Tuesday, April 28, 2026
26.5 C
Mataram
HomeBerandaProgram MBG Dongkrak Penjualan Kendaraan Pikap di NTB

Program MBG Dongkrak Penjualan Kendaraan Pikap di NTB

Mataram (ekbisntb.com) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut memberi dampak positif terhadap sektor otomotif di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya penjualan kendaraan niaga jenis pikap. Kehadiran dapur-dapur MBG di berbagai daerah mendorong meningkatnya kebutuhan armada distribusi logistik dan bahan pangan.

Branch Manager Suzuki Cakra Mobilindo, Edy Khairuddin, mengatakan geliat ekonomi dari program MBG mulai terasa sejak semester kedua tahun 2025, setelah banyak dapur MBG memperoleh persetujuan operasional.

- Iklan -

Menurutnya, pada triwulan pertama 2025 kondisi pasar otomotif cukup lesu. Namun setelah program MBG berjalan, permintaan kendaraan niaga mulai meningkat signifikan.

“Begitu program MBG mulai berjalan dan dapur-dapur sudah di-approve, dampaknya langsung terasa ke penjualan mobil, terutama pikap,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sebelumnya banyak pelaku usaha mengira pengadaan kendaraan untuk kebutuhan MBG harus dilakukan dari luar daerah atau dari pusat. Namun belakangan diketahui pembelian kendaraan bisa dilakukan langsung di daerah, sehingga dealer-dealer di daerah juga terdampak secara positif penjualannya.

Tak hanya Suzuki, kata Edy, peningkatan permintaan ini juga dirasakan hampir seluruh merek kendaraan niaga yang beroperasi di NTB.

Edy mengungkapkan, dari sisi Suzuki saja, penjualan pick up untuk kebutuhan MBG mengalami kenaikan sekitar 40 unit per bulan dibanding kondisi normal. Jika digabung dengan merek lain, total tambahan penjualan di NTB diperkirakan mencapai 100 unit per bulan sepanjang 2025.

“Kalau dipukul rata semua merek, tambahan market pikap di NTB bisa sekitar 100 unit per bulan,” katanya.

Meski secara persentase kenaikannya hanya sekitar 10 persen, angka tersebut dinilai cukup baik karena di banyak daerah lain justru terjadi penurunan pasar otomotif.

Ia menuturkan, mayoritas pembeli kendaraan pikap saat ini berasal dari pemilik dapur MBG maupun pihak ketiga yang menyewakan armada ke dapur-dapur tersebut. Selain itu, ada pula pembeli yang memanfaatkan kendaraan untuk memasok bahan baku dan kebutuhan logistik ke dapur MBG.

“Kebanyakan memang untuk kebutuhan dapur, baik dipakai sendiri maupun disewakan,” jelasnya.

Edy memastikan lonjakan permintaan kendaraan belum menyebabkan kenaikan harga jual secara signifikan. Namun ia mengkhawatirkan rencana kenaikan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dapat berdampak terhadap harga on the road (OTR) dan menekan daya beli masyarakat.

Menurutnya, jika tarif pajak dinaikkan hingga dua persen, maka harga kendaraan baru bisa bertambah sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta per unit. “Kalau harga naik cukup tinggi, otomatis permintaan bisa turun. Ini yang kami khawatirkan,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah daerah mempertimbangkan stabilitas pasar otomotif agar volume penjualan tetap tumbuh. Dengan meningkatnya jumlah kendaraan baru yang diregistrasi, pendapatan daerah juga dinilai tetap dapat meningkat tanpa harus membebani konsumen.

Terkait prospek ke depan, Edy menilai permintaan kendaraan pikap masih berpotensi tumbuh seiring perluasan program MBG secara nasional. Jika jumlah dapur terus bertambah, maka kebutuhan armada logistik juga akan ikut meningkat.

“Waktu pembukaan dapur dilakukan besar-besaran tahun lalu, dampaknya luar biasa. Ekonomi di semester kedua 2025 benar-benar terasa bergerak. Mudah-mudahan ini berlanjut,” tandasnya. (bul)

IKLAN

Artikel Yang Relevan

IKLAN


Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut