Bima (EKBIS NTB) – Pemerintah Kabupaten Bima mengusulkan pembukaan rute penyeberangan Pelabuhan Sape-Makassar yang diharapkan dapat dioperasikan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero).
Jalur tersebut diproyeksikan membuka akses pasar yang lebih luas bagi komoditas unggulan dari Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Dompu sekaligus memperlancar distribusi barang dan kendaraan menuju Sulawesi Selatan.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bima, A. Rifai mengatakan, usulan membuka rute pelayaran dari Bima-Makassar telah disampaikan kepada PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melalui surat yang diajukan Bupati Bima.
Saat ini, pemerintah daerah masih berkoordinasi dengan pihak ASDP sembari melengkapi berbagai data pendukung sebagai syarat pembukaan trayek baru.
“Pemerintah Kabupaten Bima melalui surat Bupati mengajukan permohonan agar dibuka jalur trayek dari Pelabuhan Sape ke Makassar. Saat ini kami masih berkoordinasi dengan ASDP dan sedang mengumpulkan data-data pendukung,” ujarnya, Kamis (6/8).
Menurutnya, pembukaan trayek tersebut karena tingginya mobilitas masyarakat menuju Makassar, baik untuk kegiatan perdagangan maupun pendidikan. Makassar menjadi salah satu tujuan utama masyarakat Bima, termasuk mahasiswa yang menempuh pendidikan di Sulawesi Selatan.
Meski demikian, kata dia, layanan transportasi menuju Makassar saat ini dinilai belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat. Kapal PT Pelni (Persero) yang melayani rute melalui Pelabuhan Bima hanya mengangkut penumpang, sehingga distribusi barang dan kendaraan masih menghadapi keterbatasan.
“Penumpang dari Bima ke Makassar cukup tinggi, baik untuk berdagang maupun jalur pendidikan. Selama ini yang dilayani PT Pelni hanya angkutan orang, sementara barang dan kendaraan belum bisa,” katanya.
Kondisi itu membuat pengiriman hasil bumi dari Bima ke Makassar masih mengandalkan kapal-kapal berukuran kecil.
Akibatnya, kendaraan pengangkut barang tidak dapat menyeberang langsung,sehingga distribusi komoditas dinilai belum berjalan secara optimal.
Ia menyebut sejumlah komoditas, seperti garam, bawang, dan hasil pertanian lainnya, memiliki potensi pasar di Sulawesi Selatan. Kehadiran trayek penyeberangan langsung Sape-Makassar diharapkan dapat memangkas hambatan distribusi sekaligus memperluas akses pemasaran produk daerah.
“Dengan dibuka jalur ini, hasil bumi dari Kabupaten Bima, Kota Bima, dan Dompu bisa langsung dikirim ke Makassar. Kendaraan pengangkut barang juga dapat ikut menyeberang sehingga distribusi menjadi lebih mudah,” jelasnya.
Selain mendukung aktivitas perdagangan, trayek tersebut juga diproyeksikan memperkuat konektivitas antardaerah di Pulau Sumbawa dengan Sulawesi Selatan. Manfaatnya tidak hanya dirasakan pelaku usaha dan petani, tetapi juga masyarakat yang bepergian dengan membawa kendaraan.
Selain mengusulkan pembukaan trayek Sape-Makassar, Pemerintah Kabupaten Bima juga mengajukan perpanjangan izin operasional trayek penyeberangan Sape-Waikelo. Permohonan itu telah disampaikan kepada PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) agar layanan penyeberangan tetap dapat dilanjutkan.
“Kami juga mengajukan perpanjangan izin trayek penyeberangan Sape-Waikelo agar operasional kapal penyeberangan tetap dapat dilayani oleh ASDP,” tutupnya. (hir)






