Friday, April 3, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 4

Study LETMI ITB : Dampak MotoGP Mandalika 2025 Senilai Rp4,96 Triliun

0

Mataram (ekbisntb.com) – Penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025 menghasilkan dampak ekonomi nasional sebesar Rp4,96 triliun, berdasarkan studi yang disusun oleh Lembaga Teknologi Manajemen Industri Institut Teknologi Bandung (LETMI ITB).

Event MotoGP Mandalika dinilai berhasil menghadirkan 140.324 penonton dengan tingkat okupansi hotel mencapai 100% di kawasan Mandalika, serta rata-rata okupansi sebesar 93% di Pulau Lombok dan 90% di Kota Mataram.
Selain itu, lebih dari 600 UMKM lokal terlibat dan lebih dari 3.000 tenaga kerja terserap, dengan 67% di antaranya berasal dari Kabupaten Lombok Tengah.

Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025 sekaligus Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka menyampaikan, pengembangan The Mandalika merupakan investasi jangka panjang dalam mewujudkan ekosistem sport tourism di Indonesia yang mampu mengintegrasikan sektor olahraga, sektor pariwisata dan pengembangan ekonomi lokal, termasuk UMKM.

“Berdasarkan studi dampak ekonomi yang disusun LETMI ITB, penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025 menghasilkan estimasi dampak ekonomi nasional mencakup peningkatan aktivitas pariwisata, perputaran ekonomi lokal, penciptaan lapangan kerja, serta kontribusi terhadap penguatan national branding Indonesia di mata dunia. Angka ini mencerminkan multiplier effect yang jauh melampaui biaya penyelenggaraan event,” kata dalam keterangan tertulis, Selasa, 31 Maret 2026.

Melihat manfaat yang diperoleh, Perseroan terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan untuk memastikan keberlanjutan penyelenggaraan event internasional tersebut dengan skema yang semakin optimal dan berkelanjutan.
“Dengan metode pengembangan yang kami lakukan, kami optimistis akan mampu menjadikan The Mandalika sebagai destinasi sport tourism unggulan di Indonesia sekaligus memperkuat daya saing di dunia,” demikian Troy.(bul)

PLN Tegaskan Pengembangan Geothermal Berbasis Ilmiah, Akademisi Pastikan Manifestasi Alamiah

0

Ngada (ekbisntb.com)-Pengembangan panas bumi di wilayah Mataloko, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mendapat penegasan dari kalangan akademisi. Ahli geothermal, Pri Utami, menekankan bahwa manifestasi panas bumi seperti mata air panas, kepulan uap, maupun lumpur panas di wilayah tersebut merupakan fenomena alamiah, bukan dampak aktivitas pengeboran.

“Manifestasi panas bumi adalah wujud atau ekspresi adanya potensi panas bumi di bawah permukaan. Di permukaan, ia muncul dalam bentuk mata air panas, tanah beruap, atau kolam lumpur panas yang meletup-letup. Itu terbentuk secara alamiah,” jelas Pri.

Ia menerangkan, lumpur panas terbentuk ketika fluida geothermal di dalam reservoir mendidih dan bergerak mendekati permukaan. Proses kondensasi di bawah batuan penudung menyebabkan batuan tersebut melemah dan terlarut, sehingga tampak seperti lumpur. Fenomena ini bersifat alami dan terbatas pada area manifestasi dengan sebaran yang relatif dangkal.

Pri Utami juga menegaskan bahwa fenomena lumpur panas di Mataloko tidak dapat disamakan dengan peristiwa lumpur Lapindo.

“Manifestasi geothermal terbatas di area tertentu dan kedalamannya dangkal. Ini juga bukan lumpur pemboran atau limbah pengeboran,” tegasnya.

Penjelasan tersebut sekaligus meluruskan berbagai persepsi keliru yang berkembang di ruang publik. Manifestasi yang terlihat di permukaan bukanlah akibat pembuangan material sisa pengeboran, melainkan proses geologi alami yang telah ada jauh sebelum kegiatan pengembangan berlangsung.

Di sisi lain, masyarakat sekitar turut memberikan kesaksian mengenai kondisi riil di lapangan. Katharian Fono, warga Daratei, Desa Ulubelu, menyatakan bahwa berbagai isu yang menyebut munculnya lumpur di banyak lokasi tidak sesuai dengan kenyataan.

“Kalau ada yang mengatakan di sini tidak bisa menghasilkan dan lumpur muncul di mana-mana, itu tidak benar. Kami yang tinggal di sini mengetahui kondisi sebenarnya,” ujarnya.

Ia bahkan mengaku merasakan manfaat langsung dari pengembangan geothermal.

“Dulu saya hidup dalam keterbatasan, rumah bambu dengan atap sederhana. Sekarang anak saya bekerja karena adanya geothermal ini. Saya bisa memiliki rumah yang lebih layak,” tuturnya.

General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menegaskan bahwa PLN berkomitmen menjalankan setiap tahapan pengembangan panas bumi sesuai standar keselamatan dan kaidah lingkungan yang ketat.

“Kami memastikan seluruh proses dilakukan berbasis kajian ilmiah dan pengawasan berlapis,” ujarnya.
Ia menambahkan, PLN akan terus mengedepankan transparansi serta dialog bersama masyarakat dan para pemangku kepentingan.

“Pengembangan geothermal merupakan bagian dari upaya menghadirkan energi bersih yang andal bagi NTT, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan,” tutupnya.(bul)

Pencairan PKH Dijadwalkan Bulan April

0
H. Lalu Sukarsana

Kota Bima (ekbisntb.com) – Penyaluran bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) Daerah Kota Bima dijadwalkan berlangsung pada April 2026. Proses pencairan saat ini masih menunggu penyelesaian pembuatan buku tabungan dari salah satu bank milik pemerintah.

Kepala Dinas Sosial Kota Bima, H. Lalu Sukarsana, S.IP, mengatakan, pemerintah daerah telah menyiapkan penyaluran bantuan bagi penerima manfaat, namun realisasinya bergantung pada kesiapan administrasi dari pihak bank.

“Insyallah, kita masih menunggu pembuatan buku tabungan melalui BRI, yang langsung dibuatkan oleh BRI pusat secara serentak,” ujarnya, Senin (30/3).

Menurutnya, setelah buku tabungan selesai dicetak dan didistribusikan,maka penyaluran bantuan akan segera dilakukan melalui jaringan layanan BRI di masing-masing wilayah.

“Kalau sudah jadi, insyallah langsung disalurkan melalui BRI unit atau pelayanan BRI terdekat di masing-masing kecamatan,” katanya.

Program PKH Daerah Kota Bima sebelumnya direncanakan menyasar 1.200 penerima manfaat. Setiap penerima memperoleh bantuan sebesar Rp200 ribu per bulan yang disalurkan secara triwulan. Skema penyaluran triwulan diterapkan untuk menekan biaya transaksi sekaligus mempercepat realisasi anggaran bantuan sosial daerah.

Pemerintah Kota Bima menargetkan bantuan tersebut dapat segera diterima masyarakat setelah proses administrasi perbankan selesai. Penyaluran melalui rekening bank diharapkan mempermudah penerima dalam mengakses bantuan serta meningkatkan ketepatan penyaluran.

Pihaknya juga memastikan mekanisme pencairan dilakukan melalui unit layanan bank terdekat di tiap kecamatan, agar memudahkan penerima manfaat, khususnya kelompok rentan seperti lanjut usia dan penyandang disabilitas.

Ia menilai penyaluran PKH Daerah menjadi salah satu instrumen bantuan sosial Pemerintah Kota Bima, untuk menjaga daya beli masyarakat rentan. Bantuan tersebut diprioritaskan bagi kelompok lanjut usia dan penyandang disabilitas, serta masyarakat miskin yang memenuhi kriteria penerima manfaat. (hir)

Skema Lelang Komoditi Unggulan Daerah Disiapkan

0
Andi Kusmayadi. (Suara NTB/ils)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Pemerintah Kabupaten Sumbawa tengah menyiapkan strategi khusus untuk menekan laju kebocoran nilai tambah dari sejumlah komoditas unggulan yang ada di daerah. Salah satunya dengan menyiapkan skema lelang komoditi unggulan, sehingga pendapatan asli daerah bisa mengalami peningkatan.

“Ada sekitar Rp20,6 triliun kekayaan komoditas unggulan yang kita miliki tetapi semua itu mengalir ke luar daerah sebagai bahan mentah. Sehingga tidak memberikan nilai tambah terhadap pendapatan daerah,” kata Kepala Bapperida Kabupaten Sumbawa melalui Kabid Ekonomi dan Sumber Daya Alam, Andi Kusmayadi, Kepada Suara NTB, Senin (30/3).

Potensi yang sangat besar tersebut sangat tidak sebanding dengan apa yang didapatkan daerah dalam bentuk Pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain itu, faktor kerusakan ekosistem pesisir, infrastruktur jalan, degradasi lahan, dan potensi konflik sosial juga menjadi tantangan saat ini.

“Kebocoran nilai tambahnya sangat banyak sementara PAD yang kita dapatkan hanya satu tetes saja. Makanya kami akan mencoba mengintegrasikan dalam bentuk infrastruktur lelang,” ucapnya.

Ia menjelaskan, lelang komoditi unggulan daerah akan dimasukkan dalam bentuk digital sebagai pembentuk PAD. Hal tersebut dilakukan agar lobang-lobang kebocoran yang terjadi selama ini bisa tertutup dan pendapatan daerah juga akan meningkat.

“Jadi, secara regulasi asetnya termanfaat secara baik, kemitraan bisnisnya jalan sehingga pendapatan daerah juga akan lebih meningkat dari sektor tersebut,” tukasnya.

Ia menegaskan apabila hal itu mampu diintegrasikan secara baik dan maksimal, maka dari nilai produksi rata-rata delapan komoditas unggulan sebesar Rp20.456.579.062.456,maka daerah bisa mendapatkan PAD sebesar Rp 462.678.381.666.

Berdasarkan data yang dihimpun Suara NTB, nilai produksi dari sejumlah komoditas unggulan daerah yang keluar dari Sumbawa mencapai Rp20,6 triliun. Angka tersebut belum termasuk komoditas lainnya yang meninggalkan dampak eksternalitas (kerusakan air laut, degradasi lingkungan, kerusakan fasilitas umum, konflik sosial).

Di komoditas unggulan daerah dari hasil budidaya Udang Vaname dengan nilai produksi rata-rata Rp 10.163.825.000.000, dengan tarif pajak 2,5 persen. Maka daerah bisa mendapatkan nilai PAD sebesar Rp 254.095.625.000.

Hasil dari budidaya rumput laut dengan nilai produksi rata-rata Rp2.370.311.683.333, dengan tarif pajak 2,5 persen. Maka daerah akan mendapatkan nilai PAD sebesar Rp 59.257.792.083,

Hasil pertanian jagung pipilan kering dengan nilai produksi rata-rata Rp 2.942.671.437.488, dengan tarif pajak 2 persen,maka daerah mendapatkan nilai PAD sebesar Rp 58.853.428.750. Hasil pertanian padi dengan nilai produksi rata-rata Rp 1.577.854.112.520, dengan tarif pajak 2 persen daerah mendapatkan nilai PAD sebesar Rp 31.557.082.250.

Hasil ternak sapi hidup dengan nilai produksi rata-rata Rp 2.097.734.350.000, dengan tarif pajak 1 persen, maka daerah bisa mendapatkan PAD sebesar Rp 20.977.343.500. Hasil pertanian bawang merah dengan nilai produksi rata-rata Rp 827.842.129.125 dengan tarif pajak 2 persen maka daerah mendapatkan PAD sebesar Rp 16.556.842.583.

Hasil perkebunan kopi dengan nilai produksi rata-rata Rp 81.225.000.000, dengan tarif pajak 2 persen, maka daerah mendapatkan nilai PAD sebesar Rp 1.624.500.000. Termasuk juga ikan hasil tangkap dengan nilai produksi rata-rata sebesar Rp 395.115.350.000, dengan tarif pajak 5 persen maka daerah bisa mendapatkan PAD sebesar Rp 19.755.767.500. (ils).

Lapak PKL Ditertibkan

0

Kota Bima (ekbisntb.com) – Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bima kembali menertibkan lapak pedagang kaki lima. Penertiban dilakukan karena pedagang menyimpan lapak mereka di atas trotoar.

Petugas menertibkan lapak PKL di sejumlah jalan protokol, karena masih menemukan pedagang kaki lima (PKL) dan pemilik toko memanfaatkan fasilitas pejalan kaki untuk aktivitas usaha.

Kepala Satpol PP Kota Bima, Erwin Rahadi, S.Sos, mengatakan penertiban dipusatkan di sejumlah titik strategis, seperti Jalan Soekarno-Hatta, kawasan Paruga Nae atau Convention Hall, kawasan Amahami, serta Jalan Gajah Mada.

“Lokasi-lokasi tersebut dinilai rawan pelanggaran pemanfaatan ruang publik, terutama penggunaan trotoar dan bahu jalan untuk menaruh barang dagangan,” ucapnya.

Dalam kegiatan tersebut, petugas memberikan imbauan sekaligus melakukan tindakan penertiban terhadap pedagang dan pemilik usaha yang menempatkan barang di atas trotoar.

“Kami memberikan himbauan sekaligus tindakan penertiban. Trotoar adalah hak pejalan kaki, bukan tempat untuk menyimpan barang dagangan secara permanen maupun semi-permanen yang mengganggu lalu lintas,” tegasnya.

Selain menertibkan PKL, petugas juga menindaklanjuti laporan masyarakat terkait pembangunan di jalur dua Amahami yang diduga belum mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Pemeriksaan dilakukan bersama tim dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Bima serta petugas dari Kelurahan Dara.

Tim gabungan melakukan pengecekan langsung terhadap legalitas bangunan yang masih dalam proses pengerjaan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap pembangunan sesuai dengan ketentuan tata ruang yang berlaku.

“Bersama PUPR dan pihak kelurahan, kami mengecek legalitas bangunan tersebut. Jika terbukti melanggar aturan perizinan, maka akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku demi ketertiban tata ruang kota,” tambahnya.

Penertiban fasilitas umum dan pengawasan pembangunan ini menjadi bagian dari upaya menjaga ketertiban kota sekaligus mendukung Gerakan Kota Bima BISA (Bersih, Indah, Sehat, dan Asri). Kegiatan serupa akan terus dilakukan secara berkala, terutama di jalur protokol yang menjadi wajah kota.

Masyarakat dan pelaku usaha diimbau mematuhi peraturan daerah terkait pemanfaatan trotoar serta kewajiban mengurus perizinan sebelum melakukan pembangunan. (hir)

Kebijakan Efisiensi BBM, Bupati Sumbawa Bersepeda ke Kantor

0
Bupati Sumbawa H. Syarafuddin Jarot saat mengayuh sepeda menuju kantor. Hal ini dilakukan sebagai bentuk tindaklanjut efisiensi bahan bakar.(Suara NTB/ist)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Bupati Kabupaten Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot mulai menerapkan kebiasaan sepeda sehat ke kantor. Upaya sama juga dilakukan Wakil Bupati Drs. H. Mohamad Ansori menggunakan sepeda motor pribadi sebagai upaya efisiensi Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Bersepeda selain menghemat BBM kita juga dapet sehatnya. Kami juga akan menerapkan kebiasaan menggunakan kendaraan yang memuat banyak orang dibandingkan menggunakan kendaraan dinas,” kata Jarot, kepada wartawan, Senin (30/3).

Bupati berangkat dari Pendopo dengan mengayuh sepeda menuju kantor sebagai upaya membangun kesadaran bersama di kalangan aparatur sipil negara (ASN) tentang pentingnya penghematan BBM. Langkah ini juga menjadi simbol perubahan pola pikir, bahwa kebijakan tidak cukup disampaikan melainkan harus dimulai dari teladan pimpinan.

“Kalau ingin mengajak harus dimulai dari diri sendiri. Ini langkah kecil, tapi kalau dilakukan bersama, dampaknya akan besar,” ucapnya.

Bupati mengaku mendapat respons positif dari jajaran pemerintah daerah dengan menggunakan sepeda ke kantor. Bahkan sejumlah ASN terlihat mengikuti langkah tersebut sebagai bagian dari gaya hidup sehat sekaligus kontribusi nyata terhadap penghematan energi.

“Dengan bersepeda, ASN tidak hanya mengurangi konsumsi BBM, tetapi juga meningkatkan kebugaran tubuh yang berdampak pada produktivitas kerja,” jelasnya.

Jarot turut mengingatkan potensi tantangan energi global yang bisa berdampak hingga ke daerah. Meski kondisi stok BBM di Sumbawa masih aman, ia menekankan pentingnya langkah antisipatif melalui efisiensi penggunaan energi.

“Memang stok BBM kita saat ini masih cukup aman, tetapi apa yang kami lakukan ini (bersepeda) menuju kantor sebagai bentuk ikhtiar kami mendorong ASN untuk melakukan antisipasi kemungkinan yang terjadi salah satunya dampak krisis BBM,” ujarnya. (ils)

Wagub Dorong Pariwisata Berdaya Saing Global

0
Wagub NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri memberikan sambutan pada Musda VIII DPD ASITA NTB, Senin (30/3). (Suara NTB/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri, secara resmi membuka Musyawarah Daerah (Musda) VIII DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTB di Mataram, Senin (30/3/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Bersama ASITA Menuju Pariwisata NTB Mendunia”.

Dalam sambutannya, Wagub mengapresiasi kontribusi ASITA yang dinilai konsisten mendukung pengembangan sektor pariwisata di NTB.
“ASITA telah membuktikan diri sebagai organisasi yang matang dan terus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan pariwisata di Nusa Tenggara Barat,” ujarnya.

Ia menegaskan, Musda tidak hanya menjadi forum pemilihan kepengurusan, tetapi juga momentum memperkuat organisasi agar lebih adaptif dan mampu memberikan dampak luas bagi masyarakat. Pergantian kepemimpinan, lanjutnya, harus dimaknai sebagai bagian dari pembaruan menuju kemajuan bersama.

Wagub juga menyoroti posisi strategis NTB yang berdekatan dengan Bali dan kawasan Labuan Bajo, serta memiliki kedekatan geografis dengan Australia dan negara-negara Asia. Kondisi ini, menurutnya, menuntut peningkatan kualitas layanan pariwisata secara berkelanjutan.

“Pelayanan yang terus membaik akan memberikan kesan positif bagi wisatawan, sehingga mereka rindu dan kembali berkunjung ke NTB,” katanya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah, BUMN, BUMD, dan pelaku industri, dalam menjawab berbagai tantangan pariwisata, khususnya terkait konektivitas.

“Kemudahan akses akan sangat menentukan minat wisatawan dan investor untuk datang ke NTB,” tambahnya.

Mantan Bupati Bima ini juga berharap Musda ini dapat melahirkan kepemimpinan yang mampu membawa organisasi semakin solid dan berkontribusi terhadap pengembangan pariwisata daerah.

Sementara itu, Ketua Umum DPP ASITA, Nunung Rusmiati, menyampaikan bahwa tema Musda sejalan dengan upaya nasional dalam mendorong pariwisata Indonesia semakin dikenal di tingkat global.

Ia menekankan pentingnya peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara melalui penguatan konektivitas, termasuk penambahan rute penerbangan langsung internasional. “Direct flight merupakan salah satu kunci utama dalam meningkatkan daya saing destinasi pariwisata,” ujarnya. (r/ham)

Aman di Atas, Panik di Bawah, Elpiji Bersubsidi Masih Bergejolak di Lotim

0
Tabung gas elpiji bersubsidi yang diturunkan dari kendaraan. (Suara NTB/rus)

Inaq Ang melangkah gontai meninggalkan warung kelontong di kawasan Selong, Senin pagi, 30 Maret 2026. Di tangannya, satu tabung gas elpiji 3 kilogram berwarna hijau terasa berat, bukan hanya karena isinya, tapi juga karena ongkos yang harus ia keluarkan: Rp25 ribu. Padahal, seharusnya gas bersubsidi itu hanya dijual dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp18 ribu per tabung.

“INI kenapa sebenarnya gas elpiji ini?” keluh Inaq Ang kepada Suara NTB. Suaranya bergetar mempertanyakan nasib kebutuhan pokok yang semakin sulit dijangkau.

Bagi Inaq Ang, perjuangan mendapatkan gas melon ini sudah seperti drama musiman. Beberapa pekan sebelumnya, saat Idulfitri tiba, ia terpaksa merogoh kocek hingga Rp35 ribu hanya untuk satu tabung. Kini, meski harga sedikit turun, ia tetap harus menyodorkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai syarat pembelian—sebuah prosedur yang menurutnya justru menunjukkan betapa “langka” barang ini di pasaran.

Namun, di balik kegelisahan ibu rumah tangga itu, kabar berbeda datang dari lantai pemerintahan. Kepala Dinas Perdagangan Lombok Timur, Hadi Fathurrahman, menegaskan bahwa stok elpiji bersubsidi di daerah ini berada dalam kondisi sangat aman.

“Berdasarkan informasi dari pihak Pertamina yang sudah menemui langsung Bupati Lotim, H. Haerul Warisin, elpiji bersubsidi ini sangat aman. Tidak ada kelangkaan seperti dikhawatirkan,” ujar Hadi.

Klaim tersebut seolah menjadi penegasan bahwa segala sesuatunya terkendali. Tapi di tengah masyarakat, cerita yang berserakan justru menunjukkan gambaran berbeda. Inaq Ang bukan satu-satunya. Banyak warga lain yang mengeluhkan harga melambung, bahkan kesulitan mendapatkan tabung hijau tersebut saat dibutuhkan.

Kesenjangan antara realitas di lapangan dan klaim di atas meja itu menjadi sorotan tajam Ketua Komisi III DPRD Lombok Timur, Amrul Jihadi saat dikonfirmasi Suara NTB secara terpisah, Senin (30/3). Menurutnya, ada yang tak beres dalam rantai distribusi dan sistem koordinasi.

“Kalau pantauan kita di sekitaran, intinya elpijinya memang tersendat kemarin. Setelah ada sidak dari polisi, itu lancar lagi. Tapi kemarin di seputaran Lebaran itu sulit, malah kita bisa katakan nggak ada ya,” ungkap Amrul dengan nada kecewa.

Ketua Partai Demokrat Lotim ini menduga ada sejumlah faktor yang menyebabkan kelangkaan sesaat itu: mulai dari penimbunan stok oleh oknum tertentu, keterlambatan distribusi, hingga persoalan teknis seperti libur panjang yang tidak diantisipasi.

“Penyebabnya bisa saja ada penimbunan stok, terlambatnya stok keluar, atau masalah libur. Kita tidak tahu persis karena tidak menelusuri ke sumbernya,” lanjutnya.

Namun yang lebih menyita perhatian Amrul adalah soal koordinasi yang putus di tengah jalan. Bagaimana mungkin, di tingkat atas semua dilaporkan lancar, sementara warga di bawah justru berteriak kelangkaan?

Koordinasi yang Terputus
Menurut Among, panggilan akrab Amrul Jihadi, sudah saatnya Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) yang tersebar di setiap desa digerakkan lebih maksimal. FKDM, yang seharusnya menjadi mata dan telinga pemerintah di tingkat akar rumput, dinilainya belum berfungsi optimal.

“Seharusnya laporan-laporan seperti itu akan cepat sampai ke pak bupati. Karena banyak anggota FKDM kita, dan itu memang tugasnya memantau masyarakat. Sehingga kalau itu efektif dan interaktif, masalah-masalah seperti ini akan paling cepat diketahui,” tegasnya.

Ia mengkritisi adanya kesenjangan informasi antara eksekutif di tingkat kabupaten dengan kondisi di lapangan.

“Kalau orang atas bilang lancar, berarti mereka nggak tahu informasi di bawah. Justru sebenarnya harus tahu informasi bawah. Kalau mereka bilang laporannya lancar, berarti mereka sebenarnya nggak tahu bahwa ternyata di bawah tidak lancar,” ujar Amrul dengan nada sinis.

Amrul juga menyoroti kinerja tim pengendali inflasi daerah yang dinilainya pasif. Saat harga kebutuhan pokok seperti cabai meroket, tim tersebut justru diam saja. Padahal, anggaran yang digelontorkan untuk pengendalian inflasi tidak sedikit.

“Tim pengendali inflasi, tim TPID segala macam, banyak sekali. Seharusnya kalau semuanya kerja, pasti pak bupati tahu, dan tidak akan ada informasi ‘lancar di atas’ itu,” kritiknya.

Ia mengingatkan bahwa fungsi pengawasan dan pemantauan harus berjalan seiring. Tidak cukup hanya mengandalkan klaim dari distributor atau pernyataan resmi dari dinas teknis.

Perjalanan pulang Inaq Ang dari warung kelontong di Selong hanyalah satu dari ribuan kisah serupa di Lombok Timur. Gas elpiji 3 kg yang seharusnya menjadi penyelamat ekonomi rumah tangga justru menjelma menjadi sumber pusing baru.

“Saya hanya ingin beli gas dengan harga biasa. Tidak perlu mahal, tidak perlu pakai KTP,” ujar Inaq Ang polos.

Sementara itu, di balik meja kerjanya, para pemangku kebijakan masih terus berkoordinasi. Dinas Perdagangan meyakinkan stok aman, Pertamina memastikan distribusi berjalan, dan DPRD terus mendesak perbaikan sistem.
Amrul menegaskan bahwa persoalan ini bukan sekadar soal gas, tapi soal bagaimana pemerintah hadir di tengah warganya.

“Makanya saya komentari, kewaspadaan masyarakat itu harus ditingkatkan. Koordinasi yang tidak lancar itu yang perlu dikritisi dan dibuat lancar kembali,” demikian pungkasnya. (rus)

Tarik Minat Investasi di Mandalika, ITDC Tawarkan Insentif Fiskal Kompetitif bagi Investor

0
Peson kawasan The Mandalika. ITDC saat ini menawarkan berbagai insentif bagi investor yang mau berinvestasi di kawasan The Mandalika. (Suara NTB/ist)

Praya (ekbisntb.com) – Upaya maksimal terus dilakukan InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) untuk menarik masuk investasi di kawasan The Mandalika yang dikelolanya. Salah satunya dengan menyiapkan insentif fiskal yang kompetitif bagi para calon investor yang mau berinvestasi di kawasan wisata unggulan nasional tersebut. Dengan insenttif tersebut tentunya akan semakin mempermudah jalannya bagi para calon investor untuk berinvetasi di kawasan The Mandalika.

Beberapa insentif yang ditawarkan di antaranya, fasilitas Tax Holiday untuk kegiatan usaha utama. Kemudian ada juga skema pengurangan pajak setelah periode insentif berakhir. Ada juga skema Tax Allowance, berupa pengurangan penghasilan kena pajak dari nilai investasi, percepatan depresiasi dan amortisasi serta pengaturan tarif pajak dividen khususnya bagi investor asing.

Dari sisi perpajakan tidak langsung, jika serius berinvestas di kawasan The Mandalika, para investor juga akan memperoleh berbagai kemudahan. Mulai dari pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas impor barang modal dan barang kena pajak tertentu. Kemudian pembebasan bea masuk serta pembebasan pajak penjualan atas barang mewah untuk properti di kawasan The Mandalika.

“Semua insentif ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan kepastian investasi,” ungkap Direktur Komersial dan Marketing ITDC Febrina Mediana, dalam keterangannya, Senin (30/3).

Kawasan The Mandalika sendiri saat ini sudah beroperasi dan telah didukung dengan berbagai fasilitas dasar di dalamnya. Keberadaan fasilitas-fasilitas tersebut tentunya akan semakin mempermudah kegiatan usaha maupun investasi dari para investor.

Dari aspek non-fiskal, kawasan The Mandalika juga menawarkan kecepatan pelayanan proses investasi. Seluruh proses pelayanan perizinan dilakukan secara terpadu satu pintu. Perizinan tenaga kerja asing juga dipermudah. Tidak kalah penting, The Mandalika juga memberikan kepastian hukum melalui hak atas tanah yang bankable dengan jangka waktu hingga 80 tahun.

Artinya, dengan kombinasi insentif fiskal yang kompetitif, kemudahan non-fiskal serta dukungan infrastruktur kawasan yang terintegrasi tersebut menjadikan kawasan The Mandalika sebagai salah satu kawasan dengan kesiapan investasi paling komprehensif. Khususya di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.

Dengan kata lain, kawasan The Mandalika tidak hanya sekedar menawarkan insentif bagi investor. Tetapi juga menghadirkan ekosistem investasi yang siap dieksekusi. Karena kawasan The Mandalika dibangun ITDC sebagai investment-ready ecosystem. Di mana insentif fiskal yang kompetitif berpadu dengan kesiapan infrastruktur, kepastian regulasi serta demand yang terus bertumbuh.

Lebih lanjut Febrina menambahkan, saat ini ada beberapa kawasan unggulan di kawasan The Mandalika yang bisa dijadikan lokasi untuk berinvestasi. Di antaranya Golf Resort Community seluas 298 hektare. ada juga Tanjung Aan Premium Serenity District seluas 146 hektare yang dirancang untuk pengembangan hotel berstandar internasional serta Eastern Adventure District seluas sekitar 164 hektare.

“Kawasan-kawasan tersebut terbuka untuk investasi pada sektor hospitality, entertainment hingga lifestyle destination,” sebutnya seraya menambahkan dalam pengembangan kawasan The Mandalika, ITDC tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan. Dengan mengalokasi ruang terbuka hijau sekitar 30 persen. Termasuk kawasan mangrove di sisi timur kawasan seluas 45 hektare tetap dijaga (kir)

LKPJ APBD 2025, Silpa Capai Rp127 Miliar Lebih

0
Bupati Lombok Utara sampaikan dokumen LKPJ APBD tahun 2025 dalam sidang DPRD, Senin (30/3/2026). (Suara NTB/ari)

Tanjung (ekbisntb.com) – Bupati Kabupaten Lombok Utara (KLU), Dr. H. Najmul Akhyar, SH., MH., menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) APBD tahun 2025 di ruang sidang DPRD, Senin (30/3/2026). Di depan DPRD, Bupati menyebut capaian realisasi pendapatan dan belanja daerah di atas 90 persen. Di sisi lain, terdapat Sisa Lebih Penggunaan Anggaran (Silpa) dengan angka cukup tinggi yakni sebesar Rp127,96 miliar.

Dalam pemaparannya, Najmul mengungkapkan penyelanggaraan APBD tahun 2025 diarahkan untuk pencapaian efisiensi, efektivitas dan optimalisasi penggunaan anggaran dalam pembiayaan pembangunan daerah. Tujuan tersebut selaras dengan pembangunan provinsi dan nasional, yaitu pertumbuhan dan perbaikan ekonomi masyarakat, penurunan angka kemiskinan, peningkatan kesempatan kerja, serta peningkatan aksesibilitas dan kualitas pendidikan, kesehatan dan infrastruktur.

“Capaian kinerja pemerintah daerah semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Hal ini dapat dilihat dari data BPS Lombok Utara, bahwa terjadi penurunan persentase penduduk miskin dari 25,80 persen tahun 2023 menjadi 23,96 di tahun 2024,” ujarnya.

Najmul mengatakan, dari data tersebut diketahui bahwa penyelenggaraan pemerintahan menunjukkan progres yang bagus. Sebab di sisi lain, terdapat penurunan angka kemiskinan sebesar 3,24 persen di tahun 2025,” sambungnya.

Tidak hanya itu, IPM Lombok Utara juga meningkat dari 68,64 tahun 2024 menjadi 68,63 di tahun 2025.

Lebih lanjut, Bupati mengatakan APBD tahun 2025 merupakan refleksi penyelenggaraan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Setiap komponen, baik Pendapatan, Belanja dan Pembiayaan dikelola secara maksimal untuk mendukung RPJMD yang sudah ditetapkan.

Adapun Pendapatan Daerah pada tahun 2025, tercapai sebesar Rp1,231 triliun atau meningkat 2,85 persen dibandingkan capaian APBD 2024 sebesar Rp1,220 triliun. Realisasi Pendapatan APBD 2025 tersebut setara 103,76 persen atau melebihi target pendapatan sebesar Rp1,186 triiliun.

Sementara pada komponen Belanja Daerah, dianggarkan sebesar Rp1,291 triliun dengan angka realisasi mencapai 1,208 triliun (93,55 persen). Terdiri dari realisasi Belanja Operasi Rp899,86 miliar, realisasi Belanja Modal Rp175,94 miliar dari target Rp184,36 miliar, Belanja Tidak Terduga (BTT) sebesar Rp1,12 miliar dari pagu Rp3,427 miliar, dan Belanja Transfer Rp131,62 miliar dari target Rp132,85 miliar.

Sedangkan, komponen pembiayaan daerah bersumber dari Silpa tahun 2024 sebesar Rp110,27 miliar. Selanjutnya anggaran tersebut digunakan untuk penyertaan modal daerah Rp5 miliar dan selebihnya mendukung program pemerintah daerah. “Silpa sementara pada APBD 2025 diketahui sebesar Rp 127,96 miliar,” imbuhnya.

Bupati menambahkan, berdasarkan kewenangan pemerintah daerah, pihkanya menyelenggarakan 6 urusan wajib berkaitan dengan pelayanan dasar, 18 urusan wajib yang tidak berkaitan dengan pelayanan dasar, dan 6 urusan pilihan. Seluruh urusan tersebut diupayakan secara optimal melalui program-program yang ada di seluruh OPD. (ari)