Sikka (Suara NTB) – Di sudut Desa Tana Duen, Kabupaten Sikka, semangat Raden Ajeng Kartini terasa hidup dalam keseharian mama-mama desa. Di antara aktivitas rumah tangga, kini mereka menemukan ruang baru untuk tumbuh dengan mengolah sampah menjadi berkah melalui Program SAPA TANA (Sampah Jadi Pangan dan Tanaman) yang diinisiasi oleh Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maumere.
Bagi Elisabeth Wisang, perjalanan ini bukan sekadar tentang kegiatan baru, melainkan perubahan cara pandang terhadap diri sendiri.
“Sebelumnya saya hanya ibu rumah tangga yang bergantung pada penghasilan suami. Sekarang, kami sudah bisa sedikit demi sedikit berkontribusi dalam perekonomian keluarga,” tuturnya dengan senyum bangga.
Program SAPA TANA lahir pada 2025 dari proses panjang pemetaan sosial dan diskusi bersama masyarakat. Dari sana, terungkap potensi besar yang belum tergarap seperti lahan pertanian yang subur, persoalan sampah yang belum tertangani optimal, serta peluang pemberdayaan perempuan yang masih terbuka lebar.
Melalui pendekatan berbasis lingkungan, sampah rumah tangga kini diolah menjadi pupuk organik yang memberi nilai tambah bagi sektor pertanian desa. Namun lebih dari itu, SAPA TANA menjadi ruang belajar yang hidup tempat perempuan saling berbagi, menguatkan, dan membangun kepercayaan diri.
Dalam perjalanannya, program ini tidak berdiri sendiri. Kolaborasi erat terjalin bersama Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Kangae, serta Pemerintah Desa Tana Duen, menghadirkan pendampingan berkelanjutan bagi kelompok penerima manfaat.
Bagi Maria Leni, SAPA TANA menghadirkan makna yang lebih dalam dari sekadar kegiatan ekonomi.
“Sejak ada program SAPA TANA, saya jadi punya banyak teman dan berkontribusi dalam keberlanjutan kelompok,” ujarnya.
Sementara itu, Area Manager Commrel & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menyampaikan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendorong pemberdayaan kelompok rentan berbasis potensi lokal.
“Melalui Program SAPA TANA, Pertamina Patra Niaga berupaya menghadirkan pemberdayaan yang tidak hanya berdampak pada aspek lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan kemandirian ekonomi perempuan desa. Kami percaya, ketika perempuan diberi ruang dan akses yang tepat, mereka dapat menjadi penggerak utama dalam pembangunan yang berkelanjutan,” jelas Ahad.
Sejalan dengan semangat Hari Kartini, kisah dari Tana Duen menjadi pengingat bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan keluarga dan lingkungan. Dari tangan-tangan yang dahulu hanya mengelola rumah, kini lahir kontribusi nyata bagi ekonomi dan keberlanjutan desa.
Dari Desa Tana Duen, tumbuh harapan baru bahwa perubahan dapat dimulai dari hal sederhana, dari sampah yang diolah dengan kepedulian, dan dari perempuan yang berani melangkah maju.(bul)






