Mataram (ekbisntb.com)– Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Nusa Tenggara Barat (NTB) menegaskan pentingnya membangun budaya tertib berlalu lintas sejak usia dini melalui kegiatan Sosialisasi Sadar Lalu Lintas Usia Dini (SALUD) Tahun 2026. Program yang berlangsung selama tiga hari ini resmi ditutup pada Rabu, 29 Juli 2026 dengan melibatkan puluhan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) dari Pulau Lombok.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPTD Kelas II NTB, Boy Nurdin, mengatakan program SALUD merupakan salah satu upaya Kementerian Perhubungan dalam meningkatkan budaya keselamatan berlalu lintas melalui pendidikan sejak dini.
Menurutnya, pembentukan karakter disiplin berlalu lintas tidak dapat dilakukan secara instan, melainkan harus dimulai sejak anak-anak dengan melibatkan keluarga, sekolah, dan pemerintah.
“Kegiatan SALUD merupakan salah satu upaya nyata Kementerian Perhubungan dalam membangun budaya tertib berlalu lintas sejak usia dini. Pendidikan keselamatan lalu lintas harus dilakukan secara bertahap, berkesinambungan, dan melibatkan seluruh unsur masyarakat,” ujar Boy.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta memperoleh berbagai materi mengenai keselamatan berlalu lintas, pengenalan rambu-rambu, etika berkendara, hingga peran keluarga, sekolah, dan pemerintah dalam menciptakan lingkungan transportasi yang aman dan berkeselamatan.
Boy menjelaskan, sasaran utama program ini bukanlah anak-anak secara langsung, melainkan para guru PAUD dan TK yang nantinya akan menjadi agen edukasi di sekolah masing-masing.
“Melalui guru-guru PAUD dan TK, materi mengenai rambu-rambu, etika, dan tata cara berlalu lintas akan disampaikan kepada peserta didik. Harapannya, nilai-nilai disiplin dan keselamatan sudah tertanam sejak usia dini sehingga menjadi karakter ketika mereka dewasa,” jelasnya.
Menurut Boy, masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam berlalu lintas, khususnya di kalangan remaja, menjadi alasan penting dilaksanakannya program tersebut. Ia menilai berbagai pelanggaran seperti tidak menggunakan helm, menerobos lampu merah, hingga mengabaikan aturan lalu lintas terjadi karena budaya disiplin belum tertanam sejak kecil.
“Kita melihat masih banyak pelanggaran yang dilakukan, baik oleh remaja maupun orang dewasa. Karena itu, kita mencoba membangun karakter masyarakat mulai dari usia dini agar kelak tumbuh menjadi pengguna jalan yang tertib dan berkeselamatan,” katanya.
Pada pelaksanaan perdana di NTB ini, sebanyak 75 peserta mengikuti kegiatan yang berasal dari guru-guru PAUD dan TK di wilayah Pulau Lombok. Boy berharap program ini dapat terus berlanjut dan diperluas ke seluruh wilayah NTB.
“Kegiatan ini masih baru di NTB. Kami berharap dukungan dari Kementerian Perhubungan sehingga program ini dapat berlangsung secara berkelanjutan karena menjadi salah satu pilar penting dalam meningkatkan keselamatan transportasi jalan,” ujarnya.
BPTD Kelas II NTB juga melibatkan Dinas Pendidikan dalam penyelenggaraan SALUD. Agar materi keselamatan berlalu lintas ke depan dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Selain itu, Boy mengajak seluruh pihak untuk memperkuat kolaborasi dalam menciptakan budaya keselamatan berlalu lintas. Menurutnya, tanggung jawab menjaga keselamatan di jalan tidak hanya berada di tangan pemerintah maupun aparat penegak hukum, tetapi membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat.
“Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, institusi pendidikan, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci untuk mewujudkan lalu lintas yang aman, tertib, dan berkeselamatan,” tegasnya.
Boy berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan diteruskan kepada anak-anak didik maupun masyarakat sekitar.
“Dengan demikian, budaya keselamatan berlalu lintas dapat tumbuh sejak usia dini dan menjadi bagian dari karakter generasi penerus bangsa,” pungkas Boy Nurdin.(bul)






