Saturday, April 4, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 278

REI NTB Apresiasi Bupati Lobar Soal Perhatian ke Sektor Properti

0
Hery Athmaja (ekbisntb.com/ist)

REAL Estate Indonesia (REI) Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan kesiapan penuh untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat dalam mengembangkan sektor properti.

Ketua DPD REI NTB, Hery Athmaja, menyambut baik visi dan misi Bupati Lombok Barat (Lobar), H. Lalu Ahmad Zaini yang dinilai sangat mendukung investasi.

Menurutnya, Lobar saat ini tengah memfinalisasi RTRWnya. Untuk memastikan lahan-lahan yang boleh dan tidak boleh dibangun oleh pengembang untuk perumahan. Saat ini belum ada kabupaten/kota yang sudah jelas RTRW-nya, sehingga kerap kali membingungkan pengembang untuk membangun.

“Tapi Lombok Barat sudah mulai. Ini sangat kita apresiasi Pak Bupati. Lobar memfinalisasi RTRW-nya. Lobar paling responsif dalam hal ini. Apalagi Lobar adalah ring II setelah Mataram untuk kawasan pembangunan properti,” ujarnya.

Hery Athmaja mengungkapkan bahwa salah satu harapan utama REI NTB kepada pemerintah daerah adalah percepatan perizinan.

“Harapannya sih apa namanya, percepatan perizinan saja. Jadi teman-teman bisa apa namanya, yakinlah untuk berinvestasi,” ujar Hery.

Ia menyoroti bahwa saat ini proses penerbitan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), yang menggantikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), masih memakan waktu berbulan-bulan di Lobar. “Pak Menteri sudah bilang PBG harus hitungan hari. Tapi di Lombok Barat yang kemarin-kemarin kan ada yang sampai bulanan?” ungkap Hery.

Ia berharap PBG dapat terbit dalam hitungan hari kerja, idealnya lima hingga enam hari, demi mempercepat proses pembangunan.

Hery Athmaja menegaskan bahwa sektor properti memberikan dampak ekonomi yang sangat besar bagi Lobar. Menyumbang sekitar 10% dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB), demikian juga terhadap PAD Kabupaten Lobar. “Dampaknya sangat besar sekali,” katanya.

Atas kondisi ini, Lobar termasuk dalam 15 kabupaten paling maju di Indonesia di sektor properti. Dan paling maju di NTB sektor propertinya.

Selain kontribusi PAD, geliat properti juga berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Hery menyebutkan bahwa secara nasional, sektor properti mampu menyerap 15 juta tenaga kerja, belum termasuk sektor-sektor pendukung lainnya.

REI NTB berharap agar pemerintah daerah dapat terus membenahi birokrasi perizinan untuk menarik lebih banyak investor dan memastikan roda ekonomi di Lombok Barat terus berputar. “Harapan kita kalau bisa sih birokrasi yang zaman dulu itu tutup buku, karena zaman sekarang zaman serba cepat. Semua serba online,” tandas Hery. (bul)

Tantangan dan Peluang Ketahanan Pangan Jadi Pekerjaan Bersama 

0
NTB memiliki potensi besar di bidang ketahanan pangan. Berbagai macam tantangan dan peluang menjadi pekerjaan rumah bersama untuk diselesaikan. Tampak petani sedang panen menggunakan combine harvester. (ekbisntb.com/ham)

KETAHANAN pangan telah menjadi isu strategis yang menjadi priroritas dikembangkan di NTB yang memiliki potensi besar di sektor pertanian. Namun, di balik potensi tersebut, tantangan terkait produksi, distribusi, dan keamanan pangan tetap menjadi pekerjaan rumah bersama.

Dr. Kurniawan Yuniarto, akademisi dari Fakultas Teknologi Pangan Universitas Mataram, menjelaskan ketahanan pangan ditopang tiga pilar. Pertama, ketersediaan, akses, dan stabilitas sistem pangan itu sendiri.

“Salah satunya adalah bagaimana menyediakan bahan pangan itu sendiri. Tentu ini berkaitan erat dengan produktivitas hasil pertanian atau produk pangan lainnya,” jelasnya pekan kemarin.

Pilar kedua adalah akses. Menurutnya, bukan hanya tentang ketersediaan, tetapi bagaimana masyarakat—baik individu maupun kelompok—dapat menjangkau bahan pangan tersebut. Ini mencakup faktor daya beli, infrastruktur, dan distribusi.

“Kalau pangan tersedia tapi tidak bisa dijangkau karena keterbatasan prasarana atau daya beli, maka tetap saja masyarakat tidak akan terpenuhi kebutuhan pangannya,” tambahnya.

Pilar ketiga adalah stabilitas atau sistem keamanan pangan yang berkelanjutan. Di tengah ancaman perubahan iklim global, ketahanan sistem pertanian menjadi krusial. “Inilah tantangan kita hari ini—bagaimana menjamin produksi tetap berjalan meskipun cuaca tidak menentu, musim bergeser, atau terjadi gangguan iklim ekstrem,” kata dia.

Meski NTB secara geografis memiliki posisi strategis sebagai kawasan agraris dan maritim, Dr. Kurniawan menekankan pentingnya dukungan teknologi serta peningkatan infrastruktur untuk memaksimalkan potensi tersebut.

Lebih lanjut, ia menyoroti fakta bahwa beberapa komoditas pangan, khususnya hortikultura seperti buah-buahan, masih harus didatangkan dari luar daerah, seperti Pulau Jawa dan Bali.

“Kalau kita bicara ketahanan pangan dari sisi jumlah mungkin sudah cukup, tapi dari sisi keberagaman nutrisi, NTB masih harus bergantung pada daerah lain,” jelasnya.

Menurutnya, hal ini bukan semata-mata kelemahan, tetapi menjadi penanda bahwa kolaborasi antarwilayah dalam penyediaan pangan perlu terus diperkuat, sembari tetap mendorong pengembangan produksi lokal.

Dengan menguatkan tiga pilar tersebut serta adaptif terhadap tantangan perubahan iklim, NTB dinilai mampu mengembangkan sistem ketahanan pangan yang tangguh, berkelanjutan, dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat. (ham)

Dorong Peran Pengusaha, Lobar Dinilai Mulai Bangkit Setelah 25 Tahun ‘’Tertidur’’

0
Pengerakse Agung MAS H. L. Sajim bersama Direktur RSUD Tripat H. Suriyadi (ekbisntb.com/ist)

PENGERAKSE Agung Majelis Adat Sasak (MAS), Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan menyampaikan pesan mendalam yang menggugah kesadaran kolektif masyarakat, Lombok Barat (Lobar) telah tidur selama 25 tahun dan kini waktunya bangkit. Salah satu tolok ukur mulainya kebangkitan Bumi Patut Patju itu dimulai dari jantung ibu kota Lombok Barat dengan gelaran kegiatan seni dan budaya di Gerung.

Sajim Sastrawan menjelaskan, perpindahan ibu kota dari Mataram ke Gerung diatur lewat PP Nomor 63 Tahun 2000. “Artinya, sudah 25 tahun kita diam. Bahkan mimpi pun tidak. Tapi hari ini, saya lihat semangat itu mulai bangkit!” katanya, akhir pekan kemarin di acara Car Free Night di Taman Kota Gerung.

Tokoh Lobar itu melihat antusiasme warga terhadap kegiatan seni dan budaya menjadi tanda bahwa semangat Lobar tak benar-benar padam hanya tertidur menunggu momentum kebangkitan.

Dr. Sajim menyoroti pentingnya kolaborasi penta helix dalam pembangunan pemerintah, perguruan tinggi, media, komunitas, dan pengusaha. Sayangnya, dalam banyak agenda besar daerah, kehadiran pengusaha justru minim.”Pengusaha harus mulai ambil bagian. Lombok Barat sudah memberi ruang kepada mereka selama ini. Sekarang giliran mereka berkontribusi. Tak perlu CSR besar, cukup hadir, ajak anak-anak yatim bersuka cita, itu sudah luar biasa,” tandasnya.

Menurutnya, jika lima unsur ini bersatu, bukan tidak mungkin Gerung akan menjadi pusat kebangkitan ekonomi dan budaya, sementara daerah lain seperti Kebon Ayu atau Tempos akan menemukan identitas khas masing-masing. Lebih dari sekadar kritik dan ajakan, pernyataan Pengerakse MAS ini menjadi refleksi dan motivasi.

“Kalau mau sehat, harus semangat. Kalau sudah semangat, sehat itu pasti datang. Dan dengan semangat, masyarakat kita bisa bangkit kembali.” imbuhnya.

Seruan ini menjadi cambuk kesadaran kolektif, sudah waktunya Lombok Barat tidak hanya bangkit, tapi juga bersatu demi kemajuan bersama.(her)

Diskop Kewalahan Penuhi Tenda Jualan Pedagang dan UKM  

0
Kabid Pemberdayaan UKM pada Dinas Koperasi dan UMKM Lobar Hj. Saidah memantau pedagang dan pelaku UKM yang jualan di CFN, Sabtu 24 Mei 2025. (ekbisntb.com/ist)

SEMAKIN ramainya Car Free Night (CFN) Kota Gerung memberi berkah tersendiri bagi pedagang dan UMKM di Lombok Barat (Lobar). Pedagang dan UMKM yang berjualan pun bertambah. Banyaknya pedagang UMKM yang berjualan meyebabkan Dinas Koperasi dan UMKM kewalahan menyiapkan Lapak atau stan. Lantaran lapak yang dimiliki dinas terkait terbatas jumlahnya, sehingga perlu ditambah.

Kabid Pemberdayaan UKM pada Dinas Koperasi dan UMKM Lobar Hj. Saidah, S.Sos., menerangkan mulai kegiatan CFN pada moment HUT Lobar April lalu. Pihaknya memfasilitasi tenda atau lapak jualan bagi pedagang dan pelaku UKM. “Awalnya tenda yang kami siapkan minim peminat, tapi sejak awal Mei itu sampai sekarang banyak sekali yang mau jualan,” kata Ida – sapaan akrabnya.

Pedagang dan UKM yang berjualan terus bertambah, karena melihat makin ramainya pengunjung. Dari 10 lapak yang disiapkan Ia pun berencana menambah lapak tenda untuk bisa mengakomodir pedagang dan UKM. “Ke depan mudahan bisa tambah tenda lapak dan meja juga biar rapi. Perlu ditambah lagi penerangan,”imbuhnya.

Sebab idealnya, kata dia, satu tenda itu untuk satu orang. Namun karena banyaknya peminat, sehingga diatur menjadi dua orang jualan satu lapak. “Banyak sekali peminatnya, sampai kita atur jadi satu lapak bertiga,”kata dia.

Menurutnya CFN memberi ruang bagi pelaku UKM untuk meningkatkan perekonomian dengan berjualan.

Pihaknya sendiri terbatas memfasilitasi pedagang dan UKM, seperti pada event-event. Itupun terbatas yang disiapkan UKM Untuk ikut Bazaar. “Tapi kalau car free night ini semua bisa jualan,” imbuhnya, seraya menambahkan, ke depan CFN pelaku UKM bisa menjual kerajinan dan lainnya. (her)

Tingkatkan Kunjungan Wisatawan, Daerah Didoronng Perbanyak Event yang Libatkan Komunitas

0
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa meninjau rumah adat di Dusun Sade Desa Rembitan, pekan kemarin(ekbisntb.com/kir)

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong daerah yang menjadi destinasi wisata seperti NTB untuk memperbanyak menggelar event yang melibatkan komunitas-komunitas yang saat ini jumlahnya cukup banyak. Itu bisa menjadi salah satu langkah untuk bisa meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke daerah ini. Sembari terus membenahi destinasi wisata yang ada.

“Banyak contoh event yang melibatkan komunitas yang bisa digelar untuk bisa menarik wisatawan datang ke daerah ini,” ungkap Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa, saat mengunjungi Kampung Adat Sade, Desa Rembitan, pekan kemarin.

Di Bali misalnya akan ada Barber Expo skala internasional yang nantinya akan mempertemukan komunitas tukang cukur dari berbagai negara. Contoh lain event Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) yang digelar di kawasan wisata Sky Lancing. Memang itu event olahraga, tetapi juga bisa menghadirkan komunitas pecinta olahraga paralayang.

Event-event seperti itulah yang sesungguhnya peluang bagus untuk mendorong pariwisata. Tetapi selama ini kurang begitu maksimal digarap, sehingga penting daerah mulai focus untuk memperbanyak event-event MICE tetapi melibatkan para komunitas tentu.

Karena tentu akan sangat menarik bagi komunitas kalau ada event yang memang selaras dengan komunitas yang ada. “Hal seperti ini yang akan terus kita dorong ke depan agar bisa dilaksanakan di seluruh Indonesia,” sebutnya.

NTB menurutnya bisa menjadi contoh. Melihat adanya komitmen yang tinggi dari Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal untuk bisa menghadirkan berbagai event atau kegiatan pariwisata di daerah ini setiap bulannya. Tidak hanya di pulau Lombok saja. Tapi di NTB secara umum. “Kalau setiap bulan ada event di pulau Lombok atau NTB secara luas, itu akan sangat baik sekali. Dan, kita siap dukung,” imbuh mantan jurnalis ini.

Di samping itu pihaknya juga menekankan penting untuk mengaktifkan kembali semangat menjaga kebersihan, terutama di kawasan atau destinasi pariwisata. Mengingat, sampah saat ini menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam pengembangan pariwisata. Banyak destinasi wisata yang sulit berkembang, karena persoalan sampah.

Diakuinya, dalam beberapa tahun terakhir penanganan sampah terkesan terlupakan terutama di destinasi wisata. Akibatnya, sampah kini menjadi persoalan yang sulit bisa dikendalikan. “Kita, Kemenpar juga terus mendorong pemerintah daerah agar lebih fokus dan memberikan perhatian lebih pada persoalan sampah,” tandasnya. (kir)

SMKN 3 Mataram Dukung Program Magang ke Jepang

0
Sulman Haris (ekbisntb.com/sib)

PEMPROV NTB berkomitmen untuk memperluas lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya. Salah satunya mengirim pekerja terampil ke luar negeri, seperti ke Jepang. Meski demikian, dalam pengiriman pekerja magang ke Jepang, seringkali calon pekerja dihadapkan dengan masalah biaya.

Untuk itu Pemprov NTB siap membantu calon pekerja ke luar negeri. Salah satunya dengan menyiapkan skema subsidi bunga pinjaman bagi calon pekerja migran yang ingin berkerja di Jepang.  Langkah ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta untuk mengurangi angka pengangguran di NTB.

Kepala Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Mataram Sulman Haris mengatakan, pihaknya mendukung program positif tersebut. “SMK Negeri 3 Mataram perlu berperan aktif dalam mendukung program positif ini dengan menjalin kerja sama bersama lembaga-lembaga afiliasi IMM atau International Manpower Development  Organization, Japan yang resmi dan terpercaya,” katanya melalui keterangan tertulis, Minggu 25 Mei 2025.

Menurutnya, program magang ke Jepang merupakan salah satu alternatif yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk meniti karir setelah lulus dari SMK. Selain dengan IM Japan, SMKN 3 Mataram juga membuka kerja sama dengan lembaga resmi lainnya. “SMK Negeri 3 Mataram juga menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga resmi lainnya guna memberikan peluang kepada alumni maupun masyarakat umum untuk mengikuti program magang ke Jepang,” katanya.

Sejauh ini, BLUD (Badan Layanan Umum Daerah) SMKN 3 Mataram telah bekerja sama dengan Passion Japan Incorporation (dalam bentuk MoU) untuk dua kategori alumni berkarir di Jepang. Pertama, Visa Magang Kerja untuk masa kontrak 3 tahun dan Visa Kerja Berkeahlian Khusus (Specified Skill Workers) untuk masa kontrak 5 tahun.

Secara otomatis kompensasi/penghargaan kerja dari dua tipe tersebut akan berbeda (berbeda penghasilan/gaji).

Sulman mengungkapkan, kendala utama yang dihadapi alumni dan masyarakat adalah biaya awal yang cukup tinggi. “Serta kondisi kesehatan yang kadang tidak memenuhi persyaratan ketat untuk bekerja di Jepang,” pungkasnya.

Meski demikian, pihaknya tetap mendukung penuh program-program pemerintah yang memberikan solusi terhadap keterbatasan lapangan pekerjaan di dalam negeri, yang saat ini belum sebanding dengan jumlah lulusan setiap tahunnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya pemberdayaan bagi siswa-siswi yang telah menyelesaikan program magang tersebut. “Agar mereka dapat mengembangkan usaha atau wirausaha sesuai dengan keterampilan dan pengalaman yang mereka peroleh selama mengikuti program di Jepang,” pungkasnya. (sib)

Bali Tosha Lombok Kochi Siap Bersinergi dengan Pemprov NTB

0
Abdurrahman(ekbisntb.com/ist)

PEMPROV NTB di bawah kepemimpinan Gubernur H. Lalu Muhammad Iqbal dan Wakil Gubernur Hj. Indah Dhamayanti Putri menunjukkan semangat tinggi untuk mengirim lebih banyak masyarakat NTB magang dan bekerja di Jepang.

Program ini digagas untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal dan mengurangi angka pengangguran di daerah. Namun, inisiatif ini masih menghadapi tantangan, terutama terkait pembiayaan dan dukungan dari pemerintah daerah.

Abdurrahman, praktisi sekaligus Owner Bali Tosha Lombok Kochi, menyambut baik gagasan tersebut. Ia menyatakan bahwa potensi pekerjaan di Jepang sangat besar, bahkan mencapai puluhan ribu posisi per tahun di berbagai sektor seperti pertanian, perhotelan, hingga kesehatan. “Sebenarnya job dari Jepang itu banyak sekali,” ungkap Rama, panggilannya pecan kemarin.

Meski peluang terbuka lebar, Rama menyoroti kendala utama yang kerap muncul: pembiayaan keberangkatan. Ia menjelaskan bahwa sebelumnya, Bali Tosha Lombok Kochi sempat menggandeng salah satu bank BUMN untuk membiayai keberangkatan para calon pekerja. Namun, pengalaman menunjukkan banyak masalah dalam penyelesaian kredit di bank, yang pada akhirnya membebani pihak Bali Tosha.

Belajar dari pengalaman tersebut, Bali Tosha Lombok Kochi kini telah menjalin kerja sama dengan lembaga keuangan lain.  “Kami sudah melakukan MoU dengan lembaga keuangan tersebut, dengan skema/syarat yang lebih ketat,” jelas Rama.

Salah satu syaratnya adalah calon pekerja harus memberikan jaminan sebagai bukti komitmen pembayaran cicilan. Skema pembiayaan ini diharapkan dapat meminimalisir risiko kredit macet.

Rama menegaskan kesiapan Bali Tosha Lombok Kochi untuk mendukung penuh program Pemerintah Provinsi NTB. Ia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menyiapkan bank penyedia kredit yang bersedia membiayai keberangkatan calon pekerja. “Yang penting, pemerintah juga membantu menyiapkan bank yang akan menjadi penyedia kredit sebagai pembiaya anak-anak ini berangkat ke Jepang,” harapnya.

Lebih lanjut, Rama menawarkan kerja sama konkret. Ia bersedia mengundang mitra-mitra dari Jepang untuk datang langsung mewawancarai dan menyeleksi anak-anak NTB. Proses seleksi diyakini tidak akan terlalu ketat dan rumit. Ia juga mengajak Pemprov NTB untuk menyiapkan fasilitas kelas bagi calon pekerja.

“Kita edukasi bersama guru-guru yang ada di sini, kita dukung dengan gotong royong, keroyokan mengajarkan anak-anak NTB apa yang menjadi syarat bekerja ke Jepang,” ujarnya.

Rama mengungkapkan kebutuhan tenaga kerja di Jepang sangat tinggi, mencapai puluhan ribu per tahun, dan meliputi berbagai jurusan seperti pertanian, perhotelan, kesehatan, konstruksi, sopir, elektronik, dan mesin. Khususnya, perawat lansia menjadi salah satu pekerjaan dengan permintaan tertinggi.

Meskipun potensi besar ini, Abdurrahman menyayangkan masih sedikitnya anak-anak NTB yang memilih Jepang sebagai tujuan kerja. “Saya tidak paham kenapa anak-anak NTB lebih condong bekerja antar daerah, misalnya ke Jawa,” imbuhnya.

Ia juga menyoroti perbedaan signifikan bekerja di Jepang dibandingkan negara lain. Selain mendapatkan pendapatan yang tinggi, pekerja di Jepang juga akan memperoleh pengetahuan sikap kerja dan disiplin kerja yang tinggi. Sertifikat kompetensi setelah menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan lulus ujian keterampilan. Peningkatan pendapatan seiring dengan peningkatan kemampuan berbahasa Jepang, termasuk potensi bonus dan fee tambahan.

“Ketika dia sudah kembali ke Indonesia, ke daerah, gampang cari kerja. Karena sudah memiliki skill yang diakui legalitasnya. Bahkan bisa membuka lapangan kerja,” tegas Rama menekankan nilai tambah dari pengalaman bekerja di Jepang.

Sejak tahun 2017, Bali Tosha Lombok Kochi telah memberangkatkan ribuan pekerja ke Jepang dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka tidak hanya membantu pra-keberangkatan hingga penempatan, tetapi juga mendampingi pekerja selama berada di Jepang, bahkan dalam kasus-kasus yang bermasalah.

“Kami dampingi dari pra-pemberangkatan, sampai penempatan. Bahkan ketika anaknya kabur dari tempatnya bekerja, kami cari dan komunikasi baik-baik, dengan keluarganya, kita usahakan secara kekeluargaan,” ungkap Rama menegaskan komitmen mereka dalam menjaga citra pekerja Indonesia.

Kiprah Bali Tosha Lombok Kochi bahkan menarik perhatian pemerintah daerah lain. Saat ini, mereka diajak bermitra oleh Pemerintah Kota Malang, Jawa Timur, untuk program pengiriman tenaga kerja ke Jepang.

“Ini saja Malang menyiapkan 2.000 orang, fasilitas ke Bank Jatim pemerintahnya membantu,” tutup Rama, memberi contoh nyata dukungan pemerintah daerah yang dapat memajukan program serupa di NTB.(bul)

Pemprov  NTB Siapkan Fasilitas, Magang ke Jepang, Solusi Atasi Masalah SDM Terdidik

0
Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal saat melepas peserta magang ke Jepang di Aula Wisma Tambora, BPSDMD Provinsi NTB belum lama ini. (ekbisntb.com/ist)

Pemprov NTB berkomitmen untuk memperluas peluang kerja luar negeri, khususnya ke negara yang memberikan manfaat besar bagi tenaga kerja itu sendiri. Di tengah minimnya peluang kerja di dalam negeri, bekerja ke luar negeri, seperti ke Jepang dengan keterampilan yang dimiliki merupakan salah satu pilihan.  Mengingat Jepang sebagai salah satu negara prioritas penempatan tenaga kerja magang dari daerah ini. Gubernur NTB, Dr. H. L. Muhamad Iqbal bahkan telah menyiapkan kebijakan dan fasilitas untuk memudahkan pengiriman SDM-SDM NTB untuk manempa skill di negeri Sakura.

NTB merupakan salah satu daerah pengirim pekerja migran ke beberapa negara. Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan dan juga Jepang merupakan beberapa negara pilihan yang menjadi tujuan pekerja migran Indonesia asal NTB.

Meski demikian, pemerintah menginginkan agar pekerja migran Indonesia asal NTB tidak lagi bekerja di sektor informal. Namun, bisa bekerja pada sektor formal, karena lebih menjanjikan dari sisi gaji. Bahkan dari sisi keselamatan saat berada di negara tujuan. Salah satu negara yang menjadi favorit dari pekerja migran Indonesia adalah Korea Selatan dan Jepang.

Jepang, misalnya. Pekerja migran yang masuk ke negara ini tidak bisa sembarangan. Calon pekerja harus memiliki skill atau keterampilan dan juga bisa berkomunikasi dalam bahasa Jepang. Jika tidak punya keterampilan, apalagi tidak memiliki kemampuan berbahasa Jepang, jangan harap bisa bekerja ke negara ini.

Lowongan untuk bisa bekerja ke Jepang sebenarnya setiap saat selalu terbuka. Melalui mekanisme kerja sama Government to Government (G to G), masyarakat bisa mempersiapkan diri sejak awal. Bahkan, pemerintah daerah sudah mengumumkan secara terbuka lewat website resmi dan juga media sosial. Bahkan, sekolah-sekolah kejuruan dan perguruan tinggi yang memiliki jurusan sesuai dengan kebutuhan perusahaan di Jepang diminta mempersiapkan mahasiswanya.

Selain dari sisi keterampilan yang didalami juga yang paling penting adalah kemampuan berbahasa asing, baik Bahasa Inggris atau bahasa negara yang dituju.

Hal ini pula yang menjadi atensi dari Pemprov NTB yang melakukan rekrutmen dan seleksi peserta pemagangan ke Jepang tahun 2025. Kegiatan yang dirangkai pelepasan peserta magang ke Jepang tahun 2024 di Aula Wisma Tambora Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi NTB, Senin, 19 Mei 2025 lalu dihadiri Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal.

Gubernur Iqbal mengingatkan sejumlah pesan penting kepada para peserta, baik yang akan diberangkatkan tahun 2025 maupun yang sedang menjalani proses seleksi untuk keberangkatan tahun berikutnya.

Ia menekankan bahwa para peserta magang ke Jepang bukan sekadar pekerja. Tetapi merupakan representasi bangsa dan daerah di kancah internasional. Sehingga harus menjaga nama baik daerah, bangsa dan negara.

“Kalian adalah duta besar. Teman-teman, anak-anakku sekalian, kalian adalah duta besar Indonesia di sana. Duta besar NTB di Jepang. Jadi pastikan berperilaku yang pantas. Tunjukkan bahwa kalian orang disiplin. Orang Jepang paling jatuh hati pada orang disiplin, karena mereka sendiri sangat disiplin,” ujarnya mengingatkan.

Selain itu, perilaku para peserta selama berada di Jepang akan menjadi tolok ukur dalam menilai masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Jika ada peserta yang melakukan pelanggaran, hal tersebut dapat memengaruhi kebijakan Jepang terhadap warga Indonesia lainnya di masa depan.

 Gubernur juga meminta peserta tidak semata-mata fokus pada penghasilan finansial. Ia berharap program magang ini dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk belajar dan menyerap nilai-nilai positif dari budaya Jepang, terutama semangat kerja keras dan kedisiplinan.

“Ukurannya bukan hanya uang, tapi tingkah lakumu, attitudemu, perilakumu. Semangat Bushido-nya orang Jepang itu harus kalian dapatkan. Jadi harus jadi orang yang berbeda. Ilmunya ini, nilai-nilainya dan norma-norma Jepang ini harus dipelajari,” tegasnya.

Perhatikan Masalah Purna

Tak hanya selama masa magang, Gubernur juga memberikan perhatian serius terhadap masa purna magang. Ia mengingatkan agar peserta mampu mengelola keuangan dengan baik dan menjadikan pengalaman mereka sebagai bekal membangun masa depan yang lebih mapan.

‘’Purna magang ini harus diperhatikan betul. Jangan sampai berangkat dalam keadaan sudah, pulang susah seri kedua. Jadi pulangnya harus menyelesaikan masalah sosial. Kita harus siapkan tempat-tempat di mana mereka bisa menginvestasikan hasil pekerjaannya ini,’’ jelasnya.

Gubernur juga menginstruksikan Plt. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB, Baiq Nelly Yuniarti, untuk berkoordinasi dengan Bank NTB Syariah dan BPR NTB dalam menyiapkan skema pendanaan yang dapat dimanfaatkan oleh peserta, baik untuk biaya keberangkatan maupun pengembangan usaha setelah pulang.

Gubernur juga mengajak para peserta untuk percaya diri dan bangga sebagai warga negara Indonesia. Ia mengingatkan bahwa Indonesia bukan lagi bangsa yang inferior, tetapi tengah menuju puncak kejayaan ekonomi global.

“Berdiri tegak, gagah. Jangan merasa inferior, jangan datang ke Jepang sebagai orang terjajah. Datang ke Jepang sebagai temannya orang Jepang, sahabatnya orang Jepang. Jadi berdiri sejajar dengan orang Jepang. Dia membutuhkan kita, sama seperti kita membutuhkan dia. Kita sama-sama saling membutuhkan,”  ujarnya kembali mengingatkan.

Dukungan senada juag disampaikan Bupati Lombok Timur (Lotim) H. Haerul Warisin. Bupati mendukung penuh warga Lotim bekerja ke luar negeri daripada menjadi tenaga honorer di pemerintah daerah yang gajinya tidak seberapa. Menurutnya, menjadi honorer hanya akan menerima upah tidak seberapa setiap bulannya.

Pendapatan yang diterima honorer bisa dihitung sampai pensiun. Bupati mengaku sedih ketika meneken ada honorer di Lotim hang tetap jadi honorer sampai dia pensiun. ‘’Yang menyedihkan, saya menandatangani SK pensiun dari sejak honorer sampai pensiun tetap honor,”  ungkapnya.

Berbeda ketika jadi tenaga kerja  ke Jepang. Gaji bisa menembus Rp 18 juta per bulan. Apalagi jumlah job order di Jepang cukup banyak. Semakin banyak yang berminat ke Jepang, maka akan dapat mengurangi pengangguran.

Senada dengan Gubernur, Bupati juga mengingatkan, ketika berada di luar negeri hendaknya menjaga nilai-nilai budaya dan tidak terpengaruh pada perbuatan yang bisa  merusak citra diri dan bangsa. (ham)

Banyak PMI Terjerat Utang

0
Muhamad Nashib Ikroman(ekbisntb.com/dok)

KEBERADAAN program magang ke Jepang yang cukup berat dari sisi biaya harus dibarengi dengan kehadiran pemerintah. Harus diakui jika selama ini banyak pekerja migran yang terjerat utang. Bagaimana tidak, sebelum mereka berangkat ke negara tujuan, mereka harus berutang ke rentenir, sehingga ketika mereka balik sedang bekerja di negara tujuan, gajinya lebih banyak untuk mencicil pembayaran utang.

Untuk itu, jika Pemprov NTB di bawah pimpinan Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal dan Hj. Indah Dhamayanti Putri memperhatikan pekerja migran dengan penyediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai satu langkah bagus.

Anggota Fraksi Persatuan Perjuangan Restorasi DPRD NTB, Muhamad Nashib Ikroman mengatakan penyediaan KUR sebagai salah satu bentuk kehadiran negara terhadap PMI memfasilitasi agar kesejahteraan PMI di luar negeri dapat terjamin.

“Adanya KUR ini wujud kehadiran negara atau pemerintah dalam fasilitasi PMI. Sebab, selama ini banyak PMI yang terjerat hutang di perusahaan yang skema dan model pembayarannya tidak jelas, dan akhirnya seperti rantai yang merugikan PMI,” ujarnya kepada Ekbis NTB, Sabtu, 24 Mei 2025.

Penyediaan KUR, menurutnya dapat meringankan beban PMI. Karena biasanya, para calon PMI dihadapkan dengan modal yang besar sebelum bertolak ke negeri orang. Oleh sebab itu, dengan penyediaan KUR khusus PMI ini dinilai mampu menjembatani para pekerja yang ingin merantau.

Begitupun KUR ini dinilai mampu menekan angka pengangguran di daerah, sebab dengan kemudahan yang diberikan oleh pemerintah berdampak pada perluasan lapangan kerja.

“Meringankan calon PMI dari sisi akses biaya pemberangkatan. Tentu akan semakin banyak warga yang bisa mengakses yang pada akhirnya berdampak pada perluasan lapangan kerja,” sambungnya.

Hanya saja, lanjutnya, penyaluran KUR harus dipantau langsung oleh pemerintah daerah. Selain itu, pemerintah tidak boleh meminta agunan atau jaminan kepada PMI, karena pemberian KUR dinilai murni untuk meringankan beban calon PMI.

“KUR ini jangan sampai menuntut agunan ke PMI. Apalagi, jumlah KUR yang diterima tidak besar, sehingga harus bebas agunan. Proses perolehan KUR ini juga harus mendapatkan fasilitasi pengawalan dan asistensi dari Pemda sebagai bentuk perlindungan bagi calon PMI,” jelasnya.

Untuk memastikan KUR ini tepat sasaran dan dimanfaatkan sesuai peruntukan, sebagai perwakilan rakyat, Dewan akan terus melakukan pemantauan dan pengawasan bagaimana alur penyaluran kredit usaha ini. Jangan sampai, sambung Acip KUR ini menimbulkan masalah.

“Kita berharap KUR ini dimanfaatkan dengan baik oleh para calon PMI. Jangan sampai justru disalahgunakan pihak tertentu, seperti dalam beberapa kasus KUR fiktif yang sudah ditangani APH,” pungkasnya. (era)

Mampu Dongkrak Ekonomi Lokal

0
Muhamad Sayuti (ekbisntb.com/ist)

DEKAN Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Al-Azhar (Unizar), Muhamad Sayuti, SE., MM menilai program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk Pekerja Migran Indonesia (PMI) mampu menjadi salah satu solusi strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di NTB.

Menurutnya, skema KUR yang ditawarkan kepada PMI sangat menguntungkan, baik dari sisi bunga, tenor, maupun mekanisme pembayaran. Sebab, bunga untuk KUR hanya berlaku enam persen per tahun, dan bagi PMI, permintaan KUR tidak perlu memberikan agunan atau jaminan.

‘’Bunga KUR hanya sekitar enam persen per tahun. Untuk PMI, bahkan tidak diwajibkan menyediakan agunan. Selain itu, angsuran baru dimulai pada bulan keempat sejak pinjaman diberikan,’’ ujarnya saat dihubungi Ekbis NTB, Sabtu, 24 Mei 2025.

Kemudahan-kemudahan ini dinilai bisa mendorong lebih banyak masyarakat. Khususnya lulusan SMK, untuk memanfaatkan peluang kerja di luar negeri sebagai PMI. Dengan itu, pengangguran di daerah bisa ditekan yang berdampak pada bertumbuh positifnya ekonomi lokal.

“Kalau sosialisasinya berjalan baik, terutama kepada tamatan SMK, peluang ini akan sangat diminati. Daripada tinggal di daerah yang belum menyediakan lapangan kerja memadai, lebih baik mencari pengalaman ke luar negeri, seperti Jepang atau Taiwan,” sambungnya.

Program magang ke negara industri maju ini, lanjutnya, bukan hanya memberikan penghasilan yang lebih tinggi bagi para PMI, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi daerah asal.

“Gaji yang mereka terima bisa tiga sampai empat kali lipat dari upah minimum di Indonesia. Uang itu kemudian dikirim ke keluarga di daerah asal, seperti Lombok, yang akan mempercepat perputaran uang dan menghidupkan sektor ekonomi lokal,” katanya.

Ia menekankan bahwa remitansi atau transfer dari para PMI sangat signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Dana kiriman tersebut biasanya digunakan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan, hingga investasi kecil-kecilan, yang semua itu mendorong perputaran uang di tingkat lokal.

Namun, Sayuti juga mengingatkan adanya tantangan yang perlu diantisipasi pemerintah, yaitu kecenderungan beberapa PMI untuk menetap di luar negeri dan enggan kembali ke daerah asal.  “Ini kelemahannya. Kadang mereka sudah merasa mapan di luar negeri dan tidak ingin pulang, sehingga keahlian yang mereka peroleh tidak bisa ditularkan ke masyarakat Lombok,” ungkapnya.

Untuk itu, ia menyarankan agar pemerintah membuat regulasi yang tegas mengenai durasi kontrak magang para PMI. “Harus ada aturan yang jelas, berapa lama mereka boleh berada di luar negeri. Setelah masa magang selesai, mereka seharusnya diwajibkan kembali agar bisa membagikan ilmu dan keterampilan yang mereka dapatkan selama di negara industri maju,” tegasnya.

Ia pun menegaskan dukungannya terhadap program ini secara keseluruhan. Sebab, sebagai pengamat ia menilai uang penghasilan PMI cukup berkontribusi dalam perputaran ekonomi di NTB sebab provinsi ini masuk daftar daerah dengan jumlah PMI tertinggi di Indonesia.

“Saya sangat mendukung program KUR untuk PMI ini. Potensi dampaknya besar, terutama dalam meningkatkan perekonomian lokal lewat aliran dana remitansi. Kalau dikelola dengan baik, ini bisa menjadi kekuatan ekonomi baru bagi daerah seperti NTB,” pungkasnya. (era)