Mataram (ekbisntb.com) – Program wakaf produktif yang dikelola Lembaga Amil Zakat Metro Insan Mulia (LAZ MIM) Foundation menunjukkan perkembangan signifikan. Hingga Februari 2026, populasi ayam petelur dalam program ini telah mencapai 6.000 ekor, meningkat dari sekitar 2.000 ekor saat awal pengembangan pada Maret 2025.
Ketua LAZ MIM Foundation, Romi Saefudin, mengungkapkan peningkatan populasi terjadi secara bertahap dengan dukungan para wakif dan mitra. Saat ini, sekitar 80 persen ayam telah memasuki fase produktif, dengan usia 18 hingga 22 minggu dan aktif bertelur.
“Dari total 6.000 ekor, yang sudah produksi sekitar 5.500 butir telur per hari,” ujarnya, Selasa, 3 Maret 2026.
Telur yang dihasilkan terdiri dari dua jenis, yakni telur reguler dan telur Omega 3. Untuk telur omega 3, jumlah produksinya berkisar antara 500 hingga 1.000 butir per hari, menyesuaikan permintaan pasar. Sebelumnya produksi sempat menyentuh 2.000 butir per hari, namun dikurangi karena tingginya serapan telur reguler di pasar sebagai dampak kebutuhan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Telur Omega-3 sendiri menjadi salah satu yang favorit karena dianggap punya nutrisi yang melimpah.
telur omega-3 dan telur biasa didapat dari ayam yang dibudidayakan dengan cara yang sama. Namun, pakan yang diberikan untuk ayam yang menghasilkan telur omega 3 dan ayam yang menghasilkan telur biasa tidak sama. Inilah yang membuat adanya perbedaan pada telur omega 3 dan telur biasa.
Manfaat-manfaatnya antara lain, meningkatkan kesehatan otak, termasuk kemampuan berpikir, konsentrasi, mengingat, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah
Menurunkan risiko penyakit terkait otak, seperti penyakit Alzheimer. Mengurangi kadar trigliserida dan mencegah pembekukan darah, sehingga risiko terjadinya penyakit jantung dapat menurun. Mengurangi gejala ADHD pada anak. Memperkuat imunitas tubuh. Menurunkan risiko terkena gangguan mental, seperti depresi dan gangguan kecemasan. Karena itulah Telur Omega-3 ini banyak diminati.
Lanjut Romi, seluruh usaha peternakan ini dikelola dengan skema wakaf produktif. Artinya, modal pokok wakaf tidak boleh berkurang dan harus terus berputar. Hasil penjualan telur diputar kembali sebagai modal usaha, sementara keuntungan dialokasikan untuk program sosial.
“Skemanya ada dua, komersial dan sosial. Dari keuntungan itu sebagian dikembalikan untuk pengembangan usaha, dan sebagian lagi untuk program pengentasan kemiskinan,” jelasnya.
Total dana wakaf yang saat ini dikelola mencapai sekitar Rp975 juta, di luar aset kandang yang menggunakan skema kerja sama pemanfaatan lahan. Dana wakaf dihimpun melalui mekanisme offline maupun online, termasuk melalui platform “Satu Wakaf Indonesia” Bank Indonesia.
Dari hasil pengelolaan tersebut, pada awal 2026 program ini mulai mencatat keuntungan. Selama tiga bulan terakhir, sekitar Rp18,4 juta telah dialokasikan untuk program sosial, di antaranya bantuan bagi masyarakat sekitar lokasi peternakan dan beasiswa untuk 20 siswa tingkat SMP yang berasal dari keluarga kurang mampu. Beasiswa tersebut diberikan dalam bentuk bantuan rutin bulanan.
Romi menegaskan, model wakaf produktif ini dirancang agar mampu memberikan dampak ekonomi berkelanjutan, bukan sekadar bantuan sesaat. Selain membuka lapangan kerja di peternakan, program ini juga berpotensi dikembangkan lebih jauh, termasuk produksi pakan omega 3 bagi peternak lain, meski masih dalam tahap kajian terkait aspek perizinan.
“Aturan wakaf mengatur bahwa ada persentase keuntungan yang harus kembali ke masyarakat dalam bentuk program sosial. Itu yang kami jalankan. Jadi wakaf ini bukan hanya menjaga aset, tapi juga menggerakkan ekonomi dan membantu yang membutuhkan,” demikian Romi.(bul)






