Sunday, April 12, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 39

Pertumbuhan Ekonomi NTB di Tahun Pertama Iqbal–Dinda, Dari Fase Koreksi Menuju Fondasi Transformasi

0
Pertumbuhan Ekonomi NTB di Tahun Pertama Iqbal–Dinda, Dari Fase Koreksi Menuju Fondasi Transformasi
H. Lalu Muhamad Iqbal (Suara NTB/ist), Hj. Indah Dhamayanti Putri (Suara NTB/ist)

Perdebatan publik mengenai pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) sepanjang 2025 sesungguhnya berangkat dari cara membaca data. Sebagian masyarakat menangkap angka 12,49 persen sebagai gambaran kondisi ekonomi NTB, sementara sebagian lain mengacu pada angka 3,22 persen. Keduanya sama-sama benar, namun mengukur hal yang berbeda.

BADAN Pusat Statistik (BPS) NTB menjelaskan bahwa 12,49 persen merupakan pertumbuhan Triwulan IV 2025 dibanding Triwulan IV 2024 (year-on-year), yang mencerminkan lonjakan aktivitas ekonomi di akhir tahun. Sementara 3,22 persen adalah pertumbuhan ekonomi NTB sepanjang 2025 secara kumulatif (cumulative to cumulative), yang merekam rata-rata kinerja ekonomi selama empat triwulan penuh. Dengan kata lain, 12,49 persen adalah momentum kebangkitan, sedangkan 3,22 persen adalah potret perjalanan satu tahun.

Data BPS menunjukkan bahwa pada Triwulan I dan II 2025 ekonomi NTB sempat mengalami kontraksi. Penyebab utamanya bukan sektor pertanian yang justru tumbuh tinggi akibat panen raya, melainkan penurunan tajam produksi pertambangan. Padahal sektor ini merupakan salah satu kontributor terbesar PDRB NTB. Memasuki Triwulan III, smelter mulai beroperasi dan ekspor emas kembali berjalan. Pada Triwulan IV, pertumbuhan melonjak hingga 12,49 persen. Pola ini menegaskan bahwa ekonomi NTB sepanjang 2025 bergerak dari fase koreksi menuju fase pemulihan.

Bahkan Kepala BPS NTB Dr. Wahyudin, menegaskan jika sektor tambang bijih logam dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan ekonomi NTB justru mencapai 8,33 persen secara kumulatif dan 13,7 persen secara tahunan. Artinya, sektor non-tambang seperti pertanian, perdagangan, industri, dan konsumsi rumah tangga menunjukkan kinerja yang solid. Fakta ini menegaskan bahwa perlambatan 2025 bukan karena melemahnya ekonomi rakyat, melainkan akibat fase transisi sektor tambang dan industri pengolahan.

Dalam konteks inilah capaian satu tahun kepemimpinan Iqbal–Dinda perlu dibaca secara adil. Tahun 2025 merupakan tahun awal operasional hilirisasi, tahun konsolidasi struktur ekonomi, sekaligus tahun peletakan fondasi transformasi. Lonjakan di akhir tahun menunjukkan kapasitas produksi mulai terbentuk. Pada saat yang sama, indikator sosial justru membaik: konsumsi rumah tangga tumbuh 4,51 persen, pengangguran menurun, dan pekerja formal meningkat. Ini menandakan daya beli terjaga dan produktivitas mulai menguat.

Enam Kali dari Rencana: Ekonomi NTB Bangkit 4,69 Poin di Tengah Tantangan 2025
Perencanaan pembangunan daerah melalui RPJMD NTB 2025 disusun dengan asumsi kondisi ekonomi berjalan normal, dengan titik awal pertumbuhan tahun 2024 sebesar 5,30 persen dan target 2025 di level 6 persen. Artinya, kenaikan yang dirancang hanya sekitar 0,70 poin, sebuah pendekatan moderat dan berkelanjutan.

Namun realitas awal tahun kepemimpinan Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal dan Hj. Indah Dhamayanti Putri (Iqbal–Dinda) jauh berbeda. Alih-alih memulai dari 5,30 persen, perekonomian NTB justru terkontraksi hingga minus 1,47 persen akibat persoalan teknis smelter yang berdampak langsung pada sektor pertambangan. Dengan berubahnya titik awal ini, beban pemulihan ekonomi menjadi jauh lebih berat.

Meski demikian, hingga akhir 2025 ekonomi NTB berhasil ditutup dengan pertumbuhan positif sebesar 3,22 persen. Jika dihitung dari titik terendah minus 1,47 persen, maka terjadi lonjakan pertumbuhan sebesar 4,69 poin hanya dalam satu tahun atau enam kali lipat dari kenaikan yang direncanakan dalam RPJMD. Capaian ini menunjukkan bahwa tahun pertama pemerintahan Iqbal–Dinda bukan sekadar menjaga ekonomi tetap bergerak, tetapi mampu membalik kontraksi menjadi akselerasi.

Keberhasilan ini menegaskan bahwa mesin ekonomi NTB tidak semata bergantung pada sektor tambang. Di tengah gangguan teknis pertambangan, sektor pertanian, perdagangan, jasa, industri pengolahan, serta konsumsi rumah tangga tetap bergerak dan menjadi penopang utama pemulihan.

Penguatan Struktur PDRB: Capaian Nyata Sepanjang 2025
Di tengah dinamika pertambangan, kinerja Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB menunjukkan arah penguatan struktur ekonomi daerah. PDRB per kapita NTB pada 2025 mencapai sekitar Rp33,67 juta per orang, meningkat signifikan dibanding 2024. Ini memberi tiga pesan penting: kesejahteraan rata-rata masyarakat bergerak naik, kapasitas ekonomi daerah semakin menguat, dan proses transformasi mulai terlihat.

Dari sisi lapangan usaha, pertambangan, pertanian, dan perdagangan masih menjadi tulang punggung ekonomi. Namun penggerak pertumbuhan tertinggi justru berasal dari sektor bernilai tambah. Industri pengolahan tumbuh 137,78 persen, jasa keuangan meningkat 28,12 persen, dan perdagangan naik 12,29 persen. Lonjakan industri pengolahan dipicu mulai beroperasinya smelter, menandai bahwa agenda hilirisasi mulai memberi dampak nyata. Bahkan secara tahunan, industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 6,48 persen.

Gambaran Pertumbuhan Ekonomi di Luar Tambang (Non-Tambang)
Walaupun pertambangan masih berkontribusi besar terhadap PDRB, sepanjang 2025 terlihat penguatan nyata sektor non-tambang yang menjadi penopang utama ekonomi rakyat. Pertanian tumbuh positif, didorong lonjakan produksi padi dari sekitar 152 ribu ton menjadi 200 ribu ton GKG. Perdagangan meningkat seiring naiknya aktivitas pertanian dan industri. Akomodasi dan makan minum tumbuh, sejalan dengan kenaikan tamu hotel hingga 30,94 persen dan penumpang udara sekitar 10,69 persen. Jasa keuangan, transportasi, serta konsumsi rumah tangga ikut menguat.

Maknanya jelas: ekonomi rakyat seperti pertanian, UMKM, jasa, dan pariwisata mulai kembali hidup, daya beli masyarakat terjaga, dan struktur ekonomi bergerak semakin berimbang. NTB tidak hanya tumbuh karena tambang, tetapi mulai membangun basis ekonomi yang lebih inklusif dan menyentuh langsung kehidupan masyarakat.

Dari Angka Menuju Arah Kebijakan
Dengan fondasi PDRB yang menguat dan sektor non-tambang yang mulai pulih, pertumbuhan 2025 perlu dibaca sebagai tahun transisi sekaligus tahun peletakan dasar transformasi ekonomi. Lonjakan industri pengolahan menunjukkan hilirisasi mulai bekerja. Penguatan pertanian dan perdagangan memperlihatkan ekonomi rakyat kembali bergerak. Pariwisata dan jasa memberi efek pengganda bagi UMKM.

Dalam perspektif satu tahun kepemimpinan Iqbal–Dinda, yang sedang dibangun bukan sekadar pertumbuhan jangka pendek, melainkan fondasi ekonomi yang lebih stabil, inklusif, dan berpihak pada rakyat.

Pertumbuhan 3,22 persen adalah catatan perjalanan 2025. Pertumbuhan 12,49 persen adalah tanda kebangkitan di akhir tahun. Keduanya bukan kontradiksi, melainkan dua sisi dari fase transisi ekonomi NTB.

Ke depan, tantangan bukan hanya mengejar angka pertumbuhan, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut konsisten sepanjang tahun, berbasis sektor padat karya, memberi nilai tambah lokal, dan benar-benar dirasakan masyarakat. Dengan arah kebijakan yang tepat, momentum akhir 2025 menjadi fondasi kuat menuju 2026 yang lebih stabil dan berkelanjutan. Dan justru di sinilah capaian itu patut diapresiasi: NTB tidak hanya bangkit, tetapi sedang menata ulang arah pertumbuhannya. (r)

Penyesuaian Tarif PAM Giri Menang Tidak Sentuh Masyarakat Miskin

0
Penyesuaian Tarif PAM Giri Menang Diharapkan Mampu Entas Kemiskinan Ekstrem
Audiensi penyesuaian tarif air PAM Giri Menang, Senin, 16 Februari 2026. (suarantb.com/ist)

Mataram (suarantb.com) – Perusahaan Air Minum (PAM) Giri Menang melakukan penyesuaian tarif air untuk golongan dasar dan penuh. Penyesuaian tarif ini berlaku per 1 Maret 2026. Kenaikan tarif ini berlaku kepada pelanggan golongan II dan III. Yaitu pelanggan rumah tangga dan instansi serta niaga. Untuk pelanggan rumah tangga, kenaikan tarif mencapai 8,5 persen. Semula pelanggan membayar sekitar Rp50 ribu per bulannya, naik menjadi sekitar Rp54 ribu.

Sementara untuk Masyarakat Miskin atau golongan rendah tidak mengalami kenaikan/penyesuaian.

Direktur PAM Giri Menang, Sudirman berharap kenaikan tarif air untuk pelanggan Lombok Barat dan Kota Mataram ini mampu membantu mengentaskan kemiskinan ekstrem. Khususnya di kawasan Lombok Barat. Hal ini karena perluasan akses air bersih memiliki dampak langsung terhadap upaya pengurangan kemiskinan ekstrem.

Salah satu indikator kemiskinan ekstrem non-finansial adalah tidak adanya akses terhadap layanan air bersih. Dengan bertambahnya cakupan layanan, indikator tersebut diharapkan dapat ditekan.

“Harapan kami dengan akses itu, di dalam beberapa indikator kemiskinan ekstrem setidaknya berkurang,” ujarnya, Senin, 16 Februari 2026.

Selain berdampak pada indikator kemiskinan, akses air bersih juga diyakini meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Saat ini, masih terdapat warga yang harus menghabiskan waktu hingga tiga jam hanya untuk mengambil air. Jika waktu tersebut dapat dihemat karena layanan air sudah menjangkau wilayah mereka, masyarakat bisa memanfaatkannya untuk bekerja atau menjalankan aktivitas produktif lainnya.

“Bayangkan kalau kita bisa layani, tiga jam itu akan efektif mereka untuk bekerja,” katanya.

Dengan demikian, perusahaan air minum daerah ini menilai kebijakan penyesuaian tarif tidak hanya berdampak pada peningkatan pelayanan, tetapi juga berkontribusi terhadap perbaikan kesehatan, pendidikan, serta perputaran roda ekonomi masyarakat.

Adapun jenis tarif PAM Giri Menang dibagi dalam tiga golongan, yaitu tarif rendah, dasar, dan penuh. Sejak berlakunya penyesuaian tarif ini, golongan pelanggan tarif rendah kini membayar Rp2.750 per meter kubik. Tarif dasar senilai RpRp4.450 ribu, dan tarif penuh senilai Rp8.650. Sementara, tarif kesepakatan yaitu Rp26.550 per meter kubik.

Pun penyesuaian tarif ini sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2020 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 71 Tahun 2016 Tentang Perhitungan dan Penetapan Tarif Air Minum. Dan Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 100.3.3.1497 Tahun 2025 tentang Besaran Tarif Batas Bawah dan Batas Atas Air Minum Kabupaten/Kota Se-Nusa Tenggara Barat Tahun 2026.

“Tarif batas atas Rp8.650, dan tarif batas bawah Rp4.450,” pungkasnya. (era)

PAM Giri Menang Lakukan Penyesuaian Tarif

0
PAM Giri Menang Sesuaikan Tarif Air, Berlaku Mulai April 2026
Audiensi penyesuaian tarif air PAM Giri Menang, Senin, 16 Februari 2026. (suarantb.com/ist)

Mataram (suarantb.com) – Perusahaan Air Minum (PAM) Giri Menang melakukan penyesuaian tarif air untuk golongan dasar dan penuh. Penyesuaian tarif ini berlaku per 1 Maret 2026, sehingga sebulan setelahnya, tepatnya pada 1 April 2026, pelanggan PAM Giri Menang mulai membayar dengan tarif baru.

Kenaikan tarif ini berlaku hanya kepada pelanggan golongan II dan III. Yaitu pelanggan rumah tangga dan instansi serta niaga. Untuk pelanggan rumah tangga, kenaikan tarif mencapai 8,5 persen. Semula pelanggan membayar sekitar Rp50 ribu per bulannya, naik menjadi sekitar Rp54 ribu.

Direktur PAM Giri Menang, Sudirman mengatakan penyesuaian ini dilakukan setelah berbagai pertimbangan. Di antaranya pemenuhan pemulihan biaya pokok produksi, peningkatan investasi jaringan, serta pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) air minum. Termasuk dengan mempercepat penanganan berbagai keluhan dan aduan masyarakat yang selama ini terkendala pembiayaan

“Tidak hanya untuk perusahaan, tapi bagaimana supaya keluhan-keluhan atau aduan-aduan masyarakat, kekurangan kami yang memang solusinya membutuhkan biaya, itu bisa cepat kami tuntaskan,” ujarnya, Senin, 16 Februari 2026.

Menurutnya, penyesuaian tarif ini sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2020 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 71 Tahun 2016 Tentang Perhitungan dan Penetapan Tarif Air Minum. Dan Keputusan Gubernur Nusa Tenggara Barat Nomor 100.3.3.1497 Tahun 2025 tentang Besaran Tarif Batas Bawah dan Batas Atas Air Minum Kabupaten/Kota Se-Nusa Tenggara Barat Tahun 2026.

Adapun jenis tarif PAM Giri Menang dibagi dalam tiga golongan, yaitu tarif rendah, dasar, dan penuh. Sejak berlakunya penyesuaian tarif ini, golongan pelanggan tarif rendah kini membayar Rp2.750 per meter kubik. Tarif dasar senilai RpRp4.450 ribu, dan tarif penuh senilai Rp8.650. Sementara, tarif kesepakatan yaitu Rp26.550 per meter kubik.

“Sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat berpenghasilan rendah dan kelompok sosial. PAM Gir Menang mengambil kebijakan untuk tidak menaikkan tarif rendah,” katanya.

Lebih jauh, penyesuaian tarif ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas perusahaan dalam mengembangkan jaringan distribusi air bersih ke wilayah-wilayah yang belum terlayani. Biaya pengembangan jaringan dinilai cukup besar, sementara kebutuhan masyarakat terhadap akses air bersih terus meningkat. (era)

PAD Lampui Target, Dana Bagi Hasil untuk Desa di Lobar Meningkat

0
PAD Lampui Target, Dana Bagi Hasil untuk Desa di Lobar Meningkat
Mastur, H. Lalu Ahmad Zaini, dan H. M. Zainuddin (suarantb.com/her)

Giri Menang (suarantb.com) – Terlampauinya target Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lombok Barat (Lobar) hingga 107 persen pada tahun 2025 dirasakan juga oleh desa-desa di wilayah setempat. Pasalnya, dengan capaian PAD yang melampaui target, Dana Bagi Hasil (DBH) ke desa-desa pun rata-rata mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Bupati Lobar H. Lalu Ahmad Zaini (LAZ) mengajak semua pihak termasuk desa untuk berkolaborasi. Pemerintah daerah dalam hal ini dirinya dan jajarannya ingin membangun seluruh aspek, segala potensi pendapatan dioptimalkan. “Sehingga peran-peran di desa pun kami imbau untuk ikut membantu Pemkab untuk mengoptimalkan, karena apa? Kalau PAD Pemda itu naik, tentu mereka akan terima hasil karena bagi hasil di objek masing-masing,” terangnya, Kamis, 12 Februari 2026.

Menurut LAZ, saat ini kalau dirinya bertemu dengan kepala desa, hampir rata-rata tersenyum karena tahun ini PAD melampaui target. “Sehingga rata-rata bagi hasilnya (DBH) Desa juga meningkat. Kalau tidak dua lipat, ya hampir 75 persen meningkat,” kata LAZ.

Terlebih tahun ini pihaknya menargetkan kenaikkan PAD sebesar Rp100 miliar dari tahun lalu. Bahkan bisa jadi ke depan komposisi DBH ini sama dengan dana desa, jika PAD ini terus meningkat. “Ini yang kita harapkan,” ujarnya.
Begitupula di DPRD, jika PAD naik, maka naik juga alokasinya. “Sehingga kami harapkan kolaborasi semai pihak,” harapnya.

Sedangkan di tengah kondisi keuangan desa dampak pemangkasan DD, menurut LAZ ada program Sejahtera dari desa untuk bisa membatu desa. Sebab hampir semua usulan desa itu terakomodir melalui program 1 miliar per desa dan 100 juta per dusun.

Di Desa Senggigi, Kecamatan Batulayar, terjadi peningkatan DBH lumayan besar. Kades Senggigi Mastur mengatakan, menerima DBH sebesar Rp2,3 Miliar pada 2025. Sedangkan DBH untuk tahun ini, belum keluar angkanya, namun diperkirakan meningkat.

Pihaknya pun mendukung penuh upaya Pemkab meningkatkan PAD, karena nantinya berdampak pada DBH yang diperoleh desa. Upaya-upaya yang dilakukan desa dalam membantu Pemkab anjut dia, dari DBH itu dialokasikan sekitar 15 juta untuk meningkatkan pendistribusian penarikan pajak dari masyarakat seperti PBB. Sedangkan untuk di perusahaan perusahaan, pihaknya membantu sosialisasi dan mengontrol hunian hotel-hotel.

Hal yang sama di Desa Golong Kecamatan Narmada, DBH-nya mengalami peningkatan. “Ya mengalami peningkatan, karena perolehan pajak daerah sekarang rata-rata naik di atas 100 persen,” kata Kades Golong, H. M. Zainudin.

Peningkatan perolehan di Pemekel Pekasih di desa itu rata-rata mencapai 103 Persen. Kendalanya hanya di Golong, karena belum bayar. Sementara di kalangan masyarakat di atas 100 persen.

Dampak kenaikan perolehan pajak ini pun positif bagi desa, karena DBH-nya pun naik. Diperkirakan terdapat kebaikan 25 persen DBH ini dari sebelumnya. Pihak desa, kata dia, mendukung upaya Pemkab meningkatkan PAD, sebab itu berkorelasi dengan DBH ke desa. (her)

Proyek Alun-Alun Kota Gerung Ditarget Tuntas Sebelum HUT Lobar

0
Proyek Alun-Alun Kota Gerung Ditarget Tuntas Sebelum HUT Lobar
Penimbunan di areal lapangan Alun-alun Kota Gerung. Proyek ini ditargetkan bisa tuntas sebelum HUT Lobar untuk pengurukan Alun-alun. (suarantb.com/her)

Giri Menang (suarantb.com) – Proyek tahap II Alun-Alun dan Rehabilitasi Taman Kota Gerung, Kabupaten Lombok Barat (Lobar) dilanjutkan tahun 2026 ini. Bahkan anggaran proyek tahap II ini bernilai lebih besar dibandingkan tahun lalu. Di mana proyek Alun-alun senilai Rp9,4 miliar dan rehabilitasi Taman Kota tahap II senilai Rp4,4 miliar, sehingga nilai total mencapai 13,8 miliar.

Proyek ini telah mulai dikerjakan, karena termasuk dalam proyek tender dini. Berdasarkan data yang diperoleh dari LPSE Pengadaan Barang Jasa (PBJ), paket proyek Alun-alun pagu anggarannya bersumber dari APBD senilai Rp18,8 miliar lebih, nilai HPS Rp9,4 miliar.

Untuk proyek Rehablitasi Taman Kota Rp4,4 miliar, masuk penganggaran pada tahun 2026. Waktu pembuatan lelang dua proyek ini masing-masing pada tanggal 12 Desember dan 13 Desember 2025.

Kepala Dinas PUPRPKP Lobar, Lalu Ratnawi menyebutkan untuk tahap pertama pengerjaan Alun-Alun Kota Gerung tahun ini meliputi plaza, jogging track, landscape depan (pintu masuk), dan penataan samping lapangan. Pengerjaan tahap kedua dilanjutkan tahun ini dengan meliputi pengerjaan pengurukan atau penimbunan lapangan, wahana bermain (playground), jogging track melingkar, dan food court.

Anggaran sekitar Rp9 miliar disiapkan untuk menyelesaikan proyek alun-alun tersebut.“Tahap dua itu yang agak berat (banyak pengerjaannya),” pungkasnya.

Untuk progres pengerjaan proyek Alun-Alun Kota Gerung tahap II pun menunjukkan tren positif. Pihaknya juga cukup optimistis proyek itu akan selesai tepat waktu, di mana Bupati menargetkan proyek ini bisa tuntas sebelum Hari Ulang Tahun (HUT) Lobar untuk pengurukan Alun-alun.

Sebelumnya Bupati Lobar HL Ahmad Zaini menargetkan proyek Alun-alun bisa tuntas sebelum HUT sehingga bisa dipergunakan saat kegiatan HUT dan diresmikan pada momen tersebut. “Harus bisa sebelum HUT Lobar nanti (April)” tegasnya. (her)

Perusahaan Seleksi di Sekolah, 17 Siswa SMKN 1 Lembar Diterima Magang Kerja di Jepang

0
Perusahaan Seleksi di Sekolah, 17 Siswa SMKN 1 Lembar Diterima Magang Kerja di Jepang
Taruna dan Taruni SMKN 1 Lembar diseleksi magang kerja langsung oleh Tim dari perusahaan Jepang. (suarantb.com/ist)

Giri Menang (suarantb.com) – SMKN 1 Lembar Lombok Barat sebagai sekolah kejuruan konsisten menerapkan link and match antara sekolah dengan Industri, Dunia Usaha, dan Dunia Kerja (Iduka). Salah satunya kolaborasi SMKN 1 Lembar dengan perusahaan dari Jepang untuk magang kerja bagi siswa atau taruna dan taruninya.

Program kolaborasi strategis antara lembaga pendidikan vokasi (SMK/Perguruan Tinggi) dengan dunia industri ini untuk menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan lapangan kerja. Tujuannya meningkatkan kompetensi SDM agar siap kerja melalui magang, kurikulum bersama, dan sertifikasi.

Kepala SMKN 1 Lembar Ahmad Quroni, M.Pd., melalui Wakil Kepsek Bidang Humas M.Saleh Efendi, S.Pd.,M.Si., mengatakan bahwa perekrutan magang kerja Taruna Taruni SMKN 1 Lembar dilakukan langsung oleh pihak perusahaan SEII. “Perekrutan magang itu statusnya masih magang untuk bekerja, itu dilaksanakan sosialisasi sekaligus perekrutan magang kerja oleh PT SEII di sekolah kami,” kata Saleh, Jumat (13/2/2026).

Perekrutan magang kerja ini bagi taruna dan taruni SMKN 1 Lembar yang antusias dan memiliki minat kerja magang di Jepang ini. Magang kerja di Jepang ini tiap tahun dilaksanakan, sehingga menjadi tradisi di sekolah tersebut. Untuk tahun ini dari taruna dan taruni yang ikut diseleksi oleh pihak perusahaan, sebanyak 17 orang yang lulus untuk ikut tahapan selanjutnya. Di antara 17 orang ini, yang mendapatkan grade A sebanyak sembilan orang, sisanya delapan orang grade B.

“Alhamdulillah yang grade A dan B ini sudah bisa mengikuti ke jenjang proses selanjutnya,” ujarnya.

Tahapan selanjutnya mereka akan mengikuti pendidikan di Tangerang. Waktu pendidikan ini ditempuh tergantung dari percepatan dan kemampuan dari masing-masing taruna atau Taruni. Semakin cepat bisa beradaptasi, bisa menguasai bahasa Jepang, siap fisik dan mental maka semakin cepat bisa selesai. “Paling tiga bulan,” imbuhnya.

Taruna dan taruni yang mengikuti magang kerja ini dari kelas XI dan XII yang terdiri dari jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan, Agribisnis Perikanan Payau Laut dan Air Tawar. Mereka ini akan mengikuti magang kerja selama tiga tahun. Selama magang kerja ini, mereka akan mendapatkan gaji berbeda-beda tergantung dari masing-masing lokasi. Tetapi sesuai MoU standar kisaran gaji yang diperoleh minimal 15 juta per bulan. “Itu belum jam lembur dan sebagainya,” ujarnya.

Tak hanya melakukan rekrutmen magang dengan satu perusahaan saja, pihak sekolah juga berkolaborasi dengan banyak perusahaan. Salah satunya, perusahaan Jepang yang lain (selain PT SEII) didatangkan untuk sosialisasi ke sekolah. Pihak perusahan turun ke sekolah melakukan sosialisasi kepada anak-anak tentang bidang-bidang pekerjaan disana.

Hal ini kata dia salah satu strategi dari sekolah yakni bekerjasama dengan banyak perusahaan untuk mengantisipasi keterserapan siswa dan siswa. Sehingga jika di satu perusahan tidak masuk, maka bisa ada alternatif perusahaan lainnya. “Sehingga kami mendatangkan perusahaan lain yang juga tujuan ke Jepang,” imbuhnya. (her)

Lotim Harapkan Kampung Nelayan Merah Putih Tak Hanya di Ekas

0
Lotim Harapkan Kampung Nelayan Merah Putih Tak Hanya di Ekas
Bupati Lotim, H. Haerul Warisin saat menyapa salah satu pembudidaya rumput laut di Teluk Ekas, Kamis (12/2/2026) lalu. (suarantb.com/rus)

Selong (suarantb.com) – Pemerintah pusat sudah merampungkan kampung nelayan merah putih (KNMP) senilai Rp23 miliar di Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Pemerintah Kabupaten Lotim tidak ingin program Kampung Nelayan Merah Putih hanya berhenti di Desa Ekas.

Bupati Lotim H. Haerul Warisin menyatakan optimismenya agar fasilitas serupa dapat dibangun di sejumlah titik strategis lainnya di wilayah pesisir Lotim. Menjawab Suara NTB di Ekas, Bupati Lotim yang akrab disapa H. Iron menjelaskan, dengan panjang garis pantai mencapai lebih dari 200 kilometer, dari ujung selatan hingga utara, Bupati menilai Lotim memiliki potensi kelautan yang sangat besar. Namun, potensi tersebut belum diimbangi dengan infrastruktur pendukung yang merata.

“Kampung Nelayan Merah Putih ini jadi prioritas kita. Panjang pantai kita 200 lebih kilometer, banyak lokasi yang bisa kita bangun. Jangan hanya di Ekas,” ujar Haerul Warisin saat ditemui di lokasi calon Kampung Nelayan, Kamis (12/2/2026).

Saat ini, Pemerintah Lotim telah menyiapkan empat lokasi baru yang dinilai layak untuk mendapatkan fasilitas serupa. Keempatnya tersebar di Desa Tanjung Luar, Desa Labuhan Haji, Desa Labuhan Lombok, dan Sugian.
“Keempat desa itu sudah kita usulkan. Mudah-mudahan kita bisa diberikan fasilitas yang sama oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta,” harapnya.

Untuk mempercepat realisasi, Bupati telah memerintahkan Kepala Dinas Perikanan untuk secara langsung membawa proposal ke Kementerian KKP. Komunikasi intensif juga terus dilakukan dengan para pemangku kepentingan di tingkat pusat.

Kampung Nelayan Merah Putih di Ekas disebut menelan anggaran sebesar Rp23 miliar. Sementara untuk pengembangan di empat titik baru, nilai yang diusulkan berkisar Rp12 miliar per lokasi.

Bupati menjelaskan, keunggulan utama dari program ini adalah hadirnya fasilitas pabrik es dan cold storage (gudang pendingin). Fasilitas ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas harga hasil tangkapan nelayan, terutama saat musim panen raya.

“Selama ini, kalau hasil melimpah, harga jatuh, dan nelayan tidak punya tempat menyimpan. Dengan adanya cold storage, kita bisa mempertahankan harga. Pendapatan nelayan stabil, kesejahteraan pun cepat tercapai,” terangnya.

Tak hanya tempat penyimpanan, kawasan Kampung Nelayan Merah Putih di Lotim juga dirancang sebagai kawasan perikanan terpadu. Di perairan sekitar Ekas, saat ini telah terlihat puluhan jaring apung (KJA) yang digunakan untuk membudidayakan udang lobster, ikan kerapu, hingga berbagai jenis ikan konsumsi.

“Di sini nelayan bisa menangkap, bisa memelihara. Semua bisa dilakukan. Ini bukan sekadar tempat singgah, tapi pusat ekonomi baru,” tambahnya.

Pemerintah daerah berharap agar Presiden RI dapat meresmikan langsung Kampung Nelayan Merah Putih di Ekas. Surat undangan dan proposal kegiatan telah disampaikan ke Istana.

“Kami sudah buat surat kepada Bapak Presiden. Harapan kami, beliau bisa hadir. Bukan hanya meresmikan satu titik, tapi sekaligus melihat sendiri potensi besar yang kami miliki di Lotim,” pungkas Haerul.

Dengan adanya tambahan kampung nelayan di empat lokasi baru, Pemkab Lotim optimistis sektor kelautan dapat menjadi motor penggerak utama perekonomian daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan ribuan nelayan di pesisir Lotim. (rus)

NTB Jadi Lumbung Bawang Putih Nasional, Dewan Minta Pemerintah Beri Jaminan Harga ke Petani

0
NTB Jadi Lumbung Bawang Putih Nasional, Dewan Minta Pemerintah Beri Jaminan Harga ke Petani
Hulaemi (suarantb.com/ist)

Mataram (suarantb.com) – Anggota Komisi II DPRD NTB yang membidangi urusan pertanian dan perdagangan, Hulaemi mendorong pemerintah Provinsi NTB memberi jaminan ke petani Sembalun usai didapuk sebagai sentra atau lumbung bawang putih nasional.

Program ini diarahkan untuk mempercepat tercapainya swasembada bawang putih nasional, dimulai dari swasembada benih pada 2028 mendatang. Hal itu ditegaskan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat berkunjung ke kawasan Sembalun, Lombok Timur baru-baru ini.

Hulaemi menilai ada satu kunci utama agar target tersebut benar-benar tercapai, yakni harus ada jaminan penyerapan hasil panen petani dengan harga yang menguntungkan.

“Kalau pemerintah siap menampung seluruh hasil panen petani dengan harga yang layak, saya yakin petani akan serentak menanam bawang putih,” ujarnya pada Jumat (13/2/2026).

Sebagai seorang berlatar belakang pengusaha, Hulaemi menjelaskan saat ini sebagian petani memilih menanam komoditas lain, yang dianggap lebih aman dari sisi pemasaran. Ia mengingatkan, pengalaman sebelumnya menunjukkan hasil panen bawang putih tidak seluruhnya terserap.

“Jangan setelah mau panen, petani ditinggal. Hanya beberapa oknum petani prioritas saja yang diserap oleh pemerintah. Nah yang tidak terserap ini terpaksa mereka jual ke pasar tradisional, yang harganya bersaing sama impor, kan mencret mereka,” tuturnya.

Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu menilai, kondisi tersebut membuat minat tanam belum maksimal, meskipun Sembalun memiliki potensi lahan dan iklim yang sangat mendukung untuk pengembangan bawang putih. Bahkan, menurutnya, luas tanam yang diklaim mencapai ratusan hektare belum sepenuhnya mencerminkan kondisi rill di lapangan.

“Sehingga di Sembalung itu bukan 100 persen, baru 50 persen yang tanam bawang putih. Kalau digombor-gomborkan itu sudah 400-an hektare itu saya tidak yakin. Belum sampai sana” ucapnya.

Karena itu, ia mendorong Pemprov NTB bersama Pemkab Lombok Timur untuk memastikan dua hal penting, yakni pembinaan kualitas benih dan jaminan serapan hasil panen. Dengan jaminan tersebut, petani diyakini tidak lagi ragu dan dapat menanam secara serentak dalam skala besar. Sehingga target swasembada benih bisa tercapai terlebih dahulu.

“Jadi kalau mau cepat, ya silahkan diberikan komitmen supaya petani itu dibina bibitnya dan dijaga, kemudian serapannya dijamin,” tegasnya.

Hulaemi menilai program menjadikan Sembalun sebagai sentra bawang putih nasional merupakan langkah strategis yang sangat baik. Namun tanpa kepastian pasar dan harga, program tersebut berisiko tidak berjalan optimal.

“Itu saja keinginan petani. Jadi kalau kira-kira tidak ada gambaran terserap, ya masih banyak yang ragu. Lebih baik mereka tanam komoditi lain yang mereka yakini mampu memasarkannya,” pungkasnya. (ndi)

Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Ampenan Tanam 1000 Mangrove Dalam Peringati Bulan K3

0

Lombok  (ekbisntb.com) – Pertamina Patra Niaga melalui Integrated Terminal (IT) Ampenan menandai peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Tahun 2026 dengan aksi nyata pelestarian lingkungan pada Jumat, 7 Februari 2026 melalui penanaman mangrove. Kegiatan yang dilaksanakan di kawasan Ekowisata Bagek Kembar, Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat menegaskan komitmen Pertamina bahwa budaya K3 tidak hanya berfokus pada keselamatan kerja, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.

Bagi masyarakat pesisir Sekotong, keberadaan mangrove memiliki arti penting dalam menopang kehidupan sehari-hari. Ekosistem ini menjadi habitat berbagai biota laut yang mendukung hasil tangkapan nelayan, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui pengembangan wisata berbasis konservasi. Upaya penanaman mangrove yang dilakukan bersama masyarakat ini diharapkan mampu memperkuat perlindungan kawasan pesisir serta menjaga keberlanjutan sumber penghidupan warga dalam jangka panjang.

Dalam kegiatan tersebut, IT Ampenan menanam 1.000 bibit mangrove bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bagek Kembar dan Komunitas Sanggar Jalan Pulang. Kolaborasi ini menjadi langkah konkret dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, sekaligus memperkuat upaya mitigasi abrasi pantai dan dampak perubahan iklim di wilayah Lombok Barat.

Pegang Teguh Prinsip Pembiayaan Sehat, Bank NTB Syariah Alihkan Portofolio Pembiayaan ASN Pusat ke BSI

0
Pegang Teguh Prinsip Pembiayaan Sehat, Bank NTB Syariah Alihkan Portofolio Pembiayaan ASN Pusat ke BSI

Lombok (Ekbis NTB) – PT Bank NTB Syariah menunjukkan komitmennya dalam menjalankan tata kelola perbankan yang sehat dan prudent melalui pengalihan (take over) portofolio pembiayaan ASN Penyuluh Pertanian kepada PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).

Langkah strategis ini dilakukan sebagai respons atas perubahan status kepegawaian para penyuluh pertanian yang kini menjadi ASN Pusat di bawah naungan Kementerian Pertanian. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) ini dilakukan di Kantor Pusat Bank NTB Syariah dan dihadiri langsung oleh Regional CEO RO XII Surabaya Bali Nusra BSI, Muhammad Arif Gunawan.

Direktur Utama Bank NTB Syariah, Nazaruddin, menegaskan bahwa penguasaan arus kas (cash flow) adalah pilar utama dalam menjaga kualitas pembiayaan, baik pada skema konsumer maupun produktif.

“Konsep dasar pembiayaan yang berlaku secara universal di industri perbankan adalah pihak yang memberikan pembiayaan idealnya adalah pihak yang menguasai cash flow. Mengingat per 1 Januari 2026 gaji atau payroll para penyuluh pertanian beralih ke BSI seiring perubahan status mereka menjadi ASN Pusat, maka manajemen memutuskan untuk menyerahkan pengelolaan pembiayaan ini kepada bank yang menguasai payroll tersebut,” jelasnya.

Proses pengalihan portofolio ini mencakup outstanding pembiayaan senilai kurang lebih Rp57 Miliar.
Melalui kerja sama ini, Bank NTB Syariah memastikan nasabah tetap mendapatkan kepastian layanan, sementara risiko kredit dapat dimitigasi secara otomatis melalui penguasaan payroll oleh bank penerima.

Senada dengan Direktur Utama, Direktur Dana & Jasa Bank NTB Syariah, Adhi Susantio, menekankan bahwa langkah ini merupakan bentuk implementasi tata kelola yang disiplin serta wujud kolaborasi produktif antar perbankan syariah.*

“Sebagai Bank Pembangunan Daerah, orientasi utama kami adalah ‘Bank Daerah untuk Daerah’. Oleh karena itu, prinsip utama kami adalah memastikan setiap pembiayaan memiliki sumber pengembalian yang terukur. Mengingat penguasaan cash flow para penyuluh kini berada di BSI, maka pengalihan ini merupakan langkah strategis untuk menyelaraskan manajemen risiko dengan kondisi riil di lapangan, sehingga kualitas pembiayaan tetap berada dalam kategori sehat dan kami dapat lebih fokus dalam mengoptimalkan sumber daya untuk mendukung akselerasi pembangunan di Nusa Tenggara Barat,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa langkah ini adalah potret kolaborasi yang apik di industri keuangan syariah.

“Ini adalah bentuk kolaborasi nyata antar perbankan syariah. Kita tidak hanya bicara soal kompetisi, tapi bagaimana bersinergi untuk menjaga kualitas aset tetap prima. Fokus kami tetap sama dengan semangat Pak Direktur Utama: mengedepankan prinsip kehati-hatian demi pertumbuhan bank yang berkelanjutan,” tambahnya.

Langkah responsif ini juga menunjukkan konsistensi Bank NTB Syariah dalam menjaga integritas sistem keuangan daerah.
Sebelumnya, Bank NTB Syariah juga melakukan langkah serupa melalui kerja sama dengan BPD Bali. Saat itu, Bank NTB Syariah menerima pengalihan outstanding pembiayaan ASN Daerah senilai Rp65 Miliar dari BPD Bali sebagai bagian dari kepatuhan terhadap implementasi Sistem Informasi Pemerintahan Daerah (SIPD).

“Hari ini, kita melakukan hal yang sama dengan BSI, namun dalam posisi menyerahkan portofolio. Ini adalah bentuk sinergi yang sehat antarlembaga keuangan syariah. Dengan langkah yang terukur dan prudent seperti ini, Insya Allah kita dapat terus menjaga pertumbuhan bank yang berkelanjutan dan kualitas aset yang tetap prima,” tambah Nazaruddin, Kamis, 13 Februari 2026.

Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang berlangsung di Kantor Pusat Bank NTB Syariah ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem keuangan syariah di Nusa Tenggara Barat, sekaligus memastikan transisi administratif para ASN berjalan lancar tanpa hambatan layanan perbankan.(bul)