BerandaBERANDATak Hanya Jadi Desa Wisata, Tetebatu Selatan Juga Punya Gula Aren yang...

Tak Hanya Jadi Desa Wisata, Tetebatu Selatan Juga Punya Gula Aren yang Mendunia

DESA Tetebatu Selatan (TBS), Kecamatan Sikur, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), selama ini dikenal sebagai salah satu desa wisata yang menawarkan keindahan alam dan suasana pedesaan yang memikat. Namun, di balik pesona pariwisatanya, desa ini menyimpan potensi lain yang tak kalah menarik, yakni produksi gula aren yang kini terus berkembang dan mulai menembus pasar dan sangat diminati para wisatawan-wisatawan asing yang datang.

Di tangan masyarakat, air nira yang dahulu lebih banyak dijual sebagai minuman. Atau ada yang sudah mulai diolah secara sederhana menjadi gula aren berbentuk batok. Kini potensi lokal desa itu dikembangkan menjadi beragam produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Ada gula semut yang praktis digunakan sebagai pemanis kopi, gula aren cair sebagai sirup, hingga sirup gula aren berbentuk kotak-kotak yang dinamakan gula Gambir oleh masyarakat Tetebatu Selatan ini.

- Advertisement -

Perubahan ini bukan terjadi begitu saja. Ada proses panjang berupa pembinaan, pelatihan, penguatan sumber daya manusia (SDM), hingga pendampingan pemasaran yang melibatkan pemerintah desa, komunitas perempuan, dan lembaga pendamping.

Sekretaris Desa Tetebatu Selatan, Ahmad Fauzi, menjelaskan, produksi gula aren menjadi salah satu potensi ekonomi yang terus dikembangkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat daya tarik desa wisata.

Menurutnya, air nira dari pohon aren dipanen dua kali sehari, yakni pagi dan sore. Sebagian hasilnya dijual langsung, sementara sisanya diolah menjadi gula aren agar memiliki nilai tambah.

“Kalau tidak dijual langsung, air niranya diolah menjadi gula aren batok. Sekarang sudah mulai dikembangkan menjadi produk lain, seperti gula semut dan sirup gula aren,” jelasnya.

Sebelum mendapatkan pendampingan, masyarakat Tetebatu Selatan umumnya hanya memproduksi gula aren dalam bentuk batok. Produk tersebut memang sudah memiliki pasar, tetapi pengolahannya belum banyak berkembang.

Sejak 2025, upaya pembinaan mulai diperkuat melalui pertukaran pengalaman antardesa, pelatihan, dan peningkatan kapasitas masyarakat. Pengembangan kemasan juga menjadi perhatian agar produk lokal memiliki tampilan yang lebih menarik dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Dukungan pemerintah desa, termasuk melalui pemanfaatan dana desa untuk pengembangan kemasan, menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut.

Kini, produk gula aren Tetebatu Selatan tidak hanya menyasar pasar rumah tangga. Produk ini juga mulai dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hotel dan homestay di kawasan Tetebatu Selatan maupun Tetebatu.

Dengan jumlah homestay sekitar 15 unit di Tetebatu Selatan, sektor pariwisata menjadi peluang pasar yang menjanjikan bagi produk olahan gula aren.

Ahmad Fauzi menyebut, harga produk gula aren berada di kisaran Rp25 ribu, meskipun harga tersebut dapat berbeda sesuai jenis dan kemasan produk.

Pemasaran juga dilakukan melalui platform digital desa, yakni tetebatuselatan.com, sehingga calon pembeli dapat mengenal dan mengakses produk lokal dengan lebih mudah.

Bagi masyarakat, keberadaan pasar wisata menjadi alasan untuk terus meningkatkan produksi dan kualitas. Mereka tidak hanya memikirkan bagaimana menghasilkan gula aren, tetapi juga bagaimana memastikan produk tersebut memiliki pembeli secara berkelanjutan.

Perempuan Bergerak

Di balik perkembangan produk gula aren, terdapat peran penting perempuan desa yang terus mengembangkan keterampilan dan mengorganisasi kekuatan ekonomi masyarakat.

Ketua Sekolah Rakyat Tetebatu Selatan, Yuldi Astuti, menjelaskan bahwa proses pengembangan usaha dilakukan melalui pembelajaran bersama, penguatan kelompok, serta upaya mencari solusi atas berbagai keterbatasan yang dihadapi masyarakat.

Sekolah Rakyat yang telah bergerak sejak 2012 menjadi salah satu ruang bagi warga untuk belajar, membangun kesadaran, dan mengembangkan potensi desa.

Dalam perjalanan tersebut, masyarakat menghadapi beragam tantangan, mulai dari keterbatasan peralatan produksi hingga kebutuhan modal usaha.

Pada awalnya, sebagian kebutuhan modal kelompok dipenuhi melalui pinjaman koperasi. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses masyarakat untuk belajar mengelola usaha secara mandiri.

Bagi Yuldi, pendampingan tidak cukup hanya memberikan pengetahuan tentang cara mengolah bahan baku. Masyarakat juga perlu memahami pengelolaan usaha, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, serta membangun jaringan pemasaran.

Memasuki tahun keempat proses pengembangan usaha yang mereka jalani, kelompok mulai memberi perhatian lebih besar pada penghitungan harga pokok produksi (HPP).

Langkah ini penting agar masyarakat mengetahui secara pasti biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan setiap produk dan dapat menentukan harga jual yang sesuai.

“Harapan kami, masyarakat terus belajar dan berjuang agar usaha ini semakin mandiri. Kami juga berharap pendampingan tetap berlanjut,” ujarnya.

Perkembangan usaha gula aren di Tetebatu Selatan tidak berhenti pada gula batok. Masyarakat mulai berani berinovasi dengan mengolah nira menjadi produk yang lebih beragam.

Salah satunya adalah gula semut, yakni gula aren berbentuk butiran atau serbuk yang praktis digunakan sebagai pemanis minuman, termasuk kopi.

Produk ini memiliki peluang besar di kawasan wisata karena dapat menjadi bagian dari pengalaman kuliner yang ditawarkan kepada wisatawan.

Selain gula semut, kelompok masyarakat juga mengembangkan gula aren cair dan sirup gula aren. Inovasi tersebut membuka kemungkinan penggunaan gula aren untuk berbagai kebutuhan kuliner sekaligus memperluas pilihan produk yang dapat dipasarkan.

Ada pula pengembangan gula gambir yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan, termasuk untuk permen dan pelengkap rujak.

Ragam produk tersebut menunjukkan bahwa potensi pohon aren tidak hanya terletak pada hasil mentahnya, tetapi juga pada kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan baku menjadi produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Ahmad Fauzi pun melihat peluang untuk menghubungkan produk gula aren dengan sektor pariwisata secara lebih erat.

Salah satu gagasan yang ingin dikembangkan adalah paket kuliner berupa kopi lokal dengan gula merah atau gula aren khas Tetebatu Selatan.

Dengan begitu, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan alam, tetapi juga mendapatkan pengalaman mencicipi produk lokal sekaligus mengenal proses pembuatannya.

Pendampingan Bukan Sekadar Modal

Perjalanan pengembangan gula aren di Tetebatu Selatan juga mendapat perhatian dari pihak pendamping, termasuk melalui dukungan dan kerja sama dengan Gema Alam serta keterlibatan berbagai pihak.

Noviati Manurung, yang hadir sebagai delegasi Uni Eropa, menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras masyarakat, terutama perempuan, dalam mengembangkan usaha dan membangun kemandirian ekonomi.

Pendampingan yang dilakukan tidak semata-mata berorientasi pada pemberian modal. Penguatan kapasitas, akses pasar, pengorganisasian masyarakat, dan keberlanjutan usaha menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Masyarakat didorong agar mampu melihat peluang ekonomi yang tersedia, mengembangkan produk, serta membangun hubungan dengan pasar tanpa terus bergantung pada bantuan dari luar.

Apresiasi terhadap keterlibatan perempuan juga menjadi bagian penting dalam proses ini. Mereka bukan hanya berperan dalam produksi, tetapi juga terlibat dalam pengelolaan kelompok, pembelajaran usaha, dan upaya memperluas pemasaran.

Keterlibatan laki-laki dalam mendukung pekerjaan dan perjuangan perempuan turut menjadi perhatian. Kolaborasi di tingkat keluarga dan komunitas diperlukan agar pengembangan ekonomi desa dapat berjalan lebih kuat.

Semangat gotong royong inilah yang menjadi modal sosial masyarakat Tetebatu Selatan dalam menghadapi keterbatasan sekaligus memanfaatkan peluang.

Menuju Desa Mandiri Energi

Potensi gula aren di Tetebatu Selatan ternyata juga berkaitan dengan cita-cita yang lebih besar, yakni membangun kemandirian desa.

Yuldi Astuti menjelaskan bahwa masyarakat mulai melakukan identifikasi jumlah pohon aren yang tersebar di wilayah desa. Pendataan tersebut menjadi langkah penting untuk mengetahui ketersediaan bahan baku dan memperkirakan potensi produksi secara lebih terukur.

Saat ini, produksi gula aren di Tetebatu Selatan disebut mencapai sekitar 1.500 liter per bulan. Angka tersebut menjadi gambaran potensi ekonomi yang dapat dikembangkan apabila pengelolaan bahan baku, produksi, dan pemasaran dilakukan secara lebih terencana.

Ke depan, masyarakat berharap dapat mengembangkan sistem pengumpulan air nira sehingga hasil petani tidak harus dijual keluar desa dalam bentuk bahan mentah. Dengan pola tersebut, air nira dapat dikumpulkan dan diolah bersama untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih besar.

Di sisi lain, gagasan menuju dusun mandiri energi juga mulai dibicarakan. Pengembangan biogas menjadi salah satu peluang yang ingin dijajaki bersama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pemanfaatan potensi lokal secara terpadu diharapkan dapat memperkuat hubungan antara kegiatan produksi, pengolahan hasil, dan kebutuhan energi masyarakat.

Meski masih membutuhkan pembelajaran, pendampingan, serta dukungan sarana dan prasarana, langkah tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat mulai memandang pohon aren bukan sekadar sumber penghasilan harian, melainkan aset ekonomi desa yang dapat dikembangkan dalam jangka panjang.

Merawat Potensi, Menumbuhkan Kemandirian

Kisah gula aren Tetebatu Selatan memperlihatkan bahwa pengembangan ekonomi desa tidak selalu harus dimulai dari investasi besar. Potensi yang telah lama hidup di tengah masyarakat pun dapat berkembang ketika didukung pengetahuan, inovasi, pengorganisasian kelompok, dan akses pasar.

Desa yang selama ini dikenal karena pariwisatanya kini memiliki peluang memperkuat identitas melalui produk lokal. Gula aren dapat menjadi bagian dari sajian kopi, oleh-oleh wisata, kebutuhan homestay, hingga produk olahan yang menjangkau pasar lebih luas.

Bagi Ahmad Fauzi, pengembangan produk tersebut merupakan kesempatan untuk mempertemukan potensi ekonomi masyarakat dengan pertumbuhan sektor pariwisata.

Sementara bagi kelompok masyarakat yang selama ini berproses, setiap inovasi menjadi bagian dari perjuangan untuk meningkatkan pendapatan dan membangun kemandirian.

Pekerjaan rumahnya masih cukup panjang. Kualitas produk, ketersediaan peralatan, perhitungan biaya produksi, penguatan kelembagaan, serta kepastian pasar perlu terus dibenahi.

Namun, dengan kolaborasi pemerintah desa, kelompok masyarakat, pendamping, dan pelaku pariwisata, Tetebatu Selatan memiliki peluang untuk menjadikan gula aren sebagai salah satu produk unggulan desa.

Sebab, desa wisata yang kuat bukan hanya desa yang mampu mendatangkan pengunjung, melainkan juga desa yang dapat memastikan kehadiran wisata memberi manfaat ekonomi bagi masyarakatnya.

Dari pohon aren yang tumbuh di lingkungan desa, Tetebatu Selatan sedang merintis jalan menuju ekonomi lokal yang lebih kreatif, inklusif, dan mandiri. (rus)

Artikel Yang Relevan

IKLAN








Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut