Mataram (Suara NTB) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai belum memberikan dampak langsung yang signifikan terhadap inflasi di Provinsi NTB, khususnya terhadap harga barang yang dikonsumsi masyarakat sehari-hari.
Diketahui, nilai tukar rupiah berada pada level terendah, tembus hingga Rp17.600 per dolar AS.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB, Dr. H. Wahyudin, MM, menjelaskan bahwa pengaruh pelemahan kurs lebih banyak dirasakan pada sektor industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
“Kalau dari sisi nilai tukar tentu tetap ada hitungan terkait impor dan ekspor. Kalau bahan bakunya dari impor, tentu ketika nilai tukar melemah harga bahan baku bisa naik,” ujarnya, pekan kemarin.
Meski demikian, Wahyudin menegaskan kenaikan harga bahan baku impor tersebut tidak otomatis berdampak langsung pada inflasi daerah. Sebab, inflasi yang dihitung BPS mengacu pada Indeks Harga Konsumen (IHK), yakni perubahan harga barang dan jasa yang langsung dikonsumsi masyarakat.
“Barang-barang bahan baku itu kan umumnya tidak dipergunakan langsung oleh masyarakat. Yang kita hitung itu indeks harga konsumen, artinya barang yang digunakan masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, dampak baru akan terasa apabila bahan baku impor tersebut digunakan untuk memproduksi barang konsumsi yang kemudian dijual ke masyarakat dengan harga lebih tinggi.
“Nah, kalau produk industri itu menggunakan bahan impor, mungkin harga produknya bisa naik. Itu baru bisa berpengaruh,” katanya.
Namun demikian, pelaku usaha dinilai memiliki berbagai strategi untuk menjaga harga produk tetap stabil di tengah tekanan biaya produksi akibat pelemahan rupiah.
Wahyudin menyebut perusahaan dapat melakukan efisiensi, termasuk menyesuaikan ukuran atau berat produk agar harga jual tetap terjangkau bagi konsumen.
“Pelaku usaha juga bisa bermain di sisi ukuran produk, misalnya beratnya diperkecil atau strategi lainnya supaya harga tetap stabil,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi nilai tukar rupiah tetap menjadi salah satu indikator ekonomi yang terus dipantau karena berpotensi memengaruhi aktivitas perdagangan, terutama sektor usaha yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.
Meski kurs rupiah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir, BPS memastikan kondisi ini belum memberikan dampak besar terhadap lonjakan harga di tingkat konsumen di NTB. (bul)






