Beranda blog Halaman 126

Bulog NTB Salurkan 1.326 Ton Bantuan Beras untuk 44.202 Keluarga di Mataram

0

Mataram (Ekbis NTB) — Perum Bulog menyalurkan bantuan pangan beras kepada 44.202 keluarga penerima manfaat (KPM) di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), untuk alokasi periode Juli, Agustus, dan September 2026. Penyaluran tahap kedua yang dimulai bulan ini ditargetkan rampung pada akhir Agustus 2026.

Wakil Pimpinan Bulog NTB, Rizal P. Sukmaadijaya, menyampaikan bahwa total beras yang disalurkan untuk tiga alokasi tersebut mencapai sekitar 1.326 ton.

“Setiap penerima mendapatkan bantuan beras 10 kilogram per alokasi. Karena disalurkan sekaligus untuk tiga bulan, masing-masing penerima menerima total 30 kilogram,” ujar Rizal saat menyampaikan laporan kepada Wali Kota Mataram, Selasa (11/8/2026).

Jumlah penerima kali ini mengalami penurunan sebanyak 2.781 orang dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 46.983 penerima. Rizal menjelaskan, penyesuaian angka tersebut merujuk pada pembaruan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis data resmi pemerintah.

Selain melaporkan penyaluran bantuan, Rizal memastikan stok beras di Kota Mataram dalam kondisi aman. Pasokan beras yang tersimpan di Gudang Dasan Cermen dan Gudang Mandalika diproyeksikan mencukupi kebutuhan masyarakat hingga tahun depan.

Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, mengapresiasi langkah Bulog dalam mendukung ketahanan pangan warga kurang mampu. Mengenai penurunan jumlah penerima, Mohan menilai hal itu merupakan konsekuensi logis dari pembaruan data agar bantuan lebih tepat sasaran.

“Meskipun volumenya berkurang, semuanya bersumber dari data. Jika DTSEN yang dijadikan patokan, tentu ada korelasinya dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat yang lebih aktual,” kata Mohan.

Mohan menambahkan, penyaluran bantuan pangan ini sangat tepat momennya karena bertepatan dengan persiapan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta mengantisipasi dampak musim kemarau. (r/fan)

Sambut HUT ke-81 RI, Astra Motor NTB Gelar Promo “Berkibar”: Hemat hingga Rp7,2 Juta

0

Mataram (Ekbis NTB) — Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Astra Motor NTB meluncurkan program promo khusus bertajuk “Berkibar” (Berlipat Untung Kini Bareng Honda). Lewat program ini, masyarakat di Pulau Lombok dan Sumbawa berkesempatan memboyong sepeda motor Honda dengan berbagai keuntungan menggiurkan.

Marketing Manager Astra Motor NTB, Yehezkiel Felix, menyampaikan bahwa promo ini dihadirkan untuk menyemarakkan momentum kemerdekaan sekaligus memberikan nilai tambah bagi calon konsumen.

“Program Berkibar kami hadirkan dalam rangka memperingati HUT ke-81 RI. Masyarakat bisa memanfaatkan penawaran khusus ini untuk mendapatkan sepeda motor Honda dengan promo hemat dan beragam hadiah menarik,” ujar Yehezkiel.

Dalam program ini, Astra Motor NTB menawarkan potongan harga variatif untuk sejumlah tipe andalan:

  • Honda BeAT & Honda PCX: Penghematan hingga Rp7,2 juta.
  • Honda Vario Evo 160: Penghematan hingga Rp3,6 juta.

Selain diskon besar, konsumen juga dimudahkan dengan kemudahan skema pembiayaan melalui uang muka (down payment/DP) ringan mulai dari Rp900 ribuan.

Tak berhenti di situ, setiap pembelian unit juga berhadiah langsung apparel eksklusif, seperti Jaket Eksklusif Vario 160, Jaket Eksklusif BeAT, Jaket Cari#Aman, hingga safety tools.

“Kami berharap program ini dapat memberikan pengalaman berbelanja yang lebih menguntungkan dan membantu memenuhi kebutuhan mobilitas harian masyarakat,” tambah Yehezkiel.

Masyarakat yang berminat dapat langsung mendatangi jaringan diler resmi Honda terdekat di Pulau Lombok dan Sumbawa. Informasi lengkap mengenai daftar harga, syarat, dan ketentuan pembiayaan juga dapat diakses secara praktis melalui aplikasi Motorku X. (r/fan)

Pemkab Sumbawa Efisiensi Anggaran Mencapai Rp1 Miliar

0
Pemkab Sumbawa Efisiensi Anggaran Mencapai Rp1 Miliar
(EKBIS NTB/dok) Jufri


Sumbawa Besar (EKBIS NTB)– Pemerintah Kabupaten Sumbawa memastikan selama pelaksanaan Work From Home (WFH) di kalangan aparatur sipil negera (ASN) hanya mampu melakukan efisiensi anggaran mencapai Rp1 miliar lebih. Efisiensi ini bersumber dari hasil evaluasi sejak pelaksanaan dari bulan April 2026.


“Basis data kita ambil dari bulan April-Mei dengan nilai efisiensi sebesar Rp1 miliar, untuk bulan Juni-Juli sebesar Rp20 juta. Kalau untuk bulan Agustus masih dalam proses penghitungan,” kata Kabag Organisasi dan Tata Laksana Setda Kabupaten Sumbawa, Jufri pada, Senin (10/8).


Kebijakan pengetatan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dilakukan pemerintah menjadi penumpang terbesar dari efisiensi anggaran tersebut. Sementara, untuk kebijakan WFH hanya mampu menyumbang efisiensi dalam bentuk pembayaran listrik.


Menurut dia, efektifitas pelaksanaan WFH di lingkup Pemkab Sumbawa tetap berjalan hingga beberapa bulan kedepan. Sementara, kebijakan berikutnya pihaknya masih menunggu arahan dari pemerintah pusat.


“Kita efektif melakukan WFH baru berjalan 5 bulan. Kami juga tetap melakukan evaluasi menyeluruh termasuk total efisiensi anggaran yang dilakukan oleh pemerintah selama WFH,” ujarnya.


Jika mengacu pada surat edaran yang disampaikan Provinsi NTB, setiap kebijakan WFH akan diserahkan ke OPD masing-masing. Meski WFH tetapi pengawasan tetap akan dilakukan pemerintah untuk memantau kinerja ASN.


“Jadi, WFH itu tetap bekerja bukan libur dan kami tetap melaporkan ke Kemendagri terkait pelaksanaan WFH tersebut. Termasuk efisiensi anggaran yang dilakukan selama WFH,” ujarnya.


Dikatakan,pemerintah daerah akan melakukan laporan tingkat efisiensi energi yang digunakan selama penerapan WFH. Pelaporan itu juga akan dilakukan secara tepat waktu, sehingga tidak ada yang dimanipulasi atas efisiensi yang diberlakukan dan yang tidak bekerja tetap dikenakan sanksi.


“Sanksinya yang kita kenakan nanti bagi mereka yang tidak melaksanakan tugas mulai dari pemotongan TPP hingga sanksi lainnya,” ujarnya. (ils)


Matangkan Persiapan Tampil di APKASI Otonomi Expo 2026

0
Matangkan Persiapan Tampil di APKASI Otonomi Expo 2026
(EKBIS NTB/ist) RAPAT – Pemkab KSB menggelar rapat persiapan sebelum mengikuti APKASI Otonomi Expo 2026 yang akan digelar di Jakarta, 27–30 Agustus 2026.


Taliwang (EKBIS NTB) – pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat (KSB) mulai mematangkan persiapan untuk mengikuti APKASI Otonomi Expo 2026 yang akan berlangsung di Jakarta, 27–30 Agustus 2026.

Keikutsertaan ini menjadi kesempatan bagi KSB untuk memperkenalkan berbagai potensi daerah sekaligus mempromosikan program unggulan pemerintah daerah.


Persiapan mengikuti acara pameran tahunan itu dibahas dalam rapat yang digelar, Senin (10/8). Rapat dipimpin langsung oleh Asisten Kesejahteraan Rakyat Setda KSB, Khusnarti dan diikuti sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) teknis.


Dalam rapat ini, Khusnarti menekankan pentingnya keterlibatan OPD teknis dalam menyiapkan seluruh kebutuhan untuk APKASI Otonomi Expo.

OPD diminta aktif menyiapkan materi, informasi, produk unggulan dan berbagai potensi daerah yang akan ditampilkan kepada pemerintah kabupaten lain, investor, pelaku usaha maupun pihak terkait yang hadir dalam kegiatan tersebut.


Menurut Khusnarti, keikutsertaan KSB tidak boleh hanya sebatas memenuhi agenda pemerintah daerah. APKASI Expo harus dimanfaatkan sebagai momentum strategis untuk memperkenalkan Sumbawa Barat secara lebih luas. Salah satu program yang akan menjadi bagian dari materi promosi adalah Kartu Sumbawa Barat Maju (KSB Maju).


“APKASI Expo harus kita manfaatkan untuk memperkenalkan Sumbawa Barat secara lebih luas. Karena itu, seluruh OPD yang berkaitan langsung harus menyiapkan materi dan potensi yang bisa dipromosikan dengan baik,” kata Khusnarti.


Sejumlah sektor akan menjadi perhatian dalam materi promosi KSB. Diantaranya potensi investasi, UMKM dan produk lokal, pariwisata, pertanian, perikanan, perkebunan, industri serta ekonomi kreatif. Berbagai program unggulan pemerintah daerah juga akan diperkenalkan dalam ajang tersebut.


Khusnarti meminta setiap OPD yang memiliki keterkaitan dengan sektor-sektor itu untuk kemudian memperkuat koordinasi dan mempersiapkan bahan promosi secara optimal. “Materi yang dibawa ke pameran harus benar-benar menggambarkan potensi daerah secara jelas sekaligus menarik minat calon mitra maupun investor,” tandas mantan Kepala Dinas Dikbud KSB ini.


Keikutsertaan KSB dalam APKASI Expo 2026 diharapkan tidak berhenti pada kegiatan promosi. Pemerintah daerah menargetkan adanya dampak lanjutan berupa peningkatan citra daerah, terbukanya peluang investasi, semakin luasnya pemasaran produk unggulan serta berkembangnya potensi ekonomi masyarakat.


“Kegiatan expo itu kesempatan memperkenalkan potensi yang kita miliki kepada investor. Jadi kita harus serius mengikutinya,” imbuh Khusnarti. (bug)


Produksi Bawang Putih Melimpah, Sembalun Diyakini Bisa Wujudkan Swasembada Benih Nasional

0
Produksi Bawang Putih Melimpah, Sembalun Diyakini Bisa Wujudkan Swasembada Benih Nasional
BAWANG PUTIH – Lahan tempat menanam bawang putih di Sembalun, Lombok Timur. Penangkar benih bawang putih di Sembalun sudah cukup lama menanti adanya gudang. (EKBIS NTB/rus)

Selong (EKBIS NTB) – Produksi bawang putih khususnya di Sembalun Kabupaten Lombok Timur (Lotim) saat ini cukup melimpah. Pada musim tanam saat ini, para penangkar justru sudah kesulitan untuk menaruh benihnya.

Karena itu, mereka sangat menyambut kehadiran gudang penyimpanan. Diyakini, Sembalun bisa diwujudkan sebagai tempat produksi benih nasional.


H. Egi, salah satu penangkar benih bawang putih kepada Suara NTB via telepon, Senin (10/8/2026) menjelaskan sudah cukup lama penangkar menanti adanya gudang. Rencana pembangunan gudang bantuan Satgas Pangan disambut sangat gembira.


Dukungan Satgas Pangan tersebut diwujudkan melalui pembangunan gudang penampungan benih bawang putih yang akan dimanfaatkan untuk menampung hasil panen petani binaan.


“Rencana pak Kapolri akan melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan gudang tersebut dijadwalkan pada 19 Agustus 2026,” tuturnya.


Kegiatan itu akan dirangkaikan dengan agenda panen dan penanaman bawang putih.
Menurutnya, keberadaan gudang sangat dibutuhkan mengingat hasil panen petani yang akan diproses menjadi benih membutuhkan tempat penyimpanan selama masa dormansi.


“Gudang itu untuk menampung hasil petani sementara menunggu masa dormansi untuk bisa menjadi benih. Jadi memang sangat dibutuhkan,” ujarnya.


Selama ini, hasil panen bawang putih masih ditampung di gudang milik pribadi. Namun, kapasitas yang tersedia dinilai belum mampu menampung produksi dalam jumlah besar.


Ia menyebut kapasitas gudang dan lantai jemur yang dimiliki secara pribadi saat ini berada pada kisaran 1.500 hingga 2.000 ton. Bahkan, satu lantai jemur saja mampu menampung sekitar 750 ton bawang putih yang telah melalui proses pengeringan.
“Karena setiap hari ada proses panen, jadi sangat-sangat butuh gudang itu,” katanya.


Egy menjelaskan, gudang yang akan dibangun nantinya telah dipersiapkan lahannya. Lahan tersebut akan dihibahkan untuk mendukung pembangunan fasilitas penampungan benih.


Pengelolaan gudang tersebut nantinya tetap dilakukan oleh pihaknya sebagai penangkar yang fokus pada produksi benih nasional. Ia mengatakan kerja sama dengan Satgas Pangan Polri telah berlangsung cukup lama.


Satgas pangan, kata dia, melihat kapasitas fasilitas penyimpanan yang dimiliki saat ini belum mencukupi untuk mendukung produksi benih dalam skala yang lebih besar. Karena itu, pembangunan gudang menjadi salah satu solusi untuk memperkuat rantai produksi benih bawang putih.


“Satgas Polri melihat kapasitas gudang yang ada tidak mencukupi. Alhamdulillah sekarang dibuatkan gudang penampungan,” jelasnya.


Egy mengatakan sebagian hasil panen bawang putih memang masih dijual untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pasar lokal. Namun, hasil panen dari petani-petani binaannya diarahkan khusus untuk produksi benih.


Untuk menjaga pasar lokal, sebagian kecil hasil produksi tetap dialokasikan untuk konsumsi. Pasar tersebut antara lain Masbagik, Pormoton, hingga wilayah Lombok Tengah.


Meski demikian, orientasi utama saat ini adalah mengejar swasembada benih bawang putih terlebih dahulu.
Dari sisi harga, ia menyebut harga bawang putih grade A di tingkat petani binaannya saat panen mencapai sekitar Rp12.000 per kilogram dalam kondisi basah, belum termasuk ongkos.


Sementara untuk harga dalam bentuk benih, belum dapat ditentukan karena masih harus melihat persentase penyusutan selama proses pengeringan serta lamanya masa dormansi hingga bawang putih siap menjadi benih.


“Nanti kita lihat persentase penyusutannya, kemudian berapa lama dormansinya sampai bisa menjadi benih. Dari sana baru bisa menentukan harga standar,” katanya.


Ia berharap pembangunan gudang tersebut dapat mempercepat peningkatan kapasitas produksi benih bawang putih di Sembalun. Dalam jangka panjang, target yang ingin dicapai bukan hanya memenuhi kebutuhan benih di daerah, tetapi turut mendukung swasembada benih secara nasional.


Menurutnya, kebutuhan bawang putih nasional sangat besar. Ia menyebut kebutuhan bawang putih masyarakat Indonesia berada di kisaran 550.000 ton per tahun.


“Harapannya mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa swasembada benih dulu secara nasional. Kalau sudah bisa swasembada benih, baru kita berbicara bagaimana cara swasembada konsumsi,” demikian. (rus)

Kembangkan Wisata Joben, PT Joben Evergreen Ajak PT Energi Selaparang Kolaborasi

0
Kembangkan Wisata Joben, PT Joben Evergreen Ajak PT Energi Selaparang Kolaborasi
DIMINATI WISATAWAN - Forest Healing-PT Joben Evergreen membuat layanan wisata Forest Healing yang cukup banyak diminati wisatawan. (EKBIS NTB/ist)

Selong (EKBIS NTB) – Pengembangan kawasan wisata Joben dan sekitarnya dinilai membutuhkan sinergi antara pengelola yang telah berjalan dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Timur melalui badan usaha milik daerah (BUMD).

Direktur PT Joben Evergreen (JEG), Baiq Pratiwi, mengajak PT Energi Selaparang untuk membangun kolaborasi dalam mengembangkan potensi wisata di kawasan tersebut.


Menurut Pratiwi, pengelolaan area di luar kawasan izin yang dilakukan pemerintah daerah melalui BUMD justru dapat menjadi peluang untuk memperluas dan mendiversifikasi destinasi wisata Joben.

Dengan demikian, wisatawan tidak hanya menikmati fasilitas yang selama ini menjadi daya tarik utama, tetapi juga dapat menikmati berbagai potensi wisata di kawasan sekitarnya.


“Bagus sekali. Nanti kawasan wisatanya semakin melebar. Jadi bukan melulu yang kolam, bukan melulu di Wisata Alam Joben,” ujar Pratiwi saat dihubungi Suara NTB, Senin (10/8/2026).


Ia menjelaskan, area seluas 25 hektare yang akan dikelola PT ES khususnya di bagian selatan dan barat kawasan Joben Evergreen, memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi bagian dari destinasi wisata terpadu.

Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperkaya pilihan aktivitas wisata sekaligus memperpanjang lama kunjungan wisatawan.


Pratiwi menilai, kehadiran PT Energi Selaparang sebagai BUMD dapat menjadi mitra strategis bagi pengelola wisata yang sudah ada. Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui integrasi kawasan, akses wisata, hingga paket wisata bersama. “Bukan persaingan, tetapi bagaimana saling melengkapi,” ujarnya.


Menurutnya, jika dikelola secara terintegrasi, kawasan Joben hingga Otak Kokoq dapat memiliki daya tarik yang lebih kuat. Konektivitas antarkawasan juga penting sehingga wisatawan dapat bergerak lebih mudah dari satu titik destinasi ke titik lainnya.


Salah satu yang dapat dikembangkan adalah akses penghubung antarkawasan, termasuk pemanfaatan area wisata camping ground di sisi utara menuju Otak Kokoq sebagai objek wisata air terjun yang notabenenya sudah sangat lama dikenal wisatawan.

Dengan akses yang terkoneksi, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati satu objek, tetapi dapat memperoleh pengalaman wisata yang lebih luas.


Selain memperkuat daya tarik wisata, pengembangan kawasan secara terpadu dinilai berpotensi memberikan dampak ekonomi yang lebih besar kepada masyarakat.

Peluang usaha bagi pedagang, jasa pemandu, pengelola parkir, hingga pelaku UMKM dapat berkembang seiring meningkatnya kunjungan wisatawan.


Namun demikian, Pratiwi mengingatkan agar pengembangan kawasan tetap memperhatikan batas kewenangan dan status kawasan. Kejelasan antara kawasan yang berada dalam izin pengelolaan dengan area yang dikelola pemerintah daerah penting untuk mencegah terjadinya tumpang tindih kewenangan.


Aspek lingkungan juga menjadi perhatian. Pengembangan fasilitas wisata harus disesuaikan dengan daya dukung lingkungan, terutama karena kawasan Joben berkaitan erat dengan sumber air dan ekosistem hutan.


“Yang penting bagaimana pengembangannya tetap menjaga lingkungan dan tidak merusak kawasan,” katanya.
Di sisi lain, PT Energi Selaparang juga diharapkan menyiapkan tata kelola dan rencana bisnis yang profesional apabila nantinya mengembangkan kawasan tersebut.

Pengelolaan wisata tidak semata-mata mengejar pendapatan daerah, tetapi juga harus memastikan kebersihan, keamanan, kenyamanan, serta pelayanan kepada wisatawan.


Pratiwi juga mendorong keterlibatan masyarakat lokal dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dalam setiap tahapan pengembangan. Masyarakat sekitar harus menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi pariwisata, bukan hanya menjadi penonton ketika kawasan wisata berkembang.


Terkait tarif, ia menilai harga tiket sekitar Rp16 ribu masih tergolong wajar apabila dibarengi dengan pelayanan dan fasilitas yang memadai. Menurutnya, persepsi mahal sering kali justru muncul akibat adanya biaya tambahan yang tidak transparan, seperti tarif parkir atau pungutan lain di luar tiket resmi.


arena itu, integrasi pengelolaan diharapkan mampu menciptakan sistem tarif yang jelas dan transparan serta menghilangkan potensi pungutan tidak resmi.


Dengan kolaborasi antara PT Joben Evergreen, PT Energi Selaparang, pemerintah daerah, dan masyarakat, kawasan Joben diharapkan dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang lebih luas, terkoneksi, berkelanjutan, sekaligus memberikan kontribusi lebih besar terhadap perekonomian dan pendapatan daerah Lotim.


Pelaksana Tugas Direktur PT Energi Selaparang, Joyo Supeno sendiri menjelaskan untuk tahap awal ini ia fokus dulu pada pengurusan kelengkapan dokumen perizinan lanjutan.


PT Energi Selaparang menargetkan penyelesaian empat tahapan lanjutan pasca terbitnya persetujuan prinsip dalam waktu enam bulan, meski pemerintah memberikan waktu hingga dua tahun.


Empat tahapan tersebut meliputi penandaan batas area usaha seluas 25 hektare dengan pemasangan patok batas, penyusunan peta area usaha, penyusunan Rencana Pengusahaan Penyediaan Sarana Wisata Alam (RPSWA), serta penyelesaian izin lingkungan.

Selain itu, perusahaan juga diwajibkan membayar iuran kepada Balai TNGR yang menjadi bagian dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).


Persetujuan prinsip pemanfaatan jasa lingkungan kawasan TNGR tersebut ditandatangani pada 16 Juli 2026. Hak pengusahaan diberikan selama 35 tahun dan dapat diperpanjang selama 20 tahun.


Joyo menegaskan, berdasarkan arahan Bupati Lombok Timur, kawasan Joben akan dikembangkan dengan konsep eco tourism yang mengedepankan kelestarian lingkungan dan kearifan lokal. Sejumlah fasilitas yang direncanakan antara lain camping ground, area outbound, serta wahana edukasi seperti kebun binatang. (rus)

Dua Hibah MangkrakProyek Pabrik Garam KKP di NTB Tidak Menguntungkan

0
Dua Hibah MangkrakProyek Pabrik Garam KKP di NTB Tidak Menguntungkan
Muslim (EKBIS NTB/era)

Mataram (EKBIS NTB) – Dua hibah insinerator sampah Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) di Gili Trawangan mangkrak. Akibatnya, pengelolaan sampah di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPSP) yang ada di kawasan pariwisata tersebut tidak maksimal.

Di samping itu, proyek pabrik garam yang juga didanai oleh KKP tidak menguntungkan daerah.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB, Muslim, mengatakan, dua insinerator di Gili Trawangan hingga kini masih berproses perizinan uji emisi dan evaluasi dampak lingkungan agar operasi mesin ini tidak mengganggu warga dan wisatawan.

“Kan lagi proses izin, gimana mau beroperasi kalau izinnya aja belum,” ujarnya belum lama ini.

Menyinggung soal perencanaan pengadaan mesin pembakar sampah anorganik ini yang dinilai tidak maksimal karena tidak bisa dioperasikan, Muslim enggan untuk memberikan tanggapan. Meski begitu, ia mengaku telah mengingatkan KKP terkait dengan persoalan insinerator yang tidak bisa digunakan tersebut. Namun, hingga kini belum ada tanggapan. “Allahualam kalau itu,” tambahnya.

Selain dua insinerator sampah di Gili Trawangan, pabrik garam Bima yang dianggarkan oleh KKP hingga Rp10 miliar juga tidak memberikan manfaat pada daerah. Bahkan, di tahun pertama operasional pabrik tersebut dinilai merugi.

Muslim mengungkapkan, pabrik garam yang diresmikan awal tahun 2025 lalu tersebut lebih baik dikelola oleh pihak swasta. Menurutnya, orientasi antara pemerintah dengan swasta berbeda, sehingga apabila ada pihak ketiga yang benar-benar paham persoalan pabrik garam bisa menghasilkan keuntungan.

“Kalau swasta yang kelola kan orientasinya jelas. Dia harus cari untung kan, bisnis. Nah ini yang kita dorong,” ungkapnya.

Dengan menjadikan pihak swasta sebagai pengelola pabrik garam, Muslim menilai bisa menghindari pabrik tersebut dari potensi kerugian. Skemanya, pihak swasta yang akan mengelola penuh sehingga Pemda tinggal menunggu dividen dari pengelola.

Ia melanjutkan, dalam hal pengelolaan pabrik garam, pihaknya tidak hanya mempertimbangkan untung dan rugi. Namun, Pemkab Bima juga perlu memperhatikan terjadinya kerusakan pada mesin pabrik akibat jarang digunakan. Pun, ada banyak garam yang tidak bisa terserap, sehingga potensi garam yang ada di Bima tidak bisa dimaksimalkan.

Pengelola saat ini, lanjutnya hanya menunggu datangnya pembeli baru berani berproduksi. Padahal, kapasitas produksi pabrik garam bisa mencapai 24 ton per hari. Namun, selama ini produksi tidak sampai menyentuh nilai tersebut.

“Dia fleksibel produksinya. Kemarin ada kemungkinan di atas 10 ton,” ucapnya.

Sejak mulai beroperasi pada awal tahun lalu, di tahun pertama pabrik ini sudah merugi. Kerugian disebabkan karena pengelola harus membayar biaya operasional setiap harinya. Sedangkan untuk produksi perlu menunggu adanya permintaan pelanggan.

“Karena beban listrik mereka kan harus dibayar setiap bulan. Sedangkan pemasukan kan tidak sebanding. Dia memproduksi garam sesuai pesanan,” katanya.

Di samping itu, Muslim juga berharap Bupati dan Wakil Bupati Bima bisa mengambil peran agar pengelolaan koperasi diambil alih oleh mereka. Dan diserahkan kepada pihak yang memiliki keuangan stabil. Sehingga, pabrik bisa beroperasi tanpa menunggu adanya pesanan dari pembeli.

“Kalau engga ada pesanan pesanan per bulan. Kadang-kadang lompat satu bulan, tergantung pesanan,” pungkasnya. (era)

Gili Trawangan Makin Darurat Sampah, 22 Ton Sehari

0
Gili Trawangan Makin Darurat Sampah, 22 Ton Sehari
MESIN - Mesin Pengurai Sampah Insinerator Park Pyro VI ramah lingkungan yang saat ini beroperasi untuk mengurai sampah di Gili Trawangan. (EKBIS NTB/bul)


Tanjung (EKBIS NTB) – Gili Trawangan menghadapi persoalan serius pengelolaan sampah. Saat musim ramai wisatawan, produksi sampah di pulau wisata unggulan di Lombok Utara ini mencapai sekitar 22 ton per hari. Sementara kapasitas mesin pengolahan yang tersedia jauh di bawah volume sampah yang masuk.


Pengelola Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Gili Trawangan, Cahyo Kurniawan, Senin, 10 Agustus 2026 menyebut kapasitas pengolahan yang tersedia saat ini hanya sekitar 4-5 ton sampah per hari untuk satu unit mesin. Akibatnya, sebagian besar sampah masih harus ditampung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).


“Kalau sampah ini rata-rata saat high season kurang lebih 22 ton per hari,” ujarnya.
Kesenjangan antara sampah yang masuk dan kemampuan mesin mengolah menjadi persoalan utama.


Jika kapasitas pengolahan hanya sekitar 4 ton per hari, sementara sampah mencapai 22 ton, maka ada sekitar 18 ton sampah per hari yang belum tertangani.


Kondisi ini dinilai semakin berat karena aktivitas pariwisata di Gili Trawangan terus berkembang. Jumlah wisatawan, penduduk, bangunan, serta kegiatan ekonomi meningkat dibandingkan satu dekade lalu.


“Dulu sampahnya tidak seperti ini. Belum banyak bangunan, belum banyak wisatawan masuk, belum banyak penduduk. Sekarang sudah tidak bisa,” katanya.


Di lokasi pengelolaan sampah ini, terdapat tiga unit mesin bantuan Kementerian Kelautan Perikanan. Namun, tidak seluruhnya dapat digunakan.


Dua mesin buatan dalam negeri sebelumnya sempat diuji coba sekitar 15 hari. Pengoperasiannya kemudian dihentikan karena hasil uji emisi menunjukkan persoalan serius. Operasional dua unit mesin ini menimbulkan asap hitam pekat yang sangat mengganggu wisatawan dan keseimbangan udara di destinasi wisata strategis nasional ini.


“Asapnya sangat pekat, sangat hitam. Makanya dua mesin ini distop operasionalnya,” jelasnya.
Sementara satu mesin lainnya, yang dibuat oleh produsen asal Korea Selatan, saat ini masih menjadi mesin yang dapat dioperasikan saat ini. Mesin ini juga sama dengan dua unit yang dioperasikan Pemkot Mataram untuk mengurai persoalan sampah kota.


Mesin produksi Park Pyro ini dinilai lebih ramah lingkungan dan memiliki sistem operasi yang berbeda. Mesin membutuhkan gas sebagai pemicu awal dan listrik untuk mendukung operasional awal saat mesin dinyalakan.


Cahyo menyebut persoalan sampah di Gili Trawangan bukan masalah baru. Kondisi darurat sampah telah dirasakan sejak 2017 dan hingga kini belum sepenuhnya teratasi. Jika sampah tidak segera dikendalikan, konsekuensinya bukan hanya penumpukan. Sampah berpotensi dibuang sembarangan hingga memicu kebakaran.


“Sejak 2017 sudah darurat sampah sampai sekarang. Kami berusaha bagaimana meminimalisir, bagaimana mengendalikan sampah ini,” ujarnya.


Kondisi ini, menurutnya, membutuhkan intervensi lebih serius dari pemerintah, terutama karena persoalan sampah di pulau wisata tidak bisa disamakan dengan pengelolaan sampah di daratan.


Salah satu opsi yang pernah dibicarakan adalah membawa sampah dari Gili Trawangan ke daratan Lombok setelah melalui proses pemilahan.


Namun, solusi itu membutuhkan biaya dan rantai operasional yang panjang. Sampah harus diangkut menggunakan kapal, kemudian dipindahkan menggunakan kendaraan di daratan dan kembali dibawa ke fasilitas pengolahan.


“Kalau dibawa ke pinggir, butuh kapal, butuh kendaraan lagi, dump truck, baru dibawa lagi. Banyak proses,” katanya.
Karena itu, pengelola berharap pemerintah menambah unit mesin pengolahan ramah lingkungan yang yang ramah lingkungan.

Agar volume sampah di gili Trawangan dapat ditangani secara proporsional tanpa mengganggu kualitas udara, agar tidak mengganggu iklim pariwisata.(bul)

Semester Satu Lewat, Realisasi DBHCHT 2026 NTB Baru 11 Persen

0
Semester Satu Lewat, Realisasi DBHCHT 2026 NTB Baru 11 Persen
H. Nursalim (EKBIS NTB/era)

Mataram (EKBIS NTB) – Realisasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun 2026 di Provinsi NTB baru 11 persen dari total Rp80 miliar lebih alokasi DBHCHT untuk NTB.
Padahal, tahun 2026 sudah terlewati setengah tahun. Untuk itu, Pemprov NTB menggenjot agar serapan anggaran dari dana bagi hasil ini bisa segera dilakukan.
Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) NTB, H. Nursalim, menegaskan DBHCHT sudah ditentukan penggunaannya, yaitu untuk Pertanian dan Ketahanan Pangan, khususnya untuk petani tembakau. Sebagian besar untuk kesehatan, dan untuk pengawasan.

Namun, hingga saat ini hanya sebagian kecil DBHCHT yang digunakan. Padahal, Pemprov NTB harus melaporkan tindak lanjut penggunaan DBHCHT pada September mendatang. Alasan serapan anggaran dari dana bagi hasil ini kecil karena banyak proyek yang dibayarkan di akhir tahun.

“Itu kan serapan belanja, tetapi pengerjaan kan sedang berproses. Kita bayar setelah ada Berita Acara Serah Terima (BAST) nya. Tadi sudah ada yang janji akan segera BAST nya, seperti di rumah sakit, ujarnya, Senin, 10 Agustus 2026.

Di rumah sakit saja, DBHCHT dialokasikan sekitar Rp21 miliar untuk pembelian alat kesehatan. Di Dinas Pertanian dan Perkebunan, anggaran DBHCHT dialokasikan hingga Rp32 miliar yang difokuskan untuk kesejahteraan petani tembakau. Anggaran sejumlah tersebut dialokasikan untuk bantuan pemberian pupuk, cangkang sawit, dan bantuan pupuk NPK.

Selain dua OPD itu, DBHCHT juga dianggarkan di sejumlah rumah sakit di NTB, seperti Rumah Sakit Mandalika, Rumah Sakit Manambai, Rumah Sakit Mutiara Sukma, dan Rumah Sakit Mata. Ada juga yang dialokasikan kepada Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk melakukan pengawasan rokok ilegal.

“Itu banyak diarahkan ke kesehatan karena itu kan DBH Cukai Hasil Tembakau, akibat rokok,” jelasnya.

Selain fokus pada serapan DBHCHT yang masih kecil, DBHCHT NTB di tahun lalu juga tidak terserap sempurna sehingga menghasilkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) hingga Rp25 miliar. Namun, di awal tahun lalu Pemprov NTB sudah menuntaskan anggaran tersebut dengan membayar proyek di Dinas Perindustrian dan Pertanian.

“Tinggal sekarang bagaimana kita dorong DBHCHT tahun 2026 agar pekerjaan itu selesai sebelum batas waktunya,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanpangan) NTB, Lalu Mirza Amir Hamzah, menegaskan khusus untuk DBHCHT, memang difokuskan untuk petani-petani tembakau. Bantuan untuk petani tembakau ini tidak hanya lewat DBHCHT Provinsi, tetapi juga kabupaten/kota.

“Mereka juga dapat, tapi porsinya engga banyak. Makanya Lombok Tengah, Lombok Timur akan memberikan anggaran yang lebih besar karena di situ tempat banyak petani tembakau,” ungkapnya.

Ia menegaskan, bantuan yang diberikan bukan berupa uang tunai kepada petani, melainkan dalam bentuk barang yang mendukung kegiatan budidaya.
Menyinggung soal rincian pembagian anggaran DBHCHT secara keseluruhan, Mirza mengaku tidak mengetahui pasti.

“Kalau terkait porsi DBHCHT secara utuh dan pembagiannya, silakan ke Sekber di Biro Ekonomi karena mereka yang mengelola datanya,” katanya.

Mengenai jumlah petani penerima manfaat DBHCHT, ia mengatakan penerima bantuan mencapai lebih dari seribu petani. Namun, ia mengakui tidak mengingat angka pasti. Ia menjelaskan, penerima bantuan merupakan petani tembakau yang terdata dalam kelompok tani berdasarkan usulan dari pemerintah kabupaten.

“Data penerima berasal dari kabupaten. Yang mendapatkan bantuan adalah petani yang memang terdata sebagai penanam tembakau melalui kelompok tani,” tutupnya. (era)

Gagal Tampil Impresif di ARRC Mandalika 2026, Arai Agaska Butuh Jam Terbang Lebih

0
Gagal Tampil Impresif di ARRC Mandalika 2026, Arai Agaska Butuh Jam Terbang Lebih
(Suara NTB/kir) DISKUSI - Pembalap NTB, Arai Agaska tengah berdiskusi dengan tim mekanik di sela-sela balapan ARRC di Sirkuit Internasional Mandalika, akhir pekan kemarin.

Praya (EKBIS NTB) –Pembalap asal NTB Arai Agaska untuk pertama kalinya tampil di ajang Asia Road Racing Championship (ARRC) Mandalika 2026 seri keempat yang berlangsung di Sirkuit Internasioal Mandalika pada 7-9 Agustus 2026. Tampil dengan mengantongi wild card, pembalap Yamaha Racing Indonesia ini gagal tampil impresif.


Dalam dua kali sesi balapan, Arai yang turun di kelas elit Super Sport 600cc (SS600) hanya mampu finis di posisi sembilan dan delapan dari 14 pembalap yang turun.


Menurut Race Director FIM ARRC 2026 Eddy Saputra, saat dimintai pendapatnya terkait penampilan Arai di ajang ARRC Mandalika seri keempat 2026, akhir pekan kemarin, secara teknik membalap Arai sudah bagus. Tinggal butuh penguatan dari sisi fisik.


Mengingat motor 600cc yang digunakan bobotnya lebih berat serta punya kecepatan tinggi. Sehingga untuk mengendarainya secara optimal memang butuh kesiapan dan kondisi fisik yang bagus. “Fisik perlu diperkuat dengan perbanyak fitness. Karena motor 600cc berat dan speed-nya tinggi,” sebut Edy.


Tidak kalah penting juga soal jam terbang. Ke depan harus lebih diperbanyak dengan sering-sering mengikuti balapan. Terutama balapan di level Asia dan nasional, karena di situ tingkat persaingannya lebih kompetitif. Baik dari sisi spesifikasi motor maupun kualitas pembalapnya.


“Kalau hanya membalap di Eropa untuk saat ini bagi Arai kurang kompetitif. Karena spesifikasi motor yang digunakan masih belum bisa bersaing dengan motor Eropa. Jadi Arai masih akan kesulitan untuk bersaing dengan pembalap top level Eropa,” ujarnya.


Penting bagi Arai untuk memperbanyak ikut balapan di Asia atau nasional untuk mengasah kemampuan balap dan jam terbang di level balapan yang lebih kompetitif. “Kalau terlalu fokus balapan di Eropa, saya rasa akan buang waktu. Sebaiknya perbanyak ikut balapan di Asia dan nasional,” imbuh Edy.


Terpisah Manager Motorsport PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) Wahyu Rusmayadi, mengatakan, turunnya Arai di ARRC Mandalika memang dimaksudkan untuk memberikan jam terbang lebih. Sekaligus mengasah mental membalap serta kemampuan adaptasi dengan motornya. Karena sesungguhnya Arai memang memiliki program yang berbeda dan lebih dipersiapkan untuk ikut balapan di World Sportbike (WSPB) di Eropa.


Hasil dari balapan di ARRC Mandalika tersebut nantinya akan menjadi bahan evaluasi sekaligus improvement untuk persiapan Arai membalap di Eropa. “Balapan di Asia dan Eropa secara fundamental memang berbeda. Tapi dengan membalap ARRC, Arai bisa belajar untuk mengenal lebih jauh kondisi motor dengan level balapan yang kompetitif,” sebutnya. (kir)