiji bersubsidi. Adapun besaran extra dropping yang diajukan akan dihitung langsung oleh pihak Pertamina.

Menanggapi situasi ini, Hiswana Migas selaku mitra Pertamina menyebut Lombok Timur sebagai wilayah yang unik. Saat libur panjang seperti saat ini, permintaan di Lotim justru melonjak tinggi, berbanding terbalik dengan Kota Mataram yang cenderung sepi. Pihaknya meyakini kondisi harga dan ketersediaan akan kembali normal seiring berakhirnya masa libur dan dimulainya kembali aktivitas kerja serta perkuliahan.Dinas Perdagangan Lotim saat ini terus berkomunikasi intensif dengan Pertamina untuk memastikan distribusi berjalan lancar dan meminimalisir kelangkaan serta lonjakan harga di tingkat pengecer.

Informasi dihimpun Suara NTB harga jual elpiji subsidi di Lombok Timur di sejumlah pengecer ada yang berkisar Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Pantauan terakhir hari Jumat (27/3/2026), ibu-ibu di Lombok Timur kesulitan mendapatkan bahan bakar utama kebutuhan dapur agar bisa ngebul. (rus)

KSPSI NTB Waspadai Ancaman PHK, Dampak Konflik Global dan Tekanan Ekonomi

0
Yustinus Habur (Suara NTB/bul)

Mataram (ekbisntb.com) – Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) NTB, Yustinus Habur, mengingatkan potensi meningkatnya ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah tekanan ekonomi global dan nasional yang belum stabil.

Menurutnya, kondisi saat ini tidak bisa dilepaskan dari konflik global yang terus memanas dan berdampak luas hingga ke daerah, termasuk di Nusa Tenggara Barat. Kenaikan harga energi, khususnya minyak dunia, menjadi salah satu pemicu yang memberikan efek berantai terhadap perekonomian.

“Persoalan global ini makin memanas terus. Dampaknya juga ke Indonesia, terutama karena persoalan energi, efeknya ke mana-mana,” ujarnya.

Ia menilai, kondisi ekonomi nasional saat ini juga belum sepenuhnya pulih. Hal tersebut memperbesar potensi tekanan terhadap dunia usaha yang pada akhirnya berdampak langsung pada tenaga kerja.

“Apapun situasi ekonomi, pasti berpengaruh pada tenaga kerja,” tegasnya.

Yustinus juga menyoroti kehati-hatian pemerintah dalam mengambil kebijakan fiskal, khususnya terkait penambahan utang. Menurutnya, beban utang yang cukup besar pada periode sebelumnya membuat pemerintah saat ini cenderung lebih berhati-hati.

“Ketidakberanian pemerintah untuk utang kembali, karena tahun ini terlalu besar dari sebelumnya. Jadi tidak berani utang lagi, sementara situasi juga berat sekali,” katanya.

Di tengah kondisi tersebut, KSPSI melihat adanya kekhawatiran terhadap masa depan pekerja, terutama jika pemerintah tidak segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi dan dunia usaha.

“Pasti ada kekhawatiran. Situasi seperti ini rawan bagi tenaga kerja,” ungkapnya.

Sebagai langkah antisipasi, Yustinus menjelaskan bahwa pola yang umum dilakukan perusahaan sebelum melakukan PHK adalah dengan mengurangi jam kerja karyawan. Kebijakan ini berdampak langsung pada penurunan pendapatan pekerja.

“Biasanya yang dilakukan itu pengurangan jam kerja. Misalnya kerja dua minggu, atau hanya 10 hari. Otomatis gaji juga ikut turun,” jelasnya.

Namun, jika kondisi tidak membaik, langkah tersebut kerap berujung pada PHK.

“Kalau tidak bisa diatasi, lama-lama PHK yang dilakukan,” tambahnya.

Ia menilai sektor pariwisata menjadi salah satu yang paling rentan terdampak. Pembatasan kegiatan seperti rapat di hotel serta menurunnya jumlah wisatawan akibat kekhawatiran situasi global menjadi indikasi awal.

“Pekerja hotel sudah mulai kelihatan terdampak. Wisatawan juga mulai berkurang, terutama dari Eropa dan Amerika karena mereka takut keluar negaranya,” ujarnya.

Meski demikian, hingga saat ini KSPSI NTB mengaku belum menerima laporan resmi terkait kasus PHK dari pekerja. Namun pihaknya tetap membuka ruang pengaduan dan telah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk tim hukum untuk mendampingi pekerja jika terjadi persoalan ketenagakerjaan.

“Kami sudah siapkan tim hukum. Kalau ada persoalan, kami siap dampingi. Pekerja tidak boleh begitu saja dikeluarkan tanpa prosedur,” tegasnya.

Ia juga memastikan bahwa jaringan serikat pekerja di tingkat perusahaan terus berkoordinasi untuk memantau kondisi di lapangan.

“Di perusahaan itu kan ada unit kerja. Kami saling berkoordinasi. Sampai saat ini memang belum ada laporan,” katanya, Jumat, 27 Maret 2026.

Selain faktor global, kenaikan harga kebutuhan pokok seperti beras juga dinilai dapat memperberat beban dunia usaha. Kondisi ini berpotensi membuat perusahaan melakukan efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja secara bertahap.

“Kalau biaya produksi naik, perusahaan pasti kesulitan. Akhirnya mulai mengurangi, itu yang dikhawatirkan,” jelasnya. (bul)

Bing Gianto, Tak Berhenti Mengukir “Bumi Gora” di Atas Kayu

0
Bing Gianto, menunjukkan beberapa karya seninya yang akan disempurnakan kembali. (Suara NTB/bul)

Di sebuah sudut rumah di Ampenan, waktu seolah berjalan lebih lambat. Tumpukan kayu tua, akar-akar besar yang telah mengering, serta perkakas ukir yang masih tertata rapi menjadi saksi perjalanan panjang seorang seniman. Di tempat itulah Bing Gianto terus berkarya, meski usianya telah beranjak menuju satu abad.

BING Gianto tahun 2026 ini memasuki usia 72 tahun. Sudah lebih dari separuh hidupnya ia dedikasikan untuk dunia seni, khususnya desain kerajinan kayu. Ia sebelumnya cukup aktif di Dekranasda NTB, dan sudah menjabat sebagai Kepala Kantor Perwakilan Dagang Jawa Timur di NTB.

Usia tak pernah menjadi batas. Ingatannya masih kuat, tubuhnya tetap bugar, dan yang paling penting, imajinasinya tidak pernah berhenti bekerja.

Dari tangannya telah lahir puluhan karya, sebagian besar berupa meja-meja besar dengan ukiran tiga dimensi yang unik dan penuh detail. Yang umumnya menggambarkan kearifan lokal Nusa Tenggara Barat.

Diantara karyanya adalah meja Segara Anak, meja Kuda, Meja Gerabah Lombok, Meja Waktu Telu, Meja Berugaq, Meja Gendang Baleq, Meja Nuansa Bumi Gora, dan lainnya.

Bagi Bing Gianto, bungkul akar kayu bekas tebangan pohon bukan sekadar bahan. Ia melihat kehidupan di dalamnya. Diamter akar yang besar yang telah kering, mungkin bagi banyak orang bukan lagi sebagai barang tak bernilai. Namun bagi Bing Gianto, justru itulah yang menjadi titik awal kreativitasnya. Setiap akan membuat karya, ia akan mengamati bentuk alami kayu, mengikuti alurnya, lalu membangun imajinasi di atasnya.

Setiap lekuk kayu menjadi inspirasi. Dari situ lahir berbagai tema, mulai dari nuansa lokal Nusa Tenggara Barat hingga imajinasi yang melampaui batas geografis, seperti ukiran air terjun Niagara.

“Tidak Digambar dulu, langsung di bahan kayunya kita bisa berimajinasi, mau dijadikan tema apa. Mengikuti pola kayu,” ujarnya, saat dijumpai, Jumat, 27 Maret 2026, sembari menjelaskan proses kreatif yang ia jalani selama puluhan tahun.

Sebagian besar karyanya tetap berakar pada identitas daerah, budaya, alam, dan filosofi hidup masyarakat NTB.

Dan diantara karya yang paling dikenang adalah meja bertema “Tembok Cina”. Karya berukuran sekitar tiga meter itu dikerjakan hingga enam bulan lamanya. Detail ukirannya begitu hidup, terutama pada bagian naga yang seolah bergerak mengikuti alur kayu.

Dan karya bertema Bumi Gora yang merepresentasikan kekayaan budaya NTB. Meja-meja besar tersebut tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga simbol identitas daerah yang dituangkan dalam medium kayu.

Karya-karyanya tidak hanya berhenti di ruang pribadi. Sejumlah hasil karyanya telah dimiliki tokoh penting. Salah satunya pernah digunakan di rumah Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Selain itu, karyanya juga menghiasi rumah mantan Gubernur NTB, Lalu Serinata, serta sejumlah pendopo dan rumah pejabat lainnya.

Harga karyanya pun tidak main-main. Salah satu karya bahkan pernah dihargai hingga Rp200 juta. Namun bagi Bing, nilai sebuah karya tidak hanya terletak pada angka, melainkan pada proses dan makna yang terkandung di dalamnya.

Perjalanan kreatifnya tidak lahir dari pendidikan formal seni. Ia mengaku bukan lulusan jurusan desain. Semuanya berawal dari panggilan hati.

“Itu panggilan hati, Mas. Saya bukan lulusan jurusan itu (seni),” ungkapnya.

Salah satu momen penting dalam hidupnya terjadi saat pertemuan gubernur se-Indonesia di NTB pada era 1980-an. Saat itu, ia mendapat kesempatan membuat karya untuk Presiden SBY. Diminta langsung oleh Gubernur NTB, Harun Alrasyid waktu itu.

Dalam proses pembuatan pesanan gubernur, ia bahkan menjalani puasa selama seminggu, sebagai bentuk pencarian inspirasi. Karena ia harus membuat karya seni yang bisa menjadi perhatian tokoh nasional seperti presiden.

“Hari keempat saya dapat mimpi, bangun jam 02.00. Saya tulis, saya baru buat,” kenangnya.

Dari pengalaman tersebut, ia semakin yakin bahwa seni bukan hanya soal teknik, tetapi juga perjalanan batin.

Dalam proses pengerjaan karya seni, Bing tidak bekerja sendiri. Ia melibatkan pengrajin dari Bali dan NTB. Namun untuk menjaga kualitas dan kesesuaian dengan imajinasinya, ia harus turun langsung mengawasi setiap detail.

“Harus saya tunggu. Karena detailnya harus sesuai,” ujarnya.

Karya-karyanya pun telah menjangkau pasar yang lebih luas. Selain dipasarkan di dalam negeri, beberapa di antaranya juga sampai ke luar negeri, termasuk Singapura, Belanda.

Meski telah berkarya selama puluhan tahun, Bing menyadari satu hal yang masih menjadi kegelisahannya: belum adanya penerus yang mampu melanjutkan jejaknya. Ia sebenarnya telah membuka ruang belajar bagi siapa saja yang berminat, bahkan tanpa biaya.

“Silakan belajar ke sini, saya ajarkan,” tegasnya.

Namun hingga kini, belum ada yang benar-benar bertahan. Menurutnya, menjadi desainer bukan perkara mudah. Dibutuhkan imajinasi, ketekunan, dan kesabaran.

Kekhawatiran itu terus menghantui. Ia tidak ingin seni ukir kayu yang selama ini ia kembangkan berhenti pada dirinya. Terlebih, karya-karya tersebut menjadi salah satu cara memperkenalkan NTB ke dunia luar.

“Saya ingin paling tidak ada satu penerus,” katanya pelan.

Di tengah usia yang terus bertambah, Bing Gianto tetap setia pada jalannya. Ia terus menghidupkan kayu-kayu mati menjadi karya yang bernyawa. Di tangannya, akar-akar kering berubah menjadi cerita tentang budaya, tentang alam, dan tentang cinta yang tak pernah padam pada tanah kelahirannya.

Bagi Bing, berkarya bukan sekadar aktivitas. Ia adalah cara hidup. Cara untuk terus mengabadikan NTB dalam setiap lekuk ukiran, selama tangan masih mampu bergerak dan imajinasi masih menyala. (bul)

Pemkot Mataram Targetkan Belanja Pegawai Turun Jadi 30 Persen pada 2027

0
H. Lalu Alwan Basri (Suara NTB/pan)

Mataram (ekbisntb.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menargetkan penurunan porsi belanja pegawai hingga maksimal 30 persen pada tahun 2027. Salah satu langkah yang dipertimbangkan adalah merumahkan aparatur sipil negara (ASN) yang tidak disiplin sebagai bagian dari upaya efisiensi anggaran.

Sebelumnya, porsi belanja pegawai Pemkot Mataram berada di kisaran 37 persen dan kini meningkat hingga menyentuh 40 persen. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah untuk menyiapkan sejumlah kebijakan strategis, sebagaimana telah dilakukan di beberapa daerah lain.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri, mengungkapkan bahwa kondisi fiskal daerah saat ini mengalami tekanan. Hal itu dipengaruhi oleh tingginya rekrutmen pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) serta penurunan Dana Insentif Daerah (DID) yang mencapai Rp300 miliar.

Alwan menyebutkan bahwa opsi merumahkan pegawai telah masuk dalam pemetaan strategi pemerintah daerah untuk tahun 2027. “Beberapa daerah juga sudah memberikan sinyal untuk merumahkan pegawai. Ini menjadi salah satu opsi yang akan kita kaji,” ujarnya, Jumat (27/3).

Ia menambahkan, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) telah menyiapkan sejumlah opsi yang akan diajukan kepada Wali Kota. Selain itu, Pemkot Mataram juga mempertimbangkan langkah lain, seperti pengurangan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP).

Tak hanya berfokus pada aspek anggaran, Pemkot juga menyoroti kinerja dan kedisiplinan ASN sebagai bagian dari upaya efisiensi. Alwan menegaskan bahwa proses seleksi dan pengawasan terhadap aparatur akan diperketat.

“Kami sudah mulai melakukan seleksi berdasarkan tingkat disiplin. ASN kita cukup banyak, dan ada juga yang tidak disiplin, seperti tidak masuk kerja. Itu akan kami tindak, bahkan bisa diberhentikan. Prosesnya sudah mulai berjalan melalui sidang,” tegasnya.

Saat ini, TPP pegawai baru terealisasi sekitar 60 persen dari standar. Oleh karena itu, pemerintah akan melakukan perhitungan ulang sebelum pembahasan APBD 2027.

Melalui langkah-langkah tersebut, Pemkot Mataram berharap dapat menyeimbangkan postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sehingga ruang fiskal untuk pembangunan dan pelayanan masyarakat tetap optimal.

“Nanti akan kita hitung kembali besaran pengurangan TPP. Yang terpenting, TAPD menyiapkan opsi dan pertimbangan kepada Wali Kota, dan keputusan akhir ada pada beliau,” pungkas Alwan. (pan)

Lebaran Topat: Bukan Sekadar Tradisi, tapi Sumber Denyut Ekonomi

0
Nurul sedang melayani pembeli janur di Pasar Tradisional Pegesangan pada Jumat, (27/3/2026). (Suatu NTB/pan)

PAGI itu, suasana Pasar Pagesangan, Kota Mataram, Jumat (27/3/2026), terasa berbeda. Keramaian datang lebih awal dari biasanya. Di antara hiruk-pikuk pembeli dan suara tawar-menawar, deretan pedagang janur tampak sibuk melayani pembeli yang silih berganti.

Menjelang perayaan Lebaran Topat, janur menjadi komoditas yang paling dicari. Tradisi yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Lombok ini bukan sekadar bagian dari ritual budaya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang.

Di sudut pasar, Nurul (43), pedagang janur asal Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, tampak cekatan melayani pembeli. Tangannya lincah merapikan ikatan janur, sesekali menghitung uang, tanpa menghilangkan senyum di wajahnya. “Kami berangkat sebelum subuh sejak Kamis kemarin,” tuturnya.

Sejak dini hari, Nurul sudah menempuh perjalanan dari desanya menuju pasar. Ia membawa puluhan ikatan janur yang telah dipersiapkan sehari sebelumnya. Ada janur yang sudah dirajut menjadi ketupat, ada pula yang masih utuh. Bahkan, ia juga menawarkan kemasan ketan berbentuk bantal, menambah variasi dagangannya.

Satu ikatan berisi 10 buah ketupat dijual seharga Rp10 ribu, sementara janur yang belum dirajut dibanderol Rp500 per lembar. Meski terlihat sederhana, usaha ini menyimpan cerita panjang tentang kerja keras dan ketekunan.

Janur yang dijual Nurul bukan berasal dari kebunnya sendiri. Ia membelinya dari petani di kampungnya, kemudian memilah, membersihkan, dan mengikatnya sebelum dibawa ke pasar. Dari tangan petani hingga ke pembeli, ada rantai ekonomi yang hidup dari tradisi ini. “Alhamdulillah, sehari bisa dapat sekitar Rp1 juta,” katanya.

Baginya, Lebaran Topat adalah momen yang dinanti setiap tahun. Tidak hanya membawa rezeki bagi dirinya, tetapi juga bagi para petani kelapa di desanya.

Di lapak lain, Hj. Nuraini (67) juga merasakan hal serupa. Sejak dua hari sebelum Idulfitri, ia sudah mulai berjualan janur di pasar yang sama. Menurutnya, Lebaran Topat justru lebih ramai dibandingkan Idulfitri. “Lebih ramai sekarang, karena ini memang momen perayaan,” ujarnya.

Keramaian tak hanya terasa di pasar. Di sepanjang Jalan Airlangga, aroma santan dan rempah menggoda pengendara. Para pedagang ketupat opor berjejer, memanfaatkan momen ini untuk meraih rezeki.

Nanik (45), salah satunya. Pedagang asal Sekarbela ini sudah hampir satu dekade menjajakan ketupat opor setiap Lebaran Topat. Ia membuka lapak sederhana di dekat Taman Budaya NTB. “Biasanya mulai jualan sehari sebelum Lebaran Topat,” katanya.

Di lapaknya, tersedia beragam lauk pendamping ketupat, mulai dari opor telur, tempe, tahu, hingga sayur nangka. Satu porsi dijual dengan harga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu. Pembeli datang silih berganti, sebagian besar membawa keluarga.

Lebaran Topat memang bukan sekadar perayaan. Tradisi yang digelar sepekan setelah Idulfitri ini menjadi momen berkumpul, berbagi, dan mengenang kebersamaan. Ketupat yang disajikan bukan hanya makanan, tetapi simbol kehangatan dan kebersamaan.

Di balik suasana yang meriah, ada denyut ekonomi rakyat yang terus bergerak. Dari petani kelapa, perajin janur, hingga pedagang makanan, semuanya terhubung dalam satu siklus yang berulang setiap tahun.

Lebaran Topat, pada akhirnya, bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghidupkan harapan, tentang rezeki, kebersamaan, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat. (pan)

Dompu Mulai Kirim Ternak untuk Iduladha ke Jabodetabek

0
Truk tronton yang mengangkut ternak sapi asal Dompu dan hendak dikirim ke Jabodetabek untuk kebutuhan hewan kurban 2026, Kamis (26/3). (Suara NTB/ist)

Dompu (ekbisntb.com) – Pengusaha dan petani ternak asal Kabupaten Dompu mulai mengirimkan ternaknya untuk kebutuhan hewan kurban saat Iduladha di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) tahun 2026. Sebanyak 2 ribu ekor sapi akan dikirim dan pengiriman perdana mulai dilakukan, Kamis (26/3/2026).

“Alhamdulillah hari ini (kemarin, red) pengiriman perdana ternak untuk kebutuhan hewan kurban wilayah Jabodetabek dari Kabupaten Dompu. Target kita dua ribu ekor. Alhamdulillah, dua ribu ekor itu sudah ada ternaknya dan sudah keluar izinnya,” ungkap Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Dompu, Ilham, SP, Kamis (26/3).

Sebanyak 2 ribu ekor ternak ini akan dikirim ke Jabodetabek menggunakan mobil tronton dan tol laut. Sesuai pembagian dari pemerintah provinsi, Dompu mendapat alokasi dua kali tol laut. Namun, jalur tol lautnya Bima–Tanjung Perak Surabaya.

“Pengusaha kita tidak mau keluar di Tanjung Perak, tapi mau langsung ke Tanjung Priok Jakarta. Kalau keluar lewat Tanjung Perak, mereka harus lewat jalur darat yang panjang lagi ke Jakarta. Itu yang mereka tidak mau. Sekarang sedang diajukan perubahan, semoga bisa,” katanya.

Untuk pengiriman menggunakan mobil tronton, bisa mengangkut hingga 30 ekor per unit tronton. Selain memuat sapi, pengusaha juga bisa membawa pakan kering di tronton. Mobil juga bisa sambil istrahat di jalan, terlebih perjalanannya bisa ditempuh sekitar tiga hari. Karena bisa langsung dari Lembar–Surabaya atau Banyuwangi.

“Kalau pengusaha kita, mereka lebih suka pake tronton. Karena mereka sekali jalan angkut ternaknya. Tidak bongkar muat,” jelasnya.

Kuota pengiriman ternak untuk Kabupaten Dompu tahun 2026 ini sebanyak 13.500 ekor. Sementara populasi ternak di Kabupaten Dompu sebanyak 200 ribu ekor sapi, 15 ribu ekor kerbau, dan 90 ribu ekor kambing.

Ternak yang dikirim ke luar daerah ini dipastikan sehat dan bebas dari segala penyakit. Pemberian vaksin dan vitamin juga diprioritaskan bagi ternak yang akan dikirim ke luar daerah. (ula)

Penerbangan dari dan ke Lombok Tetap Berpeluang Tumbuh, di Tengah Tantangan Konflik Global

0
PT Angkasa Pura Indonesia melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) tetap meyakini pertumbuhan trafik penerbangan di tengah tantangan. (Suara NTB/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Di tengah dinamika dan ketidakpastian global, sektor penerbangan di Nusa Tenggara Barat tetap menunjukkan prospek positif. PT Angkasa Pura Indonesia melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) pun, tetap meyakini pertumbuhan trafik penerbangan ditengah tantangan.

Sebagaimana dikemukakan Plt. Branch Communication & CSR Department Head BIZAM, Hidya Putri Ramadhina. Menurutnya, konflik global yang sedang terjadi saat ini seperti perang Rusia Ukraina, dan perang AS-Israel dengan Iran tidak menekan upaya pengelola bandara di Lombok untuk terus mendorong pengembangan rute penerbangan, baik domestik, maupun internasional.

“Kami tetap optimis. Meskipun ada dinamika global, sektor penerbangan masih memiliki peluang besar untuk tumbuh,” ujarnya di Mataram, Kamis, 26 Maret 2026.

Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah, pengelola BIZAM akan ambil bagian dalam konferensi internasional, yang mempertemukan pengelola bandara dengan maskapai penerbangan dari berbagai negara serta stakeholder lainnya.

Menurut Hidya, forum ini menjadi momentum strategis untuk mempromosikan potensi rute penerbangan dari dan menuju Lombok kepada maskapai global.
“Kami akan mempromosikan potensi wisata Lombok, seperti Gunung Rinjani dan keindahan pantainya. Harapannya, maskapai tertarik membuka atau menambah rute ke Lombok,” jelasnya.

Ia menambahkan, setiap bandara yang dikelola PT Angkasa Pura Indonesia memiliki segmentasi pasar yang berbeda. Untuk Lombok, fokus utama pengembangan rute diarahkan pada sektor pariwisata, berbeda dengan beberapa bandara lain seperti di Semarang misalnya, yang lebih condong mempromosikan sektor industry sebagaimana potensi wilayahnya.

“Setiap bandara punya keunggulan masing-masing. Lombok kuat di pariwisata, sehingga itu yang kami dorong melalui promosi-promosi,” katanya.

Sejalan dengan itu, BIZAM juga membidik peningkatan penerbangan internasional sebagai salah satu strategi utama dalam mendorong pertumbuhan trafik penumpang.

Untuk mendukung langkah tersebut, PT Angkasa Pura Indonesia secara aktif melakukan berbagai upaya, di antaranya melalui airlines marketing guna memetakan kondisi industri aviasi terkini, menggali potensi rute baru, serta membangun komunikasi intensif dengan maskapai dan regulator.

Selain itu, pengelola bandara juga rutin mengikuti forum dan konferensi bersama pemangku kepentingan, baik di dalam maupun luar negeri, guna memperluas jejaring dan peluang kerja sama.

Tidak hanya itu, sejumlah program insentif juga ditawarkan kepada maskapai sebagai stimulus untuk membuka rute baru maupun meningkatkan frekuensi penerbangan yang sudah ada. (bul)

36 Penerbangan di Bandara Lombok Sudah Terealisasi Selama Periode Mudik 2026

0
36 Penerbangan di Bandara Lombok Sudah Terealisasi Selama Periode Mudik 2026
Selama periode angkutan mudik Lebaran 2026, BIZAM Lombok mencatat realisasi penerbangan tambahan sudah terlaksana sesuai rencana. (Suara NTB/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Selama periode angkutan mudik Lebaran 2026, Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) Lombok mencatat realisasi penerbangan tambahan (extra flight) sudah on the track (terlaksana sesuai rencana).

Plt. Branch Communication & CSR Department Head BIZAM, Hidya Putri Ramadhina di Mataram, Kamis, 26 Maret 2026 menyampaikan, hingga saat ini total penerbangan tambahan mencapai 39 penerbangan. Dari jumlah tersebut, sekitar 36 penerbangan telah berjalan sesuai jadwal.

“Dari total extra flight yang diajukan maskapai, sebagian besar berjalan sesuai jadwal,” ujarnya.

Ia menjelaskan, realisasi tersebut merupakan akumulasi selama periode Posko Terpadu Angkutan Udara Lebaran yang berlangsung sejak 13 hingga 30 Maret 2026. Selama periode ini, pihak bandara terus memantau perkembangan pengajuan dan realisasi penerbangan tambahan dari maskapai.

Menurutnya, jumlah extra flight masih berpotensi bertambah hingga akhir periode posko. Salah satu contohnya adalah dari Lion Group yang mengajukan rencana 12 penerbangan tambahan, namun baru terealisasi 10 penerbangan.
“Masih ada kemungkinan bertambah. Maskapai masih dapat mengajukan tambahan hingga 30 Maret, dan kami terus melakukan pembaruan setiap hari,” jelasnya.

Hidya menambahkan, sejauh ini realisasi penerbangan tambahan masih berjalan sesuai rencana, seiring meningkatnya kebutuhan transportasi udara selama musim mudik.

Adapun puncak arus penerbangan diperkirakan terjadi pada 29 Maret 2026 atau H+7 Lebaran. Pada periode tersebut, bandara diproyeksikan mengalami lonjakan penumpang tertinggi, sehingga seluruh pihak tetap dalam kondisi siaga.

“Kami masih sangat siaga untuk menghadapi puncak arus balik,” katanya.

Sebelumnya, PT Angkasa Pura Indonesia secara resmi membuka Posko Terpadu Angkutan Udara Lebaran 1447 H/2026 M di BIZAM yang beroperasi selama 18 hari, mulai 13 hingga 30 Maret 2026. Posko ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari otoritas bandara, TNI, Polri, hingga instansi terkait lainnya.

Pembentukan posko tersebut merupakan tindak lanjut dari Instruksi Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor IR-DJPU 01 Tahun 2026, yang bertujuan memastikan kelancaran operasional penerbangan selama masa angkutan Lebaran.

Selama periode ini, operasional bandara mengedepankan prinsip 3S + 1C, yakni Safety, Security, Service, dan Compliance, guna menjamin keselamatan, keamanan, serta kenyamanan pengguna jasa. (bul)