Tuesday, April 7, 2026
26.5 C
Mataram
Home Blog Page 631

Istimewanya Kangkung Lombok yang Mendunia

0
Lahan penanaman kangkung di Gegutu Kota Mataram. (ekbisntb.com/ham)

Lombok memiliki banyak komoditi khas dan berbeda dengan daerah lainnya di Indonesia, termasuk di dunia. Salah satunya adalah kangkung. Bahkan, sejak 15 Desember 2011, kangkung Lombok telah terdaftar sebagai produk Indikasi Geografis (IG) dan telah dipamerkan pada kegiatan Sidang Majelis Umum ke-65 Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO) di Jenewa, Swiss, tanggal 9 sampai 17 Juli 2024.

KANGKUNG Lombok memiliki cita rasa dan tekstur yang istimewa. Tidak hanya itu, kangkung Lombok dikenal kaya akan nutrisi. Sayuran ini mengandung banyak vitamin dan mineral, terutama zat besi yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh dan mencegah anemia.

Karena cita rasa yang khas dan gurih berbeda dengan kebanyakan kangkung lainnya, kangkung Lombok menjadi oleh-oleh, ketika berkunjung ke Lombok. Apalagi sempat mencicipi produk Lombok yang berbahan baku kangkung, seperti pelecing atau produk olahan lainnya.

Seperti Ainiati, warga Lombok Tengah yang menikah ke Banyuwangi, Jawa Timur. Setiap berangkat ke Banyuwangi atau ada keluarganya dari Banyuwangi yang datang ke Lombok, kangkung Lombok selalu menjadi oleh-oleh. Ainiati bahkan harus pergi mencari ke petani yang menanam kangkung atau pergi ke pasar, khususnya yang berada di Kota Mataram atau Lombok Barat untuk mendapatkannya dalam jumlah banyak.

Begitu juga Nuraini, warga Bima yang tinggal di Kota Mataram. Setiap mudik ke kampung halaman atau mengunjungi keluarganya di Malang, Jawa Timur, kangkung Lombok selalu menjadi buah tangan.

Hal senada juga diakui Ahmad, warga Lombok Timur. Diakuinya, kangkung yang ditanam di Kota Mataram dan Lombok Barat berbeda dengan kangkung yang tumbuh di Lombok Timur. Menurutnya, kangkung yang tumbuh di Lombok Timur, termasuk di Lombok Tengah, teskturnya batangnya agak keras dan warna hijau daunnya juga beda dengan kangkung yang tumbuh di Kota Mataram dan Lombok Barat.

‘’Makanya setiap kami pulang ke Lombok Timur, selalu dipesan untuk membawa kangkung sebagai oleh-oleh,’’ ujarnya.

Namun, bagi petani kangkung tidak selamanya bisa memetik kangkung dalam jumlah besar. Seperti petani kangkung di Gegutu, Kelurahan Rembiga, Kecamatan Selaparang, Kota Mataram kondisi sekarang ini sedang tidak baik.

Petani kangkung sedang dihadapkan dengan hama belalang yang merusak daun kangkung, sehingga panen kangkung juga tidak maksimal. Dalam sehari, hanya mampu menjual kangkung seharga Rp50.000, karena tidak semua pucuk kangkung bisa dipetik.

‘’Ini sudah dua hari tidak dipetik, karena banyak tanaman yang rusak akibat dimakan belalang. Jadi tidak semua bagian kangkung bisa dipetik,’’ tuturnya pada Ekbis NTB, Kamis, 8 Agustus 2024 lalu.

Ketika disinggung menggunakan obat-obatan untuk tanaman kangkungnya, diakuinya, ia belum menggunakannya. Meski demikian, dirinya sudah berencana menggunakan obat-obatan, khususnya anti hama agar daun kangkungnya tidak dimakan serangga, khususnya belalang.

Sekarang, dirinya menanam kangkung di lahan sewa seluas 40 are. Dalam setahun ia harus membayar sewa lahan pada tetangganya dengan harga Rp2 juta. Meski sewa Rp2 juta dianggap cukup mahal, ia berusaha menanam kangkung dengan harapan bisa panen setiap hari.

Hanya Kangkung Lombok Cocok Dijadikan Pelecing

Memiliki jenis berbeda dari kangkung dari daerah lain, termasuk di Pulau Lombok, keberadaan kangkung yang ditanam di Kota Mataram dan Lombok Barat bagi pedagang pelecing kangkung yang cocok dijadikan pelecing.

Plecing khas lombok(ekbisntb.com/era)

Seperti pengakuan Diah, pedagang pelecing kangkung di Kelurahan Selagalas, Kecamatan Sandubaya Kota Mataram.

“Kangkung Jawa kurus-kurus. Kalau kangkung Lombok agak tebal. Kangkung ini kan budidayanya di air, kalau kangkung Jawa di tanah. Jadi kangkung Jawa kurang cocok dijadikan pelecing, karena lembek teksturnya kalau direbus,” ujarnya kepada Ekbis NTB, Sabtu, 10 Agustus 2024.

Pedagang asli Jawa Timur yang telah berjualan pelecing selama 13 tahun ini mengaku stok kangkung Lombok semakin limit di pasaran. Hal ini dikarenakan para petani kangkung baru mulai menanam.

Akibat stok kangkung yang mulai menipis, harga kangkung menjadi sedikit lebih mahal. Biasanya ia bisa mendapatkan empat ikat kangkung dengan harga Rp5.000, kini ia hanya bisa mendapatkan tiga ikat kangkung dengan harga yang sama.

Selain karena baru musim tanam kangkung. Kangkung Lombok juga dikirim ke luar daerah, seperti Pulau Jawa dan daerah lain di Indonesia. Hal tersebut berdampak pada kenaikan harga kangkung di daerah. Meski demikian, Diah mengaku tidak risau dengan kondisi tersebut. Pasalnya, ia tetap mendapat untung meski harga kangkung mengalami sedikit kenaikan. (ham/era)

Spesies Kangkung Lombok Unggul

0
Suwardji (ekbisntb.com/era)

JENIS kangkung Lombok berbeda dari kangkung lainnya yang ada di Indonesia, bahkan dunia. Kangkung Lombok memiliki batang yang lebih gemuk dibandingkan kangkung dari daerah lain.

Menurut Dosen Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Prof. Ir. Suwardji, M. App.Sc., Ph.D., kangkung Lombok merupakan salah satu komoditi potensial, karena rasa dari kangkung ini berbeda dari kangkung lainnya. Namun, semakin bertambahnya tahun, lahan kangkung di Lombok semakin sempit berganti menjadi pemukiman.

Suwardji menyayangkan hal tersebut, mengingat hanya kangkung Lombok lah yang cocok dijadikan pelecing kangkung, makanan khas Pulau Seribu Masjid ini.

“Alih fungsi lahan di Pesongoran itu kan menjadi pusat kangkung, sekarang sudah tidak ada lagi kangkung, diganti perumahan. Yang banyak itu sekarang di wilayah Narmada. Memang secara grafis kita yang membedakan jadi kangkung Lombok rasanya lain, jadi kalau direbus masih kres,” ujarnya saat dihubungi Ekbis NTB, Sabtu, 10 Agustus 2024.

Ia menambahkan spesies kangkung Lombok berbeda dengan jenis kangkung yang ada di daerah lain, salah satu faktornya adalah kangkung Lombok ditanam di areal berair. Selain itu, kandungan zat besi dari air yang berasal dari Gunung Rinjani menjadikan kangkung Lombok memiliki batang yang gemuk dan daun yang tidak begitu lebat.

“Lingkungan kita itu banyak air dari Gunung Rinjani, itu air kadar besinya cukup tinggi, itu yang mempengaruhi,” lanjutnya.

Sementara itu, karena lahan kangkung yang semakin sempit, khususnya di Kota Mataram dan Lombok Barat, Suwardji mengatakan eksistensi kangkung Lombok bisa jadi tergerus oleh kangkung cabut biasa, sehingga perlu adanya pengembangan kangkung Lombok, salah satunya adalah dengan rutin memberikan pupuk organik. Selain itu, ia juga mengatakan perlu adanya kajian lebih lanjut mengenai kangkung ini khususnya oleh bidang hortikultura.

“Saya pagi ke pasar nyari kangkung sudah agak susah, kangkung cabut yang banyak ini. Harusnya dipertahankan budidaya kangkung dengan menggunakan pupuk organik. Potensinya sangat besar, jadi itu mestinya dikaji untuk dipertahankan,” tutupnya. (era)

Dari Kangkung, Petani di Kediri Lobar Bisa Biayai Pendidikan Anak hingga Beli Tanah 

0
Petani di Kediri sedang memetik kangkung untuk dijual. Hasil panen kangkung ini bisa untuk menyekolahkan anaknya dan membeli tanah. (ekbisntb.com/her)

Kangkung banyak dibudidayakan di Lombok Barat (Lobar). Salah satunya di Kecamatan Kediri. Petani di wilayah ini banyak yang berhasil menanam kangkung ini, hingga bisa membiayai pendidikan anak-anaknya. Mereka bahkan bisa membeli tanah dan motor dari hasil budidaya tanaman yang mudah dalam pembudidayaannya tersebut.

Suhaili, salah seorang petani kangkung asal Numpeng Desa Jagaraga Indah, Kecamatan Kediri yang ditemui di sawahnya, Minggu 11 Agustus 2024 mengatakan telah menanam kangkung sejak puluhan tahun dengan luas garapannya sekitar 40 are.

Untuk menanam Kangkung, dirinya butuh biaya Rp1.600.000. Mulai dari membajak tanah Rp600 ribu, bibit Rp500 ribu, penanaman 200 ribu, ditambah pupuk Rp150-300 ribu. Waktu penanaman usia 15 hari, barulah dilakukan pemupukan. Pupuk diperoleh dari kelompok. Setelah pemupukan, selang 15 hari atau usia taman 30 hari kangkung bisa dipanen.

Sekali panen, ia bisa memperoleh 4-5 kuintal atau 4 ikat dengan berat satu ikat 40-45 kilogram. Dari hasil panen itu, ia bisa mendapatkan hasil jual 3-4 juta. Kemudian dipotong biaya petik. Setelah petik pertama, bisa dilakukan pemetikan atau panen lagi selang satu Minggu. Dalam satu musim, ia bisa memanen 4-5 kali, sehingga satu kali musim, ia bisa memperoleh hasil panen Rp15-20 juta. “Panennya sampai lima kali, tapi tergantung,” ujarnya.

Untuk pemasaran hasil panen, tidak susah. Karena ada pengepul di wilayahnya dan juga yang langsung datang ke rumahnya mengambil kangkung. “Tiap hari ada pengepul mengambil ke rumah, jadi tidak susah memasarkan,”ujarnya.

Oleh pengepul kangkungnya dikirim ke Pulau Jawa, Jakarta dan daerah lainnya. Termasuk dikirim ke luar negeri, karena kualitas cita rasa kangkung lebih bagus dan enak. “Kangkung di sini khususnya Lombok lebih enak,”sambungnya.

Ia mengaku dari hasil kangkung ini, ia bisa menyekolahkan anaknya. Anaknya yang paling besar sudah lulus SMA. Namun anaknya tidak mau melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Kini ia membiayai anaknya yang masih duduk bangku SMP yang paling kecil. Selama menanam kangkung, ia mengaku Pemda hanya membantu pupuk. Itupun kerap kali terlambat didistribusikan, sehingga ia pun cukup kerepotan. Sedangkan untuk bibit, maupun obat-obatan belum ada bantuan. “Kami beli bibit dan obat-obatan,” jelasnya.

Mensiasati kebutuhan bibit, ia pun membudidaya sendiri. Sehingga ia pun tidak perlu mencari atau membeli bibit, dan ia tak perlu mengeluarkan biaya untuk beli bibit. “Kami petani kangkung butuh bantuan bibit dan obat-obatan, itu tidak pernah kamu dapatkan,”imbuhnya. (her)

Menjanjikan, Dua Varietas Kangkung Lobar Diminati Pasar Luar 

0
Damayanti Widyaningrum (ekbisntb.com/her)

PENGEMBANGAN komoditas kangkung di Lombok Barat (Lobar) menjanjikan. Pasalnya, kangkung yang dihasilkan Lobar diminati pasar luar daerah maupun luar negeri, karena rasanya yang berbeda dari kangkung daerah lain. Kangkung Lobar dikenal rasanya renyah.

Lobar memiliki dua jenis verietas yang telah disahkan oleh Kementerian Pertanian dan dilepas ke masyarakat luas. Dua varietas itu, di antaranya Sinona dan Aeni.

Kepala Dinas Pertanian Lobar Damayanti Widyaningrum mengatakan, kangkung merupakan komoditas unggulan daerah bersama durian dan manggis. Sehingga dikenal ada “Kangmadura” (Kangkung,Durian dan Manggis). “Kangkung Komoditas unggulan Kita, masuk Kangmadura, sehingga kita daftarkan varietas kangkung kita,” jelasnya, akhir pekan kemarin.

Dikatakan, animo petani untuk menanam kangkung sangat tinggi di Lobar. Kangkung yang diproduksi petani dikirim hingga ke luar daerah. “Dikirim ke luar daerah, karena memang cita beda dengan yang lain, renyah dan batangnya besar,”jelas Damayanti.

Kangkung yang dikembangkan di Lobar ada varietas, yakni Aeni dan Sinona. Dengan ciri daunnya bergerigi untuk varietas Aeni dan varietas Sinona berdaun lurus. Dua varietas ini sudah dilepas ke masyarakat untuk ditanam secara luas.

Untuk sebaran penanaman kangkung ini ada di beberapa kecamatan, yakni Narmada, Lingsar, Gerung, Kediri dan Labuapi. Budidaya ini kangkung ini lanjutnya, sangat menjanjikan. Karena hasilnya cepat tanpa terlalu lama dan banyak modal dan penanamannya pun tidak terlalu sulit. Penanamannya praktis, sekali ditanam bisa dipanen berkali-kali. “Penanaman praktis, tidak ribet,”ujarnya.

Bahkan dari hasil kangkung seluas 25 are, ada warga yang bisa menyekolahkan anaknya. Intervensi dinas terhadap petani kangkung, sebelumnya ada progam pembinaan pasca panen bagi petani.  Ada juga budidaya. Petani dibekali cara pengemasannya, karena kangkung ini banyak dikirim ke luar daerah. Termasuk bagaimana kangkung bisa masuk ke pasar modern.

Kangkung yang dihasilkan petani, baik yang dikirim ke luar dan masuk ke ritel modern pun sudah dicek uji keamanan pangannya di Dinas Ketahanan Pangan. Seperti kandungan timbal, berada di bawah ambang. “Sehingga aman untuk dikonsumsi,”ujarnya.

Namun belakangan, diakui petani kangkung kurang diperhatikan. Karena itulah, ke depan pihaknya akan lebih meningkatkan intervensi. Termasuk pihaknya akan mencoba menjalin kemitraan  untuk petani. Sebab ke depannya untuk program makan siang gratis, diminta kepada dinas untuk menyiapkan kebutuhannya seperti sayur-sayuran, buah-buahan, daging unggas, daging sapi dan susu segar. “Nanti kita bisa masukkan di sana,”imbuhnya. Sehingga ke depan banyak tanaman hortikultura dan buah-buahan akan diserap.

Karena itu pihaknya pun akan menyiapkan anggaran pada APBD. Salah satunya dengan menaman pisang. Bahkan pihaknya telah mengembangkan pisang di wilayah Lingsar. Pihaknya juga akan aktifkan lagi asosiasi petani kangkung yang sudah dibentuk. Sebab kalau ada asosiasi akan lebih mudah dikoordinasikan pengembangan dan jejaring ke depan. Ke depan lebih mudah dijalin kerja sama dengan perusahaan di luar. Sehingga bisa menyuplai kebutuhan pasokan,”karena kalau sendiri ndak mampu, kalau dalam bentuk kelompok mereka semakin kuat,”imbuhnya.

Pihaknya juga akan menghubungkan dengan rumah makan maupun restoran serta hotel. Begitu produksi berlebih bisa dikirim ke Luar. Ke depan pihaknya perlu menyiapkan petani agar mampu menyediakan secara berkesinambungan atau kontinyu. Sebab kalau kerjasama dengan perusahaan butuh kontinu dalam pasokan. “Nanti bisa diatur jadwal tanam, dan bisa bergilir panen, sehingga bisa tersedia terus menerus pasokannya,” katanya.

Pengembangan kangkung juga bisa dikombinasi atau mina kangkung. “Ada kelompok kita tanaman kangkung sama ikan, Mina Kangkung,” ujarnya.

Selain dari sisi budidaya menggunakan sistem hidroponik. Dari sisi anggaran pihaknya akan berupaya mengusulkan di APBD. Mengingat komoditas unggulan ini menjanjikan, dan peminatnya banyak, sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan petani. “Kangkung ini akhir-akhir ini stagnan, jarang disentuh, coba kita akan anggarkan,” ujarnya.

Pihaknya dalam waktu dekat, pihaknya akan meminta penyuluh untuk menginventarisasi, kemudian mengumpulkan para petani. Paling tidak pihaknya akan intervensi sekadar dulu, agar petani lebih semangat. (her)

Harga Emas Antam Senin Pagi Stabil di Rp1,401 Juta per Gram

0
Ilustrasi Emas Antam (ekbisntb.com/ant)

Jakarta (ekbisntb.com) – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang dipantau dari laman Logam Mulia, Senin pagi, tidak berubah atau stabil di angka Rp1.401.000 per gram.

Adapun harga jual kembali (buyback) emas batangan pada Senin, yakni sebesar Rp1.253.000 per gram.

Transaksi harga jual dikenakan potongan pajak, sesuai dengan PMK No. 34/PMK.10/2017. Penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non-NPWP. PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.

Berikut harga pecahan emas batangan yang tercatat di Logam Mulia Antam pada Senin :

  • Harga emas 0,5 gram: Rp750.000
  • Harga emas 1 gram: Rp1.401.000
  • Harga emas 2 gram: Rp2.742.000
  • Harga emas 3 gram: Rp4.088.000
  • Harga emas 5 gram: Rp6.780.000
  • Harga emas 10 gram: Rp13.505.000
  • Harga emas 25 gram: Rp33.637.000
  • Harga emas 50 gram: Rp67.195.000
  • Harga emas 100 gram: Rp134.312.000
  • Harga emas 250 gram: Rp335.515.000
  • Harga emas 500 gram: Rp670.820.000
  • Harga emas 1.000 gram: Rp1.341.600.000

Potongan pajak harga beli emas sesuai dengan PMK Nomor 34/PMK.10/2017, pembelian emas batangan dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen untuk pemegang NPWP dan 0,9 persen untuk non-NPWP. Setiap pembelian emas batangan disertai dengan bukti potong PPh 22. (ant)

Dibekali Rp40 Miliar, 250 Atlet NTB Siap Rebut Juara di PON Aceh-Sumut 2024

0
Mori Hanafi (ekbisntb.com/dok)

Mataram (ekbisntb.com)- Sebanyak 250 atlet dari 44 cabang olah raga (cabor) di Provinsi NTB siap memberikan kemampuan terbaiknya di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara (Aceh-Sumut). Event tersebut akan digelar 8-20 September mendatang.

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi NTB sendiri telah menargetkan perolehan 20 medali emas. Untuk mewujudkan mimpi tersebut, KONI NTB mendapatkan dukungan anggaran sebesar Rp40 miliar. Pemprov NTB memberikan dukungan anggaran sebesar Rp35 miliar, sedangkan Rp5 miliar dari PT Bank NTB Syariah.

Ketua Umum KONI NTB Mori Hanafi mengatakan, persiapan kontingen NTB sudah hampir 100 persen jelang PON Aceh-Sumut 2024. Kontingen NTB rencananya akan diberangkatkan ke Aceh dan Sumatera Utara pada 30 Agustus mendatang.

Mori menjelaskan, pihaknya terus melakukan persiapan dan memperhatikan hal-hal yang detil terkait dengan kebutuhan kontingan NTB di olah raga multi event tersebut, misalnya terkait dengan akomodasi, transportasi dan lainnya. Untuk transportasi, KONI NTB telah bekerja sama dengan maskapai penerbangan untuk mengangkut ratusan atlet dan ofisial menuju Aceh dan Sumut.

“Anggaran sudah cukup Rp40 miliar. Dari APBD Rp35 miliar, dan Bank NTB Syariah Rp5 miliar. Itu kita cukup-cukupkan,” kata Mori Hanafi kepada wartawan akhir pekan kemarin.

Mori mengatakan, berdasarkan kalkulasi awal, kebutuhan anggaran untuk PON Aceh-Sumut sebesar Rp43 miliar. Di APBD murni 2024, Pemprov NTB baru mengalokasikan anggaran sebesar Rp15 miliar, sisanya akan dianggarkan pada APBD Perubahan 2024. Pihaknya berusaha melakukan efisiensi anggaran di tengah keterbatasan.

Mori menambahkan target 20 medali emas di PON Aceh-Sumut 2024, optimis dapat tercapai. Karena NTB menerjunkan 250 atlet terbaik yang berpotensi menyumbang medali,” “Target 20 medali sudah kita petakan, sangat hati-hati. Insyaallah 20 medali emas ini bisa kita dapat,” ujarnya.

Untuk diketahui, pada PON XX tahun 2021 di Provinsi Papua tahun 2021 lalu, NTB meraih 15 medali emas. Dengan raihan tersebut, menempatkan NTB di urutan 9 sebagai provinsi peraih medali emas terbanyak pada PON Papua 2021.

Untuk mewujudkan target 20 medali emas di PON tahun ini, para atlet telah menjalani program Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda). Dari Pelatda tersebut, bisa diproyeksikan cabor-cabor mana saja yang akan menjadi penyumbang emas bagi NTB. Mulai dari Atletik, kemudian cabor Bermotor, Voli Pasir, Dance Sport, Karate, Kempo, Muaythai, Panjat Tebing, Selancar Ombak, Tarung Derajat dan Tinju.

Dari cabor Atletik, sejumlah atlet andalan NTB sekaligus peraih medali emas PON Papua diyakini bisa mempertahankan medali emasnya seperti Lalu Muhammad Zohri, Sudirman Hadi, Dian Ekayanti dan Sapwaturrahman. Ada juga nomor-nomor baru di Atletik yang berpeluang meraih medali emas.

 

Cabor Bermotor ditargetkan satu medali emas. Sebelumnya cabor Bermotor secara mengejutkan berhasil meraih medali emas di PON Papua. Sehingga pada PON Aceh-Sumut 2024, Cabor Bermotor ditarget bisa mempertahankan capaiannya. Terlebih atlet-atlet yang diturunkan tidak jauh berbeda dari PON Papua.

Selain cabor unggulan, NTB diproyeksi mendapatkan medali emas dari cabor Dance Sport. Pasalnya, ketika kualifikasi PON Aceh-Sumut, hasil yang didapat atlet dansa NTB sangat bagus. Seumlah cabor baru juga berpotensi menyumbangkan medali emas, seperti Gatebal, Hapkido, Hoki, Kabaddi dan Wushu.(ris)

 

Industrialisasi HHBK di NTB Berbuah Manis, KUPS Gula Aren Raih Juara Nasional

0
Kadis LHK NTB Julmansyah bersama dengan pengurus KUPS Gula Aren Hkm Giri Madia Kecamatan Lingsar Lombok Barat usai meraih KUPS juara terbaik II Nasional dari Kementerian LHK (ekbisntb.com/ist)

Mataram (ekbisntb.com)- Wujud industrialisasi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di Provinsi dalam empat tahun terakhir semakin menemukan formatnya. Melalu skema Perhutanan Sosial, masyarakat pemegang izin Perhutanan Sosial menjadi alas sah dalam mewujudkan Industrialisasi HHBK dengan berbagai varian usaha yang berbentuk Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi NTB Julmansyah mengatakan, kerja-kerja pendampingan dan fasilitasi oleh Balai KPH DLHK NTB terus didorong agar tumbuh inovasi-inovasi di masyarakat.

Adapun luas Perhutanan Sosial di Provinsi NTB sekitar 60.160,71 hektare, dimana luas Perhutanan Sosial dengan tutupan tinggi yang dicirikan dengan tanaman stratifikasi tajuk seperti berhutan yakni 15.792 hektar. Hutan jenis ini sebagian besar ada di Pulau Lombok dan sedikit di Pulau Sumbawa.

Buah dari HHBK tersebut yaitu Kementerian LHK memberikan apresiasi pada Puncak Apresiasi pada Festival LIKE (Lingkungan Iklim Kehutanan dan Energi Baru Terbarukan) yang berlangsung di JCC Jakarta, Sabtu (10/8) malam kemarin. Dimana KUPS Gula Aren Hkm Giri Madia Kecamatan Lingsar Lombok Barat menjadi KUPS terbaik II Nasional.

Kata Julmansyah, HKm Giri Madia merupakan kelompok tani hutan yang telah memperoleh izin pengelolaan hutan skema Hutan Kemasyarakatan Nomor:  503/026/ 03/IUPHKm/BKPMPT/2016 seluas 329 Hektare.

“HKm ini berada Desa Giri Madia, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. HKm ini diketuai oleh Muhamad Munzir dengan anggota 394 KK dengan Visi Membangun hutan lestari menuju masyarakat mandiri,” kata Julmansyah kepada Suara NTB Minggu 11 agustus 2024 kemarin.

Nilai transaksi ekonomi KUPS gula aren HKm Giri Madia tahun 2023 yaitu gula batok sebesar Rp 96.175.000, produk gula semut sebesar Rp168.130.000, dan gula briket 53.130.000. Sehingga total transaksi yang tercatat sebesar Rp317.435.000. Adapun rata-rata transaksi per bulan sebesar Rp26.452.917.

“Kelompok HKm Giri Madia memiliki rekam jejak capaian dan prestasi yang diakui, baik dalam lingkup lokal dan nasional. Prestasi tingkat provinsi HKm Giri Madia meraih penghargaan Perhutanan Sosial Terbaik tingkat Provinsi pada Puncak Hari Lingkungan Hidup Provinsi NTB,” kata Julmansyah.(ris)

PLN Dukung UMKM Sumbawa “Go Global” Melalui Program Kelas Ekspor

0
Rumah BUMN Sumbawa menggelar program pelatihan intensif bertajuk Kelas Ekspor Seri 1, 2, dan 3 pada tanggal 7 Juli 2024 (Ekbis NTB/ist)

SEBAGAI upaya untuk memperkuat daya saing UMKM di Kabupaten Sumbawa di pasar internasional, Rumah BUMN Sumbawa menggelar program pelatihan intensif bertajuk Kelas Ekspor Seri 1, 2, dan 3 pada tanggal 7 Juli 2024.

Pelatihan ini digelar di Ruang Rapat Grand Samota Hotel dan diikuti oleh 31 UMKM binaan dengan tujuan untuk membekali mereka dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menembus pasar ekspor.

Erwin Irawan, SP., Co-Founder Industri Kelor TRI UTAMI JAYA dan Duta Ekspor Eksportir Indonesia Timur, menjadi pemateri utama dalam ketiga seri pelatihan ini. Pada sesi pertama, Erwin mengajak peserta untuk mengidentifikasi kesiapan produk UMKM mereka untuk ekspor melalui evaluasi yang mencakup analisis SWOT dan Business Model Canvas Ekspor. Peserta diajarkan bagaimana memastikan kesiapan produk dalam jumlah besar dengan kualitas yang konsisten untuk memenuhi permintaan pasar internasional.

Pada sesi kedua, fokus pelatihan beralih pada pemahaman tentang segmentasi pasar ekspor, harga komoditas, serta pentingnya statistik impor dan ekspor. Erwin juga menjelaskan jaringan pengepul dan pemasok yang dapat membantu mempercepat proses ekspor. Informasi ini sangat penting bagi UMKM agar dapat merancang strategi ekspor yang lebih terstruktur dan efektif.

Sesi ketiga ditutup dengan pembahasan mendalam tentang langkah-langkah persiapan yang perlu dilakukan agar UMKM bisa sukses dalam ekspor. Topik yang dibahas meliputi penentuan kesiapan produk, pemetaan pasar tujuan ekspor, pemahaman regulasi internasional, pemasaran digital, manajemen keuangan dan pembiayaan ekspor, serta pengemasan dan pengiriman sesuai standar internasional.

Lulu Wulandari, pemilik UMKM Papa Bandi Craft dan salah satu peserta pelatihan, berbagi pengalamannya setelah mengikuti “Kelas Ekspor”.  “Ini pertama kalinya saya mengikuti pelatihan Rumah BUMN Sumbawa, sangat menyenangkan, dan materi-materi yang diberikan memperluas wawasan saya tentang dunia ekspor meskipun prosesnya rumit dan berisiko,” ungkap Lulu.

Ia merasa lebih percaya diri dalam mempersiapkan produk usahanya untuk memasuki pasar global.

Kepala Rumah BUMN Sumbawa Lalu Ahmad Taubih, S.AP., M.Sc., CHCM menyatakan harapannya bahwa melalui pelatihan ini, UMKM binaan akan mampu membangun kapasitas dan kapabilitas yang diperlukan untuk bersaing di pasar ekspor.

“Kelas Ekspor ini merupakan salah satu upaya kami untuk mempersiapkan UMKM binaan agar siap bersaing di pasar global. Kami berharap pelatihan ini bisa menjadi titik awal bagi UMKM untuk mengembangkan sayapnya ke mancanegara,” ujar Lalu Ahmad.

GM PLN NTB Sudjarwo turut menyampaikan komitmen PLN dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan.

“PLN berkomitmen untuk terus mendukung perkembangan UMKM lokal, termasuk di Kabupaten Sumbawa. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, kami berharap dapat mendorong UMKM untuk tidak hanya berkembang di pasar domestik tetapi juga mampu bersaing di pasar internasional. Ini sejalan dengan misi kami untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” kata Sudjarwo.

Dengan adanya program “Kelas Ekspor” ini, diharapkan UMKM Sumbawa dapat memperluas jangkauan pasar mereka hingga ke mancanegara, meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global, dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan. (bul)

Unram Mengabdi Tanam 3000 Bibit Mangrove di Kawasan Mandalika, Inilah Nilai Strategisnya

0
Kegiatan Unram dengan menanam 3000 bibit mangrove di kawasan Mandalika (Ekbis NTB/ist)

KAMPUS Universitas Mataram (Unram) melaksanakan kegiatan Unram Mengabdi dengan melakukan penanaman 3000 bibit mangrove di kawasan pesisir Mandalika, Lombok Tengah, Sabtu 10 agustus 2024 kemarin. Penanaman mangrove ini diharapkan memberikan berbagai manfaat, mulai dari perlindungan pantai hingga pengembangan ekowisata.

Dosen Unram sekaligus Ketua Forum DAS-LH Provinsi NTB Dr.Markum mengatakan bahwa habitat mangrove di Kawasan Mandalika menjadi bagian penting yang terintegrasi dengan tata kelola Sirkuit Mandalika. Peran strategisnya adalah, mangrove  akan mendatangkan banyak manfaat sebagai penyangga lingkungan, ekonomi dan sosial.

Ia mengatakan, mangrove untuk penyangga lingkungan karena kawasan Mandalika menghadapi tantangan berupa abrasi. Melalui kegiatan ini, Unram mengupayakan perlindungan garis pantai dengan menanam mangrove, yang terkenal akan kemampuannya dalam menahan erosi. Akar mangrove yang kuat dapat mencegah kerusakan tanah akibat gelombang laut, menjaga pantai Mandalika tetap aman dan indah.

 “ Penanaman mangrove juga membawa dampak positif bagi ekosistem laut di Mandalika. Mangrove menjadi rumah bagi berbagai spesies laut, seperti ikan, kepiting, dan burung. Dengan penanaman 3000 bibit ini, diharapkan keanekaragaman hayati di wilayah pesisir dapat meningkat, menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif. Kami harap program ini dapat memberikan kontribusi bagi upaya konservasi di wilayah pesisir Mandalika ini,“ ujar Markum kepada Ekbis NTB akhir pekan kemarin.

Hal penting lainnya, mangrove merupakan ekosistem yang sangat efektif dalam menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Melalui penanaman ini, Mandalika akan berkontribusi dalam mengurangi emisi karbon dan memitigasi dampak perubahan iklim. Penanaman mangrove ini sejalan dengan komitmen Lombok untuk menjadi destinasi wisata yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Selanjutnya kata Markum, tanaman mangrove untuk ekonomi. Selain manfaat lingkungan, penanaman mangrove juga menawarkan peluang ekonomi bagi masyarakat di Kawasan Mandalika. Mangrove dapat memberikan manfaat ekonomi yang beragam bagi masyarakat, baik langsung maupun tidak langsung. Manfaat langsung, berupa pemungutan hasil laut, seperti kepiting, kerang, udang dan ikan yang terdapat dibawah tegakan mangrove, dan produk turunan dari mangrove, seperti makanan dan obat-obatan dari daun dan buahnya.

Manfaat tidak langsung, ekowisata mangrove juga menjanjikan atraksi wisata, dimana wisatawan dapat menjelajahi hutan mangrove sambil menikmati keindahan alam dan berpartisipasi dalam kegiatan konservasi.

 “Sebagaimana belajar dari pengelolaan ekowisata mangrove di tempat lain, telah terbukti bahwa ekowisata mangrove mampu memberikan fungsi ganda bagi berkembangnya kegiatan lainnya, terutama menciptakan peluang kerja bagi nelayan dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM),“ terangnya.

Kemudian fungsi mangrove untuk sosial. Di mana kegiatan penanaman mangrove ini  melibatkan banyak pihak dan partisipasi aktif masyarakat setempat. Hal ini penting sebagai bagian untuk edukasi dan juga menumbuhkan empati kepada para pihak, bahwa menanam mangrove itu mudah, tetapi memeliharanya yang susah.

 “Penanaman mangrove secara partisipatif tidak hanya memperkuat solidaritas sosial tetapi juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Sebagaimana Bapak Rektor pada saat memberikan sambutan penutupan. Dengan melibatkan semua pihak, kami ingin menciptakan rasa memiliki terhadap lingkungan ini”  imbuhnya.

Dengan demikian, penanaman 3000 bibit mangrove di kawasan Mandalika, Pulau Lombok, yang merupakan bagian dari rangkaian acara Unram Mengabdi, menunjukkan komitmen kuat Unram terhadap pelestarian lingkungan dan pengembangan ekonomi lokal. Dengan berbagai manfaat yang dihasilkan, program ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.(ris)

Tata Kawasan Alun-alun Praya, Loteng Butuh Rp 15 Miliar Lagi

0
Seorang PKL tengah berjualan di depan lapangan Muhajirin Praya yang kini sudah ditutupi pagar. Sekarang ini, Pemkab Loteng mulai melakukan penataan kawasan Alun-alun Praya. (Ekbis NTB/kir)

Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) telah memulai penataan kawasan Alun-alun Tastura Praya dengan anggaran yang digelontorkan mencapai sekitar Rp 5 miliar. Dana ini diarahkan untuk pembangunan fasilitas plaza ekonomi kreatif (ekraf) serta penambahan fasilitas umum untuk lapangan Muhajirin Praya dan penataan area lapangan Muhajirin.

Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata Dispar Loteng, Zamzuri. S.T., akhir pekan kemarin mengatakan, meski anggaran yang digelontornya kali ini cukup besar, namun kalau bicara secara keseluruhan kebutuhan anggaran penataan kawasan Alun-alun Praya dan sekitarnya masih belum. Pasalnya, hitungan total kebutuhan anggaran penataan kawasan Alun-alun Praya mencapai sekitar Rp 20 miliar.

Artinya, masih butuh sekitar Rp 15 miliar lagi untuk bisa menuntaskan penataan kawasan Alun-alun Praya sesuai konsep yang ada. Tapi karena anggaran daerah terbatas, maka baru sekitar Rp 5 miliar yang bisa diarahkan untuk penataan kawasan Alun-alun Praya dan sekitarnya. “Perkiraan kebutuhan total untuk penataan kawasan Alun-alun Praya mencapai Rp 20 miliar,” terangnya.

Ia menjelaskan, ada beberapa fasilitas penunjang yang akan dibangun pada proyek penataan kawasan Alun-alun Praya tahun ini. Selain pembangunan Plaza Ekraf dan kuliner, ada juga pembangunan area pengunjung. Pembangunan gazebo hingga lampu penerangan juga menjadi bagian dari perencanaan penataan kawasan Alun-alun Praya.

Harapannya, warga yang berkunjung ke kawasan Alun-alun Praya bisa lebih betah, sehingga bisa mendatangkan manfaat bagi pedagang kali lima (PKL) yang berjualan nantinya. “Kalau kawasan Alun-alun Praya sudah tertata rapi, maka orang akan betah. Ekonomi juga bisa ikut bergerak,” tandasnya.

Disinggung status pengelolaan kawasan Alun-alun Tastura Praya, Zamzuri mengaku saat ini sudah dialihkan ke Dispar Loteng. Di mana sebelumnya menjadi kewenangan pengelolaan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim). Karena kawasan Alun-alun Praya masuk menjadi salah satu destinasi wisata yang akan dikembangkan oleh pemerintah daerah.

“Kalau status aset tetap menjadi aset pemerintah daerah. Hanya pengelolaan aset saja yang dialih ke Dispar Loteng. Ke depan, dengan perkembangan yang ada bisa saja pemerintah daerah membuat kebijakan yang lain,” pungkasnya. (kir)