Home Blog Page 30

Dihapus Pemkab, Miliaran Rupiah Denda Pajak di Lombok Barat Bakal Hangus

0
Bapenda Lobar menerapkan pemutihan denda pajak hingga akhir Juni mendatang. (Suara NTB/her)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat (Pemkab Lobar) resmi memberlakukan program pembebasan sanksi administratif atau denda pajak daerah bagi seluruh wajib pajak, baik kalangan masyarakat hingga pengusaha. Kebijakan yang diberlakukan selama dua bulan lebih ini, selain sebagai kado HUT ke-68, juga diharapkan bisa memantik warga membayar tunggakan pajak.

Jika wajib pajak mengikuti program kebijakan ini, maka diperkirakan milarian rupiah denda pajak ini pun bakal hangus. dari data per tahun 2025, denda mencapai Rp8 miliar lebih. Masing-masing, denda PBB Rp2,4 miliar, denda pajak hotel Rp3,1 miliar, denda pajak restoran Rp2 miliar lebih, denda pajak BPHTB Rp10 juta, dan denda pajak air tanah Rp388 juta.

kepala Bapenda Lobar Lalu Agha Farabi menegaskan kebijakan ini bentuk apresiasi pemerintah kepada masyarakat. Bahkan pembebasan denda untuk seluruh lapisan masyarakat maupun pengusaha di Lombok Barat yang memiliki tunggakan denda pajak.

Program ini fokus pada penghapusan denda, bukan pokok pajak yang terutang. Masyarakat hanya perlu melunasi nilai pokok pajaknya saja tanpa perlu mengkhawatirkan akumulasi denda yang mungkin telah membengkak selama beberapa tahun terakhir. Tidak hanya terbatas pada Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) semata. Namun seluruh jenis pajak daerah, mulai dari pajak hotel, restoran, hiburan, hingga jenis pajak lainnya yang dikelola oleh pemerintah kabupaten.

Kesempatan bagi para pelaku usaha dan pengusaha Lobar untuk memperbaiki catatan administrasi perpajakan mereka. Kebijakan ini dijadwalkan berlangsung hingga akhir Juni 2026. Dengan rentang waktu yang cukup panjang, Pemda berharap masyarakat dapat memanfaatkan momentum ini sebelum masa berlaku program berakhir. Bapenda optimis hilangnya beban denda, akan menumbuhkan animo masyarakat melunasi kewajiban perpajakan.

“Alhamdulillah, sudah banyak yang membayar pajak sejak kebijakan itu kita keluarkan,” bebernya.

Untuk kemudahkan pembayaran, Bapenda menyiapkan berbagai kanal pembayaran yang mudah diakses. Masyarakat tidak harus datang langsung ke kantor dinas, melainkan bisa melakukan transaksi melalui perbankan maupun platform digital modern.

Pihaknya lebih mengutamakan komunikasi dan pemanggilan kepada wajib pajak sebelum melakukan tindakan pemeriksaan yang lebih formal. “Langkah-langkah untuk menagih sudah dilakukan sesuai prosedur, bahkan ada yang kita persuasif. Kita panggil dulu, jadi tidak langsung diperiksa. Sebelum kita periksa, dipanggil dulu wajib pajaknya,” tambahnya.

Pendekatan ini dilakukan terutama untuk sektor usaha restoran dan rumah makan yang menerapkan sistem self-assessment. Bapenda secara rutin melakukan uji petik di lapangan untuk memastikan bahwa pajak yang dibayarkan sesuai dengan kondisi riil usaha. Jika ditemukan, Bapenda akan mengomunikasikan temuan tersebut secara transparan kepada pemilik usaha. Dan menerbitkan Surat ketetapan pajak kurang bayar (SKPKB). (her)

Realisasi Pajak di Lobar Tembus Rp66,8 Miliar

0
Lalu Agha Farabi (Suara NTB/her), H. Jumahir (Suara NTB/her)

Giri Menang (ekbisntb.com) – Realisasi pajak di Lombok Barat (Lobar) tembus Rp66,8 miliar atau sekitar 25 persen. Capaian ini diklaim lebih tinggi dibanding pada periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk menggenjot pajak daerah ini, dibutuhkan kolaborasi semua OPD. Salah satunya dengan memperbanyak event agar tamu yang menginap kian ramai.

Kepala Bapenda Lobar, Lalu Agha Farabi, ST.,M.Si., pada Rabu (29/4/2026) mengatakan, sampai dengan saat ini realisasi pajak lumayan tinggi. Sektor yang paling tinggi menyetor PAD yakni dari PBJT (Pajak atas barang dan jasa tertentu), terdiri makanan (restoran), hotel, hiburan, parkir, tenaga listrik.

Capaian pajak ini diupayakan terus maksimal agar lebih tinggi dibanding sebelumnya. Mengingat target pajak sendiri naik tahun ini hingga Rp50 miliar. Kenaikan dari Rp210 miliar tahun lalu menjadi Rp262 miliar. Capaian pajak ini di luar PBB yang belum dipungut Pemkab, lantaran SPPT baru dicetak. Rencananya SPPT ini akan disebar awal bulan Mei. Dengan begitu, ditargetkan pajak PBB mulai masuk ditarik pada bulan depan. “Awal bulan mei kita sudah mulai,” terangnya.

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Lobar, H. Jumahir mengatakan pihaknya telah menyampaikan pada eksekutif bahwa salah satu upaya untuk mendongkrak PAD dengan memperbanyak event. Tahun ini, ada 32 event di Lobar. Tetapi itu harus terkoneksi dengan kunjungan kapal pesiar sebanyak 26 kali tahun ini. “Harapan kami berkolaborasi dengan event yang ada,” tegasnya.

Ia juga mendorong dukungan masyarakat lokal dalam kegiatan yang digagas oleh Pemkab. Sehingga bukan hanya pengusaha besar seperti hotel, tetapi UMKM lokal bisa mendapatkan efek. Untuk itu ia mendorong agar event yang digagas Pemkab seperti car free night diperluas ke kecamatan lain, tidak saja di Gerung. “Untuk itu kami dorong Pemkab memperluas car free night ini ke daerah lain, untuk meningkatkan ekonomi lokal,” imbuhnya. (her)

Organda NTB Khawatir Pembatasan BBM Subsidi Lumpuhkan Angkutan Umum

0
Junaidi Kasum (Suara NTB/bul)

Mataram (ekbisntb.com) – Ketua DPD Organda NTB, Junaidi Kasum, menyoroti kondisi antrean panjang dan pembatasan BBM subsidi di sejumlah SPBU usai kenaikan harga BBM non-subsidi. Ia menilai situasi ini membuat sopir angkutan umum dan pelaku transportasi semakin tertekan.

Menurut Junaidi, fenomena BBM subsidi yang cepat habis di SPBU memicu keresahan di kalangan pengemudi, terutama angkutan umum yang sangat bergantung pada solar bersubsidi.

“Teman-teman sekarang rata-rata was-was. Yang terjadi di setiap Pertamina itu tiba-tiba habis, sore habis, maghrib habis,” kata JK, panggilannya.

Ia menduga kondisi ini membuat masyarakat yang biasa menggunakan BBM subsidi terpaksa beralih membeli BBM non-subsidi dengan harga lebih tinggi.
“Apa makna habis itu? Orang yang tadinya ambil subsidi, mau tidak mau kalau sudah merah ya beli non-subsidi. Sementara harganya naiknya sudah berlipat,” ujarnya.

JK juga menyoroti munculnya antrean kendaraan di SPBU yang dinilai berpotensi memicu persoalan baru di lapangan. Menurutnya, antrean panjang menjadi sinyal distribusi BBM perlu diawasi lebih ketat.

“Antrean itu yang berbahaya. Oleh karena itu kami berharap pemerintah daerah dan Pertamina bisa mengontrol kondisi ini agar jangan sampai terjadi kekacauan,” katanya.

Ia mengaku khawatir jika pembatasan pembelian BBM subsidi seperti di Pulau Jawa diterapkan di NTB. Pasalnya, kendaraan angkutan umum antarkota di NTB membutuhkan pasokan BBM lebih besar untuk operasional jarak jauh.
“Kalau di NTB diberikan batas 200 liter untuk bus besar, dari Bima ke Mataram pulang-pergi tidak akan cukup,” tegasnya.

Organda NTB meminta distribusi BBM subsidi benar-benar dikawal agar tepat sasaran dan tidak merugikan sektor transportasi umum. Sebab, menurut Junaidi, pengusaha dan sopir angkutan saat ini berada dalam posisi sulit karena tarif angkutan tidak bisa serta-merta dinaikkan.

“Kalau tarif dinaikkan sementara subsidi tidak naik, masyarakat juga keberatan. Kondisi ini yang membuat anggota kami terpukul,” ujarnya. (bul)

NTB Siapkan Kawasan Industri Hilirisasi Udang untuk Investor

0
Nelayan Tak Lagi Bebas Beli BBM Subsidi, Produksi Tuna dan Ekspor Terancam Turun
H. Muslim (Suara NTB/bul)

Mataram (ekbisntb.com) – Pemerintah Provinsi NTB menyiapkan kawasan industri pengolahan udang di di dua lokasi guna mendorong hilirisasi sektor kelautan dan perikanan. Kawasan ini disiapkan bagi calon investor agar hasil budidaya udang dari NTB tidak lagi dijual dalam bentuk mentah ke luar daerah, melainkan diolah terlebih dahulu sehingga memberi nilai tambah bagi daerah.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB, H. Muslim, ST., M.Si, mengatakan lokasi utama yang disiapkan berada di Pelabuhan Perikanan Labuan Lombok, karena posisinya dinilai strategis sebagai titik tengah sentra tambak udang di NTB.

Menurutnya, produksi udang terbesar saat ini tersebar di wilayah utara Lombok, Lombok Timur bagian utara, serta Pulau Sumbawa.

“Kenapa di Labuan Lombok, karena aktivitas tambak udang ini banyak di Lombok Utara, Lombok Timur bagian utara, dan Sumbawa. Jadi posisinya berada di tengah,” ujarnya.

Selain Labuan Lombok, Pemprov NTB juga menyiapkan kawasan lain di Pelabuhan Perikanan Teluk Santong, Kabupaten Sumbawa, sebagai pusat pengolahan udang.

Muslim menjelaskan, pemerintah telah menyiapkan lahan untuk mendukung investasi industri pengolahan hasil perikanan. Luas lahan yang tersedia berkisar 3 hingga 5 hektare di masing-masing lokasi.

Lahan tersebut akan ditawarkan kepada investor, baik dari dalam maupun luar negeri, yang berminat membangun pabrik pengolahan udang di NTB.

“Sudah ada beberapa investor yang melakukan survei. Ada dari Singapura, dan ada juga investor lokal,” katanya.

Pemprov NTB menegaskan komoditas strategis perikanan, khususnya udang, diarahkan untuk diolah di dalam daerah sebelum dipasarkan atau diekspor. Kebijakan ini mengacu pada Perda Nomor 14 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Sumber Daya Perikanan Berkelanjutan.

Dalam aturan tersebut, komoditas strategis perikanan wajib diolah di daerah guna menciptakan nilai tambah ekonomi bagi NTB.

“Udang yang dihasilkan dari budidaya tidak boleh lagi dibawa keluar dalam bentuk mentah. Minimal diolah dulu di sini, misalnya dibersihkan, dipisahkan kepala dan kulitnya, lalu baru diekspor,” jelas Muslim.

Ia mengungkapkan, selama ini hasil tambak udang di NTB banyak dibeli perusahaan dari luar daerah, lalu dibawa menggunakan truk ke Surabaya dan Banyuwangi untuk diproses di pabrik mereka.

“Faktanya sekarang, udang dari Sumbawa maupun Lombok dibeli oleh pelaku usaha dari Surabaya. Mereka bawa mobil sendiri, tenaga panen sendiri, lalu diproses di sana karena pabriknya ada di Banyuwangi dan Surabaya,” ujarnya.

Karena itu, NTB ingin menghentikan pola lama tersebut dengan membangun industri pengolahan sendiri. Untuk menarik minat investor, Pemprov NTB menyiapkan berbagai insentif investasi. Di antaranya penyediaan lahan, kemudahan perizinan, hingga keringanan pajak dan retribusi pada awal masa produksi.

Insentif itu mengacu pada Peraturan Gubernur Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemberian Insentif Investasi.

“Kita siapkan karpet merah bagi investor. Perizinan akan kita fasilitasi penuh, bahkan ada kemungkinan keringanan pajak dan retribusi pada satu hingga dua siklus awal produksi,” katanya.

Namun demikian, investor diwajibkan memberikan manfaat sosial kepada masyarakat NTB, terutama dengan menyerap tenaga kerja lokal.

“Kompensasi sosialnya harus hadir. Mereka harus menampung tenaga kerja dari NTB, kecuali untuk tenaga yang sangat teknis,” tegas Muslim. (bul)

Capaian Retribusi Pasar Baru 17 Persen, Disdag Evaluasi Kebocoran Internal

0
H. Irwan Harimansyah (Suara NTB/pan)

Mataram (ekbisntb.com) — Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram melakukan evaluasi menyeluruh terhadap capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi pasar yang dinilai masih rendah.

Berdasarkan data per 30 Maret 2026, realisasi retribusi pasar baru mencapai 17 persen dari target tahunan sebesar Rp8,25 miliar. Angka tersebut masih berada di bawah target ideal triwulan pertama yang seharusnya mencapai kisaran 20 hingga 25 persen.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, H. Irwan Harimansyah, mengatakan rendahnya capaian tersebut tidak hanya dipengaruhi faktor eksternal, seperti musim hujan dan perubahan pola belanja masyarakat, tetapi juga persoalan internal dalam sistem pemungutan.

“Kita harus benahi ke dalam, karena kebocorannya banyak terjadi di internal. Saya sering turun ke lapangan, melakukan inspeksi mendadak, bahkan menyamar, sehingga mengetahui titik-titik kebocoran tersebut,” ujarnya, Rabu (29/4/2026).

Ia menegaskan, transparansi dan integritas petugas di lapangan menjadi kunci utama agar target retribusi yang telah dinaikkan dari Rp7,5 miliar menjadi Rp8,25 miliar dapat tercapai.

Temuan terkait kebocoran retribusi tersebut diperoleh dari hasil pengawasan tertutup yang dilakukan Disdag di 19 pasar yang berada di bawah pengelolaannya.

Selain persoalan internal, Disdag juga menghadapi sejumlah tantangan lain. Di antaranya, persaingan dengan platform belanja daring yang semakin diminati masyarakat, sehingga berdampak pada menurunnya aktivitas pedagang di pasar tradisional.

Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur juga menjadi kendala. Beberapa pasar, seperti Pasar Mandalika, dinilai kurang diminati pedagang karena fasilitas permanen yang tersedia belum sesuai dengan kebiasaan berjualan secara lesehan.

Irwan juga menyebut faktor musiman, seperti musim hujan serta periode Ramadan dan haji, turut memengaruhi aktivitas perdagangan di pasar.

Meski demikian, Disdag tetap optimistis target retribusi dapat tercapai hingga akhir tahun anggaran. Pihaknya menargetkan realisasi minimal 80 persen, meskipun terdapat kenaikan target sebesar Rp750 juta dibandingkan tahun sebelumnya.

“Saya tetap optimistis, minimal 80 persen bisa tercapai, meskipun target tahun ini meningkat,” katanya.

Saat ini, Disdag memfokuskan optimalisasi pada empat pasar utama sebagai penyumbang terbesar retribusi, yakni Pasar Mandalika, Kebon Roek, Pagesangan, dan Sayang-Sayang. (pan)

Pendapatan Pajak Hotel Belum Sesuai Target

0
Sejumlah peserta mengikuti pelatihan di salah satu hotel di Kota Mataram. Pendapatan dari pajak hotel belum mencapai target. Pengawasan akan dimaksimalkan untuk menggenjot salah satu sumber PAD tersebut. (Suara NTB/cem)

Mataram (ekbisntb.com) – Badan Keuangan Daerah Kota Mataram, perlu mengencangkan ikat pinggang. Pasalnya, pendapatan dari pajak hotel belum sesuai target. Kondisi geopolitik dan efisiensi anggaran dikhawatirkan mempengaruhi salah satu sumber pendapatan asli daerah tersebut.

Kepala Bidang Pelayanan, Penyuluhan, dan Penagihan Badan Keuangan Daerah Kota Mataram, Ahmad Amrin dikonfirmasi pada, Rabu (29/4/2026) menjelaskan, pihaknya sedang turun melakukan pengawasan terhadap hotel di Kota Mataram. Dengan kondisi geopolitik serta kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah pusat, dikhawatirkan mempengaruhi bisnis hotel.

Ia mengakui capaian pajak hotel sampai bulan Maret, belum sesuai target yang ditetapkan dalam perencanaan. “Iya, pendapatan kita belum sesuai target. Turun-turun sedikit,” terangnya.

Target pajak hotel pada anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun 2026, mencapai Rp28 miliar. Semestinya kata Amrin, realisasi pajak hotel di triwulan I mencapai 25 persen. Faktanya, pendapatan mencapai Rp6,2 miliar lebih atau sekitar 22 persen.

Ditegaskan Amrin, perilaku pasar biasanya akan meningkat pada high season di bulan Juli-Agustus dan akhir tahun. Hal ini berkorelasi dengan meningkatnya pendapatan hotel. “Iya, polanya akan seperti itu setiap tahun,” katanya.

Pihaknya tidak bisa melakukan sesuatu diluar kewenangan untuk meningkatkan pendapatan dari pajak hotel. Salah satu yang bisa dilakukan melalui pengawasan dan pemeriksaan apabila terjadi pelanggan. Untuk meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara menjadi kewenangan dari Dinas Pariwisata Kota Mataram. “Sebenarnya Dinas Pariwisata harus melihat perkembangan untuk meningkatkan kunjungan hotel dan kuliner,” ujarnya.

Untuk perubahan target pajak hotel di APBD perubahan. Amrin menegaskan, opsi menurunkan target pajak merupakan pilihan terakhir. Kebijakan kepala daerah meminta seluruh perangkat daerah terutama penghasil pendapatan asli daerah, untuk melakukan optimalisasi pendapatan daerah. OPD lanjut Amrin, diminta mencari pola intensifikasi dan ekstensifikasi pendapatan daerah. Pihaknya saat ini kata Amrin, sedang mengoptimalisasi sumber pendapatan daerah yang belum digarap secara maksimal. “Kita mulai melakukan pendataan terhadap potensi pajak baru dan lain sebagainya,” demikian kata dia. (cem)

Minyak Goreng Subsidi Langka

0
Ilustrasi minyak goreng (ekbisntb.com/ant)

Mataram (ekbisntb.com) – Ketersediaan minyak goreng subsidi di Kota Mataram, masih langka. Salah satu pemicunya adalah pengiriman dari distributor yang terbatas. Di satu sisi, harga minyak goreng premium mulai naik.

Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida menjelaskan, stok minyak goreng premium di pasar tradisional maupun ritel modern masih aman. Semenjak kenaikan harga menimbulkan gejolak di tengah masyarakat, sehingga beralih mencari minyak goreng bersubsidi.

Tingginya permintaan masyarakat untuk minyak goreng merek MinyaKita memicu kelangkaan. Keterbatasan pengiriman dari distributor tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. “Ada kok pengiriman dari Bulog ke beberapa mitra di pasar tradisional, tetapi jumlah terbatas,” kata Nida dikonfirmasi, pada Rabu (29/4/2026).

Konsumen diakui Nida, lebih tertarik membeli MinyaKita dibandingkan minyak goreng premium. Pasalnya, harganya terjangkau Rp15.700 per liter. Sementara, minyak goreng premium mencapai Rp21.000 – Rp23.000 per liter. Proses penjualan minyak goreng subdisi dibatasi. Mitra diminta memberikan jatah dua liter untuk satu konsumen. “Supaya masyarakat tidak berbondong-bondong membeli dalam jumlah banyak,” ujarnya.

Ia tidak memungkiri kelangkaan MinyaKita akibat pengurangan distribusi dari pabrik, sehingga mitra hanya mendapatkan jatah 30 dus dari kuota sebelumnya 60 dus di semua pasar tradisional di Kota Mataram.

Keterbatasan pasokan ini belum diketahui sampai kapan berlangsung, tetapi pihaknya akan mengumpulkan seluruh distributor untuk membahas kenaikan harga minyak goreng premium. “Kita coba akan kumpulkan untuk mencari tahu penyebab kenaikan ini,” ujarnya.

Nida memprediksi salah satu penyebab kenaikan harga minyak premium adalah kenaikan harga kresek, sehingga berimbas terhadap komoditi atau kebutuhan barang pokok lainnya. “Harga kresek juga naik, makanya kita akan mengecek juga di distributor,” katanya.

Dikonfirmasi terpisah, pengunjung di Pasar Mandalika, Yeyen mengaku kesulitan mencari minyak goreng subsidi (MinyaKita,red). Hampir semua toko tidak menjual dengan alasan stok barang kosong. Padahal, MinyaKita menjadi pilihan masyarakat di tengah naiknya harga minyak goreng premium. “Harganya cukup murah. Kadang saya dapat beli Rp15.700 per liter. Kadang juga beli Rp17.000 tergantung tokonya,” ujarnya.

Yeyen berharap pemerintah mengambil langkah cepat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan kondisi ekonomi serta tingginya harga barang pokok dikhawatirkan berdampak terhadap aspek sosial lainnya. (cem)

Revitalisasi Jalan dan PJU

0
Budi Wahyudin (Suara NTB/pan)

PEMERINTAH Kelurahan Ampenan Utara, Kecamatan Ampenan, memprioritaskan pembangunan infrastruktur dasar dan peningkatan sarana prasarana umum dalam usulan Musyawarah Pembangunan Bermitra Masyarakat (MPBM) untuk perencanaan tahun 2027.

Sejumlah program yang diusulkan antara lain revitalisasi jalan lingkungan, pemasangan penerangan jalan lingkungan (PJU), serta pemenuhan kebutuhan dasar permukiman yang dinilai masih mendesak di beberapa wilayah.

Lurah Ampenan Utara, Budi Wahyudin, menjelaskan bahwa seluruh usulan tersebut merupakan hasil penyerapan aspirasi masyarakat yang dihimpun melalui musyawarah di tingkat lingkungan. Proses ini, kata dia, menjadi dasar dalam menentukan skala prioritas pembangunan di wilayahnya.

“Usulan yang masuk memang didominasi kebutuhan dasar. Biasanya yang sifatnya mendesak dan bisa segera ditindaklanjuti akan kami input lebih awal, kemudian tinggal menunggu realisasi dari pemerintah kota,” ujarnya, Rabu (29/4).

Menurut Budi, kondisi sejumlah jalan lingkungan yang mulai rusak menjadi perhatian utama warga karena berpengaruh langsung terhadap mobilitas dan aktivitas ekonomi masyarakat. Selain itu, penerangan jalan lingkungan juga dinilai penting untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan, khususnya pada malam hari.

Ia menambahkan, seluruh draf usulan MPBM telah disampaikan kepada Pemerintah Kota Mataram melalui organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Selain itu, usulan juga diajukan ke DPRD Kota Mataram melalui mekanisme pokok pikiran (pokir) sebagai alternatif sumber pembiayaan.

Untuk pelaksanaan program, kata dia, terdapat pembagian kewenangan antar-OPD. Revitalisasi jalan lingkungan, misalnya, akan ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) atau melalui dukungan pokir DPRD. Sementara itu, pemasangan dan perbaikan PJU menjadi kewenangan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Mataram.

Lebih lanjut, Budi menegaskan bahwa seluruh usulan yang diajukan telah melalui proses verifikasi dan kurasi secara berjenjang, mulai dari tingkat lingkungan, kelurahan, hingga tingkat kota. Dengan demikian, usulan yang lolos dinilai telah sesuai dengan kebutuhan prioritas masyarakat.

“Artinya, usulan yang sudah masuk ini tinggal menunggu tindak lanjut dan penetapan dalam program kerja pemerintah daerah. Kami berharap bisa terealisasi sesuai perencanaan pada 2027,” katanya.

Pemerintah kelurahan juga berkomitmen untuk terus mengawal usulan tersebut agar dapat direalisasikan, mengingat pembangunan infrastruktur dasar dinilai memiliki dampak langsung terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat di Ampenan Utara. (pan)

GT World Challenge Asia Mandalika 2026, 22 Supercar Siap Adu Cepat

0

Praya (ekbisntb.com) – Ajang balap roda empat paling prestisius di kawasan Asia, GT World Challenge Asia 2026 by AWS siap mentas di Pertamina Mandalika International Circuit akhir pekan ini. Sebanyak 22 supercar dari berbagai pabrikan otomotif dunia bakal tampil untuk adu kecepatan dan ketahanan di sirkuit yang memiliki panjang lintasan 4,3 km tersebut. Dengan sekitar 44 pembalap bakal ambil bagian, termasuk pembalap asal Indonesia selaku tuan rumah.

Beberapa pembalap top dunia yang sudah dipastikan turun di lintasan Sirkuit Mandalika pada tanggal 1 sampai 3 Mei 2026 mendatang diantaranya Jules Gounon, pembalap pabrikan Mercedes-AMG sekaligus juara berbagai ajang GT dunia. Kemudian ada nama Raffaele Marciello, mantan juara GT World Challenge dan pembalap top GT3 global. Ditambah Nick Foster pembalap yang sudah kenyang membalap diberbagai ajang GT hingga Porsche Carrera Cup Asia.

Indonesia selaku tuan rumah juga akan mengirim sejumlah nama beken. Diantaranya, Setiawan Santoso dan Andrés Pato. Satu nama lain yakni pembalap top dunia dari Indoneia Sean Gelael yang saat ini masih aktif membalap disejumlah ajang balap mobil internasional.

“Kehadiran sejumlah pembalap internasional ternama dan berprestasi tersebut kian memperkuat kualitas kompetisi yang akan tersaji di sirkuit Mandalika nantinya,” ungkap Direktur Utama Mandalika Grand Prix Assocation (MGPA) Priandhi Satria, dalam keterangnya di Mataram, Selasa (28/4/2026).

Selain gengsi pembalap, GT World Challenge Asia Mandalika 2026 ini juga akan menjadi ajang adu gengsi sejumlah merk otomotif ternama dunia. Mulai dari Porsche, BMW, Mercedes-AMG, Ferrari, Lamborghini, Audi hingga Nissan. Dengan Porsche menjadi pabrikan dengan jumlah entri terbanyak melalui model 911 GT3 R yang diturunkan oleh sejumlah tim. Seperti Origine Motorsport, Porsche Center Okazaki, Phantom Global Racing, AMAC Motorsport serta Absolute Racing.

Pabrikan BMW akan turun dengan model M4 GT3 yang digunakan oleh Team Studie dan Team KRC. Kemudian Mercedes-AMG mengandalkan GT3 Evo melalui Climax Racing dan Craft-Bamboo Racing.

Pabrikan asal Italia, Ferrari akan hadir dengan model 488 GT3 Evo yang digunakan oleh tim seperti 33R Harmony Racing, Winhere Harmony Racing serta Garage 75 yang akan diperkuat Sean Gelael. Pabrikan Lamborghini menurukan model Huracán GT3 Evo, Audi dengan model R8 LMS GT3 Evo II dan Nissan dengan GT-R NISMO GT3-nya akan melengkapi persaingan di ajang kali ini.

Untuk peserta dan mobil yang akan turun memang ada penurunan dibandingkan dengan penyelenggaraan tahun lalu. Tetapi grid GT World Challenge Asia Mandalika 2026 tetap kompetitif dengan hadirkan hamper semua pabrikan otomotif dunia. Kendati dengan jumlah peserta yang lebih selektif.

“Kami optimis penyelenggaraan GT World Challenge Asia di Sirkuit Mandalika tahun ini akan tetap menghadirkan kualitas kompetisi yang tinggi. Kendati jumla pembalap dan mobil yang turun mengalami penuruna. Karena memang Sirkuit Mandalika merupkana sirkuit dengan karakter yang unik dan memiliki daya tarik tersendiri bagi tim serta pembalap internasional,” ujarnya seraya menambahkan, hadirnya ajang tersebut memberikan dampak positif bagi daerah. Baik itu dari sisi penyerapan tenaga kerja, pariwisata dan ekonomi daerah. (kir)

Perkuat Budaya Integritas, PLN UIP Nusra Sosialisasikan Sistem Manajemen Anti Penyuapan dan Kepatuhan

0

Mataram (ekbisntb.com)- PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) terus memperkuat penerapan tata kelola perusahaan yang baik melalui sosialisasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) dan Sistem Manajemen Kepatuhan (SMK) kepada seluruh pegawai dan Tenaga Alih Daya (TAD) di lingkungan PT PLN (Persero) UIP Nusra, Selasa, 28 April 2026.

Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran manajemen PT PLN (Persero) UIP Nusra dan diikuti secara daring oleh seluruh Unit Pelaksana Proyek (UPP), yakni UPP Nusra 1, UPP Nusra 2, dan UPP Nusra 3. Sosialisasi ini menjadi bagian dari langkah strategis perusahaan dalam membangun budaya kerja yang transparan, akuntabel, dan berintegritas di seluruh lini organisasi.

Dalam pemaparannya, Sekretaris Tim Kepatuhan PT PLN (Persero) UIP Nusra, Darwin, menjelaskan bahwa PT PLN (Persero) UIP Nusra telah berhasil memperoleh sertifikasi ISO 37001:2016 tentang Sistem Manajemen Anti Penyuapan sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam mencegah praktik korupsi dan penyuapan di lingkungan kerja.

“PLN UIP Nusra juga menargetkan pencapaian sertifikasi ISO 37301:2021 tentang Sistem Manajemen Kepatuhan pada tahun 2026 sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat sistem pengawasan dan kepatuhan perusahaan,” ujar Darwin.

Selain itu, sebagai bagian dari penguatan budaya integritas, PT PLN (Persero) UIP Nusra secara konsisten melaksanakan penandatanganan Pakta Integritas setiap tahun oleh seluruh pegawai beserta pasangan. Upaya ini didukung pula dengan sosialisasi berkala melalui berbagai kanal komunikasi internal, seperti WhatsApp broadcast, pemasangan x-banner, dan penyediaan materi edukasi kepatuhan di lingkungan kantor.

General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menegaskan bahwa penerapan SMAP dan penguatan sistem kepatuhan merupakan fondasi penting dalam menjaga kredibilitas perusahaan sekaligus memastikan setiap proses bisnis berjalan sesuai prinsip Good Corporate Governance (GCG).

“Penerapan Sistem Manajemen Anti Penyuapan dan Sistem Manajemen Kepatuhan merupakan langkah strategis PLN UIP Nusra dalam membangun budaya kerja yang berintegritas. Ini bentuk nyata komitmen perusahaan untuk memastikan seluruh proses bisnis berjalan secara transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Rizki.

Ia menambahkan, dengan penguatan sistem kepatuhan ini, PT PLN (Persero) UIP Nusra optimistis mampu meningkatkan kepercayaan para pemangku kepentingan sekaligus mendukung keberhasilan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang berkelanjutan di wilayah Nusa Tenggara.

“Melalui penguatan budaya integritas ini, PLN UIP Nusra ingin memastikan bahwa setiap pembangunan infrastruktur kelistrikan dilaksanakan secara profesional, bersih, dan sesuai aturan. Kepercayaan publik adalah modal penting bagi kami untuk terus menghadirkan pembangunan ketenagalistrikan yang andal dan berkelanjutan,” tambah Rizki.

PT PLN (Persero) UIP Nusra berkomitmen untuk terus menghadirkan layanan kelistrikan yang andal sekaligus membangun organisasi yang menjunjung tinggi integritas, transparansi, dan kepatuhan guna mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan.(bul)