Tuesday, April 7, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 18

Harga Cabai Dinilai Faktor Utama Inflasi Tinggi

0
H. Budi Prasetyo. (Suara NTB/ils)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Pemerintah Kabupaten Sumbawa menyebutkan salah satu penyumbang inflasi tertinggi bersumber dari komoditas cabai. Fluktuatif harga cabai ini dinilai berpengaruh terhadap inflasi daerah.

“Tadi baru kita rapat bersama tim pengendali inflasi daerah dan fakta di lapangan memang harga cabai yang jadi penyumbang yang cukup tinggi bagi inflasi kita,” kata Sekretaris Daerah Kabupaten Sumbawa, Dr.H.Budi Prasetyo, kepada wartawan, Rabu, 11 Maret 2026.

Tingginya harga cabai saat ini, tentu menjadi tantangan untuk menekan harga tersebut. Bahkan pemerintah juga akan segera melakukan operasi pasar termasuk komunikasi lebih lanjut dengan beberapa distributor cabai dengan harapan harganya bisa ditekan.

“Kami tengah melakukan treatment terkait harga cabai ini. Salah satunya dengan operasi pasar dan juga berkomunikasi dengan para off taker untuk menekan harga tersebut,” ujarnya.

Komunikasi dengan pengepul dilakukan pemerintah untuk memastikan harga di tingkat petani tidak terlalu mahal. Sebab, harga yang berlaku di tingkat petani saat ini sekitar Rp65.000 per kilogram meningkat menjadi Rp95. 000 per kilogram.

“Upaya itu kita lakukan untuk menekan harga cabai yang berlaku di pasaran saat ini. Kami juga tetap akan melakukan pemantauan lebih lanjut di beberapa pasar induk,” ucapnya.

Salah satu upaya yang saat ini tengah digiatkan pemerintah yakni, memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayur-sayuran. Salah satunya adalah cabe dan tomat, sehingga harga beberapa komoditas tersebut bisa ditekan dan daya beli masyarakat bisa meningkat.

“Kami terus mengiktiarkan supaya kita bisa memastikan semua yang menjadi unsur-unsur dalam penyumbang inflasi bisa kita tekan dan dikendalikan dengan baik,” tukasnya. (ils)

Layanan Perbankan di NTB Selama Libur Lebaran Ikuti Jadwal Pemerintah

0
Rudi Sulistyo (suarantb.com/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Layanan operasional perbankan di Provinsi NTB selama masa libur dan cuti bersama Lebaran 1447 Hijriah/2026 akan mengikuti jadwal hari kerja dan hari libur yang telah ditetapkan pemerintah.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi NTB, Rudi Sulistyo, mengatakan bahwa bank tetap dapat memberikan layanan operasional di luar hari kerja resmi apabila dinilai diperlukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode libur Idulfitri.

Menurutnya, kebijakan tersebut memberi fleksibilitas bagi industri perbankan untuk memastikan layanan kepada nasabah tetap berjalan, terutama pada momen meningkatnya aktivitas transaksi keuangan menjelang dan selama Lebaran.

“Jadwal layanan pada dasarnya sama dengan hari kerja dan hari libur yang ditetapkan pemerintah. Namun bank dapat melakukan kegiatan operasional di luar hari kerja operasional atau hari libur dengan mengumumkannya melalui media dan melaporkannya kepada otoritas,” ujar Rudi, Rabu, 11 Maret 2026.

Ia menjelaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari pengawasan dan pengaturan agar operasional perbankan tetap berjalan tertib, transparan, dan diketahui oleh masyarakat. Dengan adanya pengumuman resmi dari bank, nasabah dapat mengetahui kantor cabang mana saja yang tetap membuka layanan selama masa libur Lebaran.

Selain itu, bank juga diharapkan memastikan kesiapan berbagai kanal layanan, baik kantor cabang terbatas maupun layanan elektronik seperti ATM, mobile banking, dan internet banking agar transaksi masyarakat tetap lancar selama periode libur panjang.

Rudi menambahkan, momentum Lebaran biasanya diikuti dengan peningkatan aktivitas transaksi, seperti penarikan tunai, transfer, hingga pembayaran digital. Karena itu, kesiapan layanan perbankan menjadi penting untuk menjaga kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat.

“OJK terus berkoordinasi dengan perbankan agar layanan kepada masyarakat tetap optimal selama periode libur Lebaran,” katanya.

Dengan pengaturan tersebut, masyarakat di NTB diharapkan tetap dapat mengakses layanan keuangan dengan mudah meskipun berada dalam masa libur nasional Idulfitri. (bul)

Punya Potensi Besar, BPR NTB Butuh Dukungan Kebijakan yang Lebih Proporsional

0
Sekretaris BPKAD Sidoarjo menerima cinderamata dari Lalu Moh Faozal Asisten 2 Setda Prov NTB didampingi Faisal Dirut BPR NTB, Izzudin Mahili Karo Ekbag Setda Prov NTB. (suarantb.com/bul)

Mataram (ekbisntb.com) – Pemerintah Provinsi NTB mendorong penguatan peran PT. Bank Perekonomian Rakyat (BPR) NTB (Perseroda) sebagai salah satu badan usaha milik daerah (BUMD) sektor keuangan memiliki potensi cukup besar untuk tumbuh lebih sehat dan berdaya saing. Hanya saja, diperlukan keberpihakan yang lebih proporsional untuk mendukung potensi tersebut.

Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan (Ekbang) Setda Provinsi NTB, Izzuddin Mahili, mengatakan BPR NTB dibentuk melalui proses merger sejumlah bank perkreditan rakyat milik pemerintah kabupaten/kota di NTB dan kemudian bertransformasi dari perusahaan daerah menjadi perseroan terbatas.

Menurutnya, pembentukan lembaga tersebut tidak sekadar untuk mempertahankan keberadaan BPR daerah, tetapi untuk membangun lembaga keuangan milik daerah yang kuat, sehat, dan mampu bersaing.

“BPR NTB tidak dibentuk hanya untuk bertahan, tetapi untuk dibesarkan dan diperkuat agar menjadi BUMD perbankan yang minimal setara martabat dan perannya dengan Bank NTB Syariah,” ujarnya.

Secara kinerja, BPR NTB dinilai memiliki fondasi usaha yang cukup kuat. Berdasarkan laporan keuangan publikasi triwulan III September 2025, BPR NTB mencatat aset sebesar Rp1,157 triliun dengan penyaluran kredit Rp931,9 miliar dan dana pihak ketiga Rp786,2 miliar. Laba perusahaan tercatat Rp39,2 miliar dengan jumlah pegawai sebanyak 560 orang.

Dari sisi produktivitas, aset per pegawai mencapai sekitar Rp2,067 miliar, sedangkan produktivitas laba per pegawai sekitar Rp70 juta. Angka tersebut menunjukkan bahwa BPR NTB memiliki kapasitas kelembagaan yang cukup besar untuk terus dikembangkan.

Namun di tengah potensi tersebut, Izzuddin menilai ruang tumbuh antara BPR NTB dan Bank NTB Syariah belum sepenuhnya seimbang. Bank NTB Syariah memiliki dukungan pasar yang relatif stabil melalui kredit konsumtif berbasis payroll, sementara BPR NTB lebih banyak bergerak di sektor kredit produktif yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi.

Kondisi ini turut memengaruhi tingkat kredit macet atau non-performing loan (NPL) BPR NTB.

Dalam beberapa periode sebelumnya, kebijakan pemerintah provinsi dinilai belum sepenuhnya memberikan ruang tumbuh yang proporsional bagi BPR NTB.

“Ini menjadi refleksi penting bagi arah kebijakan saat ini,” katanya.

Sebagai salah satu langkah strategis, pemerintah daerah tengah mengkaji kemungkinan memberikan ruang pasar yang lebih kuat bagi BPR NTB, salah satunya melalui skema penyaluran gaji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Pemprov NTB.

Menurut Izzuddin, kebijakan tersebut dapat menjadi fondasi bisnis yang lebih stabil bagi BPR NTB, sebagaimana Bank NTB Syariah memperoleh dukungan pasar melalui penyaluran gaji aparatur sipil negara (ASN).

“Jika Bank NTB Syariah telah memperoleh lini usaha pengaman sebagai penyalur gaji ASN, maka BPR NTB patut diberi ruang strategis melalui penugasan sebagai penyalur gaji PPPK,” ujarnya.

Selain itu, Pemprov NTB juga melakukan studi komparasi ke sejumlah daerah yang dinilai berhasil mengembangkan BPR daerah secara optimal. Kegiatan tersebut dipimpin Asisten II bersama Biro Ekbang dengan melibatkan jajaran direksi BPR NTB, Badan Keuangan dan Aset Daerah, Inspektorat, serta Biro Hukum.

Rombongan melakukan kunjungan ke pemerintah daerah di Gunung Kidul dan Sidoarjo untuk mempelajari praktik pengelolaan BPR yang dinilai berhasil.

Salah satu contoh adalah BPR Bank Daerah Gunung Kidul yang pada triwulan III 2025 mencatat aset Rp657,8 miliar dengan laba Rp6,8 miliar dan jumlah pegawai 140 orang. Produktivitas aset per pegawainya mencapai sekitar Rp4,698 miliar.

Sementara itu, BPR Delta Artha di Sidoarjo mencatat aset Rp946,9 miliar dengan laba Rp20,17 miliar dan jumlah pegawai 75 orang, dengan produktivitas aset per pegawai mencapai lebih dari Rp12,6 miliar.

Perbandingan tersebut, menurut Izzuddin, bukan untuk mengecilkan kinerja BPR NTB, tetapi untuk memperjelas arah pembenahan ke depan, terutama dalam meningkatkan produktivitas dan memperkuat struktur bisnis.

Ia menegaskan, masa depan BPR NTB sangat bergantung pada konsistensi kebijakan pemerintah daerah dalam memberikan ruang tumbuh yang adil dan berkelanjutan.

“BUMD ini tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah keberpihakan kebijakan yang terukur agar BPR NTB dapat berkembang sehat, profesional, dan menjadi salah satu pilar penguatan ekonomi daerah,” demikian Izzuddin. (bul)

Perbaikan Pasar Cakranegara Dianggarkan Rp1 Miliar

0
H. Irwan Harimansyah(ekbisntb.com/cem)

Mataram (ekbisntb.com) – Dinas Perdagangan Kota Mataram telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp1 miliar, untuk perbaikan Pasar Cakranegara. Perbaikan pasar tradisional di Jalan AA. Gde Ngurah ini, hanya bagian atap saja.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, H. Irwan Harimansyah menjelaskan, program strategis yang dikerjakan di tahun 2026, fokus pada perbaikan dan peningkatan kualitas pasar. Salah satunya adalah perbaikan Pasar Cakranegara. Perbaikan Pasar Cakranegara dikerjakan dua tahap di tahun 2025 dengan alokasi anggaran Rp400 juta. Pihaknya kembali mengalokasikan anggaran Rp1 miliar di tahun 2026.

Anggaran Rp1 miliar lanjut Irwan, fokus pada perbaikan atap. Pasalnya, kondisi atap telah rusak. “Anggaran Rp1 miliar itu hanya untuk perbaikan atap saja,” terangnya.

Mantan Kepala Dinas Perikanan Kota Mataram menegaskan, tujuan perbaikan pasar tradisional tersebut, karena ingin memanfaatkan lapak pedagang di lantai dua. Selama ini, aktifitas pedagang barang pokok terganggu akibat atap bocor. “Kalau di atas bocor otomatis akan mengganggu pedagang baju yang berada di bawah,” katanya.

Ia mengakui Pemkot Mataram sebelumnya memiliki konsep menjadikan Pasar Cakranegara sebagai pusat garmen. Pertimbangannya karena pedagang sebagian besar berjualan kain, pakaian, dan lain sebagainya. Sementara, pedagang barang pokok relatif lebih sedikit dibandingkan pedagang pakaian. “Sebenarnya yang banyak itu pedagang pakaian atau garmen,” jawabnya.

Proses perbaikan pasar ini kata Irwan, masih tahap penyusunan dokumen tender. Dokumen lelang ditargetkan akan diserahkan ke Bagian Pengadaan Barang dan Jasa Setda Kota Mataram akhir bulan Maret. Pengerjaan atap diprediksi dimulai akhir bulan April atau awal bulan Mei.

Ia berharap proses tender berjalan lancar tanpa ada sanggahan dari peserta tender. “Anggarannya berada di triwulan kedua. Kita harapkan segera selesai tendernya, supaya pedagang tidak terganggu aktifitas usahanya,” demikian kata dia. (cem)

NTB Dorong Desa Berdaya, Mendes Siap Jadikan Model Nasional Pengentasan Kemiskinan Ekstrem

0
NTB Dorong Desa Berdaya, Mendes Siap Jadikan Model Nasional Pengentasan Kemiskinan Ekstrem
Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal saat bertemu dengan Mendes PDT Yandri Susanto di Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026. (Suara NTB/ist)

Jakarta (ekbisntb.com) – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) H. Lalu Muhamad Iqbal memaparkan strategi komprehensif pengentasan kemiskinan ekstrem melalui program Desa Berdaya dalam pertemuan dengan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto di Kantor Kementerian Desa, Jakarta, Selasa (10/3/2026).

Program Desa Berdaya yang dikembangkan Pemerintah Provinsi NTB mendapat respons positif dari Mendes PDT. Ia menilai pendekatan berbasis orkestrasi dan kolaborasi lintas sektor yang diterapkan NTB berpotensi menjadi model nasional dalam penanganan kemiskinan ekstrem berbasis desa.

“Konsep yang disampaikan Pak Gubernur sangat baik. Pendekatan orkestrasi dan kolaborasi ini bisa menjadi contoh bagi provinsi lain dalam menurunkan kemiskinan ekstrem,” ujar Mendes Yandri Susanto.

Menurut Yandri, Kementerian Desa siap memperkuat sinergi dengan Pemerintah Provinsi NTB untuk mengakselerasi berbagai program pemberdayaan desa, termasuk melalui kolaborasi dengan sektor swasta, perguruan tinggi, serta organisasi masyarakat.

“Kita memiliki mitra sekitar 500 perusahaan nasional yang akan kita dorong untuk membina desa melalui program tanggung jawab sosial perusahaan. Dengan kolaborasi seperti ini, tidak boleh ada desa yang tertinggal,” tegasnya.

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Desa juga menyatakan kesediaannya untuk menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Provinsi NTB di Mataram pada 16 April 2026, bersama Menteri Sosial Republik Indonesia.

Kehadiran kedua menteri tersebut diharapkan memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mempercepat pembangunan desa serta penanganan kemiskinan ekstrem di NTB.

Strategi Desa Berdaya
Dalam paparannya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menjelaskan bahwa program Desa Berdaya dirancang sebagai strategi utama untuk menurunkan kemiskinan ekstrem secara sistematis dan berkelanjutan.

Program ini tidak berdiri sendiri, melainkan mengintegrasikan berbagai program yang telah berjalan dengan pendekatan orkestrasi sehingga seluruh sumber daya pembangunan dapat bergerak bersama di tingkat desa.

“Kami tidak menciptakan program yang sepenuhnya baru. Yang kami lakukan adalah mengorkestrasi berbagai program yang sudah ada agar bekerja secara terpadu dan lebih efektif di desa,” jelas Miq Iqbal.

Pendekatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha melalui program CSR, perguruan tinggi, hingga lembaga filantropi seperti Baznas.

Selain itu, Pemerintah Provinsi NTB juga melakukan verifikasi dan validasi data kemiskinan secara langsung di desa melalui pendamping mandiri yang didanai oleh pemerintah provinsi.

Pendamping tersebut bekerja bersama dengan pendamping desa yang selama ini telah berada di lapangan, sehingga intervensi program benar-benar sesuai dengan kondisi masyarakat.

“Kita lakukan dua bentuk intervensi utama, yaitu intervensi pada level keluarga dan intervensi pada level desa,” kata Gubernur Miq Iqbal.

Dalam implementasinya, masyarakat miskin ekstrem dipetakan menjadi dua kategori utama.

Sekitar 60 persen merupakan kelompok yang masih produktif dan dapat diberdayakan melalui program ekonomi, sementara sisanya merupakan kelompok rentan yang tidak lagi produktif karena faktor usia atau kondisi kesehatan.

Kelompok terakhir diperlakukan sebagai mustahik tetap yang tetap mendapatkan perlindungan sosial secara berkelanjutan melalui dukungan berbagai lembaga sosial, termasuk Baznas.

Desa Tematik dan Rantai Pasok Pangan
Selain pengentasan kemiskinan ekstrem, Pemerintah Provinsi NTB juga mendorong pengembangan desa tematik berbasis potensi lokal.

Konsep ini memungkinkan setiap desa mengembangkan komoditas unggulan masing-masing, seperti desa lele, desa cabai, desa ayam petelur, desa sapi, hingga desa wisata.

Menurut Miq Iqbal, pengembangan desa tematik harus terhubung dengan kebutuhan pasar agar mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

Salah satu peluang besar adalah program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan pasokan pangan dalam jumlah besar.

“Desa tidak boleh hanya menjadi penonton. Desa harus menjadi produsen yang memasok kebutuhan pangan untuk program nasional,” tegas Miq Iqbal.

Untuk itu, pemerintah mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi tertutup (close loop) yang mengutamakan penggunaan pangan lokal dalam rantai pasok program nasional tersebut.

Dalam sistem ini, koperasi desa dan BUMDes akan memainkan peran penting sebagai penghubung antara produksi desa dan distribusi pasar di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Menguatkan Desa, Menahan Urbanisasi
Gubernur NTB juga menegaskan bahwa penguatan ekonomi desa merupakan langkah strategis untuk menahan laju urbanisasi sekaligus menciptakan keseimbangan pembangunan antara desa dan kota.

Menurutnya, banyak negara maju menghadapi persoalan serius akibat urbanisasi yang tidak terkendali, di mana desa-desa kehilangan penduduk produktif.

Karena itu pembangunan desa harus mampu menciptakan peluang ekonomi yang menarik bagi generasi muda.

“Jika desa kuat, daerah akan kuat. Ketika desa berkembang, berbagai persoalan sosial dapat kita selesaikan dari akarnya,” ujarnya.

Dengan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat, program Desa Berdaya diharapkan mampu menjadi model pembangunan desa yang inklusif sekaligus mempercepat pengentasan kemiskinan ekstrem di Indonesia. (r)

Pemprov NTB Hadirkan Pangan Murah untuk Jaga Stabilitas Harga Jelang Lebaran

0
Wagub Hj. Indah Dhamayanti Putri membuka kegiatan Gerakan Pangan Murah di Mataram, Rabu (11/3/2026). (suarantb.com/ist)

Mataram (ekbisntb.com) – Wakil Gubernur (Wagub) NTB, Hj. Indah Dhamayanti Putri, mengatakan pemerintah terus memantau pergerakan harga bahan pokok menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), khususnya di pasar-pasar tradisional. Hal tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Gerakan Pangan Murah di halaman kantor TVRI NTB, Rabu (11/3/2026).

Menurutnya, pemantauan dilakukan untuk memastikan ketersediaan bahan pokok tetap terjaga sekaligus mencegah lonjakan harga yang dapat memberatkan masyarakat.

“Semuanya dalam rangka memastikan ketersediaan sembilan bahan pokok tetap cukup, khususnya menjelang hari besar keagamaan, dan tidak terjadi lonjakan harga yang tentu akan memberikan dampak kurang baik bagi masyarakat,” ujar Wakil Gubernur.

Ia mengakui bahwa di beberapa pasar tradisional di sejumlah kabupaten di NTB masih ditemukan harga cabai yang relatif tinggi. Namun, pemerintah provinsi telah melakukan intervensi dengan bekerja sama dengan Perum Bulog serta sejumlah mitra untuk menghadirkan pasokan cabai dari daerah lain dengan harga yang lebih terjangkau.

Selain itu, Wakil Gubernur juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertanian dan Badan Pangan Nasional, atas perhatian dan dukungan terhadap upaya menjaga stabilitas pangan di daerah.

Sementara itu, Kepala Kantor TVRI NTB, Okta Helena Kati Jara, mengatakan bahwa TVRI secara konsisten menyelenggarakan kegiatan intervensi pasar seperti Gerakan Pangan Murah guna membantu masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga terjangkau.

Ia menjelaskan bahwa kegiatan pasar murah tersebut diprioritaskan untuk membantu masyarakat di sekitar Kelurahan Kekalik Jaya dalam memenuhi kebutuhan pokok menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Pimpinan Wilayah Bulog Rizal Prasija Sukmaadijaya, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB Andhi Wahyu Rianto, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB Eva Dewiyani, Lurah Kekalik Jaya Syafrudin, serta sejumlah perwakilan perangkat daerah Provinsi NTB. (r)

Jelang Musim Mudik, Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin Belum Tambah Penerbangan

0
Sejumlah penumpang turun dari salah maskapai di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin, Kabupaten Sumbawa baru-baru. Otoritas bandara belum menambah penerbangan dari dan menuju Sumbawa.(Suara NTB/ils)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Kepala Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin Sumbawa, Tri Pono Basuki Wijianto, mengaku hingga saat ini belum ada pengajuan penambahan ekstra flight atau penambahan penerbangan jelang musim mudik dan arus balik lebaran tahun 2026.

“Sampai saat ini belum ada belum ada pengajuan ekstra flight dari maskapai meski diperkirakan puncak musim mudik terjadi dalam beberapa hari kedepan,” katanya kepada Suara NTB, Selasa (10/3).

Untuk kesiapan dari segi infrastruktur dan pelayanan di bandara kata dia, sudah sangat siap. Bahkan fasilitas keamanan dan sarana penunjang lainnya, sudah siap digunakan sehingga pelayanan kepada masyarakat bisa berjalan maksimal.

“Kita sifatnya menunggu saja, jika ada permintaan untuk penambahan jadwal penerbangan dari maskapai pasti akan kita upayakan untuk dipenuhi,” ucapnya.

Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin Sumbawa saat ini, hanya melayani tiga kali penerbangan setiap hari. Sementara, untuk ekstra flight hanya dalam kondisi tertentu saja. Misalnya, jelang lebaran meski hingga saat ini belum ada permintaan.

“Biasanya permintaan ekstra flight terjadi di bulan Ramadan seperti beberapa tahun sebelumnya, tetapi untuk sementara ini masih belum ada permintaan dari maskapai di musim mudik dan arus balik 2026,” ujarnya.

Disinggung terkait jadwal dan puncak musim mudik, Tri mengaku berdasarkan informasi dari maskapai musim mudik diprediksi terjadi H-3 lebaran atau sekitar tanggal 16-17 Maret. Sementara, untuk puncak arus balik diprediksi terjadi pada tanggal 23-24 April.

“Biasanya sudah mulai ada pemesanan tiket untuk H-3 lebaran dan kami pastikan semua fasilitas dan sarana penunjang sudah dalam kondisi siap digunakan di musim mudik dan balik lebaran tahun 2026,” tukasnya. (ils)

Tren Belanja Daring, Pasar Senggol Kota Bima Sepi Pengunjung

0
Seorang pedagang di Pasar Senggol, Kota Bima menunggu pembeli pada, Selasa (10/3). Pengunjung pasar sepi karena beralih berbelanja secara daring atau online. (Suara NTB/hir)

Kota Bima (ekbisntb.com) – Sepuluh hari menjelang Lebaran, suasana Pasar Senggol Kota Bima justru tampak lengang. Aktivitas jual beli yang biasanya mulai ramai justru jauh menurun. Sejumlah pedagang mengeluhkan merosotnya jumlah pembeli dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Perubahan pola belanja masyarakat ke toko online serta dampak pandemi Covid-19 disebut menjadi penyebab utama turunnya omzet pedagang pasar tradisional.

Yati, salah seorang pedagang yang telah berjualan lebih dari dua dekade di Pasar Senggol, mengaku kondisi pasar saat ini sangat berbeda dibandingkan masa sebelum pandemi.

“Saya jualan di pasar ini sudah lebih dari dua puluh tahun,” ujarnya saat ditemui di lokasi pasar, Selasa, 10 Maret 2026.

Menurutnya, sebelum maraknya belanja daring, suasana pasar biasanya sudah ramai sejak dua pekan menjelang Lebaran. Pedagang bahkan berani menambah stok barang karena permintaan meningkat.

“Kalau dulu sebelum maraknya belanja online itu, H-15 Lebaran sudah ramai. Omzet sudah banyak dan berani stok barang,” katanya.

Namun kondisi itu berubah dalam beberapa tahun terakhir. Dampak pandemi Covid-19 mempercepat peralihan kebiasaan belanja masyarakat ke platform daring.

Akibatnya, omzet yang dulu bisa mencapai jutaan rupiah dalam sehari kini sulit dicapai. Bahkan ada pedagang sama sekali tidak ada transaksi.

“Kalau dulu itu Alhamdulillah, kalau siang hari gini saja sudah jutaan. Kalau sekarang, satu hari kadang tidak laku sama sekali,” katanya.

Pun ada pembeli kata dia, nilai transaksi relatif kecil. Pedagang hanya menjual barang kisaran Rp100 ribu-Rp200 ribu.

Sepinya pembeli membuat sebagian pedagang kesulitan menutup biaya operasional. Mereka tetap harus membayar sewa lapak dan berbagai kebutuhan usaha, meskipun pendapatan menurun.

Pantauan di Pasar Senggol sejumlah toko tertutup. Beberapa pedagang memilih tidak membuka lapak karena minimnya pembeli yang datang. Selain belanja online, pedagang juga menilai persaingan dengan toko modern turut memengaruhi kondisi pasar. Konsumen cenderung berbelanja di toko besar, karena harga barang sudah tertera dan dianggap lebih murah.

“Semua pada beli di toko-toko besar karena di sana sudah ada harganya, dianggap lebih murah,” katanya.

Menurutnya, pedagang pasar sulit menurunkan harga karena harus menanggung berbagai biaya, mulai dari sewa tempat hingga operasional usaha. Di tengah kondisi tersebut, pedagang berharap pemerintah daerah memberi perhatian terhadap keberlangsungan Pasar Senggol yang merupakan salah satu aset daerah.

“Harapan saya itu tolong pemerintah, terutama wali kota, perhatikan Pasar Senggol ini. Ini aset daerah, pemasukan daerah juga,” tandasnya. (hir)

Soroti Akses Permodalan dan Pemasaran Produk Lokal

0
Soroti Akses Permodalan dan Pemasaran Produk Lokal
Zihani Ilman Fayadi (suarantb.com/ist)

ANGGOTA Panitia Khusus (Pansus) pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Lingkungan, Zihani Ilman Fayadi, B.IRKH., menyoroti pentingnya dukungan nyata bagi masyarakat dalam mengembangkan usaha produktif, terutama terkait akses permodalan dan pemasaran hasil karya masyarakat.

Dalam rapat pembahasan Raperda tersebut pada Senin (9/3/2026), Fayadi menegaskan bahwa substansi mengenai pemberdayaan masyarakat telah diatur dalam Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2). Pasal tersebut mengatur berbagai bentuk dukungan kepada masyarakat, termasuk akses terhadap fasilitas, permodalan, serta berbagai sarana pendukung lainnya.

Menurutnya, tujuan utama pembahasan Raperda ini adalah mendorong masyarakat agar lebih berdaya secara ekonomi, khususnya melalui kegiatan usaha produktif berbasis potensi lokal.

“Di dalam pansus ini kita memiliki tujuan supaya masyarakat itu bisa diberdayakan, terutama dari segi ekonomi produktif,” ujar politisi Partai Golkar ini.

Meski demikian, Fayadi mengungkapkan bahwa salah satu persoalan yang kerap dihadapi masyarakat adalah kesulitan dalam memasarkan produk yang telah mereka hasilkan. Banyak kelompok usaha masyarakat yang sebenarnya mampu menghasilkan berbagai karya dan produk, namun belum memiliki akses pasar yang jelas.

Fayadi menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius dalam perumusan kebijakan daerah, sehingga pemberdayaan masyarakat tidak hanya berhenti pada pemberian pelatihan atau bantuan modal semata.

“Seringkali masyarakat mampu menghasilkan satu karya, tetapi mereka kebingungan dalam hal pemasaran,” kata anggota dewan dari daerah pemilihan Sekarbela ini.

Fayadi juga mengusulkan agar pemerintah daerah dapat mengambil peran lebih aktif dalam membantu membuka akses pasar bagi kelompok usaha masyarakat. Hal tersebut dapat dilakukan melalui berbagai mekanisme, mulai dari fasilitasi pemasaran hingga menjalin kerja sama dengan pusat-pusat perdagangan di daerah lain.

Selain itu, ia juga menyinggung kemungkinan penyaluran bantuan permodalan melalui berbagai skema, baik melalui lembaga keuangan milik pemerintah maupun perbankan.

“Nanti apakah kita fokuskan melalui bank atau melalui kredit perbankan, itu bisa dibahas. Tetapi yang penting adalah bagaimana kelompok usaha ini memiliki pasar yang jelas,” ujar politisi Partai Golkar ini.

Fayadi mencontohkan bahwa produk-produk kerajinan masyarakat berpotensi dipasarkan ke berbagai kota besar yang memiliki pusat perdagangan atau pusat oleh-oleh. Dengan adanya dukungan pemerintah dalam memfasilitasi jalur distribusi, produk lokal diyakini dapat lebih mudah menembus pasar yang lebih luas. (fit)

Kuota Terpenuhi, Dishub Mataram Tutup Pendaftaran Mudik Gratis 2026

0
Kuota Terpenuhi, Dishub Mataram Tutup Pendaftaran Mudik Gratis 2026
Zulkawin (suarantb.com/pan)

Mataram (ekbisntb.com) – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mataram resmi menutup pendaftaran program mudik gratis yang diselenggarakan Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram menjelang Hari Raya Idulfitri 2026. Penutupan dilakukan setelah kuota yang disediakan telah terpenuhi, yakni sebanyak 168 kursi bagi calon pemudik.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, Zulkarwin, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap program tersebut sangat tinggi. Bahkan dalam hitungan jam sejak pendaftaran dibuka beberapa hari lalu, jumlah pendaftar langsung membludak hingga melampaui kuota yang tersedia.

“Sudah lebih dari 300 orang yang mendaftar, sementara kuota kita hanya 168 orang. Satu bus berkapasitas 42 kursi,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).

Ia menambahkan, Pemkot Mataram akan menjadikan tingginya animo masyarakat ini sebagai bahan evaluasi untuk penyelenggaraan program serupa di masa mendatang. Pemerintah daerah akan berupaya menambah kuota ataupun armada agar lebih banyak masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas mudik gratis tersebut.

Zulkarwin menjelaskan, dari total lebih dari 300 pendaftar, mayoritas merupakan mahasiswa yang berdomisili di Kota Mataram maupun mahasiswa asal daerah lain yang sedang menempuh pendidikan di Mataram. Selain mahasiswa, terdapat pula sejumlah pekerja yang turut mendaftar dalam program tersebut.

“Masih diverifikasi dan diseleksi kembali. Dari data sementara, kebanyakan mahasiswa karena mereka yang paling membutuhkan. Selain itu ada juga pekerja,” jelasnya.

Saat ini, pihak Dishub Kota Mataram masih melakukan proses verifikasi dan seleksi administrasi terhadap seluruh pendaftar. Proses ini dilakukan untuk memastikan peserta yang diberangkatkan benar-benar sesuai dengan persyaratan serta menyesuaikan dengan kuota kursi yang tersedia.

Dalam program mudik gratis tahun ini, Dishub Kota Mataram menyiapkan empat armada bus milik Damri yang dilengkapi berbagai fasilitas penunjang kenyamanan perjalanan. Fasilitas tersebut antara lain pendingin udara (AC), televisi, toilet, kursi reclining yang dapat diatur kemiringannya, GPS tracking untuk memantau perjalanan, bagasi, serta port USB untuk pengisian daya gawai.

Empat bus tersebut akan mengangkut total 168 pemudik dengan tiga rute tujuan, yakni Mataram–Sumbawa, Mataram–Dompu, dan Mataram–Bima. Rute tersebut dipilih karena menjadi jalur dengan jumlah pemudik yang cukup tinggi setiap tahunnya.

Peserta program mudik gratis yang telah dinyatakan lolos verifikasi dijadwalkan akan diberangkatkan pada 16 Maret 2026. Seluruh armada bus akan dilepas secara resmi dari halaman Kantor Wali Kota Mataram di Jalan Pejanggik.

Mantan Camat Selaparang juga mengimbau para peserta yang telah terdaftar untuk hadir tepat waktu pada hari keberangkatan serta mematuhi seluruh ketentuan yang telah ditetapkan demi kelancaran perjalanan mudik bersama tersebut.

Program ini diharapkan dapat membantu masyarakat pulang ke kampung halaman dengan aman, nyaman, dan tanpa biaya. (pan)