Di lereng Gunung Rinjani yang diselimuti rimbunnya vegetasi hijau, gemercik air Sungai Sidutan di Desa Santong, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, menyimpan sebuah kekuatan tersembunyi. Aliran air yang jernih dan deras tersebut tidak hanya menghidupi ekosistem di sekitarnya, tetapi juga menjadi nadi penggerak bagi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Santong. Di ruang kontrol yang tenang namun penuh konsentrasi, Agoes Putu Mariandana selaku Team Leader Operasional PLTMH Santong memantau layar instrumen yang merekam denyut kelistrikan pulau seribu masjid ini. Bagi Agoes dan timnya, setiap liter air yang mengalir menyimbolkan komitmen nyata dalam merajut kemandirian energi bersih di Bumi Gora.
“Untuk Santong, kita melewati Daerah Aliran Sungai (DAS) Sidutan. Jalurnya mulai dari intake, melalui waterway sampai ke head tank, lalu dialirkan lewat pipa penstock langsung meluncur ke turbin,” ujar Agoes saat ditemui di ruang kontrol fasilitas tersebut pada Kamis 29 Oktober 2026.
Sebagai salah satu pilar energi terbarukan di bawah naungan PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTB, PLTMH Santong memegang peranan vital. Berbekal teknologi turbin berstandar spesifikasi asal Prancis dengan ketinggian head sekitar 82,42 meter, fasilitas ini dirancang untuk memproduksi daya maksimal hingga 1.000 kilowatt (kW) atau setara dengan 1 megawatt (MW). Dalam operasinya, pembangkit ini mengandalkan debit air yang melimpah, berkisar antara 1,3 hingga 1,5 meter kubik per detik ketika berada di beban puncak.

Tantangan Musim dan Perawatan Berkelanjutan
Kendati memegang peran strategis, perjalanan mengoptimalkan energi air tidak luput dari tantangan alam. Perubahan iklim global dan anomali cuaca yang panjang, seperti fenomena El Nino, memberikan dampak nyata terhadap ketersediaan pasokan air dari hulu ke hilir. Agoes mengungkapkan bahwa faktor cuaca panas yang berkepanjangan berdampak langsung pada fluktuasi debit air dari tahun ke tahun.
“Dari tahun ke tahun kita mengalami penurunan debit air, terutama di musim kemarau atau panas yang bisa dibilang El Nino panjang. Dari biasanya beban penuh 1 MW, saat ini posisinya berada di kisaran 370 kW karena penurunan debit, sehingga produksi kita juga mengalami penyesuaian,” jelas Agoes .
Di tengah tantangan tersebut, ketelitian operasional tetap dikedepankan. Para petugas secara rutin membersihkan material sampah atau ranting pohon yang tersangkut di bagian penyaring air (trash rack) sebelum memasuki sistem pembangkit. Langkah mitigasi ini tidak hanya menjaga kelancaran sirkulasi air, tetapi juga melindungi komponen turbin dari potensi kerusakan akibat material yang terbawa arus sungai.
Listrik yang dihasilkan dari PLTMH Santong kemudian disalurkan dan disinkronkan ke dalam sistem kelistrikan interkoneksi Pulau Lombok pada tegangan 150 kV. Sistem interkoneksi ini meleburkan pasokan dari berbagai wilayah—baik Lombok Barat, Lombok Tengah, hingga Lombok Timur—sehingga distribusi energi menjadi lebih stabil, merata, dan tidak terpaku pada satu wilayah geografis tertentu.

Akselerasi Transisi Energi Hijau di Nusa Tenggara Barat
Keberadaan PLTMH Santong merupakan bagian dari mozaik besar komitmen PLN dalam mendorong transformasi struktural menuju energi hijau yang rendah emisi dan berkelanjutan. Berdasarkan data sistem kelistrikan regional, PLN NTB saat ini mengelola total kapasitas pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 39,20 MW. Dari angka tersebut, sekitar 16,47 MW disumbangkan oleh jajaran pembangkit tenaga mikrohidro yang tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa.
Kontribusi signifikan ini menopang pencapaian bauran energi bersih di NTB yang terus merangkak naik. Hingga Mei 2025, bauran energi bersih tercatat berada di angka 5,11%, dan bahkan terus diakselerasi hingga mencapai 5,35% dari total kapasitas terpasang. Angka ini diproyeksikan melonjak drastis hingga mencapai 25,20% pada tahun 2034 mendatang, sejalan dengan peta jalan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
Dalam dokumen RUPTL 2025–2034 tersebut, PLN NTB menetapkan target ambisius berupa penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 457 MW, atau setara dengan 36,94 persen dari total tambahan kapasitas listrik di wilayah ini hingga tahun 2034. Khusus untuk Pulau Lombok, pengembangan EBT direncanakan menyerap porsi hingga 190 MW, dengan konsentrasi utama pada pemanfaatan energi surya berteknologi baterai serta potensi tenaga air.

Sinergi Multi-Pihak Menuju Net Zero Emission
Transformasi sektor kelistrikan di NTB tidak berjalan sendiri. Kehadiran pembangkit ramah lingkungan ini mencakup berbagai skala—mulai dari skala mikro, menengah, hingga sistem hibrida terintegrasi yang menjangkau pulau-pulau terdepan dan terluar. Di sektor mikrohidro, lanskap energi NTB diperkuat oleh deretan pembangkit yang dikelola secara mandiri maupun melalui skema Independent Power Producer (IPP) bersama mitra swasta.
Beberapa nama yang turut menggerakkan roda EBT di daerah ini meliputi PLTMH Pengga, PLTMH Narmada, PLTMH Santong, serta fasilitas IPP swasta seperti PLTMH IPP Kukusan (PT Persada Karya Tama), PLTMH IPP Sesaot (PT Tirta Daya Rinjani), PLTMH IPP Kokoq Putih (PT Nusantara Indo Energi), dan PLTMH IPP Cakra (PT Tirta Daya Rinjani).
Seluruh kolaborasi lintas sektor ini diarahkan untuk mendukung visi besar Pemerintah Provinsi NTB: menjadi wilayah pionir berbasis energi bersih dan rendah karbon yang membidik target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2050—sepuluh tahun lebih cepat dari target nasional pada tahun 2060.
Komitmen tersebut ditegaskan oleh pihak PLN yang menyatakan kesiapan penuh untuk terus bersinergi dengan Pemprov NTB dan seluruh pemangku kepentingan. Melalui ekspansi pembangkit EBT, penguatan keandalan sistem interkoneksi, serta program inovatif seperti penyediaan Renewable Energy Certificate (REC) bagi pelanggan, PLN optimis NTB mampu bertransformasi menjadi teladan nyata provinsi berkelanjutan di Indonesia. Dari tetesan air di hulu Sungai Santong, masa depan energi hijau yang mandiri, bersih, dan berkeadilan perlahan namun pasti mulai terwujud nyata di Bumi NTB. (fan)







