Saturday, April 11, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 408

Bank Mandiri Catatkan Pertumbuhan Aset Solid dan Ekspansi Kredit yang Menggembirakan di 2024

0
Winardi Legowo, Regional CEO Bali dan Nusa Tenggara(ekbisntb.com/fan)

Lombok (ekbisntb.com) – Bank Mandiri terus menunjukkan performa yang impresif sepanjang tahun 2024 dengan mencatatkan pertumbuhan aset yang solid. Total aset konsolidasi bank terbesar di Indonesia ini mencapai Rp 2.427 triliun, mencatatkan kenaikan 11,6% secara tahunan (YoY). Pencapaian ini semakin memperkokoh posisi Bank Mandiri sebagai pemimpin pasar di sektor perbankan nasional, sekaligus mencerminkan efektivitas strategi yang diterapkan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.

Winardi Legowo, Regional CEO Bali dan Nusa Tenggara, dalam keterangannya pada Senin, 10 Februari 2025, salah satu motor utama ekspansi bisnis Bank Mandiri adalah pertumbuhan kredit yang mencatatkan angka impresif. Penyaluran kredit Bank Mandiri tercatat mencapai Rp 1.670,5 triliun, melonjak 19,5% YoY, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan industri perbankan di Indonesia.

“Pertumbuhan kredit ini tidak hanya terlihat dalam sektor wholesale yang menjadi pilar utama kami, tetapi juga tercermin dalam penyaluran kredit untuk sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), yang terus berkembang dengan baik. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat, kami melihat pertumbuhan kredit UMKM mencapai 25,55%,” ungkap Winardi.

Segmen wholesale Bank Mandiri tumbuh pesat, dengan kenaikan 25,5% YoY hingga mencapai Rp 913,3 triliun. Di Nusa Tenggara Barat, sektor ini mengalami kenaikan sebesar 11,2% YoY. Bank Mandiri terus memaksimalkan potensi sektor wholesale untuk memperluas akses pembiayaan ke berbagai sektor ekonomi, yang juga berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Tidak hanya fokus pada sektor wholesale, Bank Mandiri juga mengembangkan sektor UMKM dengan penyaluran kredit yang mencapai Rp 135 triliun secara nasional, tumbuh 6% YoY. Di Nusa Tenggara Barat, pertumbuhan kredit UMKM mencapai angka yang lebih tinggi, seiring dengan strategi ekspansi yang merata di seluruh Indonesia.

Sementara itu, inovasi digital menjadi salah satu pilar penting dalam strategi Bank Mandiri. Livin’ by Mandiri, super app unggulan bank ini, tercatat memiliki 29,3 juta pengguna di akhir 2024 dengan transaksi mencapai 3,9 miliar, naik 38% YoY. Di Nusa Tenggara Barat, aplikasi ini juga mengalami pertumbuhan signifikan dengan 364 ribu pengguna dan transaksi yang tumbuh 40% YoY.

Di sektor perbankan wholesale, platform Kopra by Mandiri mencatatkan nilai transaksi mencapai Rp 22.700 triliun, dengan kenaikan 17% YoY. Di Nusa Tenggara Barat, nilai transaksi di platform ini tumbuh sebesar 44,7% YoY. Winardi menambahkan, “Kami terus mendorong inovasi digital untuk memberikan layanan yang lebih efisien dan cepat kepada nasabah, serta memperluas akses keuangan bagi pelaku usaha di Indonesia.”

Tidak hanya fokus pada ekspansi bisnis, Bank Mandiri juga menjaga kesehatan fundamentalnya, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) terjaga di angka 0,97%. Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7,73% YoY, mencapai Rp 1.699 triliun, dengan dominasi dana murah (CASA) yang menyumbang 80,3% dari total DPK.

Pada 2024, Bank Mandiri juga mencatatkan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 55,8 triliun. Diversifikasi pendapatan menjadi strategi kunci, dengan pendapatan berbasis komisi (fee-based income) meningkat 4,12% YoY, berkat peningkatan transaksi digital, layanan treasury, serta pengelolaan dana dan investasi.

Untuk mendukung keberlanjutan, Bank Mandiri semakin fokus pada pembiayaan sektor ramah lingkungan. Portofolio hijau Bank Mandiri mencapai Rp 149 triliun, dengan sektor Energi Baru Terbarukan (EBT) mencatatkan angka yang menggembirakan, yakni Rp 11,8 triliun, naik 21% YoY.

“Ke depan, kami akan terus memperkuat peran Bank Mandiri dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan melalui inovasi dan kolaborasi yang lebih luas. Kami optimis bahwa strategi jangka panjang kami akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia,” tambah Winardi.

Dengan fundamental yang kuat dan strategi ekspansi yang agresif, Bank Mandiri optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhannya pada tahun 2025. “Kami terus mengembangkan solusi layanan yang lebih inovatif untuk memastikan pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan,” pungkas Winardi. (r/fan)

Industri Smelter Bisa Jadi Penopang Pertumbuhan Ekonomi NTB

0
M. Firmansyah (ekbisntb.com/dok)

EKONOMI Provinsi NTB ditarget bisa tumbuh sebesar 7 persen di tahun 2025 ini. Meskipun pertumbuhan ekonomi menghadapi tantangan karena berkurangnya ekspor bahan galian yang selama ini mendominasi, namun ada beberapa potensi yang bisa mendongkrak. Salah satunya adalah industri smelter Amman Mineral di Kabupaten Sumbawa Barat (KSB).

Pengamat ekonomi Universitas Mataram (Unram) Dr. M Firmansyah, menilai bahwa pemurnian mineral di smelter bisa memperluas pertumbuhan ekonomi di NTB. Menurutnya, karakter pertumbuhan ekonomi NTB selama ini  memang banyak bersumber dari sektor tambang. Meskipun sektor-sektor lain memberikan kontribusi, namun peran mereka cenderung hanya sebagai pelengkap.

“Saat smelter beroperasi, pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi atau sebaliknya, tergantung sejauh mana pengelola smelter secara intens melakukan operasi dan menghasilkan produk-produk yang layak ekspor. Namun, kita optimis bahwa smelter yang beroperasi dan membentuk kawasan usaha akan menghasilkan banyak tenaga kerja,” ujar Firmansyah kepada Ekbis NTB akhir pekan kemarin.

Firmansyah mengungkapkan bahwa dari hasil banyak riset, kawasan industri mampu menciptakan ribuan tenaga kerja. Efek berganda dari tenaga kerja yang terserap dapat menyumbang pertumbuhan ekonomi secara riil melalui peningkatan pendapatan dan konsumsi di daerah.

“Satu hal yang penting adalah memastikan bahwa tenaga kerja yang terlibat di smelter adalah masyarakat lokal atau masyarakat NTB. Logikanya sederhana, sebab masyarakat lokal akan menggunakan uangnya untuk pengembangan bisnis lokal,” tegasnya.

Meskipun ekspor ekstrak tambang minim, namun setelah dilakukan pemurnian oleh smelter, justru akan memperluas pertumbuhan ekonomi yang tercipta. Firmansyah juga menekankan pentingnya persiapan kawasan penyangga oleh pemerintah daerah, agar bisa mendesain klaster-klaster baru yang siap didiami oleh investor.

“Salah satu bisnis yang perlu diperhatikan adalah dalam rangka memasok seluruh kebutuhan smelter. Kita perlu mengidentifikasi semua kebutuhan secara riil dan menyediakannya melalui entitas bisnis di daerah,” jelas Firmansyah.

Ia berharap pemerintah provinsi, kabupaten/kota dapat duduk bersama memikirkan masalah ini. Kebutuhan kawasan industri harus bisa dipasok oleh entitas lokal, misalnya kebutuhan makan minum, dan infrastruktur lainnya. Bahkan, pengembangan wisata juga bisa ditingkatkan sana, mengingat smelter akan meningkatkan hilir mudik orang yang membutuhkan hiburan dan pariwisata.(ris)

Atasi Keterlambatan, Mekanisme Pengawasan Pendistribusian Pupuk akan Ditingkatkan

0
Konsultasi Komisi II DPRD Kabupaten Sumbawa mengenai pelaksanaan cadangan beras  dan kuota pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Sumbawa tahun 2025 Jumat 7 Februari 2025(ekbisntb.com/ist)

KEPALA Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB Muhammad Taufieq Hidayat  menegaskan bahwa mekanisme pengawasan pendistribusian pupuk akan ditingkatkan untuk mengatasi keterlambatan penyaluran dari perusahaan ke agen, pengecer hingga ke petani.

Hal tersebut disampaikan Taufieq Hidayat saat menerima konsultasi Komisi II DPRD Kabupaten Sumbawa mengenai pelaksanaan cadangan beras dan kuota pupuk bersubsidi untuk Kabupaten Sumbawa tahun 2025 Jumat 7 Februari 2025 di Ruang Rapat Kepala Distanbun NTB.

Rombongan dari Komisi II DPRD Kabupaten Sumbawa yang terdiri dari 10 orang dipimpin oleh Sekretaris Komisi II, Zohran, melakukan pertemuan tersebut dengan Kepala Distanbun Provinsi NTB yang didampingi oleh Fungsional PSP.

Beberapa hal  dibahas dalam pertemuan ini, antara lain terkait dengan serapan gabah, sistem pengadaan cadangan beras pemerintah, pupuk subsidi untuk Kabupaten Sumbawa, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), serta informasi program cetak sawah.

Pihak Komisi II menyampaikan beberapa pertanyaan terkait serapan gabah, termasuk apakah sudah ada formula yang tepat terkait pengadaan cadangan beras pemerintah. Selain itu, dewan juga mengungkapkan masalah terkait penundaan bantuan irigasi perpompaan yang diajukan oleh petani melalui Dinas Pertanian Kabupaten. Beberapa alasan penundaan tersebut menjadi perhatian serius, mengingat Sumbawa mendapatkan alokasi terbanyak dibandingkan dengan kabupaten lainnya.

Kadistanbun NTB Taufieq Hidayat menjelaskan bahwa pengadaan pupuk sering terlambat karena distribusi dari Pupuk Indonesia  ke agen dan pengecer melalui berbagai tahapan. Ia menegaskan bahwa mekanisme pengawasan pendistribusian pupuk akan ditingkatkan untuk mengatasi keterlambatan ini.

“Mekanisme pengawasan pendistribusian pupuk akan ditingkatkan untuk mengatasi keterlambatan ini. Pemerintah juga telah memangkas regulasi distribusi pupuk subsidi dari PI ke petani, agar petani tidak lagi kesulitan dalam mendapatkan pupuk,” kata Taufieq Hidayat dalam keterangannya.

Selain itu, Kadistanbun NTB mengungkapkan bahwa pada tahun 2023, target produksi beras NTB adalah 1,4 juta ton, namun tercapai 1,54 juta ton. Meskipun surplus, pengelolaan cadangan beras masih menjadi masalah karena banyaknya hasil pertanian yang dibawa keluar daerah saat panen raya, sementara di musim kemarau NTB justru mendatangkan beras dari luar.

“Ini mengganggu ketahanan pangan daerah dan menyebabkan inflasi. Sehingga kami mengusulkan ke pihak Bulog yang mendapatkan fungsi penugasan dalam menyerap hasil petani agar mekanisme penyerapan dan pengelolaan stok beras dilakukan secara lebih terukur,” ujarnya.

Terkait program cetak sawah baru, Kadistanbun NTB menginformasikan bahwa program tersebut masih tertunda oleh pemerintah pusat, dengan fokus saat ini pada pengembangan cetak sawah pada lahan rawa.(ris)

Jangan Lewat Calo, Urus Klaim BPJS Ketenagakerjaan Itu Gampang

0
Boby Foriawan(ekbisntb.com/bul)

BADAN Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan jasa calo dalam pengurusan klaim jaminan sosial. Pasalnya, prosedur klaim BPJS Ketenagakerjaan kini semakin mudah dan transparan, sehingga peserta bisa mengurusnya sendiri tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan NTB, Boby Foriawan menegaskan bahwa semua layanan klaim bisa dilakukan secara langsung melalui kanal resmi yang telah disediakan.

“Klaim bisa menggunakan JMO, web Lapak Asik maupun datang langsung ke Kantor Cabang terdekat. Di Kantor Cabang NTB sendiri sudah sering kita imbau baik secara lisan maupun spanduk yang terpampang agar tidak menggunakan calo” ujar Boby Foriawan akhir pekan kemarin.

Menurut Boby, BPJS Ketenagakerjaan menyediakan berbagai layanan klaim, mulai dari Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Pensiun (JP) hingga Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Setiap proses klaim memiliki persyaratan yang jelas dan dapat diakses melalui situs resmi www.bpjsketenagakerjaan.go.id.

Sayangnya, masih banyak peserta yang tergiur menggunakan jasa calo karena termakan iming-iming proses yang lebih cepat. Padahal, selain berisiko mengalami penipuan, penggunaan jasa calo juga dapat mengakibatkan kebocoran data pribadi yang dapat disalahgunakan.

“Sering ada anggapan, ambil klaim BPJS Ketenagakerjaan susah, padahal tidak. Kalau memang kita susah, sehari itu datang 100 orang dan itu kita cairkan, gak susah kan. Yang penting datanya lengkap dan sesuai,” katanya.

Boby mengingatkan, bagi peserta yang mengalami kesulitan dalam pengajuan klaim, BPJS Ketenagakerjaan menyediakan layanan informasi melalui call center 175 atau datang langsung ke kantor cabang terdekat. Dengan adanya kemudahan ini, diharapkan peserta tidak lagi bergantung pada perantara yang justru dapat merugikan mereka sendiri.

Dengan prosedur yang semakin sederhana, tidak ada alasan lagi bagi peserta untuk menggunakan jasa calo. Pastikan untuk mengurus klaim BPJS Ketenagakerjaan melalui jalur resmi agar mendapatkan manfaat jaminan sosial dengan aman dan nyaman.

“Jadi jangan sampai ada peserta yang menggunakan calo untuk klaim BPJS Ketenagakerjaan. Tidak ada gunanya dan data pribadi rawan disalahgunakan,” tegas Boby.(bul)

Potret Warga Pondok Teres Sekotong, Hanya Andalkan Panel Surya untuk Penerangan

0
H. Ruslan membersihkan panel surya diatas atap gubuknya. Dari panel surya ini, keluarganya mendapatkan penerangan malam hari dari lapu 3 watt (ekbisntb.com/bul)

Di balik pesona eksotis Sekotong yang terkenal dengan pantai-pantai indah dan gugusan Gili yang memikat, terdapat realitas lain yang jauh dari gemerlap dunia pariwisata. Sebagian warga di daerah ini masih hidup dalam keterbatasan, terutama akses listrik.

Warga Pondok Teres, Desa Buwun Mas Kecamatan Sekotong Barat, Lombok Barat belum seberuntung wisatawan yang datang menikmati keindahan alamnya, sebab hingga kini, listrik dari jaringan utama belum menyentuh banyak rumah warga.

H. Ruslan, tinggal bersama keluarganya di sebuah gubuk sederhana. Di atas punggung bukit nan indah di Sekotong. Gubuknya ada di pinggir jalan beraspal yang menembus Kawasan Pariwisata Strategis Nasional, Mandalika Lombok Tengah.

H. Ruslan tengah duduk berkumpul bersama keluarganya. Di dalam rumah panggung yang sangat sederhana. Satu keluarga ini sedang duduk termenung, menyaksikan hujan. Mereka lantas menggeser tempat duduk, seolah membuka ruang ketika sejumlah wisatawan lokal numpang berteduh di gubuknya, Sabtu, 8 Februari 2025.

Wisatawan lokal ini terdiri dari konsumen loyal sepeda motor Honda, bloger vlogger, komunitas HALO serta KOL tengah menjelajah indahnya Sekotong menggunakan skutik andalan Honda, seperti Honda PCX, ADV, dan Stylo. Mereka baru saja turun dari Tugu Persaudaraan Bikers.

Punggung-punggung bukit di sekotong memang tengah sangat indah, hijau. Di bawah gubuk H. Ruslan, terhampar deburan ombak, dengan air yang hijau, biru, pasirnya putih. Berdiri di depan gubuk H. Ruslan sambil melihat pantai yang sangat indah dibawah, rasanya seperti berada di alam dalam dongeng-dongeng.

Sudah enam tahun keluarga ini hidup dengan kondisi serba terbatas. Tanpa jaringan listrik, satu-satunya harapan untuk penerangan berasal dari panel surya yang dibeli secara mandiri.

“Dulu beli perangkat panel seharga Rp1,5 juta, beli sendiri karena tidak ada jaringan listrik,” ungkapnya.

Namun, panel surya yang dimiliki warga hanya cukup untuk menyalakan satu lampu kecil dengan daya 3 hingga 5 watt.

“Nyala hanya untuk satu balon, kalau accu-nya bagus. Itu saja. Hanya satu balon. Ndak mampu kalau lebih,” tambahnya.

Panel surya ini tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik yang lebih besar seperti kulkas, televisi, atau peralatan elektronik lainnya. Dan keluarga ini memang tak punya perabot-perabot itu.

Kehidupan tanpa listrik juga membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit. Salah satu tantangan terbesar adalah mengisi daya telepon genggam.

“Ada pakai hape, kalau nge-charge turun ke bawah, jarak 1 km. Kadang-kadang bayar, kadang gratis. Setiap hari turun nge-charge. Mau bagaimana lagi, tidak ada listrik,” keluh H. Ruslan.

Kondisi ini tidak hanya dialami oleh H. Ruslan, tetapi hampir semua warga di desa tersebut. Setiap rumah bergantung pada panel surya untuk penerangan di malam hari. Harapan mereka hanya satu, agar listrik segera masuk ke daerah mereka agar kehidupan mereka bisa lebih baik.

“Kalau ndak masuk listrik, tetap begini saja,” ujarnya dengan nada pasrah.

Realitas pahit yang dialami warga Sekotong ini menjadi kontras dengan keindahan wisata yang mereka miliki. Saat para wisatawan menikmati keindahan pantai dengan segala fasilitasnya, warga justru harus berjuang dalam kegelapan di rumah mereka sendiri. Sekotong memang surga bagi wisatawan, tetapi bagi sebagian besar warganya, kehidupan mereka masih jauh dari kata sejahtera.(bul)

Belanja Barang dan Jasa Disesuaikan, Rp 47 Miliar Dana Transfer Pusat ke Lobar Dipangkas

0
H.Fauzan Husniadi dan H.Ahmad Saikhu (ekbisntb.com/dok)

Dana Transfer Umum (DTU) dari Pemerintah Pusat ke Pemkab Lombok Barat (Lobar) dipangkas sebesar Rp47 miliar lebih. Akibat pemangkasan ini, pihak Pemkab Lobar pun terpaksa menyesuaikan atau memangkas belanja program Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) yang menyebabkan banyak proyek fisik pun batal.

“KITA kena sekitar Rp47 miliar, itu banyak di Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perikanan dan OPD lainnya,” terang Penjabat (Pj) Sekda Lobar H, Fauzan Husniadi, akhir pekan kemarin.

Karena itu merupakan perintah pusat, maka Pemkab Lobar pun mengikuti petunjuk pemerintah pusat, dan mau tidak mau harus menyesuaikan. Langkah Pemkab Lobar pun melakukan penyesuaian belanja terhadap program terkena pemangkasan tersebut.  “Belanja program barang dan jasa kita sesuaikan, karena anggarannya dipangkas,” imbuhnya.

Apakah pemangkasan anggaran ini tak terlalu berdampak terhadap pemimpin baru? Menurutnya tidak terlalu berdampak, karena pihak Pemkab Lobar pun telah menyiapkan langkah antisipasi. Sebab yang namanya dinamika kebijakan semacam ini hal lumrah, sehingga disiapkan langkah mitigasi.

Langkah antisipasi yang dilakukan di antaranya mendongkrak PAD, melakukan efisiensi beberapa belanja yang bisa diefisiensi untuk menutupi celah fiskal, sehingga tidak terlalu menghambat program-program yang telah direncanakan tahun 2025 ini. Artinya target daerah tidak ada yang disesuaikan atau diturunkan. “Target tidak ada yang disesuaikan,” kata dia.

Kaitan dengan PAD, OPD pun didorong agar lebih mengencangkan lagi upaya dalam menghasilkan PAD untuk menutupi kekurangan fiskal atau keuangan daerah akibat kebijakan penyesuaian ini. Terutama upaya Pemkab Lobar dan OPD harus mencari strategi untuk menutup celah itu dari PAD dengan mencari sumber PAD baru.

Diketahui, terdapat 16 item yang dipangkas untuk memenuhi angka 300 triliun lebih untuk membiayai program prioritas.

Sementara itu, Kepala Bappeda Lobar H. Ahmad Saikhu menerangkan sesuai sesuai SE tiga Menteri, Pemkab diminta mencadangkan, sehingga Pemkab Lobar belum berani melakukan lelang proyek. “Yang banyak itu di Dinas PU dan Kelautan,” terangnya.

Ia menambahkan, dampak terhadap rencana tahun 2025-2026 mengacu Rencana Pembangunan Daerah (RPD) diperkirakan tidak terlalu berdampak.

Sementara itu, Kepala Bapenda Lobar H. Moh Adnan mengatakan dana transfer disesuaikan, sehingga memaksimalkan PAD harus dilakukan oleh daerah. “Kita berupaya maksimalkan PAD, tergantung beliau-beliau, kalau dikurangi (dana transfer) maka belanja dikurangi, kalau belanja ditetapkan otomatis PAD dinaikkan maka otomatis PAD harus dinaikkan, dari sisi mana dinaikkan perlu kajian lagi,” terangnya.

PAD perlu ditingkatkan untuk memaksimalkan belanja, namun untuk menaikkan itu perlu dibahas dan dikaji lagi. Atau bisa juga dilakukan efisiensi belanja seperti mengurangi perjalanan dinas dan kegiatan yang tidak penting. Untuk diketahui target PAD tahun ini mencapai Rp490 miliar baik BLUD maupun non BLUD, khusus di Bapenda saja mencapai Rp205 miliar. Kalau melihat gambaran capaian tahun lalu mencapai 96,2 persen dari target Rp406 miliar. Khusus capaian PAD non BLUD, dari target Rp184 miliar lebih dicapai hampir 100 persen dengan angka 99,2 persen. Ia pun optimis bisa mencapai target sebab surplus capaian PAD tahun 2024 mencapai Rp5 miliar lebih ditambah tahun ini ada beban utang Pemkab ke pihak ketiga yang harus disetorkan. (her)

Pemprov NTB Optimis Pertanian Topang Target Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen

0
Petani NTB sedang panen padi. Pemprov yakin pertanian akan menopang pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen. (ekbisntb.com/era)

Pemerintah Provinsi NTB optimis sektor pertanian mampu menopang target pertumbuhan ekonomi 7 persen di tahun 2025. Meski NTB mengalami penurunan produksi padi di tahun 2024 jika dibandingkan tahun 2023, produksi tahun 2024 mencapai target nasional yaitu 1,45 juta ton gabah kering giling.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Provinsi NTB, Muhammad Taufieq Hidayat mengatakan NTB mengalami surplus di tahun 2023 lalu yang mana target hasil panen untuk NTB adalah 1,4 juta ton. “Kemarin kita itu, yang 1,5 juta ton itu targetnya 1,4 juta ton,” ujarnya saat dihubungi Ekbis NTB, Sabtu, 8 Februari 2025.

Dengan hasil panen petani NTB yang melebihi 1 juta ton setiap tahunnya, Taufieq optimis sektor ini mampu menopang target pertumbuhan ekonomi 7 persen NTB. Apalagi, di tahun 2024, berdasarkan data BPS, sektor pertanian menjadi sektor dengan share tertinggi yang memberi andil terbesar pertumbuhan ekonomi berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Yang mana sektor pertanian sebanyak 20,06 persen, pertambangan 19,02, perdagangan 14,47 persen dan konstruksi 9,74 persen.

Selain itu, sektor pertanian menyerap tenaga kerja dengan jumlah yang cukup tinggi yaitu mencapai 960 ribu penduduk dari 2,93 juta tenaga kerja yang ada di NTB. “Sekitar 28 persen tenaga kerja kita yang diserap oleh sektor pertanian, dan yang berusia 19 tahun sampai 39 tahun itu sekitar 260 ribu orang,” sambungnya.

Dikatakan, penyerapan tenaga kerja oleh sektor pertanian ini terus meningkat setiap tahunnya, sehingga, selain menyumbang hasil pertanian, sektor ini juga membantu mengurangi jumlah pengangguran di daerah.

Adapun untuk hasil panen petani di tahun ini, Taufieq optimis NTB akan mencapai target yang telah ditetapkan oleh pusat. Hal ini karena Lahan Baku Sawah (LBS) NTB saat ini seluas 237 ribu hektar dari 600 hektar Lahan Cadangan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LCP2B).

“Dan indeks pertanaman kita baru 120, yang harusnya kita bisa 300, artinya 3 kali tanam, jadi kita di indeks 120 indeks pertanaman kita sudah surplus 30 persen. Apalagi kita masih ada 180, itulah alasan mengapa NTB menjadi lumbung pangan nasional,” jelasnya. (era)

Lebah Sempaga: Surga Camping dan Caving di Pulau Lombok

0
Gua Lawah, salah satu potensi wisata yang ada di Desa Lebah Sempaga, Kecamatan Narmada, Lobar. (ekbisntb.com/ist)

Lombok Barat (Lobar) memiliki banyak objek wisata yang belum dikelola secara maksimal. Salah satunya, adalah Desa Lebah Sempaga di Kecamatan Narmada. Berada di kaki Gunung Layur, di sisi tenggara Gunung Rinjani, Desa Lebah Sempaga menawarkan suasana pedesaan yang asri dengan pemandangan alam yang menakjubkan.

GUNUNG Rinjani dan anak-anaknya bisa dinikmati dari lokasi ini. Sungai alami mengalir melintasi lembah, dan deretan tebing batu yang terukir indah oleh alam akan memberikan kesan puas bagi para pengunjung yang datang.Di beberapa titik, terdapat sejumlah gua, namun yang paling populer adalah Gua Lawah, atau sering disebut Gua Gerodokan oleh sebagian warga.

Pemerhati Potensi Wisata Adith R Alfath, menjelaskan, Gua Lawah bukanlah sebuah destinasi wisata baru. Sejak awal tahun 90-an, gua ini telah menjadi lokasi perkemahan yang populer di kalangan pecinta alam. Keberadaan lahan lapang yang cukup luas di atas badan gua yang dikelilingi pepohonan lebat, menjadikannya tempat yang sempurna untuk berkemah (camping).

Pada masa lampau, ujarnya, Gua Lawah merupakan tempat masyarakat kuno Suku Sasak menyepi dan bermeditasi untuk mencari ketenangan. Hal ini dapat dibuktikan dengan ditemukannya sejumlah uang kepeng kuno dan benda pusaka yang tertimbun di balik dinding gua dan di antara deretan altar batu yang tersebar di dalam masing masing ruang gua.

‘’Cerita tutur mengatakan bahwa keberadaan Gua Lawah telah diketahui sejak zaman Anak Agung. Konon, salah seorang keluarga raja pernah menyusuri gua dengan bermodalkan seikat bobok (daun kelapa kering) sebagai penerang dan keluar di Gua Lawah, Klungkung, Bali. Kemungkinan dari peristiwa itulah gua ini mendapatkan namanya sebagai Gua Lawah. Sebuah nama yang sama persis dengan Gua Lawah di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung,  Bali,’’ terangnya dalam keterangan tertulis yang diterima Ekbis NTB, Minggu 9 Februari 2025.

Adith menambahkan, Pulau Lombok memiliki landskap yang didominasi oleh pegunungan dan keberadaan gua bisa ditemukan di banyak tempat pulau Lombok. Hanya saja belum “satupun” yang dikelola dengan baik sebagai sebuah destinasi wisata. Bahkan sebuah gua yang berada di pusat turis, seperti Gili Trawangan, belum tersentuh sama sekali.

‘’Padahal gua tersebut tidak hanya menawarkan keunikan kontur alam, tetapi juga menyimpan sejarah pendudukan Jepang di masa lalu,” jelasnya.

Bagi masyarakat Pulau Lombok, ujarnya, kegiatan menjelajahi gua bukanlah hal yang baru. Sejak zaman dahulu kala, masyarakat Lombok telah terbiasa menjadikan gua sebagai lokasi bertapa atau semedi yang pada praktiknya sama saja dengan meditasi bagi para Yogis.

“Melihat fakta ini, Lombok memiliki peluang besar untuk menjadi destinasi caving yang layak diperhitungkan oleh para petualang, bahkan Speleolog yang mempelajari tentang gua. Bagi wisatawan umum, beberapa gua di pulau Lombok bisa menjadi destinasi semi-adventure dan Wellness Retreat. Salah satunya ya Gua Lawah ini.” Jelas  Adit.

Selain Gua Lawah, ujarnya, terdapat sebuah sungai alam yang pada peta Hindia Belanda terbitan tahun 1894 disebut Eat Palang. Sungai ini mengalir persis di bawah badan gua, dan di sisi kiri serta kanannya terdapat sekitar 9 air terjun kecil yang cukup cantik yang memperkuat keindahan alam dan daya tarik Desa Lebah Sempaga sebagai destinasi wisata caving dan camping yang berbeda dengan tempat lainnya di pulau Lombok.

Menurut Sapta Setiawan, Pelopor dan Penggiat Pariwisata Desa Lebah Sempaga, sembilan air terjun yang mengalir dari dinding dinding tebing sungai baik di sisi kiri maupun kanan sejatinya memiliki debit air yang besar dan konsisten sepanjang tahun, namun sebagian besar airnya telah dimanfaatkan untuk keperluan PDAM, PLTMH, dan juga untuk keperluan air minum warga Desa Lebah Sempaga.

Sementara, Mada, selaku pengelola wisata Gua Lawah Lebah Sempaga, menjelaskan untuk mendukung kebutuhan para pengunjung, telah tersedia sejumlah fasilitas yang lengkap dan memadai. Hal ini dilakukan untuk memastikan kenyamanan dan pengalaman berkemah yang menyenangkan bagi setiap pengunjung.

Beberapa fasilitas yang tersedia antara lain, toilet, musala, warung deret, listrik, area parkir, akses masuk: ‘’Akses masuk ke lokasi wisata yang sudah di rabat dengan jarak hanya 230 meter dari badan jalan utama Desa Lebah Sempaga, memudahkan pengunjung untuk mencapai lokasi tanpa kesulitan,’’ terangnya.

Selain itu, bagi pengunjung yang ingin berkemah tetapi tidak membawa peralatan, Wisata Gua Lawah Lebah Sempaga juga menyediakan penyewaan berbagai perlengkapan camping, seperti tenda, hammock, griller, dan keperluan lainnya. Fasilitas ini dirancang untuk memastikan pengunjung dapat menikmati pengalaman berkemah tanpa harus repot membawa banyak barang.

‘’Tidak hanya itu, pengunjung juga dapat memancing di kolam ikan nila yang berada di lokasi. Ikan hasil tangkapan dapat langsung dipanggang di tempat yang telah disediakan, menambah keseruan dan kenikmatan berkemah di Gua Lawah,’’ ujarnya. (ham)

Rutin Dikunjungi Tamu Kapal Pesisar, Cagar Budaya Taman Narmada Suguhkan Atraksi Seni Bagi Pengunjung

0
Tamu kapal pesiar berkunjung ke Cagar Budaya Taman Narmada disuguhi atraksi budaya. (ekbisntb.com/ist)

Cagar Budaya Taman Narmada atau Narmada Park Heritage, salah satu destinasi wisata yang cukup ramai dikunjungi di Lombok Barat (Lobar). Termasuk pengunjung dari tamu kapal pesiar yang rutin berkunjung ke destinasi wisata ini. Sebagai upaya terus menggenjot angka kunjungan tersebut, pihak pengelola pun melakukan beberapa terobosan.

Di antaranya menyuguhkan atraksi seni budaya bagi pengunjung. Pihak pengelola bekerjasama dengan sekolah yang ada di sekitar Taman Narmada. “Kita mengembangkan kerjasama kebudayaan dengan SMA 1 Narmada, karena memiliki talenta kesenian yang banyak, gendang beleq, penari. Itu kita tampilkan (suguhkan) bagi pengunjung. Dan alhamdulillah kepala sekolah juga antusias,” kata Direktur PT Tripat Eko Esti Santoso, S.E,, M.M., M.H., akhir pekan kemarin.

Pihaknya akan menyuguhkan atraksi kesenian di Taman Narmada secara berkala, yakni pada Minggu pertama awal bulan atau pada momen ramainya pengunjung. Bahkan khusus bagi tamu kapal pesiar secara khusus diadakan penyambutan dengan kesenian. Hal ini, jelasnya, salah satu terobosan pihaknya dalam melayani tamu, khususnya pengunjung kapal pesiar. Apalagi tamu kapal pesiar sekarang menginap sehari di Lombok.

Tamu kapal pesiar rutin berkunjung ke Taman Narmada. Satu kali berkunjung tamu kapal pesiar, ada sekitar 4-5 bus rombongan yang berkunjung ke Taman Narmada. “Ada 4 bus yang dibawa berkunjung ke sini,” imbuhnya.

Pihaknya juga memanfaatkan bangunan yang sudah bagus (dipugar) seperti Bale Terang, Bale Gede dan Landscape Taman. Hal ini menambah daya tarik bagi pengunjung. “Supaya momentum (pemugaran) tidak hilang, kami pun back up terus dengan ada kegiatan (atraksi seni budaya) bekerjasama dengan sekolah wilayah sekitar (taman),” imbuhnya.

Selain itu, pihaknya akan menambah jadwal kegiatan atraksi seni budaya tersebut agar lebih banyak. Selain ia berharap dari Pemkab Lobar juga mengadakan kegiatan di taman Narmada. Dikatakan Eko, sesuai targetnya di tahun pertama menjadi Direktur PT Tripat, ia membenahi manajemen, amenitas dan lainnya.

Di tahun keduanya, ia mulai mengembangkan yang ada dan belum ada. Di tahun pertamanya, ia berhasil menyumbang PAD kepada Pemkab Lobar, sehingga ke depan ia berharap PAD ini bisa bertambah. Untuk itu, pihaknya juga berencana mengembangkan sayap usaha dengan membuka air isi ulang. Dengan begitu maka usaha akan bertambah di PT Tripat khususnya di Taman Narmada.

Terkait itu, pihaknya telah meminta Dinas Kesehatan turun untuk mengecek kondisi air di Taman Narmada yang nantinya untuk usaha air isi ulang. Sebab selain rencana sebagai usaha, salah satu daya tarik yang dijual di Taman Narmada itu adalah airnya. (her)

Konstruksi Jalan Lapen Sebagian Dirabat,  ULP Klaim Tak Sentuh Ranah Teknis

0
Titik awal konstruksi jalan lapen dirabat oleh pemenang tender(ekbisntb.com/ist)

PEMBANGUNAN ruas jalan Dusun Medain – Tuban, Desa Tegal Maja, mengundang pertanyaan. Pasalnya, sekitar 100 meter ruas jalan dengan konstruksi lapen tersebut, dikerjakan dengan cara rabat menggunakan campuran semen. Alih-alih rabat berada di ujung atau titik akhir ruas jalan, rabat justru berada di titik nol atau titik awal yang menyambung konstruksi hotmix.

Informasi yang dihimpun koran ini, proyek konstruksi pada ruas jalan tersebut bernilai Rp2.720.000.000. Mengacu pada informasi LPSE – ULP Kabupaten Lombok Utara (KLU), proyek tersebut dimenangkan oleh CV. Fenta Jaya dengan nilai kontrak Rp 2.654.747.067.

Dari tayangan pada ULP pula, proyek tersebut “dilamar” oleh 14 badan usaha swasta. Namun dari semua pelamar, hanya CV. Fenta Jaya yang melakukan penawaran secara resmi sehingga CV tersebut diklaim sebagai penawar tunggal.

Plt. Kepala Bagian Pengadaan Barang dan Jasa, Hasto Wahjono, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, mengaku tidak mengetahui hal teknis yang berkaitan dengan konstruksi jalan yang sebagiannya kecilnya dirabat tersebut. Namun demikian, ia memastikan bahwa tipe konstruksi paket jalan tersebut adalah seluruhnya lapen.

“Paket ruas jalan Medain – Tuban kalau tidak salah, itu tender dini tahun 2024 dengan pagu Rp 2,72 miliar. Mengenai proses pekerjaan,l saya rasa itu jadi tanggung jawab dinas. Kalau secara tender, saya jamin tidak ada masalah,” ungkap Hasto, Jumat 7 Februari 2025.

Ia juga mengakui, jika proyek tersebut dilamar oleh 14 peserta (perusahaan). Hanya, dalam proses tawar menawar, hanya 1 pendaftar, yakni CV. Fenta Jaya yang melengkapi seluruh dokumen hingga dinyatakan sebagai pemenang tender.

Hasto mengklaim tidak mengetahui perihal Juklak/juknis proyek yang bersumber dari DAK Transportasi Pedesaan tahun 2024. Sesuai usulan pekerjaan, kualitas konstruksi adalah jalan lapen dikarenakan untuk mengejar panjang jalan sembari menunggu peningkatan kualitas kalan pada anggaran tahun-tahun berikutnya.

“Secara teknis lapangan dinas yang tahu. Tapi dengan anggaran segitu (Rp 2,654 miliar), ya bisa kira-kira 3 sampai 4 kilometer. Titik nol memang dari Medain. Apakah itu bisa menjadi masalah (dimulai dengan rabat), kita akan tahu setelah BPK masuk,” ucap Hasto. (ari)