Mataram (ekbisntb.com)– Aset salah satu Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) di Provinsi NTB, yaitu, BPR Syariah Dinar Ashri, atau Bank Dinar terus tumbuh menjadi Rp2,6 triliun. Melampaui asset seluruh BPR Syariah di Indonesia saat ini.
Direktur Utama Bank Dinar, Mustaen memaparkan, hingga semester I 2026, aset Bank Dinar telah mencapai Rp2,6 triliun, tumbuh 22,95 persen secara year to date (ytd) dan 43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy).
Menempatkan Bank Dinar sebagai BPRS dengan aset terbesar di Indonesia, bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan BPRS yang berada di posisi kedua saat ini sebesar Rp1,3 triliun.
Mustaen mengatakan, pertumbuhan ini tidak semata-mata didorong ekspansi bisnis, tetapi semakin meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap bank yang telah berusia 20 tahun ini.
Selain asset, pertumbuhan bank yang sahamnya seratus persen pengusaha lokal NTB ini juga terlihat dari sisi penyaluran pembiayaan. Hingga Juni 2026, pembiayaan Bank Dinar berada di kisaran Rp2,35 triliun, meningkat sekitar 23 persen secara year to date dan 48 persen secara tahunan.
Angka tersebut jauh di atas pertumbuhan pembiayaan industri perbankan secara nasional yang berada di kisaran 7-8 persen.
“Pertumbuhan kita jauh di atas nasional. Dan yang tumbuh ini berasal dari sektor produktif, bukan hanya dari sektor nonproduktif,” jelasnya.
Sementara itu, dana pihak ketiga atau funding Bank Dinar berada di kisaran Rp1,55 triliun, dengan pertumbuhan sekitar 9,5 persen secara year to date dan 35 persen secara tahunan.
Komposisi ini menunjukkan agresivitas pembiayaan Bank Dinar masih lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan penghimpunan dana. Kondisi ini juga dinilai mencerminkan karakteristik ekonomi NTB yang membutuhkan pembiayaan cukup besar untuk menggerakkan aktivitas ekonomi.
“NTB ini daerah yang minus funding. Pembiayaan kita lebih besar dibandingkan dana yang dihimpun. Artinya memang NTB membutuhkan banyak dana untuk pembangunan dan menggerakkan ekonomi,” katanya.
Pertumbuhan tersebut menjadi semakin signifikan karena pembiayaan Bank Dinar juga berkembang lebih cepat dibandingkan rata-rata industri.
Manajemen menilai faktor utama yang mendorong pertumbuhan Bank Dinar adalah kepercayaan masyarakat. Kepercayaan itu dibangun melalui reputasi, pelayanan, kedekatan dengan nasabah serta manfaat yang diberikan kepada masyarakat.
“Kami harus terus memupuk nama baik dan kemanfaatan bagi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, persaingan perbankan tidak semata-mata ditentukan oleh harga atau margin pembiayaan. Faktor pelayanan dan kemudahan akses justru menjadi bagian penting dalam mempertahankan nasabah.
“Kalau masalah harga itu relatif, tergantung hitung-hitungan. Sisi pelayanan, kedekatan dan kemanfaatan rasanya yang lebih menonjol,” jelasnya.
Kepercayaan juga datang dari nasabah di luar NTB. Bahkan, Bank Dinar terus menghimpun dana dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di NTB yang relatif tinggi.
Untuk mendekatkan diri dengan nasabah, Bank Dinar terus memperluas jaringan layanan. Saat ini Bank Dinar memiliki delapan kantor cabang, satu kantor perusahaan, tiga kantor cabang pembantu dan empat kantor kas.
Ekspansi jaringan juga terus dilakukan. Salah satunya dengan membuka jaringan layanan baru di Dompu.Namun, kedekatan dengan nasabah tidak hanya dilakukan melalui kantor fisik. Bank Dinar juga memperkuat layanan digital melalui mobile banking.
Berbagai kebutuhan transaksi seperti pengecekan saldo, transfer antarbank, pembayaran tagihan, pembelian token listrik hingga top up dompet digital dapat dilakukan melalui layanan tersebut.
“Kalau hanya mengecek saldo dan transaksi sederhana, cukup menggunakan mobile banking. Jadi nasabah tidak perlu datang jauh-jauh ke kantor,” ujarnya.
Layanan digital tersebut telah dikembangkan lebih dari lima tahun dan memungkinkan nasabah melakukan transaksi selama tersedia koneksi internet.
Di tengah pertumbuhan aset dan pembiayaan, Bank Dinar juga menyiapkan ekspansi bisnis baru. Salah satunya dengan rencana penerbitan sukuk yang dapat diikuti masyarakat yang memenuhi persyaratan.
Sukuk tersebut direncanakan memiliki tenor lima tahun. Saat ini proses penerbitannya masih dalam tahap pemeringkatan.
Manajemen memperkirakan imbal hasil yang ditawarkan nantinya setidaknya berada di kisaran 9,5 persen, meski angka final masih menunggu proses yang berjalan.
Dari sisi pembiayaan, bisnis Bank Dinar ditopang sejumlah segmen, antara lain pembiayaan konsumtif, pembiayaan berbasis emas serta pembiayaan sektor produktif.
Dengan pertumbuhan aset yang mencapai Rp2,6 triliun dan pembiayaan yang tumbuh 48 persen secara tahunan, manajemen optimistis tren positif Bank Dinar dapat terus dipertahankan.
“Sudah lebih dari enam tahun, pertumbuhan Bank Dinar stabil membaik. Tidak naik turun seperti gelombang. Bahkan pada saat COVID-19, kami tetap tumbuh stabil. Mungkin ini juga yang membuat kepercayaan public tetap terjaga,” pungkasnya.(bul)






