HomeEKONOMI & BISNISKopi Arabika dan Robusta Sajang Tembus Pasar Internasional, Dorong Penguatan Kualitas Hulu-Hilir

Kopi Arabika dan Robusta Sajang Tembus Pasar Internasional, Dorong Penguatan Kualitas Hulu-Hilir

Mataram (Ekbis NTB) – Potensi komoditas kopi di Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), kian bersinar di kancah nasional hingga global. Di bawah pendampingan Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan NTB, komoditas unggulan ini sukses menembus pasar ekspor, salah satunya pengiriman 3 ton kopi robusta ke Korea Selatan pada Agustus 2026 lalu.

Kendati demikian, tingginya animo pasar luar negeri dan domestik menghadapi tantangan klasik: keterbatasan volume produksi, khususnya untuk varietas Arabika.

Permintaan Melonjak, Produksi Terbatas

Anggota Koperasi Produsen Bumi Tani Lestari Indonesia, Ruslan, mengungkapkan bahwa kopi jenis Arabika asal Sembalun dan Sajang memiliki karakteristik cita rasa yang sangat diminati, seperti aroma yang kuat, tingkat keasaman yang pas, serta dominasi rasa cokelat.

- Advertisement -

“Arabika sangat dicari-cari. Cuma tahun ini quantity-nya sangat rendah sekali dalam produksi pascapanennya,” ujar Ruslan, Jumat (2/10/2026).

Berdasarkan data kelompok, produksi Arabika di Koperasi Bumi Tani Lestari Indonesia pada musim ini hanya berkisar 5 ton, sementara total produksi di seluruh Desa Sajang berada di angka 18–20 ton per musim. Padahal, estimasi kebutuhan pasar secara keseluruhan diyakini melampaui 50 ton per tahun. Tingginya permintaan juga datang secara rutin dari pelaku usaha kafe dan penikmat kopi di Kota Mataram.

Akibat keterbatasan stok, para petani menerapkan strategi penjualan yang fleksibel guna menghindari risiko bisnis. “Untuk saat ini kami masih kontrak putus. Begitu ada barang, dibayar, selesai. Kami khawatir kalau kerja sama terlalu intens tetapi tidak bisa memenuhi kebutuhan, nanti terkena penalti,” jelas Ruslan.

Sebagian besar stok green bean Arabika kini bahkan diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan produk bubuk lokal serta wisatawan yang berkunjung ke Sembalun. Sebaliknya, untuk varietas Robusta, kelompok ini mencatatkan produksi yang jauh lebih besar yakni mencapai 50 ton di tingkat kelompok dan hingga 300 ton secara keseluruhan di Desa Sajang.

Harga Jual Menjanjikan dan Nilai Ekonomis Tumpangsari

Di tingkat petani, tren harga kopi dalam tiga tahun terakhir dinilai sangat baik dan menguntungkan. Harga green bean Robusta berada di kisaran Rp90.000 per kilogram, sedangkan Arabika menyentuh angka Rp150.000 hingga Rp190.000 per kilogram.

Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mengantisipasi fluktuasi harga komoditas, petani di atas lahan seluas 45 hektare dengan 35 anggota ini menerapkan sistem pertanian tumpangsari. Kopi ditanam berdampingan dengan tanaman lain seperti alpukat. “Kalau salah satu harga komoditas kurang bagus, masih ada komoditas lain yang bisa menutupi,” ujar Ruslan.

Peran Strategis Bank Indonesia dan Penguatan Mandiri

Peningkatan kualitas kopi Sajang tidak terlepas dari intervensi program Bank Indonesia (BI). Konsultan Pendamping UMKM Kopi, Edy Suhardiman, menyampaikan bahwa pendampingan difokuskan dari sektor hulu hingga hilir. Petani diedukasi untuk melakukan pemetikan buah merah (red cherries) guna mendongkrak mutu hasil akhir serta meninggalkan metode panen campur yang merugikan.

Melalui program capacity building dan studi tiru ke Bandung yang difasilitasi BI, para petani kini mampu mengoperasikan mesin roasting secara mandiri serta memanfaatkan fasilitas pendukung seperti ruang diskusi (FGD).

Mengingat ruang ekspansi lahan di Desa Sajang sudah terbatas akibat status kepemilikan hak milik warga, fokus utama ke depan diarahkan pada optimalisasi produktivitas dan kualitas. Kelompok tani secara mandiri rutin melakukan pembibitan varietas unggul seperti Ateng Super dan Ateng Janda yang disemai sendiri untuk dibagikan kepada para anggota demi menjaga kesinambungan jangka panjang. (fan)

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut