Mataram (EKBIS NTB) – Suara nyaring burung Murai Batu menggema di sudut lapangan Taman Budaya NTB, Sabtu (8/8) pekan kemarin. Di dalam sangkar, burung-burung itu meloncat lincah sembari berkicau saling bersahutan.
Di bawah sangkar, Zaki (30) duduk menanti. Ia merangkul kedua kakinya sembari terus menatap Murai Batu miliknya yang sedang bertanding. Raut gelisah terpancar dari wajahnya. Cemas memikirkan apakah burung jagoannya mampu tampil maksimal.
Zaki tak sendiri. Puluhan pria sesama pencinta burung juga duduk lesehan di sekitar arena. Suara tiruan burung terus bersahut-sahutan dari bibir mereka, tak kalah nyaring dari kicauan Murai Batu yang bertanding.
Siang itu, mereka sedang mengikuti latihan bersama yang rutin diadakan oleh komunitas lokal. Ajang ini menjadi pemanasan sebelum kompetisi berskala lebih besar.
“Ini cuma latihan bersama. Tapi tetap pakai tiket Rp20 ribu. Kalau yang pertandingan ada yang Rp500 ribu, ada yang hadiahnya motornya. Di Jawa hadiahnya mobil tiketnya Rp50 juta,” ujar Zaki.
Hadiah bernilai fantastis memang menjadi magnet tersendiri bagi para pencinta burung. Namun, bagi Zaki dan rekan-rekannya, nilai jual burung yang melambung tinggi jauh lebih menjanjikan ketimbang sekadar hadiah perlombaan.
“Harga burung di NTB ada yang sampai Rp80 juta,” tuturnya.
Meski potensi bisnisnya amat menggiurkan, Zaki menegaskan, kecintaan pada burung tetap menjadi alasan utama. Menurutnya, memelihara burung butuh kesabaran dan pemahaman mendalam karena setiap burung memiliki karakter unik.
“Tergantung karakter burungnya. Kalau memang petarung, ya, petarung. Kalau dia memang bukan petarung, diapa-apain saja tidak bisa bertarung,” kata Zaki.
Hari itu keberuntungan belum berpihak pada Zaki. Murai Batunya gagal menunjukkan performa terbaik. Tanpa berlama-lama, ia langsung menutup sangkarnya dan bergegas meninggalkan arena.
Berbeda nasib dengan Zaki, senyum sumringah justru terpancar dari wajah Ari (47). Murai Batu miliknya baru saja menyabet gelar juara.
Pria asal Gerung, Lombok Barat ini sudah menekuni hobi memelihara burung sejak kecil akibat tertular kegemaran sang ayah. Dari ketekunan tersebut, ia pernah meraup keuntungan besar dari menjual burung rawatannya.
“Itu saya rawat cuma lima bulan. Burungnya beli di Jawa. Saya beli dengan harga Rp6,5 juta,” terangnya.
Burung tersebut akhirnya laku terjual seharga Rp28 juta. Ari menilai pasar jual-beli burung berkicau amat prospek.
Pembelinya datang dari berbagai kalangan mulai dari pejabat hingga pengusaha berkantong tebal.“Kebanyakan bos-bos. Kita kan cuma akar rumput. Otomatis mengikuti aja,” kata Ari.
Agar nilai jual burung melonjak drastis, para pemilik harus rajin mengikutsertakan burungnya ke berbagai ajang lomba. Salah satunya melalui latihan bersama yang diselenggarakan oleh Komunitas Radjawali.
Perkembangan hobi burung di Mataram tak lepas dari peran komunitas. Salah satunya Komunitas Radjawali. Kelompok ini aktif memfasilitasi para penggemar burung melalui ajang latihan bersama hingga kompetisi resmi.
Erwin, salah satu panitia latihan bersama Komunitas Radjawali, tampak sibuk siang itu. Tangannya cekatan mencatat nama-nama Murai Batu yang bertanding beserta raihan poinnya.
Ia menjelaskan bahwa Komunitas Radjawali tidak hanya menjadi wadah berkumpul, tetapi juga menyediakan tim penilai yang objektif.
“Jurinya dari sini. Kecuali ada event besarnya baru ada juri dari luar,” ungkap Erwin.
Proses penilaian pun dilakukan secara ketat dan terukur. Para juri dituntut teliti dalam menilai kualitas kicauan, stamina dan gaya bertarung dari setiap burung yang dilagakan.
Keberadaan komunitas ini menjadi kesyukuran tersendiri bagi para penggemar burung di Mataram. Selain sebagai wadah untuk menguji kehebatan burung masing-masing, komunitas ini juga jadi salah satu cara merawat hobi dan bertemu sesama pencinta burung. (sib)






