Monday, April 27, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 137

Sinergi Pengawasan, Pemkab Lotim dan DJP Jalin Kerja Sama

0
rus bupati lotim terima DJP Nusa TYenggara

Lombok (ekbisntb.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Timur (Lotim) memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Hal ini diwujudkan melalui penandatanganan Daftar Sasaran Pengawasan (DSP) bersama antara Pemkab Lotim dan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Nusa Tenggara.

Penandatanganan bersejarah ini dilakukan langsung oleh Bupati Lombok Timur, H. Haerul Warisin, dan Kepala Kanwil DJP Nusa Tenggara, Samon Jaya, di ruang kerja Bupati pada Kamis16 Oktober 2025. Pertemuan ini menegaskan komitmen kedua belah pihak untuk bekerja sama lebih erat dalam pengawasan perpajakan.

Sekretaris Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lombok Timur, Edy Ilham, dalam penjelasannya menyatakan pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari komitmen Pemda dan DJP. “Ini adalah wujud nyata sinergi kita untuk mendorong kepatuhan wajib pajak,” ujarnya.

Dijelaskannya, DSP bersama ini disusun berdasarkan hasil koordinasi intensif antara tim dari DJP dan pemerintah kabupaten. Daftar ini secara khusus dibuat untuk menguji kepatuhan wajib pajak yang memiliki potensi penerimaan pajak dalam jumlah besar, baik untuk kas pajak pusat maupun pajak daerah.

“Diharapkan, dengan adanya DSP bersama ini, kolaborasi antara DJP dan Pemda Lombok Timur akan semakin efektif. Tujuannya jelas, untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta penerimaan pajak pusat, yang pada akhirnya akan mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan,” pungkas Edy Ilham.

Keberadaan DSP bersama ini dianggap sebagai langkah strategis. Dengan sasaran pengawasan yang jelas dan terkoordinasi, baik DJP maupun Pemkab Lotim dapat melakukan pengawasan yang lebih fokus dan efisien, sehingga diharapkan dapat meminimalisir celah potensi kerugian negara dan daerah dari sektor perpajakan. (rus)

Serap Aspirasi Status Konservasi 3 Gili, Deputi Geoekonomi DPN Turun ke KLU

0
Bupati KLU H. Najmul Akhyar bersama sampaikan aspirasi status konservasi 3 Gili saat menerima kunjungan Deputi Bidang Geoekonomi DPN Rl, Yayat Ruyati. (Ekbis NTB/ist) 

Lombok (ekbosntb.com) – Dewan Pertahanan Nasional (DPN) RI melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Lombok Utara (KLU), Rabu 15 Oktober 2025 sore. Lembaga yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto pada 2024 lalu itu, turun untuk menyerap aspirasi di KLU, khususnya yang berkenaan dengan status konservasi 3 Gili dan pengembangan kawasan pariwisata.

DPN dalam kunjungan ke Lomjok Utara, diwakili oleh Deputi Bidang Geoekonomi, Dr. Yayat Ruyat, M.Eng.,. Dalam pernyataannya, Yayat menegaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan dengan Bupati KLU sebelumnya, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

“Kehadiran kami di sini untuk menyerap, menampung, dan memperdalam informasi yang disampaikan Bapak Bupati. Kami akan mempercepat pencarian solusi dan memberikan rekomendasi kebijakan kepada Presiden,” ungkap Yayat.

Untuk diketahui, kata Yayat, DPN RI dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 202 Tahun 2024 sebagai Lembaga Non Struktural dipimpin oleh Presiden.

DPN RI memiliki tiga deputi utama, yaitu Geoekonomi, Geostrategis (pertahanan dan keamanan), serta Geopolitik (ideologi, politik, sosial, dan budaya), yang masing-masing mendukung ketahanan nasional secara menyeluruh.

DPN mempunyai tugas melaksanakan pemberian pertimbangan dan perumusan solusi kebijakan dalam rangka penetapan kebijakan di bidang pertahanan nasional yang bersifat strategis mencakup kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa.

Sementara, Bupati KLU  Najmul Akhyar, memaparkan posisi strategis KLU yang berada di antara Bali dan Nusa Tenggara Timur. Kendati sebagai kabupaten termuda di NTB, posisi strategisnya dalam aspek keamanan dan pariwisata memberi peluang besar bagi daerah ini untuk berkembang lebih jauh.

Najmul menjelaskan bahwa sebelumnya ia telah mengunjungi Kementerian Pertahanan RI di Jakarta untuk membahas kerja sama pendirian perguruan tinggi di bawah naungan Kemenhan RI. Menurutnya, keberadaan lembaga pendidikan tersebut penting bagi penguatan ketahanan wilayah dan sumber daya manusia di daerah perbatasan wisata internasional seperti KLU.

Ia menyampaikan, regulasi yang mengatur kawasan tiga Gili cukup kompleks. Di satu sisi sebagai kawasan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) sesuai Perpres Nomor 84 Tahun 2021, Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan memasukkan 3 Gili ke dalam kawasan hutan, serta Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 34 Tahun 2022 yang menetapkannya sebagai kawasan konservasi.

“Tiga Gili ini memiliki status berlapis, dari pariwisata, hutan, dan konservasi. Hal ini menimbulkan banyak implikasi di lapangan, terutama terkait kemudahan investasi dan pengelolaan kawasan,” ujar Najmul.

Dalam konteks ketahanan ekonomi nasional, lanjutnya, kawasan tiga Gili juga masuk dalam Asta Cita Presiden RI, Jenderal TNI (Purn) H. Prabowo Subianto, sebagai salah satu sumber potensial kontribusi ekonomi hingga delapan persen dari sepuluh kawasan strategis nasional.

“Karena ini merupakan kawasan internasional, wajah tiga Gili bukan hanya wajah Lombok Utara, tetapi juga wajah Indonesia di mata dunia,” imbuhnya.

Najmul berharap kunjungan tim DPN RI dapat mempercepat proses penyelesaian berbagai persoalan tata kelola kawasan tersebut. “Kami bersyukur atas kehadiran bapak-bapak di sini. Mudah-mudahan menjadi akselerator dalam penyelesaian persoalan tiga Gili,” harapnya. (ari)

Baru Terealisasi 75 Persen 

0
Tresnahadi (Ekbis NTB/ari)

PENYALURAN bantuan ekonomi melalui skema subsidi bunga pinjaman modal pada Bank NTB Syariah, telah mencapai 75 persen. Dari dana yang ditempatkan sebesar Rp 1 miliar pada Bank NTB Syariah, realisasi kepada nasabah telah mencapai Rp 755 juta.

Hal tersebut dikatakan Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kabupaten Lombok Utara, Tresnahadi, S.Pt., Kamis 16 Oktober 2025. Dinas KP3 dalam hal ini, bertindak selaku OPD yang menilai, memverifikasi serta memberikan rekomendasi kepada calon nasabah yang berminat mengajukan pinjaman pada Bank NTB Syariah dengan skema tanpa bunga.

Tresnahadi mengatakan, permohonan pinjaman terus berprogres. Hingga akhir September 2025, realisasi penyaluran program pinjaman bergulir dengan subsidi bunga telah mencapai 75,55 persen.

“Dari total anggaran Rp1 miliar yang disiapkan tahun ini, dana sebesar Rp755,48 juta telah disalurkan kepada kelompok dan perorangan penerima manfaat,” ujar Tresnahadi.

Ia menjelaskan, Pemda KLU secara konsisten menyalurkan bantuan berupa kompensasi bunga pinjaman sejak 4 tahun lalu. Untuk tahun ini, penyaluran sudah diserujui kepada 37 kelompok dan 8 penerima perorangan dengan total penerima mencapai 305 orang.

“Dari Rp 1 miliar subsidi bunga itu, dana pihak ketiga di bank yang tersalur mencapai Rp5,7 miliar. Kita optimis, sisa 25 persen bisa terealisasi seluruhnya,” ucapnya.

Kadis KP3 KLU menambahkan, pihaknya mendapat Informasi dari Bank NTB KCP Tanjung. Disebutkan, permohonan pinjaman cukup banyak. Nasabah yang sudah menerima pinjaman telah diverifikasi dan disetujui pihak bank.

“Antusiasme masyarakat terhadap program pinjaman bersubsidi ini sangat tinggi karena memberikan kemudahan bagi pelaku usaha kecil di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan,” sambungnya.

Pada skema pinjaman tanpa bunga, nasabah tetap mengakses pinjaman syariah pada umumnya. Dana yang diberikan bank adalah dana pihak ketiga yang dihimpun dari masyarakat, sedangkan bunga pinjaman ditanggung oleh APBD Lombok Utara.

Dalam skema pinjaman ini, Tresnahadi menyebut jumlah akses maksimal adalah Rp 25 juta per orang per tahun. Jika pengajuan dilakukan kolektif oleh kelompok, maka pencairan berlaku kelipatan sejumlah kelompok tersebut.

“Misalnya kelompok terdiri dari 10 orang, total pencairan bisa mencapai Rp250 juta per kelompok,” ujarnya.

Tresnahadi juga menyebut, tahun 2025 menjadi momentum peningkatan kembali alokasi dana program tersebut. Setelah sempat menurun pada 2023 karena masa pemilihan, anggaran kini kembali naik menjadi Rp1 miliar dan akan ditingkatkan lagi menjadi Rp1,5 miliar pada 2026. (ari)

Bank NTB Syariah dan HARSA NTB Gelar Literasi dan Inklusi ‎Keuangan untuk Difabel Berdaya

0
Bank NTB bersama HARSA NTB menyelenggarakan kegiatan Literasi dan Inklusi Keuangan ‎Difabel Berdaya(Ekbis NTB/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Bank NTB Syariah menegaskan komitmennya terhadap inklusi sosial dan ‎pemberdayaan ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan berkolaborasi bersama ‎Harmoni Sahabat NTB (HARSA NTB) menyelenggarakan kegiatan Literasi dan Inklusi Keuangan ‎Difabel Berdaya. Acara yang mengusung tema besar “Inklusi Keuangan untuk Semua, Rakyat ‎Sejahtera, Indonesia Maju” ini berlangsung selama dua hari dengan materi pelatihan praktis, yaitu ‎Barista dan Tataboga.‎

Plt. Direktur Utama Bank NTB Syariah, Zainal Abidin Wahyu Nugroho, menyatakan bahwa ‎kegiatan ini merupakan implementasi nyata dari peran perbankan daerah dalam pembangunan yang ‎inklusif.‎

‎”Kolaborasi dengan HARSA NTB ini adalah wujud nyata dari komitmen Bank NTB Syariah dalam ‎memperluas jangkauan inklusi keuangan syariah, memastikan bahwa semua segmen masyarakat, ‎termasuk teman-teman disabilitas, memiliki akses dan kesempatan yang sama untuk berdaya secara ‎ekonomi. Kami berharap pelatihan ini menjadi awal dari kemandirian dan kesuksesan wirausaha ‎mereka,” ujarnya.‎

Pada sesi pembukaan acara, dilakukan penyerahan secara simbolis 50 paket bantuan dari Dinas ‎Sosial Provinsi NTB. Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial NTB, Armansyah, AKS., MM., ‎hadir dan menyampaikan apresiasi setinggi – tingginya kepada Bank NTB Syariah dan HARSA NTB.‎

‎”Kami sangat mengapresiasi Bank NTB Syariah dan seluruh jajaran, serta rekan-rekan HARSA NTB, ‎yang telah memberikan ruang yang luar biasa untuk membantu pemberdayaan penyandang ‎disabilitas,” ujar Armansyah.‎

Beliau menegaskan bahwa kerja sama ini mencerminkan makna kolaborasi sesungguhnya dalam ‎membangun NTB yang inklusif. “Di sini, perbankan dan organisasi sosial bersatu menjadi mitra ‎pemerintah dalam pemberdayaan disabilitas,” tambahnya.‎

Armansyah juga berpesan kepada para peserta pelatihan untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ‎ini dengan serius. “Harapan kami, rekan-rekan disabilitas peserta pelatihan agar mengikuti kegiatan ‎ini secara serius karena ini akan menjadi bekal pengetahuan dan keterampilan untuk berkembang ‎dan berdaya dalam merintis wirausaha ke depan,” tutupnya.‎

Inisiatif kolaboratif ini sejalan dengan upaya Bank NTB Syariah dalam memperluas jangkauan ‎layanan keuangan syariah sekaligus menjalankan tanggung jawab sosial untuk menciptakan ‎ekosistem ekonomi yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. (bul)

Efek Menteri Keuangan Purbaya,WP di Nusa Tenggara Makin Sadar Bayar Pajak

0
Samon Jaya(Ekbis NTB/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Kehadiran Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa dampak psikologis positif bagi Wajib Pajak (WP), khususnya di Nusa Tanggara (NTB, NTT) dalam membayar pajak.

Kepala Kanwil DJP Nusa Tenggara, Samon Jaya, mengatakan bahwa kesadaran masyarakat untuk taat pajak mulai meningkat, salah satunya karena figur dan gaya komunikasi Menteri Keuangan yang baru.

“Ada efek psikologis di masyarakat. Banyak yang mulai sadar pentingnya pajak setelah melihat gebrakan-gebrakan Pak Purbaya dari media,” ungkap Samon, Kamis 16 Oktober 2025.

Ia mencontohkan, seorang wajib pajak baru-baru ini datang langsung ke kantor pajak untuk menyetor Rp135 juta setelah memahami kewajibannya.

“Dia bilang baru tahu kalau pajak itu bukan cuma pajak motor. Sekarang dia paham soal PPh,” ujar Samon.

Selain peningkatan kesadaran masyarakat, semangat baru juga tumbuh di internal Direktorat Jenderal Pajak. Samon mengungkapkan, semangat itu makin terasa setelah rapat pimpinan nasional yang dihadiri lebih dari 600 pejabat DJP seluruh Indonesia.

“Arahan Menteri Purbaya membuat kami semakin bersemangat. Kita semua siap bekerja keras, menyingsingkan lengan baju untuk Republik ini. Kita dapat banyak pencerahan, terutama dalam hal kolaborasi lintas sektor. Dengan dukungan semua pihak, kami yakin target pajak Nusa Tenggara bisa tercapai,”  kata Samon.

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Nusa Tenggara mencatat, hingga awal Oktober 2025, capaian penerimaan pajak di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menembus Rp3,487 triliun atau 51,31 persen dari target tahunan Rp6,79 triliun.

Dari total penerimaan Rp3,487 triliun, sektor administrasi pemerintahan masih menjadi penyumbang terbesar, mencapai Rp826,45 miliar (43,83 persen). Diikuti oleh perdagangan sebesar Rp297,50 miliar (15,78 persen), jasa keuangan Rp162,47 miliar (8,62 persen), jasa perawatan dan tenaga kerja Rp114,53 miliar (6,07 persen), serta akomodasi dan makan minum Rp87,64 miliar (4,65 persen). Sementara itu, sektor lainnya menyumbang Rp397,13 miliar atau sekitar 21,06 persen dari total penerimaan.

Samon menjelaskan bahwa kontribusi besar dari sektor pemerintahan ini memang lazim terjadi setiap tahun, terutama menjelang akhir tahun anggaran. “Biasanya pembayaran proyek dan belanja pemerintah banyak dilakukan di triwulan terakhir.

“Makanya kita optimis target penerimaan masih bisa dikejar,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengakui adanya potensi perlambatan akibat kebijakan efisiensi proyek pemerintah tahun ini. “Kalau sebelumnya banyak proyek di NTB dan NTT, tahun ini banyak juga proyek yang tidak bisa dilaksanakan. Efisiensi anggaran juga bisa mempengaruhi penerimaan pajak. Karena itu, kita dorong investasi swasta agar perekonomian tetap bergerak,” tambahnya.

Menurut Samon, pertumbuhan ekonomi NTB yang sempat tercatat minus turut menjadi tantangan bagi penerimaan pajak. Meski begitu, ia menilai kondisi ini disebabkan dominasi sektor tambang yang fluktuatif.

“Kalau tambang turun, otomatis PDRB ikut terpengaruh. Tapi sektor lain seperti pertanian justru bisa menjadi penopang utama,” ujarnya.

Ia menilai, sektor pertanian, termasuk komoditas unggulan seperti tembakau di Lombok, berpotensi besar untuk mendukung pergerakan ekonomi dan penerimaan pajak.

“Pertanian harus terus didorong karena kontribusinya besar terhadap PDRB NTB. Kalau sektor riil tumbuh, otomatis basis pajak kita juga meningkat,” tandasnya. (bul)

Fokus Pengembangan Fasilitas Olahraga

0
Lalu Samsul Adnan. (Ekbis NTB/cem)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemprov NTB, khususnya Kota Mataram akan menjadi salah satu venue pertandingan Pekan Olahraga Nasional (PON) di tahun 2028. Infrastruktur olahraga perlu dipersiapkan untuk memberikan kesan baik bagi atlet yang bertanding. Penataan dan pengembangan fasilitas olahraga di Mataram akan difokuskan.

Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kota Mataram, Drs. Lalu Samsul Adnan mengakui, belum secara detail mengetahui perencanaan pengembangan fasilitas  olahraga di Kota Mataram. Akan tetapi, proposal pembangunan maupun penataan infrastruktur olahraga yang diusulkan ke Badan Perencanaan Pembangunan Nasional maupun Kementerian Pemuda dan Olahraga akan dikawal. “Kalau sudah ada akan kita kawal untuk pengembangan fasilitas olahraga,” terangnya.

Pengajuan pengembangan fasilitas olahraga seperti gelanggang olahraga mini, perbaikan Mataram Water Park dan lain sebagainya, telah masuk dalam aplikasi kolaborasi perencanaan dan informasi kinerja anggaran.

Syamsul sangat mendukung pelaksanaan program tersebut, selama memberikan kontribusi yang baik bagi Kota Mataram. “Apa yang sudah tercantum dalam perencanaan akan kita dukung dan lanjutkan,” pungkasnya.

Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Provinsi Nusa Tenggara Timur digadang menjadi tuan rumah pesta olahraga bergengsi tingkat nasional. Artinya, seluruh fasilitas pendukung perlu dipersiapkan untuk menyambut atlet dari seluruh Indonesia.

Fasilitas olahraga yang baik dan lengkap tentunya diharapkan memberikan kesan baik bagi atlet, official serta penonton dari seluruh Indonesia. Kesan baik ini harus dijaga sehingga seluruh syarat harus dipenuhi. (cem)

Pemkot Mataram Studi Tiru ke Lotim,Adopsi Teknologi “Garden House” untuk Tekan Inflasi

0
Pemkot Mataram sedang melakukan studi tiru ke salah satu kelompok tani di Lombok Timur yang menerapkan metode tanam cabai dengan garden house, pada Kamis 16 Oktober 2025. (Ekbis NTB/pan)

Lombok (ekbisntb.com) – Dalam rangka menekan laju inflasi di Kota Mataram, Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) melakukan studi tiru ke Kelompok Tani Orong Balak yang berada di Dusun Bongkemalik, Desa Kerongkong, Kecamatan Suralaga, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), Kamis (16/10/2025).

Kelompok tani tersebut dinilai berhasil menerapkan teknologi garden house dalam budidaya cabai dan tomat sebagai strategi menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas hortikultura di daerah mereka.

Sekda Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri, yang memimpin langsung kunjungan tersebut, menyampaikan bahwa studi tiru ini menjadi langkah awal untuk mengadopsi metode pertanian modern di Mataram, terutama dalam menghadapi tantangan keterbatasan lahan pertanian.

“Dengan keterbatasan lahan yang kita miliki di Kota Mataram, teknologi garden house ini sangat relevan untuk diterapkan. Ini juga membuka peluang kerja sama antara Dinas Pertanian Kota Mataram dengan petani di Lombok Timur,” jelasnya.

Lebih lanjut, Alwan mengungkapkan bahwa pihak Kelompok Tani Orong Balak juga telah menyatakan kesiapannya memberikan pendampingan teknis, pelatihan, serta dukungan apabila teknologi ini ingin diterapkan di Mataram.

Penerapan metode ini direncanakan mulai direalisasikan pada tahun 2026. Menurut Alwan, keberhasilan kelompok tani di Lombok Timur dalam menjaga harga cabai tetap stabil tidak hanya berasal dari teknologi yang digunakan, tetapi juga karena penerapan jadwal tanam dan panen yang terencana dengan baik.

“Dengan penjadwalan tanam yang terukur dan pemanfaatan teknologi, harga cabai dan tomat bisa ditekan agar tidak melonjak drastis di musim-musim tertentu. Ini sejalan dengan target pengendalian inflasi di Kota Mataram,” jelasnya.

Terkait lokasi percontohan, Pemkot Mataram telah mengidentifikasi sejumlah titik yang potensial untuk penerapan teknologi garden house, antara lain di Kelurahan Mandalika dengan lahan seluas 50 are, serta Kelurahan Sayang-Sayang, Rembiga, dan Ampenan Utara.

Untuk tahap awal, satu lokasi akan dijadikan proyek percontohan dengan alokasi anggaran sebesar Rp500 juta, yang akan digunakan untuk pembangunan rumah tanam dan sistem pendukung lainnya.

“Kita akan coba di satu titik dulu. Jika terbukti berhasil, akan direplikasi di kecamatan lain secara bertahap,” tambahnya.

Sementara itu, Pembina Kelompok Tani Orong Balak, H. Subahan, menyambut baik rencana kerja sama tersebut. Ia menyebutkan bahwa teknologi garden house yang diterapkan kelompoknya menelan biaya sekitar Rp500 juta per unit. Jika diterapkan di enam kecamatan di Kota Mataram, anggarannya diperkirakan mencapai Rp3 miliar, angka yang menurutnya tergolong kecil jika dibandingkan dengan manfaat jangka panjang yang akan diperoleh.

“Kalau Rp3 miliar bisa untuk enam kecamatan, itu termasuk kecil. Tapi terakomodir semua. Ketika harga cabai naik, pasokan di Mataram tetap aman,” ujarnya.

Ia juga menegaskan kesiapan pihaknya untuk memberikan pendampingan teknis jika Pemkot Mataram ingin serius mengimplementasikan metode ini.

Sebagai informasi, Kelompok Tani Orong Balak merupakan satu dari perwakilan Provinsi NTB dalam ajang Champion Aneka Cabai Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertanian RI dan diikuti oleh 115 kelompok tani dari seluruh Indonesia. (pan)

Tarung Derajat NTB Sabet 5 Medali Emas di PON Beladiri 2025 Kudus

0
Tarung Derajat NTB Sabet 5 Medali Emas di PON Beladiri 2025 Kudus

Cabang olahraga (cabor) tarung derajat NTB mendominasi di  PON Beladiri 2025 Kudus terbukti sukses memborong 5 medali emas dari multievent bergengsi tersebut, kemarin 16 Oktober 2025. Capaian fantastis ini mendongkrak posisi Kontingen NTB perolehan medali PON Beladiri 2025.

Selain 5 medali emas, tarung derajat NTB juga berhasil mengamankan 3 medali perak dan 1 medali perunggu. Total, cabor ini menyumbangkan 9 medali. Pelatih Tarung Derajat NTB, Dedy Noor Cholish yang aktif pegawai pada Dinas Pemuda dan Olahraga (DISPORA ) Pemprov NTB, tak mampu menutupi rasa bangganya atas prestasi tarung derajat ini.

“Alhamdulillah, ini capaian yang sangat bagus. Jauh meningkat dari capaian kami di PON Aceh-Sumut,” ujar Dedy.

Medali emas NTB yang disumbangkan tarung derajat NTB berasal dari nomor tarung dan seni gerak. Bintang lapangan, Dedi Iswari, peraih emas PON Aceh-Sumut, kembali mempertahankan medali emas di PON Beladiri 2025 Kudus setelah mengalahkan Hizkhiel Pasaji Nasucha asal Jawa Tengah di partai final kelas tarung.

Empat medali emas sisanya didapat dari kategori seni gerak, menunjukkan meratanya prestasi tarung derajat NTB. Peraih medali emas kategori seni gerak adalah Aoura Ratu Thiyen (Rangkaian Gerak Tunggal Putri); pasangan Arkan Fawwaz Heryansyah dan I Made Agus Mei Saputra (Getar Putra Berpasangan); Erlangga Hidayat dan Denis Pebrian (Bertahan Menyerang Dua Arah Putra); serta Rangkaian Gerak Putri Drajat Dua oleh Aoura Ratu Thiyen, Nadila Putri, dan Rizki Rahmawati.

Sementara itu, 3 medali perak Tarung Derajat NTB disumbangkan oleh Nurul Adwiah Zahrani (kelas 45,1-50 kg) yang harus mengakui keunggulan Ainun Kuswandi asal Jawa Barat, M Rizki Difatul Idris (kelas 64,1-67 kg) yang kalah di final dari Hendikha Ramadhoni asal Riau, dan pasangan Nadila Putri/Rizki Rahmawati (Getar Putri Berpasangan). Satu perunggu didapatkan Najmin As Ary (kelas 58,1-61 kg).

Suksesnya perolehan medali dari tarung derajat NTB, koleksi Kontingen NTB kini secara total mencapai 5 medali emas, 3 perak, dan 2 perunggu, sebelumnya sudah ada 1 perunggu dari cabor gulat.

Ketua Pengprov Kodrat NTB, Lalu Winengan, menyebut bahwa prestasi tarung derajat ini adalah buah manis dari pembinaan rutin, aktif, dan motivasi tanpa henti kepada para atlet. “Terima kasih atas partisipasi dan dukungan KONI NTB pada Tarung Derajat NTB,” ujar Winengan.

Ia menegaskan, perolehan medali ini harus dipertahankan, bahkan ditingkatkan di PON 2028.

Winengan juga berharap penuh agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para atlet tarung derajat NTB yang telah mengharumkan nama daerah di PON Beladiri 2025 Kudus.

Perhatian pemerintah sangat kami harapkan. Kami harap Pak Gubernur NTB memberikan apresiasi agar semangat atlet tetap membara dan raihan medali emas bisa dipertahankan hingga PON selanjutnya,” pungkasnya

Secara terpisah, Ketua KONI NTB, Mori Hanafi, turut menyampaikan apresiasi mendalam atas capaian tarung derajat NTB.

“Ini sangat luar biasa. Apa yang didapat Tarung Derajat NTB meningkat tajam dari PON sebelumnya,” ujarnya.

Menurut Mori, dengan raihan cemerlang ini, target 7 medali emas pada PON Beladiri 2025 masih sangat realistis untuk dicapai. Optimisme KONI NTB ini didukung fakta bahwa cabor-cabor potensial lain, seperti pencak silat, kempo, dan karate, belum memulai pertandingan mereka di PON Beladiri Kudus.

Tahun 2025, Dishub Proyeksikan Capaian Target Retribusi Parkir Rp10 Miliar

0
 Zulkarwin (Ekbis NTB/dok)

Lombok (ekbisntb.com) – Dinas Perhubungan Kota Mataram, tak ingin muluk-muluk memasang target. Capaian retribusi parkir sampai akhir tahun 2025, diproyeksikan mencapai Rp10 miliar dari target Rp18,5 miliar.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Mataram, Zulkarwin menjelaskan, pihaknya masih memiliki waktu selama tiga bulan untuk memenuhi target retribusi parkir di tahun 2025. Beberapa strategi telah dipersiapkan diantaranya, pertama, menggalakan penggunaan quick respons indonesian standard (Qris) khusus bagi aparatur sipil negara di lingkup Dishub Kota Mataram. Kedua, koordinator lapangan jukir telah difasilitas kendaraan untuk memaksimalkan pemantauan dan penagihan di lapangan.

Capaian retribusi parkir sampai 14 Oktober mencapai Rp7,8 miliar, sehingga diproyeksikan realisasi sampai akhir bulan Desember Rp10 miliar. “Dari target kita Rp18 miliar. Saya bersama Kepala UPTD Perparkiran memproyeksikan capaian sampai akhir Desember Rp10 miliar,” sebut Zulkarwin.

Berbagai kendala dihadapi untuk memenuhi target yang ditetapkan oleh tim anggaran pemerintah daerah. Seperti kondisi cuaca berpengaruh signifikan terhadap pendapatan juru parkir. Terbukti di bulan September 2025 berkurang Rp20 juta jika dibandingkan dengan capaian di bulan yang sama di tahun 2024.

Kendati demikian, ia tidak menutupi pendapatan retribusi parkir di bulan lainnya hampir tembus Rp1 miliar.

Zulkarwin menyebutkan, proyeksi capaian Rp10 miliar merupakan pendapatan kotor alias bruto. Uang yang masuk ke rekening daerah akan dikembalikan 50 persen ke jukir dalam bentuk insentif. “Uang yang kita terima kemudian dikembalikan lagi ke jukir sebagai insentif,” jelasnya.

Retribusi parkir selalu dipersoalkan adanya titik tidak terdaftar alias ilegal. Korlap selalu diminta untuk mendata dan mendaftarkan titik retribusi parkir potensial sesuai ketentuan. Titik potensial tidak bisa serta merta didaftarkan melainkan perlu dipantau terlebih dahulu.

Mantan Camat Selaparang menegaskan, titik parkir tidak bisa semuanya didaftarkan, terutama yang berada di jalan milik provinsi. Seperti di Jalan Catur Warga, Jalan Adi Sucipto depan bekas Bandara Selaparang dan lain sebagainya. Lokasi parkir diluar ketentuan dan kewenangan Dishub Kota Mataram.

Oleh karena itu, pihaknya perlu berkoordinasi dengan Balai Jalan Nasional untuk mengelola. “Kemungkinan kita bisa diberikan diskresi untuk mengelola walaupun secara aturan tidak diperbolehkan,” ujarnya.

Khusus kebocoran parkir telah diantisipasi dengan melarang korlap menerima setoran secara tunai. Jika jukir meminta bantuan menyetor langsung dibayar ke retail modern atau menyerahkan ke bendahara penerimaan. Kebocoran selalu diributkan sebenarnya diakibatkan jukir tidak langsung menyetor setiap hari. Mereka telah diperingatkan kebiasaan menunda penyetoran berpotensi terjadinya penumpukan pembayaran. “Sering kita peringatkan pendapatan parkir hari itu harus disetor. Kalau perhari setoran Rp50 ribu saja. Kalau sudah tiga hari jadi Rp150 ribu. Ini akan memberatkan mereka,” pungkasnya.

Target retribusi parkir Rp18 miliar berdasarkan asumsi kenaikan tarif parkir sesuai ketetapan Perda Nomor 1 Tahun 2024 tentang pajak dan retribusi daerah. Kebijakan kepala daerah tidak memberlakukan kenaikan tarif parkir, karena fokus pada peningkatan kualitas pelayanan. (cem)

Efek Menteri Keuangan Purbaya, WP di Nusa Tenggara Makin Sadar Bayar Pajak

0
 Samon Jaya

Lombok (ekbismtb.com) – Kehadiran Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membawa dampak psikologis positif bagi Wajib Pajak (WP), khususnya di Nusa Tanggara (NTB, NTT) dalam membayar pajak.

Kepala Kanwil DJP Nusa Tenggara, Samon Jaya, mengatakan bahwa kesadaran masyarakat untuk taat pajak mulai meningkat, salah satunya karena figur dan gaya komunikasi Menteri Keuangan yang baru.

“Ada efek psikologis di masyarakat. Banyak yang mulai sadar pentingnya pajak setelah melihat gebrakan-gebrakan Pak Purbaya dari media,” ungkap Samon, Kamis 16 Oktober 2025.

Ia mencontohkan, seorang wajib pajak baru-baru ini datang langsung ke kantor pajak untuk menyetor Rp135 juta setelah memahami kewajibannya.

“Dia bilang baru tahu kalau pajak itu bukan cuma pajak motor. Sekarang dia paham soal PPh,” ujar Samon.

Selain peningkatan kesadaran masyarakat, semangat baru juga tumbuh di internal Direktorat Jenderal Pajak. Samon mengungkapkan, semangat itu makin terasa setelah rapat pimpinan nasional yang dihadiri lebih dari 600 pejabat DJP seluruh Indonesia.

“Arahan Menteri Purbaya membuat kami semakin bersemangat. Kita semua siap bekerja keras, menyingsingkan lengan baju untuk Republik ini. Kita dapat banyak pencerahan, terutama dalam hal kolaborasi lintas sektor. Dengan dukungan semua pihak, kami yakin target pajak Nusa Tenggara bisa tercapai,”  kata Samon.

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Nusa Tenggara mencatat, hingga awal Oktober 2025, capaian penerimaan pajak di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) telah menembus Rp3,487 triliun atau 51,31 persen dari target tahunan Rp6,79 triliun.

Dari total penerimaan Rp3,487 triliun, sektor administrasi pemerintahan masih menjadi penyumbang terbesar, mencapai Rp826,45 miliar (43,83 persen). Diikuti oleh perdagangan sebesar Rp297,50 miliar (15,78 persen), jasa keuangan Rp162,47 miliar (8,62 persen), jasa perawatan dan tenaga kerja Rp114,53 miliar (6,07 persen), serta akomodasi dan makan minum Rp87,64 miliar (4,65 persen). Sementara itu, sektor lainnya menyumbang Rp397,13 miliar atau sekitar 21,06 persen dari total penerimaan.

Samon menjelaskan bahwa kontribusi besar dari sektor pemerintahan ini memang lazim terjadi setiap tahun, terutama menjelang akhir tahun anggaran. “Biasanya pembayaran proyek dan belanja pemerintah banyak dilakukan di triwulan terakhir.

“Makanya kita optimis target penerimaan masih bisa dikejar,” jelasnya.

Namun demikian, ia mengakui adanya potensi perlambatan akibat kebijakan efisiensi proyek pemerintah tahun ini. “Kalau sebelumnya banyak proyek di NTB dan NTT, tahun ini banyak juga proyek yang tidak bisa dilaksanakan. Efisiensi anggaran juga bisa mempengaruhi penerimaan pajak. Karena itu, kita dorong investasi swasta agar perekonomian tetap bergerak,” tambahnya.

Menurut Samon, pertumbuhan ekonomi NTB yang sempat tercatat minus turut menjadi tantangan bagi penerimaan pajak. Meski begitu, ia menilai kondisi ini disebabkan dominasi sektor tambang yang fluktuatif.

“Kalau tambang turun, otomatis PDRB ikut terpengaruh. Tapi sektor lain seperti pertanian justru bisa menjadi penopang utama,” ujarnya.

Ia menilai, sektor pertanian, termasuk komoditas unggulan seperti tembakau di Lombok, berpotensi besar untuk mendukung pergerakan ekonomi dan penerimaan pajak.

“Pertanian harus terus didorong karena kontribusinya besar terhadap PDRB NTB. Kalau sektor riil tumbuh, otomatis basis pajak kita juga meningkat,” tandasnya.(bul)