Monday, May 11, 2026
26.5 C
Mataram
HomeBerandaDi Tengah Tantangan Desentralisasi, Pertumbuhan Ekonomi Lotim Terbaik Se-NTB

Di Tengah Tantangan Desentralisasi, Pertumbuhan Ekonomi Lotim Terbaik Se-NTB

Di tengah berbagai tantangan desentralisasi dan keuangan daerah, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) mencatatkan prestasi membanggakan sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi terbaik di Nusa Tenggara Barat pada tahun 2025. Capaian ini menjadi bukti bahwa sinergi antara program pusat dan daerah mampu mendorong roda ekonomi sekaligus menjaga pemerataan. Pertumbuhan mencapai 4,93 persen.

SEKRETARIS Daerah Lotim, H.M. Juaini Taofik, dalam diskusi peringatan 30 Tahun Hari Otonomi Daerah (Otda) Refleksi Prestasi atau Retorika bersama Forum Jurnalis Lombok Timur (FJLT) di Selong, pada Sabtu (9/5/2026) malam mengingatkan bahwa esensi otonomi bukanlah tujuan, melainkan instrumen untuk mendekatkan pelayanan dan mengembangkan potensi lokal.

“Daerah masih punya semangat memperingati Otda sebagai pemangku kepentingan,” ujar Juaini.

Kak Ofik, sapaan akrab Sekda Lotim ini menambahkan, setelah era pemerintahan Jokowi, banyak pihak menilai otonomi daerah seolah tak lagi terasa, padahal semangat awalnya adalah memberi kewenangan seluas-luasnya. “Kita sebenarnya kembali ke esensi Otda: mendekatkan pelayanan, mengembangkan potensi masyarakat, serta hak mengatur dan mengurus daerah sendiri,” tegasnya.

Pertumbuhan ekonomi Lotim dinilai cukup baik dan merata di semua elemen masyarakat. Faktor unik lainnya adalah peningkatan jemaah umrah. “Jemaah umrah dari 2024 ke 2025 meningkat 115 persen. Ada pengeluaran signifikan yang masuk ke perekonomian Lotim,” ungkap Sekda.

Sektor pertanian masih menjadi penyumbang terbesar dengan share 26,7 persen, diikuti oleh uang yang masuk dari berbagai program pusat yang bersinergi dengan daerah, seperti subsidi pupuk yang bertambah.

Yang lebih membanggakan, pertumbuhan tinggi tidak disertai kesenjangan lebar. Indeks Gini Ratio Lotim berada di angka 0,267, nomor dua terbaik setelah Lombok Utara (KLU). Bandingkan dengan Kota Mataram yang mencapai 0,404.

Menurut Sekda, yang menarik, pertumbuhan terjadi di tengah penurunan fiskal daerah. Faktor utamanya adalah meningkatnya jumlah uang beredar karena hadirnya banyak program pusat ke Lotim. Salah satunya program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Tahun 2025, uang yang beredar lebih besar dibanding 2024. Program MBG mengucurkan sekitar Rp3,6 triliun dengan rata-rata belanja Rp50 juta tiap MBG, dikalikan 200 jumlah dapur se-Lotim. Jumlah itu bahkan lebih besar dari APBD yang Rp3,1 triliun,” jelas Sekda.

Dosen Universitas Teknologi Mataram, Lalu Muhammad Kabul, mengungkapkan, Lombok Timur selama lima tahun terakhir kerap tertinggal dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan ekonomi. Namun, tahun 2025 menjadi titik balik.

“Memang berat menghilangkan stigma rendah. Syukur, kita harus ubah data Lotim yang selalu buncit. Kita harus bangga: Kabupaten Lombok Timur terbaik se-NTB di tahun 2025,” ujar Kabul.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lotim, pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 4,93 persen pada 2025, selaras dengan kenaikan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Angka ini menjadi yang tertinggi di NTB.

Adapun angka kemiskinan Lotim tercatat 13,63 persen. Kabul mengingatkan bahwa data bersifat rata-rata, sehingga kebijakan pemkab harus terukur dan kasus per kasus. “Desil I (sangat miskin), desil II (miskin), desil III (hampir miskin), dan desil IV (rentan miskin) perlu perhatian khusus,” pungkasnya.

Kabag TU BPS Lotim, Zainul Irfan, memaparkan tiga penyumbang tertinggi pertumbuhan ekonomi: pertama, Industri makanan dan minuman–termasuk di dalamnya program MBG. Lotim mencatat progres pendirian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tertinggi se-Indonesia, sudah lebih dari 200 unit.

Kedua, Penyediaan akomodasi makan minum tumbuh 9,85 persen, didorong tingginya hunian hotel. Ketuga, Pengadaan listrik, gas, dan reparasi mobil tumbuh masing-masing 6,35 persen dan 6,68 persen.

Gini ratio ekonomi Lotim juga sangat rendah. Hal ini menunjukkan tingkat pemerataan ekonomi di Lotim cukup baik. “Semakin mendekati angka 1, berarti ketimpangan tinggi. Gini Ratio Lotim sangat menggembirakan. Antara pertumbuhan ekonomi dan pemerataan berjalan sejalan,” ujar Zainul Irfan. (rus)

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut