HomeBERANDALahan Pertanian Terancam, Petani di Sandik Desak Bendung Sungai Wadon Diperbaiki

Lahan Pertanian Terancam, Petani di Sandik Desak Bendung Sungai Wadon Diperbaiki

Giri Menang (EKBIS NTB) – Petani di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Batulayar, Lombok Barat (Lobar) mengeluhkan Bendung Sungai Wadon yang rusak hampir dua tahun terakhir tak kunjung diperbaiki pemerintah. Padahal air dari Bendung Sungai ini sangat vital bagi warga yang ada di beberapa desa, salah satu yang terdampak di Desa Sandik.


Puluhan hektare lahan pertanian di desa itu bergantung dari air bendung sungai tersebut. Namun, semenjak bendung sungai itu rusak, warga tidak bisa memanfaatkan airnya. Akibatnya lahan pertanian mereka pun terancam.


Pantuan media pada Jumat (25/9/2026) di lokasi, bendung sungai itu diperkirakan bentangannya 50 meter. Tampak hampir setengah dari bangunan bendung sungai itu roboh. Akibatnya, air dari dulu sungai pun mengalir sia-sia terbuang ke laut.

- Advertisement -


Warga sekitar hanya bisa memanfaatkan sungai itu untuk mandi dan mencuci pakaian. Sementara, saluran irigasi yang dihubungkan dari bendung sungai itu terlihat masih bagus, tetapi tidak terpakai. Hal ini karena tidak ada pasokan air dari sungai akibat bangunan bendung yang roboh. Anehnya, kendati tidak ada pasokan air dari bendung sungai akibat kerusakan itu, justru beberapa meter jaringan irigasi dibangun baru.


Selain bangun baru, bagian bawah irigasi dirabat atau diplester. Lebih lanjut, dari pantauan media, jaringan irigasi dari daerah hulu tempat bandung sungai ke Desa Sandik hingga ke perbatasan dengan Desa Meninting kondisinya terbengkalai akibat tidak ada aliran air.


Petani di Dusun Puncang Sari Barat Desa Sandik, Adi mengeluhkan irigasi pertanian di daerah itu tak berfungsi sejak dua tahun terakhir.
“Ini sudah dua tahun ndak berfungsi irigasnya. Karena kerusakan Bendung Sungai di Wadon itu,” tuturnya.


Akibat kerusakan bendung sungai itu, tidak ada pasokan air ke jaringan irigasi. Kendati musim hujan pun tidak ada air yang mengalir pada jaringan irigasi tersebut. Air sungai yang berasal dari hulu pun tidak bisa dimanfaatkan petani untuk mengiri sawah. Bahkan air sungai itu terbuang sia-sia ke laut.


Untuk bisa bercocok tanam, petani terpaksa membuat sumur dangkal menggunakan dana pribadi. Itu pun petani harus menambah biaya lagi untuk sewa mesin pompa penyedot air dari sumur ke lahan pertanian. “Biaya sewanya Rp50 ribu per hari, tapi kita yang menanggung minyak,” ujarnya.


Sementara untuk mengairi 1 hektare lahan itu, butuh waktu lima hari hingga seminggu, tergantung debet air sumurnya. Biaya untuk mengairi lahan saja petani mengeluarkan biaya Rp250 ribu.
Belum lagi, kata dia, untuk ongkos bajak sawah, per are butuh biaya Rp20 ribu. “Hitung saja itu sudah berapa, mahal biaya kami untuk bercocok tanam, akibat tidak ada air irigasi ini,” keluhnya.


Jika jaringan irigasi itu hidup, tentu biaya yang dikeluarkan petani lebih sedikit. Untuk itu ia sangat berharap Bendung Sungai Wadon itu segera diperbaiki agar air irigasi ke sawah warga bisa dialirkan lagi. “Kalau bisa sebelum musim hujan, supaya pas tanam padi bisa dimanfaatkan air irigasi oleh petani,” harapnya.


Hal senada disampaikan Mahyun, warga Dusun Perempung. Ia mengeluh semenjak Bendung Sungai Wadon rusak, pasokan irigasi ke lahan pertaniannya mandek total. “Bendung itu tidak pernah diperbaiki, jadi kita susah tidak bisa mengairi sawah,” imbuhnya.


Petani harus mengeluarkan biaya besar untuk bisa bercocok tanam, karena perlu membangun sumur, membeli atau sewa mesin untuk menyedot air.


Ia pun sangat berharap bendung sungai itu segera diperbaiki agar petani bisa memanfaatkan air sungai tersebut. Selama ini petani bergantung dari air irigasi bendung sungai, tetapi semenjak bendung itu rusak petani dibuat susah karena harus bergantung dari air sumur. “Biayanya besar, belum sumur, sewa mesin pompa dan lainnya,” katanya.
Lahan pertanian yang digarapnya sekitar 20 are, ia harus keluar biaya sendiri jutaan rupiah.


Biaya itu untuk sewa mesin pompa air sebesar Rp100 ribu per hari. Itu pun ia harus menanggung bahan bakar, sementara harga BBM sendiri naik. (her)

Artikel Yang Relevan

IKLAN





Terkait Berdasarkan Kategori

Jelajahi Lebih Lanjut