spot_img
26.5 C
Mataram
BerandaNTBGaleri “Penginang” Lombok, Wadah Melestraikan Industri Tenun NTB

Galeri “Penginang” Lombok, Wadah Melestraikan Industri Tenun NTB

Praya (ekbisntb.com)-Galeri Penginang Lombok yang ada di Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, menjadi salah satu tempat atau wadah untuk memasarkan produk-produk pelaku UMKM yang ada di Provinsi NTB, khususnya di desa setempat.

Sejak dibuka pada tahun 1989 lalu, Penginang Lombok yang sempat tutup akibat Pandemi COVID-19 pada Desember 2020, dibuka kembali pada Juni 2024.

Barang-barang yang ditampung diproduksi oleh sekitar 15 UMKM binaan, termasuk UMKM dari Kota Bima berupa kain khas hasil tenun Kota Bima, Dompu, Pringgasela, terutama Desa Sukarara yang banyak memproduksi songket-songket motif asli dari Suku Sasak itu sendiri. Termasuk juga tas dan kerajinan Ketak yang berasal dari Desa Janapria dan Karang Bayan.

Mereka menghidupkan kembali seni-seni tradisi peninggalan sejarah nenek moyang untuk tetap eksis di era modern. Dilihat dari produk-produk yang dijual, banyak yang dimodernisasi dari kain tenun menjadi baju yang sesuai dengan perkembangan zaman.

“Kita bikin turunan-turunan, karena tidak semua orang pakai sarung. Jadi kita jadikan turunan yang dimodernisasi seperti baju dari tenun dan bahannya premium,” jelas Mawardi, Ketua Cooperative Penginang Lombok.

Penenun asal Sukarare yang dibina sekitar 150 penenun tradisional menggunakan tenun gedogan. Kemudian untuk tenun ikat menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Ia menyebutkan, selain memasarkan produk binaan melalui galeri, mereka juga memanfaatkan pemasaran online.

“Kami ada digital marketing, dan ada creator untuk promosikan lewat online,” ungkapnya.

Pemasaran produk-produk binaan mereka juga pernah tembus hingga pasar internasional seperti Jerman dan Prancis.

“Selain itu, kami juga pernah pameran di Jerman tahun 1998,” tambahnya.

Ke depannya, ia akan membuat semacam edukasi tentang menenun, membatik, dan membuat anyaman. Yang mana sasarannya adalah anak-anak sekolahan atau mereka yang tidak memiliki pekerjaan.

“Kami akan berikan mereka kesibukan, dari pada mereka harus melakukan sesuatu yang tidak ada maknanya, seperti judi online yang sekarang merusak generasi kita. Lebih baik kita bina untuk hal-hal seperti ini” ujarnya.

Tidak hanya menampilkan tenun warisan budaya, mereka turut menghidupkan Desa Wisata. Wisatawan yang berkunjung biasanya diajak berkeliling desa untuk melihat aktivitas penduduk sekitar. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan budaya yang ada di desa setempat yang sangat beragam, yang saat ini masih dipertahankan di era industri pariwisata.

“Wisatawan mancanegara selalu heran kenapa disamping rumah warga ada kandang sapi, kandang ayam, atau kandang itik. Di negara mereka tidak ada yang seperti itu budayanya, jadi kami mencoba untuk memberikan pengalaman wisata. Mereka ada yang kasih makan kambing, kalau ada orang yang nyangkul mereka ikut nyangkul seperti itu,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, bahwa kunjungan wisatawan yang datang 80 persen berasal dari wisatawan domestik. Selain datang untuk membeli produk, mereka juga diperkenalkan budaya dan tradisi menenun yang dilakukan oleh masyarakat setempat. (Ulf)

Artikel Yang Relevan

Iklan





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut