Sunday, April 12, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 34

Keuangan PDAM Dompu Mulai Sehat

0
H. Didi Wahyuddin (Suara NTB/ula)

Dompu (ekbisntb.com) – Kondisi keuangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Dompu, akhirnya mulai sehat. Perusahaan plat daerah ini, mampu membiayai operasional seperti gaji karyawan, perbaikan teknis dan non teknis skala kecil. Hal itu terjadi setelah dilakukan pembenahan internal dan izin pake air baku bendungan Mila untuk menopang IPA Selaparang.

“PDAM awalnya tidak mampu menggaji karyawan, sekarang kami sudah mampu menggaji karyawan, bahkan operasional sudah bisa kami lakukan. Operasional teknis maupun non teknis, kami sudah bisa membiayai diri sendiri,” ungkap Plt. Direktur PDAM Dompu, H. Didi Wahyudin, SE., ditemui di kantornya pada, Rabu (25/2).

Jumlah pelanggan aktif PDAM Dompu saat ini mencapai 5.675 rumah tangga. Namun, sekitar 3 ribuan tidak aktif bayar setiap bulan. Kendati demikian, dari pelanggan yang ada PDAM Dompu berhasil mencatatkan hasil perbulan rata – rata Rp150 juta. Pendapatan ini berhasil memenuhi kebutuhan bayar gaji karyawan per bulan dan biaya operasional rutin. “Kalau lima ribu lebih itu rutin bayar tiap bulan, pendapatan PDAM bisa lebih Rp200 juta lebih,” sebutnya.

Air yang didistribusikan tidak lagi air banjir seperti sebelum – sebelumnya. Pihaknya telah mendapat izin pemanfaatan air baku bendungan Mila untuk diolah di IPA Selaparang. Karena air baku Kamudi yang menjadi sumber air baku IPA Selaparang selama ini, belum bisa dialirkan pasca rusak diterjang banjir tahun 2025 lalu.

“Kami sudah lakukan peningkatan pelayanan, tadinya diterima dengan kondisi keruh. Kita sudah lakukan pembersihan di paraset IPA nya. Sekarang masyarakat sudah rasakan adanya perubahan yang cukuplah untuk saat sekarang,” ungkapnya.

Sumber air baku PDAM untuk dalam kota bisa mencapai 240 liter per detik. Sumber ini berasal dari IPA Rora, IPA Kamudi, dan Mila, sehingga berpotensi memiliki pelanggan hingga 24 ribu rumah tangga. Potensi ini belum termasuk IPA Kilometer 12 Kadindi Kecamatan Pekat, Kilo, Hu’u dan rencana IPA Manggelewa.

Pihaknya sedang melengkapi dokumen untuk Surat Izin Pengolahan Air (SIPA) untuk diajukan ke pemerintah pusat. SIPA menjadi salah satu syarat yang diminta untuk pinjaman ke PT. Sarana Multi Infrastruktur atau dukungan pemerintah pusat lainnya. Termasuk juga rencana bisnis PDAM, RKA, dokumen UKL dan UPL. “Untuk audit internal PDAM, juga sedang dipersiapkan,” terangnya.

Pemerintah daerah Dompu berencana mengajukan pinjaman ke PT. SMI, untuk mendanai pengembangan bisnis dan layanan PDAM Dompu, termasuk penanganan penerangan jalan. PDAM Dompu sebagai penerima manfaat, kini telah menyiapkan syarat yang dibutuhkan. (ula)

Tanaman Jagung di Empang dan Plampang Terancam Puso

0
Perkebunan jagung (Ekbis NTB/ils)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sumbawa, mencatat sebanyak 12,5 hektar lahan jagung di Kecamatan Empang dan Plampang terancam gagal panen alias puso. Hal ini dampak dari banjir yang terjadi beberapa hari terakhir.

“Dari 40,5 hektar lahan jagung yang terdampak 12,5 hektar dipastikan gagal panen dan 13 hektar dinyatakan pulih,” kata Kadistan melalui Kabid Perlindungan Tanaman, Pengembangan Usaha, Rusmini, kepada Suara NTB, Rabu, 25 Februari 2026.

Berdasarkan data lanjutnya, total luas tanam untuk jagung di Kecamatan Plampang mencapai 30 hektar. Dari jumlah tersebut yang terdampak banjir 20,5 hektar, dinyatakan puso 7,5 hektar dan pulih 13 hektar yang terdampak banjir pada 23 Januari dan 12 Februari.

“Jadi, penyebab jagung tersebut puso karena bagian batang bawah yang busuk, batang, buah busuk dan tertimpun lumpur akibat terendam banjir,” ujarnya.

Sementara, di Kecamatan Empang total luas lahan tanam jagung mencapai 507 hektar. Dari jumlah tersebut, 20 hektar terdampak banjir dan 5 hektar lainnya dipastikan gagal panen (puso) akibat banjir yang terjadi pada tanggal 8 Februari lalu.

“Rata-rata penyebab gagal panen karena batang busuk lantaran terendam dalam rentan waktu yang lama. Selain ada juga jagung yang tertimbun lumpur,” ucapnya.

Lahan yang dipastikan gagal panen tersebut, pihaknya sudah menyiapkan skema mengganti bibit petani dan memberikan bantuan pupuk. Hal itu dilakukan agar petani yang terdampak bencana banjir tidak terlalu merugi.

“Kita sudah data lahan yang dipastikan gagal panen tersebut dan dalam waktu dekat kami akan segera turun ke lapangan untuk memberikan bantuan bibit dan pupuk,” ucapnya.

Usia tanaman yang terancam gagal panen di Kecamatan Plampang 60-80. Sementara, di Kecamatan Empang dengan usia padi 60-90 hari dipastikan puso karena banjir susulan yang terjadi di wilayah setempat.

“Data sementara kita baru dua lokasi itu aja yang dipastikan gagal panen, sementara untuk lokasi lainnya kami belum menerima laporan lebih lanjut dari petugas,” tukasnya. (ils)

Relokasi PKL di Jalan Adisucipto ke Eks Bandara Selaparang Tertunda

0
Relokasi PKL di Jalan Adisucipto ke Eks Bandara Selaparang Tertunda
Sejumlah lapak PKL berjejer di atas trotoar Jalan Adisucipto. Aktivitas masyarakat di lokasi tersebut tampak padat. Relokasi ke area kawasan Eks Bandara Selaparang kembali tertunda, Rabu (25/2/2026). (suarantb.com/pan)

Mataram (ekbisntb.com) – Pemerintah Kota Mataram menyampaikan bahwa rencana pemindahan atau relokasi pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di atas trotoar Jalan Adisucipto ke halaman eks Bandara Selaparang kembali tertunda. Penundaan tersebut disebabkan pihak Koperasi Karyawan Angkasa Pura (Kokapura) belum siap dari sisi sarana dan prasarana.

Relokasi PKL semula direncanakan sebelum memasuki bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, bertepatan dengan momentum Festival Ramadan. Namun, rencana tersebut diundur hingga 25 Februari 2026. Karena fasilitas di lokasi tujuan belum siap dan terdapat sejumlah kendala dari pihak Kokapura, pelaksanaan relokasi kembali ditunda.

Selain persoalan kesiapan fasilitas, relokasi juga terkendala penolakan dari sebagian PKL yang enggan berpindah ke dalam area eks Bandara Selaparang. Para pedagang menginginkan tetap berjualan di lokasi semula, yakni di luar kawasan tersebut.

Asisten I Sekretariat Daerah Kota Mataram, H. Lalu Martawang, mengatakan pemerintah saat ini terus membangun komunikasi dengan para PKL dan pihak Kokapura. Menurutnya, pemerintah dihadapkan pada dua aspirasi berbeda. Di satu sisi, PKL ingin tetap berjualan di luar area eks bandara. Di sisi lain, masyarakat menghendaki kawasan tersebut lebih tertib, aman, dan nyaman tanpa penggunaan trotoar sebagai tempat berjualan, terlebih dengan lapak semi permanen.

Sebagai alternatif, pemerintah menawarkan relokasi ke dalam kawasan eks Bandara Selaparang. Namun, pelaksanaannya masih menunggu kesiapan dari pihak Angkasa Pura melalui Kokapura.

“Penggunaan fasilitas itu nanti, kapan siapnya Kokapura, itulah waktu kita relokasi,” ujarnya, Rabu (25/2).

Terkait isu penolakan, Martawang membenarkan bahwa perwakilan PKL telah mendatanginya untuk menyampaikan keberatan. Mereka mengeluhkan potensi penurunan pendapatan apabila dipindahkan ke lokasi baru.

Di sisi lain, pemerintah juga menerima keluhan dari masyarakat yang merasa terganggu dengan aktivitas PKL yang menggunakan fasilitas umum, seperti trotoar, sebagai tempat berjualan.

“Keluhan PKL kita dengarkan, keluhan masyarakat juga tetap kita dengar. Jadi, kita harus menemukan solusi terbaik. Kapan waktunya, tergantung kesiapan Kokapura sebagai mitra dan pemerintah daerah melalui Dinas Perdagangan,” jelasnya.

Mantan Kepala Bappeda Kota Mataram itu menegaskan bahwa nota kesepahaman (MoU) antara pihak Angkasa Pura dan Pemerintah Kota Mataram tetap efektif dan berjalan sesuai kesepakatan, baik terkait operasional maupun penataan kawasan eks Bandara Selaparang.

Ia berharap ke depan kawasan tersebut dapat menjadi lebih produktif, tertata, aman, dan nyaman, serta menjadi contoh dalam penataan PKL yang selama ini kerap menjadi persoalan di Kota Mataram. (pan)

Keliling Pasar Tanjung, Upaya Pemda Pastikan Stabilitas Harga Selama Ramadan

0
Keliling Pasar Tanjung, Upaya Pemda Pastikan Stabilitas Harga Selama Ramadan
Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal turun berkeliling ke Pasar Tanjung, KLU. Hal ini dilakukan Gubernur untuk memastikan harga tetap stabil selama Ramadan hingga jelang Idul Fitri. (suarantb.com/ist)

Tanjung (ekbisntb.com) – Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal bersama jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait berkeliling ke Pasar Tanjung, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Rabu (25/2/2026).

Hal itu dilakukan dalam upaya memastikan kondisi harga-harga bahan pokok di pasar, serta mengamati perkembangan harga terutama di bulan puasa, hingga mengantisipasi kondisi harga-harga menjelang lebaran.

“Setelah kita kunjungi, walau cabai relatif di sini masih tinggi, di atas harga HET, tetapi relatif stabil di angka Rp100 ribu, ada yang Rp90 ribu,” jelas Gubernur.

Sebagai intervensi harga selain melakukan sidak harga bersama tim Satgas Pangan, Pemprov NTB juga melaksanakan pasar murah di sejumlah titik lokasi di kabupaten/kota.

“Yang jelas kita juga bikinkan pasar murah untuk intervensi pasar, barang-barang yang memang dari Bulog, itu ada beras, minyak kemudian ada gula. Kita jual dengan harga standar supaya bisa ikut mempengaruhi pasar,” terangnya.

Gubernur menyebut salah satu penyebab pasang surutnya harga bapok terutama cabai dikarenakan masalah cuaca yang mengakibatkan permintaan lebih tinggi dibanding produksi.

“Kondisi cuaca juga berpengaruh, Demand-nya lebih tinggi daripada supply yang jelas ada kelangkaan, sehingga harga naik,” ungkapnya.

Direktur Penganeka Ragaman Konsumsi Pangan, Badan Pangan Nasional Rinna Syawal yang mendampingi Gubernur dan jajaran mengatakan, adanya perbedaan harga karena perbedaan pasokan, dimana ketika ada yang pasokannya cukup, akan kemudian terdistribusi ke pedagang juga tidak ada masalah.

Selain pasokan berbeda juga ada pengaruh dengan rantainya panjang, seperti di Lombok Tengah menemukan ada fakta. “Cabai yang diproduksi di Lombok Tengah ternyata tidak langsung ke pasar, tapi dijual dulu ke Lombok Timur, Lombok Timur balik lagi ke Lombok Tengah, sehingga harganya lebih tinggi,” jelas Rinna. (r)

Harga Bahan Pokok Terpantau Normal, Disdag Lotim Klaim Stok Aman hingga Lebaran

0
Kegiatan pemantauan harga pangan di Pasar Pancor, Lombok Timur Selasa (24/2/2026). (suarantb.com/rus)

Selong (ekbisntb.com) – Dinas Perdagangan (Disdag) Lombok Timur (Lotim) memastikan bahwa harga bahan pokok penting (Bapokting) di pasar tradisional masih dalam kondisi normal dan terkendali. Klaim ini disampaikan menyusul turunnya tim pemantau ke sejumlah pasar guna mengantisipasi gejolak harga jelang bulan suci Ramadan.

Kepala Bidang Bapokting Dinas Perdagangan Lotim, Saeful Wathon, mengungkapkan bahwa pihaknya bersama tim Satuan Tugas (Satgas) Pangan dan tim saber pemantauan harga pangan telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) pada Selasa (24/2/2026). Hasilnya, stok bahan pokok dipastikan aman dan harga bergerak di kisaran normal.

“Kita sudah melakukan pemantauan di pasar bersama tim saber pemantauan harga pangan. Dari pemantauan yang kita lakukan, semua bahan pokok masih pada kondisi yang tersedia dan harga masih normal,” ujar Saeful Wathon saat dikonfirmasi Suara NTB, Rabu (25/2/2026).

Berdasarkan pantauan di lapangan, komoditas seperti beras, minyak goreng, gula pasir, dan telur ayam masih stabil. Meski secara umum aman, Disdag Lotim mencatat adanya sedikit fluktuasi pada komoditas cabai.

“Hanya cabai yang masih kemarin menjadi penyumbang Indeks Perkembangan Harga (IPH),” imbuhnya.

Meskipun ada sedikit pergerakan pada harga cabai, Saeful Wathon menegaskan bahwa hal tersebut tidak terlalu signifikan dan masih dalam batas wajar. Pihaknya akan terus melakukan pemantauan secara intensif untuk memastikan tidak ada lonjakan harga yang meresahkan masyarakat, terutama menjelang bulan puasa.

“Kami akan terus turun ke pasar untuk memastikan stok aman dan harga tidak melonjak. Jika ditemukan indikasi penimbunan atau permainan harga, kami tidak segan untuk menindak tegas,” tegasnya.

Disdag Lotim mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir dan melakukan pembelian secara bijak atau tidak berlebihan, karena pasokan bahan pokok dipastikan mencukupi kebutuhan seluruh warga. (rus)

Bazar Ramadan, Diharapkan Menjadi Mesin Uang Baru Bagi Pelaku UMKM

0
Wakil Bupati Lombok Timur H. Edwin Hadiwijaya saat mengunjungi salah satu lapak milik pelaku UMKM yang berada di bazar Ramadan halaman Kantor Camat Selong pada, Senin (23/2). (Suara NTB/rus)

Selong (ekbisntb.com) – Geliat ekonomi kreatif di Lombok Timur (Lotim) semakin terlihat nyata di bulan Ramadan 1447 Hijriah. Pembukaan Bazar Ramadan di Halaman Kantor Camat Selong pada Senin (23/02) tidak hanya menjadi tujuan ngabuburit warga, tetapi juga menjadi berkah tersendiri bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Pasalnya, omzet yang diraup dalam kegiatan seperti ini mampu meningkat dua kali lipat dibandingkan berjualan di hari biasa .

Kegiatan yang mengusung tema “Penuh Berkah, Penuh Rasa, Yuk Ngabuburit” ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kecamatan Selong dan Asosiasi Pelaku Industri Kecil Menengah (APIKM) Lombok Timur. Bazar yang akan berlangsung hingga 7 Maret 2026 ini, dibuka langsung oleh Wakil Bupati Lotim, H. Moh. Edwin Hadiwijaya .

Meski baru berjalan, antusiasme pedagang untuk bergabung dalam bazar musiman ini sangat tinggi. Koordinator UMKM APIKM, Suratman Prasetyo Adi Nugroho, mengungkapkan bahwa kegiatan bazar Ramadan ini diburu oleh pedagang. Namun, pihaknya harus membatasi peserta karena keterbatasan tempat.

“Kegiatan bazar Ramadan di halaman Kantor Camat Selong ini baru bisa diikuti oleh 10 pelaku UMKM. Ini karena kapasitas tempat yang terbatas. Kami sengaja tidak menggelar di pinggir jalan karena risiko bongkar pasang yang merepotkan pedagang,” ujar Suratman.

Data yang dihimpun APIKM menunjukkan bahwa berjualan di tempat khusus seperti bazar atau Car Free Night (CFN) memberikan dampak signifikan terhadap pendapatan. Suratman memaparkan perbandingan omzet yang mencolok antara berjualan di lokasi biasa dengan di event terstruktur.

“Jualan di tempat biasa dibandingkan di CFD atau bazar itu bisa dua kali lipat. Kami punya datanya. Ketika 48 UMKM berjualan di bazar, dalam waktu dua jam saja total omzet bisa mencapai Rp63 juta,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa Car Free Night (CFN) yang rutin digelar di Lapangan Nasional (Lapnas) Selong bahkan menunjukkan performa yang lebih impresif. Pada kegiatan CFN dengan jumlah peserta UMKM yang hampir mencapai 400, omzet yang diraup dalam satu malam CFN bisa mencapai Rp110 juta-Rp120 juta . Menariknya, meski jumlah UMKM di CFN jauh lebih sedikit, omzetnya bisa tembus Rp63 juta-Rp70 juta. Hal ini menunjukkan tingginya daya beli masyarakat terhadap produk lokal di malam hari.

“Untuk bazar Ramadan ini, kami menargetkan omzet bisa mencapai Rp8 juta-10 juta per malam. Tinggal bagaimana kita mengemasnya. Jangan monoton. Coba hadirkan menu yang khas dan buat daya tarik seperti live musik biar orang datang,” tambah Suratman, memberikan catatan untuk peningkatan kualitas event ke depan.

Wakil Bupati H. Edwin Hadiwijaya dalam sambutannya juga menyinggung rencana strategis menjadikan lokasi Kantor Camat Selong dan sekitarnya sebagai pusat kuliner baru di Lombok Timur. Hal ini dilakukan untuk menata kawasan kuliner yang selama ini terpusat di Taman Kota Selong, mengingat kantor camat direncanakan akan pindah ke wilayah Gandor . Langkah ini dinilai sebagai upaya lanjutan dari kesuksesan car free night yang telah berjalan hampir enam bulan .

Menu Khas Lombok
Pantauan di lokasi bazar, puluhan stan UMKM menawarkan beragam menu khas Lombok untuk memanjakan lidah para pengunjung yang berburu takjil. Beberapa diantaranya adalah bulayak, es pisang hijau, dan nasi puyung yang menjadi primadona.

Namun, di balik semaraknya penjualan, para pedagang musiman yang biasa menjual takjil mulai berkurang. Selain itu, mereka juga dihadapkan pada tantangan kenaikan harga bahan baku yang signifikan selama bulan Ramadan. Suratman Prasetyo menyoroti lonjakan harga cabai yang tembus Rp200 ribu per kilogram.

“Harga bahan baku selama Ramadan tinggi. Cabai saja tembus Rp200 ribu. Bisa jadi di Maret mendatang harganya akan semakin tinggi,” ungkapnya mengkhawatirkan.

Kekhawatiran ini sejalan dengan kondisi di lapangan. Berdasarkan pantauan di pasar tradisional Lombok Timur, harga cabai rawit memang menyentuh angka fantastis Rp200 ribu per kilogram di awal Ramadan, dipicu oleh tingginya permintaan dan faktor cuaca yang mempengaruhi produksi .

Meski demikian, semangat para anggota APIKM yang berjumlah 143 UMKM dengan beragam jenis usaha ini tidak surut. Mereka tetap antusias mengikuti bazar demi meraih omzet berlipat yang hanya datang setahun sekali. Dengan strategi pengemasan yang tepat dan dukungan pemerintah, Bazar Ramadan di Selong diharapkan tidak hanya menjadi ajang mencari keuntungan, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Lotim. (rus)

Kenaikan Tarif PDAM Berlaku Pertengahan Tahun

0
Abdul Hakim. (Suara NTB/ils)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Batulanteh, terus melakukan sosialisasi terkait rencana penyesuaian atau kenaikan tarif dasar air minum sebesar Rp3.500 per meter kubik. Kenaikan tariff ini akan diberlakukan mulai pertengahan tahun 2026.

“Kita masih pada tahap sosialisasi dulu untuk rencana penyesuaian tarif mungkin pertengahan tahun ini bisa kita berlakukan tarif baru itu,” kata Direktur Perumdam Batulanteh, H. Abdul Hakim kepada Suara NTB, Selasa, 24 Februari 2026

Abi Hakim sapaan akrabnya melanjutkan, sosialisasi dilakukan untuk memastikan rencana penyesuaian tarif tersebut berjalan lancar dan aman. Karena, pada prinsipnya penyesuaian tarif ini dilakukan,agar Perumdam Batulanteh bisa sehat dan tidak bergantung pada pemerintah.

“Kita tetap akan melakukan sosialisasi kepada para pelanggan dan masyarakat secara umum. Apalagi penyesuaian tarif dilakukan setelah terakhir kita lakukan pada tahun 2014 lalu,” ucapnya.

Selain sosialisasi, pihaknya juga akan melakukan perbaikan pelayanan kepada masyarakat. Tahun ini kata dia, pihaknya mendapatkan anggaran sekitar Rp22,5 miliar dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) termasuk pembayaran pajak.

“Anggaran itu kita akan gunakan untuk merehabilitasi Instalasi pengolahan air pungka dan pergantian jaringan distribusi sepanjang 6 kilometer,” ujarnya.

Selain untuk rehabilitasi, anggaran juga digunakan untuk penambahan sambungan rumah baru di wilayah layanan Kecamatan Utan dan Alas. Selain itu, akan dilakukan penggantian jaringan distribusi utama Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Beringin Sila dan penambahan jaringan distribusi dengan total anggaran sekitar Rp8 miliar.

“Rehabilitasi instalasi pengolahan air dan rehab rumah kimia SPAM Marenteh Alas sekitar Rp1,3 miliar. Rehab Browncaptering Langkayam wilayah Layanan Plampang Rp350 juta serta rehab intake penyempeng dan rehab Browncaptering Layanan Empang Rp3 miliar,” tambahnya.

Abi Hakim meyakinkan, pemerintah telah mengkaji penyesuaian tarif secara intensif seiring dengan adanya surat Gubernur NTB nomor 497 tahun 2025. Di surat tersebut pun sudah ditetapkan tarif batas bawah dan batas atas untuk seluruh PDAM yang ada di NTB.

“Kalau boleh jujur kita (Sumbawa) yang paling murah tarif dasar air seluruh Indonesia. Bahkan kita belum pernah menyesuaikan tarif tersebut sejak terakhir dilakukan pada tahun 2014,” ucapnya.

Ia melanjutkan, jika mengacu ke surat keputusan (SK) Gubernur maka tarif batas bawah yang bisa diterapkan di Sumbawa sebesar Rp3.500 per meter kubik. Besaran tersebut sebenarnya sudah harus diterapkan,hanya saja pemerintah saat ini masih melakukan kajian lebih lanjut.

“Memang sudah harus diterapkan untuk tarif batas bawah itu, tetapi kami masih sosialisasi dulu dengan melihat semua sisi jangan sampai menimbulkan persoalan di kemudian hari,” tukasnya. (ils)

Jika Harga Cabai Karena Permainan Spekulan, Pemprov NTB: Itu Bisa Kita Tuntut

0
Jika Harga Cabai Karena Permainan Spekulan, Pemprov NTB: Itu Bisa Kita Tuntut
Pemprov NTB menegaskan dapat menuntut secara hukum pihak-pihak yang terindikasi sengaja merekayasa pasar sehingga harga cabai mengalami lonjakan pada momentum puasa ini. (suarantb.com/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Pemerintah Provinsi NTB menegaskan dapat menuntut secara hukum bagi pihak-pihak yang terindikasi sengaja merekayasa pasar sehingga harga cabai mengalami lonjakan pada momentum puasa 1447H/2026 ini.

Diketahui, harga cabai rawit menembus angka di atas Rp100 ribu per kilogram, kenaikannya terjadi sejak menjelang Ramadan. Tingginya harga cabai ini menjadi tertinggi sepanjang ini.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Provinsi NTB, H. Irnadi, mengatakan, jika lonjakan harga tersebut terbukti akibat permainan spekulan, maka tindakan hukum dapat ditempuh.

Pemerintah daerah bersama stakeholder juga telah melakukan berbagai langkah untuk mengendalikan harga dan memastikan pasokan tetap tersedia di pasaran.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan. Kami juga sudah berkomunikasi dengan champion cabai wilayah NTB sebagai opsi untuk memasukkan cabai dari luar daerah, khususnya dari Jawa Tengah,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).

Selain itu, Pemprov NTB bersama Tim Satuan Tugas Pangan (Saber Pangan) yang dipimpin Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polri di NTB juga turun ke lapangan untuk mengecek dan menganalisis penyebab kenaikan harga, terutama untuk cabai merah lokal.

“Kami juga kemarin rapat dengan teman-teman enumerator atau kontributor pencatat harga pangan di pasar. Dari hasil pemantauan, cuaca yang tidak menentu menjadi penyebab utama. Produsen dan petani tidak bisa memanen secara maksimal,” jelasnya.

Menurut Irnadi, faktor cuaca ekstrem menyebabkan pasokan cabai dari petani lokal berkurang drastis, sehingga harga melonjak tajam di tingkat pasar. Untuk mengatasi kondisi tersebut, opsi paling realistis saat ini adalah mendatangkan pasokan dari luar daerah.

“Opsi yang sangat realistis adalah kita datangkan dari Jawa Tengah agar suplai bertambah dan harga bisa kembali stabil,” tegasnya.

Meski demikian, Irnadi mengakui harga cabai di atas Rp100 ribu per kilogram memang tidak wajar. Namun, ia menyebut lonjakan tersebut tidak terjadi merata di seluruh wilayah NTB.

“Itu hanya terjadi di Pasar Renteng di Loteng (Lombok Tengah),” katanya.

Pemprov NTB memastikan akan terus memantau perkembangan harga di lapangan, memperkuat koordinasi lintas instansi, serta mengambil langkah cepat guna menjaga stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat selama bulan suci Ramadan. (bul)

Satgas Pangan Bapanas Sidak Pasar Renteng

0
Daging ayam menjadi salah satu bahan pokok yang mengalami lonjakan harga dalam sepekan terakhir. Saat Satgas Pangan turun melakukan sidak di Pasar Renteng, Selasa (24/2/2026), harga daging ayam sudah di atas Rp40 ribu per kilogram. (suarantb.com/kir)

Praya (ekbisntb.com) – Satuan Tugas (Satgas) Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Satgas Pangan NTB melakukan inspeksi mendadak (sidak) di pasar Renteng Praya, Lombok Tengah (Loteng), Selasa (24/2). Sidak dilakukan untuk mengecek secara langsung kondisi ketersediaan serta harga bahan pokok (bapok) yang ada. Terutama daging dan cabai yang sejak sepekan terakhir mengalami lonjakan harga cukup signifikan.

Dalam sidak yang diikuti Ketua Komisi II DPRD Loteng, Ferdian Elmansyah bersama perwakilan Bulog NTB dan Pemkab Loteng tersebut, Satgas Pangan menemukan harga sejumlah bapok sudah di atas harga yang ditentukan oleh pemerintah. “Terutama daging ayam, harga yang dipatok pemerintah yakni Rp40 ribu per kilogram, tetapi harga di pasar di atas itu,” ungkap Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna Syawal.

Pihaknya pun akan terus melakukan pemantauan harga bapok secara berkala. Jika memang harga tidak kunjung stabil, tidak menuntup kemungkinan pihaknya akan mendorong pasokan bapok dari luar untuk memenuhi ketersediaan bapok di daerah ini. Hal ini agar harganya bisa kembali stabil.

Dengan begitu, masyarakat tidak kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokok tersebut, karena persoalan harga yang tinggi. Terutama selama bulan puasa ini. “Kalau yang lain seperti bawang merah, bawah putih, gula dan minyak goreng sejauh ini harganya masih aman,” sebutnya.

Khusus terkait lonjakan harga cabai rawit, Rinna mengaku memang jadi fenomena secara nasional, tidak hanya di Loteng. Ini dampak dari adanya lonjakan permintaan dalam waktu yang bersamaan. Sementara ketersediaan cabai di pasar belum mencukupi.

Pihaknya pun berharap dalam beberapa hari ke depan, stok cabai bisa stabil. Sehingga harganya juga bisa kembali normal. “Untuk cabai kita temukan harganya antara Rp90 sampai Rp100 ribu. Ke depan, dengan masuknya stok cabai ke pasar, harganya bisa kembali stabil,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Ketua Komisi II DPRD Loteng Ferdian Elmansyah, mengatakan ada temuan menarik terkait cabai, khususnya cabai rawit. Di Loteng sebenarnya termasuk daerah produsen cabai. Dengan tingkat produksi hingga 82 kwintal dalam tiga hari. Jadi dari sisi stok, cabai di Loteng aman.

Hanya saja, cabai dari Loteng tidak langsung masuk ke pasar di Loteng. Tetapi mampir dulu ke pengempul yang ada di Lombok Timur (Lotim) maupun Lombok Barat (Lobar). Baru kemudian masuk ke pasar-pasar di Loteng, termasuk di pasar Renteng.

Hal itulah yang menyebabkan harga cabai menjadi tinggi di Loteng. “Ke depan, persoalan ini akan jadi pembahasan kita bersama dengan pemerintah daerah untuk bagaimana supaya cabai dari Loteng tidak mampir ke daerah lain dulu. Tetapi bisa langsung dipasarkan di Loteng. Sehingga harganya tidak tinggi,” ujar Sekretaris DPD II Partai Golkar Loteng ini. (kir)

Sinergi Membangun Pendidikan: Bank NTB Syariah dan UIN Mataram Resmikan Kerja Sama Strategis

0
Sinergi Membangun Pendidikan: Bank NTB Syariah dan UIN Mataram Resmikan Kerja Sama Strategis

Mataram (ekbisntb.com)Bank NTB Syariah memperkuat komitmennya dalam mendukung sektor pendidikan tinggi di Nusa Tenggara Barat melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) strategis dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram. Seremoni yang berlangsung pada Senin, 23 Februari 2026 ini menandai babak baru kolaborasi dalam pengelolaan keuangan institusi berbasis prinsip syariah.

Dalam kerja sama ini, UIN Mataram melakukan penempatan dana. Selain penempatan dana, Bank NTB Syariah juga memberikan dukungan operasional guna menunjang aktivitas akademik dan institusional di UIN Mataram.

Direktur Utama Bank NTB Syariah, Nazaruddin dalam sambutannya menyampaikan bahwa kolaborasi ini bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan bentuk sinergi kelembagaan untuk mendukung UIN Mataram sebagai salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) terbesar di NTB.

“UIN Mataram adalah institusi strategis dengan status Badan Layanan Umum (BLU) yang membina lebih dari 13.000 mahasiswa serta didukung oleh ratusan dosen dan pegawai. Kami merasa terhormat atas kepercayaan yang terus diberikan kepada Bank NTB Syariah sebagai mitra perbankan utama,” ujarnya.

Selain pengelolaan dana, kedua belah pihak telah memetakan rencana pengembangan layanan di masa depan untuk meningkatkan efisiensi ekosistem kampus, antara lain:
– Implementasi Pembayaran UKT Host-to-Host: Memudahkan mahasiswa dalam melakukan transaksi biaya pendidikan secara real-time dan transparan.

– Co-Branding Kartu Tanda Mahasiswa (KTM): Integrasi identitas mahasiswa dengan layanan keuangan perbankan syariah.

– Dukungan Infrastruktur: Penjajakan potensi pembiayaan untuk pembangunan Gedung Fakultas Kedokteran UIN Mataram guna mendukung peningkatan fasilitas pendidikan kedokteran di daerah.

Rektor UIN Mataram, Bapak Dr. H. Masnun Tahir, bersama jajaran pimpinan universitas hadir langsung dalam acara ini. Kerja sama ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi kedua institusi, terutama dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah di lingkungan akademisi.(bul)