Dompu (EKBIS NTB) – Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu menargetkan produksi tebu rakyat pada musim giling Juni–Oktober 2026 mencapai 278.000 ton. Target tersebut ditopang oleh areal tebu rakyat seluas 6.209 hektare yang tersebar di 10 desa di Kecamatan Pekat. Di satu sisi, petani mendesak agar harga tebu dinaikan.
Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Dompu, Abdul Khair, S.Hut, kepada Suara NTB, Kamis (6/8), mengatakan areal tanaman tebu rakyat berada di Desa Soritatanga, Sorinomo, Doropeti, Nangakara, Beringin Jaya, Pekat, Calabai, Karombo, Kadindi Barat, dan Nangamiro.
Luasan tersebut berada di luar Desa Tambora dan Kadindi Timu
Selain tebu rakyat, terdapat areal tebu Hak Guna Usaha (HGU) PT Sukses Mantap Sejahtera (SMS) yang terawat seluas 1.876 hektare.
Untuk mendukung peningkatan produksi, pemerintah tahun ini melaksanakan program Rehabilitasi Tebu Rakyat melalui Bongkar Ratoon seluas 500 hektare serta Perluasan Areal Tanam (PAT) seluas 500 hektare.
Tidak hanya itu, Kementerian Pertanian juga memberikan tambahan program PAT melalui E-Bantuan Pemerintah (E-Banper) seluas 500 hektare.
Program tersebut meliputi pengembangan 200 hektare di Desa Riwo, Kecamatan Woja, 100 hektare di Desa Nangakara dan Desa Sorinomo, serta 200 hektare di Kabupaten Bima yang direncanakan di Desa Piong, Kecamatan Sanggar, dan Desa Labuan Kananga, Kecamatan Tambora.”Program ini didukung Kementerian Pertanian melalui APBN,” kata Abdul Khair.
Ia menjelaskan, harga pembelian tebu saat ini telah disepakati antara Pabrik Gula Tambora dan petani sebesar Rp550.000 per ton.
Menurutnya, sejumlah kelompok petani tebu sempat melakukan aksi protes kepada manajemen Pabrik Gula Tambora dengan tuntutan,agar harga pembelian dinaikkan menjadi Rp600.000 – Rp700.000 per ton.
Kenaikan harga tersebut dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha tani tebu di wilayah tersebut. “Petani berharap pihak Pabrik Gula Tambora dapat menaikkan harga pembelian tebu mereka,” ujarnya.
Abdul Khair menambahkan, perwakilan petani tebu dan manajemen Pabrik Gula Tambora telah menggelar pertemuan untuk membahas tuntutan tersebut. Namun hingga kini, hasil pembahasan maupun keputusan terkait usulan kenaikan harga itu masih belum diperoleh. (ula)






