Beranda blog Halaman 128

43 Desa di Kabupaten Bima Terancam Kekeringan

0
43 Desa di Kabupaten Bima Terancam Kekeringan
(EKBIS NTB/ist) DISTRIBUSI - Petugas BPBD Kabupaten Bima menyalurkan air bersih kepada warga yang mengalami kesulitan air akibat kekeringan pekan kemarin.


Bima (EKBIS NTB) – Ancaman kekeringan di Kabupaten Bima semakin meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memetakan sebanyak 43 desa di 15 kecamatan berpotensi terdampak kekeringan pada musim kemarau 2026. Hal ini akan berdampak terhadap 8.665 kepala keluarga (KK) atau 27.343 jiwa.


Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bima, Abdul Muis, S.Sos.,mengatakan pihaknya telah memetakan potensi ancaman kekeringan di 43 desa. Kemarau ini akan berdampak terhadap 27.343 jiwa, sehingga data tersebut menjadi dasar pemerintah daerah dalam menyiapkan langkah penanganan agar dampak kekeringan tidak semakin meluas.


“Data ini menjadi dasar kami dalam menentukan langkah penanganan, mulai dari penyaluran air bersih hingga koordinasi lintas perangkat daerah agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” ujarnya usai Rapat Koordinasi Penanganan Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pekan kemarin.


Berdasarkan data BPBD per 6 Agustus 2026, wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Desa Tenga, Kalampa, dan Talabiu di Kecamatan Woha;

Tangga, Simpasai, dan Sondo di Kecamatan Monta; Nata, Tonggorisa, Ntonggu, Teke, Belo, Bre, Ragi, Padolo, Roi, Dore, Panda, dan Nunggi di Kecamatan Palibelo; Tawali, Sangiang, dan Hidirasa di Kecamatan Wera; Oi Dungga dan Mpili di Kecamatan Donggo; Sanolo di Kecamatan Bolo; Parangina dan Bugis di Kecamatan Sape; Maria Utara, Pesa, dan Kombo di Kecamatan Wawo; Teta di Kecamatan Lambitu; Manta Baru, Mangge, dan Kaleo di Kecamatan Lambu; Runggu, Roka, Cenggu, Diha, dan Ncera di Kecamatan Belo; Bajo di Kecamatan Soromandi; Nipa di Kecamatan Ambalawi; serta Piong di Kecamatan Sanggar dan Oi Katupa serta Kawinda Toi di Kecamatan Tambora.


Menurut Abdul Muis, sejumlah desa tersebut dipetakan berdasarkan potensi kekurangan air bersih selama musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Niño.


“Kami terus memperbarui data sesuai perkembangan di lapangan sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran,” katanya.


BPBD mencatat Desa Ntonggu di Kecamatan Palibelo menjadi wilayah dengan potensi warga terdampak terbanyak, mencapai 3.696 jiwa. Selanjutnya, Desa Pesa di Kecamatan Wawo sebanyak 2.217 jiwa, Desa Roi di Kecamatan Palibelo 2.172 jiwa, serta Desa Runggu di Kecamatan Belo sebanyak 2.067 jiwa.


Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pihaknya bersama instansi terkait telah mulai mendistribusikan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kesulitan air.


“Distribusi air bersih terus kami lakukan sesuai tingkat kebutuhan masyarakat di lapangan. Penanganan ini akan disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah terdampak,” ujarnya.


Selain menyiapkan penanganan kekeringan, Pemkab Bima juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang umumnya meningkat pada musim kemarau.

Melalui rapat koordinasi tersebut, seluruh perangkat daerah diminta memperkuat sinergi, sementara pemerintah desa diimbau mengedukasi masyarakat agar menghemat penggunaan air serta mencegah aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.


“Kami mengajak seluruh masyarakat ikut menjaga lingkungan, menggunakan air secara bijak, dan segera melaporkan apabila terdapat kejadian yang berpotensi menimbulkan bencana agar bisa ditangani sejak dini,” pungkasnya. (hir)


Bupati Amar Ingin Pariwisata KSB Benar-Benar Jadi Milik Rakyat

0
Bupati Amar Ingin Pariwisata KSB Benar-Benar Jadi Milik Rakyat
(EKBIS NTB/ist) FOTO BERSAMA – Bupati KSB, H. Amar Nurmansyah bersama seluruh peserta kegiatan sharing sesion pariwisata kerakyatan yang digelar PWI KSB foto bersama pekan kemarin.


Taliwang (EKBIS NTB) – Bupati Sumbawa Barat, H. Amar Nurmansyah ingin konsep pariwisata kerakyatan yang dikembangkan pemerintah daerah tidak berhenti pada pembangunan destinasi dan peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Baginya, pariwisata harus mampu menciptakan usaha baru dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.


Demikian pernyataan disampaikan Bupati Amar dalam sharing session yang digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) bersama tokoh masyarakat, pemuda, mahasiswa, dan pengurus BUMDes di Bendungan Tiu Suntuk, Kecamatan Brang Ene pekan kemarin.


Menurut Bupati, pengembangan pariwisata kerakyatan merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah menyiapkan sumber pertumbuhan ekonomi baru. Sumbawa Barat kata dia, tidak bisa selamanya menggantungkan perekonomian pada satu sektor.

Karena itu, pemerintah daerah membangun tiga klaster utama sebagai penopang ekonomi yakni pertanian, pariwisata, dan industri.


Langkah tersebut dinilai semakin penting,karena Sumbawa Barat berpotensi kehilangan status sebagai kabupaten penghasil di bidang pertambangan yang selama ini menjadi penopang ekonomi daerah.

“Strategi ini kita harap mampu menopang kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Bupati.


Khusus pengembangan pariwisata, Bupati membedakan wisata berbasis investasi dengan wisata kerakyatan. Dia mengatakan investasi tetap dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata. Namun, keberadaan investasi harus mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.

“Saya tidak mau pariwisata hanya berputar di klaster investasi. Maka hadirnya konsep pariwisata kerakyatan itu, tujuannya bagaimana aktivitas pariwisata dilaksanakan dan dirasakan juga manfaatnya oleh masyarakat secara langsung,” tandasnya.


Amar mengatakan, konsep wisata kerakyatan harus membuka ruang bagi masyarakat untuk menjadi pelaku utama. BUMDes, kelompok sadar wisata (Pokdarwis), pemuda hingga pelaku UMKM harus memiliki peran dalam ekosistem pariwisata.

“Pengembangan pariwisata kerakyatan ini kita kreasikan secara tematik. Sebab,itu tidak saja yang di Brang Ene ini, aktivitas pariwisata di seluruh kecamatan yang dikelola langsung masyarakat baik yang sudah berjalan mau pun belum akan juga kita didukung penuh,” janji Bupati.


Gagasan Bupati itu mendapat respon positif. Tokoh masyarakat Brang Ene, Syafruddin Deni yang hadir dalam acara itu menyatakan, konsep pariwisata kerakyatan yang diusung pemerintah saat ini sangat baik. Namun, implementasi lapangan harus terus dapat dipastikan melibatkan masyarat. “Konsistensi melibatkan masyarakat dari hulu sampai hilir membangun pariwisata kerakyatan itu yang harus dijaga pemerintah,” katanya.


Sementara itu, pengurus BUMDes Brang Ene, Bahri menyatakan kesiapan BUMDes mengambil peran dalam pengembangan wisata. Namun, masyarakat masih membutuhkan penjelasan lebih konkret mengenai konsep pariwisata kerakyatan, terutama pola pengelolaan serta pembagian peran antara BUMDes, Pokdarwis, dan masyarakat.


Menanggapi masukan tersebut, Bupati pun meminta dukungan seluruh elemen masyarakat. Ia menyadari konsep pariwisata kerakyatan itu tidak dapat diwujudkan secara instan,karena membutuhkan proses yang sangat panjang. “Ada peruabahan, ada penambahan yang harus kita lalui membangun pariwisata kerakyatan ini,” imbuh Bupati. (bug)


Arena Pacuan Kuda Moyo Hilir Kembali Dimanfaatkan

0
Arena Pacuan Kuda Moyo Hilir Kembali Dimanfaatkan
(EKBIS NTB/ist) PACUAN KUDA – Dua orang atlet memacu kudanya pada perlombaan pacuan kuda yang digelar di Arena Pacuan Kuda di Kecamatan Moyo Hilir, Kabupaten Sumbawa pada, Minggu (9/8)


Sumbawa Besar (EKBIS NTB)– Pemerintah Kabupaten Sumbawa kembali memanfaatkan Arena Pacuan Kuda di Kecamatan Moyo Hilir. Pasca tidak pernah ada kegiatan atau vakum selama 12 tahun. Saat ini, arena tersebut menggelar turnamen pertama yang diikuti 278 peserta pada, Minggu (9/8).


Ketua Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PORDASI) Kabupaten Sumbawa, H.Jabir mengatakan antusiasme peserta tahun ini meningkat dibandingkan pelaksanaan tahun sebelumnya.

Jika tahun lalu jumlah peserta masih di bawah 200, kini jumlahnya mencapai 278 peserta.


“Ini menunjukkan bahwa animo masyarakat terhadap pacuan kuda semakin meningkat setiap tahunnya,” kata H. Jabir.
Ia melanjutkan, dalam event Bupati Cup 2026 mempertandingkan 12 kelas.

Pada hari pertama perlombaan, dua kelas dipertandingkan yakni kelas TK dan OA. Adapun biaya pendaftaran sebesar Rp350 ribu dengan hadiah yang cukup besar bagi para pemenang.


“Juara pertama memperoleh Rp8 juta, juara kedua Rp7 juta dan juara ketiga Rp6 juta, ditambah berbagai hadiah menarik lainnya,” ujarnya.


Bupati Kabupaten Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot menegaskan penyelenggaraan Bupati Cup bukan sekadar agenda perlombaan, tetapi bagian dari komitmen pemerintah untuk mempertahankan pacuan kuda.

Pacuan kuda bukan hanya sebagai olahraga tetapi tradisi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat Sumbawa.


“Ini tahun kedua pelaksanaan Pacuan Kuda Bupati Sumbawa Cup. Meski tahun lalu masih dalam skala kecil, tetapi ini merupakan bentuk komitmen kita agar pacuan kuda tetap lestari,” ujar Bupati.


Menurut Jarot, setelah 12 tahun vakum, Arena Pacuan Kuda Moyo Hilir kini kembali dimanfaatkan untuk menggelar event pacuan kuda. Pemerintah daerah tidak ingin kebangkitan tersebut berhenti hanya pada satu atau dua penyelenggaraan saja.


“Kedepan kita akan rindangkan arena ini. Kita tanam lagi pohon-pohon di sini, kita tambah fasilitasnya termasuk tribunnya,” katanya.
Di musim hujan tahun lalu kata Bupati, Pemkab Sumbawa telah mengerahkan ASN untuk melakukan penanaman pohon di kawasan arena.

Bahkan sebagian besar tanaman tersebut kini tumbuh dengan baik, meskipun penghijauan masih belum merata.


Bupati menilai penyelenggaraan pacuan kuda saat ini, semakin penting karena berbagai kegiatan serupa yang dahulu cukup marak mulai berkurang. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan Bupati Cup.


Selain menjaga tradisi dan mengembangkan olahraga, Bupati melihat pacuan kuda memiliki dampak ekonomi yang lebih luas. Kehadiran ratusan peserta dari berbagai daerah bersama keluarga, kru, dan masyarakat yang datang menyaksikan perlombaan, dinilai dapat menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.


“Event ini punya multiplier effect untuk masyarakat. Pemerintah juga akan terus melakukan pembenahan kawasan, agar Arena Pacuan Kuda Moyo Hilir semakin nyaman, rindang, dan memiliki fasilitas yang lebih memadai,” tambahnya. (ils)


Pencinta Burung di Mataram Bisa Raup Untung Puluhan Juta

0
Pencinta Burung di Mataram Bisa Raup Untung Puluhan Juta
(EKBIS NTB/sib) BERNILAI FANTASTIS - Beberapa penggemar burung di Mataram usai mengikuti lomba pada Sabtu (8/8) pekan kemarin di Taman Budaya NTB. Harga Burung Murai Batu bernilai fantastis apabila menjuarai lomba.


Mataram (EKBIS NTB) – Suara nyaring burung Murai Batu menggema di sudut lapangan Taman Budaya NTB, Sabtu (8/8) pekan kemarin. Di dalam sangkar, burung-burung itu meloncat lincah sembari berkicau saling bersahutan.


Di bawah sangkar, Zaki (30) duduk menanti. Ia merangkul kedua kakinya sembari terus menatap Murai Batu miliknya yang sedang bertanding. Raut gelisah terpancar dari wajahnya. Cemas memikirkan apakah burung jagoannya mampu tampil maksimal.


Zaki tak sendiri. Puluhan pria sesama pencinta burung juga duduk lesehan di sekitar arena. Suara tiruan burung terus bersahut-sahutan dari bibir mereka, tak kalah nyaring dari kicauan Murai Batu yang bertanding.


Siang itu, mereka sedang mengikuti latihan bersama yang rutin diadakan oleh komunitas lokal. Ajang ini menjadi pemanasan sebelum kompetisi berskala lebih besar.


“Ini cuma latihan bersama. Tapi tetap pakai tiket Rp20 ribu. Kalau yang pertandingan ada yang Rp500 ribu, ada yang hadiahnya motornya. Di Jawa hadiahnya mobil tiketnya Rp50 juta,” ujar Zaki.


Hadiah bernilai fantastis memang menjadi magnet tersendiri bagi para pencinta burung. Namun, bagi Zaki dan rekan-rekannya, nilai jual burung yang melambung tinggi jauh lebih menjanjikan ketimbang sekadar hadiah perlombaan.
“Harga burung di NTB ada yang sampai Rp80 juta,” tuturnya.


Meski potensi bisnisnya amat menggiurkan, Zaki menegaskan, kecintaan pada burung tetap menjadi alasan utama. Menurutnya, memelihara burung butuh kesabaran dan pemahaman mendalam karena setiap burung memiliki karakter unik.


“Tergantung karakter burungnya. Kalau memang petarung, ya, petarung. Kalau dia memang bukan petarung, diapa-apain saja tidak bisa bertarung,” kata Zaki.


Hari itu keberuntungan belum berpihak pada Zaki. Murai Batunya gagal menunjukkan performa terbaik. Tanpa berlama-lama, ia langsung menutup sangkarnya dan bergegas meninggalkan arena.


Berbeda nasib dengan Zaki, senyum sumringah justru terpancar dari wajah Ari (47). Murai Batu miliknya baru saja menyabet gelar juara.


Pria asal Gerung, Lombok Barat ini sudah menekuni hobi memelihara burung sejak kecil akibat tertular kegemaran sang ayah. Dari ketekunan tersebut, ia pernah meraup keuntungan besar dari menjual burung rawatannya.


“Itu saya rawat cuma lima bulan. Burungnya beli di Jawa. Saya beli dengan harga Rp6,5 juta,” terangnya.
Burung tersebut akhirnya laku terjual seharga Rp28 juta. Ari menilai pasar jual-beli burung berkicau amat prospek.

Pembelinya datang dari berbagai kalangan mulai dari pejabat hingga pengusaha berkantong tebal.“Kebanyakan bos-bos. Kita kan cuma akar rumput. Otomatis mengikuti aja,” kata Ari.


Agar nilai jual burung melonjak drastis, para pemilik harus rajin mengikutsertakan burungnya ke berbagai ajang lomba. Salah satunya melalui latihan bersama yang diselenggarakan oleh Komunitas Radjawali.


Perkembangan hobi burung di Mataram tak lepas dari peran komunitas. Salah satunya Komunitas Radjawali. Kelompok ini aktif memfasilitasi para penggemar burung melalui ajang latihan bersama hingga kompetisi resmi.


Erwin, salah satu panitia latihan bersama Komunitas Radjawali, tampak sibuk siang itu. Tangannya cekatan mencatat nama-nama Murai Batu yang bertanding beserta raihan poinnya.

Ia menjelaskan bahwa Komunitas Radjawali tidak hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi juga menyediakan tim penilai yang objektif.


“Jurinya dari sini. Kecuali ada event besarnya baru ada juri dari luar,” ungkap Erwin.
Proses penilaian pun dilakukan secara ketat dan terukur. Para juri dituntut teliti dalam menilai kualitas kicauan, stamina dan gaya bertarung dari setiap burung yang dilagakan.


Keberadaan komunitas ini menjadi kesyukuran tersendiri bagi para penggemar burung di Mataram. Selain sebagai wadah untuk menguji kehebatan burung masing-masing, komunitas ini juga jadi salah satu cara merawat hobi dan bertemu sesama pencinta burung. (sib)


Profesor Turun Gunung, Ikhtiar Mengembalikan Kejayaan Kopi Sembalun

0
Profesor Turun Gunung, Ikhtiar Mengembalikan Kejayaan Kopi Sembalun

Selong (EKBIS NTB) – Upaya mengembalikan kejayaan kopi Arabika Sembalun mulai digerakkan dari hulu. Bukan hanya soal menanam dan memperbanyak bibit, tetapi membangun sistem pertanian yang sehat, berkelanjutan, mandiri dalam input, hingga mampu meningkatkan nilai ekonomi petani.


Ikhtiar ini dilakukan melalui Program Profesor Berdampak yang memasuki kegiatan lanjutan ketiga dan keempat di kawasan Agrowisata Sembalun, Lombok Timur, 8–9 Agustus 2026.


Program bertema “Melalui Program Profesor Berdampak Kita Tingkatkan Sinergitas untuk Membangun Pertanian Terpadu Berkelanjutan di Kawasan Agrowisata Sembalun” itu dipimpin Prof. M. Sarjan, M.Agr.CP., Ph.D., dengan melibatkan sejumlah perguruan tinggi dan mitra lokal.


Di antaranya Universitas Hamzanwadi, Universitas 45 Mataram, Universitas Muhammadiyah Mataram, SMKPP Negeri Mataram, serta kelompok pemuda lokal Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN).


Yang menarik, langkah awal yang dipilih para profesor bukan memberikan teori kepada petani. Mereka justru mendengar langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.


Dalam diskusi hari pertama, tim menghadirkan petani maju senior, petani muda, anggota Kelompok Wanita Tani dan pengurus BPAN. Persoalan kopi dan sejumlah komoditas unggulan Sembalun dibedah dari perspektif petani sendiri.


Ketua Tim Program Profesor Berdampak, Prof. M. Sarjan, mengatakan petani merupakan pihak yang paling mengetahui persoalan di lapangan.


“Yang merasakan dan mengetahui masalah selama budidaya dan usaha tani adalah petani sendiri. Kami dari berbagai bidang datang mendengarkan dan bersama-sama mencari solusi terbaik yang bisa dilakukan,” ujarnya.


Pendekatan ini sekaligus membuka ruang bagi petani menyampaikan persoalan, gagasan dan harapan terkait keberlanjutan program.

Menghidupkan Kembali Kopi Arabika Sembalun

Salah satu harapan kuat datang dari tokoh petani H. Ruspaini. Ia berharap Program Profesor Berdampak mampu membantu petani membangun pertanian berbasis budidaya tanaman sehat, khususnya kopi.


Ia juga mengajak komunitas petani Sembalun bersama-sama mengembalikan kejayaan kopi Arabika asli Sembalun.
Menurut dia, langkah bisa dimulai dengan memperbanyak pembibitan sejak sekarang, terlebih Unram telah membawa program yang secara khusus memberi perhatian pada komoditas kopi.


Harapan serupa disampaikan Ustaz Qudus. Ia mengaku senang dapat berinteraksi langsung dengan para profesor dan berharap petani ikut aktif mendukung program tersebut.
Tak hanya menyampaikan gagasan, Qudus bahkan telah mulai bergerak.


Bersama mahasiswa KKN Unram, ia berinisiatif melakukan pembibitan sekitar 20 ribu pohon kopi untuk disiapkan ditanam pada musim hujan berikutnya.


Petani Minta Pendampingan Tak Berhenti di Hulu
Petani milenial Akbar mengingatkan agar program pengembangan kopi tidak berhenti pada persoalan budidaya.
Penerapan Good Agricultural Practices (GAP), menurut dia, membutuhkan panduan teknis yang sederhana dan mudah diterapkan petani.


Ia berharap Unram dapat membantu menyusun SOP sebagai pedoman penerapan GAP pada tanaman kopi.
Lebih dari itu, petani juga membutuhkan pendampingan di sektor hilir, terutama pengolahan dan pemasaran.


“Program ini jangan hanya pada kegiatan di hulu. Kami juga perlu dibantu bagaimana masalah di hilir, seperti processing dan pemasaran. Tolong kami diberikan juga panduan sederhana terkait masalah perkopian di hilir,” ujarnya.


Artinya, upaya mengembalikan kejayaan kopi Sembalun tidak cukup hanya dengan memperbanyak tanaman. Petani juga harus memiliki kemampuan menghasilkan produk berkualitas, mengolah hasil panen dan memperoleh akses pasar yang lebih baik.

Strawberry Didorong Lebih Aman

Diskusi juga berkembang pada komoditas lain yang menjadi daya tarik Agrowisata Sembalun, yakni strawberry.
Perwakilan BPAN, Endo, yang selama ini fokus pada pengembangan kopi, mengusulkan adanya inovasi penggunaan input nonkimia, baik pupuk maupun pestisida, untuk budidaya strawberry.


Hal ini dinilai penting karena strawberry Sembalun banyak dikembangkan dalam konsep wisata petik sendiri dan dikonsumsi langsung di lokasi.


“Kalau produk seperti strawberry dikonsumsi segar, mestinya ada jaminan aman dikonsumsi,” ujarnya.
Gagasan tersebut sejalan dengan konsep pertanian sehat yang ingin dikembangkan melalui Program Profesor Berdampak.


Tim mendorong pemanfaatan bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap input dari luar. Limbah pertanian dan peternakan dapat diolah menjadi pupuk organik, sementara agen hayati dapat diproduksi secara mandiri.


Petani komoditas segar juga didorong mulai mengurus sertifikasi Prima 3 sebagai salah satu bentuk jaminan keamanan pangan produk segar.


Dengan sertifikasi dan pelabelan tersebut, produk diharapkan memiliki nilai tambah dan peluang memperoleh harga lebih baik di pasar.

Kearifan Lokal Dipadukan Teknologi

Persoalan pertanian berkelanjutan di Sembalun ternyata tidak hanya berkaitan dengan teknologi.
Dalam diskusi, muncul pula pentingnya mempertahankan kearifan lokal, termasuk penentuan jadwal tanam dan tradisi gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat.


Namun, modernisasi dan digitalisasi perlahan mengubah praktik tersebut.
Karena itu, tim mendorong model pertanian yang tidak meninggalkan kearifan lokal, tetapi memadukannya dengan intervensi teknologi modern.


Kearifan lokal menjadi fondasi, sementara teknologi menjadi penguat.
Pendekatan itu dinilai penting agar pembangunan pertanian Sembalun tidak kehilangan karakter sosial dan budaya masyarakat setempat.

Dari Diskusi Langsung Praktik di Kebun

Komitmen Program Profesor Berdampak tidak berhenti di ruang diskusi.


Tim Unram yang terdiri atas Prof. Taufik Fauzi, Prof. Ruth Stella, Prof. Aluh Nikmatullah, Prof. Yusron Saadi, Prof. Sulhaeni dan Ir. Hery Haryanto, M.Si., sepakat melanjutkan pendampingan langsung kepada petani.


Fokusnya mencakup penerapan GAP pada kopi dan budidaya sehat untuk berbagai komoditas unggulan, termasuk produk yang dikonsumsi segar seperti strawberry.


Setelah diskusi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan pupuk organik yang diperkaya agen hayati Trichoderma cair.
Tim juga memperagakan pembuatan pestisida berbahan lokal dari daun paitan sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan pestisida kimia.


Pada hari kedua, Minggu (9/8/2026), pendampingan masuk ke tahap praktik penerapan GAP di lapangan. Tim bersama petani melakukan pemberian pupuk organik berbahan kotoran kambing pada kebun kopi mitra, yakni kebun milik Asel Norman Tanjung dan Amaq Azrin.

Kolaborasi Diperluas

Program ini juga mendapat dukungan dari perguruan tinggi mitra.
Universitas Hamzanwadi melalui Prof. Khirjan Nahdi, Universitas 45 Mataram melalui Ir. Baharudin, MP., dan Universitas Muhammadiyah Mataram melalui Budi Wiryono, SP., M.Si., menyatakan kesiapan mendukung kolaborasi pendampingan petani Sembalun.


Kepala SMKPPN Mataram, Sugiarta, S.Pi.,M.Pd.,M.Si., yang saat ini menempuh program doktor di Pascasarjana Unram, juga menyatakan dukungan, termasuk dalam penyediaan tenaga kompetensi dan fasilitas laboratorium, khususnya laboratorium kultur jaringan.


Dukungan turut datang dari LSPB Mataram dan MAPORINA NTB yang menyatakan kesiapan terlibat aktif dalam program kolaborasi tersebut.


Dengan pola kolaborasi lintas perguruan tinggi, komunitas dan petani, Program Profesor Berdampak diharapkan tidak berhenti sebagai program akademik.


Targetnya lebih jauh: membangun ekosistem pertanian Sembalun yang sehat, mandiri dan berkelanjutan.


Dan untuk kopi Arabika Sembalun, langkah itu dimulai dari hal paling dasar: bibit, budidaya yang benar, tanah yang sehat, pengolahan yang baik, hingga pasar yang mampu memberi nilai lebih kepada petani.(bul)

Dari Festival ‘’Mobok Balang’’, Gubernur Ajak Masyarakat Rawat Peninggalan Sejarah dan Jaga Lingkungan

0
Dari Festival ‘’Mobok Balang’’, Gubernur Ajak Masyarakat Rawat Peninggalan Sejarah dan Jaga Lingkungan
CARI BELALANG - Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal bersama masyarakat dan peserta Festival Mobok Balang mencari belalang yang akan ditangkap, Sabtu (8/8) malam. (EKBIS NTB/ist)

Praya (EKBIS NTB) – Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, mengajak masyarakat Desa Tanah Beak, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, menjaga kelestarian lingkungan sekaligus merawat peninggalan sejarah yang terdapat di wilayah tersebut.


Pesan itu disampaikan Gubernur saat membuka Festival Mobok Balang (Menangkap Belalang) ke-4 Tahun 2026 di Desa Tanah Beak, Kecamatan Batukliang, Sabtu (8/8) malam.


Festival bertema “Semarak Kemerdekaan, Lestarikan Tradisi dan Kebersamaan” tersebut digelar dalam rangka menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.


Gubernur mengatakan Tanah Beak memiliki lingkungan alam yang masih terjaga dan menjadi bagian penting dari ekosistem masyarakat di wilayah tersebut maupun daerah di sepanjang aliran sungai di bawahnya.


“Alhamdulillah, akhirnya saya bisa hadir di sini. Sudah dua tahun saya berjanji sejak masa kampanye untuk datang, tetapi baru malam ini mendapat kesempatan. Saya senang sekali bisa melihat kegembiraan masyarakat Tanah Beak dan bersilaturahmi bersama,” ujar Gubernur.


Ia mengaku telah tertarik dengan kondisi Tanah Beak sejak pertama kali berkunjung sekitar tiga hingga empat tahun lalu. Menurutnya, kawasan tersebut memiliki lingkungan yang asri, udara yang nyaman, serta masyarakat yang ramah.


“Lingkungan Tanah Beak masih luar biasa baik dan terjaga. Yang menikmati lingkungan sehat di sini bukan hanya warga Tanah Beak, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai di bawahnya,” katanya.


Karena itu, Gubernur meminta masyarakat menjaga kawasan tersebut dengan tidak menebang pohon sembarangan, menjaga sungai, dan tidak membuang sampah ke lingkungan.


“Jangan tebang pohon. Manfaatkan sungai, tetapi jangan dirusak. Jangan membuang sampah sembarangan. Kita ingin Tanah Beak tetap asri dan sehat, bukan hanya untuk kita, tetapi untuk generasi yang akan datang,” pesan Gubernur.


Selain lingkungan, Gubernur Iqbal menyoroti potensi sejarah Tanah Beak yang berkaitan dengan letusan Gunung Samalas pada 1257. Menurutnya, sejumlah situs dan benda peninggalan masa lalu masih ditemukan di wilayah tersebut.


“Tanah Beak merupakan salah satu tempat yang masih bisa menyaksikan dampak letusan Gunung Samalas pada abad ke-13. Di beberapa bagian masih terdapat situs-situs peninggalannya,” jelasnya.


Gubernur meminta masyarakat tidak merusak benda-benda bersejarah yang ditemukan dan segera melaporkannya kepada pemerintah melalui Dinas Kebudayaan untuk ditindaklanjuti.

“Kalau ada yang menemukan benda-benda dari masa lalu yang terkubur di sini, tolong diamankan. Nanti pemerintah akan membantu, kalau perlu masyarakat yang menemukan bisa diberikan kompensasi. Kita ingin bersama-sama merawat sejarah Tanah Beak,” ujarnya.


Menurut Gubernur, peninggalan sejarah tersebut bukan sekadar benda lama, tetapi menyimpan informasi mengenai kehidupan masyarakat pada masa lalu yang dapat menjadi pembelajaran bagi generasi saat ini.


“Banyak cerita di balik benda-benda yang ditemukan di sini. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Dari peninggalan itu kita bisa belajar bahwa Tanah Beak dahulu merupakan daerah yang sangat maju,” ungkapnya.


Ia mendorong pemerintah desa berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dan Provinsi NTB untuk mengidentifikasi, mengkaji, serta melestarikan potensi sejarah tersebut.


Kepala Desa Tanah Beak, Ahmad Usman, mengatakan Festival Mobok Balang telah memasuki penyelenggaraan tahun keempat. Selain menjadi ruang pelestarian tradisi, kegiatan tersebut dinilai memberikan dampak positif bagi masyarakat, terutama pelaku usaha kecil dan menengah.


“Alhamdulillah, kegiatan ini sudah berjalan empat tahun dan sangat membantu masyarakat kami, terutama para UKM yang ada di Desa Tanah Beak,” katanya.


Ahmad menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, perangkat daerah, serta pihak swasta yang mendukung pelaksanaan festival.


Telkomsel NTB turut memberikan dukungan melalui pembagian kartu kepada masyarakat Desa Tanah Beak dan bantuan CSR sebesar Rp20 juta bagi para pedagang yang terlibat dalam kegiatan.


Festival Mobok Balang tahun ini diikuti lebih dari 200 peserta. Setelah kegiatan utama pada Sabtu malam, rangkaian acara dilanjutkan dengan jalan sehat pada Minggu pagi.


Bagi masyarakat Tanah Beak, Mobok Balang menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, melestarikan tradisi sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.


Di akhir sambutannya, Gubernur Iqbal juga mengapresiasi sajian kuliner yang disiapkan masyarakat setempat.
“Bukan hanya karena makanannya enak, tetapi karena dimasak dengan cinta oleh masyarakat Tanah Beak,” ujarnya.


Festival kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Mobok Balang yang diikuti lebih dari 200 peserta dengan membawa obor. Tradisi tersebut menjadi bagian dari perayaan kemerdekaan sekaligus momentum untuk memperkuat kebersamaan masyarakat Tanah Beak. (r/ham)

ARRC Mandalika 2026, Pembalap Indonesia Mendominasi

0
ARRC Mandalika 2026, Pembalap Indonesia Mendominasi
TERIMA - Pembalap Indonesia dan pembalap dari Malaysia serta Thailand saat menerima piala usai bertanding pada ARRC di Sirkuit Mandalika, Minggu (9/8). (EKBIS NTB/ist)

Praya (EKBIS NTB) – Para pembalap Indonesia sukses tampil dominan di ajang Asia Road Racing Championship (ARRC) Mandalika 2026 seri keempat yang berlangsung di Sirkuit Internasional Mandalika pada 7-9 Agustus 2026.


Dominasi para pembalap tuan rumah sudah terlihat sejak sesi balapan pertama yang berlangsung pada Sabtu (8/8), dengan merajai dua kelas utama. Kelas Underbone 150cc (UB150) dan Super Sport 600cc (SS600).


Pada sesi balapan kedua hari Minggu (9/8), dominasi pembalap Indonesia kembali terlihat. Dimulai dari kelas UB150 pembalap ZIEAR LFN HP969 Adelin MCR RBT34 Husni Zainul Fuadzy sukses meraih ‘back to back’ setelah jadi yang tercepat. Kelas ini benar-benar dikuasai pembalap tanah air. Di mana sembilan pembalap di posisi terdepan seluruhnya dikuasai pembalap Indonesia.


Di kelas Asia Production 250cc (AP250) pembalap Astra Honda Racing Team (AHRT) Irfan Ardiansyah berhasil keluar sebagai juara. Pada balapan yang berlangsung seru dan diwarnai crash dari sejumlah pembalap tersebut, Irfan menyelesaikan balapan 10 laps tersebut dengan waktu tercepat 18 menit 00,799 detik.

Di belakangnya ada pembalap Jepang Riichi Takahira dan pembalap Indonesia M. Fadhil Musyavi, menggenapi podium kedua dan ketiga.


Kemudian di kelas Super Sport 600cc (SS600) pembalap Yamaha Racing Indonesia Wahyu Nugroho, tampil antiklimat. Setelah menjadi yang tercepat disesi balapan pertama di hari Sabtu, Wahyu harus puas finis posisi keempat di balapan kedua. Padahal Wahyu tampil kompetitif pada balapan kedua. Dengan memimpin di hampir di sepanjang balapan.


Pembalap Thailand Anupab Sarmoon sukses menjadi juara di kelas ini. Diikuti pembalap Filipina MC Kinley Kyle Paz di posisi kedua dan pembalap Indonesia Herjun Atna Firdaus, berhasil menduduki podium ketiga.

Hasil tersebut membuat persaingan di klasemen sementara pembalap kelas SS600 semakin ketat. Anupab kini menduduki posisi kedua klasemen pembalap dengan total mengumpulkan 118 poin. Berjarak hanya 9 poin dari pimpinan klasemen sementara Kasma Daniel Kasmayudin (Malaysia) dengan 127 poin.


Sementara itu di kelas Asia Super Bike 1000cc (ASB1000) pembalap tanah air M. Adenanta Putra sukses memperbaiki posisinya dari finis keenam di balapan pertama menjadi finis kelima di balapan kedua. Setelah sebelumnya sempat bersaing memperebutkan podium ketiga, bahkan sempat memimpin di awal balapan.

Di kelas tertinggi tersebut pembalap Ducati asal Malaysia Hafizh Syahrin Abdullah tampil perkara. Dengan finis dua kali di dua balapan ARRC Mandalika.


“Para pembalap Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup pesat di ajang ARRC Mandalika kali ini. Dengan mampu tampil kompetitif. Bahkan, bisa juara di beberapa kelas. Ini salah satu hasil dari kejuaraan MRS (Mandalika Racing Series).

Di mana para pembalap yang tampil ini merupakan juara-juara di MRS,” ungkap Race Director FIM ARRC 2026 Eddy Saputra, saat dimintai pendapatnya terkait penampilan pembalap Indonesia di ajang ARRC Mandalika seri keempat 2026.


Terpisah, Direktur Operasi InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) Troy R. Warokka, Minggu pagi mengatakan kalau kehadiran ajang ARRC memiliki arti penting.

Sebagai bagian dari jenjang pembinaan bagi pembalap Indonesia untuk bisa masuk ke balapan internasional. Banyak pembalap Indonesia yang berlaga di balapan dunia, termasuk Mario Aji ataupun Veda Pratama yang saat ini berlaga di MotoGP sebelumnya juga pernah berlaga di ARRC.


“Bagi pembalap Indonesia ajang ARRC memiliki arti penting untuk jenjang menuju pentas balap dunia,” sebutnya.


Sehingga pihaknya berkomitmen untuk bisa terus berupaya mempertahankan kehadiran ajang tersebut agar bisa tetap digelar Sirkuit Internasional Mandalika kedepannya.

Agar proses pembinaan pembalap Indonesia bisa terus berlanjut secara sistematis dan berjenjang. “Komunikasi dengan pihak swasta dan sponsor terus kita lakukan. Untuk mencari solusi jangka panjang bagaimana supaya ajang ARRC bisa terus berlanjut.

Dengan penyelenggaraan yang konsisten diharapkan ajang ARRC bisa melahirkan pembalap nasional yang mampu berprestasi dipentas dunia,” tegasnya Troy. (kir)

21 Koperasi Ajukan Kelola IPR

0
21 Koperasi Ajukan Kelola IPR
Samsudin (EKBIS NTB/era)


Mataram (EKBIS NTB) – Sebanyak 21 koperasi di Provinsi NTB mengajukan untuk mengelola Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Awalnya, hanya 18 IPR yang mengajukan, namun ada tambahan tiga koperasi di Blok Berang Ilir dan Blok Lebuk di Kabupaten Sumbawa Barat.


Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB, Samsudin, mengatakan meski sudah ada tambahan pengajuan titik koordinat IPR oleh koperasi, hingga kini baru ada tiga koperasi yang memperoleh izin untuk melakukan eksploitasi. Ketiganya yaitu Blok Lantung Satu, Blok Lantung Dua, dan Blok Lepadi.


“Penambahan usulan untuk penetapan titik koordinatnya,” ujarnya, pekan kemarin.


Hingga kini, masih ada sekitar 18 koperasi yang belum memperoleh izin untuk mengelola setiap blok tambang rakyat tersebut. Izin mereka masih tertahan di Kementerian Kehutanan berkaitan dengan Izin Usaha Pertambangan.

Yang menjadi perhatian Menteri, lanjut Samsudin berkaitan dengan kondisi lingkungan saat dan pasca-koperasi beroperasi, mulai dari memastikan tidak terjadi emisi udara, pencemaran air.


“Jadi itu yang menjadi masalah masih di kehutanan sisanya,” katanya.
Sementara, tiga koperasi yang telah mendapatkan izin, sambungnya tetap tidak bisa melakukan aktivitas pertambangan. Hal ini menyusul revisi Peraturan Daerah (Perda) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) yang belum disahkan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri).


Meski begitu, aktivitas pertambangan diduga telah terlihat di lapangan meskipun belum ada payung hukum yang mengatur hal tersebut.

Menurutnya, secara regulasi kegiatan itu belum diperbolehkan beroperasi sebelum kewajiban yang dipersyaratkan dipenuhi.


Salah satu kewajiban yang masih menjadi persoalan adalah retribusi IPR. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, pemegang IPR diwajibkan membayar kewajibannya setelah izin diterbitkan. Namun, pembayaran tersebut belum dapat dilakukan karena regulasi Perda PDRD belum disetujui pusat.


“Dalam regulasinya, 30 hari setelah dikeluarkan IPR, pemilik IPR harus membayar. Namanya IPR 70 persen. Tapi karena untuk menampung IPR itu belum keluar regulasinya, maka belum bisa ditarik karena belum ada penampungnya,” jelasnya.


Karena hal itu, aktivitas pertambangan koperasi meski sudah menerima izin tetap dikatakan ilegal. Pun setelah izin diterbitkan, koperasi pemegang izin juga diwajibkan menyampaikan rencana pertambangan.

Rencana tersebut harus terlebih dahulu diselesaikan dan dinilai oleh instansi terkait sebelum kegiatan pertambangan dapat dijalankan sesuai ketentuan.


“Setelah izin keluar, dia harus pertama mencari rencana pertambangannya. Itu harus diselesaikan oleh kami. Kalau belum diselesaikan berarti dia ilegal,” tegasnya. (era)

Pengadaan Seaplane di NTB Masih Terkendala Amdal

0
Irnadi Kusuma (Suara NTB/era)
Irnadi Kusuma (Suara NTB/era)

PENGADAAN seaplane atau pesawat amfibi pertama di NTB yang akan mendarat di Bendungan Batujai, Lombok Tengah hingga kini masih berproses di sejumlah kementerian. Meski sempat ditarget akan beroperasi perdana pada April 2026 lalu, pengadaan seaplane ini masih terkendala Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).


Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, Irnadi Kusuma, mengatakan pengadaan seaplane di NTB tidak hanya mengurus satu izin. Melainkan perlu adanya persetujuan dari sejumlah kementerian, seperti Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, hingga terakhir di Kementerian Investasi.


“Itu kompleks perizinannya, jadi kita tidak hanya berbicara bagaimana izin usahanya, tetapi juga izin bagaimana mereka dengan perhubungan udara,” ujarnya pekan kemarin.


Selain mengurus Amdal, izin seaplane NTB juga sedang berproses di Kemenhub untuk mengetahui bagaimana kelayakan pesawat air ini beroperasi membawa penumpang. Karena investor seaplane ini merupakan Penanaman Modal Asing (PMA), Irnadi mengaku seluruh proses perizinan berada di bawah kewenangan pusat.


Sementara, Pemprov NTB hanya berperan dalam evaluasi dan monitoring sea plane tersebut. Monev yang dilakukan oleh Pemprov NTB dimulai sejak awal PMA ini tertarik membangun seaplane di NTB, hingga dengan pesawat itu benar-benar beroperasi.
“Ketika sudah mulai berjalan, setiap fase itu kan kita dilibatkan untuk monev. Sekarang sedang bersamaan prosesnya di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Perhubungan,” ungkapnya.


Seaplane perdana di NTB ini dikelola oleh PT Abadi Mega Angkutan Nusantara (AMAN) dan akan mendarat di Bendungan Batujai, Lombok Tengah. Dengan tujuan Gili Balu Kabupaten Sumbawa Barat, Teluk Saleh di Kabupaten Sumbawa, Satonda di Kabupaten Bima, Gili Tramena di Lombok Utara dan Kawasan Mandalika.


Alasan memilih Bendungan Batujai untuk landasan seaplane ini, agar lebih dekat dengan bandara. Sehingga ketika wisatawan datang ke Lombok dan ingin mengunjungi pulau-pulau tersebut, bisa langsung diantar menggunakan seaplane.


Irnadi juga mengatakan proses pengadaan pesawat air ini masih berproses di pusat. Menyinggung soal kesiapan lokasi pendaratan, ia mengaku sejak akhir tahun 2025 lalu Pemkab Loteng sudah bersiap untuk membangun tempat mendarat dengan mengusung konsep alam. Rencananya, akan dibangun ruang tunggu penumpang menggunakan bambu.


“Semua dari konsep alam, dari bambu, kayu, itu untuk fasilitas penumpang menunggu juga. Ada semacam lounge,” jelasnya.
Rute seaplane ini akan menghubungkan antar destinasi wisata di Bali dan Lombok.

Ke depannya, akan terhubung juga dengan destinasi yang ada di NTT, sesuai dengan kesepakatan pada Kerja Sama Regional Bali, NTB, dan NTT.


“Iya tergantung nanti di mana destinasi yang disepakati. Makanya kita sedag mencoba menambah destinasinya,” ujarnya.(era)

BIZAM Perkuat Kesiapsiagaan Penanggulangan Keadaan Darurat

0
BIZAM Perkuat Kesiapsiagaan Penanggulangan Keadaan Darurat
SIMULASI - BIZAM saat melakukan simulasi penanganan kondisi buruk pesawat saat mendarat di bandara. (Suara NTB/ist)

Praya (EKBIS NTB) –PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid (BIZAM) melalui Unit Airport Rescue and Fire Fighting (ARFF) melaksanakan Airport Emergency Modular Exercise, sebagai bagian dari komitmen Perusahaan dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat di bandar udara.


Pada latihan kali ini disimulasikan pesawat Sekotong Air dengan nomor penerbangan SKT-218 rute Manado–Lombok dengan tipe Boeing 737-800 yang mengalami gangguan sistem hidrolik saat pendekatan menuju BIZAM.


Kondisi tersebut menyebabkan Air Traffic Control (ATC) menetapkan status Full Emergency (Siaga II) yang kemudian berkembang menjadi Aircraft Accident (Siaga III) setelah pesawat mengalami runway excursion saat pendaratan.
Latihan difokuskan pada tiga modul utama, yaitu Raising the Alarm, Rendezvous Point (RVP), dan Medical Services, untuk menguji efektivitas komunikasi, koordinasi, mobilisasi sumber daya, serta penanganan korban sesuai Airport Emergency Plan (AEP).


Kegiatan ini melibatkan berbagai anggota Airport Emergency Committee, di antaranya AirNav Indonesia Cabang Lombok, Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Mataram, dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas).


Pelaksanaan latihan juga di evaluasi oleh Tim Evaluasi Terpadu yang terdiri dari PT Angkasa Pura Indonesia (Persero), AirNav Indonesia, dan Balai Kekarantinaan Kesehatan sebagai bagian dari upaya continuous improvement dalam meningkatkan kesiapsiagaan penanggulangan keadaan darurat.


General Manager Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, Aidhil Philip Julian, menyampaikan bahwa latihan ini merupakan upaya Perusahaan untuk memastikan seluruh personel dan instansi pendukung memiliki pemahaman yang sama dalam menjalankan tugas saat terjadi keadaan darurat.


“Keselamatan merupakan prioritas utama dalam operasional bandar udara. Melalui Airport Emergency Modular Exercise ini kami ingin memastikan seluruh personel dan stakeholder terkait memiliki kesiapan, koordinasi, serta kemampuan merespons keadaan darurat secara cepat, tepat, dan sesuai prosedur.

Penanganan keadaan darurat hanya dapat berjalan efektif apabila seluruh unsur bekerja sebagai satu tim,” pungkas Aidhil. (bul)