Monday, April 27, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 134

Tekan Stunting, Lobar Beli Susu Senilai Rp3,5 Miliar

0
Wabup Lobar Hj. Nurul Adha turun memantau skrining anak stunting di puskesmas. (Ekbis NTB/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Wakil Bupati (Wabup) Lombok Barat (Lobar) Hj. Nurul Adha mengatakan untuk penanganan kasus stunting, Pemkab Lobar mengalokasikan Rp3,5 miliar untuk pembelian susu. Susu ini dipesan khusus di perusahaan. Penanganan stunting melalui intervensi susu ini sesuai hasil rekomendasi dari dokter spesialis anak.

“Rp3,5 miliar kita pesan khusus susu PKMK ini di Perubahan (APBD perubahan), sudah berproses,”kata Hj Nurul Adha, akhir pekan kemarin.

Pengadaan susu ini tak lepas dari komitmen Pemkab Lobar dalam hal ini Bupati Lobar H. Lalu Ahmad Zaini yang turun melihat anak-anak yang ditangani stunting melalui pemberian makanan tambahan. Sehingga keterbatasan susu bagi anak-anak pun diminta agar ditambah anggarannya oleh Bupati Lobar. “Beliau paham kebutuhan untuk penanganan stunting,” imbuhnya.

Saat ini, lanjut Wabup bahwa fokus penanganan stunting pada anak usia 0-2 tahun. Karena untuk menyelamatkan perkembangan otak anak pada usia dua tahun pertama. Bentuk treatment-nya adalah pemberian susu. Yang baru ditangani tahap awal dengan pemeriksaan dokter spesialis anak sebanyak 400 anak dari 1.266 anak.

Dari hasil zoom meeting dengan dokter spesialis anak, bersama tim puskesmas dan Dinas Kesehatan, rencananya skrining atau tata laksana pemeriksaan stunting. Sambil kata dia menunggu susu yang sedang proses pengadaan. Karena susu yang telah diadakan sebelumya sudah habis. “Susu sedang pengadaan, susu berdasarkan Permenkes memenuhi standar pemenuhan gizi khusus untuk stunting,” imbuhnya.

Pihaknya sudah memesan susu khusus tersebut di perusahaan, dimana pada November bisa tersedia. Sistem dan skema pola kerja penanganan stunting ini berbasis puskesmas, nantinya pihak puskesmas yang verifikasi data anak-anak stunting di masing-masing desa. “Mana yang prioritas itu yang kita sasar,” sambungnya.  (her)

Peternak Lombok Timur Dambakan Kembali Bantuan Subsidi Kawin Suntik Ternak

0
Kandang kolektif milik warga Lenek. Peternak mengharapkan pemerintah mengganggarkan kembali subsidi kawin suntik ternak. (Ekbis NTB/rus)

Lombok (ekbisntb.com) – Para peternak di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mendambakan kembali hadirnya bantuan pemerintah untuk program Inseminasi Buatan (IB) atau yang dikenal sebagai “kawin suntik”. Bantuan yang sempat terhenti selama dua tahun terakhir ini dinilai sangat besar manfaatnya untuk mempercepat kehamilan ternak dan meningkatkan populasi.

Majrun, salah seorang peternak di Lotim, mengungkapkan kerinduan akan program tersebut. Menurutnya, dengan IB, mendapatkan sapi eksotik seperti simental dan brangus menjadi jauh lebih mudah.

“Sudah cukup lama bantuan IB ini tidak pernah ada lagi. Padahal, untuk bisa dapat sapi eksotik seperti simental, brangus dan jenis lainnya sangat mudah lewat cara IB. Kawin alami cukup susah mengingat sapi jantan dengan kualitas terbaik susah diperoleh,” ujarnya.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lotim, H. Masyhur, mengonfirmasi terhentinya bantuan tersebut. Ia menyebut bantuan straw atau semen cair beku dari pemerintah pusat telah dihentikan sejak 2024.

Menurut H. M. Masyhur, tidak adanya IB subsidi Ini menjadi problem dalam upaya meningkatkan jumlah populasi ternak. Diketahui jumlah populasi ternak di Lotim saat ini 140 ribu ekor. “Kita terkendala dalam penambahan populasi ternak, kita itu sangat kita harapkan bantuan IB ini kembali ada,” harapnya.

Dia mengkhawatirkan, tanpa bantuan IB, populasi ternak di Lotim akan terus berkurang, terutama mengingat tingginya angka pemotongan. Kekhawatiran ini diperparah dengan peran Lotim sebagai salah satu kabupaten penyuplai utama daging sapi bagi beberapa kabupaten di Pulau Lombok.

Meski bantuan pusat terhenti, proses IB di masyarakat masih berjalan secara swadaya. Namun, hal ini memberatkan peternak karena biayanya yang cukup tinggi.

Kegiatan pelaksanaan IB memang tetap ada, tapi dibeli secara swadaya oleh peternak, sedangkan sekali melakukan IB biayanya cukup mahal dan butuh 2-3 kali dilakukan, baru bisa berhasil,” jelas Masyhur.

Senada Kadisnakeswan, Kabid Peternakan Disnakeswan Lotim, drh. Zulfan Ashri, menambahkan bahwa saat ini peternak yang ingin melakukan IB harus membeli straw secara mandiri dari Lembar dan Banyumulek di Lombok Barat.

Zulfan mengungkapkan bahwa pihaknya telah bersiap mengajukan proposal untuk meminta bantuan pada tahun 2026.  Disnakeswan Lotim mengakui sudah ajukan proposal ke pemerintah pusat. Harapannya untuk tahun 2026 Lotim kembali dapat bantuan yang sangat didambakan petani tersebut.

Kebutuhan akan straw ini sangat besar. Dengan jumlah sapi betina produktif mencapai 36.000 ekor, Lotim membutuhkan sekitar 56.000 straw mengingat setiap sapi umumnya membutuhkan 2-3 straw untuk berhasil bunting.  (rus)

Kantongi Sertifikat Kurma, Lombok Utara Sudah Bisa Programkan Budidaya Kurma di Masyarakat

0
Varietas Kurma KLU memiliki nama Sertifikasi "Kurma Kumari". Mulai tahun 2026, Pemda akan mendukung usulan budidaya yang diajukan oleh masyarakat melalui kelompok. (Ekbis NTB/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Potensi kurma Kabupaten Lombok Utara (KLU) untuk menunjang ekonomi dan ketahanan pangan di masyarakat, semakin terbuka lebar. Hal ini setelah Pemda KLU mengantongi Sertifikasi Kurma Varietas Lombok Utara dengan nama “Kurma Kumari Lombok Utara”.

Kepala Dinas Ketahanaan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3), KLU, Tresnahadi, S.Pt., Sabtu 18 Oktober 2025 mengungkapkan, Pemda KLU secara resmi sudah bisa memulai pengembangan budidaya kurma melibatkan masyarakat melalui anggaran daerah. Sebelumnya, program ini belum dapat dirancang karena kendala usulan varietas kurma khas KLU belum keluar dari Kementerian Pertanian.

“Varietas kurma sudah keluar sekitar 4 bulan lalu. Artinya, kita sudah bisa mengucurkan anggaran daerah untuk bantuan pengadaan bibit,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kurma KLU sudah diperhitungkan baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini tidak lepas dari suksesnya pembinaan kurma oleh Asosiasi Kurma Ukhuwah Datu Lombok Utara yang mampu menghasilkan produksi kurma kualitas sangat baik.

“Pada festival kurma tahun lalu di Abu Dhabi, kualitas kurma KLU diakui dengan berada pada peringkat ke-17 terbaik dunia dari sejumlah negara penghasil kurma,” ujarnya.

Tresnahadi menyambung, kurma memiliki potensi besar sebagai salah satu sumber ekonomi dan pangan. Mengingat produksi kurma KLU yang bisa berbuah sepanjang musim, serta tingkat hasil yang cukup menjanjikan, memberi peluang bagi masyarakat untuk membangun ekonomi.

Ia mencontohkan, dalam setiap pohon kurma dapat menghasilkan minimal 4 tandan dengan perkiraan berat per tandan mencapai 8-10 kg. Artinya, dengan harga jual kurma per kilo minimal Rp 200 ribu, maka dalam satu tandan, masyarakat mendapatkan penghasilan minimal Rp 1,6 juta per tandan.

“Dengan potensi besar inilah, maka Pak Bupati memerintahkan DKP3 untuk mulai merancang ekspansi budidaya di masyarakat. Kita rencanakan mulai tahun depan (2026), tentu dengan pendekatan kelompok karena arahnya pengembangannya adalah dengan memberikan bantuan bibit ke masyarakat,” sambungnya.

Menurut dia, budidaya kurma oleh masyarakat dapat dilakukan secara mandiri, berkelompok, maupun mengikuti sistem Pola Nyakap (Bagi Hasil) yang sudah diterapkan oleh Ukhuwah Datu Lombok Utara. Melalui Pola Nyakap, masyarakat hanya perlu menyiapkan lahan untuk ditanami dengan hasilnya dibagi masing-masing satu per tiga antara pemilik lahan, pemodal, dan asosiasi pendamping.

“Saran kita jika ada masyarakat yang berminat, supaya segera mengajukan proposal.  Untuk target areal lahan, kita tidak patok, namun jika ada kelompok yang berminat budidaya, akan kami respon cepat. Makin banyak makin bagus,” tandasnya. (ari)

MIM Foundation Dorong Ekonomi Umat Lewat Inovasi Wakaf Produktif dan Ekosistem Syariah

0
Romi Saefuddin(Ekbis NTB/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – MIM Foundation terus memperkuat peran lembaga filantropi Islam dalam mendorong kemandirian ekonomi umat melalui pengelolaan wakaf produktif dan pengembangan ekosistem keuangan syariah.

Lembaga ini menjadi satu-satunya nazhir berbadan hukum di NTB yang diakui oleh Kementerian Agama (Kemenag) dan Badan Wakaf Indonesia (BWI) untuk mengelola dana wakaf, baik wakaf tunai maupun aset lainnya.

Ketua MIM Foundation, Romi Saefuddin, menjelaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya lahir sebagai bagian dari ekosistem syariah yang menjadi sayap lembaga keuangan BPRS Dinar Ashri atau Bank Dinar. Bank Dinar dan MIM Foundation membentuk ekosistem halal yang tidak hanya fokus pada zakat, tetapi juga wakaf sebagai sumber pendanaan pembangunan ekonomi umat.

“Kalau zakat lebih banyak untuk pengentasan masalah sosial yang sifatnya cepat dan jangka pendek, maka wakaf berfungsi membangun kehidupan ekonomi yang berkelanjutan,” jelas Romi.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan wakaf harus berorientasi pada keberlangsungan aset. Dana wakaf sifatnya harus tetap, hanya hasil pengembangannya yang boleh dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat.

Karena itu, MIM Foundation berperan sebagai pengelola investasi umat, sementara Bank Dinar Syariah berfungsi sebagai lembaga keuangan syariah penerima wakaf (LKS-PWU).

Melalui kolaborasi ini, MIM Foundation mengelola lima pilar utama program pemberdayaan, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan, kemanusiaan, dan ekonomi umat. Beberapa program sudah berjalan efektif, termasuk pemberdayaan usaha kecil berbasis wakaf dan dukungan kepada kelompok rentan seperti ibu kepala keluarga dan mualaf.

“Alhamdulillah, semua pilar sudah berjalan. Fokus kami saat ini memperkuat sektor ekonomi dengan instrumen syariah. Wakaf menjadi modal utama dalam membangun bisnis umat yang mandiri,” tambahnya.

Romi menjelaskan, produk wakaf kini telah menjadi bagian dari sistem keuangan nasional dan diakui dalam peta pembangunan ekonomi Indonesia 2025 menuju Indonesia Emas 2045.

“Instrumen syariah, terutama wakaf, memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan ekonomi. Karena itu, kami ingin menjadikan NTB sebagai percontohan pengembangan wakaf produktif di Indonesia Timur,” tegasnya.

MIM Foundation juga sedang menyiapkan beberapa produk inovasi wakaf, seperti Wakaf Cilik (Wakcil) dan Wakafi, yang menyasar sektor Usaha Mikro dan Kecil (UMK).

“Wakcil ini fokus pada pengembangan UMK berbasis wakaf, dengan pendekatan inkubasi bisnis. Sementara Wakafi adalah produk keuangan syariah yang menggabungkan pemberdayaan potensi lokal dengan sistem wakaf,” ujarnya.

Salah satu contoh sukses penerapan konsep ini adalah Program Pojok UMKM, yang didirikan untuk membantu ibu kepala keluarga dan mualaf agar bisa mandiri secara ekonomi. Melalui intervensi modal berbasis wakaf, para penerima manfaat kini mampu menjalankan usaha kecil yang produktif.

“Dulu banyak di antara mereka yang tidak punya pekerjaan tetap. Sekarang, alhamdulillah, ada yang bisa berjualan dengan omzet mencapai Rp400 ribu per hari, atau sekitar Rp8 juta sebulan,” ungkap Romi.

Selain bantuan modal, MIM Foundation juga menyediakan pendampingan usaha dan pelatihan agar penerima manfaat bisa mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan. “Kami tidak hanya menyalurkan dana, tapi juga membentuk ekosistem usaha yang kuat agar mereka bisa naik kelas,” imbuhnya.

Ke depan, MIM Foundation menargetkan NTB menjadi pusat pengembangan wakaf produktif berbasis ekonomi lokal, dengan mendorong sinergi antara lembaga keuangan syariah, pelaku UMKM, dan masyarakat.

“Harapannya, wakaf tidak hanya dipahami sebagai ibadah sosial, tetapi juga instrumen ekonomi yang mampu menumbuhkan kesejahteraan dan mengurangi kemiskinan,” pungkas Romi. (bul)

Tips Aman Berkendara Saat Musim Panas, Tetap Nyaman dan Selamat di Jalan Bersama Honda

0
Kondisi cuaca panas bisa berdampak pada pengendara maupun sepeda motor(Ekbis NTB/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Musim panas yang terik sering kali membuat aktivitas berkendara menjadi kurang nyaman. Paparan sinar matahari yang intens tidak hanya membuat tubuh cepat lelah, tetapi juga dapat memengaruhi konsentrasi dan kondisi motor. Untuk itu, Astra Motor NTB melalui Instruktur Safety Riding memberikan sejumlah tips agar pengendara tetap aman dan nyaman selama berkendara di musim panas.

Instruktur Safety Riding Astra Motor NTB, Satria Wiman Jaya, menjelaskan bahwa kondisi cuaca panas bisa berdampak pada pengendara maupun sepeda motor. Penting bagi setiap pengendara untuk mempersiapkan diri dan motor sebelum bepergian. Pastikan kondisi tubuh fit, gunakan perlengkapan berkendara yang sesuai, dan periksa tekanan angin ban agar tidak berlebihan karena suhu panas bisa membuat tekanan meningkat.

“Gunakan perlengkapan berkendara lengkap dan ringan. Pilih jaket berbahan ringan namun tetap melindungi dari sinar UV. Gunakan helm full face yang memiliki ventilasi cukup agar sirkulasi udara lancar. Jangan lupa juga untuk menjaga hidrasi tubuh karna cuaca panas dapat menyebabkan dehidrasi dan menurunkan fokus,” jelas Satria.

Cek kondisi motor secara rutin. Periksa tekanan ban, oli, dan sistem pendinginan mesin. Panas ekstrem dapat mempercepat penguapan oli dan memengaruhi performa mesin. Waspada terhadap pantulan cahaya dan debu jalanan. Gunakan kaca helm bening atau visor anti-glare untuk melindungi mata dari silau dan debu. Pilih waktu berkendara yang tepat. Jika memungkinkan, hindari berkendara di jam-jam dengan intensitas panas tertinggi antara pukul 11.00–14.00.

“Keselamatan bukan cuma soal kecepatan atau kelengkapan motor, tapi tentang kesiapan diri dan kepedulian di jalan. Saat cuaca panas, jangan paksakan tubuh, karena fokus dan kenyamanan adalah kunci utama keselamatan,” ungkapnya.

Melalui edukasi dan pelatihan yang rutin dilakukan oleh tim Safety Riding Astra Motor NTB, diharapkan masyarakat semakin sadar pentingnya keselamatan berkendara dalam segala kondisi cuaca. Honda terus berkomitmen untuk mendukung terciptanya budaya berkendara yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab melalui semangat #Cari_Aman di Jalan. (bul)

Pengurus Koperasi Merah Putih di Mataram Minta Kejelasan Akses Modal ke Himbara

0
Sekretariat Koperasi Merah Putih Kelurahan Ampenan Utara, Kecamatan Ampenan, pada Minggu 19 Oktober 2025. Hingga kini pengurus KMP belum mendapatkan akses pinjaman modal ke bank himbara. (Ekbis NTB/pan)

Lombok (ekbisntb.com) – Pengurus Koperasi Merah Putih di Kota Mataram, meminta kejelasan terkait akses pengajuan modal usaha ke perbankan, khususnya melalui himpunan bank milik negara (Himbara). Pasalnya, seluruh legalitas koperasi, baik akta notaris maupun struktur kepengurusan, telah diselesaikan secara administratif.

Salah seorang Ketua Koperasi Merah Putih Kelurahan Ampenan, Sawaludin mengatakan, sejauh ini pihaknya belum mendapatkan informasi atau arahan resmi terkait prosedur pengajuan pinjaman modal dari Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kota Mataram. Padahal, koperasi yang dipimpinnya telah siap untuk mengakses permodalan guna menjalankan usaha secara optimal.

“Sampai sekarang belum ada kejelasan prosedur atau teknis pengajuan ke Himbara dari dinas terkait. Kami terus berkoordinasi dan menunggu arahan,” ujarnya, Minggu 19 Oktober 2025.

Sambil menunggu kejelasan prosedur dari dinas, Sawaludin mengatakan bahwa pihaknya tetap menjalankan kegiatan koperasi secara mandiri. Beberapa pengurus telah berinisiatif mengumpulkan modal pribadi untuk memulai kegiatan usaha dalam skala kecil.

Karena itu, pihaknya merencanakan pekan depan akan mulai menjalankan usaha, meskipun dengan modal terbatas. Ini sebagai langkah awal sambil menunggu akses modal yang lebih besar.

“Insya Allah kami mulai dengan modal seadanya, yang penting kami kelihatan bahwa KMP di Kelurahan Ampenan Utara sudah berproses dan memulai membuka usaha,” jelas Sawaludin.

Adapun jenis usaha yang akan dikembangkan oleh Koperasi Merah Putih Ampenan Utara adalah penjualan sembako. Bahkan, Sawaludin menyebut pihaknya telah melakukan komunikasi awal dengan pihak Bulog untuk kemungkinan kerja sama dalam penyediaan bahan kebutuhan pokok.

Untuk mempercepat akses ke permodalan, pihak koperasi berharap pendamping koperasi dapat membantu memfasilitasi komunikasi teknis dengan Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kota Mataram, serta memberikan pendampingan prosedural dalam pengajuan pinjaman ke Himbara.

“Sampai hari ini kami juga belum tahu Himbara mana yang bisa kami akses untuk mendapatkan modal. Belum ada kejelasan,” ujarnya.

Dengan inisiatif ini, ia berharap koperasi yang dipimpinnya dapat segera berkembang dan berkontribusi dalam memperkuat ekonomi kerakyatan di wilayah Ampenan Utara.

Sementara itu, Staf Ahli Bidang Perekonomian, Keuangan, dan Pembangunan Setda Kota Mataram, Zarkasyi mengatakan,program Koperasi Merah Putih merupakan bagian dari program prioritas nasional yang menjadi komitmen bersama pemerintah daerah untuk dikawal secara serius. “Untuk urusan permodalan ini coba nanti kita komunikasikan bersama. Karena belum berani kita terlalu jauh menyampaikan, soalnya ini sangat teknis,” ucapanya. (pan)

Evaluasi Potensi Parkir

0
IGB Hari Sudana Putra(Ekbis NTB/dok)

Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram diminta untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan titik-titik parkir di wilayah kota. Dorongan ini muncul dari kekhawatiran sejumlah pihak atas belum maksimalnya pemanfaatan potensi parkir, terutama dalam kaitannya dengan peningkatan pendapatan daerah serta penyediaan lapangan kerja bagi warga lokal.

Anggota Komisi II DPRD Kota Mataram, IGB Hari Sudana Putra, SE.,  menyampaikan bahwa meskipun Kota Mataram relatif kecil secara geografis, aktivitas kendaraan di wilayah ini cukup padat. Hal tersebut menciptakan kebutuhan besar akan sistem parkir yang terorganisir dengan baik dan transparan.

“Kita semua mesti memikirkan kembali bagaimana mengelola potensi parkir di kota yang kecil ini namun ramai penggunanya,” ujarnya melalui pesan WhatsApp kepada Suara NTB, Minggu 19 Oktober 2025.

Lebih lanjut, ia mengusulkan agar Pemkot Mataram melakukan pendataan ulang terhadap titik-titik parkir yang sudah ada, serta memetakan potensi lokasi baru yang bisa dimanfaatkan sebagai lahan parkir. Pendataan ini dinilai penting untuk menghitung secara kasar potensi pendapatan daerah dari sektor parkir.

“Coba kita hitung kembali berapa jumlah titik parkir kita sekarang, berapa potensi titik parkir yang bisa ditambahkan. Kemudian kita juga perlu menghitung penambahan jumlah kendaraan tiap hari, khususnya yang dibeli dari berbagai dealer oleh masyarakat kita,” tambah Gus Arik, sapaan akrabnya.

Menurut politisi Partai Demokrat ini, dengan data tersebut, pemerintah bisa merancang strategi pengelolaan parkir yang lebih terukur, baik dari sisi pengelolaan retribusi maupun penataan petugas parkir (jukir) yang tersebar di berbagai titik.

Tidak hanya itu, Gus Arik juga menyoroti pentingnya memperhatikan asal-usul petugas parkir yang bekerja di Kota Mataram. Pemerintah diharapkan dapat memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal dalam pengelolaan parkir.

“Begitu juga dengan para petugas parkir atau jukir yang ada, perlu dihitung berapa jumlahnya yang berasal dari warga Kota Mataram dan berapa dari luar kota. Agar kita bisa memanfaatkan potensi parkir ini untuk menghidupi warga kota Mataram dahulu, baru kemudian warga luar kota,” tegas anggota dewan dari daerah pemilihan Cakranegara ini.

Dorongan ini sejalan dengan kebutuhan pemerintah daerah untuk menggali potensi pendapatan asli daerah (PAD) tanpa harus menaikkan tarif retribusi. Dengan tata kelola parkir yang baik, sektor ini dipandang sebagai salah satu sumber pemasukan yang menjanjikan serta mampu membuka lapangan kerja.

Dia menilai bahwa inisiatif semacam ini seharusnya menjadi perhatian utama pemerintah kota. “Parkir adalah sektor kecil, tapi jika dikelola secara serius dan sistematis, ia bisa menjadi sumber PAD yang signifikan dan mengurangi pengangguran,” ujarnya.

Gus Arik juga menyarankan agar pemerintah melibatkan masyarakat dalam proses pendataan dan pengawasan, guna menciptakan sistem yang transparan serta akuntabel. (fit)

Pemerintah Pusat Izinkan Ekspor Konsentrat PT AMNT

0
Akttvitas penambangan di lokasi tambang PT. Amman Mineral Nusa Tenggara, (ekbisntb.com/PT. AMNT)

Lombok (ekbisntb.com) –

Setelah meminta relaksasi pada April lalu, Pemerintah Pusat akhirnya memberikan izin ekspor konsentrat PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) per tanggal 14 Oktober 2025.

Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal menyatakan, izin relaksasi tambang ini diberikan semata-mata untuk mencegah terjadinya tambahan kontraksi. Apalagi, selama dua triwulan berturut-turut, NTB mengalami kontraksi mencapai -0,82 persen.

“Detailnya belum ada informasi karena masih menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). RKAB nya masih disusun oleh pihak Amman. Ini kita sampaikan supaya tidak mengalami kontraksi, mau menumbuhkan saja,” ujarnya, Jumat, 17 Oktober 2025 malam.

Izin ekspor konsentrat ini, lanjut Iqbal diperoleh sampai dengan smelter Amman Mineral Industri (AMIN) beroperasi secara maksimal. Saat ini, produktivitas di smelter sudah mencapai 60 persen.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Samsudin menjelaskan, saat ini PT AMNT sudah mulai melakukan aktivitas RKAB untuk proses ekspor.

Menyinggung soal alasan Kementerian ESDM mengizinkan PT Amman untuk melakukan ekspor setelah diminta sejak April lalu. Mantan Kabid Pengelolaan Sampah dan Pengendalian Pencemaran di DLHK NTB itu mengaku izin ini diberikan tak lepas dari upaya Gubernur NTB yang gencar melakukan lobi ke pusat.

Selain itu, minusnya ekonomi NTB selama dua triwulan juga dinilai menjadi pertimbangan pusat. “Sebagai salah satu insentifnya kan begitu (minusnya pertumbuhan ekonomi, red). NTB daerah yang sangat membutuhkan tambang kan,” katanya.

Saat ini, jumlah konsentrat di PT AMNT cukup menumpuk. Jika hal tersebut dibiarkan, akan berdampak pada operasional perusahaan karena smelter belum juga beroperasi maksimal.

Sebelumnya, Penjabat Sekda NTB, H.Lalu Moh.Faozal, S.Sos.M.Si menyampaikan terdapat sekitar 200 ribu ton konsentrat yang menumpuk di PT Amman. Akibatnya, PT Amman tidak bisa lagi melakukan penambangan karena tidak memiliki tempat untuk menumpuk konsentrat akibat smelter belum bisa beroperasi maksimal.

“Solusinya harus ekspor. PT AMNT juga sudah meminta untuk melakukan relaksasi ekspor terhadap konsentrat yang ada di AMNT. Mudah-mudahan ada keputusan terbaik dalam satu atau dua pekan ke depan,” terangnya.

Adapun dengan adanya izin ini, di sisa kurang dari dua bulan tahun 2025 NTB butuh sekitar 8 persen untuk mencapai target 7 persen pertumbuhan ekonomi. Faozal optimis NTB bisa mencapai target tersebut. “Iya bisa kita capai target pertumbuhan ekonomi,” ucapnya. (era)

Menteri PU Doddy Hanggodo Jamin Pengembangan Bendungan Beringin Sila

0

Sumbawa Besar (ekbisntb.com)-

Menteri Pekerjaan Umum (PU) RI, Doddy Hanggodo meyakinkan akan terus mengembangkan fungsi Bendungan Beringin Sila di Kecamatan Utan, Kabupaten Sumbawa dalam mendukung program swasembada pangan yang ditetapkan pemerintah.

“Luas areal irigasi fungsional saat ini baru 2. 164 hektare sementara untuk pengembangan lebih lanjut mencapai 3.250 hektare dan akan kita kerjakan paling lama tahun 2026 seluas 1.100 hektare,” kata Doddy kepada wartawan, Minggu (19/10/2025).

Pemerintah pun, lanjut Doddy sudah menetapkan pengembangan Bendungan Beringin Sila ini melalui Instruksi Presiden (Inpres). Ia pun sudah berdiskusi bersama Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot dan Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal untuk proses penyiapan lahan.

“Kita akan kerjakan untuk 1.100 hektarenya di tahun 2026 sehingga total nanti bisa mencapai 3.250 hektare sebagaimana yang dikatakan Pak Bupati tadi,” ujarnya.

Termasuk juga untuk Instalasi Pengolahan Air (IPA) dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) juga akan disiapkan nanti jika diperlukan. Bahkan pemerintah sudah sangat siap jika IPA dan PLTA dibutuhkan untuk direalisasikan beberapa tahun ke depan.

“Kami akan koordinasikan dengan Pak Bupati untuk IPA dan PLTA-nya, salah satunya sambungan ke rumah nanti polanya seperti apa juga harus kita pikirkan mulai sekarang,” ucapnya.

Hal itu dilakukan pemerintah, sehingga masyarakat bisa memaafkan air yang melimpah dari Bendungan Beringin Sila. Baik itu untuk kebutuhan air bersih maupun kebutuhan masyarakat yang lain nanti akan di koordinasikan lebih lanjut.

“Hasil tinjauan saat ini eksisting Bendungan Beringin Sila masih oke lah, cuman yang diatas itu kan ada tanaman jagung. Karena sifat tanaman jagung ini merusak tanah dan akan menimbulkan sedimentasi,” sebutnya.

Ia menambahkan, pemerintah pun juga berkomitmen untuk menuntaskan pembangunan saluran irigasi di seluruh bendungan yang sudah terbangun di Sumbawa. Hal itu dilakukan untuk mendukung Asta Cita Presiden RI Prabowo Subianto dalam mewujudkan program swasembada pangan.

“Kita akan prioritaskan (saluran irigasi) untuk diselesaikan apalagi di Sumbawa ada tujuh bendungan cukup besar yang sudah di bangun pemerintah. Termasuk juga melakukan studi terkait usulan pembangunan Bendungan Kerekeh,” tambahnya.

Doddy pun berharap kepada masyarakat untuk tidak melakukan penamaan jagung di dekat kawasan bendungan. Karena akan mengakibatkan sedimentasi di bendungan lebih cepat sehingga air yang tertampung bisa cepat mengering dan masyarakat yang akan dirugikan nantinya.

‘’Kami berharap agar aset yang sudah dibangun ini bisa dijaga dan dirawat termasuk hutannya. Karena jika hutan rusak sedimentasi di bendungan akan tinggi sehingga air yang tertampung tidak maksimal dan masyarakat yang paling dirugikan nantinya,’’ ujarnya. (ils)

TKD Dipangkas Pusat, Wagub NTB Sebut Optimalisasi PAD Jadi Solusi

0
Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri

Lombok (ekbisntb.com) –

Kebijakan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) oleh pemerintah pusat pada tahun 2026 mendatang diakui Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Damayanti Putri pastinya bakal memberi dampak besar terhadap proses pembangunan di daerah ini.  Namun itu semua hendaknya dihadapi dengan tenang.

Saat ditemui usai menghadiri Musda XI DPD II Partai Golkar Loteng di Kuta Mandalika, Sabtu (18/10/2025), Wagub NTB mengatakan pemangkasan TKD tidak hanya dialami pemerintah daerah di NTB. Tetapi menyeluruh seluruh Indonesia, karena itu merupakan kebijakan yang berlaku secara nasional.

Terpenting sekarang bagaimana pemerintah daerah di NTB menghadapi situasi yang tersebut dengan tentang. Dibarengi dengan langkah-langkah yang bisa mengenjot pendapatan daerah selain dari transfer anggaran pusat. Salah satunya yakni dengan mengoptimalisasikan pemasukan dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Kita doakan semoga semuanya bisa kuat, bisa survive semuanya. Salah satunya bagaimana meningkatkan PAD,” ujarnya.

Disinggung besaran pemangkasan TKD khusus untuk Pemprov NTB, Indah mengatakan sampai sejauh ini pihaknya masih menunggu. Karena yang ada sekarang baru penyampaian awal. Bahwa seberapa banyak TKD yang akan dipangkas, masih menunggu kepastian detailnya dari pemerintah pusat.

Terlebih sebelumnya para kepala daerah sudah bertemu dengan pemerintah pusat. Sekarang tinggal menunggu keputusannya seperti apa oleh pemerintah pusat. “Kalau bicara dampak pasti terasa. Tapi inikan seluruh Indonesia,” tegas Bendahara DPD I Partai Golkar NTB ini. (kir)