Tuesday, April 7, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 632

RSUD Praya Implementasikan Digitalisasi Pelayanan

0
Seorang pegawai RSUD Praya memasang pengumuman terkait implementasi modul SIMRS dengan tujuan meningkatkan pelayanan. (Ekbis NTB/kir)

MANAJEMEN Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Praya telah memulai upaya digitalisasi pelayanan. Dengan mengimplementasikan modul Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) mulai akhir bulan Juli kemarin. Langkah tersebut sebagai salah satu upaya mendorong peningkatan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat di tengah terus meningkatkan jumlah pasien yang dilayani RSUD Praya.

Direktur RSUD Praya dr. Mamang Bagiansyah, menjelaskan, implementasi modul SIMRS akan dilakukan secara bertahap. Dimulai dengan impelementasi modul Rekam Medik Elektronik (RME). Selain merupakan amanah undang-undang, implementasi RME akan mampu mewujudkan proses pelayanan yang sangat efisien, karena mulai sejak pendaftaran hingga layanan resep obat semua dilakukan secara elektronik atau digital.

“Jadi dengan implementasi RME, tidak perlu lagi ada cetak berkas rekam medis hingga cetak berkas billing pasien,” terangnya.

Selain itu, cetak buku resep dan lainnya juga tidak diperlukan lagi, sehingga akan memudahkan masyarakat atau pasien dalam memperoleh pelayanan kesehatan sekaligus bisa mendorong efisiensi sumber daya manusia (SDM). Karena tidak perlu lagi tenaga untuk mengantar berkas rekam medik atapun ruang besar untuk menyimpan berkas.

“Dengan RME ini pasien setelah mendaftar (check in) tinggal duduk manis langsung di poli tujuan masing-masing. Sesuai jadwal, dokter spesialis datang periksa, rekam medis pasien sudah berurutan di komputer dengan data isian yang diperlukan oleh dokter juga sudah ada tersedia di sistem. Termasuk untuk memesan pemeriksaan penunjang seperti laboratorium dan radiologi cukup dari komputer. Hingga pelayanan resep, juga akan beralih ke sistem digital,” jelasnya.

Hanya saja, karena sistem tersebut masih dalam masa transaisi maka tentu butuh proses adaptasi. Penyempurnaan terhadap kekurangan-kekurangan yang dihadapi terus dilakukan selama berproses. Misalnya, soal kesiapan jaringan internet berkecepatan tinggi saat ini sedang proses pemasangan, sehingga jika terjadi keterlambatan dalam pelayanan bisa dimaklumi. Karena sistem tersebut masih masa transisi.

Mamang menambahkan, ke depan semua bentuk pelayanan di RSUD Praya akan didorong ke model digital, karena merupakan tuntutan zaman. Belum lagi melihat RSUD Praya yang setiap waktu terus berkembang dalam hal jumlah pasien yang dilayani, sehingga perlu ada langkah-langkah antisipasi untuk menghadapi perkembangan yang ada tersebut. “Saat ini rata-rata per bulan, RSUD Praya melayani sekitar 7.000 pasien,” imbuhnya.

Jika pun kemudian ada yang masih belum puas, hal yang wajar. Tetapi yang jelas RSUD Praya berkomitmen untuk terus berbenah. Guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat di daerah ini. (kir)

Aruna Senggigi bersama Kemenpora Sukses Gelar Fun Run Lobar

0
Analis Kebijakan Ahli Utama Kemenpora RI Wisler Manulu melepas peserta Fun Run Lobar, Minggu 11 agustus 2024. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke Lobar dan daerah lain di NTB. (Ekbis NTB/ist)

ARUNA Senggigi Resort and Convention bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI) Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTB dan Dispora LOMBOK BARAT (Lobar) sukses menggelar Fun Run Lobar dalam rangka Tarkam Kemenpora 2024 dan HUT Ke-8 Aruna Senggigi Resort and Convention, Minggu 11 agustus 2024.

Pelepasan dilakukan di depan Sasaku Senggigi Lombok dan finish di Sea View Aruna Senggigi. Kegiatan ini digelar gratis untuk masyarakat Lobar.

Analis Kebijakan Ahli Utama Kemenpora RI Drs. Wisler Manulu, M.M., memberikan apresiasinya atas kegiatan Fun Run Lobar. Menurutnya, melalui event ini dapat melahirkan talenta-talenta muda berbakat, dan masyarakat bisa menerapkan olahraga menjadi gaya hidup sehat yang bisa diterapkan dalam diri.

Selain itu, ujarnya, dari segi dunia usaha kegiatan Fun Run dapat menghidupkan pariwisata di wilayah Senggigi.

Management Aruna Senggigi  yang juga Direktur PT. Graha Utama Group Erwin H. Poedjono, salah satu owner Aruna Senggigi menyampaikan ucapan terima kasih, karena Aruna dilibatkan dalam event Fun Run ini. Menurutnya, kolaborasi ini sangat penting bagi sektor perhotelan bisa ikut menunjang dan mempertahankan pariwisata di Senggigi, khususnya dan pariwisata secara keseluruhan di NTB.

Dalam hal ini, pihak Aruna tidak akan kendur dalam berkomitmen memajukan pariwisata NTB khususnya Lobar.

Kegiatan Fun Run Lobar ini, tambahnya, terdiri dari 3 kegiatan, yaitu olahraga,  bersilaturrahmi dan juga masyarakat dilibatkan dalam kegiatan promosi pariwisata dengan tujuan menarik minat wisatawan datang ke wilayah Senggigi. Termasuk kegiatan ini merupakan  rangkaian HUT Aruna ke-8.

Kegiatan kolaborasi Fun Run merupakan kontribusi Aruna kepada masyarakat dan sektor pariwisata dalam perayaan HUT Aruna Senggigi yang ke-8 yang jatuh pada tanggal 18 Agustus mendatang. ‘’Selain itu, kegiatan ini bertabur hadiah menarik untuk masyarakat yang ikut berpartisipasi higga hiburan adat Sasak ‘gendang beleq’ , senam bersama juga diselenggarakan,’’ ujarnya.

Sementara Kepala Dispora Lobar drg. H. Arbain Ishak, menjelaskan, peserta yang ikut dalam kegiatan Fun Run ini tercatat 2.000 orang.  Peserta tidak hanya dari Lobar, akan tetapi dari luar Lobar.

Selain kegiatan Fun Run, ujarnya, Lobar juga sebelumnya memiliki kegiatan colour run dan sukses diselenggrakan. ‘’Saat ini Lombok Barat memiliki banyak kegiatan Sport Tourism yang belum dilaksanakan dan akan dilaksanakan dalam waktu dekat,’’ tutupnya. (r)

Lahan Mataram Semakin Berkurang, Dinas Pertanian Tetap Optimalkan Budidaya

0
Lahan kangkung di Kota Mataram yang semakin berkurang. Pemkot Mataram melalui Dinas Pertanian mengoptimalkan budidaya. (Ekbis NTB/ulF)

SEBAGAI salah satu jenis tanaman yang lolos sertifikasi Indikasi Geografis (IG) dan dipamerkan di Swiss beberapa waktu lalu, kangkung menjadi salah satu ciri khas Pulau Lombok yang harus dimaksimalkan budidayanya.

Kepala Bidang Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) Dinas Pertanian Kota Mataram, Liswati mengungkapkan jika luas lahan penanaman kangkung di Kota Mataram semakin berkurang setiap tahunnya. Hal itu dikarenakan banyak lahan yang diambil alih oleh pemilik dan dialihfungsikan. Meski terdapat beberapa petani yang menggunakan lahan milik sendiri, namun rata-rata petani memanfaatkan lahan milik orang lain.

Adapun beberapa wilayah yang masih memiliki lahan yang cukup luas di Kota Mataram, yaitu di Kecamatan Sandubaya dengan luas sekitar 7 hektar, kemudian sisanya di Babakan, Mandalika, Turida dan Dasan Cermen dan wilayah Karang Baru dengan luas lahan sekitar 20 are.

“Selama ini untuk lahan kangkung sudah mulai berkurang, jadi untuk saat ini hanya di Sandubaya yang bagus kemudian di Babakan yang masih pakai organik. Itu pun lahannya sudah mulai berkurang,” ungkapnya.

Untuk menjaga kualitas kangkung yang ada di Kota Mataram, Dinas Pertanian Kota Mataram tetap melakukan pemantauan mengenai kondisi kesiapan tanaman kangkung yang ada. Seperti melakukan penanganan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) untuk menjaga kangkung dari kerusakan dan penyakit tanaman lainnya dengan melakukan penanganan secara alami. Kemudian pengganggu-pengganggu tanaman, seperti binatang atau pengganggu yang lain ditangani secara intensif.

Ia mengungkapkan, selama ini tidak ada permasalahan yang cukup serius dalam penanaman kangkong. Tidak seperti tanaman lain seperti padi, cabai dan sebagainya. Terkait produktivitasnya, selebihnya dikembalikan kepada petani.  “Kalau memang permintaan tinggi, ya otomatis penanamannya juga tinggi,” ujarnya.

Ia menyebutkan, Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan (KP2B) selalu berkurang setiap tahun seluas 30 hektar. Para petani kangkung yang notabenenya menggarap lahan milik orang lain, apabila lahannya diambil oleh pemilik tidak lagi dapat menanam kangkung.  “Hal itu yang sebetulnya menjadi dilema, jadi untuk lahan yang memang digunakan ya kita begini adanya,” ungkapnya.

Namun, dengan keterbatasan lahan yang semakin berkurang, Dinas Pertanian Kota Mataram tetap memaksimalkan agar kangkung tetap memiliki eksistensi sebagai identitas Lombok. Hal itu dikarenakan kangkung menjadi salah satu jenis tanaman yang masuk dalam sertifikasi IG, sehingga menurutnya penanaman kangkung harus dijaga betul.

Saat ini, Dinas Pertanian tetap mengoptimalkan pemanfaatan Pekarangan Pangan Lestari (P2L)  di kalangan masyarakat, tidak hanya melalui media hidroponik, namun juga memanfaatkan polybag sebagai media tanam oleh para Kelompok Wanita Tani (KWT) yang ada di Kota Mataram. Hal ini bertujuan masyarakat tidak harus ketergantungan pada pasar, tetapi bisa memenuhi kebutuhannya sendiri.

“Jadi tidak hanya harus di sawah karena penggarap ini semakin berkurang, tapi kami juga intinya konsennya kalau di Dinas Pertanian, terutama di bidang TPH lebih kepada pemanfaatan pekarangan,” terangnya.

Ke depannya, ia berharap budidaya kangkung lebih ditingkatkan lagi kualitasnya, pihak Dinas Pertanian akan berkoordinasi dengan Tim IG untuk melihat bagaimana karakteristik kangkung yang digunakan untuk memenuhi standar IG tersebut. Hal itu dimaksudkan agar kangkung tidak hanya didistribusikan di tingkat lokal saja, namun ke pasar yang lebih luas. Mengingat selama ini para petani hanya memasarkan kangkung di Pulau Lombok saja. (ulf)

Meski Mendunia, Pengembangan Kangkung Lombok Belum Perioritas

0
Kangkung lombok(ekbisntb.com/travelkompas)

Lombok (ekbisntb.com) – Meski kangkung Lombok sudah menjadi primadona, bahkan sudah mendunia, namun komoditas hortikultura ini belum menjadi tanaman unggulan untuk terus dikembangkan.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTB, M. Taufieq Hidayat di Mataram, Minggu, 11 Agustus 2024 mengemukakan, kangkung masih menjadi tanaman selingan padi, atau tanaman pangan lainnya.

“Belum ada data terkait luas areal, karena masih jadi tanaman selingan dengan padi biasanya, atau yang lainnya,” katanya.

Kepala dinas menegaskan, belum banyak petani/masyarakat yang memanfaatkan lahan tanam atau areal tanamnya untuk dijadikan lahan khusus tanaman kangkung.

“Kabupaten Lombok Barat, atau Kota Mataram data (luas lahan kangkung). Karena pengembangannya belum masuk sebagai program perioritas,” demikian Taufieq.(bul)

Sirkuit Mandalika Akan Jadi Tuan Rumah Balap Mobil Fanatec GT World Challenge Asia

0
Fanatec GT World Challenge Asia(ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Fanatec GT World Challenge Asia Powered by AWS akan melangsungkan debut yang sangat dinanti-nantikan di Pertamina Mandalika International Circuit musim depan.

Pertamina Mandalika International Circuit, sirkuit indah yang terletak di pulau Lombok, Indonesia, menjadi sorotan utama kalender tahun 2025 yang diumumkan, di CrowdStrike 24 Hours Spa. Founder dan CEO SRO Motorsports Group, Stephane Ratel, bertemu dengan perwakilan dari Mandalika Grand Prix Association (MGPA) di Fuji Speedway, dimana multi-year agreement secara resmi ditandatangani.

Sirkuit dengan panjang 4,3 km dan 17 tikungan telah menjadi tuan rumah kejuaraan internasional MotoGP dan the FIM Superbike World Championship sejak akhir tahun 2021.

Fanatec GT Asia akan menjadi seri balap roda empat internasional pertama yang hadir di Pertamina Mandalika International Circuit, dengan lebih dari 30 supercar GT3 yang berkompetisi pada bulan Mei.

Indonesia menjadi negara keenam yang menyelenggarakan Fanatec GT Asia sejak dibentuknya kejuaraan ini pada tahun 2017. Selain Malaysia, Thailand, Jepang, dan Tiongkok yang menjadi tuan rumah saat ini, seri ini juga hadir di Korea Selatan pada tahun 2019.

Benjamin Franassovici, Championship Director SRO Motorsports dalam keterangan resmi yang dikirim MGPA, Minggu , 11 Agustus 2024 menyatakan, GT racing di Pertamina Mandalika International Circuit akan sangat spektakuler.

“Saya sudah beberapa kali mengunjungi sirkuit ini dan selalu terpesona oleh keindahan Lombok serta kualitas dan fasilitasnya. Tidak ada sirkuit secantik ini di Asia. Dengan masuknya Pertamina Mandalika International Circuit ke dalam kalender musim depan, saya yakin akan menjadi seri yang sangat populer,” ujarnya.

Pengumuman ini merupakan hasil dari kerja keras selama beberapa tahun, sungguh luar biasa bisa menetapkan posisi Indonesia dalam kalender Fanatec GT Asia.

Priandhi Satria, Direktur Utama MGPA mengatakan, ini menjadi momen bersejarah bagi Pertamina Mandalika International Circuit yang akan menjadi tuan rumah ajang balap mobil GT3 multi-brand yang populer di Asia.

“Menjadi tuan rumah event international membuktikan komitmen MGPA terhadap kemajuan motorsport di Indonesia dan sebagai sirkuit kelas dunia. Dengan menjadi tuan rumah Fanatec GT World Challenge Asia, menunjukkan kesiapan Pertamina Mandalika International Circuit untuk menyelenggarakan ajang internasional lainnya, yang akan semakin memperkuat posisi kami sebagai salah satu sirkuit terindah di dunia” tutup Priandhi.

Ari Respati, Direktur Utama ITDC mengatakan, kolaborasi ini menandai langkah penting The Mandalika sebagai ‘The Ultimate Lifestyle Sportstainment Destination’ di Indonesia.

Dengan menjadi tuan rumah event 2025 Fanatec GT World Challenge Asia Powered by AWS Calendar, The Mandalika akan meningkatkan citranya internasional sebagai pusat sport and entertainment. Selain itu, event ini akan membawa manfaat ekonomi yang signifikan bagi komunitas lokal.

Secara keseluruhan, kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kedudukan global The Mandalika sambil memastikan dampak ekonomi positif jangka panjang bagi komunitas sekitarnya.

ITDC sepenuhnya mendukung kolaborasi MGPA dengan GT Fanatec, mengakui perannya yang penting dalam mewujudkan tujuan-tujuan ini dan meningkatkan daya tarik The Mandalika.

Spesifik kalender Fanatec GT Asia akan diumumkan bersama dengan lima lokasi lainnya. Tiga sirkuit di Asia Tenggara – Sepang, Mandalika, dan Chang – akan menjadi tuan rumah musim pertama dari April hingga Juni, diikuti oleh dua putaran di Jepang, dan akan ditutup di Tiongkok pada bulan Oktober.(bul)

Tenis Open 2K24 Bulog Next Sukses Digelar, Rantai Ekonomi Ikut Menggeliat

0
Tenis Open 2K24 Bulog (ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Tenis Open 2K24 Bulog Next di Mataram, Nusa Tenggara Barat menjadi ajang strategis untuk menggairahkan olahraga, sekaligus menggeliatkan ekonomi lokal.

Turnamen yang digelar sejak 8 Agustus dan ditutup 11 Agustus 2024 melibatkan para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Ketua Panitia Tennis Open 2K24 Bulog Next, Sawaludin Susanto menyampaikan, tenis open ini diikuti dari seluruh petenis Indonesia, dari Papua, Kalimantan Sumatera, Bali, Jambi dan juga dari Pulau Jawa, dengan total peserta 215 orang yang 50 persenya dari luar NTB.

Para peserta ini telah berdatangan sejak H-7 gelaran ini yang membutuhkan akomodasi dan transportasi dalam menunjang pergerakan dalam event tersebut.

“Peserta menginap disini hampir belasan malam di hotel. Sehingga secara otomatis pergerakan ekonomi bisa terjadi, lebih-lebih pariwisata, rumah makan dan lainnya,” katanya.

Susanto menambahkan, Tennis Open 2K24 Bulog Next ini bukan hanya konsep olahraga tapi mengikutsertakan UMKM. Pelibatan UMKM ini adalah upaya mendekatkan kuliner kepada para peserta. Dalam satu kawasan atau venue di Bulog NTB ini misalnya tersedia berbagai makanan dan minuman yang bisa dinikmati oleh para peserta, official maupun penonton.

“Di Bulog ini ada 10 UMKM yang terlibat. Sementara di empat venue lainnya yakni Kejaksaan, PLN, Bank Indonesia dan Handayani melibatkan UMKM setempat,” ucapnya.

Lebih lanjut disampaikan Susanto, pada hari kedua ivent ini banyak official ataupun kalangan keluarga dari peserta yang berdatangan dari Makasar Sulawesi Selatan dan Jawa Timur.

Kehadiran mereka tidak lepas untuk menyaksikan langsung serta memotivasi keluarga baik, suami atau sanak saudara lainnya karena bisa lolos ke babak selanjutnya.

Dari empat kategori yang dimainkan pada Tennis Open 2K24 Bulog Next, pada KU110 all final adalah Bulog, KU90 dimenangkan oleh petenis Indonesia yang pernah juara asia yakni Sulistio Wibowo (mantan atlet nasional).

Bahkan atlet dari Papua juga diperkuat oleh mantan atlet nasional Sulistio Wibowo dan Tim Bulog juga diperkuat oleh Edi Kus yang juga mantan atlet nasional. Sehingga sangat memeriahkan Tennis Open 2K24 Bulog Next yang dipusatkan di Bulog NTB.

“Alhamdulillah kedua mantan atlet nasional dan juara asia ini menjadi magnet dan memeriahkan ivent ini. Pada set penentuan di set ketiga dimenangkan oleh Bulog pada juara beregunya,” ujarnya.

Pada kategori prestasi juga bermain para atlet nasional. Papua dikategori ini menurunkan Gunawan yang juga atlet nasional.

Gunawan mengikuti open ini setelah balik bertanding dari Qatar. Selain itu juga ada Ali Fahrezi dan Azmi yang berpasangan. Keduanya juga atlet nasional.

Susanto mengungkapkan bahwa Tennis Open 2K24 Bulog Next sangat banyak diikuti atlet nasional maupun atlet PON yang akan bertanding di PON Aceh-Sumut September 2024, baik dari Padang Sumatera Barat.

“Event ini diharapkan menjadi ajang pemanasan menyambut gelaran PON Ke-21 Aceh-Sumut 2024,” tambahnya.

Tennis Open 2K24 Bulog Next diharapkan bisa digelar berkelanjutan dan dikelola secara profesional oleh swasta. Sehingga diharapkan juga para mitra atau sponsor lebih peduli (care).

“Kita juga (Bulog) merencanakan open usia dini karena kita ingin pembinaan. Tennis Open 2K24 Bulog Next adalah event perdana untuk memotivasi dan memasyarakatkan olahraga tenis kepada publik. Sebab yang terkenal sekarang adalah sepak bola, bulu tangkis tapi tenis agak kurang,” ungkapnya.

Dengan open usia ini, pemerintah daerah, sponsor swasta di NTB bisa terlibat. Apalagi hajatannya untuk pencarian bibit-bibit atlet tenis di daerah ini.

Intiar Rinayu Juliswatin, salah seorang pelaku UMKM yang terlibat di Tennis Open 2K24 Bulog Next, memberikan apresiasi kepada BULOG NTB yang melibatkannya. Pada hari pertama event hingga penutupan, stand UMKMnya laris manis. Makanan dan minuman yang dijualnya cukup laku.

“Terimakasih sama Bulog karena sudah dikasi kesempatan untuk berjualan sama memperkenalkan makanan kita disini. Alhamdulillah dari hari pertama, ramai hingga sampai hari ini ramai,” ujarnya.

Stok dagangan dijualpun dari hari pertama hingga akhir turnamen terus bertambah. Bahkan omzet yang diperoleh cukup tinggi.
Pada hari pertama mencapai Rp800 ribu hari kedua, ketiga hingga hari keempat mengalami peningkatan.
“Kita berharap kegiatan semacam ini bisa diadakan lagi dan kami diundang atau dilibatkan,” harapnya.(bul)

Pemprov NTB Dorong Adanya Off Taker Lobster

0
Budidaya lobster (ekbisntb.com/ist)

Lombok (ekbisntb.com) – Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Provinsi NTB, Muslim mengatakan pihaknya mendorong adanya off taker untuk membantu pembudidaya lobster dalam menjajakan lobsternya. Off taker ini akan berperan sebagai penyalur lobster dari pembudidaya ke pasar dan konsumen akhir.

Apalagi semenjak dibukanya keran ekspor Benih Bening Lobster (BBL) oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan. Sehingga menurut Muslim, perlu adanya timbal balik dari pihak kementrian ke pembudidaya.

“Kalau saya sih pengen mendorong ada off taker yang jelas terhadap para pembudidaya kita. Off taker ini harusnya didorong sebagai timbal balik dari mereka melakukan akses kelonggaran BBL yang diperjual belikan baik secara nasional maupun lewat ekspor luar negeri,” ujarnya, Jum’at, 9 Agustus 2024.

Menurutnya, dengan dibukanya keran ekspor BBL ini menyulitkan pembudidaya lokal. Yang mana semenjak disahkan Peraturan Mentri no 7 tahun 2024 tentang pengelolaan kepiting, rajungan, dan lobster, harga BBL dinaikkan, khususnya bagi pembudidaya lokal.

“KKP mendorong, tidak saja berbicara tentang menangkap benih saja, tetapi bagaimana budidaya yang ada itu dipertimbangkan. Karena ketika keran itu dibuka ekspornya, maka otomatis harga itu semakin naik di lokal, sehingga mereka tidak mampu mendapatkan barang berkualitas dengan harga terjangkau,” lanjutnya.

Melihat kondisi pembudidaya saat ini, banyak peternak lobster mengeluh karena pasar untuk mendagangkan lobster mulai sempit. Yang mana menurut Muslim, yang biasanya peternak lokal ekspor ke China, kini pasarnya mulai dikuasai Vietnam karena akses dari Vietnam lebih murah dibandingkan dari NTB.

“Setahu kita selama ini kalau dibawa ke China kan dari sisi lebih dekat, dari sisi operasional juga lebih murah, otomatis kita yang jauh dari sisi konsumen pasar internasional, otomatis kita akan kalah kompetisi dengan mereka,” jelasnya.

Oleh karena itu, dengan adanya off taker ini, dinilai akan mempermudah pembudidaya lokal dalam menyalurkan hasil budidayanya. Sehingga pembudidaya tidak perlu bersaing dalam mencari pasar penjualan lobster. (era)

12 Ribu Pasien Sakit Ginjal NTB, Dirut RSUP NTB : Bukan Karena Makanan Kemasan

0
Dirut RSUP NTB, dr. Lalu Herman Mahaputra(ekbisntb.com/era)

Belakangan ini penyakit ginjal dan cuci darah jumlahnya semakin banyak. Bahkan, banyak anak dibawah umur harus rutin cuci darah akibat terkena gagal ginjal. Fenomena anak cuci darah ini dikait-kaitkan dengan dampak mengonsumsi makanan kemasan yang diperjual belikan bebas.

Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB, dr. Lalu Herman Mahaputra mengatakan, sebanyak 12.000 pasien sakit ginjal di NTB bukan karena makanan kemasan, tapi ada faktor lain yang menyebabkan penyakit tersebut seperti halnya keturunan dan infeksi.

“Faktor itu memang dari bawaan lahir, ada memang karena kasus-kasus kanker yang merusak ginjal itu sendiri, makanya terjadilah penyakit ginjal yang membutuhkan cuci darah,” Jum’at, 9 Agustus 2024.

Meski demikian, dokter yang kerap disapa dr. Jack ini menghimbau untuk perlu menghindari makan-makanan kemasan yang terindikasi mengandung kandungan makanan yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal, seperti makanan mengandung garam dan gula yang tinggi, makanan bersoda, alkohol.

“Tapi memang sebaiknya makan-makanan itu jangan berlebihan. Boleh, tapi jangan berlebihan. Tapi bukan itu faktornya,” lanjutnya.

Sejauh ini, berdasarkan data yang dihimpun oleh RSUP NTB, terdapat 12.000 pasien penderita penyakit ginjal di NTB. Dari 12.000 pasien tersebut, tidak semua pasien rutin melakukan cuci darah.
Untuk rentan usia sendiri, penyakit ginjal di NTB kebanyakan merupakan usia dewasa. Di tahun 2024, hanya ada tiga anak yang terkena penyakit ginjal dan rutin cuci darah. Sedangkan di tahun sebelumnya, ada empat orang anak terkena penyakit ginjal.

“11-12 ribu diseluruh NTB, itu bukan pasien baru, itu gabungan pasien lama dengan pasien baru. Anak-anak tidak banyak, sampai bulan Agustus 2024 baru tiga orang anak yang cuci darah,” katanya.
Menurut dr. Jack, seluruh puskesmas yang ada di NTB wajib mensosialisasikan bahayanya penyakit ginjal. Sehingga masyarakat mulai memperhatikan dan menjaga kesehatan ginjalnya.

“Sosialisasi pencegahan itu oleh puskesmas, kalau kita sendiri kuratif atau mengobati. Promosi dan preventif itulah orang-orang puskesmas yang turun kebawah,” imbuhnya. (era)

Akademisi : Pengelolaan Desa Wisata di NTB Harus Diperbaiki

0
Salah satu destinasi desa wisata yang ada di Lobar, Gunung Jae. (ekbisntb.com/era)

Lombok (ekbisntb.com) – Pengelolaan desa wisata yang ada di NTB dinilai belum maksimal. Sehingga meski ditetapkan sebanyak 99 desa wisata oleh pemerintah Provinsi NTB, belum mampu mendongkrak wisatawan untuk berkunjung ke Bumi Gora.

Direktur Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram, Dr. Halus Mandala mengatakan perlu adanya koordinasi baik antara pemprov dengan pemda kabupaten/kota dalam tata kelola desa wisata ini.

Menurutnya, 99 desa wisata yang ditetapkan oleh Pemrpov NTB tidak diikuti peningkatannya oleh kabupaten/kota. Sehingga dari banyaknya desa wisata yang telah ditetapkan, hanya beberapa desa wisata yang berkembang.

“Dari segi pengelolaan dan menuju kualitas tidak mengalami perbaikan. Itu bisa terjadi karena koordinasi tidak dibangun oleh pemerintah provinsi,” ujarnya saat dihubungi Suara NTB.

Untuk meningkatkan desa wisata ini, tidak hanya dengan memberikan fasilitas destinasi wisata saja. Tetapi yang utama adalah kerja sama antara pemerintah provinsi dan daerah sehingga tidak terjaid tumpang tindih antara pengelolaannya.

Selain itu, untuk memaksimalkan potensi desa wisata, Mandala mengatakan pemerintah provinsi wajib menjadikan desa wisata berdasarkan usulan kabupaten/kota.

Artinya, pemprov tidak bisa menjadikan suatu desa menjadi desa wisata tanpa adanya pengajuan dari kabupaten/kota. Hal ini menurutnya berdampak pada pengembangan desa wisata karena yang mengelola desa wisata tersebut adalah kabupaten/kota.

“Harus dilakukan koordinasi dengan sebaik-baiknya. Jadi usulan itu datang dari kabupaten/kota,” lanjutnya.

Halus juga menyinggung terkait dengan desa wisata mandiri. Menurutnya, dari 99 desa wisata yang ditetapkan oleh Pemprov NTB, belum ada desa wisata mandiri. Sehingga pemrpov perlu untuk memantau bagaimana pengelolaan desa wisata ini.

Sementara, Kadispar NTB, Djamaludin Maladi mengatakan sudah ada beberapa desa wisata mandiri yang ada di NTB. Desa wisata mandiri tersebut adalah desa wisata yang mampu memberikan manfaat bagi kabupaten/kota, dan desa wisata yang telah mendapatkan award secara nasional. Yang mana diantaranya ada Sedau, dan Aik Berik.

Meski demikian, menurut Mandala belum ada satupun desa wisata yang benar-benar mandiri di NTB. Karena menurutnya, desa wisata mandiri adalah desa wisata yang memiliki jumlah kunjungan dan manajemen atau pengelolaan yang tinggi. Oleh karenanya perlu untuk berdiskusi lebih lanjyt antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk mewujudkan pengembangan desa wisata menjadi desa wisata mandiri. (era)

BBPOM Mataram Percepat Izin Edar UMKM untuk Mendongkrak Ekonomi Lokal

0
Kegiatan Pelayanan Prima Pre Audit Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB)(ekbisntb.com/bul)

Lombok (ekbisntb.com) – Sebagai pejuang ekonomi bangsa, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) harus mendapatkan dukungan penuh dari seluruh pihak, terutama pemerintah baik dalam pendampingan proses perizinan, promosi dan pembiayaan.

Terlebih UMKM memiliki peran strategis dengan membuka lapangan pekerjaan dan berkontribusi terhadap PDB nasional hingga 60 persen.

Kepala BBPOM di Mataram Yosef Dwi Irwan, mengatakan, menyadari peran strategis UMKM dalam menggerakan ekonomi kerakyatan serta sebagai bentuk komitmen BBPOM di Mataram mendukung kemudahan perizinan.

Salah satunya melalui kegiatan Pelayanan Prima Pre Audit Izin Penerapan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), tanggal 7 Agustus 2024 di aula BPOM Mataram. Diikuti oleh 27 peserta yang terdiri dari 15 UMKM dan 12 Fasilitator Mahasiswa Pendamping UMKM Dalam kegiatan ini Tim Sertifikasi BBPOM di Mataram bersama Fasilitator Pendamping UMKM yang berasal dari Mahasiswa membantu para UMKM dalam penyusunan dokumen dan pendaftaran akun perusahan. Para peserta UMKM sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh BBPOM di Mataram, sehingga dokumen-dokumen persyaratan izin edar dapat terselesaikan dengan lebih cepat.

Yosef menyampaikan bahwa dalam percepatan memperoleh izin edar harus ada kolaborasi yang sinergis antara pemerintah dan pelaku usaha.

“Tim BBPOM Mataram akan senantiasa mendampingi UMKM sampai terbit izin edar, plus dengan adanya Fasilitator Pendamping UMKM akan lebih intens lagi didampingi. Namun UMKM juga harus berkomitmen dalam melengkapi data dukung dokumen serta pemenuhan sarana sesuai Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB)” ujar Yosef “Harapannya dengan diperolehnya izin edar BPOM, akan meningkatkan nilai dan daya saing produk, tentu omset penjualan semakin melesat” tandas Yosef BBPOM di Mataram telah memiliki inovasi Gemilang Pro UMKM (Gerakan Lintas Lembaga Mengawal Daya Saing Produk UMKM di NTB) yang telah terbukti efektif meningkatkan jumlah izin edar. “Selanjutnya Gemilang Pro UMKM akan kami kembangkan dengan fitur Klinik UMKM yang merupakan digitalisasi layanan terintegrasi dengan berbagai stakeholder terkait perizinan, promosi dan pembiyaan bagi UMKM” pungkas Yosef.(bul)