Monday, April 27, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 129

Tertibkan PKL

0
Hj. Baiq Mirdiati(ekbis NTB/ist)

KAWASAN Tembolak yang berada di perbatasan antara Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat (Lobar) kian menuai sorotan. Kondisinya yang kini terlihat kumuh, penuh sampah dan semrawut akibat aktivitas Pedagang Kaki Lima (PKL) yang tak tertata, dinilai mencederai wajah kota yang semestinya tampil bersih, rapi, dan nyaman.

Kawasan ini menjadi titik penting karena berdekatan langsung dengan Jalan Lingkar Selatan yang ke depan akan menjadi lokasi berdirinya Kantor Wali Kota Mataram. Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, Hj. Baiq Mirdiati  mengungkapkan kekhawatiran mereka atas kondisi yang semakin tidak terkendali di wilayah tersebut.

“Kalau dibiarkan terus, ini akan jadi menjamur yang makin sulit diatur. Ini wajah kota, perbatasan masuk, masa dibiarkan kumuh begitu?” ujarnya kepada Suara NTB di Mataram, Selasa 22 Oktober 2025.

Pantauan di lapangan menunjukkan banyak PKL masih menggunakan trotoar dan bahu jalan untuk berjualan. Selain mengganggu arus lalu lintas dan membahayakan keselamatan, kondisi ini juga jelas melanggar aturan tentang penggunaan ruang publik.

Meski kehadiran PKL dianggap membantu ekonomi rakyat kecil, namun penataan yang buruk justru berisiko memunculkan konflik kepentingan antara pejalan kaki, pengendara, dan para pedagang itu sendiri.

“Yang kita inginkan bukan menggusur PKL. Justru kita ingin mereka tetap bisa berjualan, tetapi dengan tempat yang layak dan tidak membahayakan diri mereka ataupun pengguna jalan lain,” lanjut politisi Partai Gerindra ini.

Mirdiati mendorong Satpol PP Kota Mataram untuk segera melakukan langkah penertiban secara persuasif dan terukur. Penertiban diharapkan tidak sekadar bersifat represif, melainkan juga disertai dengan solusi yang berkelanjutan, seperti penyediaan lokasi relokasi yang representatif.

“Pemkot harus hadir di sini. Kalau Kantor Wali Kota akan dibangun di jalur ini, sudah sepantasnya kawasan ini menjadi wajah kota yang bersih, rapi, dan nyaman. Tidak bisa dibiarkan terus seperti ini,” tegas Mirdiati.

Selain upaya penataan PKL, masalah pengelolaan sampah di kawasan tersebut juga perlu segera dibenahi. Tumpukan sampah yang berserakan tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat sekitar.

Anggota dewan tiga periode ini berharap pemerintah daerah, khususnya Pemkot Mataram, segera mengambil langkah nyata dalam membenahi kawasan perbatasan tersebut. Penataan ulang ruang publik, pengelolaan kebersihan, serta pembinaan terhadap PKL menjadi tuntutan utama.

“Kita ingin Kota Mataram punya wajah yang enak dipandang mata, nyaman bagi pejalan kaki, aman bagi pengguna jalan, dan tetap ramah bagi para pedagang kecil. Semuanya bisa berjalan asal ada niat dan tindakan tegas dari pemerintah,” pungkas Mirdiati.

Dengan pembangunan terus berkembang ke arah selatan, wajah perbatasan kota bukan hanya persoalan estetika, tapi juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam menciptakan tata kota yang teratur, manusiawi, dan berkelanjutan. (fit)

Dikes Mataram Buka Layanan Poliklinik Sore di 11 Puskesmas

0
Seorang pasien sedang menunggu antrean layanan kesehatan di Puskesmas Mataram, Jalan Catur Warga, pada Rabu 22 Oktobe 2025. (ekbis NTB/pan)

Lombok (ekbisntb.com) – Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram akan mulai membuka layanan poliklinik umum pada sore hari di 11 puskesmas yang tersebar di wilayah Kota Mataram. Kebijakan ini merupakan langkah inovatif untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, terutama bagi mereka yang tidak sempat berobat pada pagi hari karena kesibukan bekerja.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram, dr. H. Emirald Isfihan mengatakan, layanan poliklinik sore ini dirancang sebagai bentuk fleksibilitas layanan kesehatan, yang menyesuaikan dengan kebutuhan dan pola aktivitas masyarakat urban.

“Sebagian besar masyarakat kita bekerja pada pagi hari. Jadi kemungkinan besar, waktu yang paling memungkinkan mereka mengakses layanan kesehatan adalah di sore hari. Untuk itu, kami fasilitasi layanan ini agar masyarakat tetap bisa mendapatkan pelayanan meskipun di luar jam kerja pagi,” jelasnya, Selasa 22 Oktober 2025.

Menurutnya, kebijakan ini telah berkoordinasi dan disepakati bersama seluruh tenaga kesehatan (nakes) di 11 puskesmas tersebut. Selain sebagai bentuk peningkatan pelayanan, program ini juga diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pendapatan bagi puskesmas yang kini berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

“Karena puskesmas sudah menjadi BLUD, maka mereka diberi keleluasaan untuk melakukan inovasi layanan guna menutupi pembiayaan operasional sekaligus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Semakin bagus pelayanannya, tentu akan berdampak pada meningkatnya kepesertaan BPJS dan pasien umum pun tidak masalah,” terangnya.

Terkait teknis pelaksanaan, Emirald menyampaikan bahwa jadwal buka poliklinik sore diserahkan kepada masing-masing puskesmas sesuai dengan kesiapan dan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki. Puskesmas Taliwang dipilih sebagai proyek percontohan awal yang akan mulai beroperasi pada Senin, 27 Oktober 2025, dengan jam pelayanan dari pukul 14.00 hingga 17.00 Wita.

Sambil berjalan, lanjutnya, pihaknya akan melakukan evaluasi. Tidak menutup kemungkinan nantinya ada puskesmas yang membuka layanan sampai malam hari. Tergantung dari karakteristik dan kesiapan masing-masing nakes.

Dikes Mataram menargetkan seluruh puskesmas dapat memulai layanan serupa secara bertahap. Masyarakat pun diimbau untuk memanfaatkan layanan ini sebagai upaya menjaga dan meningkatkan kesehatan secara lebih mudah dan fleksibel. (pan)

TKD Dipangkas Rp548 Miliar, Sumbawa Sisir Belanja Non-Prioritas di APBD 2026

0
Budi Prasetiyo(ekbis NTB/dok)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Pemkab Sumbawa memastikan mulai melakukan penyisiran terhadap sejumlah belanja non-prioritas di APBD tahun 2026 pascakebijakan pemerintah memangkas Transfer ke Daerah (TKD) khusus di wilayah setempat sebesar Rp548 miliar.

“Kita akan lakukan efisiensi misalnya terkait makan dan minum, penggandaan serta perjalanan dinas. Termasuk juga kita akan lakukan singkronkan dengan program yang muncul di RPJMD,” kata Sekda Sumbawa, Dr. H. Budi Prasetiyo, kepada wartawan, Rabu 22 Oktober.

Ia melanjutkan, pada prinsipnya saat ini pembiayaan akan mengikuti program prioritas (money follow priority). Saat ini pemerintah melalui TAPD juga tengah melakukan penyisiran secara maraton untuk memastikan pelaksanaan program nantinya.

“Saat ini kita sedang melakukan penyisiran secara maraton bersama TAPD untuk memastikan anggaran yang ada untuk pelaksanaan program yang masuk dalam skala prioritas,” ujarnya.

Saat ini pemerintah juga tengah menyiapkan readines criteria (RC) untuk melakukan lobi sejumlah program yang ada di pemerintah pusat. Hal itu dilakukan, karena masih banyak persolaan di daerah harus diselesaikan salah satunya infrastruktur jalan di sejumlah wilayah.

“RC ini kita siapkan untuk menjemput pembiayaan dari pemerintah pusat terhadap sejumlah program, karena jika mengandaikan APBD tidak ada yang bisa kita kerjakan. Apalagi anggaran daerah dipangkas,” ucapnya.

Ia pun meyakinkan, untuk program prioritas salah satunya penurunan angka stunting dan kemiskinan anggarannya tidak akan dipangkas karena akan berdampak luas bagi masyarakat nantinya. Beberapa program prioritas nasional yang dicanangkan pemerintah juga akan menjadi atensi di proses pembahasan nantinya.

“Jadi, dalam penyusunan RAPBD tahun 2026 memang perlu sinergi semua pihak dan kami berharap semua OPD untuk meningkatkan lobi ke pemerintah pusat,” ujarnya.

Budi berharap, tahun 2026 menjadi momentum untuk memperbaiki sistem dengan tetap mempertimbangkan skala prioritas dalam penganggaran nanti. Pihaknya pun dalam waktu dekat akan segera membahas program yang masuk dalam prioritas satu, dua dan tiga untuk dilaksanakan lebih lanjut.

“Kita sudah mulai membahas program prioritas yang dilaksanakan nanti, apalagi anggaran untuk tahun 2026 terpangkas sebesar Rp548 miliar,” tukasnya. (ils)

Sepi Peminat, Kuota Pupuk NPK dan Organik Berkurang di Sumbawa

0
Wirawan Margana(ekbis NTB/ils)

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Dinas Pertanian (Distan) Sumbawa, memastikan kuota pupuk untuk jenis NPK dan organik untuk musim tanam periode Oktober- Desember dikurangi pemerintah. Pengurangan itu lantaran kuota yang diberikan pemerintah tahun sebelumnya tidak ditebus para petani.

“Kuota NPK tahun ini dari 38.173 ton menjadi 36.750 ton sementara untuk organik dari 22 ton per tahun menjadi 17 ton di musim tanam Oktober-Desember tahun 2025,” kata Kadistan melalui Kabid Sarana Pertanian Wirawan Margana, kepada wartawan, Rabu 22 Oktober 2025.

Alasan kuota pupuk organik termasuk NPK ini dikurangi pemerintah karena tidak ada yang melakukan penebusan. Kalaupun ada, maka jumlahnya sangat kecil apalagi setiap bulan selalu dilakukan evaluasi terhadap penebusan pupuk tersebut.

“Itu yang menjadi alasan utama sehingga kuota untuk dua jenis pupuk tersebut berkurang karena sepi peminat. Daripada nganggur sehingga kuota Sumbawa digeser ke daerah lain yang membutuhkan,” ujarnya.

Sementara untuk kuota pupuk di musim tanam Oktober-Desember, pihaknya masih menunggu hasil verifikasi Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok atau (E-RDKK). Verifikasi tersebut berkaitan dengan luas sawah, luas penanaman di lahan kering dan lahan sawah dengan jumlah E- RDKK yang diusulkan.

“Jadi, setelah ada hasil verifikasi tersebut baru kami tahu ril luas lahan yang diajukan untuk diberikan pupuk subsidi. Setelah itu baru akan kita alokasikan ke masing-masing kecamatan,” ujarnya.

Disinggung terkait ketersediaan pupuk yang ada saat ini dengan rencana lahan yang akan tanam, wirawan mengaku masih sangat mencukupi. Bahkan ia mengklaim tidak akan terganggu untuk musim hujan tahun 2025 bulan Oktober hingga Desember mendatang.

“Jatah kita untuk pupuk urea saat ini sebesar 51. 970 ton dan masih sama dengan kuota sebelumnya. Kami pun yakin ketersediaan pupuk untuk musim tanam Oktober-Desember masih sangat aman dan tidak terjadi kelangkaan,” tukasnya. (ils)

PDAM Dompu akan Gunakan Air Bendungan Mila Selama Musim Hujan

0
 Bupati Dompu, Bambang Firdaus didampingi jajarannya saat meninjau bendungan Mila, Selasa 21 Oktober 2025 kemarin.(ekbis NTB/ist)

Dompu (ekbisntb.com) – PDAM Dompu telah mendapatkan izin pemanfaatan air dari Bendungan Mila untuk kebutuhan air baku IPA Selaparang selama musim hujan. Izin ini didapat setelah permohonan diajukan menyusul intake air baku milik PDAM Dompu di Kamudi Desa Rababaka hanyut dibawa banjir bandang pertengahan Oktober 2025 lalu.

Bupati Dompu, Bambang Firdaus, S.E., didampingi Kepala Dinas PUPR Kabupaten Dompu, Aris Ansary, ST., MT., Plt Dirut PDAM Dompu, H. Didi Wahyudin, S.E., bersama perwakilan BWS NT 1 meninjau langsung Bendungan Mila dan melakukan uji coba pengambilan air baku untuk dihantarkan ke IPA Selaparang, Selasa 21 Oktober 2025 lalu.

Pengambilan air baku ini memanfaatkan jaringan perpipaan yang telah dipasang Dinas PUPR Dompu beberapa waktu lalu. Hasilnya, dari 70 liter per detik air yang dilepas dari Bendungan Mila, yang sampai ke IPA Selaparang bahkan melebihi kapasitas.

“Hasil uji coba pengambilan air di Bendungan Mila kemarin, alhamdulillah berhasil. Air yang dilepas di Bendungan Mila 70 liter per detik, tapi yang sampai di IPA Selaparang melebihi. Itu karena tekanan air yang kuat di Bendungan Mila,” kata Plt. Direktur PDAM Dompu, H. Didi Wahyudin saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu 22 Oktober 2025.

Didi mengatakan, pihaknya mengajukan permohonan ke BWS NT 1 untuk pemanfaatan sementara air baku Bendungan Mila. Permohonan itu disampaikan menyusul kerusakan intake air baku milik PDAM Dompu di Kamudi. “Kami ajukan permohonan untuk memanfaatkan air baku Bendungan Mila selama musim hujan, sambil kita ajukan perbaikan Intake Kamudi melalui dana tanggap darurat di BPBD,” ungkap H Didi.

Pemanfaatan Bendungan Mila tidak hanya untuk mendukung bendungan Rababaka dan bendungan Tanju untuk kebutuhan irigasi teknis. Tapi juga dirancang untuk kebutuhan air bersih bagi masyarakat.

Namun Intake di Bendungan Mila belum dimanfaatkan karena masih menunggu Pembangunan IPA tersendiri yang terpisah dari IPA Selaparang. Pembangunan IPA Bendungan Mila yang direncanakan memiliki tekanan air hingga 100 liter per detik, saat ini masih berproses pemenuhan desain teknis dan rencana pemanfaatannya oleh pemerintah daerah (Pemda) Dompu.

Dengan diizinkannya pengambilan air baku dari bendungan Mila, Didi meyakini, pelanggan PDAM Dompu dari IPA Selaparan akan tetap mendapat pasokan air bersih kendati musim hujan. “Kita tinggal mengadakan tawas untuk memproses air baku dari bendungan Mila agar tidak bau. Kalau kekeruhan, pastinya tidak. Karena sudah terjadi proses penjernihan secara alami di bendungan,” ungkap H Didi.

Pilihan Bendungan Mila sendiri, kata Didi, direncanakan untuk melakukan proses pergantian air bendungan selama musim hujan. Dengan dimanfaatkan oleh PDAM untuk air baku IPA Selaparang, airnya tidak terbuang percuma.

Sebelumnya Bupati Dompu, Bambang Firdaus melalui Kabag Prokopim Setda Dompu, Agus Miswara, STP dalam keteranganya menyampaikan rasa syukurnya atas respon baik dari BWS NT 1 yang mengizinkan pengambilan air baku sementara selama Intake Kamudi dalam tahap perbaikan. Sehingga Masyarakat Dompu yang mendapatkan pasokan air dari IPA Selaparang akan tetap mendapatkan pasokan air.

“Karena lahan di sekitar bendungan Mila sudah gundul, Pemda berkomitmen untuk melakukan penghijauan agar sedimen tanah tidak sampai memenuhi area genangan bendungan,” kata Agus Miswara. (ula)

KSB Pertimbangkan Tak Ikut Bangun Sekolah Rakyat

0
Ferial(ekbis NTB/bug)

Taliwang (ekbisntb.com) -Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) tengah mempertimbangkan tidak akan ikut membangun Sekolah Rakyat seperti di daerah lainnya. Pertimbangan tersebut bukan didasari karena tidak ingin turut menyukseskan salah satu program prioritas Presiden Prabowo tersebut.

Pemda KSB menilai sejauh ini masyarakat masih mampu menyekolahkan penuh anak-anaknya ke sekolah formal yang tersedia berkat berbagai program bantuan yang telah disediakan baik oleh pemerintah pusat maupun daerah.

Kepala Dinas Sosial (Dinsos) KSB, Ferial mengatakan, anak-anak KSB hingga strata ekonomi miskin saat ini sudah sangat mudah mengakses kegiatan pendidikan formal yang tersedia. Hal ini karena berbagai program pemerintah pusat seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP), program Makan Bergizi Gratis (MBG). Berikutnya ada program daerah seperti uang pangkal di awal masuk sekolah, seragam gratis dan program mobil antar jemput siswa memberi peluang anak-anak mudah untuk bersekolah.

“Anak-anak miskin kita ada, tapi dengan intervensi berbagai bantuan yang disediakan pusat dan daerah, mereka tetap bisa sekolah kok. Kecuali yang memang anaknya tidak mau sekolah ya,” kata Ferial, Rabu 22 Oktober 2025.

Selain intervensi program pendidikan yang memadai, pertimbangan lainnya adalah akses menuju sekolah-sekolah formal yang tersedia sangat mudah. Ia menyebut, tidak ada wilayah di KSB saat ini yang jalannya mengalami kerusakan sehingga anak-anak kesulitan sampai ke sekolah setiap harinya. “Jalan kita hampir ho mix semua,” katanya.

Meski dengan berbagai fakta tersebut, Ferial menyampaikan, pertimbangan tersebut masih bersifat wacana. Menurut dia, Pemda KSB tentu akan mengkonsultasikannya terlebih dahulu dengan Kementerian Sosial (Kemensos) apakah boleh daerah memilih kebijakan tersebut atau tidak.

“Kami akan konsultasi dengan Sentra Paramita selaku perpanjangan tangan Kemensos termasuk dengan Dinsos NTB. Kami akan sampaikan boleh apa tidak dengan berbagai pertimbangan kondisi daerah kita ini? (tidak membangun sekolah rakyat),” ujarnya.

Jika pada akhirnya, wacana tersebut ditolak. Ferial mengatakan, Pemda KSB tetap akan menjalankan arahan pusat untuk menyukseskan program Rekolah Rakyat. Di mana salah satu kewajiban daerah adalah menyediakan lahan untuk lokasi pembangunannya. “Kalau nantinya dibilang wajib bangun. Ya kita siapkan saja lahannya, kan untuk bangun gedung, sarana prasarana dan fasilitas pendudkung lainnya sepenuhnya dibiayai pusat,” urainya.

Sebelumnya Pemda KSB melalui Dinsos telah sempat nengajukan mengajukan 3 titik lahan untuk pembangunan Sekolah Rakyat. Namun ketiga lokasi itu ditolak karena tidak menenuhi kriteria sesuai ketentuan Kemensos. “Kita siap mencari lahan yang representatif sesuai keinginan Kemensos, kalau memang wajib bangun Sekolah Rakyat itu,” janji Ferial. (bug)

Museum NTB Gelar Pameran Keliling “Wastra Kre Alang” di Istana Dalam Loka Sumbawa

0

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) –

Museum Negeri Nusa Tenggara Barat (NTB) bekerja sama dengan Museum Daerah Sumbawa dan Museum Bala Daturanga menyelenggarakan Pameran Keliling Wastra Kre Alang di Istana Dalam Loka, Kabupaten Sumbawa, pada Rabu (22/10/25).

Bertajuk “Jejak Tenun Identitas Sumbawa”, pameran ini menjadi wujud nyata kolaborasi antar museum di tingkat provinsi dan kabupaten dalam melestarikan serta memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas.

Kepala Museum Negeri NTB, Ahmad Nuralam menuturkan bahwa pameran keliling ini sejalan dengan program strategis “Kotaku Museumku, Kampungku Museumku” yang diinisiasi oleh Museum Negeri NTB, dengan tujuan menghadirkan museum sebagai ruang ekspresi budaya yang dekat dengan masyarakat.

“Kami hadir di tanah Samawa untuk menampilkan kekayaan budaya, khususnya wastra yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumbawa,” tambahnya.

Dirinya mengatakan di Provinsi NTB saat ini terdapat lima museum aktif, dengan dua di antaranya berada di Kabupaten Sumbawa, dua di Kabupaten Bima, dan satu di Pulau Lombok.

“Ini menandakan bahwa Kabupaten Sumbawa memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian kekayaan budaya, dan hal itu dibuktikan dengan keberadaan dua museum di wilayah ini,” katanya.

Salah satu koleksi istimewa yang dipamerkan adalah “cipocila”, kain tradisional yang dahulu digunakan oleh putri-putri Sumbawa, serta “Kre Alang Maraja Sangaji, yang dibuat pada abad ke-18, saat pernikahan Putri Mahkota Raja Sumbawa dengan Putra Mahkota Kesultanan Bima.

Wakil Bupati Sumbawa, H. Mohamad Ansori, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai upaya nyata menghidupkan kembali semangat pelestarian budaya daerah.

Menurutnya, koleksi-koleksi yang bernilai budaya dan sejarah ini harus betul-betul dilestarikan, tidak hanya melalui pameran saja tapi dengan bentuk program-program lainnya.

“Setelah kita saksikan koleksi dan karya-karya hasil peninggalan para raja, para nenek moyang kita ini bernilai luar biasa estetikanya sehingga hari ini kami juga sangat kagum. Dan inilah pemerintah daerah tentunya terus ingin melestarikan, dan harus kita jaga supaya tidak punah,” pungkasnya. (ham)

Bankir di NTB Dukung Terobosan Menkeu Purbaya Mendorong Penurunan Suku Bunga Bank

0
Mustaen(ekbis NTB/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – banker merespon positif gebrakan Menteri Keuangan, Purbaya Yudi Sadewa untuk mendorong penurunan suku bunga bank. Kalangan bankir pun merespon sangat positif hal itu.

Diketahui, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mendorong Bank Indonesia (BI) untuk segera menurunkan suku bunga acuan atau BI Rate ke level yang lebih rendah, yakni 3,5%, dari posisi saat ini 4,75%.

Langkah itu, menurutnya, akan menjadi kunci memperkuat daya saing ekonomi nasional dan menurunkan beban bunga pinjaman dunia usaha.

Bankir dari NTB, Direktur Utama Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) Dinar Ashri (Bank Dinar), Mustaen menilai kebijakan Menkeu Purbaya yang dimulai dengan menggelontorkan dana triliunan rupiah ke sistem ekonomi nasional merupakan langkah positif yang akan menumbuhkan optimisme pelaku usaha. Ia menilai kebijakan ini, bersama dengan dorongan turunnya suku bunga Bank Indonesia dan tingkat bunga LPS, menjadi kombinasi yang dapat memicu kebangkitan ekonomi nasional.

Menurut Mustaen, meskipun dana tersebut tidak langsung mengalir ke lembaga perbankan syariah seperti BPRS, dampaknya tetap signifikan terhadap iklim usaha dan daya beli masyarakat.

“Kami melihat ini langkah yang sangat bagus karena uang itu masuk ke sistem ekonomi. Walaupun tidak langsung ke kami, paling tidak ekonomi Indonesia bisa bangkit. Orang-orang bisa mengakses modal, dunia usaha akan lebih giat, dan rasa optimisme meningkat,” ujar Mustaen, di Mataram, Rabu 22 Oktober 2025.

Ia menjelaskan, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia, diikuti dengan penurunan bunga LPS dan masuknya dana pemerintah ke sistem ekonomi, merupakan sinyal kuat untuk mendorong pergerakan bisnis. Dengan meningkatnya semangat berusaha, daya serap tenaga kerja akan bertambah, dan kemampuan masyarakat dalam memenuhi kewajiban keuangan juga meningkat.

“Ketika masyarakat punya optimisme dan mau berusaha, maka ekonomi akan bergerak. Pemerintah juga akan diuntungkan karena penerimaan meningkat. Tak heran kalau pasar saham merespons positif,” tambahnya.

Sebaliknya, Mustaen mengatakan, tidak khawatir dengan dana murah dari perbankan nasional, terutama bank pemerintah nantinya akan menggerus pasar lembaga keuangan mikro seperti BPRS.

Ia justru menilai hal itu tidak menjadi ancaman. Ia meyakini BPRS memiliki segmen pasar tersendiri yang tidak akan mudah terpengaruh oleh kebijakan tersebut.

“Kami sangat yakin BPRS tetap punya pangsa pasar sendiri. Bahkan di lapangan, Bank Dinar sendiri jarang sekali bersinggungan dengan bank umum. Kami tidak bersaing langsung, karena layanan dan target pasar kami berbeda,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mustaen menekankan bahwa kekuatan BPRS bukan hanya pada pembiayaan, tetapi juga pada pelayanan cepat dan kedekatan emosional dengan nasabah. Menurutnya, masyarakat kini tidak hanya mencari sumber dana, tetapi juga kualitas layanan yang tanggap dan personal.

“Kecepatan pelayanan dan kualitas servis itu juga penting. Bukan hanya masyarakat butuh dana, tapi mereka juga butuh dilayani dengan cepat dan nyaman,” demikian Mustaen. (bul)

Badan Mutu KKP Mataram Lepas Ekspor Produk Perikanan dan Gelar Bimtek Sertifikasi Mutu Produksi Primer

0

Mataram (ekbisntb.com)— Dalam rangka memperingati Bulan Bakti Kelautan dan Perikanan 2025 sekaligus menyambut HUT ke-26 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Badan Mutu KKP Mataram menggelar kegiatan Pelepasan Ekspor Produk Perikanan dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Sertifikasi Mutu Produksi Primer.

Kegiatan yang berlangsung secara daring dan luring ini dihadiri oleh Kepala Badan Mutu KKP, jajaran kepala UPT Badan Mutu KKP dari seluruh Indonesia, serta perwakilan instansi terkait dan pelaku usaha di wilayah Nusa Tenggara Barat.

Pada kesempatan tersebut, dilakukan pelepasan ekspor produk lobster beku dan ikan segar hasil produksi Unit Pengolahan Ikan (UPI) bersertifikat HACCP, dengan tujuan negara Taiwan dan Malaysia. Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen Badan Mutu KKP dalam menjaga standar mutu dan memperkuat posisi produk perikanan Indonesia di pasar global.

Selain itu, kegiatan bimbingan teknis sertifikasi mutu produksi primer menjadi bagian penting dari agenda ini. Melalui Bimtek tersebut, pelaku usaha mendapatkan pembekalan mengenai penerapan standar mutu, keamanan pangan, serta ketertelusuran produk dari tahapan budidaya hingga pascapanen.

Dengan sinergi antara kegiatan ekspor dan peningkatan kapasitas pelaku usaha, Badan Mutu KKP Mataram terus berkomitmen mendorong tumbuhnya sektor kelautan dan perikanan yang berdaya saing tinggi, bermutu, dan berkelanjutan.

Memasuki usia ke-26 tahun, KKP terus berkomitmen untuk bergerak, berdampak, dan menjaga laut tetap lestari demi mewujudkan Indonesia Emas 2045.(bul)

Pemerintah Turunkan Harga Pupuk

0
Pemerintah Turunkan Harga Pupuk

Lombok (ekbisntb.com) – Bertepatan dengan satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, PT Pupuk Indonesia (Persero) mendukung penuh keputusan Presiden menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi.

Keputusan ini menjadi momen bersejarah, karena untuk pertama kalinya pemerintah menurunkan HET pupuk subsidi, yang semakin menunjukkan keberpihakan pemerintah pada petani sekaligus komitmen pada terwujudnya swasembada pangan yang berkelanjutan.

“Pupuk Indonesia mendukung penuh langkah bersejarah pemerintah dalam menurunkan HET pupuk subsidi sebagai bentuk nyata keberpihakan pemerintah terhadap petani,” kata Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi sebagai keterangan resmi yang disampaikan Pupuk Indonesia kepada media ini.

Pemerintah melalui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah mengumumkan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan HET Pupuk subsidi sebesar 20%. Menteri Pertanian menyampaikan HET ini berlaku untuk seluruh jenis pupuk subsidi.

Berikut ini merupakan HET pupuk subsidi terbaru yang diatur dalam Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan) Nomor 1117/Kpts./SR.310/M/10/2025 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Pertanian Nomor 800/KPTS./SR.310/M/09/2025 tentang Jenis, Harga Eceran Tertinggi dan Alokasi Pupuk Bersubsidi Sektor Pertanian Tahun Anggaran 2025:

  • Pupuk Urea : Rp 1.800/kg atau Rp 90.000 per sak kemasan 50 kg
  • Pupuk NPK : Rp 1.840/kg atau Rp 92.000 per sak kemasan 50 kg
  • Pupuk NPK untuk Kakao : Rp 2.640/kg atau Rp 132.000 per sak kemasan 50 kg
  • Pupuk ZA : Rp 1.360/kg atau Rp 68.000 per sak kemasan 50 kg
  • Pupuk Organik : Rp 640/kg atau Rp 25.600 per sak kemasan 40 kg

Untuk mendukung kelancaran implementasi HET terbaru, Pupuk Indonesia berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memastikan kebijakan ini terlaksana sesuai aturan. Sosialisasi kepada seluruh rantai distribusi, utamanya Penerima Pada Titik Serah (PPTS) juga segera dilaksanakan secara menyeluruh agar implementasi di lapangan dapat berjalan dengan optimal.

Hingga 22 Oktober 2025, jumlah ketersediaan stok pupuk subsidi nasional mencapai 1.101.807 ton yang dapat memenuhi kebutuhan pupuk subsidi hingga akhir tahun.

Pupuk Indonesia menegaskan kesiapan untuk mengawal implementasi kebijakan pemerintah dengan memastikan seluruh proses distribusi pupuk berjalan lancar, tertib, transparan, dan tepat sasaran. Pengawasan dilakukan secara ketat melalui sistem digital i-Pubers dan Command Center, yang memungkinkan pemantauan stok, penyaluran, hingga transaksi penebusan secara real-time di seluruh Indonesia.

“Kami akan memperkuat koordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk mengawal penyaluran pupuk berlangsung sesuai dengan ketentuan HET yang baru,” tegasnya.(bul)