Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – Badan Perencanaan Pembangunan Riset Daerah (Bapperida) Kabupaten Sumbawa, mencatat pendapatan dari sektor retribusi wilayah rekreasi baru di angka Rp300 juta-Rp400 juta di tahun 2026. Daerah penunjang utama berada destinasi wisata Teluk Saleh.
“Memang jauh jika kita bandingkan dengan penerimaan dari Gunung Rinjani dengan jumlah PNBP per tahunnya mencapai Rp30 miliar, meski sama-sama berstatus kawasan konservasi,” kata Kepala Bapperida Kabupaten Sumbawa, Dr. Dedy Heriwibowo, kepada Suara NTB, Selasa, 20 Mei 2026.
Dedy melanjutkan, minimnya penerimaan dari sektor tersebut lantaran daerah belum bisa melakukan pengelolaan secara maksimal. Faktor utamanya belum adanya penataan secara maksimal di destinasi yang menjadi unggulan daerah tersebut.
“Kalau kita kelola secara maksimal terhadap kawasan konservasi tersebut, memang bisa menghasilkan salah satu sumber baik itu pendapatan asli daerah maupun penerimaan negara lainnya,” ujarnya.
Karena pendapatan senilai Rp400 juta tersebut berada di kewenangan provinsi, sehingga pemerintah daerah berharap bisa menerima kompensasi dari pendapatan itu. Kompensasi itu nantinya akan digunakan untuk pembinaan terhadap masyarakat yang berada di sekitar destinasi wisata, termasuk penyediaan sarana dan prasarana penunjang.
“Yang berdampak langsung dari retribusi tersebut adalah provinsi, jadi kita ingin ada feedback balik dari apa yang sudah diberikan daerah ke provinsi yang dianggap selama ini masih sangat minim,” ucapnya.
Berdasarkan data dari Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) total destinasi wisata di Sumbawa ada sekitar 22 objek wisata yang rutin dikunjungi wisatawan. Namun,keberadaan destinasi masih membutuhkan penataan lebih lanjut terutama sarana penunjang.
“Bicara destinasi wisata maka hal itu merupakan investasi jangka panjang. Persoalan infrastruktur yang masih belum sempurna tentu akan menjadi atensi kami untuk diselesaikan dalam mendongkrak pendapatan dari sektor tersebut,” tambahnya.
Selain masalah infrastruktur lanjutnya, penguatan kelembagaan di destinasi wisata juga menjadi perhatian terutama kaitannya dengan sumber daya manusia. Hal itu perlu dilakukan karena pengembangan SDM di sektor wisata merupakan investasi jangka panjang termasuk pengembangan lebih lanjut.
“Kalau secara umum memang masih banyak yang kurang, misalnya di beberapa tempat seperti toilet termasuk papan informasi. Karena destinasi kita beragam dari laut sampai gunung dan itu akan menjadi atensi kami,” tukasnya. (ils)






