Giri Menang (ekbisntb.com) — Inovasi pengolahan sampah plastik di NTB sudah mampu menembus pasar internasional. Blok bangunan berbahan plastik daur ulang yang diproduksi di Lombok Barat bahkan telah diekspor hingga ke Arab Saudi dan digunakan untuk pembangunan hunian bertingkat tahan gempa.
Pabrik block solutions ini beroperasi di kompleks BRIDA NTB di Banyumulek, Lombok Barat. Produksi blok plastik ini terinspirasi dari gempa Lombok tahun 2018, sebagai bagian dari solusi inovatif untuk bahan bangunan alternatif yang lebih ramah lingkungan dan tahan gempa.
CEO PT Block Solutions Indonesia, Jimmy Hutasoit, mengatakan, hasilnya, salah satu kegiatan ekspor dilakukan ke Arab Saudi. Blok yang dikirim dari pabrik di Lombok digunakan untuk pembangunan rumah dua lantai.
“Blok yang kami kirimkan itu diproduksi langsung dari pabrik kami di Lombok. Respon dari mereka luar biasa karena mereka melihat ini sebagai terobosan besar dalam penggunaan bahan bangunan alternatif dari plastik daur ulang,” ujarnya, Selasa, 10 Maret 2026.
Ia menjelaskan, penggunaan blok plastik daur ulang menjadi perhatian karena menawarkan solusi terhadap dua masalah sekaligus, yakni pengelolaan sampah plastik dan kebutuhan material konstruksi yang lebih efisien.
Teknologi blok tersebut menggunakan lisensi internasional yang dikembangkan di Finlandia. PT Block Solutions Indonesia memegang lisensi produksi dan distribusi di Indonesia, sementara di beberapa negara lain juga terdapat pabrik dengan lisensi serupa.
Selain di Indonesia, pabrik blok plastik juga telah beroperasi di Mesir dan sejumlah negara di Afrika. Saat ini, perusahaan juga tengah menjajaki peluang pengembangan pasar di Korea Selatan.
Dari sisi produksi, pabrik di Lombok mampu menghasilkan satu blok setiap sekitar 100 detik. Dengan kapasitas mesin yang ada saat ini, produksi mencapai sekitar 250 hingga 270 blok per hari. Blok terbesar yang diproduksi memiliki berat sekitar 38 kilogram.
Produk tersebut tidak hanya digunakan untuk proyek komersial, tetapi juga banyak dimanfaatkan untuk pembangunan fasilitas pendidikan. Saat ini, rata-rata penggunaan blok plastik daur ulang tersebut mencapai sekitar 10 ruang kelas sekolah setiap bulan.
Karena produksi awal dimulai di Lombok, mayoritas sekolah yang menggunakan blok ini berada di wilayah Lombok, terutama di Lombok Utara. Namun, distribusi kini sudah meluas ke berbagai daerah di Indonesia.
“Selain di Lombok, penggunaan blok ini juga sudah ada di Sumatera seperti Jambi, Bengkulu, dan Riau. Di Pulau Jawa juga sudah ada beberapa daerah yang menggunakan, begitu juga di Bali dan NTT,” jelasnya.
Seiring meningkatnya minat pasar, perusahaan berencana meningkatkan kapasitas produksi. Saat ini pabrik masih menggunakan satu mesin injeksi untuk mencetak blok plastik tersebut.
Ke depan, perusahaan berharap dapat menambah dua hingga tiga mesin injeksi agar produksi meningkat. Selain itu, perusahaan juga ingin mendorong tumbuhnya industri lokal yang mampu memproduksi pelet plastik dari bahan daur ulang sebagai bahan baku utama blok bangunan tersebut.
“Kami ingin memperkenalkan bahwa ada alternatif bahan bangunan yang bisa digunakan di masa depan. Harapannya, kapasitas produksi bisa meningkat dan ekosistem pengolahan plastik daur ulang di Lombok juga berkembang,” katanya.
Untuk membangun pabrik dan fasilitas produksi di Lombok, perusahaan menggelontorkan investasi sekitar 3 juta euro atau lebih dari Rp20 miliar. Dana investasi tersebut berasal dari para investor internasional.
Jimmy menyebut mayoritas investor berasal dari Italia, sementara pemegang saham minoritas berasal dari Finlandia, negara yang mengembangkan teknologi blok plastik tersebut.
Ia menilai kepercayaan investor asing untuk menanamkan modal di Lombok menjadi pencapaian tersendiri yang harus dijaga.
“Kami mendapat kepercayaan dari investor internasional untuk berinvestasi di Lombok. Walaupun mungkin terlihat kecil, ini sesuatu yang membanggakan dan tentu harus kita jaga kepercayaan itu,” demikian Jimmy.(bul)






