Sunday, April 12, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 258

Telkomsel Gelar Roadshow “MASIH Bersama by.U” di SMAN 5 Mataram, Menuju Piala by.U 2025

0
Telkomsel melalui brand digital by.U menggelar roadshow bertajuk MASIH Bersama by.U di SMAN 5 Mataram(ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Telkomsel melalui brand digital by.U menggelar roadshow bertajuk MASIH Bersama by.U (Momen AkSI Hiburan Bersama by.U) di SMAN 5 Mataram, Selasa 18 Juni 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian menuju turnamen futsal pelajar terbesar di Indonesia, Piala by.U 2025, yang akan berlangsung di 27 kota dari April hingga November 2025.

Roadshow ini menghadirkan beragam kegiatan menarik, seperti Coaching Clinic bersama pelatih profesional, Pep-Talk bersama atlet futsal, serta Sound of Supporter, yaitu aktivitas interaktif yang memberi ruang bagi para suporter sekolah menunjukkan kreativitas dalam mendukung tim futsal mereka.

Manager Mobile Consumer Branch Mataram, Gede Jadiarte, mengatakan bahwa Piala by.U 2025 bukan sekadar ajang kompetisi, melainkan wadah bagi generasi muda untuk mewujudkan mimpi menjadi atlet futsal profesional.

“Melalui roadshow ini, kami ingin membekali para pelajar dengan motivasi dan persiapan lebih matang menjelang Piala by.U 2025,” ujarnya.

Di wilayah Bali dan Nusa Tenggara, turnamen ini akan digelar di dua kota, yakni Mataram pada Agustus 2025 dan Bali pada Oktober 2025. Mengusung tema “Saatnya Kejar Ambisimu, Menjadi Pemain Futsal Pro”, ajang ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat berprestasi di kalangan pelajar.

Pendaftaran tim futsal tingkat SMP dan SMA telah dibuka melalui situs resmi pialabyu.com. Seluruh pertandingan grand final di tiap kota akan disiarkan secara langsung melalui platform MAXstream, YouTube by.U, serta kanal digital lainnya.

“Kami berharap Piala by.U 2025 bisa menginspirasi lebih banyak pelajar Indonesia untuk bermimpi besar dan menjadikan futsal sebagai jalan meraih prestasi. Semoga ajang ini terus melahirkan bintang baru di kancah futsal nasional,” tambah Gede.

Dengan segala peluang yang ditawarkan, Piala by.U 2025 siap menjadi panggung futsal pelajar paling bergengsi di Indonesia. (bul)

Terkendala Lahan, Program Tiga Juta Rumah Sulit Terealisasi

0
Pemerintah pusat menargetkan pembangunan tiga juta rumah di seluruh Indonesia. Pemkot Mataram konsep pembangunan hunian susun atau rusunawa seperti di Kelurahan Mandalika, Kecamatan Sandubaya. (ekbisntb.com/cem)

Lombok (ekbisntb.com) – Kebijakan pemerintah pusat untuk membangun tiga juta unit rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah khususnya di Kota Mataram, sulit terealisasi. Pasalnya, ketersediaan lahan menjadi salah satu kendala utama.

Sekda Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri menerangkan, Pemerintah Kota Mataram sedang melakukan revisi terhadap Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2019 tentang rencana tata ruang wilayah (RTRW). Revisi ini akan mengatur secara detail kawasan pembangunan perumahan, perkantoran, maupun lahan pertanian. “Saat ini masih ada revisi perda RTRW,” jawabnya.

Ketersediaan lahan diakui, menjadi kendala untuk merealisasikan program tiga juta rumah tersebut. Pihaknya akan berupaya melakukan penyesuaian konsep pembangunan rumah berupa rumah susun sederhana sewa atau rumah tapak.

Konsep pembangunan perumahan di Kota Mataram lebih mengarah pada rumah susun menyesuaikan dengan ketersediaan lahan. “Kalau di Mataram lebih mengarah pada pembangunan rusunawa,” terangnya.

Alwan mengharapkan pengembang perumahan di Kota Mataram, membuat konsep perumahan seperti apartemen dan tidak lagi rumah tapak yang menghabiskan banyak lahan.

Seperti diketahui, program tiga juta rumah adalah inisiatif pemerintah untuk menyediakan tiga juta unit rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di seluruh Indonesia. Termasuk di pedesaan, perkotaan, dan wilayah pesisir. Program ini bertujuan untuk mengurangi backlog perumahan, mengatasi kemiskinan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Tiga juta rumah akan dibangun terdiri dari dua juta dibangun di perdesaan dan satu juta dibangun di perkotaan. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mendukung program ini, terutama dalam penyediaan lahan, kemudahan perizinan, dan pemetaan kebutuhan perumahan di wilayah masing-masing. (cem)

Berlarut-Larut, Warga Mataram Kesulitan Dapat Elpiji Melon

0
Terlihat antrean warga saat membeli elpiji tiga kilogram di salah satu pengecer (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Sepekan lebih, masyarakat Kota Mataram kesulitan mendapatkan elpiji tiga kilogram alias gas melon. Padahal beberapa hari lalu, stok mulai kembali normal. Namun akhir-akhir ini kembali langka. Akibat dari kelangkaan tersebut harga melonjak.

Salah satu warga Gomong, Wayan Budiasih menuturkan, sebelum terjadi kelangkaan elpiji  tiga kilogram harganya Rp19 ribu per tabung. Akan tetapi saat ini toko kelontong atau pengecer menjualnya dengan harga Rp22 ribu. Meski demikian, ia tetap membelinya. Pasalnya, bahan bakar tersebut merupakan salah satu kebutuhan pokok untuk memasak. ‘’Soalnya sudah dua hari ini, gas kosong di warung-warung. Terpaksa kita beli, karena tidak ada pilihan,’’ katanya.

Selain itu lanjutnya, untuk mendapatkan elpiji, ia harus memesan jauh-jauh hari kepada pemilik warung. Dengan cara demikian warga bisa mendapatkannya dengan mudah karena sudah masuk dalam daftar  order. “Jadi biar aman kita pesan lebih dulu. Soalnya, setiap mobil yang bawa gas datang, pasti hitungan jam sudah habis dibeli,” ungkap wayan.

Sama seperti Wayan. Herman, salah satu warga Jempong merasakan hal yang sama. Ia mengaku sampai harus menunggu truk gas yang biasa menurunkan elpiji tiga kilogram di beberapa warung pengecer di Jempong. Dengan terjadinya kelangkaan elpiji di Kota Mataram diharapkan pemerintah segera mengambil langkah cepat untuk melakukan tindakan supaya bisa kembali normal.

‘’Kalau biasanya, gas habis, kita tinggal beli saja ke warung. Tapi sekarang agak sulit mencarinya. Semoga cepet normal,’’ ucapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan melalui Kepala Bidang Bahan Pokok dan Penting (Bapokting) Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram Sri Wahyunida menjelaskan, terkait dengan stok elpiji tiga kilogram yang semakin hari semakin menipis, pihaknya telah berkoordinasi dengan PT Pertamina Patra Niaga untuk dilakukan ekstra distribusi untuk penambahan ke beberapa agen untuk melakukan pengisian di semua pangkalan yang ada di Kota Mataram. “Kami minta sudah koordinasi dengan pihak Pertamina untuk memasok lebih banyak,’’ ujarnya.

Sebelumnya, distribusi elpiji 3 kilogram sudah dilakukan pihak Pertamina sejak 13 Juni lalu. Mengingat, kebutuhan masyarakat pada gas melon masih tinggi. Namun, kenyataan beberapa pangkalan masih mengalami pengurangan pasokan. Oleh karena itu, ia menindaklanjuti dengan melakukan survei ke beberapa pangkalan.

“Sebenarnya, pangkalan ini terisi semua, tapi masyarakat masih kelihatan panik. Sehingga menyebabkan permintaan gas melon masih tinggi,’’ kata Nida.

Menurutnya, menipisnya stok gas melon di sejumlah warung pengecer di Mataram terjadi karena permintaan masyarakat yang masih tinggi. Selain itu, disebabkan karena banyak pengecer baru yang bermunculan. “Ada indikasi pengecer baru dan banyak permintaan, sehingga harga tidak dapat dikontrol dari pengecer satu ke pengecer berikutnya. Inilah kondisi yang kami temukan di lapangan,” pungkasnya. (pan)

Sambut Ajang MotoGP, Tiga Lapangan Padel Kelas Internasional Dibangun di Kawasan The Mandalika

0
Direktur Utama ITDC Ari Respati, memimpin groubreaking pembangunan Bale Seccha dan Seccha Club di Lot MHS 1 kawasan The Mandalika, Jumat kemarin. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Status kawasan The Mandalika sebagai destinasi sport tourism bakal semakin kuat dengan hadirnya fasilitasi olahraga berupa lapangan Padel bertaraf internasional. Tidak hanya satu, tetapi tiga sekaligus. Proses pembangunan lapangan Padel tersebut pun telah dimulai, Jumat 20 Juni 2025 kemarin.

Pembangunan fasilitas olahraga asal Meksiko tersebut menjadi bagian dari pembangunan Bale Seccha dan Seccha Club di Lot MHS 1 kawasan The Mandalika, dekat dengan area Bazar Mandalika. Fasilitas tersebut diharapkan tuntas pengerjannya sebelum ajang MotoGP Mandalika di awal bulan Oktober 2025 mendatang digelar. Dan, diharapkan bisa menjadi menjadi daya tarik baru bagi wisatawan dan komunitas olahraga untuk datang berkunjung ke kawasan The Mandalika.

Selain fasilitas lapangan padel, diarea tersebut juga akan  dilengkapi dengan lapangan basket terbuka yang terkoneksi langsung dengan area Bazaar Mandalika. Ditambah fasilitas kuliner dalam satu kawasan terpadu. “Pembangunan Bale Seccha dan Seccha Club menjadi bagian dari strategi pengembangan kawasan berbasis active lifestyle dan community-driven destination yang saat ini tengah dikembangkan oleh ITDC di kawasan The Mandalika,” terang Direktur Operasi ITDC Wenda R. Nabiel.

ITDC saat ini terus menciptakan ruang-ruang baru yang menumbuhkan budaya hidup sehat dan memperkuat konektivitas sosial. Dengan Bale Seccha dan Seccha Club dirancang sebagai retreat hotel dan sport lifestyle hub berbasis komunitas. Yang diharapkan dapat membentuk ekosistem pariwisata berkelanjutan yang mengintegrasikan elemen relaksasi, aktivitas olahraga dan konektivitas sosial ke dalam satu pengalaman yang holistic.

“Pengembangan Bale Seccha dan Seccha Club dirancang untuk memperkuat positioning The Mandalika sebagai world-class tourism destination,” ujar Wenda.

Bale Seccha terangnya merupakan fasilitas penginapan bergaya boutique retreat hotel yang menawarkan nuansa relaksasi. Dilengkapi dengan fasilitas wellness, seperti yoga dan pilates. Dibangun di atas lahan seluas satu hektar. Dengan total kamar direncanakan sebanyak 30 kamar.

Untuk pembangunan Bale Seccha sendiri ini merupakan tahap kedua. Sebelumnya sudah ada sekitar 8 kamar yang sudah selesai dibangun dan beroperasi. Kehadiran Bale Seccha pun respons positif dari wisata. Dengan tingginya minat masyarakat terhadap akomodasi berkonsep retreat-style lodging tersebut.

Wenda menambahkan, dengan semangat kolaboratif dan inovasi yang berkelanjutan, pihaknya akan terus berupaya menghadirkan terobosan baru. Guna mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, pemberdayaan masyarakat dan penguatan citra The Mandalika sebagai The Ultimate Lifestyle Sportstainment Destination. “Groundbreaking hari ini (Jumat kemarin) menandai langkah awal menuju transformasi kawasan yang penuh makna,” tandasnya. (kir)

3000 Lowongan Kerja di Malaysia Barat Disiapkan untuk Warga NTB

0
Plt Kepala Disnakertrans NTB, Baiq Nelly Yuniarti. (ekbisntb.com/era)

Lombok (ekbisntb.com) – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB, Biaq Nelly Yuniarti mengatakan perusahaan SD Guthrie Berhad, membuka kembali penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Malaysia Barat.

Perusahaan perkebunan kelapa sawit ini membuka kuota sebanyak 3.000 pekerja, dengan 80 persen di antaranya berasal dari NTB.

“Kami sangat apresiasi kepada perusahan SD Guthrie Berhad, atas dipilihnya NTB sebagai salah satu sumber utama perekrutan tenaga kerja,” ujarnya.

Formasi pengiriman PMI kali ini akan difokuskan di sektor perkebunan. Proses rekrutmen dilakukan oleh enam Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI), yaitu PT Cipta Rizki Utama, PT Cahaya Lombok, PT Sudinar Arta Andi, PT Dian Jogja, PT Wirakaritas, dan PT Primadaya.

Program penempatan PMI kali ini, lanjut Nelly, menerapkan skema zero cost alias tanpa biaya bagi calon pekerja. Artinya, seluruh pembiayaan akan ditanggung oleh perusahaan. Jika pun ada pembayaran di muka oleh calon PMI, uang tersebut akan diganti setelah dana dari perusahaan keluar.

“Kebijakan tersebut sebagai praktik baik yang menjunjung tinggi transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan hak-hak pekerja,” katanya.

Ia menegaskan, pentingnya proses rekrutmen yang patuh terhadap aturan dan menjunjung etika, mengingat banyak calon PMI berasal dari daerah pedesaan dengan tingkat pendidikan terbatas.

“Kami berharap rekrutmen tidak hanya soal menyalurkan tenaga kerja, tetapi juga menyertakan pembinaan dan edukasi. Jangan sampai karena minimnya pembekalan, kita menerima kabar duka dari negeri orang,” terangnya.

Kepala BPSDM ini menekankan pentingnya pelatihan pra-penempatan agar para pekerja siap secara mental dan budaya dalam menghadapi tantangan di negara tujuan. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya culture shock yang dapat memicu konflik atau bahkan persoalan hukum yang berujung fatal.

Untuk itu, pihaknya menekankan kepada perusahaan dan agen rekrutmen untuk tidak hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga menjalankan peran edukatif dan pembinaan secara menyeluruh

“Jangan sampai karena salah umur atau kelalaian dokumen, malah terjerat Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Perlu ada koordinasi dan komitmen bersama agar proses ini benar-benar aman dan legal,” pungkasnya. (era)

Ketua Dekranasda NTB Dorong Generasi Muda Jadi Agen Perubahan Ekonomi dan Lingkungan

0
Ketua Dekranasda NTB, Sinta Agathia saat menghadiri Ecopreneur Fest, Jumat, 20 Juni 2025 di Mataram. (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi NTB, Sinta Agathia mendorong generasi muda untuk mengambil peran sebagai agen perubahan ekonomi dan lingkungan daerah.

Menurutnya, generasi muda khususnya perempuan memiliki peran kunci dalam transformasi ekonomi berkelanjutan, termasuk dalam menumbuhkan semangat kewirausahaan hijau di kalangan generasi muda.

Istri Gubernur Iqbal ini mengaku sangat terkesan dengan semangat generasi muda NTB yang kini mulai aktif mengambil peran sebagai agen perubahan dalam isu lingkungan dan ekonomi. Ia menilai, gerakan ini bukan hanya sebuah tren, melainkan kebutuhan dan tantangan zaman yang harus direspons dengan aksi nyata.

“Saya merasa sangat terharu dan bangga melihat antusiasme adik-adik muda yang menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan, dan memilih jalan menjadi ecopreneur, Ini adalah gerakan positif yang harus terus dikawal agar tidak berhenti sebagai seremoni saja,” ujarnya, Jumat, 20 Juni 2025.

Bunda Sinta juga menekankan bahwa program seperti Ecopreneur Fest harus dijadikan langkah berkelanjutan, bukan hanya sebatas kegiatan tahunan. Ia meminta agar para pelaku program tidak melepas tangan setelah acara selesai.

“Saya titip kepada teman-teman dari Greenervation Foundation dan ISDB, tolong jangan tinggalin UMKM-nya. Tetap dampingi, dibina, dilihat, dan ditanya kekurangannya apa. Karena perhatian sekecil apapun sangat berarti bagi pelaku UMKM,” katanya.

Sebagai Ketua Dekranasda NTB sekaligus aktivis perempuan yang aktif di berbagai kegiatan sosial dan ekonomi, Bunda Sinta percaya bahwa keterlibatan perempuan—khususnya para ibu—adalah kunci dalam membangun budaya ramah lingkungan sejak dari rumah. Ia menyampaikan secara hangat bagaimana peran ibu bisa mempengaruhi pola hidup seluruh keluarga.

“Ibu-ibu itu punya momen yang sangat efektif untuk ngobrol dan berbagi, misalnya di tukang sayur. Dari situ bisa muncul ide-ide keren bagaimana menangani sampah, mengatasi perubahan iklim, sampai menggerakkan tetangga lainnya. Jadi, ayo libatkan ibu-ibu dalam gerakan ini,” katanya sambil tersenyum.

Sementara itu, Direktur Greeneration Foundation, Vaneza Letizia, hadir secara langsung untuk memberikan sambutan sekaligus menyampaikan pandangannya terkait pentingnya integrasi antara pertumbuhan UMKM dengan kepedulian terhadap lingkungan.

“Program EcoRanger Bilibate yang kami rancang sebagai konsep pemberdayaan masyarakat. Fokus utamanya adalah membangun kemandirian warga, salah satunya lewat penguatan UMKM lokal,” ujar Vaneza Letizia membuka sambutannya.

Menurut Vaneza, peran UMKM di Indonesia tidak bisa dianggap remeh. Sektor ini merupakan tulang punggung perekonomian nasional yang telah terbukti mampu bertahan di tengah berbagai krisis, termasuk saat pandemi.

“UMKM bukan sekadar pelengkap ekonomi. Mereka adalah penopang utama, berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang masif,” jelasnya.

Dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, pelaku UMKM, mitra pembangunan, dan komunitas kreatif, kegiatan ini turut diinisiasi oleh Greenervation Foundation bersama Islamic Development Bank melalui program Tadamon, dengan dukungan Pemerintah Provinsi NTB. (era)

Gubernur NTB Undang Anak Erdogan dan ASEAN Meriahkan FORNAS VIII

0
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal saat menyampaikan tentang undangan FORNAS, Jumat, 20 Juni 2025 di Mataram. (ekbisntb.com/era)

Lombok (ekbisntb.com) – Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal akan mengundang anak Presiden Turki, Necmettin Bilal Erdogan dan sembilan perwakilan anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) pada perhelatan Festival Olahraga Rekreasi Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII NTB yang akan diselenggarakan mulai 26 Juli hingga 1 Agustus 2025.

Selain mengundang anggota ASEAN dan anak Presiden Erdogan, Iqbal mengaku akan mengundang beberapa negara lainnya, khususnya negara yang memiliki olahraga Egrang dan panah serta berkuda.

“Observer dari negara-negara ASEAN juga akan kita undang untuk hadir. Karena kan banyak olahraga rekreasional dan tradisional mirip-mirip,” ujarnya setelah Rapim dengan seluruh OPD lingkup Pemprov NTB, Jumat, 20 Juni 2025.

Disampaikan, pelaksanaan FORNAS ini akan dihadiri oleh 20 ribu peserta dari berbagai daerah dan negara. Untuk menghasilkan adanya multiplayer efek, perhelatan olahraga ini akan disebar di berbagai daerah di NTB, seperti lima kabupaten/kota di Pulau Lombok, Kabupaten Sumbawa Barat, dan Bima.

“Ada sekitar 72 induk olahraga yang akan ikut serta di luar yang eksekusi dan sebagainya, tadi juga kita bahas upaya memastikan supaya dampak ekonominya luas dengan memastikan UMKM sebanyak mungkin,” jelasnya.

Pihaknya juga memastikan penyelenggaraan FORNAS bersifat akuntabilitas.

Wakil Gubernur NTB, Indah Dhamayanti Putri menyampaikan untuk mensukseskan FORNAS, pentingnya kontribusi dan kerjasama semua pihak. Untuk saat ini, pihaknya akan fokus pada peningkatan antusias masyarakat dan kesiapan masyarakat menjadi Tuan Rumah yang baik dalam menyambut rombongan peserta yang dijadwalkan akan datang mulai 24 Juli.

“Jangan sampai timbul kesan bahwa yang semangat mengikuti FORNAS ini hanya peserta dari sejumlah Provinsi dan kami (Gubernur dan Wagub) memohon doa serta dukungan, karena sukses itu adanya kebersamaan dan dukungan dari semua pihak,” ujarnya.

FORNAS VIII akan menampilkan 28 pertunjukan kesenian daerah dengan durasi 1 hingga 2 jam dan olahraga masyarakat dari 72 Induk Organisasi Olahraga (INORGA) yang akan diperlombakan, di antaranya 24 Olahraga Kesehatan dan Kebugaran (OKK) yang dilaksanakan di Kota Mataram, 18 Olahraga Petualangan dan Tantangan (OPT) yang dilaksanakan di Lombok Barat (Lobar), Lombok Tengah (Loteng), Lombok Timur (Lotim) dan Kota Mataram serta 31 Olahraga Tradisi dan Kreasi Budaya (OTKB) yang dilaksanakan di Lobar, Loteng dan Kota Mataram. (era)

KEK Mandalika Akan Dilengkapi Bale Seccha dan Seccha Club Berkelas Dunia

0
Pembangunan Bale Seccha dan Seccha Club dimulai(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) secara resmi memulai pembangunan Bale Seccha dan Seccha Club di Lot MHS 1, kawasan Mandalika, Jumat, 20 Juni 2025. Kedua proyek ini menjadi bagian dari strategi pengembangan kawasan berbasis active lifestyle dan community-driven destination yang saat ini tengah dikembangkan oleh ITDC.

Direktur Operasi ITDC Wenda R. Nabiel, menyampaikan pengembangan Bale Seccha dan Seccha Club menjadi upaya ITDC untuk menciptakan ruang-ruang baru yang menumbuhkan budaya hidup sehat dan memperkuat konektivitas sosial.

Bale Seccha dan Seccha Club dirancang sebagai retreat hotel dan sport lifestyle hub berbasis komunitas. Melalui sinergi kedua proyek ini, ITDC berharap dapat membentuk ekosistem pariwisata berkelanjutan yang mengintegrasikan elemen relaksasi, aktivitas olahraga, dan konektivitas sosial ke dalam satu pengalaman yang holistik.

Pengembangan Bale Seccha dan Seccha Club dirancang untuk memperkuat positioning KEK Mandalika sebagai world-class tourism destination. Bale Seccha merupakan penginapan bergaya boutique retreat hotel yang menghadirkan nuansa relaksasi, dilengkapi dengan fasilitas wellness seperti yoga dan pilates.

Dibangun di atas lahan seluas satu hektar, Bale Seccha terdiri dari 30 kamar dan merupakan tahap kedua dari pengembangan Bale Seccha pertama yang telah sukses beroperasi di area Bazaar Mandalika. Kehadiran Bale Seccha menjadi respons atas tingginya minat masyarakat terhadap akomodasi berkonsep retreat-style lodging.

Sementara itu, Seccha Club akan menjadi pusat komunitas dan lifestyle yang menghadirkan beragam fasilitas olahraga dan kuliner dalam satu kawasan terpadu. Di dalamnya terdapat tiga lapangan padel bertaraf internasional yang ditargetkan selesai sebelum pelaksanaan IndonesianGP 2025 pada 3-5 Oktober 2025 mendatang.

Kehadiran lapangan padel ini diharapkan tidak hanya menjadi daya tarik baru bagi wisatawan dan komunitas olahraga, tetapi juga menjadi tempat berlatih bagi para pembalap yang berlaga di The Mandalika. Selain fasilitas padel, Seccha Club juga akan dilengkapi dengan lapangan basket terbuka yang terkoneksi langsung dengan area Bazaar Mandalika.

“Dengan semangat kolaboratif dan inovasi yang berkelanjutan, ITDC terus menghadirkan terobosan baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi lokal, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan citra The Mandalika sebagai The Ultimate Lifestyle Sportstainment Destination,” tandasnya.(bul)

Perkuat Ekosistem Keuangan dan Ekonomi Daerah, NTB Bisa Reduksi Dampak Perang Global

0
Prof. Riduan Mas`ud(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Ketegangan geopolitik dunia, seperti konflik Rusia-Ukraina, perang Israel-Palestina, hingga memanasnya hubungan Iran dan Israel, dinilai berpotensi menimbulkan tekanan terhadap perekonomian nasional dan daerah. Namun, daerah seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) bisa mereduksi dampak tersebut bila memiliki ekosistem keuangan dan ekonomi yang tangguh.

Menyikapi potensi risiko tersebut, Pengamat Ekonomi Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Prof. Riduan Mas’ud memberikan pandangannya mengenai langkah-langkah strategis yang perlu dilakukan untuk meminimalisir dampak ekonomi perang di Nusa Tenggara Barat.

Menurut Prof. Riduan, kunci utama dalam membentengi diri dari gejolak ekonomi akibat konflik internasional, baik skala nasional maupun global, adalah dengan menciptakan dan memperkuat ekosistem keuangan dan ekonomi di tingkat daerah.

“Mengapa ekosistem ini penting? Karena dana atau uang dan aktivitas ekonomi itu akan berpindah dari satu pihak ke pihak lain. Perpindahan dana saat ini sangat cepat dari akun ke akunt,” jelas Prof. Riduan, Jumat, 20 Juni 2025.

Ia mencontohkan ekosistem keuangan daerah seperti melakukan transaksi pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) antar rekening Bank NTB Syariah, pembayaran dan penerimaan uang transaksi bisa dilakukan antar QRIS Bank NTB Syariah pembeli ke QRIS Bank NTB Syariah penerima. Pola ini bisa dilakukan juga dengan lembaga-lembaga keuangan lokal di daerah ini.

“Dengan demikian, kita sama sama menjaga uang itu supaya tetap ngendap di daerah. tidak ke luar,” katanya.

Oleh karena itu, Prof. Riduan menekankan pentingnya membangun sektor keuangan daerah di mana setiap transaksi pembayaran yang terjadi di NTB, sebisa mungkin melibatkan bank-bank daerah seperti Bank NTB Syariah dan BPR NTB. Langkah ini bertujuan untuk menjaga pondasi ekosistem keuangan daerah agar dana yang berputar tetap berada di dalam wilayah NTB.

“Jadinya mau ada perang dan lainnya, imbasnya itu akan kecil. Karena di daerah ini uang yang berputar itu besar jadinya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Prof. Riduan menyoroti fenomena masyarakat lokal yang cenderung menyimpan dana di bank-bank internasional atas dasar gengsi, atau melakukan transaksi keuangan menggunakan QRIS bank-bank internasional. Uang yang tadinya ada di daerah, secara otomatis akan ke luar.

Hal itu yang justru melemahkan ekosistem keuangan daerah. Ia mengingatkan bahwa penguatan ekonomi daerah juga harus didukung oleh preferensi masyarakat untuk memanfaatkan layanan keuangan lokal.

“Maka itu, cintai lembaga-lembaga keuangan yang ada di daerah kita dengan memanfaatkannya untuk bertransaksi keuangan,” tambahnya.

Selain penguatan ekosistem keuangan, Prof. Riduan juga menekankan pentingnya memperkuat ekosistem ekonomi lokal. Hal ini dapat diwujudkan dengan memprioritaskan pembelian produk-produk lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kata kunci mengapa dampak perang kita khawatirkan berimbas ke daerah kita? Karena kita ketergantungan kebutuhan dari luar. Semua tergantung luar. Bayangkan kalau kita membeli dan mengkonsumsi kentang kemasan dari Sembalun, kita tidak akan terlalu memikirkan dampak perang,” paparnya.

Untuk mewujudkan kemandirian ekonomi daerah, Prof. Riduan mendorong peningkatan produksi kebutuhan dari hulu hingga hilir di NTB serta memberikan sentuhan akhir pada komoditas lokal agar lebih menarik bagi konsumen lokal.

Lantas, siapa yang memiliki peran sentral dalam menginisiasi dan menguatkan ekosistem ini? Prof. Riduan dengan tegas menyebutkan Pemerintah Daerah (Pemda).

“Pertama soal ekosistem keuangan, Pemda harus menempatkan dana-dananya di bank daerah. Gunakan jasa-jasa bank daerah. Supaya kita bisa menjaga dana-dana ini dan meminimalisir aliran dana ke luar,” katanya.

Dengan menumpuknya dana di bank-bank daerah, lanjut Prof. Riduan, bank-bank tersebut akan memiliki kapasitas untuk menyalurkan kembali dana murah kepada masyarakat, sehingga menggerakkan roda perekonomian daerah.

“Kedua, soal ekosistem ekonomi lokal, bagaimana kita semua mencintai dan memprioritaskan belanja produk lokal untuk memenuhi kebutuhan. Supaya ekonomi lokal bisa terjaga,” pungkas Prof. Riduan.

Dengan begitu, kolaborasi antara pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat NTB untuk memperkuat ketahanan keuangan dan ekonomi lokal akan dapat mereduksi dampak gejolak global.(bul)

OJK Imbau Investor Muda tidak FOMO Jika Ingin Investasi Kripto

0
Logo OJK(ekbisntb.com/ant)

Jakarta (ekbisntb.com) – Kepala Direktorat Pengawasan Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Uli Agustina minta investor muda untuk tidak berinvestasi pada aset kripto hanya karena ingin mengikuti tren (Fear of Missing Out/FOMO).

“Untuk anak muda, (sebaiknya) tidak ikut-ikutan FOMO, lihat teman kiri-kanan, lalu ikut buka akun dan sebagainya. Pahami dulu (sebelum) akan melakukan transaksi ini, tentunya dengan pedagang yang sudah terdaftar di OJK,” kata Uli Agustina di Jakarta, Kamis.

Ia juga minta investor untuk memahami aset kripto yang akan dibeli, dokumen informasi dan cetak biru pengembangan aset kripto (whitepaper), serta volatilitas harga aset.

Selain itu, ia mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat mengakses platform investasi, terutama saat menggunakan jaringan internet atau WiFi publik karena rawan pencurian data pribadi.

Uli juga mengingatkan investor muda agar tidak menggunakan uang yang telah dialokasikan untuk kebutuhan tertentu, misalnya untuk membayarkan biaya kuliah.

“Saya beberapa kali dapat message (pesan) dari teman-teman yang menangis karena mereka pakai uang kuliahnya untuk membeli aset kripto yang tidak tahu asetnya itu seperti apa dan uangnya hilang (mengalami rugi). Jadi, memang harus pahami benar untuk berhati-hati dalam kondisi tersebut,” ujarnya.

Senada dengan Uli Agustina, Direktur Strategi dan Kebijakan Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) Muchtarul Huda menekankan pentingnya literasi digital dan perlindungan data pribadi dalam berinvestasi kripto.

“Yang pasti literasi digital itu harus tetap diutamakan. Kemudian perlu diinformasikan kepada masyarakat bahwa begitu pentingnya data pribadi yang dimiliki, sehingga penggunaan data pribadi harus sebijak mungkin,” ucapnya.

Ia menyatakan bahwa penggunaan yang tidak bijak dan ketidakwaspadaan masyarakat dalam membagikan data pribadi dapat menimbulkan ancaman berupa potensi phishing dan kejahatan siber lainnya jika data tersebut jatuh ke tangan pihak yang tidak kredibel.

Untuk mengantisipasi data pribadi digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, Muchtarul menyarankan penggunaan fitur otentikasi verifikasi (authentication verification).

Ia juga mengimbau masyarakat untuk memahami hak subjek data pribadi, yakni hak individu untuk mengakses, memperbaiki, menghapus, dan membatasi pemrosesan data pribadi mereka.

“Khawatirnya, karena kita tidak tahu hak dan kewajiban pengendali, kita serahkan data kita begitu saja. Padahal di situ ada hal yang perlu kita pertimbangkan untuk kita jaga dan kewajiban pengendali juga untuk menjaga keamanan data kita,” tutur Muchtarul Huda. (ant)