BerandaEKONOMI & BISNISDeru Mesin dan Riuh Kuali: Catatan Pinggir dari Sirkuit Mandalika

Deru Mesin dan Riuh Kuali: Catatan Pinggir dari Sirkuit Mandalika

Sore itu, deru mesin motor kencang berkapasitas 1000cc yang membakar lintasan Pertamina Mandalika International Circuit perlahan surut. Debu tipis melayang disinari cahaya matahari senja pesisir selatan Lombok yang mulai memerah. Namun di balik tribun utama Grandstand A, keriuhan lain justru belum betul-betul usai.

Di salah satu tenda bernuansa putih-merah, Bu Eny sigap menyapu sisa-sisa bumbu Nasi Ayam Paman Budi di wadah baja nirkarat miliknya. Napasnya terengah, tetapi senyum mengembang lebar di wajah wanita asal Lombok Timur tersebut. Hari baru menunjukkan pukul 6 sore pada Minggu, 11 Oktober 2026 di hari terakhir perhelatan akbar Pertamina Grand Prix of Indonesia, tetapi jualan Eny sudah nyaris bersih tak tersisa.

“Dagangan saya mau ludes Insya Allah, mudah-mudahan. Untuk di sini ayam aja kami jual. Kalau di rumah ya macam-macam,” ujar Eny sembari.

- Advertisement -

Sejak pukul 09.00 Wita, lapak Eny tak pernah sepi. Ribuan penonton yang lelah bersorak mendukung pebalap favorit mereka berbondong-bondong memburu aroma gurih rempah Lombok. Bagi Eny dan puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lainnya, akhir pekan penyelenggaraan balapan 9–11 Oktober 2026 tersebut bukanlah sekadar tentang pesta adu cepat. Ini adalah panggung perjuangan hidup, panggung di mana nasib usaha kecil dipertaruhkan untuk bisa menembus batas.

Tak jauh dari tenda Bu Eny, kesibukan serupa melanda lapak Cheria Chili. Lia, pengelola usaha kuliner cepat saji lokal tersebut, tampak menyeka peluh di dahi sembari menata sisa kemasan burger dan kentang goreng. Selama tiga hari gelaran MotoGP, ia menyaksikan sendiri bagaimana gelombang manusia membanjiri kawasan sirkuit usai balapan selesai.

Lia mengingat betul bagaimana kurva penjualannya melejit tajam. Jika pada hari Jumat penjualannya bertahan di angka 200 porsi, angka itu melesat drastis pada Sabtu dan Minggu hingga menyentuh total 500 porsi makanan habis terjual.

“Mulai hari Jumat sampai hari Minggu lebih drastis hari Sabtu dan Minggu. Untuk penjualan di hari Jumat kita 200 porsi, kalau hari Sabtu dan Minggu bisa sampai 500 porsi,” tutur Lia sambil melayani pembeli.

Dalam kurun waktu tiga hari yang melelahkan itu, kantong Cheria Chili membengkak. Omzet penjualan mereka tembus sekitar Rp20 juta. Bagi Lia, kesempatan berpartisipasi dalam ajang global adalah batu loncatan yang langka.

“Sangat menguntungkan. Semoga bisa diajak bergabung lagi oleh Pertamina agar bisa ikut berpartisipasi lagi di MotoGP Mandalika 2027,” tambahnya penuh harap.

Cerita manis itu dikonfirmasi oleh Nurul dari Spicy Bag. Menurutnya, masuk ke dalam ekosistem perhelatan internasional Sirkuit Mandalika memberikan ruang bernapas yang sangat lega bagi keuangan usaha kecil. Keuntungan finansial langsung berbanding lurus dengan peningkatan skala usaha.

Senada dengan Nurul, Maria pemilik usaha Komiku tak bisa menyembunyikan rasa sukacitanya. Bagi Maria, tahun 2026 adalah kali keempat ia dipercaya menjadi mitra binaan Pertamina dalam ajang balap dunia ini. Namun, ia mencatat ada perbedaan mencolok pada perhelatan tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Kayak-nya tahun ini lebih ramai. Tahun ini beda banget daripada tahun kemarin. Meskipun tahun kemarin ramai, namun tahun ini lebih ramai,” Katanya.

Dari Pesona Garam Pesisir hingga Mangrove yang Lestari

Gegap gempita di Sirkuit Mandalika nyatanya tak hanya didominasi oleh asap kuliner dan wangi bumbu dapur. Di lorong stan non-kuliner, aroma terapi yang menenangkan menyeruak di antara lalu lalang penonton domestik dan mancanegara. Di sinilah Estuaria Salt unjuk gigi.

Usaha yang diusung oleh Lalu Andika Satriawan ini membawa cerita yang jauh lebih dalam dari sekadar angka transaksi. Berasal dari kawasan Keruak, Lombok Timur, Estuaria Salt berhasil mengolah garam lokal yang kerap dipandang sebelah mata menjadi produk-produk bernilai tambah tinggi seperti bath salt, massage oil, sabun aromaterapi, hingga lilin wangi.

Namun, bagi Andika, bisnis adalah alat pemberdayaan manusia dan alam. Di balik kemasan anggun Estuaria Salt, ada tangan-tangan tangguh ibu-ibu nelayan pesisir Lombok Timur yang menggantungkan harapan.

“Kami punya program memberdayakan ibu-ibu nelayan, salah satunya Ibu Sumarni. Ibu Sumarni ini yang membuat bath salt soap, dan Ibu Fatmawati yang membuat aroma therapy bath salt,” jelas Andika saat ditemui di booth-nya.

Tidak berhenti pada pemberdayaan sosial, Estuaria Salt menyuntikkan misi lingkungan hidup yang konkret dalam setiap transaksi dagangnya. Pesisir Lombok Timur yang rentan terhadap ancaman abrasi menjadi alasan utama Andika memutar sebagian keuntungan bisnisnya untuk restorasi ekosistem pantai.

“Salah satu program produk kami yaitu restorasi mangrove. Jadi hasil penjualan kami itu kita alihkan ke tanaman mangrove. Setiap pembelian Rp200 ribu dari customer, kita kasih customer tersebut bibit mangrove yang siap ditanam di pesisir Lombok Timur, karena di daerah kami itu sangat abrasi,” papar Andika.

Keberhasilan Andika menembus ajang internasional tidak datang begitu saja. Ia mengakui peran krusial pendampingan berkelanjutan dari PT Pertamina (Persero) melalui program UMK Academy. Di sana, para pelaku usaha tidak sekadar diberi lapak gratis, tetapi ditempa dengan berbagai keahlian manajerial modern.

Strategi Pertamina dan Peta Jalan UMKM Naik Kelas

Kehadiran puluhan pelaku usaha lokal seperti Eny, Lia, Maria, dan Andika di zona VIP dan publik sirkuit bukanlah kebetulan semata. Ini adalah bagian dari strategi terdesain yang dirancang oleh PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus.

Ahad Rahedi, Area Manager Communication Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, menegaskan bahwa keterlibatan UMKM lokal di ajang kelas dunia bertujuan untuk memberikan pendedahan berskala global.

“Yang pertama mendorong exposure UMKM. Dilihat oleh mata dunia saat pelaksanaan event. Penonton-penonton yang hadir tidak hanya dari lokal Indonesia, tetapi juga dari internasional. Ini peluang besar untuk menambah exposure paparan UMKM ke konsumen internasional atau ke kancah global,” terang Ahad Rahedi.

Ahad menambahkan, prioritas utama Pertamina dalam pemilihan penyeleksian stan adalah mengedepankan produk-produk lokal asal NTB terlebih dahulu sebelum membuka porsi bagi UMKM unggulan dari provinsi sekitar.

“Hampir semua UMKM yang kita libatkan, baik dari sektor kuliner maupun kerajinan, selalu menyatakan tercapai omzet di luar yang diperkirakan. Bahkan dari tahun lalu kita prioritaskan UMKM yang di NTB, baru sisanya unggulan dari masing-masing provinsi di wilayah kami, baik Jawa Timur, Bali, dan NTT, supaya gelaran internasional ini menjadi peluang utama UMKM di NTB untuk naik kelas,” imbuh Ahad.

Tahun ini, sebanyak 30 UMKM binaan unggulan ditempatkan di lokasi paling strategis, persis di belakang tribun Grandstand A. Penempatan lokasi yang terintegrasi dengan alur keluar-masuk penonton ini terbukti manjur.

Hasilnya mencengangkan. Antusiasme puluhan ribu pengunjung memicu gelombang belanja produk lokal yang sangat tinggi. Selama tiga hari penyelenggaraan, total nilai transaksi gabungan yang tercatat dari UMKM Binaan dan penjualan Official Merchandise Pertamina menembus Rp4,2 miliar.

Efek Domino Ekonomi: Dari Bandara Hingga Angka Kemiskinan

Dampak manis dari raungan mesin MotoGP Mandalika 2026 memancar luas keluar dari benteng sirkuit. Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTB mencatat efek yang dirasakan oleh rantai pasok ekonomi daerah.

Kepala Perwakilan BI NTB, Hario Kartiko Pamungkas, menggarisbawahi bahwa pelaku usaha yang memetik manisnya event ini tidak terbatas pada mereka yang memegang pas masuk sirkuit.

“Mendapat dampak yang sangat positif ya. Tidak hanya yang berjualan di MotoGP, namun ada juga UMKM yang produknya itu digunakan untuk suvenir selama penyelenggaraan MotoGP. Sehingga mudah-mudahan penyelenggaraan perhelatan-perhelatan seperti itu semakin sering di NTB, sehingga dampak ekonominya bisa sampai juga ke UMKM,” kata Hario.

Pandangan senada disampaikan oleh Adi Widyandana, Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi NTB. Menurut Adi, indikator makroekonomi menunjukkan denyut nadi perekonomian bergerak sangat cepat selama pekan balapan.

“Untuk MotoGP itu jelas event internasional besar. Kita semua tahu penerbangan kedatangan di Bandara Internasional Lombok melonjak tajam, kemudian tingkat hunian atau okupansi hotel juga semua penuh. Di sektor riil juga kita lihat secara nyata, UMKM-UMKM kita kebagian kue penjualan. Ramai sekali. Artinya sektor ini berdampak langsung menggerakkan sektor riil perekonomian masyarakat,” jelas Adi.

Secara agregat, badan pengelola kawasan dan BUMN pariwisata mencatat angka perputaran uang yang monumental. InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) mengalkulasi bahwa total perputaran ekonomi selama perhelatan MotoGP Mandalika 2026 mencapai lebih dari Rp5 triliun.

Direktur Operasi ITDC sekaligus Chairman Pertamina Grand Prix of Indonesia, Troy Reza Warokka, optimistis angka estimasi tersebut tercapai berdasarkan pemantauan variabel ekonomi di lapangan.

“Bismillah tercapai karena kita kan mematok target 5 triliun di dampak ekonomi. Kalau melihat perkembangan hari ini, itu rasanya sangat mungkin untuk masuk di angka tersebut,” tegas Troy.

Direktur Utama InJourney, Maya Watono, memaparkan data yang lebih menggembirakan. Dengan total kehadiran penonton yang menyentuh angka 157 ribu orang sepanjang akhir pekan, ajang MotoGP telah terbukti secara empiris merubah peta sosial-ekonomi masyarakat Nusa Tenggara Barat secara permanen.

“Estimasi dampak ekonomi dari MotoGP ini sekitar Rp5 triliun. Jadi sangat signifikan besarnya, di mana porsi untuk daerah juga sangat besar. Saya bicara dengan Pak Gubernur bahwa tingkat kemiskinan di NTB ini menurun cukup signifikan sejak adanya MotoGP, karena memang mata pencaharian tambahan sejak ada sirkuit ini jauh lebih meningkat. Jadi tingkat kemiskinan turun dari 14 persen ke 11 persen,” ungkap Maya Watono.

Kendati estimasi perputaran uang menunjukkan angka fantastis Rp5 triliun, Badan Pusat Statistik (BPS) Nusa Tenggara Barat memilih bertindak terukur dan prudent. Untuk memastikan akurasi dampak perekonomian hingga ke tingkat mikro, BPS menerjunkan tim survei khusus.

Kepala BPS NTB, Wahyudin, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyebar puluhan petugas survei untuk menyisir setiap sudut pergerakan ekonomi selama pekan balapan.

“Kelihatannya survei itu nanti awal tahun depan baru bisa dirilis, karena banyak permintaan dari teman-teman agar kita mensupport kebutuhan-kebutuhan mereka,” ujar Wahyudin.

Sebanyak 38 tim penilai diterjunkan ke lapangan secara simultan. Mereka mencatat dan menghimpun data rinci dari berbagai komponen seperti pola konsumsi penonton, omzet riil UMKM, tingkat hunian hotel dan penginapan warga, arus penumpang di pelabuhan laut serta bandara, hingga pergerakan wisatawan ke objek-objek wisata di sekitar Lombok.

Deru mesin sepeda motor di Sirkuit Mandalika kini telah benar-benar reda. Ribuan penonton telah kembali ke negara dan kota asal mereka. Namun, bekas roda balapan kelas dunia tersebut meninggalkan jejak yang jauh mendalam dari sekadar karet ban yang melekat di aspal. Di lapak Nasi Ayam Paman Budi, Bu Eny kini bisa merencanakan pengembangan resep baru untuk usahanya. Di Keruak, bibit-bibit mangrove siap ditanam oleh tangan ibu-ibu nelayan dari hasil penjualan garam Estuaria Salt.

Angka transaksi sebesar Rp4,2 miliar di tenda UMKM dan proyeksi dampak ekonomi Rp5 triliun secara makro bukanlah sekadar statistik di atas kertas laporan pemerintah. Angka-angka itu adalah representasi dari bertambahnya tabungan keluarga, terbayarnya biaya sekolah anak, serta terbukanya pintu harapan bagi masyarakat pesisir NTB.

Sirkuit Mandalika tak lagi sekadar panggung kecepatan, melainkan penopang harapan dan tempat di mana para pelaku UMKM meniti jalan panjang untuk naik kelas. (fan)

Artikel Yang Relevan

IKLAN








Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut