Monday, April 27, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 128

Khawatirkan Privatisasi, Pengelolaan Gili Petrando Diharapkan Tak Diberikan ke Investor

0
Kegiatan wisata ke Gili Kondo lewat layanan perahu pelaku wisata one day trip Rp660 ribu. (ekbis NTB/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Rencana pemerintah untuk melakukan sertifikasi terhadap pulau-pulau kecil disambut baik oleh pelaku wisata di Lombok Timur (Lotim), khususnya di kawasan tiga gili: Gili Petagan, Gili Bidara, dan Gili Kondo, yang dikenal dengan sebutan Gili Petrando, Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia.

Salah satu pelaku wisata Desa Padak Guar Herman kepada Suara NTB menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah dalam identifikasi dan sertifikasi pulau kecil. Namun, ia menegaskan pengelolaan kawasan wisata tersebut tidak perlu sepenuhnya diserahkan kepada investor, melainkan dapat dilakukan oleh masyarakat lokal.

“Masyarakat sebenarnya cukup mampu mengelola kawasan gili. Yang penting, hasilnya bisa memberikan kontribusi bagi pendapatan asli daerah (PAD). Pemerintah tinggal membangun kerja sama dengan elemen masyarakat,” ujar Herman yang juga Ketua Kapela NTB ini, Kamis 23 Oktober 2025.

Menurutnya, jika pengelolaan diserahkan kepada investor, dikhawatirkan akan menimbulkan privatisasi kawasan wisata dan merugikan masyarakat lokal. Investor cenderung berorientasi pada keuntungan pribadi, sementara masyarakat memiliki semangat menjaga dan mengembangkan daerahnya sendiri.

Ia mencontohkan keberadaan Desa Padak Guar di Kecamatan Sambelia yang telah ditetapkan sebagai Desa Wisata Bahari (Dewi Bahari) oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Desa ini menjadi satu-satunya di Lombok Timur yang bernaung langsung di bawah program KKP.

“Kalau bisa berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan berdampak pada ekonomi masyarakat, kenapa tidak? Pelaku wisata bisa membuka homestay dengan konsep eko-wisata. Dulu, hanya dari retribusi toilet saja PAD cukup besar,” tambahnya.

Herman menegaskan, saat ini sudah ada sekitar 40 perahu wisata yang beroperasi di kawasan Gili Petrando, dengan jumlah kunjungan yang cukup tinggi. Data tahun 2024 mencatat sekitar 7.000 wisatawan telah berkunjung ke Gili Kondo.

“Kalau dikelola dengan baik oleh kelompok masyarakat dan pemda, hasilnya pasti lebih baik dibandingkan jika dikelola investor,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton dalam pengembangan kawasan wisata laut. Harga sewa perahu untuk one day trip saja saat ini mencapai Rp660 ribu. Hal ini menjadi bukti  menunjukkan potensi ekonomi besar bagi warga sekitar.

Selain itu, masyarakat Desa Padak Guar kini juga tengah berusaha untuk mengusulkan ke Kementerian Kelautan dan Perikanan agar diberikan  Other Effective area-based Conservation Measures (OECM) — upaya konservasi berbasis kawasan yang dikelola langsung oleh masyarakat di luar kawasan konservasi formal.

Sebelumnya Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lotim, Muhammad Zaenuddin menjelaskan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan sudah memberikan restu kepada Bupati Lotim untuk sertifikasi Hak Pengelolaan Lahan (HPL) atas gili-gili di Lotim. Utamanya gili Petrando tersebut.

Sertifikasi lahan itu ditujukan untuk memberikan kepastian agar investor bisa lebih mudah berinvestasi. Pemda Lotim diberikan kepastian hukum. Tidak saja pada urusan sertifikasi HPL, pemda juga akan buat regulasi yang memudahkan investor dalam tata kelola ruang laut. Sehingga ketika investor datang sudah sangat siap berinvestasi dan pemda bisa mendapatkan sumber PAD yang lebih besar karena turut memiliki modal lahan.

Zaenuddin menyebut sudah ada beberapa investor yang minat untuk investasi di Gili Petrando. Kadis KKP Lotim ini belum merincikan investor tersebut. “Yang jelas sudah ada investor yang sudah sampaikan minatnya,” tuturnya. (rus)

Dispora Mataram Optimistis PAD Kolam Renang MWP Lampaui Target

0
Area kolam renang Mataram Water Park (MWP) di Jalan Udayana, Kelurahan Dasan Agung, Kecamatan Selaparang, pada Kamis 23 Oktober 2025. (ekbis NTB/pan)

Lombok (ekbisntb.com) – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Mataram optimistis pendapatan asli daerah (PAD) dari retribusi pengelolaan Mataram Water Park (MWP) di Jalan Udayana akan mencapai bahkan melampaui target tahun 2025. Target PAD yang diberikan oleh Wali Kota Mataram tahun ini sebesar Rp15 juta, naik dari tahun sebelumnya yang ditetapkan sebesar Rp10 juta.

Kepala Dispora Kota Mataram, Lalu Samsul Adnan, mengatakan hingga Oktober ini, progres capaian PAD dari sektor olahraga, khususnya pengelolaan Mataram Water Park, telah mencapai 80 persen, atau sekitar Rp12 juta dari target tahun ini.

“Progres capaian PAD cukup bagus. Kami optimis hingga akhir tahun target bisa tercapai, bahkan melampaui karena tren kunjungan terus meningkat,” ujarnya, Kamis 23 Oktober 2025.

Untuk mendukung peningkatan jumlah pengunjung, Dispora terus melakukan perawatan rutin kolam renang melalui petugas lapangan, seperti pembersihan dasar kolam, penggantian air, dan perawatan sistem sirkulasi agar air tetap jernih dan layak digunakan.

“Setiap hari kami melakukan vakum dan menghidupkan blower agar air terus bergerak untuk menjaga kebersihan. Kami ingin memastikan pengunjung merasa nyaman dan aman,” jelasnya.

Menurut Samsul, saat ini tingkat kunjungan Mataram Water Park dinilai cukup ramai. Sebagian besar pengunjung merupakan atlet dari tim Pelatda dan berbagai klub renang lokal yang rutin berlatih di sana. Tercatat ada belasan klub renang yang memanfaatkan kolam tersebut setiap hari, mulai dari pagi hingga malam.

“Rata-rata setiap klub memiliki 20 hingga 30 anggota. Jadi setiap hari kolam selalu ramai, apalagi di akhir pekan seperti Sabtu dan Minggu,” katanya.

Mantan Kepala Dinas Sosial Kota Mataram ini juga menegaskan bahwa kenyamanan dan kebersihan fasilitas menjadi faktor utama yang membuat pengunjung betah, bukan sekadar tarif masuk yang murah. Ia menilai, menjaga kualitas air dan fasilitas jauh lebih penting untuk menarik minat masyarakat.

“Yang paling penting pengunjung mau datang kalau fasilitasnya bersih dan nyaman. Tarif bisa kita sesuaikan, tapi kalau airnya kotor atau fasilitasnya rusak, orang pasti enggan datang. Jadi fokus kami adalah pelayanan dan kualitas,” tegasnya.

Sementara itu, Ramdan, salah seorang petugas kolam renang Mataram Water Park, mengungkapkan bahwa tingkat kunjungan harian cukup tinggi, terutama pada sore hari.

“Biasanya paling ramai pada sore hari, terutama dari klub-klub renang yang latihan dan masyarakat umum yang datang untuk rekreasi,” ujarnya.

Ramdan menambahkan, tarif masuk yang diberlakukan di Mataram Water Park saat ini bervariasi, yakni Rp15 ribu untuk dewasa dan Rp10 ribu untuk anak-anak atau pelajar.

Dengan pengelolaan yang semakin baik serta peningkatan fasilitas yang berkelanjutan, Dispora Mataram berharap Mataram Water Park tidak hanya menjadi pusat olahraga air, tetapi juga destinasi rekreasi keluarga yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan PAD Kota Mataram. (pan)

Kemandirian Fisikal, PAD Diproyeksikan Naik di 2026

0
Pedagang bawang merah di Pasar Mandalika merapikan barang daganganya belum lama ini. Pemkot Mataram memproyeksikan kenaikan PAD di tahun 2026. Salah satu sumbernya adalah mengoptimalkan pendapatan dari retribusi pasar. Pasar Mandalika memiliki potensi yang besar dari retribusi lapak setiap harinya. (ekbis NTB/cem)

Lombok (ekbisntb.com) – Pemerintah Kota Mataram memproyeksikan kenaikan pendapatan asli daerah (PAD) di tahun 2026. Pendapatan dari pajak dan retribusi daerah akan dioptimalkan. Tujuannya menutupi belanja daerah serta mendorong kemandirian fiskal daerah.

Sekda Kota Mataram H. Lalu Alwan Basri menjelaskan, tim anggaran pemerintah daerah melibatkan ekonom dari Universitas Mataram, berdiskusi dan memberikan masukan terhadap potensi pendapatan asli daerah. Saat ini, retribusi parkir, retribusi pasar, dan retribusi persampahan belum optimal.

Para ekonom ini melihat peluang potensi kenaikan PAD, meskipun di awal disampaikan kendala-kendala dihadapi di lapangan, termasuk penundaan kenaikan tarif retribusi. “Kami menjelaskan penundaan itu karena kebijakan Pak Wali dan peningkatan kualitas pelayanan,” terangnya ditemui pada, Kamis 23 Oktober 2025.

Sektor yang menjadi sumber PAD ini,juga perlu dilihat oleh akademisi. Mereka menyarankan agar mengefektifkan sumber retribusi, meningkatkan kualitas layanan, edukasi, dan lain sebagainya. Aspek ekonomi melihat dari gini rasio, kemiskinan, dan lain sebagainya. Indikator lain dari upaya peningkatan PAD belum dipaparkan secara menyeluruh.

Akan tetapi, diharapkan terjadi peningkatan PAD di tahun 2026 dengan mengoptimalkan sumber-sumber lainnya. “Dari 44 indikator baru 14 yang disampaikan tadi oleh akademisi,” jelasnya.

Target PAD di tahun 2025 mencapai Rp616 miliar. Alwan tidak menyebutkan secara detail potensi kenaikan pendapatan daerah di tahun 2026. Pihaknya masih menghitung serta mendata kembali sumber-sumber lainnya.

Khusus tiga retribusi yang belum mencapai target tersebut lanjutnya, ada beberapa hal yang akan dilakukan. Diantaranya, digitalisasi pembayaran retribusi secara menyeluruh di sektor layanan parkir. Kedua, penerapan sanksi bagi pelanggan yang tidak melakukan transaksi non tunai. “Jadi bukan juru parkir yang disanksi, tetapi pelanggan yang tidak menggunakan Qris dikenakan sanksi,” pungkasnya.

Mantan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Mataram menegaskan, optimalisasi PAD di tahun 2026 merupakan diimbas dari pemangkasan transfer keuangan daerah oleh pemerintah pusat. Pemkot Mataram mendorong kemandirian fisikal, sehingga salah satunya meningkatkan PAD. Potensi besar dari retribusi parkir, pasar, dan persampahan dioptimalkan. “Capaian retribusi parkir kita baru 40-50 persen. Artinya, masih ada peluangan untuk ditingkatkan,” ujarnya. (cem)

Pemkot Mataram akan Bangun Dapur MBG

0
 H. Lalu Alwan Basri. (ekbis NTB/cem)

Lombok (ekbisntb.com) –Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram akan membangun dapur makan bergizi gratis (MBG). Dapur ini akan dibangun di atas lahan seluas 15 are di Lingkungan Petemon, Kelurahan Pagutan Timur, Kecamatan Mataram.

Sekda Kota Mataram, H. Lalu Alwan Basri membenarkan Badan Gizi Nasional merekomendasikan untuk pembangunan satu dari tiga dapur MBG yang diusulkan Pemkot Mataram. Dapur MBG ini, memiliki kapasitas 3 ribu serta dibangun sesuai prototipe  sehingga menjadi contoh bagi kabupaten/kota lainnya di NTB. “Dapur MBG ini akan dirancang sesuai prototipe,” kata Sekda ditemui pada, Kamis 23 Oktober 2025.

Pembangunan dapur MBG ini kata Sekda, harus memiliki ciri khas dibandingkan dapur yang dibangun oleh satuan pemenuhan pelayanan gizi (SPPG) lainnya di Kota Mataram. Bangunan harus bagus, permanen serta representatif, agar memberikan kesan menarik bagi SPPG lainnya.

Pemkot Mataram menyiapkan lahan seluas 15 are di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pagutan. Selanjutnya kata Sekda, dapur akan dibangun oleh Badan Gizi Nasional. Kewenangan pengelolaan akan diserahkan ke pihak ketiga, termasuk pengurus kelembagaan, rekrutmen pekerja, gaji dan lain sebagainya. “Kita hanya sediakan lahan saja. Nanti BGN yang akan bangun dapurnya. Sebenarnya, kita usulkan tiga tetapi baru direalisasikan satu saja,” sebutnya.

Pemkot Mataram akan mendapatkan keuntungan dari pemanfaatan lahan tersebut. Artinya, keuntungan yang diperoleh oleh SPPG, juga akan dibagi ke pemerintah. Penghitungan pembagian keuntungan akan diatur dalam perjanjian kerja sama pasca bangunan diserahkan ke rekanan. “Nanti bagaimana mekanisme pembagian keuntungan diatur nanti di MoU bersama BGN,” ujarnya.

Bagaimana dengan dua dapur MBG lainnya? Saat ini kata Sekda, belum ada informasi lanjutan dari Badan Gizi Nasional. Pihaknya akan mengkomunikasikan kembali realisasi dua dapur yang diusulkan sebelumnya, sehingga ada kepastian dari Badan Gizi Nasional. (cem)

NTB Dicanangkan sebagai Pusat Gerakan Nasional: Menag Resmi Buka Indonesia Ekonomi Syariah 2025 di Mataram

0
Menteri Agama Republik Indonesia secara resmi membuka gelaran akbar Indonesia Ekonomi Syariah 2025 | Forum & Expo di Islamic Center, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis 23 Oktober 2025.

Lombok (ekbisntb.com) — Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. Nasaruddin Umar secara resmi membuka gelaran akbar Indonesia Ekonomi Syariah 2025 | Forum & Expo di Islamic Center, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Kamis 23 Oktober 2025. Acara yang merupakan rangkaian perayaan Hari Santri Nasional 2025 ini sekaligus menegaskan posisi NTB sebagai pusat strategis pengembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Forum dan Expo yang akan berlangsung selama empat hari, mulai 23 hingga 26 Oktober 2025, ini merupakan inisiasi kolaboratif antara Istiqlal Global Fund (IGF), Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), serta Kementerian Agama RI, dengan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi NTB.

Dalam sambutan pembukaannya, Menteri Agama RI menekankan bahwa forum ini adalah bagian krusial dari roadmap nasional untuk menjadikan Indonesia sebagai Pusat Ekonomi Syariah Global pada tahun 2027, sejalan dengan visi pembangunan inklusif dan berkelanjutan Presiden RI 2025–2030 (Asta Cita).

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen produk halal dunia, tetapi harus menjadi pemain utama dalam rantai nilai global industri halal. Dari NTB, semangat ekonomi syariah harus terus bergulir ke seluruh Indonesia,” tegas Menteri Agama, membangkitkan semangat para hadirin.

NTB Ditetapkan sebagai Living Lab Ekonomi Syariah

Pemilihan NTB sebagai tuan rumah memiliki dasar yang kuat mengingat provinsi ini telah lama diakui sebagai destinasi wisata halal unggulan dunia, setelah meraih World Halal Tourism Awards 2016.

Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri, yang mewakili Gubernur, menyampaikan bahwa acara ini adalah momentum emas untuk memperkuat ekosistem halal berbasis potensi lokal seperti pariwisata, pertanian, dan industri kreatif.

“Kami ingin menjadikan NTB sebagai living lab ekonomi syariah. Di sini kita buktikan bahwa ekonomi syariah bukan hanya konsep keuangan, tapi gaya hidup dan sistem pembangunan yang berkeadilan,” ujar Wakil Gubernur. Melalui forum ini, NTB diharapkan menjadi episentrum pengembangan pariwisata halal dan UMKM syariah nasional.

Pembukaan acara dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Direktur Eksekutif KNEKS, Duta Besar dari Syria dan Azerbaijan, perwakilan Kementerian/Lembaga, Forum Rektor PTKIN se-Indonesia, serta ratusan pelaku UMKM/IKM dan masyarakat umum.

Mendorong Kolaborasi dan Aksi Nyata

Rangkaian kegiatan IES 2025 meliputi Forum & Seminar Nasional, Expo Produk Halal & UMKM Syariah, Business Matching & Investment Forum (Hybrid), serta side events yang menarik seperti Festival Santri dan Workshop Sertifikasi Halal.

Acara ini ditargetkan menghasilkan komitmen investasi dan kerja sama strategis lintas sektor, khususnya dalam pembiayaan UMKM halal dan penguatan wisata ramah Muslim. Selain itu, kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan dokumen rekomendasi strategi ekonomi syariah nasional-daerah sebagai tindak lanjut konkret untuk mempercepat transformasi ekonomi syariah Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045. (r)

Kunjungi Pameran Museum NTB, Ketua Dekranasda Ajak Generasi Muda Sumbawa Lestarikan Tenun Tradisional

0

Sumbawa Besar (ekbisntb.com) –

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Sinta Agathia M. Iqbal, mengunjungi Pameran Keliling Wastra Kre Alang yang diselenggarakan oleh Museum Negeri NTB bekerja sama dengan Museum Daerah Sumbawa dan Museum Bala Daturanga di Istana Dalam Loka, Kabupaten Sumbawa, Kamis (23/10/25).

“Kami diperlihatkan banyak sekali mengenai sejarah wastra terutama kre alang. Luar biasa, ini harta karun luar biasa,” tutur Ketua Dekranasda NTB Sinta Agathia M. Iqbal.

Dirinya mengatakan, keindahan dan kompleksitas motif dalam satu lembar kain tenun Sumbawa menunjukkan betapa tingginya peradaban dan ketekunan para leluhur dalam mengolah benang menjadi karya seni yang sarat makna.

Menurutnya, dalam satu kain bisa memiliki sebelas lebih motif kecil-kecil. Ini menunjukkan bagaimana luar biasanya para pendahulu terdahulu bisa menemukan teknik seperti ini.

“Jadi saya ingin menitipkan juga buat para generasi mudanya Kabupaten Sumbawa, ayo kita mulai lagi melestarikan tenun yang sudah dimiliki, supaya apa yang sudah kita miliki ini jangan sampai hilang. Kita lestarikan, kita majukan, kita globalkan , insyaallah kita menduniakan,” harapnya.

Pameran Keliling bertajuk “Jejak Tenun Identitas Sumbawa” sejumlah 27 koleksi yang di tampilkan oleh Museum NTB. Di antara koleksi-koleksi ini, ada dua buah koleksi wastra yaitu “cipo cila” dan “kre alang bermotif perahu” pernah dipamerkan dalam pameran Islamic Arts Biennale 2025 di Jedah, Arab Saudi, pada 25 Januari hingga 25 Mei 2025 lalu.

Menurut pemandu pameran keliling wastra Museum NTB, Yunita Ratnaningtyas dua koleksi tersebut mendapat perhatian dunia pada saat Museum NTB mewakili Indonesia pada pameran di Jeddah.

Menurutnya, kekaguman mereka terhadap koleksi tersebut, karena usia kain yang sudah sangat tua tapi motifnya luar biasa rumit dan sangat indah. Sehingga ini menandakan peradaban masyarakatnya sudah tinggi.

“Jadi koleksi ini waktu dibawa ke Jeddah benar-benar mendapat apresiasi yang luar biasa. Tidak hanya dari pengunjung pameran tapi juga dari kurator-kurator museum yang terlibat dalam pameran Islamic art Biennale pada saat itu,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Museum NTB, Dr. Ahmad Nuralam menuturkan bahwa keindahan kre alang bukan hanya sebagai hasil produk kain semata tetapi kre alang harus dinilai sebagai karya seni.

“Kre alang Sumbawa harus dimaknai sebagai karya seni dari perempuan perempuan sumbawa yang di buat dengan mengunakan rasa cipta dan kecerdasan,” tutur Dr. Nuralam dalam pembukaan Pameran Wastra Kre Alang Jejak Tenun Identitas Sumbawa. (ham)

PT Pegadaian Area Ampenan & Dinas Koperasi NTB Ditunjuk sebagai Penyelenggara Akad Massal KUR 800.000 Debitur UMKM di NTB

0

Lombok (ekbisntb.com) – PT Pegadaian Area Ampenan kembali menunjukkan komitmennya sebagai mitra strategis pemerintah, dalam mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif di daerah. Melalui program akad massal 800.000 debitur UMKM dan penciptaan lapangan kerja, Pegadaian turut menyukseskan kegiatan nasional yang digelar serentak di 38 provinsi di seluruh Indonesia.

Di wilayah NTB, tercatat 350 debitur Pegadaian menjadi bagian dari pelaksanaan akad massal ini. Para penerima manfaat berasal dari berbagai sektor yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di NTB.

Selain berfokus pada pembiayaan produktif, Pegadaian juga terus mengembangkan berbagai program pembinaan dan pemberdayaan bagi nasabah, agar pelaku umkm dapat tumbuh lebih mandiri dan berkelanjutan.

Deputi Bisnis Pegadaian Area Ampenan Muhammad Efendi menyampaikan, bahwa pemberian KUR Pegadaian ini bersifat syariah, dengan bunga hanya 3 persen per tahun, sehingga tidak memberatkan UMKM. Bila dibandingkan dengan KUR konvensional dengan bunga mencapai 6 persen.

Pemerintah pun mengapresiasi peran Pegadaian dalam memberikan bantuan KUR bagi UMKM khsusnya di NTB.

Asisten III Setda NTB, Eva Dewiyani berharap dengan pemberian bantuan dana KUR ini, dapat membantu pengembangan usaha UMKM di NTB.

Ke depannya pihak pegadaian bekerja sama dengan Dinas Koperasi NTB untuk melakukan kurasi bagi penerima manfaat kredit usaha rakyat tersebut. (r/*)

PIM dan Dekranasda Jajaki Peluang Kolaborasi Membangun NTB

0
Ketua Dekranasda NTB, Ibu Sinta Agathia Iqbal dan Ketua PIM NTB, Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi, SH beserta rombongan melakukan pertemuan dan membahas isu-isu strategis membangun NTB

Lombok (ekbisntb.com) – Organisasi Perempuan Indonesia Maju (PIM) Provinsi NTB melakukan pertemuan silaturahmi dengan Ketua Dekranasda NTB, Ibu Sinta Agathia Iqbal, yang juga istri Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal, pada Rabu, 22 Oktober 2025. Pertemuan yang berlangsung hangat ini menjadi ajang bertukar pikiran dan menjajaki peluang kolaborasi antara PIM dan Dekranasda dalam berbagai program pemberdayaan perempuan dan masyarakat di NTB.

Rombongan PIM NTB dipimpin langsung Ketua PIM NTB, Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi, SH. Dalam pertemuan ini, Hj. Diyah yang juga mantan senator NTB ini menyampaikan sejumlah program kerja PIM yang akan dan telah dijalankan. Program tersebut meliputi penanganan sampah, pencegahan stunting, upaya mencegah pernikahan dini, pengembangan dan pemberdayaan UMKM, pelatihan keterampilan perempuan, serta pelestarian permainan tradisional.

“Alhamdulillah, Ibu Sinta menerima kami dengan sangat baik. Kami juga berdiskusi banyak hal, termasuk soal adat dan budaya lokal NTB,” ujar Baiq Diyah.

Ia menilai pertemuan itu menjadi langkah awal yang positif untuk menyinergikan program PIM dengan Dekranasda, mengingat banyak kesamaan visi dan misi di antara keduanya.

Menurutnya, program yang dijalankan Dekranasda NTB memiliki arah yang sejalan dengan upaya PIM dalam mendorong kemandirian perempuan dan masyarakat desa.

“Program Dekranasda juga tidak jauh berbeda dengan program PIM. Karena itu, kami berharap bisa berkolaborasi dalam melaksanakan program pembangunan di daerah ini,” tambahnya.

Lebih lanjut, Baiq Diyah menyebutkan bahwa PIM NTB siap berperan aktif mendukung berbagai kegiatan yang digagas Dekranasda, terutama yang berkaitan dengan pemberdayaan ekonomi perempuan, pelestarian budaya, dan peningkatan kapasitas masyarakat. Apalagi, Ibu Sinta selain sebagai Ketua Dekranasda, juga menjabat sebagai Bunda PAUD dan Ketua Permainan Tradisional NTB.

“Ini sejalan dengan program PIM yang juga fokus pada pelestarian permainan tradisional dan pendidikan anak usia dini. Kami meyakini, dengan bekerja sama akan memberi dampak positif bagi perempuan dan masyarakat desa di NTB,” ungkapnya.

Pertemuan tersebut diakhiri dengan komitmen kedua pihak untuk menindaklanjuti pembahasan program kolaboratif secara konkret. Kolaborasi antara PIM dan Dekranasda diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam memperkuat peran perempuan NTB sebagai agen perubahan di berbagai sektor sosial, ekonomi, dan budaya, termasuk dibidang kesehatan.(bul)

Melebihi Target Mingguan,Progres Revitalisasi Serasuba Capai 30 Persen

0
Suasana Lapangan Serasuba yang sedang dalam proses pembangunan di bagian selatan, Rabu 22 Oktober 2025.(ekbis NTB/hir)

Kota Bima (ekbisntb.com) – Progres revitalisasi kawasan Serasuba di Kota Bima terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga pekan kelima, pekerjaan fisik proyek telah mencapai 30 persen, melampaui target mingguan yang dipatok sebesar 25 persen.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) kegiatan revitalisasi Serasuba, Sri Wahyuningsih, ST, menyampaikan bahwa capaian ini menunjukkan kinerja lapangan berjalan baik dan sesuai jadwal. “Dalam jadwal pelaksanaan, target minggu ini 25 persen, tapi realisasi fisik sudah mencapai 30 persen,” ujarnya kepada Suara NTB, Rabu 22 Oktober 2025.

Menurut Sri, pekerjaan yang sedang berjalan saat ini meliputi pembangunan drainase dan pemasangan atribut lengge di area pintu masuk kawasan Serasuba. Kedua item tersebut menjadi bagian penting dari tahap awal revitalisasi karena berfungsi memperbaiki sistem tata air dan memperkuat identitas lokal kawasan.

“Sekarang tim sedang fokus menyelesaikan drainase agar aliran air lebih tertata, sekaligus menata elemen estetika lewat atribut lengge sebagai simbol budaya Bima,” jelasnya.

Revitalisasi Serasuba menjadi salah satu proyek prioritas Pemerintah Kota Bima tahun ini. Kawasan yang dulunya sering dimanfaatkan untuk kegiatan masyarakat dan hiburan itu kini tengah disulap menjadi ruang publik yang lebih tertata, ramah lingkungan, dan berkarakter budaya lokal. Pemerintah berharap setelah rampung, kawasan ini akan menjadi ikon baru wisata kota sekaligus ruang interaksi warga.

Pencapaian progres 30 persen tanpa deviasi dari jadwal menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan proyek. Sri menegaskan bahwa pengawasan di lapangan terus dilakukan secara ketat untuk menjaga kualitas pekerjaan dan ketepatan waktu. “Kami tetap mengacu pada jadwal yang sudah ditetapkan, tapi juga memastikan kualitas pekerjaan tetap terjaga,” tambahnya.

Pemerintah menargetkan seluruh pekerjaan rampung sesuai kontrak yang telah ditetapkan. Jika cuaca mendukung dan tidak ada kendala berarti, penyelesaian proyek dapat dilakukan tepat waktu, bahkan berpotensi lebih cepat dari jadwal.

“Revitalisasi Lapangan Serasuba lama waktu pekerjaan hingga 31 Desember 2025. Revitalisasi meliputi penataan taman, joging track, lapak PKL, hingga fasilitas toilet umum akan disiapkan,” pungkasnya. (hir)

Tertibkan PKL

0
Hj. Baiq Mirdiati(ekbis NTB/ist)

KAWASAN Tembolak yang berada di perbatasan antara Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat (Lobar) kian menuai sorotan. Kondisinya yang kini terlihat kumuh, penuh sampah dan semrawut akibat aktivitas Pedagang Kaki Lima (PKL) yang tak tertata, dinilai mencederai wajah kota yang semestinya tampil bersih, rapi, dan nyaman.

Kawasan ini menjadi titik penting karena berdekatan langsung dengan Jalan Lingkar Selatan yang ke depan akan menjadi lokasi berdirinya Kantor Wali Kota Mataram. Wakil Ketua DPRD Kota Mataram, Hj. Baiq Mirdiati  mengungkapkan kekhawatiran mereka atas kondisi yang semakin tidak terkendali di wilayah tersebut.

“Kalau dibiarkan terus, ini akan jadi menjamur yang makin sulit diatur. Ini wajah kota, perbatasan masuk, masa dibiarkan kumuh begitu?” ujarnya kepada Suara NTB di Mataram, Selasa 22 Oktober 2025.

Pantauan di lapangan menunjukkan banyak PKL masih menggunakan trotoar dan bahu jalan untuk berjualan. Selain mengganggu arus lalu lintas dan membahayakan keselamatan, kondisi ini juga jelas melanggar aturan tentang penggunaan ruang publik.

Meski kehadiran PKL dianggap membantu ekonomi rakyat kecil, namun penataan yang buruk justru berisiko memunculkan konflik kepentingan antara pejalan kaki, pengendara, dan para pedagang itu sendiri.

“Yang kita inginkan bukan menggusur PKL. Justru kita ingin mereka tetap bisa berjualan, tetapi dengan tempat yang layak dan tidak membahayakan diri mereka ataupun pengguna jalan lain,” lanjut politisi Partai Gerindra ini.

Mirdiati mendorong Satpol PP Kota Mataram untuk segera melakukan langkah penertiban secara persuasif dan terukur. Penertiban diharapkan tidak sekadar bersifat represif, melainkan juga disertai dengan solusi yang berkelanjutan, seperti penyediaan lokasi relokasi yang representatif.

“Pemkot harus hadir di sini. Kalau Kantor Wali Kota akan dibangun di jalur ini, sudah sepantasnya kawasan ini menjadi wajah kota yang bersih, rapi, dan nyaman. Tidak bisa dibiarkan terus seperti ini,” tegas Mirdiati.

Selain upaya penataan PKL, masalah pengelolaan sampah di kawasan tersebut juga perlu segera dibenahi. Tumpukan sampah yang berserakan tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat sekitar.

Anggota dewan tiga periode ini berharap pemerintah daerah, khususnya Pemkot Mataram, segera mengambil langkah nyata dalam membenahi kawasan perbatasan tersebut. Penataan ulang ruang publik, pengelolaan kebersihan, serta pembinaan terhadap PKL menjadi tuntutan utama.

“Kita ingin Kota Mataram punya wajah yang enak dipandang mata, nyaman bagi pejalan kaki, aman bagi pengguna jalan, dan tetap ramah bagi para pedagang kecil. Semuanya bisa berjalan asal ada niat dan tindakan tegas dari pemerintah,” pungkas Mirdiati.

Dengan pembangunan terus berkembang ke arah selatan, wajah perbatasan kota bukan hanya persoalan estetika, tapi juga mencerminkan komitmen pemerintah dalam menciptakan tata kota yang teratur, manusiawi, dan berkelanjutan. (fit)