Saturday, May 9, 2026
26.5 C
Mataram
HomeBerandaPertamina Ungkap Pemicu Kepanikan Pembelian BBM dan Elpiji di NTB

Pertamina Ungkap Pemicu Kepanikan Pembelian BBM dan Elpiji di NTB

Mataram (ekbisntb.com) – PT Pertamina Patra Niaga memastikan lonjakan pembelian bahan bakar minyak (BBM) maupun Elpiji akibat aksi panic buying masyarakat di NTB hanya bersifat sementara dan tidak berdampak signifikan terhadap konsumsi secara keseluruhan.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi, mengatakan kepanikan masyarakat biasanya terjadi pada momen tertentu, seperti saat muncul kekhawatiran kenaikan harga BBM non-subsidi.

“Seperti yang terjadi pada akhir Maret menuju awal April, ada kekhawatiran harga BBM non-subsidi naik sehingga masyarakat membeli secara berbondong-bondong di SPBU. Tapi kondisi seperti itu biasanya hanya berlangsung singkat,” ujarnya.

Menurut Ahad, lonjakan konsumsi saat panic buying umumnya hanya terjadi selama satu hingga tiga hari. Kenaikan permintaan pun relatif kecil, hanya sekitar 1 hingga 2 persen.

“Kalau terjadi kepanikan, biasanya hanya satu sampai tiga hari. Setelah kebutuhan terpenuhi, konsumsi kembali normal. Secara rata-rata kenaikannya hanya sekitar 1 sampai 2 persen,” katanya.

Untuk Elpiji, ia menjelaskan kepanikan biasanya dipicu isu kelangkaan barang di tingkat pengecer. Padahal, stok di pangkalan resmi masih tersedia.

Karena itu, Pertamina terus memperketat distribusi agar penyaluran Elpiji bersubsidi lebih diprioritaskan kepada masyarakat pengguna langsung, bukan pengecer. Langkah ini dilakukan untuk mencegah permainan harga di tingkat pengecer.

Ahad menyoroti masih adanya praktik penjualan Elpiji di atas harga wajar di tingkat pengecer. Bahkan, harga tabung ELPIJI 3 kilogram di beberapa tempat dilaporkan bisa mencapai Rp30 ribu per tabung.

“Harga seperti itu dipastikan bukan berasal dari pangkalan resmi. Karena itu kami mendorong masyarakat membeli langsung di pangkalan,” tegasnya.

Untuk memudahkan masyarakat, Pertamina juga telah menyediakan akses informasi lokasi pangkalan resmi melalui tautan dan situs yang dapat digunakan masyarakat untuk mencari pangkalan Elpiji terdekat.

Sementara itu, konsumsi energi di NTB saat ini masih menunjukkan tren meningkat, terutama untuk Elpiji 3 kilogram dan BBM subsidi. Sebaliknya, konsumsi BBM non-subsidi cenderung menurun setelah adanya penyesuaian harga.

Menurut Ahad, pemerintah tetap menjaga harga Pertalite agar selisih harga dengan BBM non-subsidi tidak terlalu jauh. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah perpindahan konsumsi secara besar-besaran ke BBM subsidi yang dapat membebani anggaran negara.

Di sisi lain, Pertamina juga terus meningkatkan kapasitas produksi BBM nasional melalui kilang di Balikpapan dan Cilacap guna memperkuat pasokan domestik dan mengurangi ketergantungan impor.

“Yang jelas, masyarakat tidak perlu panik karena stok tetap kami pantau dan akan ditambah jika diperlukan,” katanya. (bul)

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut