Saturday, April 4, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 775

Penumpang Kapal Lintas Lembar-Padangbai Turun Signifikan

0
Foto : Firman Dandy (Ekbis NTB/bul)

Giri Menang (Ekbis NTB) – Penumpang kapal lintas pendek dari Pelabuhan Lembar-Padangbai (sebaliknya) di masa arus mudik lebaran 2024 dan arus balik mengalami penurunan cukup signifikan, jika dibandingkan pada 2023. Penurunan penumpang di lintas ini setelah adanya penyeberangan langsung dari Lembar ke Jawa.

Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (Gapasdap) Cabang Lembar Firman Dandy di kantornya, Rabu 17 April 2024 menerangkan, pada mudik tahun 2024 ini, dari data yang dicek dengan Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) di lintas Lembar-Padangbai terjadi penurunan cukup signifikan dibandingkan tahun 2023.

Untuk jumlah penumpang per hari H+ 4 (empat hari setelah lebaran) turun 45 persen dibanding periode yang sama tahun 2023. Penumpang sepeda motor penurunannya 63 persen, mobil golongan 4 sampai 52 persen dan truk 58 persen.

“Sehingga pada lebaran tahun ini ada beberapa hal yang kami lihat, kami pantau. salah satu penyebabnya adalah bertambahnya armada kapal yang masuk dari Pelabuhan Gili Mas menuju Ketapang Banyuwangi,” ujarnya.

Jika dilihat masyarakat di Lombok ini mayoritas merupakan pendatang, dan kebanyakan pendatang dari Banyuwangi, Jember, serta beberapa wilayah di pulau Jawa. Sehingga banyak dari mereka memilih direct langsung menuju ke pelabuhan besar yang ada di Pulau Jawa saat mudik lebaran.

“Kalau kita lihat dari Pelabuhan Lombok, unik sekali, merupakan Pelabuhan dengan banyak destinasi dari dan ke Jawa. Yaitu pelabuhan di Surabaya, Pelabuhan Jangkar-Sidoarjo, dan Ketapang Banyuwangi,” tambahnya.

Lebih lanjut dikemukakan, tiga pelabuhan ini semuanya menuju ke Pelabuhan Lembar, baik Pelabuhan ASDP maupun pelabuhan milik PT Pelindo atau dermaga umum. Sehingga, rute lintas panjang ke Jawa ditambah kapalnya, rute pendek Lembar Padang Bai menjadi berkurang keterisian kapalnya.

“Keterisian kapal menuju Padang Bai atau sebaliknya menjadi berkurang, tapi terjadi kenaikan keterisian kapal di lintasan Gili Mas-Ketapang maupun Lembar-Surabaya,” jelas Firman.

Jika dilihat, jumlah kendaraan yang mengisi kapal lintas panjang Gili Mas-Ketapang atau Lembar-Surabaya terjadi peningkatan sekitar 43 persen. Penurunan yang terjadi di Lembar-Padangbai ini beralih naik melalui Pelabuhan Gili Mas maupun Pelabuhan Kedaro yang menuju Surabaya atau Ketapang.

“Jika tahun sebelumnya tidak banyak melalui Gili Mas, sekarang penumpang sudah bergeser dari Gili Mas ke Ketapang, atau Gili Mas-Surabaya, atau Pelabuhan Kedaro Lembar sampai dengan ke Surabaya. Terpecah kesana dari yang selama ini melalui Lembar-Padangbai atau sebaliknya,” tuturnya.

Firman menambahkan, terdapat beberapa kapal yang melayani penyeberangan dari Pelabuhan Gili Mas Lembar. Yaitu, dua kapal milik PT dharma Lautan Utama, dan tiga kapal milik ALP. Sementara itu, dari pelabuhan umum di Kedaro Lembar-Surabaya, dilayani oleh ada 3 kapal. Diantaranya kapal milik PT. Dharma Lautan Utama Km Kirana VII dan dua kapal milik PT LDN.

“Direct langsung ke Jawa itu ada delapan kapal, sehingga ukup mengurangi konsentrasi pemudik yang melalui Lembar-Padang Bai,” bebernya.

Kemudian ditambah lagi dari Pelabuhan Jangkar-Situbondo dilayani lima kapal. Hal ini juga yang menurutnya cukup signifikan mengurangi pemudik yang melintas dari Bali.(bul)

NTB Layak Punya Pelabuhan Ekspor

0
Foto : Agus Mugiyanto, S.P., Kepala Karantina NTB (Ekbis NTB/bul)

Giri Menang (Ekbis NTB) – Provinsi NTB dinilai sangat layak memiliki pelabuhan khusus ekspor. Mengingat besarnya potensi komoditas ekspor non tambang daerah ini, dan letaknya yang strategis untuk mengakomodir wilayah Indonesia Timur.

Pandangan ini disampaikan Agus Mugiyanto, S.P., Kepala Karantina NTB dalam diskusi terkait potensi ekspor dengan media, dan jajarannya, di kantornya di Lembar, Lombok Barat, Rabu 17 April 2024. Menurutnya, ada sejumlah komoditas ekspor yang dapat terus ditingkatkan di Provinsi NTB.

Diantaranya, komoditas kelautan perikanan seperti, mutiara, tuna, rumput laut, lobster, abalone, rajungan, gurita, udang vaname, lobster, dan lainnya.Kemudian komoditas pertanian perkebunan, ada kopi, vanili, tembakau, manggis, rambutan, melon, jagung, mete, nanas, cabai, dan lainnya. Begitu juga hasil-hasil kerajinan seperti ketak dan sejenisnya.

Komoditas – komoditas unggulan non tambang ini, selama ini hanya dikirim melalui daerah lain. Oleh pengusahanya, hanya dijual antar daerah. padahal, komoditas tersebut adalah komoditas yang dicari di pasar global. Komoditas yang ada di NTB, lanjutnya, memiliki peluang pasar di berbagai negara belahan dunia.

“Hanya saja, selama ini dijual dan dikirim lewat Jakarta, Surabaya, dan daerah lainnya,” katanya.

Jika dibilang NTB tidak dapat melakukan ekspor langsung, buktinya, manggis bisa dikirim langsung ke luar negeri. Dengan adanya penerbangan langsung ke luar negeri (pesawat udara). Manggis NTB dikirimnya ke China. Meskipun kadang-kadang untuk memenuhi kuota ekspor, harus mendatangkan lagi manggis daerah luar daerah.

“Tapi artinya, kita bisa ekspor langsung sebenarnya. Kita bisa terus mendorong peningkatan ekspor komoditas non tambang kita,” tambahnya.

Kendala tidak dilakukannya ekspor langsung dari Provinsi NTB, lanjut Agus, karena tidak tersedianya fasilitas infrastruktur seperti pelabuhan ekspor. Seharusnya, menurutnya, NTB harus mendorong pemerintah terkait untuk dibangun pelabuhana yang memenuhi standar ekspor.

“Supaya kapal-kapal ekspor bisa masuk kesini. Minimal sekali sebulanlah, kapal ekspor berangkat dari NTB. Harus terus diperjuangkan itu. Kalau begini terus, kapan majunya ekspor kita,” katanya.

Agus menambahkan, upaya-upaya untuk mendorong pelaku usaha melakukan ekspor langsung sudah dilakukan, dan terus akan dilakukan. Balai Karantina NTB sendiri berupaya terus membantu pelaku usaha mendapatkan sertifikat ekspor dengan mudah, dan ditargetkan zero Notifikasi Non Complain (NNC) atau penolakan di luar negeri.

Balai Karantina NTB juga mendorong pelaku usaha untuk mengurus syarat-syarat ekspornya tanpa melalui perantara (calo). Sehingga tidak menganggap syarat ekspor itu sulit, dan mahal.

“Di daerah ini saya tidak menemukan adanya calo yang menyediakan jasa mengurus izin-izin ekspor. Kalau di daerah lain ada kasus-kasus seperti itu. Sehingga biaya ekspor oleh pelaku usaha dianggap mahal. Kita sangat terbuka untuk itu, kita dorong pelaku usaha mengurus sendiri izin ekspornya. Karena biayanya juga sangat murah dan langsung dikirim ke kas negara, tidak boleh ada transaksi langsung,” imbuhnya.

Selain itu, kata Agus, pihaknya juga tetap melakukan koordinasi dengan para stakeholder terkait di daerah ini. Seperti Bank Indonesia, Dinas Perdagangan, dan lainnya. Ia juga berharap, kemandirian ekspor pengusaha-pengusaha lokal terus meningkat. Sehingga tidak lagi menjual komoditasnya setengah jadi/gelondongan antar daerah. sebab, ada keuntungan ikutan lainnya yang bisa didapatkan jika diekspor langsung dari NTB.(bul)

Mengais Rezeki dari Hempasan Ombak Pantai Telindung

0
BATU APUNG - Memungut Batu Apung dan memecahkannya di pantai Telindung Desa Anggaraksa Kecamatan Pringgabaya Lotim. (Ekbis NTB/rus)

Hempasan ombak pantai Telindung Desa Anggaraksa Kecamatan Pringgabaya Kabupaten Lombok Timur (Lotim) menjadi sumber rezeki bagi warga setempat. Sudah bertahun tahun warga sekitar pantai Telindung ini mengais rezeki dengan memungut batu apung yang turut terhempas ombak di pantai.

 BATU-BATU apung warna putih itu banyak bermunculan dari aliran sungai Kokoq Keru dan tebing-tebing yang ada di sepanjang bibir pantai. Tebing-tebing yang dihantam gelombang ini tidak langsung menenggelamkan batuan. Mungkin karena ringan, batu apung ini turut tergiring terbawa arus gelombang ke daratan pantai kembali.

Inaq Santi, salah satu pemungut dan pemecah batu mengaku ada waktu-waktu tertentu batu apung ini banyak bermunculan setiap harinya. Karena waktunya yang berbeda beda sehingga sengaja ditunggu oleh warga.

Warga bahkan sengaja menginap di pinggir pantai karena diketahui malam hari biasanya banyak yang keluar. Batu apung dimaksud berwarna putih. Bukan batu berwarna hitam. Karena yang warna putih inilah katanya yang diburu oleh pembeli.

Terlihat di pinggir pantai Telindung ini, puluhan warga yang melakukan aktivitas serupa. Saat menunggu, warga memecah batu-batuan yang sudah terkumpul. Lokasi tempat mereka menaruh batu pun ternyata harus disewa kepada pemilik lahan. Ada yang menyewa Rp 500.000  Rp-1 juta per tahun. Penyewaan ini beralasan karena lokasi yang ditempati merupakan kebun milik warga.

Ditanya soal jumlah batu yang dipungut, katanya untung-untungan. Jika beruntung bisa 10 karung per hari. Bahkan bisa lebih banyak dari itu. Batu yang kecil langsung bisa dimasukkan ke dalam karung. Sementara yang ukuran besar, harus dipecahkan terlebih dulu. “Kita bisa dapat 10 sampai 25 karung per hari,” imbuhnya.

Menjadi pemungut dan pemecah batu katanya sudah cukup lama dilakoni Inaq Santi. Batu apung yang dikumpulkan ini sudah jelas pembelinya. Diakui, ada praktik ijon yang membuat para pengais rezeki di pinggir pantai ini tetap bertahan. “Kita sudah ambil uang duluan ke pembeli,” tuturnya.

Adapun harga batu apung saat ini dijual seharga Rp 4 ribu per karung. Harga ini dinilai memang jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga jual yang dilakukan para pengepul yang diketahui bisa tembus Rp 15 ribu per karung.

Warga ini berharap ada bantuan dari pemerintah untuk bantu perekonomian mereka. Pasalnya, mengandalkan upah penjualan batu apung tidak pernah bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari yang terus terasa makin sulit. (rus)

Kadispar NTB Memproyeksikan 500.000 Warga akan Merayakan Lebaran Topat 2024

0
Suasana perayaan lebaran topat di pantai loang balok (Ekbis NTB-Ist)

Mataram (Ekbis NTB) – Lebaran topat menjadi salah satu tradisi masyarakat Lombok yang masih eksis hingga saat ini. Perayaan Lebaran Topat yang diadakan seminggu setelah Idul Fitri ini dirayakan dengan meriah khususnya di Lombok Barat dan kota Mataram.

Di tahun 2024 ini, perayaan Lebaran Topat diadakan pada tanggal 8 Syawal 1445 Hijriah atau bertetapan dengan hari Rabu, 17 Januari 2024. Di Kota Mataram sendiri, Lebaran Topat dipusatkan di Pantai Loang Baloq, sedangkan di Lombok Barat dipusatkan di Pantai Tanjung Bias.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Jamalludin Maladi memperkirakan antusias masyarakat merayakan lebaran topat sangat tinggi.

“Tahun ini saya lihat agak ramai ya, beda dengan tahun 2023,” ucap Jamal.
Ia berharap bahwa perayaan lebaran topat tahun ini ramai dikunjungi wisatawan, khususnya masyarakat NTB yang sudah kembali setelah mudik lebaran.

Jamal menargetkan, wisatawan yang datang menghadiri perayaan tradisi yang hanya ditemukan di Lombok ini sebanyak 500.000 wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan asing.

Sebelumnya, Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana menghimbau bahwa masyarakat untuk tidak terlalu berlebihan dan merayakan lebaran topat dengan tetap bertanggung jawab baik pada diri sendiri, dan orang sekitar.
Pemkota Mataram sendiri telah menyiapkan semaksimal mungkin terkait dengan apabila terjadi kendala-kendala pada saat proses perayaan berlangsung.

“Protokolnya udah ada dari awal, ada setiap Lebaran Topat pasti itu, untuk prngamanan, BPBD, satgas, tim kepolisian, semua lah,” katanya pada Selasa 16 April 2024.

Pengamanan 9,1 Km garis pantai di Kota Mataram juga menurutnya tetap dalam pantauan, namun di fokuskan di wilayah-wilayah yang diperkirakan akan ramai dikunjungi pengunjung.(era)

Pedagang Ayam Potong Raup Untung Besar Selama Lebaran

0
Salah satu Pedagang Ayam yang Sedang Melayani Pelanggan di Pasar Kebon Roek pada Selasa, 16 April 2024. (Ekbis NTB/Glo)

Mataram (Ekbis NTB) – Pedagang Ayam raih untung besar selama momen lebaran. Pasalnya, ayam menjadi salah satu bahan dasar untuk membuat opor, salah satu makanan khas lebaran. Perpaduan opor dan ketupat dibalut dengan situasi hari raya bersama orang-orang tersayang menjadi momen yang paling dinantikan.

Walaupun harga ayam masih tergolong tinggi, namun pedagang ayam tetap berhasil menjual ayam dengan jumlah yang banyak selama lebaran. Hari ini ayam potong dibanderol dengan harga Rp 42.000 per kilogram. Hal ini diakui oleh salah satu penjual ayam potong di Pasar Kebon Roek, Ehsan atau lebih akrab dipanggil Ecan. Ia mengaku bahwa waktu Lebaran Idul Fitri, ia bahkan sampai membawa 400 kg daging ayam untuk dijual. “Dulu yang lebaran besar, lebaran puasa 400 kg. Insyallah habis,” katanya pada Suara NTB Selasa, 16 April 2024.

Ia juga telah memulai jualan usai selesai sholat subuh. Hari ini, ia membawa 300 kg ayam potong untuk dijual, mengingat hari ini menjadi hari persiapan lebaran topat. “Hari ini 300 kilo. Insyallah habis,” jelasnya. Ia juga menceritakan bahwa sejak tadi, Pasar Kebon Roek dibanjiri oleh masyarakat yang sibuk mencari bahan-bahan untuk diolah besok saat lebaran topat.

Ia juga mengaku menambah jumlah ayam saat momen lebaran, biasanya ia membawa 100 kg ayam potong perhari untuk dijual, namun saat lebaran ia membawa 300 – 400 kg ayam potong. “Iya, ramai,” ungkapnya. Ia juga akan berjualan hingga maghrib untuk menjual barang dagangannya hingga habis.

Siang itu, dagangan Ecan banyak didatangi oleh pengunjung yang melakukan penawaran dan menanyakan harga ayam potong. Walaupun mengetahui harga ayam yang masih relatif mahal, pembeli masih tetap membeli ayam.

Sisil, salah satu pembeli ayam di Ecan menjelaskan alasannya tetap membeli ayam. “Karena besok hari raya, antisipasi aja kalau gak ada yang buka. Daripada gak ada lauk,” ucapnya sambil menenteng plastik berisi ayam yang telah dipotong dan ditimbang Ecan. (glo)

Jelang Lebaran Topat, Penjual Kulit Ketupat Menjamur

0
Deretan Lapak Pedagang Ketupat Kosongan di depan jalan Pasar Kebon Roek pada Selasa, 16 April 2024. (Ekbis NTB/Glo)

Mataram (Ekbis NTB) – Jelang Lebaran Topat, sepekan pasca hari raya Idul Fitri, pedagang ketupat dan kulit ketupat dadakan membanjiri sudut-sudut Kota Mataram. Salah satunya, di Pasar Kebon Roek, Ampenan, Kota Mataram. Lebaran topat memang menjadi salah satu budaya yang ada di Lombok.

Khususnya, di Lombok Barat, dan Kota Mataram yang intens melakukan perayaan besar-besaran. Masyarakat akan memakan ketupat dengan lauk lain seperti opor ayam dan rendang bersama keluarga dan kerabat. Oleh karena itu, bagi masyarakat yang tidak bisa mengayam atau tidak memiliki waktu luang, membeli ketupat jadi bisa menjadi solusi agar tetap bisa merayakan lebaran topat.

Yuli, salah satu pedagang kulit ketupat di sekitar pasar pencontohan ini ditemui di sela-sela berjualan, Selasa 16 April 2024 mengaku telah menjual ketupat sejak momen Hari Raya Idul Fitri. Momen ini dimanfaatkan untuk mencari penghasilan tambahan. Ia membawa sekitar 500-1000 biji ketupat setiap hari untuk dijual.

Ia mulai berjualan sejak usai sholat subuh hingga selesai ashar tergantung lakunya dagangan. Jika belum habis, maka ia akan terus berjualan.

“Tergantung, biasanya beribu-ribuan, beratus-ratusan. Kadang 500, kadang 1000,” ujarnya.

Ia bahkan bercerita sampai harus begadang untuk membuat ketupat.
“Sampai tidak tidur semalam ini,” sambungnya.

Ia juga menceritakan alasannya menjual ketupat kosongan. “Kan momen lebaran, biasanya orang suka makan ketupat,” pungkasnya.

Marni, pedagang ketupat lainnya di Pasar Dasan Agung juga mengemukakan, ia memanfaatkan momen lebaran ketupat untuk menambah penghasilan. Sehari-hari ia adalah buruh junjung, namun karena momen lebaran topat, ia pun melihat peluang dan mencoba menjual ketupat.

“Saya jualan (ketupat) untuk hari ini aja karena penampahan lebaran ketupat,” terangnya.

Kulit ketupat yang dijual Rp1000 per biji. Sementara harga ketupat (berisi) dihargai Rp3.000 per biji. Ia juga menceritakan, kulit ketupat sangat banyak dicari, bahkan tak sampai setengah hari sudah habis diburu pembeli sejak pagi.

Selain itu, harga kulit ketupat juga naik karena banyaknya permintaan. Yang semula Rp 5000 untuk 10 biji, naik menjadi Rp 8.000.

“Ininya (kulit ketupat) kemarin kita beli Rp5 ribu seiket, tadi pagi sudah harganya Rp8 ribu. Sepuluh biji kita dapet,” demikian Marni.

Kendati harganya naik, tidak mengurangi minat masyarakat membelinya. Mengingat, perayaan lebaran ketupat hanya dilakukan setahun sekali.(glo)

Ketegangan Global Mempengaruhi Pasar Vanili di Luar Negeri

0
Foto : sortir vanili kering untuk persiapan ekspor. (Ekbis NTB/bul)

Mataram (Ekbis NTB) – Ketegangan yang terjadi dibeberapa belahan dunia mempengaruhi daya beli pasar global terhadap komoditas pertanian perkebunan, vanili. Apalagi jika ketegangan antara Iran – Israel maluas dengan didukung negara-negara sekutu.

H. Muhir, pemilik UD. Rempah Organik Lombok, sekaligus eksportir vanili organik Lombok menkhawatirkan hal itu. Menurutnya, dalam setahun terakhir setelah meledaknya perang Rusia dan Ukraina, mengakibatkan tekanan terhadap daya beli pasar global.

Vanili organik Lombok selama ini diekspor ke Amerika Serikat, karena perang yang terjadi, daya beli buyer di AS dan negara-negara eropa terhadap vanili juga menurun.

“Kita sangat khawatir, sangat mengkhawatirkan kalau perang Iran-Israel makin meluas. Ekspor ke Amerika dan negara-negara eropa akan sangat berpengaruh. Besar sekali pengaruhnya,” kata Muhir, Selasa 16 April 2024.

Menurunnya daya beli terhadap vanili dalam satu tahun terakhir ini terjadi dihampir semua negara importir vanili. Begitu juga di Indonesia. Akibatnya, sejumlah daerah penghasil vanili di dalam negeri juga ikut terpengaruh.

Bahkan, menurut Muhir, vanili organik Lombok bisa jadi-satu-satunya yang masih eksis. Di daerah lainnya, seperti Sulawesi, Bali, Jawa , tidak ada penyelamatan terhadap pengembangan vanili.

“Hanya kita satu-satu di Indonesia yang masih bisa bergerak. Permintan luar negeri tetap ada, dan barangnya tetap ada,” jelas Muhir.

Bulan April ini rencananya akan dikirim sebanyak 600 Kg vanili organik kering, ke buyer di Amerika Serikat. Menyusul dua bulan berikutnya dijadwalkan ekspor sebanyak 3 ton, dan selanjutnya 4 ton. Pada tahun 2023 lalu, total sebanyak 7 ton diekspor ke Amerika Serikat.

Muhir menambahkan, vanili organik Lombok diberi kesitimewaan oleh buyer. Hal itu karena kualitasnya. Sehingga, disaat terjadi saling serang di beberapa negara di dunia, permintaannya tidak terpengaruh sejauh ini.

“Hanya saja, daya belinya yang menurun. Sehingga, kita melakukan penyesuaian harga vanili di luar negeri. Penyesuiannya sebesar 20 persen. Kita tidak mempertahankan harga, agar permintaannya tetap kontinyu,” imbuhnya.

Karena, selain Indonesia, khususnya Lombok, beberapa negara penghasil vanili juga menjadi pesaing di pasar global. Diantaranya, Tanzania, Uganda, Madagaskar. Disisi lain, ditegah perang dan ketegangan ekonomi dunia, harga vanili dari awal disepakati. Untuk mengantisipasi terjadinya pluktuasi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah.

“Standar yang kita sepakati, per Dolar AS senilai Rp15.400. Jadi kalau jual beli acuannya nilai rupiahnya segitu. Tinggal dikalikan dengan harga vanilinya. Ini mengantisipasi kalau-kalau terjadi perang meluas dan dampaknya terhadap penukaran,” jelas Muhir.

Ia sangat berharap ketegangan beberapa negara di dunia tidak meluas. Sehingga ekonomi global bisa kondusif.(bul)

Nilai Tukar Rupiah Makin Memburuk, Ekonom Dorong NTB Tarik Wisman dan Dongkrak Ekspor

0
Foto : Dr. M. Firmansyah (Ekbis NTB/bul)

Mataram (Ekbis NTB) – Ekonom mendorong seluruh stakeholder di Provinsi NTB untuk meningkatkan ekspor komoditas, serta menarik wisatawan mancanegara (wisman) ditengah anjloknya nilai tukar rupiah, terhadap Dolar AS.

Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS memburuk di angka Rp16.000 pada Selasa 16 April 2024. Melemahnya nilai tukar mata uang Indonesia sejatinya dijadikan momentum untuk meraup manfaatnya. Secara teori, memburuknya nilai tukar rupiah memengaruhi inflasi dalam negeri, daya beli masyarakat semakin turun, dampaknya pada fiskal, dan perekonomian secara keseluruhan.
Namun, menurut Dr. M. Firmansyah, Pengamat Ekonomi dari Universitas Mataram menegaskan, umumnya dampak yang kita akan terjadi inflasi (kenaikan harga-harga) ketika nilai tukar rupiah terus melemah. Khususnya terkait bahan baku dan penolong industri yang bersumber dari impor. Sebab, harganya akan semakin naik.

“Namun keuntungan rupiah melemah pada sektor-sektor ekspor. Mereka akan menikmati selisih kenaikan rupiah karena produk ekspor dibayar dengan standar nilai Dollar AS harganya juga akan naik. Tenaga kerja kita, baik di dalam maupun di luar negeri yang gajinya dibayar dengan nilai Dollar AS juga diuntungkan. Mereka terima dollar yang nilai ekonominya lebih besar, namun dollar untuk belanja dalam negeri,” ungkapnya.

Kemudian, sektor lain yang diuntungkan menurut Dr. Firmansyah adalah sektor pariwisata. Harusnya wisatawan asing, akan lebih lama menginap karena biaya bagi mereka menjadi lebih murah akibat rupiah melemah.

“Ini peluang. Perbanyak iklan-iklan wisata tuk beberapa bulan ke depan ini,” sarannya.(bul)

Nilai Tukar Rupiah AnjlokMoney Changer Ilegal di Gili Trawangan Meresahkan

Menikmati Wisata Bukit Pergasingan di Sembalun

0
Foto : Sejumlah pendaki menikmati sunrise dengan pemandangan Gunung Rinjani dari atas Bukit Pergasingan dengan ketinggian 1.670 MDPL pada, Sabtu (13/4). Selain berekreasi ke destinasi wisata, sebagian warga juga memilih menikmati libur dengan mendaki gunung dan bukit di Kabupaten Lombok Timur. (Suara NTB/cem)

Selong (EkbisNTB.com) – Libur lebaran Idul Fitri tak hanya dimanfaatkan untuk bersilaturahmi ke keluarga dan kerabat. Sebagian juga memilih berekreasi ke objek wisata di Pulau Lombok. Wahana air, pantai, dan pegunungan menjadi pilihan. Sebagian orang juga memilih menikmati libur lebaran dengan berwisata ke gunung dan bukit. Salah satunya Bukit Pergasingan.

Keindahan gugusan gunung di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, sangat memanjakan mata. Wisatawan dapat menikmati lekukan dan deretan pohon dari Desa Sembalun, Kecamatan Sembalun. Keindahan panorama alam yang membentang di lereng Gunung Rinjani menjadi magnet bagi wisatawan.

Wartawan Ekbis NTB.com, mencoba menjajal Bukit Pergasingan yang terletak di Desa Sembalun Timba Gading. Bukit Pergasingan merupakan salah satu jejeran bukit di lingkar Gunung Rinjani. Jarak perjalanan dari Kota Mataram sampai ke loket pendaftaran Bukit Pergasingan di Desa Sembalun Timba Gading sekitar 60 kilometer. Butuh waktu sekira 3 jam perjalanan dengan mengendarai sepeda motor.

Menuju lokasi wisata di kaki Gunung Rinjani tersebut, wisatawan dapat memilih jalur menuju Desa Sembalun. Bagi wisatawan yang berasal dari Lombok Utara bisa melalui Desa Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Selanjutnya, di pintu perbatasan antara KLU dan Kabupaten Lombok Timur langsung belok kanan mengambil arah Desa Sembalun.

Jalur favorit sering digunakan wisatawan melalui jalur Desa Suela, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur. Para pendaki atau wisatawan yang berasal dari Kota Mataram, memilih jalur utama dari Desa Suela. Pertimbangannya adalah, pengendara ramai hilir mudik. Selain itu, wisatawan bisa menikmati kesejukan udara Taman Nasional Gunung Rinjani karena melewati pohon rindang di sepanjang jalan.
Pengunjung juga akan melewati pohon durian yang berjejer di sepanjang Jalan Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba. Saat musim durian seperti saat ini, wisatawan menemukan pedagang durian lokal menggelar lapak dagangan di sepanjang jalan menuju Desa Sembalun.

Untuk mendaki Bukit Pergasingan. Pendaki diwajib melalui pos pendakian untuk registrasi. Pengunjung akan dikenakan biaya Rp17 ribu per orang dan biaya parkir kendaraan Rp10 ribu untuk roda dua dan Rp15 ribu untuk roda empat.
Pengelola akan memberikan setiap rombongan pendaki kantong kresek sebagai tempat sampah. Sampah sisa makanan disimpan dan dibawa turun dari bukit.

Terdapat dua jalur yang bisa digunakan menuju puncak Bukit Pergasingan dengan ketinggian 1.670 MDPL tersebut. Pertama, pendaki dapat menggunakan jalur utama. Jalur utama ini, pengelola telah menyiapkan sekira 100 anak tangga yang dapat dilalui pendaki. Jalan utama ini, cukup terjal dan minim dataran atau tanah lapang yang dapat digunakan beristirahat oleh pendaki. Dari sisi efisien waktu lebih cepat mencapai puncak Bukit Pergasingan, tetapi sangat menguras tenaga.

Jalur kedua persis berada di belakang pos registrasi. Pendaki akan menyebrangi sungai menggunakan jembatan bambu. Jalur pendakian ini sangat landai, melewati hutan, dan banyak tanah lapang untuk melepas lelah. Hanya saja, waktu tempuh menuju puncak Bukit Pergasingan sekira 2,5 – 3 jam.

Di puncak Bukit Pergasingan, pendaki akan dimanjakan dengan keindahan alam dengan jejeran bukit. Udara dingin sampai menusuk ke badan. Dinginnya udara bisa dikalahkan dengan keindahan Gunung Rinjani yang berdiri gagah. Cahaya lampu penerang di rumah-rumah penduduk menambah suasana semakin indah.

Para pendaki yang menaklukan puncak Bukit Pergasingan menikmati suasana malam dengan bermain gitar diiring lagu pop era 2000-an. Ada juga yang sibuk menyiapkan makan malam dan sekedar obrol sambil melepas lelah. Di puncak Bukit Pergasingan, pendaki bisa menikmati ayunan. Tetapi ini sangat beresiko jika tidak hati-hati. Ayunan itu hanya terbuat dari kayu yang sewaktu-waktu patah.

Haris, Pendaki Asal Desa Pohgading, Kecamatan Pringgabaya menuturkan, dua kali telah mendaki Bukit Pergasingan. Pendakian pertama di tahun 2017, saat mendampingi siswa pencinta alam. Ia bersama rombongan memilih jalur utama untuk sampai ke puncak bukit. Medannya sangat terjal dengan kemiringan 80 derajat. Banyak bebatuan serta jalannya kecil dan sempit.

Saat ini, ia mencoba menggunakan jalur kedua dan ternyata lebih landai, meskipun agak licin. “Pendakiam pertama saja jalurnya ekstrem, tetapi begitu di atas landai dan banyak tempat istirahat,” katanya ditemui pada, Sabtu 13 April 2024 pekan kemarin.

Mendaki gunung atau bukit adalah rutinitasnya setiap tahun. Haris menuturkan, salah satu hobinya ini, hanya bisa dipenuhi saat libur. Moment libur lebaran paling tepat karena ramai. “Paling ramai pada bulan Agustus dan libur lebaran seperti sekarang ini,” ucapnya.

Puncak Gunung Rinjani sudah sering ditaklukan. Demikian pula, bukit-bukit di lingkar Gunung Rinjani. Bukit Kondo, Bukit Dara, Pergasingan, Nanggi, Savana Propok, dan lain sebagainya. Lebaran tahun 2023 lalu, ia juga menaklukan Gunung Tambora di Kabupaten Dompu.

Menurutnya, ada kebahagian sendiri yang dirasakan setelah berada di puncak gunung atau bukit. Ia bisa menyaksikan keindahan ciptaan Allah SWT. Kesederhanaan, kebersamaan, dan menjaga lingkungan menjadi pembelajaran berarti. Pendaki tidak boleh meninggalkan sampah. Pendaki dilarang melakukan hal-hal negatif. Kata dia, alam harus dijaga dan dilestarikan, karena sumber kehidupan berasal dari alam. “Saya akui banyak pendaki yang asal naik saja, tetapi mereka buang sampah sembarangan. Gunung atau bukit bukan tempat sampah,” tegasnya.

Sanusi, pendaki asal Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba mengaku, baru pertama kali menaklukan Bukit Pergasingan. Perjalanan yang menantang tetapi berakhir dengan pemandangan luar biasa. Ia dapat menikmati udara segar dan menyaksikan keindahan ciptaan Tuhan dari ketinggian 1.670 MPDL (meter di atas permukaan laut). “Pertama kali, saya muncak di Bukit Pergasingan. Viewnya keren sekali,” ucapnya.

Pasalnya, ia bisa langsung melihat keindahan Gunung Rinjani. Aktifitas pendaki terlihat jelas saat berjalan ke atas puncak gunung tertinggi kedua di Indonesia tersebut. Saat malam hari, pemandangan memanjakan mata. Cahaya lampu dari rumah penduduk berjejer rapi. Sanusi menilai pengalaman ini akan diabadikan dan menjadi kenangan. “Dari awal saya sudah rekam perjalanan ke puncak dan akan saya simpan sebagai dokumen pribadi,” demikian kata dia. (cem)

 

Libur Lebaran, Pantai Senggigi jadi Destinasi Wisata Keluarga

Selama Ramadhan dan Idul Fitri 2024, Uang Keluar Turun jadi Rp2,73 Triliun

0
Foto : Berry A Harahap. (Ekbis NTB/Dok)

Mataram (Ekbis NTB) – Pada periode Ramadhan dan Idul Fitri 1445H/2024, uang keluar dari Bank Indonesia Provinsi NTB tercatat sebesar Rp2,73 triliun. Menurun sebesar 16,1 persen dibandingkan periode Ramadhan dan idul fitri tahun sebelumnya.

Menurut Deputy Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Achmad Fauzi, Selasa 16 April 2024, meski secara total uang keluar dari Bank Indonesia mengalami penurunan, namun permintaan uang pecahan kecil Rp20 ribu kebawah tercatat sebesar Rp262,9 miliiar, meningkat tipis sebesar 1,2 persen.

“Pecahan Rp5.000 dan Rp2.000 merupakan pecahan yang paling diminati, dengan persentase permintaan masing-masing pecahan tersebut 31 persen,” ujarnya.

Sementara itu, tambah Fauzi, selama Ramadhan tahun 2024, uang masuk ke Bank Indonesia meningkat 42 persen dari Ramadhan tahun 2023. Beberapa faktor yang mempengaruhi diantaranya, arus balik uang masuk ke Bank Indonesia pasca meningkatkan permintaan uang saat pemilu. Selain itu, terjadi tren penormalan peredaran uang setelah mengalami rebound tinggi pada tahun 2023 pasca pandemi COVID-19.

Kemudian, adanya pergeseran masa panen raya komoditas Perkebunan (jagung) menuju April 2024, dimana pada tahun 2023, panen raya telah dimulai sejak bulan Maret.

Sebagai tambahan, Bank Indonesia NTB memproyeksikan akan terjadi peningkatan kebutuhan uang pada momentum Ramadhan hingga lebaran 1445H/2024. Sehingga, disiapkan uang siap edar sebesar Rp3,63 triliun untuk mengantisipasi kenaikan permintaan uang salama momentum besar puasa tahun ini.(bul)

 

Termasuk Untuk Kegiatan Pemilu, Uang Keluar dari BI NTB Sebesar Rp1,93 Triliun di Triwulan I