Giri Menang (EKBIS NTB) – Kerusakan Bendung Sungai Wadon, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat (Lobar) yang mengancam puluhan hektare lahan pertanian di desa Sandik dan desa lainnya perlu menjadi perhatian serius dari Pemkab.
Pasalnya, dua tahun kerusakan Bendung Sungai itu tak kunjung diperbaiki. Padahal air bendung Sungai itu menjadi pasokan utama air ke sawah warga.
Tokoh masyarakat Desa Sandik, Mustafa Kamal menyuarakan kondisi kebutuhan vital petani di desa itu yang tidak bisa memanfaatkan air irigasi selama dua tahun. Ia menyuarakan hal yang sama dengan harapan petani di Desa Sandik, yang terdiri dari beberapa subak, di antaranya Subak Pelemapat, Sandik, Perempung agar jaringan irigasi bisa dimanfaatkan.
“Karena sudah dua tahun tidak pernah ada respons, artinya yang langsung menyikapi permasalahan ini,” tegasnya, Jumat (25/9/2026).
Kondisi ini merugikan petani, karena menggunakan sumur gali dengan air seadanya untuk mengairi sawah. Saat ini kata dia kebetulan saja musim tanam palawija, namun untuk musim tanam selanjutnya nanti kalau Bendung Sungai Wadon belum diperbaiki maka petani kembali susah lagi dengan air irigasi. Karena dua tahun semenjak irigasi itu tidak dialiri air dari Bendung Sungai wadon, petani kerap kali tidak bisa menanam padi akibat kendala air.
Sementara luas lahan pertanian warga yang terdampak akibat tidak dialiri air irigasi ini sangat luas, kasiran antara 25 hektare hingga 30 hektare. “Sekitar 25 hektare sampai 30 hektar, itu di Sandik saja, belum di daerah lain ya lebih,” imbuhnya.
Petani pun harus mengeluarkan biaya lebih untuk bisa mengairi sawahnya untuk sumur dan mesin sedot air. Belum lagi biaya BBM, ditambah tingkat kesulitan petani mengakses BBM harus ada barcode.”Itu menimbulkan kesulitan lagi bagi petani,” ujarnya.
Terlebih lagi kondisi kekeringan saat ini berdampak juga terhadap para petani dalam mengairi sawahnya. Ia dan warga pun sudah sering menyampaikan ke pemerintah, baik ke desa hingga Pemkab untuk mengaliri lagi jaringan irigasi ini.
“Katanya tahun besok, tahun besok lagi, nyatanya tahun ini yang lebih dulu direalisasikan itu saluran, artinya bukan Bendungnya yang diperbaiki. Padhal permasalahan intinya ada di bendungnya itu, yang bisa mengangkat air sungai itu ke saluran irigasi,” ungkapnya.
Justru ia mempertanyakan, bukan bendung sungai rusak yang diperbaiki tetapi salurannya. Padhal kalau jaringan saja yang diperbaiki tentu tidak ada dampaknya. Karena, air irigasi tetap tidak bisa mengalir ke sawah warga disebabkan air yang naik ke jaringan irigasi itu tidak ada. Sementara sumber air Irigasi itu dari Bendung Sungai itu. Sedangkan kondisi jaringan irigasi dinilai masih layak untuk dimanfaatkan. Kalaupun ada perbaikan atau sambungan bisa menyusul,setelah bendung sungai itu diperbaiki.
Ia berharap penanganan bendung itu secara kokret, tidak sekadar wacana. Petani atau Poktan nantinya perlu dilibatkan dalam kerangka penanganan jaringan ini.
Ia juga meminta Pemkab menidaklanjuti keluhan petani ini agar tidak merugikan mereka. “Karena sekian lama belum diperbaiki, kami juga mau kejelasan penanganan seperti apa?” tegasnya.
Terlebih lagi hal ini menyangkut hajat hidup orang banyak yang bergantung dari irigasi tersebut. Terlebih lagi, banyak petani ini bukan pemilik lahan tetapi penggarap, sehingga dengan beban biaya menggarap sawah saat ini sangat memberatkan mereka. (her)






