Mataram (ekbisntb.com) – Dewan Pimpinan Daerah Perempuan Indonesia Maju (DPD PIM) Nusa Tenggara Barat (NTB) akan menggelar Perempuan Berkebaya Nasional NTB pada Minggu, 2 Agustus 2026, di Lapangan Sangkareang, Kota Mataram.
Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan HUT ke-81 Tahun 2026 Republik Indonesia dan Hari Kebaya Nasional ini akan diikuti organisasi – organisasi perempuan di NTB sebagai bentuk komitmen melestarikan kebaya dan wastra khas daerah.
Ketua DPD PIM NTB, Hj. Baiq Diyah Ratu Ganefi, SH, Senin, 6 Juli 2026 mengatakan, antusiasme berbagai organisasi perempuan terhadap kegiatan ini cukup tinggi. Berdasarkan pendataan sementara, terdapat hampir 200 organisasi perempuan, baik dari organisasi perangkat daerah (OPD) maupun organisasi kemasyarakatan, yang diperkirakan akan berpartisipasi.
Peserta akan mengikuti parade secara berkelompok, dengan masing-masing kelompok terdiri atas lima orang.
” Pesertanya dari berbagai organisasi perempuan, baik OPD maupun organisasi lainnya,” ujar Mantan DPD RI ini kepada Suara NTB.
Menurutnya, penyelenggaraan parade tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga memiliki misi budaya, yakni memperkuat kecintaan masyarakat terhadap kebaya dan wastra lokal NTB.
Momentum ini dinilai semakin istimewa setelah kebaya resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO, hasil perjuangan panjang berbagai elemen, termasuk DPP Perempuan Indonesia Maju (PIM) yang dipimpin Lana T. Koentjoro.
“Alhamdulillah, berkat perjuangan teman-teman di Jakarta bersama Ketua DPP PIM, kebaya akhirnya ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda oleh UNESCO. Ini menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia,” katanya.
Baiq. Diyah menegaskan, tema utama parade tahun ini adalah memadukan kebaya dengan wastra NTB sebagai upaya memperkuat identitas budaya lokal. Menurutnya, penggunaan kain tenun asli NTB harus terus didorong di tengah maraknya penggunaan kain bermotif cetak (printing) maupun kain tenun dari daerah lain.
Ia mengaku prihatin karena pada berbagai kegiatan resmi di NTB masih banyak peserta yang menggunakan kain printing atau wastra dari luar daerah. Karena itu, PIM NTB ingin menjadikan parade ini sebagai gerakan nyata untuk mengangkat produk tenun lokal.
“Kami ingin PIM benar-benar konsentrasi melestarikan wastra NTB. Salah satu penilaian dalam parade nanti adalah peserta wajib menggunakan wastra asli NTB, bukan kain printing,” tegasnya.
Selain menjadi ajang pelestarian budaya, kegiatan ini juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi para perajin tenun lokal. Meningkatnya penggunaan wastra NTB diyakini akan mendorong permintaan terhadap produk tenun tradisional sekaligus memperkuat keberlangsungan usaha para pengrajin.
Diyah menambahkan, dukungan terhadap kegiatan ini juga datang dari tokoh perempuan NTB di tingkat nasional. Wakil Ketua DPR RI, Hj. Sari Yuliati, dijadwalkan membuka secara resmi Parade Perempuan Berkebaya Nasional NTB.
Menurutnya, kehadiran Sari Yuliati nanti merupakan bentuk dukungan terhadap pemberdayaan perempuan sekaligus upaya pelestarian budaya daerah.
” Ini menjadi bentuk dukungan bagi perempuan-perempuan NTB sekaligus dukungan untuk melestarikan wastra daerah kita,” ujarnya.
Parade Perempuan Berkebaya Nasional NTB akan digelar pada Minggu, 2 Agustus 2026, mulai pukul 06.30 WITA di Lapangan Sangkareang, Mataram. Selain parade kebaya dan wastra NTB, kegiatan juga akan diramaikan bazar UMKM dan ekonomi kreatif serta pemberian penghargaan kepada para pemenang. Panitia menyiapkan total hadiah sebesar Rp10 juta bagi peserta terbaik.(bul)






