Di tengah teriknya cuaca yang menyelimuti Nusa Tenggara Barat (NTB), tanaman cabai masih menunjukkan kondisi yang relatif aman. Namun, di balik optimisme para petani, ancaman penurunan produktivitas mulai membayangi. Pasca-berakhir cuaca panas yang berkepanjangan, dikhawatirkan hujan akan turun sangat lebat. Kondisi itu pastinya akan membuat tanaman cabai hanya mampu berbuah satu kali, sehingga berpotensi mengganggu pasokan pada periode permintaan tinggi.
CHAMPION Cabai NTB, H. Subhan, menilai kondisi tanaman cabai saat ini masih perlu diwaspadai, terutama dalam menghadapi perubahan cuaca pada Desember 2026 hingga Januari 2026 mendatang. Menurutnya, masa tersebut menjadi periode krusial yang perlu diantisipasi sejak dini agar produksi tetap terjaga.
“Ini masih dalam batas waspada untuk satu bulan ke depan. Desember dan Januari harus kita antisipasi karena cuaca kita sangat panas sekali. Cabai kita bisa berbuah satu kali, tetapi tidak bisa berbuah untuk kedua kalinya akibat cuaca yang sangat panas,” ungkap Subhan, menjawab Suara NTB.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Cabai merupakan komoditas hortikultura yang sangat sensitif terhadap kondisi lingkungan. Ketika cuaca ekstrem berlangsung berkepanjangan, pertumbuhan dan produktivitas tanaman dapat terganggu. Jika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat, tekanan terhadap pasokan dan harga cabai berpotensi semakin besar.
Subhan mengingatkan, kebutuhan cabai biasanya meningkat menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru). Tekanan permintaan juga diperkirakan kembali terasa saat Ramadan dan Idulfitri. Pada periode tersebut, lonjakan kebutuhan dapat mendorong harga naik apabila produksi tidak mampu mengimbangi permintaan.
“Itu yang sangat perlu diantisipasi karena akan terjadi lonjakan. Tidak menutup kemungkinan angkanya bisa di atas Rp100 ribu,” ujarnya.
Menghadapi potensi tersebut, Champion Cabai NTB mulai menyiapkan langkah antisipasi melalui penanaman lebih awal. Sebanyak 25 hektare lahan dipersiapkan untuk penanaman pada Oktober dan November, dengan harapan tanaman dapat memasuki masa panen ketika permintaan meningkat pada Nataru dan Idulfitri.
Strategi ini menjadi bagian dari upaya menjaga kesinambungan produksi. Penanaman tidak dilakukan serentak dalam satu waktu, melainkan berada pada tahapan pertumbuhan yang berbeda. Ada tanaman yang sudah memasuki masa panen, sementara sebagian lainnya masih berumur sekitar satu minggu hingga satu bulan.
Pola tanam bertahap tersebut diharapkan mampu menjaga ketersediaan cabai agar tidak hanya bergantung pada satu periode panen. Dengan demikian, ketika tanaman yang lebih tua selesai berproduksi, tanaman berikutnya dapat mulai memasok kebutuhan pasar.
Bagi Subhan, kesiapan produksi menjadi faktor penting untuk menghadapi periode rawan kenaikan harga. Antisipasi tidak cukup dilakukan ketika harga mulai melonjak, tetapi perlu dimulai sejak proses budidaya agar hasil panen tersedia sesuai kebutuhan pasar.
Di tengah kekhawatiran terhadap cuaca, Subhan tetap optimistis terhadap kemampuan petani cabai di Lombok Timur dan wilayah NTB secara umum. Ia menyebut kondisi tanaman saat ini masih relatif aman, bahkan produksi daerah tersebut memungkinkan pasokan dikirim ke sejumlah wilayah di luar NTB.
Jakarta menjadi salah satu tujuan pengiriman cabai dari NTB. Menurut Subhan, volume pasokan yang saat ini dikirim ke ibu kota berkisar 20–30 ton per minggu.
Selain Jakarta, cabai NTB juga dipasok ke Bali. Bahkan, sejumlah pihak dari Sulawesi Utara disebut telah datang untuk melakukan studi banding, melihat pengelolaan dan potensi produksi cabai di wilayah tersebut.
Permintaan juga datang dari Papua, daerah yang menurut Subhan menghadapi harga cabai sangat tinggi, bahkan disebut dapat mencapai Rp200 ribu. Namun, pengiriman ke wilayah tersebut masih dalam tahap pembicaraan dan mempertimbangkan kesiapan distribusi, termasuk kemungkinan penggunaan pesawat Hercules.
Subhan menjelaskan, peran Champion Cabai NTB dalam rencana pengiriman tersebut adalah menyiapkan komoditas sesuai kebutuhan. Sementara itu, mekanisme distribusi dan pengiriman perlu dikoordinasikan bersama pihak terkait, termasuk pemerintah daerah.
Permintaan dari berbagai daerah itu menunjukkan bahwa produksi cabai NTB tidak hanya berperan memenuhi kebutuhan lokal. Ketika pasokan mencukupi, hasil panen petani juga berpotensi membantu memenuhi kebutuhan di wilayah lain.
Pengalaman tahun sebelumnya menjadi pelajaran penting bagi petani dan pelaku distribusi cabai di NTB. Saat produksi lokal tidak mencukupi, pasokan cabai dari Sulawesi dan Jawa Timur harus didatangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Untuk tahun ini, Subhan menilai perbedaan kondisi produksi antara tahun lalu dan sekarang belum terlalu mencolok. Perbedaan yang lebih jelas, menurutnya, kemungkinan baru terlihat ketika musim hujan berlangsung secara berkelanjutan.
Karena itu, perkembangan cuaca dalam beberapa bulan mendatang akan menjadi salah satu faktor penentu. Tanaman yang saat ini terlihat aman masih perlu dipantau untuk memastikan produktivitasnya tetap terjaga ketika kondisi lingkungan berubah.
Ia juga berharap masyarakat tidak perlu terlalu khawatir terhadap ketersediaan cabai lokal selama produksi berjalan sesuai harapan.
Namun, optimisme tersebut tetap dibarengi kewaspadaan terhadap cuaca panas, potensi gangguan produksi, serta lonjakan permintaan pada hari-hari besar keagamaan. (rus)






