Saturday, April 4, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 784

Jalan Lingkar Gili Air Putus, Caleg Terpilih Soroti Minimnya Atensi Pemerintah

0
JALAN PUTUS - Jalan Gili Air Putus akibat abrasi, hingga kini belum tertangani. (Ekbis NTB/ist)

MANTAN Kepala Desa Gili Indah, H. M. Taufik, terpilih sebagai Anggota Legislatif pada Pemilu 2024 lalu. Saat berada di kursi legislatif mendatang, Taufik berjanji akan mengawal kebijakan Pemda terkait dukungannya pada penguatan infrastruktur pariwisata di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Salah satu yang ia soroti adalah minimnya atensi terhadap jalan lingkar Gili Air yang putus.

“Terpilihnya saya adalah bentuk aspirasi masyarakat, bahwa harus ada politisi yang betul-betul mengawal kebijakan terutama anggaran terhadap dukungan infrastruktur kawasan pariwisata,” tegas Taufik, Minggu 31 Maret 2024.

Untuk mencapai niatnya itu, Taufik pun akan memilih untuk berada di Komisi yang membidangi Pariwisata yaitu Komisi II di DPRD KLU.

Sepanjang pemerintahan Lombok Utara yang berjalan di 3 periode bupati, Taufik belum melihat ada keseriusan dalam mengintervensi Gili. Padahal, 3 Gili dengan banyaknya investasi telah menyumbang sedikitnya 60 persen PAD dari sektor Pajak Daerah.

Diakui atau tidak, sambung dia, pariwisata menyumbang PDRB kedua terbesar setelah Sektor Pertanian. Betapa tidak di 3 Gili, ratusan hotel berdiri dengan kontribusi penyediaan lapangan kerja, mobilitas transportasi yang menghidupi ribuan warga, serta lalu lintas komoditas barang kebutuhan sehari-hari. Hanya saja, besarnya potensi itu belum mampu dikelola agar tercipta integrasi dan simbiosis mutualisme antara property perhotelan dengan masyarakat sebagai petani, peternak, nelayan dan sebagainya.

“Harus ada sinergi antara legislatif, eksekutif dan pelaku wisata. Setidaknya, tiga pihak ini harus duduk bersama dalam membahas apa kebutuhan pariwisata jangka pendek, menengah dan panjang,” terangnya.

Ia mencontohkan, hadirnya KPK pada beberapa manajemen perhotelan beberapa waktu lalu, menjadi referensi terdapat missing link antara para pihak.

“KPK sangat kita butuhkan untuk mendisiplinkan tata kelola hak dan kewajiban. Tetapi, ketika pariwisata menyumbang PAD, jangan sampai tidak ada kebijakan anggaran yang mendukung kenyamanan dan keamanan kepada pelaku khususnya wisatawan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Taufik juga menyoroti masih lemahnya dukungan anggaran dalam penguatan lingkungan, tata ruang dan infrastruktur publik. Di Gili Air, kata dia, sejak abrasi 2021 lalu, tidak terlihat ada sentuhan anggaran untuk menata kembali jalan lingkar Gili Air yang putus. Begitu pula, anggaran untuk mencegah potendi kerusakan dari abrasi karena ombak pasang.

“Bicara jalan mantap saja, dari 5,5 km jalan keliling Gili, hanya beberapa kilo saja yang kondisinya mantap. Belum lagi kita bandingkan dengan kondisi jalan di Trawangan dan Meno.  Di Gili Air bagian selatan, jalan sudah 2 tahun putus. Survei pejabat baik Kementerian dan pejabat Pemda sudah beberapa kali turun, tapi sampai tahun ini kemarin belum ada upaya mitigasi untuk mencegah meluasnya kerusakan,” tandas Taufik. (ari)

Efektif, Kolaborasi Program TMMD  Bangun Infrastruktur

0
TUTUP - TNI dan Pemda menutup kegiatan TNI dengan mengunjungi lokasi kegiatan. (Ekbis NTB/ist)

KOLABORASI program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) dengan APBD ternyata dinilai lebih efektif dalam membangun infrastruktur di daerah. Untuk itu, DPRD Kabupaten Lombok Utara (KLU), menyarankan agar Pemda lebih intens melibatkan TNI dalam proses pembangunan di daerah pada masa yang akan datang.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Lombok Utara, Hakamah, S.KH., Minggu 31 Maret 2024. Ia menegaskan, pelibatan TMMD sangat penting tidak hanya dalam menjaga NKRI dari aspek keamanan sosial. Tetapi dari aspek keamanan dan kenyamanan pembangunan infrastruktur, pelibatannya terbukti lebih efektif.

“Apa yang kita lihat dari pelaksanaan TMMD selama 1 bulan dari Januari sampai 19 Februari 2024 lalu, membuktikan bahwa TNI sangat andal dalam membangun infrastruktur. Bahkan, polanya terintegrasi dengan padat karya, warga dijadwalkan secara bergiliran dan diberikan kompensasi. Ini yang sangat menarik,” ungkap Hakamah.

Menurut dia, nama besar TNI masih sangat dihormati oleh masyarakat. Sehingga, pelibatannya menjadi penting manakala pembangunan infrastruktur membutuhkan waktu singkat dengan kualitas sangat baik.

Berkaca pada ruas Jalan dan Jembatan yang menghubungkan Desa Rempek Darussalam dan Desa Genggelang, Hakamah, melihat kualitasnya infrastrukturnya tidak diragukan. Bahkan, dalam pengerjaan jalan dan jembatan yang di dalamnya terdapat pembebasan lahan, dapat dilakukan oleh TNI tanpa riak ataupun protes dari warga pemilik lahan. Bagi dia, jika tanpa TNI, sangat memungkinkan pelebaran jalan akan memakan tambahan APBD.

“Kalau tanpa TNI, atau katakan oleh kontraktor, mungkin warga akan meminta kompensasi. Tetapi karena warga sangat menghargai TNI, warga merelakan lahannya. Ini juga bagian dari apresiasi kepada TNI,” tegasnya.

Oleh karenanya, Caleg petahana yang terpilih kembali pada periode 2024-2029 ini, meminta kepada Pemda atau pun TNI untuk berkolaborasi kembali pada infrastruktur lain di KLU. Sebab dengan hadirnya TNI di tengah masyarakat, mereka tidak hanya memberi andil dalam keamanan sosial, tetapi juga kualitas pembangunan di daerah.

“Bandingkan kalau dikerjakan oleh kontraktor, belum apa-apanya sudah berbicara keuntungan. Kalau TNI ‘kan tidak bicara untung,” cetusnya. “Apalagi daerah kita ini masih butuh percepatan pembangunan pascagempa, saya rasa, jika nanti ada dana untuk rehab rekon RTG, TNI sangat tepat dimintai keterlibatannya,” tandas Hakamah.

Sebagaimana diketahui, Lombok Utara terpilih sebagai lokasi TMMD Ke-119 di KLU. TMMD kali kemarin, dipusatkan di 2 desa di Kecamatan Gangga, yaitu Desa Genggelang dan Desa Rempek Darussalam. Dari kegiatan yang dilakukan, Pemda menyediakan anggaran sedangkan eksekutornya adalan TNI, berupa pembangunan jembatan, pelebaran jalan sekitar 1 km, pembangunan plat duiker dan talud, serta sejumlah unit RTLH milik warga. (ari)

Pelindo Dukung Konektivitas Nasional

0
PELAYANAN - Pelayanan di Pelabuhan Pelindo Lembar yang bertekad mendukung konektivitas nasional. (Ekbis NTB/ist)

PT Pelabuhan Indonesia (Persero), atau Pelindo, berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik dalam mendukung kelancaran logistik dan konektivitas nasional. Di Lombok, NTB, Pelindo mengoptimalkan operasi Pelabuhan Lembar, yang fokus pada segmen bisnis sebagai operator terminal nonpetikemas, mencakup layanan curah cair, curah kering, general cargo, dan penumpang.

Sejak dioperasikan oleh subholding perusahaan, yakni PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) pada 1 Agustus 2023, Pelabuhan Lembar terus menunjukkan kinerja positif. Arus peti kemas hingga Februari 2024 mencapai 5.083 box, meningkat 31% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, arus kapal mencapai 3,04 juta Gross Tonnage (GT), meningkat 23% secara tahunan (year on year), dan arus barang berupa kendaraan juga mengalami peningkatan signifikan, mencapai 37,2 ribu unit atau tumbuh 19% sejak Februari 2023.

“Dalam mata rantai layanan kepelabuhanan Pelindo, Pelabuhan Lembar terus menunjukkan kinerja positif. Kami berkomitmen memberikan layanan terbaik bagi pengguna jasa, tidak terkecuali di Pelabuhan Lembar,” kata Direktur Utama Pelindo, Arif Suhartono, saat melakukan kunjungan kerja ke Pelabuhan Lembar, awal pekan kemarin.

Pada  kesempatan itu turut hadir Komisaris Utama Pelindo Agus Suhartono, Direktur Utama SPMT Ari Henryanto, dan Direktur Operasi SPMT Arif Rusman Yulianto.

Arif menegaskan, Pelindo terus mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja, karena hal ini merupakan investasi penting dalam memastikan keberlanjutan perusahaan. Pelabuhan Lembar juga mengelola Terminal Penumpang Gilimas yang berjarak sekitar 7 km dari Pelabuhan Lembar. Arus penumpang yang melalui Terminal Gilimas dan Lembar tercatat mengalami kenaikan. Pada Februari 2024, arus penumpang tercatat 67,2 ribu orang atau naik 82% dibandingkan tahun sebelumnya.

Terminal Gilimas juga melayani sandar kapal pesiar yang membawa wisatawan mancanegara. Hingga minggu ketiga Maret 2024, tercatat 12 kapal pesiar telah singgah di Terminal Gilimas yang membawa 38,4 ribu orang penumpang. Dalam kunjungan ini, Arif menyampaikan bahwa Terminal Gilimas memiliki potensi yang sangat besar dalam mendukung industri roro dan tourism yang berbasis  keindahan alam.

“Kami siap memberikan layanan terbaik bagi kapal pesiar yang singgah di Terminal Gilimas. Kapal cruise yang membawa ribuan wisatawan tersebut berkontribusi pada pertumbuhan sektor pariwisata, yang memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat,” jelas Arif.

Sebagai wujud rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama, Pelindo Group melalui Program Tanggung Jawab Sosial (TJSL) melaksanakan program Pelindo Berbagi Ramadhan 2024, yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia.Pelindo Group menyalurkan bantuan santunan kepada 8 ribuan anak yatim, 75 ribu paket sembako gratis, 46 ribu paket takjil gratis, serta membagikan 1.000 Al Qur’an. Bantuan Pelindo Berbagi Ramadhan 2024 tersebut disalurkan kepada Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) dan masyarakat sekitar yang berada di wilayah kerjanya.

“Pencapaian kinerja Perusahaan yang baik juga harus membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Mudah-mudahan program Pelindo Berbagi Ramadhan 2024 ini memberikan manfaat besar bagi masyarakat,” tutup Arif.(her)

Punya Sejarah Panjang, Cidomo Butuh Subsidi untuk Jaga Eksistensi 

0

KEBERADAAN cidomo atau dokar di Lombok memiliki sejarah yang panjang. Eksistensi cidomo dimulai sejak zaman kerajaan atau pra kemerdekaan dan masih bertahan sampai sekarang. Bedanya, jika dulu cidomo menjadi angkutan yang paling diandalkan, kini semakin tersisih oleh transportasi mesin yang kian menjamur.

Lombok Heritage and science Society (LHSS), sebuah komunitas peduli Sejarah Lombok memiliki pandangan bahwa cidomo harus tetap dilestarikan keberadaannya di tengah gempuran moda transportasi modern. Selain karena alasan sejarah karena menjadi warisan orang tua dulu, alat angkutan tradisional ini juga memiliki potensi untuk pengembangan wisata di Lombok.

Pendiri LHSS Zulhakim mengatakan, keberadaan cidomo sudah menjadi angkutan khusus, karena sudah kalah bersaing dengan angkutan mesin dengan beragam jenisnya. Cidomo sesungguhnya tak bisa beroperasi dengan skala keekonomian, karena penumpangnya yang sudah sangat terbatas, sehingga perlu intervensi berupa pemberian subsidi dan sejenisnya.

“Kalau mau melihat cidomo ini tetap ada, maka harus ada intervensi pemerintah. Misalnya melihat model pelaksanaan subsidi kendaraan mikrolet, mikrotrans di Jakarta. Kalau dibiarkan seperti sekarang, cidomo seperti hidup segan mati tak mau,” tuturnya kepada Ekbis NTB, akhir pekan kemarin.

Ia menilai, jika ada subsidi untuk cidomo, para kusir akan lebih mudah untuk diatur, karena ada pendapatan dari Pemda selain dari hasil operasional hariannya. Pembatasan zona operasional atau trayek juga relatif lebih mudah diurus jika ada perhatian pemerintah.

Keberadaan mereka juga akan lebih bagus, baik dari segi tampilan cidomo maupun kusir itu sendiri. Cidomo sebenarnya memiliki magnet, karena selain karena fungsinya sebagai alat transportasi, dia juga memiliki nilai lebih karena ada unsur nostalgia lantaran pernah menjadi andalan di masanya.

“Dengan adanya subsidi, pemerintah juga diuntungkan karena akan lebih mudah mengatur cidomo ini. Dia bisa membatasi jalur trayek misalnya, bisa memperbaiki cidomonya dan lain sebagainya,” katanya.

Zulhakim mengatakan, cidomo bisa seperti andong di Yogyakarta yang sudah difungsikan untuk melayani wisatawan yang ingin berkeliling kota. Mereka menggunakan pakaian adat, tampilan andong sangat menarik dan memiliki kesan istimewa. Ekonomi para kusir dari hasil menarik penumpang pun akan lebih bagus. Namun demikian, syaratnya yaitu pemerintah harus memberikan intervensi berupa subsidi atau pembiayaan lain agar keberadaan mereka lebih baik daripada saat ini.

“Sekali lagi, ini harus ada intervensi pemerintah dalam bentuk subsidi. Ini juga untuk menjamin cidomo ini jadi angkutan pariwisata. Sebab jika hanya melakukan imbauan, tentu susah. Tanpa perhatian pemerintah, susah bagi para kusir untuk meningkatkan diri, misalnya joknya bagus, kusir juga wangi dan lainnya” katanya. (ris)

Jadi Transportasi Sosiokultural, MAS Minta Cidomo Dilestarikan

0
H. Lalu Sajim Sastrawan (Ekbis NTB/dok)

CIDOMO, dikenal sebagai cikar atau delman adalah alat transportasi tradisional khas di Pulau Lombok. Mulai diperkenalkan sejak zaman Belanda, cidomo kini makin terpinggirkan. Di tengah pesatnya perkembangan alat transportasi berbahan baku fosil dan listrik.

Nama cidomo sendiri merupakan akronim dari cikar, dokar, dan mobil (montor dalam bahasa Sasak), yang merujuk pada bentuknya serta fungsinya. Cikar karena fungsinya sebagai transportasi darat. Dokar karena ditarik oleh kuda. Adapun mobil karena ban yang digunakan adalah ban mobil.

Cidomo menurut Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, SH., M.H., dari Majelis Adat Sasak (MAS) adalah transportasi konvensional sosiokultural. Keberadaan cidomo ini erat kaitannya dengan peradaban masyarakat Lombok, khususnya.

Atas dasar ini, pemerintah perlu mengintervensi untuk menjaga kearifan lokal ini tetap dapat dipertahankan hingga cucu anak nanti. Cidomo, lanjut Lalu Sajim, tidak boleh dibiarkan beradu dengan transportasi kekinian berbasis mesin.

“Yang mesin-mesin ini kan membebani pemerintah. Subsidi, emisi. Dan tidak bisa diadu cidomo dengan transportasi mesin,” katanya.

Menurut Lalu Sajim, cidomo harus diberikan ruang khusus. Misalnya, dijadikan alat transportasi penghubung dari destinasi wisata yang satu ke destinasi wisata lain yang jaraknya relatif tidak jauh atau menjadi kendaraan khusus di desa-desa, apalagi desa tersebut adalah desa pariwisata.

“Harus diatur trayeknya seperti mengatur trayek alat transportasi lainnya. Jangan semuanya diberikan ruang kepada kendaraan mesin. Karena mesin ini juga membunuh ruang ekonomi masyarakat konvensional. Kalau yang jauh-jauh, boleh menggunakan kendaraan mesin,” ujarnya.

Karena itu, cidomo diharapkan tetap dilestarikan. Yang bisa melakukannya adalah kebijakan-kebijakan pemerintah.  “Cidomo ini harus dibranding lagi supata tetap bisa dipertahankan,” harapnya.

Makna sosio-kultural. Cidomo menjadi bagian penting dari budaya masyarakat Lombok. Simbol keberlanjutan dan kearifan lokal dalam mengelola sumber daya alam dan budaya. Sebagai alat transportasi tradisional yang digerakkan oleh kuda, cidomo juga menerapkan prinsip “green transportation” yang ramah lingkungan.

Jadi, cidomo bukan hanya sekadar alat transportasi, tetapi juga memiliki nilai-nilai sosio-kultural yang kaya dan berdampak pada masyarakat setempat.(bul)

Ketika Cidomo Bertahan di Tengah Gempuran Transportasi Modern

0
STAND BY - Kusir cidomo stand by di Pasar Kebon Roek Ampenan. Mereka menunggu penumpang yang sebagian besar adalah pedagang atau ibu rumah tangga yang berbelanja di pasar. (Ekbis NTB/glo)

Cidomo sebagai alat transportasi tradisional di Lombok hingga saat ini oleh sejumlah orang masih dipertahankan. Cidomo tidak seperti dulu, banyak penumpang dan pesanan. Sekarang? Kusir cidomo yang ada harus bertahan di tengah semakin   banyaknya pengguna  sepeda motor dan transportasi modern (online). Cukup menggerakkan jari di smartphone di dalam kamar, transportasi online yang dibutuhkan sudah ada di depan rumah.

MELEWATI jalur-jalur yang banyak operasional cidomo, seperti pada pagi hari hingga siang Pasar Kebon Roek, Ampenan, Pasar Sindu Cakranegara dan tempat lainnya cukup menjengkelkan. Apalagi kita dihadapkan dengan keterbatasan waktu menyelesaikan pekerjaan atau menghadiri acara, kendaraan yang kita tumpangi tidak bergerak, karena banyaknya cidomo parkir di pinggir jalan. Bahkan, hingga parkir di sebagian badan  jalan.

Jika kita melihat sebagian besar kusir cidomo membawa penumpang tidak penuh. Hanya sebagian kecil dari cidomo tersebut yang penuh dengan penumpang. Masyarakat sekarang ini membutuhkan transportasi yang cepat dan efisien, sehingga bisa cepat sampai tujuan. Penggunaan cidomo sebagai alat transportasi, jika di wilayah itu tidak ada angkutan lain dan jaraknya tidak terlalu jauh.

Tidak heran, banyak cidomo yang hanya membawa 2 atau tiga penumpang dengan barang belanjaannya. Malahan ada satu cidomo yang hanya membawa 1 penumpang, tapi penuh dengan barang belanjaan  di pasar, seperti sayur atau makanan ringan lainnya. Penumpang cukup hanya membayar Rp20 ribu atau lebih tergantung jarak rumah dan pasar.

Tidak hanya itu, cidomo juga sering dijadikan sebagai alat angkut bahan bangunan, seperti semen, kalsiboard, triplek, seng hingga kayu. Jika banyak jenis material yang diangkut, maka biaya yang dikeluarkan cukup besar. Sebaliknya, jika hanya mengangkut 2 atau 3 jenis material seperti semen 2 sak, lemari plastik dan beberapa kayu ukuran 4 meter, cukup hanya membayar Rp20 ribu hingga Rp25.000 (tergantung penawaran) untuk 4-6 kilometer.

Zul, salah satu kusir cidomo di Kebon Roek, menuturkan, jika masyarakat mulai jarang menggunakan cidomo sebagai pilihan transportasi. “Memang udah agak kurang (pengguna cidomo), kan banyak yang punya motor sendiri masalahnya. Bukan karena ojek online, itu kan karena sudah punya sendiri saja kendaraan kan. Belum lahir saja udah dibeliin kendaraan,” ujarnya, Sabtu 30 Maret 2024.

Zul mengaku perasaannya biasa saja, walaupun pengguna cidomo semakin kurang, ia mengerti hal itu disebabkan masyarakat sekarang lebih banyak bepergian menggunakan transportasi pribadi atau jenis transportasi yang lain.

Berbeda dengan Zul, Fery mengaku pengguna cidomo masih banyak walaupun memang telah dikalahkan oleh berbagai macam ojek online atau kendaraan pribadi. “Masih (banyak pengguna, red),”  klaimnya.

Sebagai kusir cidomo selama 20 tahun, Fery mengharapkan kepada pemerintah agar memberikan perhatian pada kusir cidomo. Setidaknya, mereka diberikan alternatif pekerjaan yang sesuai dengan keahlian dan pendidikan.

Fery mengaku ingin beralih profesi, namun tidak ada pekerjaan yang bisa ia lanjutkan selain menjadi kusir cidomo “Mau cari kerjaan yang lain, tapi belum ada ini,” ungkapnya.

Arif menambahkan, dirinya memiliki keinginan dan perasaan yang sama. Ketika pekerjaan sebagai kusir cidomo semakin sulit, namun mereka tidak memiliki pilihan profesi lain yang bisa dilakukan. “Sama kaya dia (Fery) juga,” ujar Arif sambil duduk di atas cidomonya.

Sebagai kusir cidomo mereka mengharapkan pemerintah bisa memberikan kebijakan bagi para kusir cidomo, agar jumlah pengangguran di daerah ini tidak bertambah. Jika eksistensi cidomo semakin hari semakin terancam punah, maka pemerintah harus bisa mengatasi angka pengangguran, sebagai dampak eksistensi cidomo yang makin terkikis, karena kemajuan zaman sekarang ini.  (glo)

Ikhtiar dan Strategi Dispar Kota Mataram Jaga Kearifan Lokal Cidomo

0
Cahya Samudra (Ekbis NTB/era)

DALAM upaya memelihara cidomo yang mana menjadi salah satu kearifan lokal yang mulai tergerus keberadaannya, Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Mataram melakukan strategi-strategi untuk menjadikan peninggalan sejarah yang mulai ditinggalkan tersebut tetap eksis meski terjadi perubahan zaman.

Kepala Dispar Kota Mataram, Cahya Samudra, menjelaskan, dalam menjaga keberadaan cidomo, pihaknya akan melakukan strategi seperti yang sudah dilakukan di Malioboro Yogyakarta. Dalam hal ini, pemerintah daerah akan menyediakan spot-spot khusus untuk para kusir cidomo.

“Kita bisa mencontoh seperti di Yogyakarta, di Malioboro ada tempat-tempat yang memang khusus disediakan untuk cidomo-cidomo kita, mungkin tidak banyak tapi dalam rangka melestarikan, kita butuh tempat, butuh wadah atau frame, sehingga cidomo-cidomo ini bisa ditempatkan di sana,” ungkapnya, Kamis, 28 Maret 2024.

Sebagai salah satu warisan budaya yang masih ada hingga kini, Cahya mengatakan pihaknya akan terus mencoba menjaga dan melestarikan cidomo ini, ia juga mengaku satu langkah strategisnya dalam melestarikan cidomo ialah dengan cara melakukan festival cidomo yang disasarkan di beberapa spot lokasi wisata yang ada di Kota Mataram, seperti Pantai Ampenan dan Loang Baloq.

“Saat ini, kalau rencana ada karena kita punya spot dari Pantai Ampenan, ke Loang Baloq, nanti kita harus susun seperti apa konsepnya supaya tidak mentah juga,” lanjutnya.

Selain dari mengadakan suatu festival cidomo, Cahya juga mengatakan sebagai salah satu transportasi yang masih ada, meski keberadaannya tidak sebanyak dengan kendaraan modern lainnya. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan agar bisa membantu melestarikan para kusir cidomo ini dengan membuat ruas jalan khusus cidomo.

“Itu dia, makanya kita lihat fungsi, sasaran, dan lokasinya karena melihat cidomo ini sebagai angkutan umum, nanti kita koordinasikan dengan Dinas Perhubungan juga,” katanya.

Mengenai alasan mengapa cidomo semakin tahun makin tergerus keberadaannya, Cahya menjelaskan bahwa hal ini karena adanya peraturan lalu lintas yang melarang kendaraan seperti cidomo, andong, dan dokar untuk tidak melewati beberapa ruas jalan. “Ya karena aturan-aturan juga tentang perlalu lintasan juga memiliki aturan-aturan tersendiri, ada ruas-ruas jalan yang memang cidomo tidak diperkenankan untuk lewat,” jelasnya. (era)

Dishub Kota Mataram Tata Angkutan Cidomo

0
PEMBINAAN - Tim Dishub Kota Mataram saat melakukan pembinaan dan sosialisasi pada kusir cidomo. (Ekbis NTB/ist)

PEMERINTAH Kota Mataram melalui Dinas Perhubungan (Dishub) terus melakukan penataan dan pembinaan angkutan tradisional cidomo. Penataan dan pembinaan yang dilakukan tanpa mengurangi dampak sosial dan ekonomi pada kusir cidomo itu sendiri. Sementara di satu sisi, harus diakui, perkembangan zaman sekarang ini berpengaruh terhadap eksistensi dan minat masyarakat menggunakan cidomo.

Kepala Dishub Kota Mataram Zulkarwin, SSTP, MM, MGPP., didampingi Kepala Bidang Angkutan, Agus Sunandar, S.Si.T., mengakui, jika cidomo sebagai angkutan tradisional  mau tidak mau suatu saat akan kalah dengan perkembangan zaman. Apalagi Pemkot Mataram sedang dalam tahap proses perencanaan rute angkutan umum.

‘’Jadi memang ke depan kita sudah pikirkan terkait cidomo ini. Tahap awal yang bisa kita rencanakan itu adalah rute-rute yang boleh dilewati oleh cidomo ini. Jadi kalau sementara rute masih abu-abu rute cidomo ini boleh masuk ruas jalan mana saja. Ke depan kita akan tetapkan rute-rute yang boleh dilewati cidomo ini, karena memang secara langsung dari sisi lalu lintas cukup mengganggu,’’ ujarnya pada Ekbis NTB, Minggu 31 Maret 2024.

Dalam menentukan rute ini, Dishub Kota Mataram juga berkoordinasi dengan stakeholder lain. Setelah itu baru ada sosialisasi dan pembinaan pada kusir cidomo ini dengan tetap mempertimbangkan dampak ekonomi, sosial pada kusir cidomo ini.

Setelah ditetapkan rute, ujarnya, baru diatur terkait pengendalian keamanan dan keselamatan dari cidomo. Dicontohkannya, seperti kota-kota besar di Indonesia, angkutan tradisional semacam cidomo dilengkapi bel dan juga kantong penampung kotoran.

‘’Bel itu fungsinya memberikan tanda bahwa ada cidomo bagi pengguna jalan. Ke depan cidomo ini harus dilengkapi bel sebagai alat keselamatan,’’ tambahnya.

Untuk cidomo sebagai kendaraan wisata, diakuinya, sedang dalam tahap perencanaan. Sekarang ini, pihaknya sedang mencari rute mana yang terhubung. ‘’Misalnya dari Pantai Gading, Pantai Loang Baloq sampai kawasan Pantai Ampenan bisa dijadikan rute untuk cidomo sebagai alat tradisional penghubung di kawasan wisata. Cuma hal ini harus dikomunikasikan lagi dengan dinas terkait prosesnya, seperti apa dan kerjasamanya seperti apa dengan pihak-pihak terkait lainnya,’’ terangnya.

PEMBINAAN – Tim Dishub Kota Mataram saat melakukan pembinaan dan sosialisasi pada kusir cidomo. (Ekbis NTB/ist)

Meski demikian, ungkapnya, kondisi cidomo yang ada sekarang ini dianggap belum bisa diberdayakan sebagai alat tradisional untuk kawasan wisata. Menurutnya, cidomo yang layak dijadikan angkutan wisata harus dirias agar menarik serta dilengkapi fasilitas keselamatan lainnya, sehingga pengunjung wisata nyaman dalam menggunakan cidomo

Terkait pembinaan pada kusir cidomo, Agus mengakui, pihaknya mengalami kesulitan. Selama ini, pihaknya mengaku kesulitan mengumpulkan kusir cidomo, karena kusir cidomo lebih konsentrasi dalam mencari nafkah. Namun, saat turun lapangan, pihaknya, tetap melakukan pembinaan dan melakukan sosialisasi kepada kusir cidomo di beberapa tempat, seperti di Pasar Kebon Roek, Sindu, Cemara dan juga Pasar Karang Jasi.

‘’Kita kasih tahu, kalau melewati jalan yang tidak dibolehkan, harus taati aturan, kurangi kecepatan cidomo, karena tidak memiliki rem. Begitu juga dengan kantong-kotoran kuda yang sudah jelek diganti. Kalau belum dapat dari pemerintah diharapkan pengadaan secara mandiri. Diupayakan kantong kotoran kuda yang sudah penuh diharapkan tidak jatuh di jalan. Itu imbauan-imbauan dalam seminggu, hampir dua kali kita lakukan ke pasar-pasar di Kota Mataram,’’ tambahnya.

Terkait jumlah cidomo yang beroperasi di Kota Mataram, diakuinya, ada kurang lebih 300 cidomo  di wilayah Kota Mataram. Cidomo ini berasal dari Kota Mataram maupun berasal dari Lombok Barat. Dicontohkan, di Pasar Kebon Roek banyak cidomo dari Lombok Barat yang beroperasi, begitu juga di Pasar Sindu, sebagian besar cidomo yang beroperasi berasal  Lombok Barat dan juga dari Kota Mataram. (ham)

Dorong Jadi Alat Angkutan Wisata

0
Abd Rachman (Ekbis NTB/ist)

SALAH satu angkutan tradisional masyarakat Lombok yakni cidomo. Angkutan menggunakan tenaga kuda ini bisa menjadi daya tarik wisata yang unik bagi wisatawan yang datang ke Lombok.

Banyak wisatawan luar negeri yang berkunjung ke Lombok ingin merasakan sensasi naik cidomo untuk menjelajahi tempat-tempat wisata di sekitar Lombok, seperti Pantai Senggigi,  Batu Bolong dan sekitarnya.

Akan tetapi, di Kota Mataram, cidomo kini hanya dapat dijumpai di beberapa titik, khususnya di pasar tradisional saja. Penumpangnya adalah pedagang yang membawa barang jualannya atau ibu-ibu yang membawa belanjaan.

Terkait dengan itu, Wakil Ketua DPRD Kota Mataram Abd Rachman mengatakan dari awal memang sudah ada wacana untuk mentransformasikan cidomo sebagai alat angkut wisatawan. Artinya cidomo tak hanya menjadi alat angkutan orang dan barang, tapi sudah merambah ke hal yang lebih luas lagi sesuai dengan permintaan masyarakat.

“Seperti di Yogya, bahkan Bali. Tetapi hal ini belum bisa berjalan karena konsep transformasi tersebut belum ditemukan dari dinas terkait,” kata Abd Rahman akhir pekan kemarin.

Ia juga mengatakan, cidomo kini semakin terpinggirkan karena banyaknya alat transportasi modern. Namun demikian, alat transportasi tradisional ini belum punah, sehingga harus dilestarikan keberadaannya sebagai sebuah daya tarik wisata, karena nilai historisnya yang besar.

“Tanpa disadari, cidomo ini sudah tergerus. Akan tetapi di sanalah peran pemerintah selaku pelayan masyarakat, bagaimana merencanakan agar cidomo tidak hilang tetapi bisa dipergunakan lebih inovatif,” harapnya.

Ia menambahkan, kalau permasalahan kotoran kuda yang mengganggu faktor tergerusnya cidomo, masih bisa diatur dengan adanya regulasi dan perangkat.

Ia mendorong agar pelaku wisata di Kota Mataram agar membuat paket city tour, dimana wisatawan dapat mengelilingi Kota Mataram dengan cidomo yang ada, selain menggunakan bus.

“Wisatawan juga bisa menggunakan cidomo keliling di sekitar Mataram. Contohnya Mayura, atau saat malam hari mengelilingi seputaran Udayana dengan diberikan hiasan lampu,” jelasnya.

Ia berharap agar cidomo tetap ada dan terjaga kelestariannya, sehingga bisa menjadikan ciri khas dan warisan alat transportasi dari Lombok. (ris)

Ketika Ritual Maleman ‘’Dile Jojor’’ di Lotim Tergeser Penerangan Modern

0
SUASANA - Suasana malam bulan suci Ramadhan di beberapa tempat di Lotim dihiasi lampu warna warni. (Ekbis NTB/rus)

Selong (Ekbis NTB) – Dalam setiap momentum bulan suci Ramadhan, masyarakat Sasak di Lombok Timur (Lotim) selalu meriah dalam memperingati Nuzulul Qur’an. Salah satu tradisi yang selalu dilakukan adalah ritual Maleman, yang menjadi simbol turunnya Al Qur’an pertama kali kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, perayaan tahun ini menyiratkan perubahan signifikan dalam ritual tersebut.

Menurut penuturan budayawan lokal, Muhir, ritual Maleman biasanya diwarnai dengan penggunaan dile jojor. Yakni sebuah alat penerangan tradisional yang terbuat dari buah jarak dan dinyalakan dengan cara dibakar pada malam-malam ganjil, seperti malam ke-21, 23, 25, dan 27 bulan Ramadhan. Namun, dalam era modern ini, tradisi tersebut mengalami pergeseran. Dile jojor yang dulunya menjadi simbol penerangan, kini digantikan oleh lampu hias yang dipasang di setiap sudut jalan.

Makna filosofi dari menyalakan dile jojor itu sebagai penerangan, seperti makna Al-Qur’an yang diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Menurut Muhir, ritual menyalakan lampu atau dile Jojor itu penting dalam konteks kehidupan masyarakat Sasak.

Meski terjadi perubahan dalam bentuk penerangan yang digunakan, namun esensi dari ritual Maleman tetap terjaga. Masyarakat Lotim masih dengan penuh semangat memperingati Nuzulul Qur’an, meskipun kini menggunakan lampu hias atau lampu minyak dari botol bekas sebagai pengganti dile jojor.

Ritual ini tidak hanya sekedar tradisi keagamaan, tetapi juga mencerminkan prinsip hidup masyarakat Sasak yang dikenal dengan panca arif, yang meliputi hubungan manusia dengan manusia, alam, semesta, dan Tuhan. Meskipun dalam bentuk yang berbeda, prinsip-prinsip tersebut tetap dijunjung tinggi dalam perayaan ini.

Dalam kesempatan ini, kepala desa setempat, Jamaluddin, menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an tidak memerlukan anggaran khusus dari pemerintah desa atau kabupaten, karena dilaksanakan secara mandiri dan swadaya oleh masyarakat. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya rasa kebersamaan dan kecintaan masyarakat Lotim terhadap tradisi dan agama mereka.

Meski telah terjadi perubahan dalam ritual Maleman, namun semangat untuk memperingati turunnya Al Qur’an dan menyambut bulan suci Ramadhan tetap menggelora di kalangan masyarakat Sasak. Tradisi ini menjadi bukti kekayaan budaya dan kearifan lokal yang tetap dijaga dan dilestarikan dalam menghadapi perkembangan zaman. (rus)