Saturday, April 4, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 773

Inspiratif, Thohir Yasin Gratiskan Pendidikan Ratusan Santri dari Hasil Kemandirian Ekonomi Ponpes

0
Foto : Pimpinan Yayasan Thohir Yasin, TGKH. Isma’il Thohir bersama para santri(Ekbis NTB/bul)

Selong (Ekbis NTB) – Pondok Pesantren Thohir Yasin, Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur berhasil membangun kemandirian ekonominya. Ponpes ini sudah menikmati buah manis dari kegiatan ekonomi yang dibangun dalam setengah dekade terakhir ini.

Ponpes Thohir Yasin sudah menjelma tidak hanya menjadi pusat menimba ilmu pendikan dan agama, lebih dari itu, ponpes ini sudah berhasil mengembangkan ekonomi penopang ponpes, dari aneka usaha yang sidah dijalankan, dan terus dikembangkan.

Ponpes yang didirikan pada tanggal 28 Oktober tahun 1990 ini menurut pimpinan Yayasan Thohir Yasin, TGKH. Isma’il Thohir, setelah didirikan, setahap demi tahap diikhtiarkan untuk terus memajukan pondok pesantren. Baik dari segi pendidikan, hingga perekonomiannya.

Ponpes ini mengoptimalkan pengelolaan potensi sumbber daya yang dimiliki untuk terus berkembang. Diantaranya, summber daya pertanian, peternakan, perikanan, hingga aneka usaha lainnya.

“Dari tahun ke tahun, sedikit demi sedikit kami terus berikhtiar. Sampai sekarang, dengan adanya kegiatan ekonomi yang dibangun, alhamdulillah dapat mendukung ekonomi pesantren, dan ekonomi masyarakat sekitar,” ujarnya, Jumat 19 April 2024.

Dari hasil kegiatan usaha yang dikembangkan di lingkungan pondok pesantren, sudah lebih dari 200 santri yang ditanggung biaya pendidikannya (beasiswa).
“Hasil usaha dari pertanian, hasil usaha dari perikanan, dan peternakan. Bisa membantu santri santri yang ekonominya lemah. Bebas biaya pendidikannya disini,” ujarnya.

Terlebih lagi, dengan didukung oleh Bank Indonesia,menurutnya, Ponpes Thohir Yasin terus melakukan pengembangan bisnis. Terutama di sektor pertanian, dengan menggalakkan pertanian berbasis teknologi.

Kepala Unit Ekonomi Pondok Pesantren Thohir Yasin, Ust, Sahrul merinci kegiatan usaha yang dilakukan di ponpes saat ini. Diantaranya, dari unit usaha perdagangan terdapat usaha ritel modern Thohir Yasin Mart yang sekarang tersebar empat unit.

Pada unit usaha pertanian, sedang dikembangkan green house cabai, padi organik, sayur-sayuran organik dengan dibantu Bank Indonesia. Ada juga unit perkebunan untuk tanaman pohon gaharu, kebun markisa, dan kebun durian.
Sementara unit perikanan, dikembangkan ikan hias seperti koi, dan ikan konsumsi. Usaha peternakan ayam broiler. Ditambahkan unit usaha laundry memberdayakan ibu rumah tangga sebanyak 40 orang. Dan unit jasa kerjasama dengan PT. POS untuk penitipan, termasuk untuk jasa pengisian pulsa, tarik tunai, dan kegiatan keuangan digital lainnya. Ust. Sahrul menambahkan, ada juga usaha sektor konstruksi dan property untuk pengerjaan fisik ponpes yang dilakukan sendiri. Ditambah unit usaha travel haji dan umrah.

Dalam setahun, dari seluruh unit usaha yang dikerjakan, nilai ekonomi yang dilaksanakan senilai Rp12,5 miliar pada tahun 2023, dan pertengahan tahun 2024 sekitar Rp 8 miliar. Hasil kegiatan usaha yang dikembangkan ini dikembalikan kepada kegiatan operasional ponpes, pengembangan pembangunan asrama, masjid, dan beasiswa santri.

“Sudah 220 santri yang digratiskan pendidikannya. Biayanya ditanggung, dari MTs (setingkat SMP), hingga Aliyah (setara SMA/SMK). Ponpes juga akan mengambangkan kemitraan dengan masyarakat, khususnya sektor pertanian berbasis organik. “Nantinya, masyarakat yang akan mengembangkan pertanian, alat dan bahan kita bantu. Nanti hasilnya ponpes yang akan carikan pasar,” tambahnya.

Ust.Sahrul menambahkan, kegiatan usaha yang dilakukan di lingkungan pondok pesantren tidak saja orientasinya pada penghasilan. Lebih dari itu, santri bisa belajar praktik lapangan untuk mengembangan wirausaha sekembalinya nanti dari Ponpes.

Dari Ponpes juga dibangun rantai ekonomi. Hasil pertanian, perikanan, dan budiaya yang dilakukan dapat dipasarkan melibatkan masyarakat sekitar untuk jualan keliling. Sehingga hasilnya tidak saja dirasakan oleh Ponpes, tetapi masyarakat secara luas.

“Kita berharap, Ponpes ini bisa lebih mandiri secara ekonomi untuk memberikan manfaat yang lebih besar,” demikian Ust. Sahrul.(bul)

Ponpes Thohir Yasin Sukses Kembangkan Cabai dengan Teknologi “Green House”

0
Foto : kegiatan panen cabai yang dikembangkan di Ponpes Thohir Yasin dengan teknologi green house.(Ekbis NTB/bul)

Selong (Ekbis NTB) – Pondok Pesantren (Ponpes) Thohir Yasin Lendang Nangka, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur berhasil mengembangkan budidaya cabai menggunakan teknologi green house yang didukung oleh Bank Indonesia.

Budidaya cabai percontohan ini menjadi rekayasa tanam untuk menghasilkan produksi cabai tanpa mengenal musim, dengan produktivitas tinggi.

Setelah kegiatan tanam dilakukan pada pertengah Januari 2024, panen sudah dapat dilakukan, Jumat 19 April 2024. Panen perdana dilakukan langsung oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Berry A Harahap didampingi Deputy, Winda Putri Listya, Pj. Bupati Lombok Timur, Juaini Taofik, unsur Forkopimda Lombok Timur, dan pendiri serta pengelola Ponpes.

Dengan teknologi green house (bangunan tembus cahaya), iklim dapat diatur sesuai kebutuhan tanaman, dan irigasi tetes juga dilakukan dengan sensor. Budidaya dilakukan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya.

Pemeliharaan tanaman juga dilakukan serba organik. Memanfaatkan pupuk organik yang diproduksi di lingkungan Ponpes. Hama pengganggu tanaman juga dapat dikendalikan. Sehingga kualitas dan kuantitas produksinya meningkat.

Faisal, pengelola green house ini mengatakan, keunggulan yang dapat dilihat dari hasil budidaya dengan teknologi green house ini diantaranya, hama penyakit terkendali, suhu terkendali, sesuai suhu yang cocok dengan tanaman. Komoditi yang dibudidakan dapat diproduksi pada waktu yang tepat yang diharapkan.

Produktivitas cabai bisa mencapai delapan bulan, dari yang biasanya hanya 5 bulan maksimal. Hasilnya, dalam dalam sebatang antara 800 gram sampai 1 Kg. biasanya di kisaran 500 gram perbatang.

Green house yang dibangun seluas 5 are, dengan total populasi 1.250 batang. Inipun jarak tanamnya masih bisa dimaksimalkan lagi.

“Dengan teknologi ini, produksi cabai bisa dilakukan sepanjang tahun jika pola tanamnya diatur,” ujarnya.

Faisal menambahkan, setelah berhasil mengembangkan cabai di green house, masyarakat yang inggin mengadopsi teknologi tanam ini juga bisa belajar. Selain untuk memenuhi kebutuhan ponpes dan masyarakat sekitar.

“Disinilah tempat belajar masyarakat, santri dan santriwati kalau ingin mengambangkan ini. Jadi tidak sekedar hanya untuk kegiatan produksi,” tandasnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Berry A. Harahap mengatakan, rekayasa pertanian tanaman cabai yang dilakukan di Ponpes Thohir Yasin diharapkan dapat menjadi percontohan bagi masyarakat, ataupun ponpes lainnya untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar. Apalagi cabai salah satu komoditas yang harganya fluktuatif.

Sebagai salah satu upaya pengendalian inflasi di sisi hulu dengan pendekatan berbasis komunitas, Bank Indonesia menurutnya melaksanakan program INFRATANI (Integrated Farming with Technology Information and Society).

Program ini bertujuan untuk mendukung Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) serta memperluas ekosistem rantai nilai halal yang berkelanjutan, berdaya saing dan inklusif sehingga dapat menjadi penggerak perekonomian daerah dan nasional.

Pada tahapan awal di akhir 2023, Bank Indonesia telah memilih tiga ponpes di Provinsi NTB untuk menjadi piloting program INFRATANI pengembangan komoditas Cabai yaitu Ponpes Thohir Yasin Lombok Timur, Ponpes Nurul Hakim dan Ponpes Nurul Haramain di Lombok Barat melalui pembangunan Green House dan instalasi peralatan drip irrigation berbasis IoT di masing-masing Ponpes dimaksud.

“Melalui program INFRATANI ini, kami berharap pondok pesantren dapat mengambil peran dalam pengendalian inflasi pangan khususnya komoditas cabai. Hasil produksi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan domestik pondok pesantren serta mendukung program hilirisasi produk turunan dari komoditas cabai,” demikian Berry.

Sementara itu, Pj. Bupati Lombok Timur, Juaini Taofik menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia, dengan harapan, program INFRATANI dapat dikembangkan lebih luas di Kabupaten Lombok Timur. Karena kebermanfaatannya nyata.(bul)

Harga Bawang Merah Melonjak

0
Nurmansyah (Ekbis NTB/glo)

Mataram (Ekbis NTB) – Sejumlah komoditi mengalami kenaikan. Salah satunya, harga bawang merah mulai melonjak. Lonjakan harga salah satu bumbu dapur ini, dikeluhkan masyarakat.

Ros, seorang ibu rumah tangga mengeluhkan kenaikan harga bawang merah tersebut. Sebelumnya, ia membeli bumbu dapur tersebut seharga Rp29.000 per kilogram. Saat ini, melonjak drastis menjadi Rp60.000 per kilogra. “Dari lebaran sampai sekarang masih mahal. Kapan turunnya harga bahan-bahan ini,” katanya mengeluh ditemui pada, Jumat 19 April 2024.

Penggunaan bawang merah sangat penting untuk bahan masakan. Menurutnya, tidak ada alternatif menggantikan bumbu dapur tersebut, dengan bahan masakan lainnya. Jika dipaksakan diganti akan mengubah rasa.

Meskipun harga mahal, ia terpaksa mengurangi porsi pembelian dari sebelumnya setengah kilogram menjadi seperempat kilogram. “Gak bisa diganti, nanti rasa makanannya beda. Paling tetap beli atau diakalin pakai bawang bombay atau daun bawang,” tambahnya.

Warga lainnya, Silvi Gedo mengeluhkan hal yang sama. Lonjakan harga bahan pangan, ini dinilai tidak wajar. Kondisi ini akan berdampak bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah. “Keterlaluan sih. Kan masak harus ada bawang.” Ucapnya.

Ditemui terpisah, Nurmasnyah, salah satu pedagang di Pasar Kebon Roek menjelaskan, kenaikan harga bawang merah disebabkan pengiriman bawang untuk memenuhi di Pulau Jawa. Hal ini menyebabkan stok bawang merah di Mataram, kosong dan mempengaruhi lonjakan harga. “Pengepul dari Jawa langsung ke Bima. Mereka berani beli mahal, makanya stok di sini (Mataram,red) kosong,” terangnya.

Menurutnya, kenaikan harga bawang merah ini, sejak dua pekan lalu. Di satu sisi, kenaikan harga juga disebabkan jumlah permintaan bawang merah menjelang lebaran meningkat dari hari biasanya. (glo)

Angkasa Pura I Mencatat Ada 115 Ribu Penumpang Pesawat selama Periode Lebaran 2024 di Bandara Lombokk

0
Ruang tunggu bandara international lombok (Ekbis NTB/bul)

Praya (Ekbis NTB) – PT Angkasa Pura I Bandara Lombok tercatat melayani sebanyak 115.597 pergerakan penumpang selama periode Lebaran 2024.

Angka ini meningkat sebesar 9 persen jika dibandingkan dengan jumlah pergerakan penumpang pada periode Idul Fitri tahun 2023 lalu.

“Selama 16 hari pelaksanaan posko sejak 3 hingga 18 April 2024, Bandara Lombok melayani 115.597 ribu pergerakan penumpang, sementara pada periode Lebaran 2023 lalu hanya 106.367 pergerakan penumpang. Artinya terjadi peningkatan pergerakan penumpang sebesar 9 persen,” ujar General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Lombok Minggus E.T. Gandeguai, Jumat 19 April 2024.

Selain itu, Bandara Lombok juga mengalami peningkatan pada pergerakan pesawat dan kargo.

Pergerakan pesawat meningkat sebesar 15 persen, dari 1.008 pergerakan pesawat pada periode Lebaran tahun lalu menjadi 1.160 pergerakan pesawat di Lebaran tahun ini.

Sementara jumlah pergerakan kargo naik sebesar 16 persen, dari 495.203 kilogram menjadi 573.555 kilogram.

“Puncak arus mudik Lebaran 2024 di Bandara Lombok terjadi pada H-3 Idulfitri yaitu Minggu, 7 April 2024 dengan jumlah penumpang sebanyak 9.202 penumpang. Sementara arus balik terjadi pada H+3 Idulfitri atau Minggu, 14 April 2024 dengan 9.224 penumpang,” rinci Minggus.

Adapun rata-rata penumpang selama arus mudik dan arus balik Lebaran 2024 tercatat sebanyak 7.225 penumpang per hari.

Berdasarkan rute penerbangan, penumpang dari Lombok sebagian besar atau sebanyak 37 persen menuju ke Jakarta, disusul ke Surabaya (27 persen), Bali (12 persen), Kuala Lumpur (6 persen), dan Yogyakarta (2 persen).

“Jika melihat jumlah pergerakan penumpang periode Lebaran 2024 kali ini, maka tingkat pemulihan atau recovery rate di Bandara Lombok dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019 sebelum pandemi Covid-19 telah mencapai 83 persen,” imbuh Minggus.

Minggus menambahkan, semakin pulihnya kondisi lalu lintas angkutan udara ini diharapkan menjadi momentum yang baik dan akan semakin berdampak positif bagi perkembangan dan peningkatan perekonomian NTB maupun nasional.(bul)

Pedagang Beras Untung Besar di Momentum Idul Fitri dan Lebaran Topat

0
Eka Bahtiar (Ekbis NTB/Glo)

Mataram (Ekbis NTB) – Sebelum lebaran, pedagang beras di depan Pasar Kebon Roek mengaku bahwa ia dapat untung hingga Rp250.000 per hari. Beras menjadi salah satu bahan dasar yang harus ada ketika lebaran, karena merupakan bahan dasar dari ketupat. Ketupat menjadi ciri khas saat lebaran, khususnya lebaran topat.

Eka Bahtiar, salah satu pedagang beras yang menjual beras menggunakan kendaraan bak terbuka di depan Pasar Kebon Roek, menjelaskan bahwa jumlah permintaan menjelang lebaran sangat banyak.

“Sebelum Idul Fitri itu permintaannya banyak sekali, tapi setelah Idul Fitri, satu hari setelah Idul Fitri menurun dia permintaannya,” katanya pada Suara NTB Kamis 18 April 2024.

Jelang lebaran, ia mampu menjual beras hingga 20 karung berukuran 25 kg per hari. Namun setelah Lebaran, beras yang terjual hanya 1 – 6 karung per hari. “Saya laku 20 karung biasanya kalo sebelum Idul Fitri. 500 kg sebelum Idul Fitri,” tambahnya.

Eka juga mengaku mendapat untung Rp 200.000 – 250.000 per hari. “Sebelum lebaran sehari dapat Rp 200.000 – 250.000, dua kali lipat,” pungkasnya. Ia menjelaskan bahwa jumlah permintaan terus meningkat sejak hari ke sepuluh puasa hingga satu hari sebelum lebaran. Selain itu, banyak permintaan dari pelanggan untuk membagi beras 100 kg menjadi 2,5 kg yang ditujukan untuk memberikan zakat fitrah.

Usai lebaran, permintaan menurun yang diduga karena stok zakat fitrahnya masih tersedia. Kisaran harga beras yang dijual pun sudah berada di angka normal. Beras super dibanderol dengan harga Rp 12.000 – 13.000 per kilogram tergantung merek beras. “Kalo sekarang di Rp300.000 per 25 kg yang super,” ucapnya.

Ia berjualan mulai dari jam 07.00 Wita yang dimulai dari Pasar Dasan Agung hingga jam 11.00 Wita, karena ia berganti-gantian dengan teman-teman pedagang beras lain yang juga berjualan di depan Pasar Kebon Roek. Ia mulai berjualan di Pasar Kebon Roek dimulai dari siang hingga sore sekitar jam 17.00 – 18.00 Wita.

Jumlah permintaan beras yang tinggi sebelum lebaran biasanya digunakan untuk zakat fitrah dan stok untuk membuat ketupat ketika lebaran. (glo)

Harga Jagung Anjlok, Pengusaha Merugi

0
HARGA ANJLOK - Jagung yang dipanen di wilayah Suela Kabupaten Lotim. (Ekbis NTB/ist)

Selong (EKbis NTB) – Harga jagung di Kabupaten Lombok Timur (Lotim) beberapa hari terakhir ini anjlok. Harga jual sekarang Rp 200 ribu per kwintal pipilan kering. Anjloknya harga jagung ini membuat sejumlah pengusaha merugi hingga belasan juta.

Fikri, salah satu pengusaha di Lotim kepada Suara NTB mengaku sebelumnya harga jagung ini melonjak dan terbilang langka. Kondisi ini membuat jagung diburu banyak pihak. Akan tetapi, tidak ada kontrol harga komoditi jagung ini membuat harganya terjun bebas.

Sebelumnya harganya sempat tembus Rp 700 ribu sampai dengan Rp 800 ribu per kwintal. Bahkan ada yang membeli seharga Rp 1 juta per kwintal atau Rp 10 ribu per kilogram.  Harga jagung yang kini merosot ke Rp 200 ribu ini jelas membuat para pengepul utamanya mengalami kerugian hingga belasan juta. “Saya sendiri merugi sampai Rp 18 juta,” tuturnya.

Fikri mengakui bisnis jagung ini penuh spekulasi. Fluktuasi harga ini cukup tinggi dan sulit diprediksi. Harapannya tidak ada jagung impor, sehingga petani bisa tetap menikmati harga yang menggembirakan.

Sementara itu, Bambang petani di Suela mengatakan saat harga jagung mahal beberapa waktu lalu membuat banyak petani yang mencoba peruntungan dengan menanam jagung. Banyaknya jagung warga yang gagal panen diperkirakan akan berdampak harga akan tetap mahal dan dinikmati petani. Akan tetapi, sangat disayangkan sekarang harganya kembali anjlok.

Diketahui, wilayah Kecamatan Suela ini merupakan salah satu sentra produksi jagung di Lotim. Anjloknya harga jagung ini jelas merugikan juga bagi petani. Pasalnya, biaya produksi cukup mahal. Saat panen pun, petani di wilayah Suela ini banyak yang harus menambah biaya lagi untuk mengeluarkan hasil panennya ke pinggir jalan.

Biaya pengangkutan bervariasi, mulai dari Rp 30-40 ribu per karung. “Tergantung medannya,  semakin terjal dan semakin jauh maka ongkos ojeknya semakin mahal,” tuturnya.

Kepala Dinas Pertanian Lotim H. Sahri saat dikonfirmasi mengatakan berdasarkan data yang ada sampai dengan akhir Desember 2023 lalu. Pertumbuhan tanaman jagung di Lotim bervariasi. Kondisi cuaca yang tidak menentu ini membuat tanaman jagung ada yang bagus dan ada yang gagal, ada yang bagus dan ada juga yang mati. Luas areal tanaman jagung pada tahun ini di Lotim seluas 3.208,5 hektare.

Hasil produksi jagung tahun ini belum bisa dipastikan karena masih proses panen di Suela, Pringgabaya dan Sambelia. Sedangkan yang di Jerowaru diketahui banyak yang gagal panen karena dampak cuaca.

Petani yang di Kecamatan Jerowaru sebelumnya diimbau untuk melakukan penanaman ulang. Tapi rata-rata petani menolak untuk menanam jagung kembali dan memilih menanam tembakau. (rus)

Cegah Penularan Virus Disnakeswan Perbanyak Vaksinasi Ternak

0
(Ekbis NTB/era) Muhamad Riadi

Mataram (EkbisNTB.com) – Kasus kematian hewan ternak akibat terserang virus Septicaemia Epizootica atau dikenal virus ngorok sangat masif di sejumlah wilayah di Indonesia. Vaksinasi pada kerbau dimasifkan guna meminimalis penularan.

Kepala Dinas Kesehatan Hewan (Kadisnakeswan) provinsi NTB, Muhamad Riadi, SP, M.Ec.Dev gencar melakukan vaksinasi hewan ternak demi menjaga kesehatan hewan dan tidak mudah terjangkit virus.

Diketahui bahwa baru-baru ini sebanyak 431 kasus kerbau mati akibat virus ngorok yang menjangkit ternak kerbau warga di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.

Virus ngorok atau Septicaemia Epizootica (SE) bukanlah bakteri baru, penyebaran bakteri ini sangat cepat melebihi virus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang juga menyerang sapi dan kerbau. Beberapa kali ditemukan kasus kerbau Sumbawa mati akibat terjangkit virus ini. “Daerah kita, Pulau Sumbawa sering terjadi dan memang sangat mematikan pada kerbau,” katanya pada Rabu 18 April 2024.

Ia mengatakan bahwa meski beberapa kali terdapat kasus bakteri SE menjangkit kerbau di Sumbawa, tetapi belum ditemukan satupun kasus kerbau di NTB terjangkit bakteri tersebut. Sehingga untuk mengantisipasi penyebaran bakteri ini ke NTB, pihaknya rutin melakukan vaksinasi.

“Vaksinasi rutin minimal sekali setahun dan melakukan pengobatan dengan antibiotik spektrum luas kalau ditemukan kasus sapi NTB terjangkit virus SE,” lanjutnya.

Di tahun 2024 ini, kerbau Sumbawa mirip dengan gejala SE ditemukan, namun belum berani dipastikan karena belum dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Di tahun 2024 ini, Disnakkeswan mengadakan 10.000 dosis vaksinasi yang dikhususkan di pulau Sumbawa, karena pulau ini dinilai rawan terkena penyebaran bakteri SE.

Adapula untuk stok obat-obatan, Riyadi mengatakan bahwa provinsi NTB masih memiliki stok yang cukup, sehingga antisipasi terkait dengan penyebaran bakteri SE ini bisa dimaksimalkan.

“Tahun 2024 kita ada pengadaan vaksin 10.000 dosis dari APBD, karena SE bukan priritas nasional, jadi di APN sudah 3 tahun terakhir tidak ada anggaran, dan rencana di prioritaskan ke daerah atau lokasi yang diduga ada kasus, yaitu pulau Sumbawa,” tandasnya. (era)

Venezuela Kena Sanksi Embargo Harga Minyak Mentah WTI Turun

0
Dzia Istiqlal (Ekbis NTB/glo)

Mataram (Suara NTB) – Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun hari ini. Harga WTI dibuka dengan harga $82 per barel yang sebelumnya pada Jumat 5 April 2024 sempat menyentuh angka $87 per barel. Angka ini terus meningkat sejak serangan invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Harga yang terus-terusan berubah ini disebabkan oleh faktor geopolitik yang terus-terusan memanas.

Dzia Istiqlal selaku Gold/Oil Market Analysist PT. Victory International Futures cabang NTB memberikan alasan harga minyak yang terus kian memanas. “Sebenernya harga minyak sudah panas setelah serangan Israel ke Kedubes Iran,” ujarnya pada Suara NTB, Kamis 18 April 2024.

Ia juga menambahkan bahwa lonjakan naik tersebut berangsur setelah Israel merespon akan melakukan serangan balik. “Serangan ke Kedubes kan tanggal 1 April, itu harga stay di $82 per barel. Setelah serangan Iran, langsung merepson akan serangan balik. Lonjakan cepet sampai $87 per barel, hampir nyentuh $89 per barel lah,” ujarnya.

Namun, pagi ini harga WTI turun menjadi $82 per barel karena Venezuela diberi sanksi embargo oleh Amerika Serikat. “Tapi konsennya harga drop, karena hari ini Venezuela kena sanksi embargo sama USA. Venezuela kan eksportir terbesar minyak mentah untuk wilayah Amerika Latin ya,” jelasnya.

Untuk Nasabah yang ditangani Dzia di wilayah Lombok, ia menyarankan untuk tetap beli sebagai investasi. “Fokusnya sih serok bawah beli di area $75 – $80 per barel. Harapan kita si tetap jual $90,” katanya. Ia menyarankan nasabahnya untuk membeli dan memberbanyak investasi minyak.

Keadaan geopolitik yang terus terjadi dan tak kunjung mereda akan mempengaruhi harga WTI. Serangan Israel bisa memicu dorongan harga, tetapi serangan NATO ke Rusia atau sebaliknya lebih mendorong lagi. Perubahan harga ini menjadi masalah teknis berakibat pada pemangkasan produksi atau permintaan konsumen.

Ia menyarankan untuk menjual jika harga dibuka di angka $85 per barel. Namun, melihat situasi yang terus memanas, kemungkinan harga akan terus meningkat mengikuti kebijakan yang diambil oleh negara-negara produsen dan konsumen minyak terbesar. Ia juga memberikan gambaran jika keadaan geopolitik di Israel terus memanas, harga minyak bisa jadi terus mengalami kenaikan secara signifikan. Harga WTI yang semula berdiri di angka normal $70 – $75 per barel, kini terus mengalami kenaikan dan bahkan hampir menyentuh $90 per barel. “Karena situasi geopolitik yang belum menunjukan tanda-tanda signifikan yang turun kecuali kejadian Venezuela,” sambungnya. (glo)

38.660 Ekor Lobster NTB Sudah Terkirim ke Pasar Domestik dan International

0
Karantina NTB (Ekbis NTB/bul)

Praya (Ekbis NTB) – Balai Karantina NTB melalui Satuan Pelayanan (Satpel) Bandara Internasional Lombok (BIL) hampir setiap hari melakukan kegiatan Sertifikasi terhadap komoditas Lobster yang berasal dari berbagai wilayah di provinsi ini.

Tercatat dari Januari-April 2024 sebanyak 37.640 ekor atau sekitar 12,5 Ton jumlah lobster konsumsi yang di kirim dengan tujuan domestik. Sedangkan untuk tujuan ekspor, sebanyak 1.020 ekor atau sekitar 300 Kg.

Lobster yang beredar antar area di Indonesia antara lain memenuhi kebutuhan di beberapa daerah seperti Bali dan Jakarta. Sedangkan untuk pasar ekspor, Lobster asal NTB dikirim ke Malaysia dan Singapura.

Agus Mugiyanto, Kepala Karantina NTB menyampaikan bahwa lobster merupakan jenis udang laut yang sering juga disebut dengan udang barong atau udang karang dan sangat digemari oleh pecinta boga bahari.

“Ada empat jenis lobster yang ada di NTB yaitu Lobster jenis pasir, mutiara, bambu, dan batu,” ungkap Agus, Kamis 18 April 2024.

Agus juga menegaskan, Karantina Indonesia tidak hanya menjaga dan mencegah terjadinya penyebaran HPHK, HPIK dan OPTK, tetapi juga ikut berperan aktif dalam memfasilitasi kegiatan perdagangan baik domestik maupun ekspor.(bul)

Bank Indonesia Buka Pasar Minyak VCO Lombok Utara Hingga Bangladesh

0
Windia Putri Listya (Ekbis NTB/bul)

Mataram (Ekbis NTB) – Minyak Virgin Coconut Oil (VCO) yang diproduksi di sentra pengolahan kelapa Al Amin, Pemenang Timur, Kecamatan Pemenang Kabupaten Lombok Utara sudah menembus pasar luar negeri. Salah satunya Bangladesh.

Selama ini, pemasaran menjadi persoalan. Selain standar kualitas produksi. Bank Indonesia kemudian melakukan intervensi dengan memberikan pelatihan-pelatihan, melibatkan expert (pakar), salah satunya, eksportir VCO dari Jogja.

Zulhadi, Ketua Sentra Pengolahan Kelapa Pemenang Timur mengatakan, selama ini minyak goreng kelapa, maupun VCO yang dihasilkan pemasarannya belum sebanding dengan potensi bahan baku dan produksi. Sehingga, pasar luar negeri sangat diharapkan.

Gayung bersambut, fasilitasi pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh Bank Indonesia sudah membuka potensi pasar luar negeri.

Pelatihan yang sudah dilaksanakan dari Bank Indonesia meliputi, bagaimana memilih ukuran kelapa yang standar, memeras kelapa untuk menghasilkan santan maksimal, dan pelatihan untuk menghilangkan aroma kelapa setelah menjadi minyak kelapa. Serta, bagaimana menghasilkan minyak kelapa agar tidak berubah kualitasnya dalam waktu cepat. Serta pelatihan ketentuan-ketentuan lain untuk menghasilkan VCO berstandar pasar luar negeri.

“Sekarang kita sudah siap memenuhi pasar luar negeri. Tinggal menunggu buyernya langsung, mau dibuatkan VCO spek berapa. Karena ada 15 spek, itu terkait kualitas dan kuantitas produksi. Sementara ini kita masih kirimnya lewat Jogja,” ujarnya.

Secara kapasitas, VCO bisa diproduksi seribu liter perhari, atau sebulan dapat memproduksi hingga 50 ribu liter. Dalam kegiatan produksi ini, ia melibatkan ratusan orang mitra di Kabupaten Lombok Utara.

VCO atau minyak gorreng yang diterima dari mitra kemudian diolah lagi untuk menghasilkan VCO dan minyyak goreng sesuai standarnya.

“Cuma kapasitas sedot pasarnya yang masih lemah. Karena itu, kita banyak membuat minyak kelapa yang dipasarkan di dalam daerah. Karena itu, kita sangat berharap pasar luar negeri ini untuk membuka pasar yang lebih luas untuk VCO kita,” tambahnya.

Saat ini, terdapat 10 mesin peras kelapa, dan 20 mesin parut yang bisa digunakan untuk berproduksi. Bantuan dari Kementerian Perindustrian yang diserahkan hibahnya ke Pemda Kabupaten Lombok Utara. Namun mesin-mesin ini hanya tiga unit yang digunakan, terbentur petunjuk pelaksanaan untuk operasionalnya sebagai asset pemerintah.

Sebelumnya, Deputy Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, Winda Putri Listya, Kamis 18 April 2024 di Mataram mengatakan, Bank Indonesia melihat potensi kelapa yang cukup besar di Kabupaten Lombok Utara.

Potensi ini masih dimanfaatkan secara konvensional untuk menghasilkan minyak goreng, dan VCO. Secara produksi, masyarakat di pesisir dan pegunungan di Lombok Utara sudah bisa memproduksi minyak.

Setelah ditinjau langsung oleh mentor yang didatangkan oleh Bank Indonesia, proses pemerasan kelapa dilakukan masih secara manual dan minyak yang dihasilkan lebih sedikit. Seharusnya, santan yang dihasilkan bisa 90 persen, tapi karena diperas secara manual, hasilnya hanya 40 persen. Belum ada hilirisasi secara massif. Sehingga biaya produksi tinggi, dan berat bersaing di pasaran.

Karena itu, Bank Indonesia menurutnya, ingin mengembangkan sentra produksi VCO berbasis ekspor di Lombok Utara. Dengan sudah mendatangkan expertnya dan mberikan pelatihan-pelatihan standar VCO ekspor, diharapkan kedepan, sentra pengolahan kelapa di Lombok Utara ini bisa menjadi sentra ekspor VCO di NTB.

“Kelapa yang di KLU sudah tembus pasar Banglades, sudah kirim. Tapi Sekarang belum bisa direct, jadi harus dicek dulu kualitasnya dan standarnya di Jogja. Baru ke pasar Internasional,” ungkapnya.

VCO sendiri manfaatnya cukup banyak, diantaranya manfaat obat, suplemen, selain sangat bagus untuk menggoreng.

Selama ini untuk harga VCO berat menembus pasar karena harganya bisa mencapai Rp100 ribu perliter. Setelah diberikan pelatihan efisiensi produksi, harganya bisa turun sampai Rp30 ribu perliter untuk ekspor.

“Bahkan dengan harga ini, mengirim ke Jogja dan biaya kirimnya ditanggung sendiri, itupun masih ada dapat marjinnya,” tambahnya.

Winda mengatakan Bank Indonesia akan terus melakukan pendampingan program dan bantuan peralatan untuk mendorong peningkatan kualitas dan kapasitas produksi VCO berstandar pasar luar negeri.

“Bank Indonesia berharap, setidaknya masyarakat pegunungan dan pesisir di Lombok Utara memiliki pendapatan tambahan dari kegiatan ekonomi ini,” demikian Winda.(bul)