Sumbawa Besar (ekbisntb.com) – PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) resmi menyelesaikan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Sumbawa 2 berkapasitas 30 MW.
Peresmian pembangkit dilakukan, Rabu, 20 Mei 2026. Kehadiran pembangkit ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan energi di Pulau Sumbawa sekaligus mendukung pertumbuhan industri dan ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
General Manager PLN UIP Nusra, Rizki Aftarianto, mengatakan proyek PLTMG Sumbawa 2 telah rampung sejak Desember 2025 setelah dikerjakan selama dua tahun sejak dimulai pada Desember 2023.
“Dengan beroperasinya PLTMG Sumbawa 2, kecukupan listrik di Pulau Sumbawa kini semakin kuat. Sebelumnya pasokan listrik di wilayah ini masih mengalami kekurangan sehingga kebutuhan pelanggan PLN, termasuk sektor industri, belum dapat terpenuhi secara optimal,” ujar Rizki dalam acara syukuran penyelesaian proyek bertajuk The New Energy of Sumbawa.
Ia menjelaskan, tambahan 30 MW dari PLTMG Sumbawa 2 membuat kapasitas listrik di Pulau Sumbawa meningkat dari sekitar 160 MW menjadi 191 MW. Dengan kapasitas tersebut, sistem kelistrikan Pulau Sumbawa kini memiliki cadangan daya sekitar 20 persen dari total kebutuhan.
“Kondisi ini sangat penting untuk menjaga keandalan pasokan listrik di seluruh wilayah Sumbawa,” katanya.
Menurut Rizki, penguatan pasokan listrik ini menjadi faktor penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi NTB. Terlebih, Pulau Sumbawa saat ini menjadi salah satu kawasan yang tengah berkembang pesat dengan hadirnya industri smelter dan sektor-sektor ekonomi lainnya.
“Pasokan listrik sekarang jauh lebih cukup dan dapat melayani kebutuhan industri maupun masyarakat dengan baik. Bahkan sebelumnya masih ada pelanggan rumah tangga yang belum bisa dilayani untuk penambahan daya, sekarang kondisinya sudah jauh lebih baik,” ujarnya.
PLN UIP Nusra juga memastikan tambahan pasokan tersebut telah menjangkau seluruh wilayah Sistem Tambora yang mencakup Kabupaten Sumbawa Barat hingga Bima dan Dompu. Sistem kelistrikan Pulau Sumbawa kini sudah terinterkoneksi dari ujung barat hingga ujung timur.
“Seluruh Pulau Sumbawa kini dapat terlayani lebih baik dengan masuknya tambahan 30 MW dari PLTMG Sumbawa 2,” katanya.
Tak berhenti sampai di situ, PLN berencana kembali menambah kapasitas listrik di Pulau Sumbawa sebesar 60 MW hingga akhir 2027. Penambahan pembangkit juga akan dilakukan di sekitar Kota Sumbawa Besar untuk memperkuat sistem kelistrikan daerah tersebut.
Rizki menegaskan, pengembangan kelistrikan di NTB ke depan juga diarahkan pada energi yang lebih ramah lingkungan. Menurutnya, PLTMG menggunakan gas yang lebih bersih dibandingkan energi fosil konvensional dan menjadi bagian dari transisi energi nasional menuju target Net Zero Emission tahun 2060.
Selain PLTMG, PLN juga akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di NTB dengan total kapasitas sekitar 333 MW.
“Dari sekitar 1.000 MW tambahan pembangkit yang akan dibangun di NTB hingga tahun 2034, sekitar 46 persen berasal dari energi baru terbarukan, baik tenaga surya, gas, air maupun sumber energi bersih lainnya,” jelasnya.
Saat ini, total kapasitas pembangkit yang telah terpasang di NTB, baik di Sistem Lombok maupun Sistem Sumbawa, mencapai sekitar 700 MW. Dalam 10 tahun mendatang, PLN menargetkan tambahan sekitar 1.000 MW lagi untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan listrik seiring meningkatnya ekonomi dan industri di NTB.
Sementara itu, Manager Unit Pelaksana Proyek Nusra 1, Yogi Yohannes Siburian, menyampaikan bahwa PLTMG Sumbawa 2 telah berhasil menyelesaikan seluruh tahapan komisioning dan pengujian, serta kini telah beroperasi penuh dengan tiga mesin (full load 3 engine).
“Pembangkit ini sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sejak sinkron pertama pada 27 Desember 2025,” katanya.
Yogi menjelaskan, PLTMG Sumbawa 2 menggunakan teknologi dual fuel engine dari Wärtsilä Finland tipe 20V31DF dengan konfigurasi tiga mesin berkapasitas total 30 MW. Teknologi ini memiliki efisiensi tinggi mencapai 50,2 persen pada mode gas dan 47,9 persen pada mode LFO, serta mampu mencapai kondisi full load hanya dalam waktu sekitar lima menit.
Ia memaparkan sejumlah tonggak penting proyek tersebut, mulai dari initial firing pada 19 Desember 2025, first synchronization pada 27 Desember 2025, hingga reliability run dan performance test yang selesai pada April 2026.
“Yang membanggakan, pembangunan proyek ini berhasil mencapai zero accident selama proses konstruksi,” ujarnya.
Dari sisi sistem kelistrikan, sebelum PLTMG Sumbawa 2 beroperasi, daya mampu Sistem Tambora hanya sekitar 168 MW dengan beban puncak 157 MW. Setelah pembangkit beroperasi, daya mampu meningkat menjadi 191,91 MW dengan reserve margin mencapai sekitar 21 persen.
Selain memperkuat keandalan listrik, proyek ini juga menghasilkan efisiensi biaya pokok penyediaan (BPP) listrik di Sistem Tambora hingga sekitar Rp194 miliar per tahun. Penurunan BPP terjadi dari Rp3.182 per kWh menjadi Rp3.001,49 per kWh setelah PLTMG Sumbawa 2 beroperasi.
“Proyek ini tidak hanya berhasil secara teknis dan operasional, tetapi juga menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumbawa,” katanya.
Menurut Yogi, tambahan daya 30 MW akan mendukung pertumbuhan sektor tambang emas, tambak udang, pariwisata, perhotelan hingga UMKM di Pulau Sumbawa, sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Selama proses pembangunan, proyek tersebut juga melibatkan lebih dari 100 tenaga kerja lokal. Karena itu, ia menilai keberhasilan proyek merupakan hasil sinergi seluruh pihak, mulai dari PLN Group, konsorsium PT Adhi Karya–KEPCO E&C, Wärtsilä, pemerintah daerah, aparat keamanan hingga masyarakat sekitar proyek.
“Hari ini bukan sekadar seremoni penyelesaian proyek. Ini adalah momentum penting yang menandai keberhasilan perjuangan panjang dan kolaborasi besar dalam menghadirkan energi andal bagi Pulau Sumbawa dan Sistem Tambora,” tandasnya.(bul)
PLN UIP Nusra Resmi Operasikan PLTMG Sumbawa 2, Listrik Kini Surplus






