Mataram (ekbisntb.com) – Komoditas porang kembali menunjukkan prospek cerah di Nusa Tenggara Barat. Seiring beroperasinya pabrik porang di Lombok Timur dan tingginya permintaan pasar, harga porang di tingkat petani kini menembus Rp10.000 hingga Rp10.500 per kilogram, sehingga membuka peluang keuntungan besar bagi petani.
Ketua Petani Pegiat Porang Nusantara (P3N), Puguh Dwi Friawan, mengatakan geliat usaha porang di NTB mulai bangkit kembali. Kehadiran pabrik pengolahan porang di Lombok Timur menjadi angin segar karena mampu menyerap hasil panen petani lokal.
“Sekarang jalan pabrik porang di Lombok Timur. Dan pabrik-pabrik yang lainnya, di Jawa juga permintaannya pasarnya cukup bagus dari pabrik. Harga juga lumayan, petani sudah bisa merasakan Rp10.000 sampai Rp10.500 per kilo di tingkat pengepul. Kalau harga di pabrik tentu beda lagi,” ujarnya, Selasa, 28 April 2026.
Menurut Dwi, bahan baku pabrik saat ini berasal dari sejumlah wilayah di Pulau Lombok, seperti Lombok Barat, Lombok Utara (KLU), dan Lombok Timur. Bahkan dari Kabupaten Lombok Utara
Meskipun, ia memperkirakan stok porang dari Lombok Utara akan mulai menipis pada Juni hingga Juli karena memasuki akhir musim panen. Karena itu, kebutuhan bahan baku pabrik selanjutnya diprediksi banyak dipasok dari luar daerah, salah satunya dari Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Sekitar bulan enam atau tujuh biasanya stok sudah habis karena puncak panen selesai. Berarti sebagian besar bahan baku nanti akan diambil dari NTT,” jelasnya.
Dwi menegaskan, porang merupakan tanaman bernilai ekonomi tinggi. Dengan harga saat ini, petani dapat memperoleh penghasilan puluhan hingga ratusan juta rupiah dalam satu kali panen.
Ia mencontohkan, hasil panen dua ton porang saja sudah bernilai sekitar Rp20 juta. Sementara jika dikelola serius dalam lahan satu hektare dengan populasi sekitar 10.000 bibit, produksi bisa mencapai 10 ton atau setara Rp100 juta.
“Secara umum, dua ton sudah bisa menghasilkan Rp20 juta. Kalau satu hektare dengan 10.000 bibit bisa 10 ton, berarti bisa Rp100 juta,” ujarnya.
Menurutnya, angka tersebut sangat realistis terutama jika sistem budidaya dilakukan dengan baik dan pola tanam yang tepat.
Puguh menjelaskan porang sangat cocok ditanam dengan sistem tumpang sari di bawah tanaman perkebunan seperti kopi, kakao, dan cengkeh. Tanaman ini justru tumbuh optimal di area teduh dan dataran tinggi.
“Habitat porang lebih bagus di bawah naungan. Jadi cocok ditanam tumpang sari dengan kopi, kakao, cengkeh. Sangat bagus di daerah seperti Senaru, Sembalun, Bayan ke atas. Jadi potensi hasil petani tidak saja cari tanaman kakau, juga dari porang,” katanya.
Menurutnya, keberadaan porang bisa mengubah lahan tidur di bawah kebun menjadi sumber pendapatan tambahan bagi petani tanpa harus membuka lahan baru.
“Lahan yang selama ini kosong di bawah cengkeh dan kopi bisa dimanfaatkan. Jadi ada penghasilan tambahan,” imbuhnya.
Selain harga yang sedang bagus, porang juga dinilai menarik karena masa panennya relatif cepat. Dalam waktu sekitar enam bulan, tanaman sudah bisa dipanen dengan hasil yang cukup baik.
Ia menambahkan, kebutuhan bibit juga tidak terlalu memberatkan petani karena pembelian cukup dilakukan sekali di awal tanam. Setelah panen, sebagian hasil bisa disisihkan kembali sebagai bibit musim berikutnya.
Meski prospeknya cerah, Dwi mengakui banyak petani masih ragu memperluas budidaya porang. Hal itu dipicu pengalaman masa lalu saat harga porang anjlok hingga Rp2.500 per kilogram.
“Petani trauma dulu harga jatuh sampai Rp2.500 per kilo. Itu yang bikin banyak orang enggan menanam lagi sampai sekarang,” katanya.
Karena itu, ia mendorong adanya Harga Pembelian Pemerintah (HPP) atau mekanisme perlindungan harga agar petani memiliki kepastian usaha.
“Yang dibutuhkan sekarang sebenarnya HPP, supaya petani tenang dan tidak takut harga berubah drastis,” tegasnya.
Dwi menambahkan, permintaan porang dari pabrik di Lombok maupun Jawa saat ini sangat tinggi. Bahkan setiap tahun terus bermunculan pabrik baru yang mengolah porang menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah.
“Permintaan pabrik di Lombok dan Jawa sangat tinggi. Setiap tahun selalu ada pabrik baru,” ujarnya.
Saat ini salah satu produk yang berkembang adalah chip porang serta bahan baku beras porang, yang dikenal sebagai pangan sehat rendah kalori. Selain itu, porang juga memiliki banyak turunan industry lain. “Porang itu banyak turunannya. Sekarang dibuat chip, dibuat beras porang, dan masih banyak produk lainnya,” pungkasnya. (bul)






