Monday, April 27, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 136

Harga Emas Antam Hari Ini Naik Lagi, Kini Meroket Rp78.000/Gram

0
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Lagi, Kini Meroket Rp78.000/Gram

Jakarta (ekbisntb.com) – Harga emas Antam yang dipantau dari laman Logam Mulia, Jumat, terus mengalami kenaikan sejak 11 Oktober 2025.

Kini, harga emas tersebut meroket Rp78.000, dan dijual dengan harga Rp2.485.000 dari awalnya Rp2.407.000 per gram.

Untuk harga jual kembali (buyback) juga meroket ke angka Rp2.334.000 per gram, serta dijual mulai dari 0,5 gram hingga 1 kilogram (1.000 gram).

Transaksi harga jual dikenakan potongan pajak, sesuai dengan PMK No. 34/PMK.10/2017.

Penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3 persen untuk non-NPWP.

PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback. Berikut harga pecahan emas batangan yang tercatat di laman Logam Mulia Antam pada Jumat:

‎- Harga emas 0,5 gram: Rp1.292.500.

‎- ⁠Harga emas 1 gram: Rp2.485.000.

‎- ⁠Harga emas 2 gram: Rp4.910.000.

‎- ⁠Harga emas 3 gram: Rp7.340.000.

‎- ⁠Harga emas 5 gram: Rp12.200.000.

‎- ⁠Harga emas 10 gram: Rp24.345.000.

‎- Harga emas 25 gram: Rp60.737.000.

‎- ⁠Harga emas 50 gram: Rp121.395.000.

‎- ⁠Harga emas 100 gram: Rp242.712.000.

‎- ⁠Harga emas 250 gram: Rp606.515.000.

‎- ⁠Harga emas 500 gram: Rp1.212.820.000.

‎- ⁠Harga emas 1.000 gram: Rp2.425.600.000.

Potongan pajak harga beli emas sesuai dengan PMK Nomor 34/PMK.10/2017, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen untuk pemegang NPWP dan 0,9 persen untuk non-NPWP.

Setiap pembelian emas batangan disertai dengan bukti potong PPh 22. (ant)

KKP Tawarkan Konsep “Waterfront City” Integrasikan Tata Ruang Pesisir

0
KKP Tawarkan Konsep "Waterfront City" Integrasikan Tata Ruang Pesisir

Jakarta (ekbisntb.com) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menawarkan konsep waterfront city sebagai upaya mengintegrasikan tata ruang laut dan darat guna menciptakan pembangunan wilayah pesisir yang berkelanjutan, produktif, dan berdaya saing tinggi.

Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut (PRL) KKP Kartika Listriana menyebutkan keterpaduan perencanaan antara ruang darat dan laut dimaksudkan untuk meminimalisir konflik pemanfaatan ruang, tumpang tindih kebijakan serta menciptakan efisiensi investasi.

“Sebagai modelling penataan ruang laut dan darat, KKP akan mengembangkan kawasan waterfront city yang terencana dan terintegrasi. Lokasi tersebut mencakup kawasan Sabang, Batang, Bitung, Morotai, Marunda, Semarang dan Surabaya,” kata Kartika dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Jumat.

Dia menekankan hal itu dalam pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Sarjana Oseanografi Indonesia yang berlangsung di Semarang, Jawa Tengah.

Pertemuan itu bersamaan dengan momentum Bulan Bakti Kelautan dan Perikanan dalam rangka peringatan HUT ke-26 KKP.

Kartika menyampaikan pengembangan waterfront city bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi melalui pariwisata dan komersial, meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan ekosistem, serta menciptakan kawasan perkotaan yang layak huni dan menarik bagi masyarakat.

“Waterfront city ini diselaraskan dengan pengembangan kawasan berbasis energi baru-terbarukan dan program penurunan emisi kota melalui transformasi kawasan urban pesisir,” ujar Kartika.

Dikatakan selain integrasi antara darat, laut dan pulau kecil sebagai prasyarat utama pengelolaan wilayah pesisir yang berkelanjutan, diperlukan juga penguatan jejaring dengan berbagai pihak seperti perguruan tinggi/akademisi, pemerintah daerah, pelaku usaha dan masyarakat pesisir khususnya dalam penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi kebijakan ruang laut.

“Pendekatan kolaboratif akan memastikan bahwa pengelolaan ruang laut tidak hanya efektif secara teknis namun juga inklusif, adaptif dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan tata ruang laut di Indonesia telah mencapai kemajuan yang signifikan. Salah satunya, Rencana Tata Ruang Laut Nasional telah masuk tahap pengintegrasian dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) dan direncanakan akan ditetapkan pada Desember 2025.

Tidak hanya itu, KKP juga telah menyelesaikan beberapa rencana zonasi di antaranya 17 Rencana Zonasi Kawasan Antarwilayah (RZ KAW), 16 Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional (RZ KSN), 44 Rencana Zonasi Kawasan Strategis Nasional Tertentu (RZ KSNT), serta 34 Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZ WP3K).

Integrasi penataan ruang laut yang dicanangkan dalam One Spatial Planning Policy ini menjadi salah satu bukti konkrit komitmen KKP yang kini memasuki usia ke-26 tahun untuk menyelaraskan pembangunan, menghindari tumpang tindih kebijakan, memberikan kemudahan investasi sekaligus memastikan keberlanjutan ekosistem.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan penataan ruang laut menjadi kunci dalam mencapai tujuan kebijakan ekonomi biru melalui pengaturan pemanfaatan ruang laut secara efisien, adil dan berkelanjutan. (ant)

Siasati Pemangkasan TKD, Komisi I Minta TPP dan Anggaran Rapat Dirasionalisasikan

0

Lombok (ekbisntb.com) –

Menyikapi kebijakan pemangkasan Transfer Keuangan Daerah (TKD) oleh pemerintah pusat pada tahun 2026 mendatang, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) diminta melakukan rasionalisasi terhadap pos-pos anggaran yang dinilai tidak begitu urgent atau kurang mendesak.

Termasuk pos anggaran belanja pegawai yang mengedot anggaran cukup besar. Di antaranya Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) serta anggaran makan minum untuk rapat-rapat.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Loteng Ahmad Syamsul Hadi, di Praya, Kamis (16/10/2025).

Dikatakannya, kebijakan pemangkasan TKD oleh pemerintah pusat tersebut jangan sampai mengganggu atau menghambat implementasi program atau kegiatan yang sifatnya urgent atau mendesak. Terutama program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan publik. Apakah itu infrastruktur dasar seperti jalan dan jembatan.

Maupun program yang berkaitan langsung dengan pelayanan publik. Bahwa masih banyak pos anggaran program yang bisa dirasionalisasikan atau ditunda pelaksanaan programnya, untuk memastikan program yang bersifat urgent dan mendesak bisa tetap dilaksanakan.

Seperti TPP, mungkin tidak dipotong semuanya. Tapi dipotong setengahnya. Dari yang Rp 6 juta misalnya, jadi Rp 3 juta. Kemudian ada anggaran makan minum untuk rapat-rapat.

“Bila perlu kita rapat cukup dengan air putih saja. Tidak perlu ada snack-nya. Bisa kita nakil (bawa bekal dari rumah) kok,” ujarnya.

Terpenting program untuk kepentingan publik tidak terganggu. Sehingga apa yang sudah diprogramkan dan menjadi target capaian program di tahun 2026 mendatang bisa tercapai. Tidak terganggu karena persoalan pemangkasan TKD oleh pemerintah pusat yang memang cukup besar untuk ukuran Loteng mencapai Rp 383 miliar.

“Ini semua bentuk pengorbanan kita sebagai abdi Negara kepada masyarakat. Bahwa kepentingan publik harus tetap menjadi prioritas untuk dijawab dan diselesaikan,” tegas Ketua DPD Partai NasDem Loteng ini.

Dengan kata lain apa yang harus dituntaskan, selesaikan tahun itu juga. Jadi anggaranya jangan dikurangi. Apakah itu pembangunan jalan, jembatan maupun program yang berkaitan dengan kepentingan publik lainnya.

Sementara sesuatu yang masih bisa ditunda tidak masalah ditunda untuk sementara waktu. Sembari ketersediaan anggaran.

“Kebijakan pemangkasan TKD ini mau tidak mau membuat kita harus mengencangkan ikat pinggang. Merasionalisasikna anggaran-anggaran yang tidak begitu urgent. Dengan memprioritaskan anggaran untuk program yang urgent. Tapi itu semua untuk kepentingan publik,” tandasnya. (kir)

Pertanyakan Penggunaan ADD Warga Batutulis Segel Kantor Desa

0

Lombok (ekbisntb.com) –

Puluhan warga Desa Batutulis Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah (Loteng) yang menamakan diri Aliansi Warga Batutulis Menggugat, Kamis (16/10/2025), menyegel kantor desa setempat. Aksi penyegelan terjadi setelah dialog antara warga dengan Kepala Desa (Kades) Batutulis tidak menghasilkan kesepahaman terkait pengelolaan dan penggunaan dana desa. Akibatnya, pelayanan masyarakat di kantor desa terhenti total.

Sebelumnya, di bawah Koordinator aksi Abdul Qodir Jaelani, warga menggelar aksi damai di halaman kantor Desa Batutulis sebagai bentuk protes terhadap sistem pemerintahan desa yang dinilai amburadul. Termasuk dalam hal penggunaan anggaran desa sejak tahun 2019 hingga 2025 yang dinilai tidak transparan.

Tidak hanya itu, banyak program maupun janji kampanye kepala desa yang sampai saat ini belum terealisasikan. Padahal, masa jabatan kepala desa bakal segera berakhir di tahun 2026 mendatang. Sehingga warga kemudian datang untuk meminta penjelasan terkait persoalan-persoalan tersebut. Awalnya, aksi berjalan tenang.

Namun setelah diskusi berlangsung, jalanya aksi kemudian memanas. Pasalnya, warga tidak puas dengan penjelasan yang disampaikan oleh kepala desa terkait aspirasinya. Padahal kepala desa sudah berusaha menjelaskan dan menjawab setiap pertanyaan dari warga.

Warga yang mulai tidak terkendali kemudian bergerak melakukan penyegelan terhadap kantor desa. Aparat kepolisian dibantu anggota Sat Pol PP Loteng sempat berusaha mencegah aksi penyegelan. Namun hal itu tidak membuat warga surut. Menggunakan papan dan bambu, pintu kantor desa pun disegel.

Usai penyegelan situasi perlahan bisa dikendalikan aparat kepolisian. Warga juga perlahan mulai membubarkan diri setelah berhasil menyegel kantor desa. Hingga siang, kepala desa dan apara desa serta personel Sat Pol PP tetap bersiaga di kantor desa.

Untuk memastikan pelayanan masyarakat tidak terganggu, kepala desa bersama perangkat desa setempat kemudian membuka sebagain segel kantor desa. “Untuk hari ini (Kamis kemarin) pelayanan di kantor desa dipastikan terhenti. Tetapi untuk selanjutnya, pelayanan tetap akan berjalan,” tegas Kepala Desa Batutulis Muksin Ghazi, S.Pd.

Terkait aspirasi dan tuntutan warga, ia mengatakan kalau pihaknya sudah sangat transparan dalam mengelola dan menggunakan anggaran desa. Hampir setiap tahun, Inspektorat Loteng turun melakukan audit. Bahkan sejak tahun 2023 lalu, dalam setahun Inspektorat Loteng sampai dua kali melakukan audit.

Hasilnya, sejauh ini semua berjalan baik. Soal kemudian banyak program atau janji kampanye yang belum terlaksana, pihaknya mengaku sudah berupaya maksimal. Tetapi tentu belum bisa semua dijawab. Karena desa juga dihadapkan dengan banyak keterbatasan.

Pun demikian pihaknya mempersilakan warganya jika memang belum puas, terutama terkait pengelolaan anggaran desa untuk menempuh jalur-jalur yang ada. Terpenting jangan mengganggu proses pelayananan di kantor desa.

“Yang jelas kita selama ini sudah berupaya maksimal menjawab apa yang menjadi kebutuhan masyarakat,” ujarnya. (kir)

Kepala Diskominfotik Sebut Pergeseran Anggaran untuk Program Strategis dan Mendesak

0
0-0x0-0-0#

Lombok (ekbisntb.com) –

Dua kali pergeseran anggaran yang terjadi di Pemprov NTB sudah sesuai aturan. Sasaran pergeseran ini menyangkut pada program strategis dan mendesak.

“Kalau bicara mengenai pergeseran anggaran, itu sudah terjadi sejak Covid 19. Dalam satu tahun APBD malah dapat dimungkinkan lebih dari dua kali,” kata Kepala Dinas Kominfotik Provinsi NTB Yusron Hadi melalui siaran persnya, Jumat, 17 Oktober 2025.

Dijelaskan, bahwa pada tahun 2025 terjadi dua kali pergeseran karena penyesuaian alokasi anggaran transfer ke daerah dan lain-lain ke termasuk DBH dan juga dengan terbitnya inpres 1/2025 dan SE Mendagri 900/2025 yang memerintahkan setiap daerah harus melakukan efisiensi dan realokasi anggaran ke isu-isu strategis pembangunan.

Dalam aturan itu termaktub dalam ketentuan tersebut ada 7 isu strategis yang menjadi acuan dalam realokasi atau pergeseran anggaran. “Sasarannya ya kesehatan, pendidikan, infrastruktur dan sanitasi, optimalisasi penanganan inflasi, stabilitas harga makanan dan minuman, cadangan pangan, penciptaan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” bebernya.

Berdasarkan arahan pusat, sambung Yusron, kemudian realokasi anggaran belanja itu mencakup pergeseran dana bagi hasil (DBH) dialokasikan untuk dana transfer DBH ke kabupaten-kota, pembayaran utang BPJS, pembayaran bonus atlet PON, pembangunan infrastruktur jalan dan irigasi, RTLH (rumah tidak layak huni), hibah KORMI untuk Fornas, peningkatan Rumah Sakit dari Tipe C ke Tipe B, kekurangan TPP ASN Pemprov NTB, dan program strategis lainnya.

“Penggunaannya ini atas asistensi dari Kementerian Dalam Negeri. Pemprov NTB tetap melaporkan dan semua belanja kode rekeningnya sesuai SIPD,” terangnya.

Mengenai pergeseran itu sendiri, kata Yusron, tentu saja boleh dilakukan berdasar pasal 163-164 PP 19 Tahun 2019. Pergeseran dimungkinkan karena ada perubahan pada postur pendapatan maupun belanja untuk menyeimbangkan struktur APBD.

“Pergeseran itu boleh dilaksanakan sebelum atau sesudah perubahan APBD dan nanti harus termaktub dalam dokumen perubahan APBD itu ketentuannya” ucapnya.

Kaitan dengan belanja tidak terduga (BTT), dalam posisi masuk pergeseran pertama maupun kedua, nilainya bukan Rp 500 miliar seperti yang beredar. Alokasi sedari awal BTT itu sekitar Rp 5,7 miliar. Kemudian pada 9 Desember 2024 terbit SK hasil evaluasi Mendagri APBD 2025 dan di dalam dokumen hasil evaluasi tersebut kita mendapatkan kejelasan bahwa ada tambahan DBH untuk NTB sebesar Rp 496,97 miliar.

“Pada saat itu baru pagu yang kita terima, uangnya belum ada masuk kas daerah,” ucapnya.

Kenapa anggaran DBH ini ditempatkan dalam anggaran BTT, kata Yusron, dengan pertimbangan bahwa Kemendagri mempersyaratkan revisi hasil evaluasi 7 hari saja. Jika mengubah ke formasi belanja program tidak akan cukup waktu dan kedua pertimbangan efisiensi waktu pembahasan, karena pelaksanaan anggaran 2025 sudah di depan mata, masyarakat sudah menanti kegiatan pemerintah untuk dapat menggerakkan ekonomi masyarakat jika ditunda eksekusi tentu juga bisa berdampak kepada pertumbuhan ekonomi daerah.

“Sehingga pada posisi ini anggaran BTT yang tadinya semula teralokasi Rp 5,7 miliar ditambah DBH Rp496,97 miliar kemudian berubah menjadi Rp502,67 miliar,” urainya.

Mengenai hal ini, tim anggaran pemerintah daerah (TAPD) dan badan anggaran (Banggar) merespons hasil evaluasi APBD kala itu sudah bersepakat bahwa nantinya saat pergeseran APBD bahwa DBH itu akan dialokasikan kembali ke dua hal utama yakni alokasi belanja prioritas pendukung program nasional dan pencapaian visi misi kepala daerah baru serta.

“Termasik belanja prioritas yang belum teralokasi pada APBD 2025 awal. Pada saat ini anggaran untuk DBH itu baru pagu saja belum ada uangnya masuk kas daerah,” imbuhnya.

Penggunaan anggaran BTT tahun 2025, untuk bencana dan kondisi darurat sebesar Rp 2,4 miliar yang semuanya di gunakan sesuai ketentuan pada pasal 68 dan 69 dalam PP 12/2019.

Anggaran BTT dari awalnya Rp 5,7 miliar kemudian sudah ada digunakan sebesar Rp 2,4 miliar dan saat ini tersisa menjadi sebesar Rp 16,4 miliar berarti sesungguhnya ada penambahan belanja BTT sebesar Rp 13,1 miliar atau 229% dari posisi awal anggaran 2025.

“Pemerintah siap menggunakannya untuk penanganan bencana atau keadaan darurat,” tutupnya.

Adapun hal berkenaan dengan adanya pelaporan dari masyarakat, Pemprov menghormati proses yang berjalan dan para pihak yang terkait siap dimintai keterangan.

“Semoga ini menjadi pemantik buat kami lebih baik ke depan. Mari energy yang besar ini kita manfaatkan untuk bangun bersama bersinergi memajukan daerah kita tercinta,” ujarnya. (ham)

Sumbawa Beri Atensi Khusus Terkait Keberadaan Koperasi Tambang

0
A. Adi Nusantara(Ekbis NTB/ils)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (KUKMindag) memberikan atensi khusus terkait keberadaan koperasi tambang. Terutama terkait legalitas untuk operasional koperasi tersebut.

“Kami berencana akan memanggil pengurus koperasi tambang yang telah terbentuk untuk memastikan aspek legalitas dan operasional koperasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” kata Kepala Dinas KUKMindag E. S Adi Nusantara, kepada wartawan, Kamis 16 Oktober 2025.

Adi melanjutkan, terkait pengawasan koperasi tambang, pihaknya tidak bisa bekerja sendiri. Koordinasi bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait akan dilakukan, guna memastikan koperasi benar-benar dijalankan untuk kepentingan anggotanya.

“Kami ingin memastikan apakah seluruh aspek legal koperasi ini sudah terpenuhi. Jangan sampai ada koperasi yang hanya formalitas, sementara pemanfaatannya justru tidak ke anggota,” ucapnya.

Ia menambahkan, prinsip dasar koperasi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Jika dalam praktiknya justru pihak lain yang lebih banyak menerima manfaat, maka tujuan utama koperasi menjadi tidak tercapai.

“Kami ingin koperasi benar-benar berperan sebagai badan usaha milik anggota, bukan sekadar pelengkap administrasi dalam kegiatan usaha pertambangan. Jangan sampai koperasi hanya ‘baju’ saja,” tegasnya.

Ia mengakui, memang saat awal pembentukannya, pengurus koperasi telah melakukan pemberitahuan. Namun, unit usaha yang dijalankan umumnya langsung diajukan oleh masing-masing koperasi ke sistem OSS (Online Single Submission).

“Proses perizinan sekarang banyak yang langsung melalui OSS. Karena itu, kami ingin mengecek kembali apakah koperasi-koperasi ini termasuk kategori risiko rendah, menengah, atau tinggi,” tambahnya. (ils)

Progres 62 Persen, Proyek Alun-Alun Lombok Utara Diperpanjang Sampai Desember

0
Masuk addendum, proyek Alun-alun Kota Tanjung, Lombok Utara masih berproses. (Ekbis NTB/ist)

Lombok (ekbisntb.com)Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perkim Kabupaten Lombok Utara, memperpanjang proses konstruksi proyek Alun-alun Kota Tanjung. Addendum telah disepakati untuk lama pengerjaan sampai dengan bulan Desember 2025.

Hal tersebut dikatakan Kepala Bidang Cipta Karya, pada Dinas PUPR Perkim KLU, Rangga Wijaya, ST., Kamis 16 Oktober 2025. Kepada wartawan, Rangga mengatakan addendum proyek telah disepakati sampai dengan akhir tahun 2025

Pasalnya, realisasi fisik baru mencapai 62 persen akibat keterlambatan proses eksekusi pemindahan Koramil yang berada di lokasi proyek.

“Pelaksanaan proyek tidak dapat dimulai lebih awal karena harus menunggu proses administrasi pemindahan Koramil dari Kementerian terkait di pusat,” ujarnya.

Rangga menyebut, administrasi pemindahan Koramil baru akan tuntas pada akhir Oktober ini. Setelah administrasi selesai, maka area kantor eks Koramil akan dieksekusi untuk dijadikan akses masuk menuju Kantor Bupati.

Ia mencatat, jalannya proyek mengalami keterlambatan. Namun demikian, pihaknya optimis pihak ketiga yang ditunjuk dapat mengejar sisa waktu program dengan memastikan kualitas dan estetika.

Program fisik ini sendiri, dibiayai dari dana APBD induk Lombok Utara tahun 2025 dengan pagu sebesar Rp5,4 miliar. Anggaran itu mencakup pembangunan area depan alun-alun, gerbang utama, serta akses jalan masuk menuju kompleks kantor Bupati selebar 5 meter dengan panjang sekitar 200 meter.

“Ini akan menjadi ikon baru Lombok Utara. Kita buat desain yang estetik agar malam hari juga bisa dinikmati masyarakat,” demikian Rangga. (ari)

Perdana, 412 Warga KSB Terima Bantuan Layanan Maju UMKM

0
Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah menyerahkan buku tabungan bagi penerima bantuan layanan Maju UMKM, Kamis 16 Oktober 2025..(Ekbis NTB/ist)

Taliwang (ekbisntb.com) – Sebanyak 412 warga Kabupaten Sumbawa Barat yang memiliki usaha di bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mulai menerima bantuan modal usaha melalui layanan maju UMKM.

Penyerahan bantuan salah satu bidang layanan pada Program Kartu KSB Maju itu diselenggarakan oleh Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag), Kamis 16 Oktober 2025. Bupati KSB, H. Amar Nurmansyah turun langsung mengawal proses penyaluran perdana program batuan penguatan ekonomi masyarakat tersebut.

Para penerima bantuan Maju UMKM itu adalah warga yang selama ini memiliki berbagai jenis usaha skala kecil. Kelala Dinas Koperindag KSB, Suryaman menyebut, sebagian besar dari mereka dalam mengelola usahanya masih secara tradisional. “Kalau pedagang skalanya masih kios, kalau kuliner berupa warung, usaha bakulan, hingga aneka usaha kecil lainnya,” kata Suryaman dalam laporannya.

Ia pun merinci penerima perdana layanan Maju UMKM ini. Suryaman menyebut, untuk pedagang bakulan sebanyak 192 KK (Kartu Keluarga), pedagang kios 147 KK dan usaha kuliner sebanyak 73 KK.

“Mereka ini masuk dalam Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN),” katanya.

Selain bantuan modal, ada pula bantuan peralatan usaha. Dikatakan Suryaman, pada penyaluran perdana ini bantuan peralatan itu dibagikan kepada 93 KK. “Yang 93 KK ini diluar DTSEN,” urainya.

Dia menyebut besaran bantuan modal usaha yang diberikan kepada pelaku UMKM tersebut bervariasi. Untuk usaha bakulan bantuan diberikan dengan nominal Rp1.500.000 , sementara bagi pelaku usaha kios serta usaha kuliner sebesar Rp2.500.000.

Ia selanjutnya mengatakan, seluruh daftar penerima bantuan sebelumnya telah melalui proses verifikasi yang ketat. Bantuan diberikan tunai melalui Kartu KSB Maju dalam bentuk rekening tabungan di Bank NTB Syariah yang dilengkapi dengan fitur kartu ATM dan kode QR. “Jadi, penerima bantuan modal UMKM ini seluruhnya bersumber dari DTSEN yang telah diperivikasi pemerintah,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati KSB, H Amar Nurmansyah berharap, agar para penerima memanfaatkan sebaik mungkin modal yang diterimanya itu. Pemanfaatannya benar-benar untuk mengembangkan usaha mereka. “Jangan untuk yang lainnya. Begitu juga yang terima peralatan pakai untuk membuat usaha sesuai usulannya,” pintanya.

Bupati juga berharap kepada Dinas Koperindag agar memantau perkembangan setiap usaha masyarakat yang telah mendapatkan bantuan. “Dampingi mereka. Jalan dilepas begitu saja,” tandasnya. (bug)

Dompu Ajukan Lebih Banyak Desa untuk Kampung Nelayan Merah Putih

0
Bupati Dompu, Bambang Firdaus bersama jajarannya meninjau rencana lokasi program Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Pekat awal pekan ini.(Ekbis NTB/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemerintah daerah (Pemda) Kabupaten Dompu terus mendorong dukungan pemerintah pusat untuk membiayai kesejahteraan rakyat di tengah keterbatasan fiskal daerah. Kampung Merah Putih yang menjadi program unggulan KementErian Kelautan dan Perikanan, jadi target Pemda Dompu untuk membantu peningkatan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir.

“Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) tidak ada hubungannya dengan pembangunan rumah, karena itu ranahnya PKP. Program KNMP arahnya pada penyediaan sarana prasarana bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan dari hilir ke hulu,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Dompu, Amiruddin, S.Hut., saat dikonfirmasi, Kamis 16 Oktober 2025.

Ia pun mencontohkan untuk armada penangkapan ikan atau kapal nelayan, alat penangkap ikan, dermaga perikanan, balai pertemuan nelayan, bangunan pabrik es, bangunan cool storage, fasilitas wisata kuliner, mobil berpendingin, pemecah gelombang, sepadan Pantai dan lainnya. “Kita sesuaikan dengan kondisi wilayah setempat dan kebutuhan Masyarakat nelayan di desa setempat,” ungkapnya.

Amiruddin mengaku, dirinya bersama Bupati dan jajaran melakukan peninjauan beberapa Lokasi yang akan diajukan untuk mendapatkan program KNMP tahun 2026. Karena pihaknya masih memiliki waktu untuk mengajukan hingga 17 Oktober 2025 ini. Termasuk ke Pantai Desa Pekat Kecamatan Pekat. “Untuk Desa Pekat kita maksimalkan usulannya sesuai menu yang tersedia, kecuali dermaga perikanan, karena di sana sudah ada (dermaga),” katanya.

Di Kecamatan Pekat ada dua desa yang diusulkan yaitu Desa Pekat dan Desa Nangamiro. Di Kecamatan Kilo juga mengusulkan DUA desa yaitu Desa Kramat dan Desa Malaju. Desa Soro Kecamatan Kempo. Desa Kawangko Kecamatan Manggelewa. Desa Bara dan Mumbu Kecamatan Woja. Desa Mbawi Kecamatan Dompu. Desa Jambu Kecamatan Pajo. Desa Hu’u Kecamatan Hu’u.

“Desa Jala Kecamatan Hu’u yang sudah lebih awal prosesnya, tinggal menunggu kunjungan tim KKP untuk peninjauan Lokasi sebelum penetapan oleh MentEri. Pelaksanaan tahap dua ini direncanakan November 2025–Maret 2026,” ungkapnya.

Desa Jala diusulkan untuk KNMP yang fokus pada perikanan tangkap. Ketika terealisasi, pengelolanya oleh Koperasi Merah Putih di desa setempat, usulannya sekitar Rp.21,5 M. Namun realisasinya masih menunggu hasil kunjungan tim. (ula)

ADD 2026 di Sumbawa Diproyeksi Turun 11,8 Persen

0
Rachman Ansori(Ekbis NTB/ils)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Sumbawa mengaku besaran anggaran untuk Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2026 diproyeksikan turun 11,8 persen dari tahun sebelumnya.

“ADD tahun 2026 turun dari Rp153 miliar menjadi Rp132 miliar, sehingga dikhawatirkan akan berpengaruh terhadap pelaksanaan program pembangunan yang ada di desa,” Kata Kadis PMD Sumbawa, Rachman Ansori kepada Suara NTB, Kamis 16 Oktober 2025.

Ia melanjutkan, penurunan ADD tersebut terjadi lantaran adanya pemangkasan dana tranfer ke daerah yang diberlakukan pemerintah pusat. Sementara untuk program prioritas yang akan dilaksanakan di desa nantinya, pihaknya masih menunggu petunjuk dari Pemerintah Pusat.

“Kami berharap mudah-mudahan anggaran yang sudah kecil tersebut tidak diatur lagi untuk pelaksanaan program prioritas yang ada di masing-masing desa,” ucapnya.

Kalau pun nanti dalam pelaksanaan APBDes ada program prioritas yang harus dilaksanakan di tingkat desa, ia mengharapkan porsi anggaran berubah. Jika skema tersebut kembali diberlakukan maka pasti akan banyak Kades yang protes.

“Kami tidak ingin ada lagi program seperti ketahanan pangan sebesar 20 persen sehingga desa memiliki program prioritas lain yang bisa dikerjakan secara bersamaan,” Ucapnya

Sementara terkait dengan pembangian pagu anggaran terhadap masing- masing desa, pihaknya menunggu informasi lebih lanjut. Upaya tersebut dilakukan supaya tidak menimbulkan masalah di kemudian hari di tengah pemangkasan ADD tahun 2026.

“Memang ADD kita turun di tahun 2026 karena menurunnya anggaran transfer dari Pusat tetapi hal itu tidak akan berpengaruh terhadap pelaksanaan program di desa,” tukasnya. (ils)