HomeBerandaKopi Sajang Sembalun Mendunia, Hajrul Azmi Mengangkat Martabat Petani Kopi dari Kaki...

Kopi Sajang Sembalun Mendunia, Hajrul Azmi Mengangkat Martabat Petani Kopi dari Kaki Rinjani

JARGON NTB mendunia yang menjadi visi besar Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal telah diwujudkan oleh warga Sembalun Lombok Timur (Lotim). Perjuangannya mengangkat martabat petani kopi di Sajang Sembalun membuat warga ini berhasil membuat kopi Sembalun ini mendunia.


Di balik keharuman secangkir kopi yang mengepul di kedai-kedai premium kota besar, tersembunyi perjuangan panjangnya. Dialah Hajrul Azmi, Warga Desa Sajang Sembalun yang telah telah mengubah narasi kopi Sembalun yang mudah menjadi lebih bernilai.


Berawal dari pinjaman Rp400 ribu dan 50 kilogram kopi satu dekade lalu, pria yang juga dikenal sebagai penggiat literasi ini kini sukses mengantarkan Kopi Sajang Sembalun menembus pasar global melalui brand-nya, Lokka Coffee (Lombok Kopi Akademi).


Perjalanan Azmi ke dunia kopi dimulai pada 2016 dari sebuah kejadian sederhana tetapi menggugah. Seorang petani asing datang ke rumahnya untuk meminjam uang Rp400 ribu dengan jaminan 50 kilogram kopi. “Saya agak curiga nih dengan si hitam ini dan penasaran. Harga jual kopi di petani sangat murah,” kenang Azmi saat ditemui di kediamannya di Dusun Bawak Nao, Kamis (11/6) lalu.


Rasa penasaran itu membawanya menjelajahi kedai-kedai kopi di Kota Mataram. Di sana, ia terkejut. Secangkir kopi dihargai Rp15.000 hingga Rp30.000, padahal hanya menghabiskan sekitar 10 gram bubuk kopi. Dari kalkulasi sederhana itu, Azmi melihat ketimpangan yang sangat timpang antara kesejahteraan petani di hulu dan keuntungan pengusaha di hilir.


Kala itu, para petani kopi di Sembalun dan Sajang terjerat dalam sistem ijon yang merugikan. Mereka terpaksa mengambil uang muka dari pengepul sebelum musim panen, sehingga saat panen tiba, harga jual kopi gelondongan (biji kopi berkulit) hanya berkisar Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram—sebuah angka yang ironis.


Tergerak memutus rantai ketidakadilan itu, Azmi mengumpulkan sekitar 30 petani di Dusun Sajang. “Saya meminta kepada petani ini, buat kelompok jangan mengharapkan bantuan dari pihak mana pun, apa lagi dari pemerintah. Terpenting tunjukkan komitmen untuk maju bersama,” tegasnya.


Hasilnya menggembirakan. Pada tahun pertama, harga jual kopi kelompok binaan Azmi melonjak dari Rp20.000 menjadi Rp35.000 per kilogram, dan terus naik ke angka Rp45.000 di tahun berikutnya. Bendera “Kopi Tujak”—tujak berarti kopi ditumbuk atau kopi tubruk—pun berkibar.


Bencana gempa bumi yang mengguncang Lombok pada 2018 menjadi ujian berat. Aktivitas perkebunan lumpuh total selama hampir enam bulan. Di tengah kepungan bantuan sembako dari berbagai lembaga swadaya masyarakat, Azmi justru mengambil langkah berani demi kemandirian kelompoknya.


“Salah satu NGO dari Malaysia waktu itu, saya rasa tidak usah berikan kami beras lagi. Meski kami kena musibah, kenapa ndak mau beras? Karena saya punya kelompok tani kopi, bantu saya di sana saja. Saat ini kami butuh pengolahan kopi beserta peralatan yang kita butuhkan, beras bisa kami beli sendiri,” ujarnya.


Sikap teguh itu membuahkan hasil. Kelompok tani mendapatkan bantuan mesin pulper (pengupas kopi) pertama. Konsistensi mereka akhirnya melirik perhatian Bank Indonesia (BI), yang kemudian mengucurkan dana hibah untuk membangun infrastruktur gudang dan pengolahan yang lebih mumpuni.

“Lokka Coffee” Filosofi dan Standardisasi Global

Pada 2019, Azmi mendirikan brand sendiri, “Lokka Coffee”. Nama Loka memiliki filosofi ganda: pertama, diambil dari bahasa lokal Sajang, Nyeloka, yang berarti duduk berkumpul sambil bercerita. Kedua, merupakan akronim dari “Lombok Kopi Akademi”—buah dari pengalamannya menempuh pendidikan di Indonesia Coffee Academy, Jakarta, dengan 14 sertifikat kompetensi kopi bertaraf nasional dan internasional.


Kedai Lokka Coffee di Dusun Bawak Nao bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang edukasi eksklusif. Pengunjung diajak memahami cerita di balik setiap cangkir, mulai dari varietas kopi, ketinggian tanam, cita rasa, cara penyajian, hingga proses pasca-panen. Azmi menerapkan standar ketat berskala dunia (World Coffee Standard), termasuk penggunaan timbangan digital dengan rasio penyeduhan presisi 1:12 hingga 1:18.

Menembus Pasar Global

Kini, produk Lokka Coffee—baik bubuk (powder) maupun biji kopi sangrai (roasted beans) untuk arabika dan robusta—telah menguasai pusat-pusat oleh-oleh di Senggigi, berbagai daerah di Lombok, serta merambah pasar digital hingga mancanegara. “Kemudian untuk yang luar negeri biasanya yang banyak memesan itu dari negara Malaysia, Singapura dan beberapa negara lainnya,” ungkap Azmi.
Bahkan, perkebunan binaannya rutin dikunjungi wisatawan lokal, domestik, dan mancanegara. Pelajar dari Malaysia pun kerap datang untuk belajar.


Keberhasilan ini berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Saat ini, harga kopi Robusta green bean (biji kopi mentah siap sangrai) berkualitas tinggi di tingkat petani binaan Azmi mampu menembus Rp100.000 per kilogram—jauh di atas harga tengkulak yang hanya Rp75.000 hingga Rp85.000. Sementara untuk Arabika khas Sembalun, harga green bean di kelompoknya bisa mencapai Rp150.000 hingga Rp170.000 per kilogram.

Edukasi dan Harapan untuk Masa Depan

Meski sukses, Azmi tidak pernah berhenti berbagi ilmu. Seluruh pengetahuan mahal tentang kopi—dari pembibitan hingga siap minum—ia bagikan secara cuma-cuma kepada warga lokal Sembalun dan Sajang. “Kita mau jualan ini kan harus kenal dong brand kopi kita. Kopi itu tidak cukup dengan hanya transaksi atau diminum saja, pasti ada cerita di balik itu,” tuturnya.
Potensi pasar kopi Sembalun masih sangat besar. Berdasarkan kalkulasi Azmi, perputaran konsumsi bubuk kopi di tingkat lokal Kecamatan Sembalun saja bisa menghabiskan sekitar 90 kilogram per hari jika masyarakat meminumnya tiga kali sehari.
Melalui Lokka Coffee, Hajrul Azmi membuktikan bahwa dengan edukasi yang tepat, komoditas lokal tidak hanya mampu bersaing di pasar modern, tetapi yang terpenting—mampu memerdekakan petani dari jerat kemiskinan struktural di tanah mereka sendiri. Sebuah cangkir kopi yang tidak hanya hangat, tetapi juga membawa perubahan. (rus)

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut